SPRINGFLAKES – Slice #3 — IRISH`s Story

irish-springflakes

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s ??? & OC`s Chunhee Lee

   with EXO & iKON Members  

  adventure, slight!action, dark, fantasy, life, romance story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


— release hurt with a truth —


Reading list:

〉〉 Slice #1Slice #2 〈〈

Slice #3

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chunhee’s Eyes…

Aku tidak bisa menceritakan apa yang sudah terjadi antara aku dan vampire itu pada siapapun. Sebuah kejadian tidak masuk akal memang terjadi, dan aku sungguh tak percaya saat orang-orang di desaku terperangah heran ketika vampirevampire itu ada dikota kecil ini dan melindungi mereka.

Melindungi.

Satu kata yang sanggup membuat dadaku berdesir, membuatku ingin menangis tanpa alasan yang jelas.

Hanbin lah yang pertama kali menyadari keberadaanku di sana. Sementara vampirevampire itu mulai berubah menjadi sosok asli mereka dan terbang kembali ke istana, desa kami sudah mereka selamatkan.

“Dari mana saja kau? Apa yang terjadi padamu? Apa yang sudah mereka lakukan padamu?” aku bahkan tak sadar jika Hanbin sekarang sudah berdiri di sampingku.

Kebingungan harus memberi penjelasan apa pada Hanbin, aku akhirnya menggeleng pelan.

“Seperti yang kau lihat, mereka tidak melakukan hal buruk padaku, aku baik-baik saja.” ucapku membuat Hanbin memicingkan matanya tak percaya.

“Bagaimana bisa kau baik-baik saja setelah menerima hukuman seperti itu?” ucapnya sambil membolak balik badanku seolah tubuh ini lembaran buku.

Ya!”

“Kau benar-benar baik-baik saja?” tanyanya segera kujawab dengan anggukan ringan. “Aku baik-baik saja Hanbin-ah. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”

“Dan kemana kau selama lima hari ini?” tanyanya.

Lagi-lagi aku harus memutar otak untuk menjawab pertanyaannya. Ugh, kenapa juga Hanbin begitu ingin tahu?

Umm, kau pasti tahu, seperti yang lainnya.” ucapku membuat Hanbin akhirnya menatapku khawatir.

“Kau benar-benar baik-baik saja?” tanyanya.

Aku mengangguk mantap.

“Aku baik-baik saja.” ucapku tersenyum meyakinkannya.

“Baguslah. Kau tahu, kurasa ada yang aneh dengan vampirevampire itu. Mereka berperang dengan pasukan dari kerajaan lain, dan kau tahu apa? Entah berapa puluh vampire tadi datang dan menyelamatkan kami semua.”

“Benarkah?” aku menatap Hanbin, berusaha terlihat setertarik mungkin padahal nyatanya aku sudah tahu tentang hal ini.

“Ya. Dan mereka bahkan mengatakan bahwa kota kecil kita akan dibawa ke dalam istana. Seluruhnya! Bukankah ini hebat?” aku memperhatikan ekspresi Hanbin, menatap senyum cerah yang sekarang terpasang di wajahnya sungguh membuatku sedikit kehilangan penyelasan yang tadi sempat muncul setelah aku melakukan perjanjian tak masuk akal dengan vampire itu.

“Benar-benar hebat!” ucapku bersemangat, berharap Hanbin tidak menyadari nada kaku dalam ucapanku sekarang.

Haruskah kukatakan pada Hanbin tentang perjanjian itu?

Kajja Chunhee-ah, banyak yang harus kita siapkan untuk pindah ke tempat itu.”

Tidak. Kurasa tidak sekarang.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kota kami mulai terlihat bersih dihari ke empat mereka memindahkannya. Dan aku bisa leluasa menggunakan target latihan kami sendirian. Aku mungkin tak akan lagi bisa datang ke tempat ini, mengingat aku sendiri tidak yakin akan jadi seperti apa kehidupan kami setelah pindah nanti.

SRAK!

Aku sedikit terusik saat mendengar langkah di belakangku. Segera aku berbalik, tapi tidak menemukan siapapun.

Hanbin? Apa dia sedang bermain-main denganku? Aish, anak itu…

Aku kembali meneruskan latihanku, dan saat langkah itu terdengar sangat dekat, aku segera menarik pedangku, membaliknya sehingga bagian tumpul pedang yang ada di tanganku menghadap ke depan, dan aku berbalik, menerjang sosok yang sedari tadi mengawasiku itu.

“Apa kau menginginkan hukuman lagi?”

Aku tersentak saat sadar bahwa yang sekarang terkurung di batang pohon dengan pedangku ada di lehernya adalah pemuda itu! Bukan, maksudku, pangeran itu!

“P-Pangeran.” aku terhuyung mundur dan segera menjauhkan pedangku darinya, beruntunglah karena bagian tumpul pedang itu yang mengenainya.

Ia melepaskan penutup jubah yang ia kenakan, dan aku bisa melihat wajahnya sekarang. Aku sedikit terbelalak saat lehernya mengeluarkan abu hitam tipis.

“L-Lehermu…” apa abu itu bagian dari tubuhnya? Karena terkena pedangku? Walaupun bagian tumpulnya?

Ia berdecak pelan dan mengusap lehernya.

“Haruskah aku benar-benar menghukummu lagi?” ucapnya dan dalam hitungan detik ia sudah ada di hadapanku.

“Kenapa kau ada disini? Kau seharusnya tidak ada disini.” ucapku sambil melangkah mundur menjauhinya. Entah kenapa keberadaannya memicu adrenalin dan ketakutanku.

“Lalu kenapa? Karena aku tidak seharusnya di sini jadi kau merasa membunuhku adalah hal yang benar? Begitu?” ucapnya sambil terus melangkah mendekatiku.

Aku tersentak saat langkahku terhenti entah karena akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Dan terhentinya langkahku menjadi kesempatan untuknya mempersempit jarak diantara kami.

“T-Tunggu. Kau tidak bisa seenaknya menghukumku, aku tidak melakukannya dengan sengaja.” ujarku membela diri, memangnya aku rela jika ia lagi-lagi harus membuatku tidak sadarkan diri? Jangan harap.

“Sejak kapan kau berani membela diri?”

Kupejamkan mata sejenak. Sialan, aku lupa dengan siapa aku sekarang berhadapan. Memangnya kapan kami diizinkan untuk sedikit saja membantah ucapan mereka?

“Sudah kukatakan aku tidak melakukannya dengan sengaja!” segera aku menodongkan pedangku ke arahnya, membuatnya menatapku dengan ekspresi terkejut yang lebih membuatku terkejut.

Sungguh, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi di wajahnya yang sejak pertama kali pertemuan kami selalu terlihat dingin.

“Kau mau bermain-main denganku menggunakan benda itu?” tanyanya meremehkan. Cih, dia bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang bisa menggunakan pedang dan sekarang ia meremehkanku?

Tentu saja dia tidak harus repot-repot belajar menggunakan pedang karena ia seorang pangeran—tidak. Sial. Bodoh. Lee Chunhee. Lupakah kau dengan siapa kau sekarang berhadapan?

Aku akhirnya menyerah, percuma saja berdebat dengan seseorang yang bahkan bisa mengakhiri hidupku kapan saja ia ingin.

Aku tahu aku bisa saja menyerangnya. Tapi melukainya—benar-benar membuatnya terluka secara fisik—tidak akan menguntungkan. Kenapa? Pertama, karena jika ia lenyap karena seranganku, aku bisa pastikan sisa dari bangsa mereka akan memusnahkan desaku dan penghuninya. Kedua, kemungkinan aku akan bisa melenyapkannya sangatlah kecil, jadi perlawanan saat ini hanya akan berakhir merugikanku, dan bangsaku tentunya.

“Berapa banyak kesalahan yang sudah kau lakukan?” ucapannya menyadarkanku, kini tatapannya seolah meledekku.

“Aku sudah melukaimu, aku sudah membantah ucapanmu, aku sudah menodongkan pedang kearahmu, dan aku sudah berniat untuk menyerangmu. Maafkan aku. Aku patut untuk dihukum lagi.” aku akhirnya menyerah, apa lagi yang bisa kulakukan? Berlari darinya? Dia bahkan bisa mengejarku dalam hitungan kurang dari satu detik.

Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum kecil sebelum ia benar-benar melangkah mendekatiku—yang sebenarnya tidak ingin pasrah, tapi keadaan memaksaku untuk pasrah.

“Miringkan kepalamu.” ia memerintah dengan nada yang tak bisa dibantah.

Pasrah, aku akhirnya menurutinya. Tanpa sadar aku berjengit saat jemari dinginnya menyentuh rahangku. Anehnya, jantungku ikut melompat tak karuan, sialan, kenapa tubuh ini sekarang tidak mau bekerja sama dengan pemiliknya?

“Ada satu lagi kesalahan yang sudah kau buat.” ia berbisik pelan, membuat bulu kudukku tanpa sadar meremang.

“Apa?” tanyaku ragu, selain kesalahan yang kuucapkan tadi, apa lagi kesalahan yang sudah kulakukan?

“Kau sudah membuatku datang ke tempat ini untuk menemuimu.”

“Apa? Memangnya itu salah—akh!” aku tak sempat menyelesaikan kalimatku saat leherku terasa begitu nyeri, seolah leherku terkoyak karena—sialan. Apa dia tidak bisa memberi aba-aba jika akan menggigitku?

Aku memejamkan mataku, dan merasakan sakit itu lagi. Seiring dengan melemahnya otot-ototku, dan hilangnya kesadaranku. Aku tak lagi bisa merasakan kakiku, tak bisa merasakan lenganku. Deru nafasku bahkan mulai bisa kudengar.

Kurasa aku sudah mulai tak sadar, atau berhalusinasi. Kenapa aku merasa tak lagi berpijak di bumi?

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Prince’s Eyes…

Ia membutuhkan waktu lebih lama untuk sadar kali ini. Sudah seminggu lebih, dan ia masih terlelap. Wajahnya sudah tidak sepucat saat pertama kali aku membawanya. Nafasnya sudah mulai teratur, dan tenang.

Tanpa sadar senyum mengembang di wajahku membayangkan beberapa lama lagi ia akan ada disini untuk selamanya. Dan itu artinya aku bisa melihatnya kapan pun aku ingin.

Mencium bau darahnya, atau membuatnya melakukan pelanggaran yang memberiku kesempatan untuk menghukumnya dan kembali menghisap darahnya. Aku memperhatikan wajahnya, dan ia menyernyit, tanda bahwa dia akan segera terjaga.

“Kau sudah bangun?” aku sengaja bertanya, dan ia berjengit kaget, membuka matanya dan terbelalak menatapku. Dengan sigap ia bangkit, tangannya meraba-raba mencari keberadaan senjatanya, sudah pasti.

Tapi benda-benda itu sudah ku letakkan jauh darinya. Aku benci jika ingat ia pernah mengacungkan pedang itu padaku.

“Kenapa aku disini?” ucapnya terkejut.

“Tentu saja karena aku tidak mungkin membiarkanmu di hutan selama sembilan hari.” sahutku membuatnya menyernyit.

“Sembilan hari?” ulangnya dengan nada terkejut.

“Ya. Sembilan hari kau tidak sadar.”

“Tidak mungkin.” Bantahnya membuatku tersenyum samar. Sepertinya membantah adalah sifat yang tak bisa hilang darinya.

“Kau bisa tanyakan itu pada teman manusiamu. Berapa lama kau menghilang. Dan juga. Kurasa besok atau lusa semua yang ada di tempat tinggal kalian sudah akan bersih. Itu artinya sebentar lagi kau harus menepati janjimu.”

Ia mengerjap cepat.

“A-Ah… Ya. Kau benar.” ia segera beranjak turun dari tempat tidur, tapi dalam sekejap ia terhuyung jatuh. Refleks aku mencekalnya, tapi ia berjengit kaget dan segera menarik dirinya menjauh dariku.

Beberapa sekon ia terdiam, membuatku entah mengapa merasa ia tak ingin aku menyentuhnya. Ia akhirnya menatapku, dan memaksakan sebuah senyuman.

“Kau tidak bisa lagi bicara sesantai ini padaku. Dan tidak bisa lagi membiarkanku tidur disini setelah kau menghukumku. Juga tidak boleh memegangku seperti ini lagi.” ucapnya membuatku menyernyit.

“Kenapa tidak?” tanyaku.

“Sekarang aku mungkin masih seorang manusia biasa seperti yang lainnya. Tapi beberapa hari lagi aku hanya pesuruh di sini. Kau tidak bisa melakukannya.” ucapnya membuatku tersentak.

“Pesuruh? Apa aku pernah mengatakan bahwa kau akan jadi pesuruh?” ucapku tak terima pada ucapannya.

“Lalu apa?” ia menatapku dengan sepasang bola mata jernih penuh keingin tahuannya.

“Kau akan ja—” ucapanku terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruangan kami. dan ia sontak menolehkan pandangannya.

“Pangeran, semua manusia itu sudah ada di lahan yang ada di istana. Tempat tinggal mereka sudah bersih.”

Aku terdiam. Ini lebih cepat dari perkiraanku. Aku masih bergeming bahkan saat gadis itu melangkah mengambil senjatanya.

“Kau akan kemana?” ucapku.

“Menemui yang lainnya. Tenang saja, aku tidak akan mengingkari ucapanku pangeran. Aku akan datang tepat di pergantian hari ketiga setelah hari ini.” ucapnya sambil tersenyum padaku.

Ia menyampirkan senjata-senjatanya, dan melangkah meninggalkanku. Kenapa sekarang aku merasa terganggu saat membayangkan ia akan ada disini dan mengabdi pada salah satu diantara tiga vampire kepala yang—tunggu.

Kurasa aku punya rencana lain untuknya.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chunhee’s Eyes…

Keterlaluan. Aku hanya punya sedikit waktu dengan bangsaku dan ia malah membuatku terbaring disana selama sembilan hari! Dan kenapa juga tubuh ini begitu lemah dan selalu tak sadarkan diri setelah ia memberiku hukuman?!

Dengan langkah kesal aku keluar dari istana itu, tapi tatapanku terhenti saat melihat beberapa orang dengan pakaian lusuh berjalan di sekitar istana.

Mereka benar-benar memindahkan tempat tinggal kami?

Tatapanku bertumbukan dengan seorang yang sangat kukenal. Hanbin. Tidak bisa kuungkapkan bagaimana perasaanku saat melihatnya. Bahagia, karena akhirnya impian kami untuk tinggal di balik tembok raksasa penuh dengan pengamanan ini terwujud. Dan sedih, karena aku hanya punya waktu tiga hari sebelum aku harus berpisah dengannya.

Aku segera berlari ke arah Hanbin. Saat sampai dihadapannya, Hanbin menepuk-nepuk kepalaku beberapa kali.

“Apa yang sudah kau lakukan? Kemana saja kau?”

Aku mengerjap cepat.

“Ah, tidak ada. Aku hanya bepergian sebentar.” jawabku pelan.

“Kau tidak melakukan kesalahan yang membuatmu di hukum lagi bukan?” tanyanya menyelidik. Apa Hanbin punya kemampuan membaca pikiran sampai ia bisa menebak tepat seperti sekarang ini?

Aku menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Kau pikir aku seceroboh itu?” ucapku membohongi fakta yang ada.

Hanbin mengangguk-angguk paham.

“Baiklah. Nanti kau harus jelaskan kemana kau pergi selama sembilan hari ini.”

“Ya. Tentu saja.”

Kurasa, aku tak akan punya kesempatan untuk menjelaskan padanya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tiga hari berlalu dalam sekejap mata saat aku disini. Semua kesibukan dan adaptasi pada tempat tinggal baru ini membuat aku bahkan tak sempat untuk menceritakan semuanya pada Hanbin. Dan bahkan, aku tak sadar jika hari terakhirku sudah hampir lewat.

Saat hari menginjak tengah malam, aku bangun dari tidurku, dan melangkah mengenakan pakaianku—bukan pakaian biasa yang kukenakan sehari-hari—dan kubawa dua senjata andalanku, sepasang pedang perak dan panah.

Aku melepaskan ikatan erat pada rambutku, dan menyernyit saat aku bahkan tak sadar rambutku sudah begitu panjang. Tak ingin berlama-lama, aku segera merapikan rambutku, mengikatnya erat dengan bilah bambu tipis, yang kuyakini tak akan lepas dengan mudah, lalu aku mengenakan kain tipis penutup wajah, menyelinap keluar gubuk kecil tempat aku tinggal.

Beberapa orang tampak bersiaga diluar, sepertinya mereka masih khawatir pada serangan vampire secara tiba-tiba. Dan bukan hal sulit bagiku untuk menyelinap keluar dari pemukiman kecil manusia di sini.

Aku melangkah ke arah istana megah itu, menghembuskan nafas berat tanpa sadar saat membayangkan ekspresi Hanbin ketika ia tahu aku tak lagi akan tinggal dengannya. Aku sekarang mengkhawatirkan keadaanku sendiri. Berapa lama aku mungkin akan bertahan?

Langkahku terhenti di depan pintu besar istana itu, dua orang vampire langsung menghadangku.

“Aku disini karena sudah berjanji untuk mengabdi.” ucapku.

Dua vampire itu masih bergeming. Membuatku menghembuskan nafas kesal.

“Kalian pikir aku mau dengan suka rela datang ketempat ini?” ucapku.

“Kau benar-benar datang saat pergantian hari.”

Tidak perlulah aku mencari sumber suara tersebut. Nada bicaranya yang dingin dan aura mencekam yang tercipta sudah cukup jadi penjelasan tentang siapa yang sekarang bicara padaku.

Bodohnya, mata ini enggan diajak bekerja sama, terbukti dengan bagaimana ia malah mencari keberadaan pemilik suara yang nyatanya berdiri di ujung lorong panjang yang ada di belakang dua vampire penjaga ini.

Aku mengenalinya diantara beberapa orang vampire lain yang mengenakan jubah gelap. Entah mengapa, entah mengapa aku yakin ia tengah menatapku.

“Biarkan dia masuk. Dia akan jadi bagian dari kerajaan kita.”

Mendengar kata kita membuatku merasa sesak. Aku merasa seolah aku sudah mengkhianati bangsaku, meninggalkan mereka saat mereka membutuhkan perlindungan, dan aku malah menyerahkan nyawaku untuk mengabdi pada vampire.

Hebat sekali Chunhee.

Dua vampire itu akhirnya menyingkir dari jalanku, dan tanpa perlu bertanya, aku tahu aku harus mengikuti langkah beberapa orang itu. Sekali lagi aku terkagum-kagum pada kesempurnaan tempat ini, sampai aku tidak sadar jika mereka sudah membawaku ke sebuah ruangan besar, serupa aula, tapi ruangan ini sangat besar.

Dan saat pintu raksasanya terbuka, aku mendapati ratusan vampire berjubah hitam ada disana. Dan aku juga melihat disudut kecil disana, sekumpulan orang yang tak berjubah, aku yakin mereka adalah manusia karena aku mengenali beberapa wajah disana, wajah-wajah remaja yang sudah berubah drastis dan punya ekspresi yang menyeramkan.

Apa aku akan jadi seperti mereka juga?

“Kau datang sedikit terlambat dan melewatkan sumpah pengabdian beberapa orang,” pangeran itu berucap padaku, walaupun ia tak berbalik untuk mengatakannya, tentu saja aku tahu ia bicara padaku.

“Berdirilah disana. Dan lihat yang dua orang itu lakukan. Kau juga akan bersumpah seperti itu.” ucapnya sambil melangkah ke arah lain.

Sekarang aku melangkahkan kakiku ke sudut yang lebih kecil, dimana tersisa dua orang disana, dua orang yang sangat aku kenal.

Unnie…”

Aku tersenyum tipis.

“Kenaapa Unnie disini?”

“Alasan yang sama sepertimu.” ucapku pelan.

Keundae, Unnie kan suda—”

“Han Seori.” pembicaraan kecil kami terhenti saat seorang vampire yang berdiri ditengah ruangan, memanggil nama gadis yang berdiri di sebelahku.

Ia segera melangkah ke tengah ruangan, dan kusadari di lengannya sudah ada beberapa pisau lipat, dan panah di punggungnya.

Seori kemudian berdiri di sebuah lingkaran kecil, menerima selembar kertas yang di ulurkan oleh vampire itu.

“Hari ini, ditahun ke tiga puluh empat, aku berdiri disini untuk bersumpah di hadapan semua vampire yang ada di kerajaan ini, bahwa aku akan…”

Pikiranku melayang pada deretan kecil rumah-rumah yang ada di luar istana ini. Kehidupan lamaku yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Hanbin… Siapa yang akan menjaga bocah ceroboh itu jika ia melakukan kesalahan?

“…kemampuanku…” aku memfokuskan pandanganku pada Seori, tapi aku terus mendengar jeritan-jeritan kesakitan bangsaku di luar sana.

Siapa yang akan melindungi mereka? Siapa yang akan menyelinap untuk berburu di hutan? Hanbin mungkin bisa melakukannya, tapi Hanbin takut pada kegelapan, ia tak akan berani berburu di hutan saat malam hari.

“…aku, pengabdi ditahun ketiga puluh empat. Namaku Han Seori, usiaku delapan belas tahun. Tapi mulai detik ini, aku bukan lagi Han Seori. Namaku sekarang, Han Taeyang. Karena aku ingin menjadi kuat dan tak terkalahkan, seperti matahari.”

Aku sejenak melupakan keadaan yang kutinggalkan saat kudengar sebuah nama terucap dari bibir Seori.

Dia mengganti namanya?

Tak lagi bicara apapun, Seori akhirnya menyerahkan lembaran kertas itu, dan saat itu aku bisa melihat kilatan cepat seolah mengenai tubuh Seori.

“Sekarang kau bisa menentukan, pada siapa kau akan mengabdi? Vampire Penjaga, Vampire Pemusnah, atau Vampire Pesuruh.”

Vampire Pemusnah.” Seori berucap dengan yakin, mendengar suaranya, aku seolah tak lagi melihat Seori yang beberapa menit lalu bicara padaku.

“Jangan terkejut Unnie-ah. Semua yang sudah bersumpah memang akan jadi seperti itu.” aku menoleh pada gadis di sampingku.

“Lalu kau juga akan jadi seperti itu?” ucapku.

Ia tersenyum samar.

“Mengganti nama adalah keharusan dalam sumpah ini. Karena mengganti nama berarti mengganti kehidupan kita. Maafkan aku jika setelah ini aku tidak lagi bersikap sopan padamu, Unnie-ah. Aku sangat berterima kasih karena bertahun-tahun kau mengajariku banyak hal. Dan maaf jika setelah ini aku mungkin lupa pada semua kehidupan manusiaku.”

“Kang Junghae.”

“Junghae-ah. Kau tak boleh menjadi seperti itu.”

Sekilas, aku melihat genangan air mata di sepasang mata bening milik Junghae. Tapi ia kemudian tersenyum padaku.

“Apa lagi yang bisa kita lakukan? Lagipula, kurasa puluhan dari kami tak akan sebanding denganmu Unnie-ah. Kau adalah yang terhebat yang bangsa kita miliki, Chunhee Unnie.”

Ia berucap sebelum akhirnya melangkah ke tengah ruangan itu. Dan saat Seori melangkah melewatiku, aku tergerak untuk memanggilnya.

“Seori-ah.”

Ia menoleh, tak lagi menatapku dengan tatapan kekanak-kanakkan, tapi dengan tatapan yang kurasa seolah ia ingin menyerangku dengan pisau yang ada di lengannya.

“Aku bukan lagi Seori. Jangan memanggilku dengan nama itu lagi, Lee Chunhee.”

Aku tertunduk. Itulah alasan yang membuat tak satupun dari mereka yang sudah terpilih pulang ke kota kecil kami. Karena saat sumpah ini, mereka berubah menjadi orang lain.

“…namaku Kang Junghae, usiaku menginjak dua puluh tahun ini. Dan aku sudah memutuskan, aku tak lagi Junghae yang selalu tunduk di bawah perintah orang-orang yang lebih tua dariku. Itulah kenapa kuputuskan, namaku, Kang Haneul—langit—karena aku ingin melindungi tempatku mengabdi.”

Tunggu. Tadi ia mengatakan, nama baru untuk kehidupan yang baru? Lalu, jika aku juga berdiri disana dan mengganti namaku, aku juga akan berubah menjadi sosok yang tak lagi sama?

“Sekarang waktumu, manusia baru.” vampire yang berdiri di tengah ruangan itu berucap. Aku melihat seorang vampire menggigit leher Junghae—bukan, Haneul, dan membawa Haneul ke dalam sebuah deretan yang berbeda dengan deretan yang di ambil Seori tadi.

Tak pernah aku begitu takut dalam hidupku, tapi kali ini kakiku bahkan sanggup menunjukkan ketakutanku dengan berjalan gemetar seperti ini.

Tidak.

Untuk apa aku takut? Bisa kupastikan aku punya kemampuan yang hampir sama dengan mereka semua—manusia yang ada di sini tentunya—dan aku tak perlu takut.

Aku mulai melangkah pasti. Dan saat sampai di lingkaran kecil itu, tatapanku langsung tertuju pada sosok berjubah yang nyatanya duduk sejajar dengan tempatku berdiri ini.

Vampire disebelahku mengulurkan sebuah kertas, dan tanpa ragu, aku membacanya. Karena aku memang tak perlu merasa ragu, atau takut.

“Hari ini, di tahun ke tiga puluh empat, aku berdiri disini untuk bersumpah di hadapan semua vampire yang ada di kerajaan ini, bahwa aku akan mengabdi pada kerajaan ini sampai akhir hidupku.”

Seumur hidup? Kenapa aku baru sadar jika mengabdi pada kerajaan ini sama saja dengan bunuh diri?

“Aku tak akan memberontak, juga tak akan mengutamakan kepentinganku di atas kepentingan kerajaan ini. Siapapun vampire ketua yang menandaiku, aku akan mematuhi ucapannya, perintahnya, melindunginya, dan tak akan sekalipun membantahnya.”

“Kesakitannya berarti adalah kesakitanku. Dan nyawanya jauh lebih berarti daripada nyawaku…” aku terdiam sejenak, mengapa aku harus melakukan hal ini pada vampire yang—sudahlah, Chunhee-ah.

“Kemampuanku…” aku terdiam saat bagian di kertas ini terlihat kosong, apa aku harus menyebutkannya sendiri baru beralih pada kalimat lain? Kurasa… ya.

“Kemampuanku bukanlah hal yang bisa kusebutkan satu persatu saat ini. Yang jelas, aku sudah berlatih memegang pedang sejak usiaku empat tahun. Di kota kecilku, aku adalah satu-satunya manusia yang sanggup membunuh dua ekor harimau yang menyerangku saat usiaku tujuh tahun.”

“Bahkan tidak ada yang berani berlatih melawanku saat usiaku sepuluh tahun. Tajamnya pedang, runcingnya anak panah, dua hal itu sudah jadi bagian dari hidupku. Dan insting, kejelian, keberanian, dan ketulusan, semua hal itu adalah kemampuanku yang tidak bisa dilihat secara nyata.”

Aku menghentikan ucapanku. Dan mulai membaca kalimat selanjutnya.

“Dan aku akan menggunakan seluruh kemampuanku itu saat aku mengabdi di kerajaan ini. Melindungi kerajaan ini. Berapapun banyaknya musuh, senjata apapun yang mereka bawa, aku tidak akan pernah takut.”

“Aku, pengabdi di tahun ketiga puluh empat. Namaku Lee… Chun-Hee. Usiaku dua puluh satu tahun. Dan mulai saat ini, namaku…”

Aku terdiam beberapa saat. Aku tak bisa membayangkan nama apapun. Juga tak ingin berubah menjadi siapa pun. Aku ingin tetap menjadi diriku yang—

“Chunhee.” ucapku seketika.

“Kau tidak bisa menggunakan nama yang sama.” vampire di sebelahku berucap.

Aku tersenyum tipis. Yang lainnya berubah karena mereka mengganti nama bukan? Lalu bagaimana jika aku mengganti namaku secara kasar?

“Aku terlahir dengan nama Chunhee, yang berarti gadis musim semi. Karena aku dilahirkan di awal musim semi, yang juga merupakan awal dari kehancuran kota Seoul. Tapi sekarang, namaku Chunhee, bukan lagi berarti gadis musim semi.”

“Tapi Chunhee yang berarti ketegaran, keberanian, dan kesetiaan…” pada bangsaku tentu saja. Aku menyernyit saat merasakan sesak secara tiba-tiba. Dan saat aku membuka mataku, aku melihat cahaya menyilaukan sekilas yang tadi kulihat.

Tunggu, apa aku sudah berubah menjadi orang lain?

Hanbin. Aku masih mengingat Hanbin. Dan rumah-rumah kecil pemukiman kami. Aku ingat tempat latihanku, aku mengingat semuanya!

Aku tersenyum samar, dan menyerahkan lembaran itu pada vampire di sebelahku.

“Sekarang kau bisa menentukan, pada siapa kau akan mengabdi? Vampire Penjaga, Vampire Pemusnah, atau Vampire Pesuruh.”

Kali ini aku terdiam.

Aku tak ingin jadi vampire penjaga karena itu artinya aku harus mengabdi untuk melindungi mereka. Aku juga tak ingin menjadi vampire pemusnah karena mereka mungkin berencana memusnahkan bangsaku. Menjadi vampire pesuruh sama saja dengan membiarkan diriku diperbudak secara gratis.

“Aku yang akan menandainya.”

Aku tersentak saat mendengar seseorang berucap.

Dia! Pemuda itu! Pemuda penghisap darahku! Ia berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke arah—tunggu, kenapa dia?! Aku bahkan belum memilih! Ini tidak adil!

“Pangeran…” vampire disebelahku menyingkir saat ia mendekat, dan ingin sekali rasanya aku berlari keluar dari tempat ini.

“Aku sendiri yang akan menandainya…” ucap pemuda itu ringan, sekarang ia sudah berdiri di hadapanku, untuk kedua kalinya aku yakin ia menatapku meski wajahnya tersembunyi dibalik tudung jubah gelap yang ia kenakan, “karena aku yang memilihnya untuk mengabdi.”

Bodohnya, tubuh ini tak bisa menolak atau memberi perlawanan apapun saat ia memiringkan kepalaku. Bisa kurasakan sesuatu yang tajam menggores leherku. Bukan seperti saat ia menghisap darahku, rasa sakit ini hanya sebentar.

“Tapi Pangeran, itu artinya dia hanya akan—”

“Aku memang memilihnya supaya dia hanya mengabdi padaku, bukan yang lainnya.” kali ini jantungku berdegup beberapa hentakan lebih kencang karena ucapannya.

Vampire di sebelahku tampak tidak membantah lagi, dan tak ada suara bantahan apapun dari yang lainnya. Pemuda itu kemudian mengalihkan pandangan ke arahku lagi.

Untuk sepersekian detik aku hanya berdiri mematung dan—tunggu dulu! Memangnya siapa yang mau repot-repot hanya menjadi pesuruhnya!?

“Sumpah pengabdian ini sudah berakhir. Semua pengabdi baru ikutlah dengan vampire yang menandai kalian.”

Aku masih mematung menatap pemuda di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku tak percaya.

“Aku tidak mau vampire manapun selain aku, memperbudakmu.”

“A-Apa?” aku memicingkan mataku.

“Kurasa kau manusia pertama yang masih mengingat kehidupan manusianya setelah disumpah. Ikuti aku.” ucapnya sambil berbalik dan melangkah pergi.

Aku akhirnya melangkahkan kaki mengikutinya. Aku bisa merasakan tatapan dari beberapa orang—manusia tentunya—yang menatapku tak senang. Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?

Aku menyernyit saat merasakan seseorang benar-benar memperhatikanku seolah ia ingin menyerangku. Kenapa aku tiba-tiba bisa merasakan hal semacam ini?

Aku mengedarkan pandanganku, tapi tak menemukan siapapun yang tampak tengah membuang waktunya untuk memandangku. Jadi aku akhirnya meneruskan langkahku, mengikuti pemuda itu.

Langkahku terhenti saat kami sampai diruangan besar yang familiar dalam pandanganku.

“Kenapa kau lakukan ini?” ucapku membuatnya menoleh menatapku.

“Karena aku menginginkannya.” jawabnya ringan.

Aku menatapnya sebelum menghembuskan nafas panjang.

“Tapi… Kenapa? Kenapa aku?”

Ia menatapku. Aku benar-benar yakin ia menatapku.

“Apa pantas jika kau bertanya seperti ini padaku?” tanyanya dingin membuatku mengerjap cepat, sadar bahwa aku sekarang berada di titik paling rendah yang ada di tempat ini.

Aku hanya seorang pesuruh di matanya. Bahkan kurasa manusia di matanya memiliki arti lebih tinggi dariku yang sudah meninggalkan bangsaku untuk mengabdi pada kerajaan ini.

Aku segera mengalihkan pandanganku, menahan sesak yang diam-diam menusuk.

“Maafkan aku, pangeran.” ucapku pelan.

Pintu ruangan di depanku terbuka, dan ia akhirnya melangkah masuk. Pintu itu menutup dengan sendirinya.

Aku berdiri membelakangi pintu, dan tatapanku tanpa sadar tertuju pada keadaan sepi di sekitarku. Aku merasa sedikit terusik saat kurasakan seseorang seolah tengah menatapku penuh kemarahan. Kebencian. Dan ingin membunuhku.

Tatapanku melebar saat melihat sekelebat bayangan di sudut ruangan. Dengan santai memutar pandanganku, mendapati beberapa bayangan gelap lain ada di sana.

Apa mungkin… akan terjadi penyerangan lagi? Tunggu. Jangan-jangan perasaan seperti diawasi itu muncul karena sosok-sosok itu? Tapi mereka bukannya menatapku benci, tapi mereka… pangeran itu?

Aku segera tersadar. Benar. Karena aku sudah bersumpah. Dan dia yang menandaiku, ini pasti tanda bahwa seseorang berusaha mencelakainya. Dan aku… tunggu, sejak kapan aku benar-benar merasa aku harus melindunginya!?

Aku berbalik, menatap pintu di hadapanku sebelum akhirnya aku membulatkan tekad dan membuka mulut.

“Haruskah aku membunuhnya?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Aku coba buat menciptakan karakter di pangeran kampret di sini. Dan akhirnya, mau gak mau aku bisa nentuin siapa main castnya, padahal udah songong ya kalo main castnya ntar-ntar aja. Gini, alasannya, aku kuatir aja readers pada ngibrit akibat cerita yang gajelas castnya siapa.

Jadi, ini serius, mungkin di chapter depan atau chapter depannya lagi, nama cast akan muncul :”)

Anyway, aku kasih peringatan aja kalo kisah ini gak akan seindah yang kalian ekspektasikan :”)

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

133 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #3 — IRISH`s Story”

  1. finally this chapter is longer than the previous one. still getting curious abt the person who will be the main cast. siapa yakk, menurut aku sih yang cocok sehun/chanyeol/kai, but we’ll see. good job thor, love it!♥️👌🏻

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s