[EXOFFI FREELANCE] Who Are You? (Chapter 5)

Who Are You (1).jpg

Tittle :  Who Are You?

Author : BabyJae96

Genre : Romance, Time-Machine, Fantasy

Lenght  : Chapter

PG-15

Cast :

Xiumin a.k.a Kim Minseok

Jin (Lovelyz) a.k.a Park MyungEun

Dll

 

Disclaimer :

FF ini terinspirasi dari film ‘Secret’ sama MV Jin ‘Gone’ tapi alur ceritanya malah beda jauh sama filmnya  dan ini murni hasil khayalanku!

 

-Seoul. 2013-

Perlahan Myung Eun membuka kedua matanya, tatapannya langsung tertuju pada orang yang tidur terduduk di samping ranjangnya. Minseok, Myung Eun ingat  bahwa tadi malam ia bertemu dengan Minseok dan setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi karna ia kehilangan kesadarannya. Myung Eun melihat sekelilingnya, ini rumah sakit. Ia juga melihat infus yang berada di lengannya..

Selama lima menit ini, Myung Eun tak berhenti menatap kerarah Minseok yang masih tertidur itu.. ia merasa tak enak karna Minseok pasti tak nyaman tidur dengan posisi tersebut. Perlahan lengannya bergerak menuju rambuk Minseok dan mengusapnya pelan “Bangunlah, ini sudah pagi” Itu mengingatkannya saat ia membangunkan Minseok untuk pergi sekolah “Minseok-aa”

Minseok mulai bergerak dan dengan cepat Myung Eun melepaskan tangannya dari kepala Minseok .“Eoh, kau sudah bangun? Bagaimana? Kau masih sakit?” Tanya Minseok khawatir saat menegakan badannya. Myung Eun menggeleng dan tersenyum tipis “Aku baik-baik saja, aku rasa aku harus pergi sekarang”

“Tidak. Dokter bilang kau harus tetap disini seharian ini karna lukamu…” Ucapan Minseok terhenti, ia takut akan menyinggung MyungEun jika ia membahas luka-luka di badan Myung Eun. Myung Eun ikut terdiam ia juga bingung harus menjelaskan apa pada Minseok. “Sudahlah, kau beristirahatlah dulu dan beritau nomor orangtuamu”

Myung Eun menatap Minseok yang sudah berdiri di samping ranjangnya sambil memegang ponsel “Berapa nomor Ibumu?” . Myung Eun menggeleng “Minseok-aa, Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti jadi bisakah kau tidak bertanya apa-apa dulu” Minseok mengganguk saja, mungkin luka itu ada hubungannya dengan orang tua Myung Eun tapi Minseok tak mau bertanya lebih walaupun ia penasaran, melihat wajah pucat myung Eun saja ia tau bahwa gadis itu belum sepenuhnya pulih dan tak mau menambah beban gadis itu dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Minseok pulang kerumahnya setelah memastikan Myung Eun tidur siang di rumah sakit, ia pulang untuk mengambil uang tabungannya untuk membayar rumah sakit Myung Eun tapi ada yang aneh karna pintu rumahnya tidak terkunci padahal tadi malam ia yakin menguncinya. Apa Ayahnya sudah pulang?

“Abeoji!” Panggil Minseok diruang tengah namun tak ada jawaban, ia memanggil Ayahnya berkali-kali tapi tetap saja tak ada jawaban sampai dari bawah sana ia melihat seorang wanita paruh baya turun dari tangga “Eoh, Ahjumma” Ucap Minseok.

“Omo.. Minseok—aah, kau sudah besar”

“Ah,ne. Annnyeong Haseyo.. Ini sudah lama, Bagaimana kabar Ahjumma?”

“Tentu saja aku baik” Lee Ahjumma ini dulunya adalah orang yang merawat Minseok setelah ia kecelakaan dan saat Myung Eun pergi dari rumah ini, Lee Ahjumma bercerita bahwa Ayah Minseok memintanya untuk memasak dan merapihkan rumah untuk Minseok karna Ayah tau Minseok pasti akan slalu makan ramen terus-menerus.

 

Lee Ahjumma menyiapkan beberapa kotak makan yang tesusun rapih, Minseok bilang bahwa temannya sedang dirumah sakit dan meminta Lee Ahjumma untuk membuat makanan. Minseok sendiri tak begitu ingat seingatnya Lee Ahjumma adalah orang baik yang slalu membuatkannya makan setelah ia keluar dari rumah sakit, tak lama setelah itu ia dan Ayahnya pindah ke Busan.

“Ahjumma, terima kasih” Ucap Minseok melihat tumpukan kotak makan “Tapi, Bukankah ini terlalu banyak?”

“Tidak, orang sakit perlu banyak makan”

“Aku akan membawanya” Minseok meraih tas kecil yang berisi makanan itu dan ia bersiap kembali kerumah sakit tempat Myung Eun dirawat. “Minseok-ah, temanmu itu seorang wanita kan?” Minseok tersenyum malu.

“Jika bukan wanita mana mungkin seorang pria mau membawa makanan untuk pria lainnya”

“Tidak, Ahjumma…” Elak Minseok, tentu saja ia tak berani mengaku. “Ahjumma, Aku pergi!” Minseok berjalan menuju pintu rumahnya itu.

“Ah, Tunggu. Apa besok.. Kau dan Ayahmu akan pergi kesana ?”

“Kesana? Kemana? Apa maksud Ahjumma?” Minseok berhenti dan menoleh kebelakang dengan wajah penasaran, memangnya besok ada apa sampai dia dan Ayahnya akan pergi.

 

Myung Eun menatap Minseok yang datang menemuinya lagi bahkan dia sengaja bolos sekolah untuknya, Myung Eun sudah berulang kali memaksa Minseok agar tak menemuinya dan istirahat dirumah saja tapi Minseok menolak ia akan tetap disana sampai Myung Eun diperbolehkan pulang. Myung Eun benar-benar tak habis pikir betapa keras kepalanya Minseok, dia bahkan membawa banyak makanan untuknya dan sebagian lagi ia bagikan pada pasien yang berada di ruangan sama dengannya. “Minseok-aaa”

“Mengapa? Kau ingin aku pulang?”

Myung Eun mengganguk “Pulanglah! Ayahmu pasti khawatir’

“Tak ada yang mengkhawatirkanmu dan Ayahku sedang tugas” Balas Minseok memasang senyumnya. Myung Eun diam melihat wajah Minseok yang tampak berbeda, walaupun dia tersenyum tapi pandangannya nampak kosong seperti ada yang dia pikirkan.. Myung Eun tak tau apa ia harus bertanya atau tidak.

 

Myung Eun yang bosan karna berdiam diri di ruangannya selama seharian ini berjalan keluar meninggalkan Minseok yang terlelap disana, Ya karna tadi malam Minseok hanya tidur dua jam menunggu Myung Eun jadinya sore ini ia tertidur di atas kursinya. Myung Eun melangkah pelan sembari mendorong infusnya yang masih terpasang, kakinya sudah tak terasa kaku lagi dan juga ia tak merasa sakit di badannya seperti tadi pagi mungkin pengaruh obat yang dokter berikan sudah bereaksi. Kedua matanya langsung teralih pada seseorang yang tengah memainkan gitar di bagian tengah rumah sakit itu, disekitarnya banyak anak kecil maupun orang sakit lainnya yang tengah mendengar alunan nada dari gitar itu tapi bagi kedua mata Myung Eun ia lebih tertarik dengan piano yang berada di sana..

 

Minseok segera keluar dari ruangan Myung Eun setelah menyadari dia tak ada diatas ranjangnya, menurut pasien lainnya yang berada di ruangan itu bilang kalau Myung Eun sudah sejak tadi keluar dan sampai sekarang belum kembali. Pikiran Minseok mulai kacau, ia berpikir yang tidak-tidak bagaimana jika Myung Eun pingsan disuatu tempat dan tak ada yang menolong..Park Myung Eun, kemana kau?

Minseok sudah mencari Myung Eun tiap lorong-lorong rumah sakit bahkan ia memeriksa toilet wanita dengan bantuan perawat dan juga mencari Myung Eun sampai tangga darurat, ia berpikir Myung Eun meninggalkannya lagi.. tapi kekhawatirannya hilang ketika ia sampai di lantai dasar rumah sakit dimana ia mendengar alunan piano yang ia kenal, itu adalah permainan Myung Eun, permainan yang sama dengan nada-nada yang juga dimainkan Ibunya dulu. Tentu saja tak ada orang lain selain Ibunya dan Myung Eun yang mengetahui nada itu. Terdengarlah helaan nafas leganya saat ia benar-benar memastikan wajah Myung Eun.

Myung Eun dengan serius memainkan piano itu menggunakan jari-jari lentiknya membuat orang disana kagum dengan permaiannnya bahkan beberapa orang merekam aksi Myung Eun ini. Myung Eun sendiri senang, niatnya bermain piano ini untuk menghibur orang-orang disini terutama pasien lainnya.. seusai ia menyelesaikan permainannya pandangannya langsung teralih pada Minseok yang sejak tadi memang sudah ia ketahui keberadaaanya, ia melambaikan tangannya memberi tanda agar Minseok mendekatinya dan Minseok menuruti itu.

“Ya.. Kau…”

“Mau bermain bersama?” Ajak Myung Eun tersenyum pada Minseok yang berdiri disampingnya. Minseok membalasnya dengan senyuman bertanda ia menerima ajakan Myung Eun, Myung Eun langsung bergeser agar Minseok dapat duduk disampingnya lalu Minseok segera duduk disana “Apa yang akan kita mainkan?”

“Kau akan segera melihatnya” Myung Eun mulai bermain, jari-jarinya dengan cepat menekan keyboart piano-piano itu dan sebagai Pianist Minseok mengetahui apa yang tengah dimainkan Myung Eun lalu ia segera bergabung membuat nada-nada itu semakin indah. Keduanya bermain piano bersama untuk pertama kalinya dengan senyum yang tak lepas dari mereka berdua.

Bermain piano dengan mu lagi, menyenangkan.

Akankah ini akan menjadi yang terakhir untuk kita?

-MyungEun-

 

“Kau harusnya bilang jika kau ingin keluar?”

“Kau juga harus perhatikan infus-mu!”

“Bagaimana jika kau tiba-tiba pingsan, kondisi mu belum pulih”

Myung Eun hanya diam memandang Minseok yang terus memberinya peringatan, mungkin lebih tepatnya memberi nasehat atau..entahlah. Myung Eun masih menatap Minseok yang duduk disampingnya itu, anak pendiam seperti Minseok ternyata bisa berbicara seperti ini juga.

“Aku khawatir padamu” Kata-kata itu membuat jantung Myung Eun semakin berdetak kencang, Tidak! Ia tak boleh memiliki perasaan ini. “Jadi, apapun itu kau harus memberi tahuku. Mengerti?” Myung Eun hanya mengganguk saja, mulutnya terasa kelu untuk mengularkan suara tapi kedua matanya terus memandangi wajah Minseok.

“Apa kau bisa pergi denganku besok?” Tanya Minseok “Karna besok kau akan pulang, sebelum itu aku ingin kau menemaniku, apa kau bisa?” Lanjutnya memandang Myung Eun yang belum menjawab lalu sedetik kemudian Myung Eun mengganguk “Hemm, Ayo pergi!”

Mungkin… besok akan menjadi hari terakhir aku bertemu denganmu, Minseok.

 

 

Myung Eun mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah Minseok yang tentu saja lebih besar dengannya, ia kini sudah pulang dari rumah sakit dan karna saat ia masuk rumah sakit dia mengenakan seragam sekolah jadi sekarang ia juga memakai seragam sekolahnya . Myung Eun sendiri masih tidak tau kemana Minseok akan membawanya tapi anehnya Minseok membeli sebucket bunga dan mereka berhenti didepan sebuah gedung yaitu ‘Seoul Memorial’

“Ini…” Ucap Myung Eun melirik Minseok disampingnya. Minseok menghela berat nafasnya “Haruskah aku masuk atau tidak?”

“Sebenarnya ada apa?”

 

Keduanya duduk di bangku yang terdapat dihalaman gedung itu, Minseok menceritakan bahwa Lee Ahjumma, pengasuhnya dulu itu berkata bahwa hari ini adalah hari peringatan Ibunya dan yang lebih mengejutkan adalah bahwa ternyata debu Ibunya disemayamkan disini bukan di Gwangju seperti apa yang Ayahnya katakan ,terlebih ada satu kenyataan lagi bahwa nama Ibunya bukan lah Park Myung Eun tapi Yoon Ji Sook.. Memang slama ini Minseok tak pernah menemui tempat persemayaman Ibunya karna itu terlalu jauh dan lagi dia tak tahu dimana letak pastinya karna Gwangju itu sangat luas. Minseok tak habis pikir mengapa Ayahnya menyembunyikan semua kenyataan ini, tak mungkin Lee Ahjumma berbohong padanya.

“Masuklah, temui Ibumu dan sapalah!” Myung Eun sudah mengetahui itu sejak lama bahwa abu Ibu Minseok memang berada di Seoul bukan Gwangju tempat kelahiran Ibu Minseok, ia juga tak tau jika Tn.Kim menyembunyikan itu dari Minseok dan sekarang sebuah pertanyaan muncul dibenaknya

Apa mungkin Kim Ahjussi menyembunyikan tentang diriku juga?

Pantas saja Minseok tak mengenalku bahkan namaku… ia mengingat namaku sebagai Ibunya.

“Maukah kau menemaniku masuk kedalam?” Myung Eun mengangguk setuju atas ajakan Minseok, ia juga ingin mengetahui wajah Ibu Minseok dan setidaknya memberi salam pada beliau.

 

Myung Eun akan masuk kedalalam suatu ruangan terbuka disana, dimana terdapat banyak rak-rak tempat penyimpanan abu tapi.. melihat Minseok yang nampaknya ingin sendiri ia hanya berdiam di depan ruangan itu menunggu Minseok selesai berbicara dengan Ibunya. Minseok menatap salah satu rak dimana disana terdapat nama Yoon Ji Sook dan juga ada sebuah foto didalam sana, itu adalah foto dirinya ketika bayi, Ayahnya dan juga… orang yang mungkin itu adalah Ibunya, Tidak! Ini pasti Ibunya. “Ommaa… Mianhae.. Aku terlambat,kan?” Ucapnya menahan air mata yang sudah memenuhi kedua matanya. “Omaa, aku benar-benar merindukanmu. Mianhae..”

Didepan sana, Myung Eun mendengar semua ucapan Minseok pada Ibunya dan itu juga membuatnya menangis sampai.. Suara sepatu itu membuat Myung Eun menegakan kepalanya ketika suara itu semakin mendekat dan mendekat hingga pria berjas hitam itu berdiri didepannya.

Sedangkan didalam sana, Minseok masih memandang foto yang terdapat didalam rak itu hingga saat ia berniat memanggil Myung Eun didepan sana, namun.. tak sengaja melihat foto yang terdapat disebelah rak abu milik Ibunya itu. Foto itu sangat tak asing baginya.. Tidak, ini tidak masuk akal! Minseok mendekati wajahnya melihat lebih dekat foto itu dan satu kenyataan lagi, wanita di foto itu memiliki wajah yang sama dengan Myung Eun. Apa mungkin dia Myung Eun wanita yang disebut oleh Ayahnya saat itu sudah meninggal tapi.. wanita itu memakai seragam yang sama dengan seragam yang Myung Eun kenakan sekarang dan kalung itu, kalung berwarna perak berlambang not balok  itu sama dengan kalung yang dipakai Myung Eun , ia tau karna saat ia akan membawa Myung Eun ke rumah sakit kalung itu sempat terjatuh. Tidak! Apa ini semua masuk akal? Padahal disana tertulis bahwa kematiannya adalah 1 Desember 2003. 10 tahun yang lalu. Apa ini mungkin? Bagaimana bisa ini dibilang kebetulan? Mungkinkah mereka orang yang sama tapi..

 

“Ahjussi…” Ucap Myung Eun saat pria berjas hitam itu berdiri didepannya dan menjatuhkan sebucket bunga mawar putih kelantai ketika dia melihat wajah Myung Eun.

“Tidak… tidak… Myungeun-aah.. apa itu kau?” Tn.Kim terkejut melihat wajah Myung Eun, gadis yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu itu kini berada di depan matanya. Ini bukan sekedar halusinasi atau ia melihat hantu tapi gadis didepannya ini benar-benar Park Myung Eun selain kalung yang dikenakan Myungeun. Tn Kim juga tau itu adalah Myung Eun yang dikenalnya dari cara dia berbicara,suaranya dan tatapan matanya, itu benar Park Myung Eun.

“Apa ini? Apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang terjadi??!!?!” Minseok ternyata sudah berada di dekat mereka, wajahnya terlihat bingung, kesal, marah dan.. entahlah bagaimana menjelaskan perasaanya kini. Minseok mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan tangan kanannya “Aahhhkkk…” Teriaknya frustasi lalu berbalik meninggalkan Ayah dan Myung Eun juga tengah dalam kebingungan.

Seharusnya aku tidak pergi kemasa depan, aku menyesal.

Mengubah takdir seseorang hanya akan membuat orang itu dan orang disekitarnya menderita karnanya, itu benar. Harusnya aku sadar sejak dulu sebelum bermain-main dengan masa depan tapi… aku benar-benar menyukai Minseok, aku tidak mau kehilangannya. Bagaimana ini?

-Myungeun-

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Who Are You? (Chapter 5)”

  1. Ya ampun, bnar” pilihan yang rumit..
    Knapa jga ayahnya minseok ngerahasiain myungeun and bohong sma minseok??
    Izin bca kakk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s