[TAO BIRTHDAY PROJECT] Please Answer The Question

PATQ l18hee.jpg

Please Answer The Question

Huang Zitao / OC

Vignette / AU / lilFluff / Romance / School-life / slightOther / Teen

.by l18hee

Jika kausudah membaca catatan ini, tolong jawab pertanyaan terakhirku

Tentang siapa yang salah dalam kisah hidupku dengan lelaki itu

Mau tahu tidak apa yang membuat hatiku bergetar? Sebenarnya ada banyak. Jika kau bersedia membaca catatan ini sampai akhir, aku beri tepuk tangan karena rupanya keingintahuanmu tentangku cukup besar. Oh ya, pertama-tama aku ingatkan, lelaki dengan tindik di teliga bernama Huang Zitao akan menjadi pemeran utama dalam catatan ini. Selain aku, tentu.

Baik, dimulai dari mana? Hm, mungkin dari hal kecil seperti ketika aku dan Tao seringkali tak sengaja bertemu pandang. Atau saat kami tak sengaja berdampingan di halte untuk menunggu bus sepulang kelas. Atau ketika Tao sedang tak punya kerjaan hingga ia bercanda di depanku, walau dia melontar lelucon pada teman-temannya entah kenapa itu juga berefek padaku. Oh, mungkin lucu, hanya hal kecil saja dapat membuat hatiku bergetar.

Kaubutuh contoh nyata yang lebih dari meyakinkan dari yang barusan? Baiklah, um, mari kita gali lagi memori otakku ini. Sebentar, biarkan aku mengingat lebih kuat. Tunggu, aku sedang memikirkan… sebuah bunga? Ah! Iya! Tao pernah memberiku setangkai bunga. Pikirku dia mungkin bercanda atau sedang melakukan lelucon seperti biasa. Tapi anehnya, hanya senyum simpul yang ia beri saat tangkai bunga yang dia petik sendiri mendarat di mejaku. Salahkah aku jika begitu bergetar waktu itu?

Well mungkin salah, nyatanya setelah insiden pemberian bunga Tao bersikap biasa saja padaku. Membuatku mentah-mentah menelan kecewa, menggumamkan kata ‘mungkin dia bercanda’, dan menanamkan jika harusnya aku tak perlu melabuhkan harapan pada sosoknya. Tapi, selanjutnya lelaki itu datang, di kala aku kembali untuk mengikuti pelajaran setelah mengambil absen beberapa hari. Dengan sebuah ‘sudah sembuh?’ dan raut khawatir yang berubah menjadi kulum senyum ketika kuanggukkan kepala, lagi-lagi aku bergetar akibat Si Jelek Mengesalkan itu.

Tao seperti air di perbatasan antara daratan dan laut (baiklah, maksudku pantai), kadang pasang kadang surut. Kadang datang padaku, kadang menjauh. Jadi dengan persepsi ini semakin kuyakinkan jika dia tak lebih dari sekadar teman.

Berkelit dengan apa yang kuyakini, takdir terus berjalan. Tangkai bunga kini tak hanya satu, walau tak sampai seribu sudah cukup membuatku diam-diam terharu. Mari hilangkan bagian Tao yang masih jarang mengajakku bicara. Jika tak sengaja berada dalam keadaan yang mengharuskan kami untuk dekat (mengerjakan tugas kelompok, misalnya), seringnya ia hanya memasang senyum. Terkadang diselingi candaan lucu atau acara pemberian cuma-cuma sekotak susu. Sudah kubilang hatiku bergetar karena itu.

Kurang nyatakah contoh yang aku beri untukmu?

Masih tidak percaya aku bergetar hanya karena hal kecil tentangnya? Tidak, aku tidak marah. Aku hanya akan melanjutkan catatan ini bagaimanapun akhirnya. Ada satu lagi kejadian yang masih kuingat jelas. Getaran hatiku paling parah saat itu. Begini, awalnya mungkin hanya sekedar tak sengaja bersama─lagi-lagi di bawah atap halte bus. Tao mengajakku bercanda, aku ingat. Banyak tawa yang kutebar, dia tak berbeda dariku. Kendati ada satu, dua lelucon yang kukira tak lucu, aku tetap tertawa. Aku terlalu senang hingga tak dapat menahan diriku. Tao sendiri? Entah, mungkin sama.

Um, mungkin juga tidak.

Aku tertawa karena terlalu senang bisa bersamanya. Sedangkan dia sendiri… hm, aku akan menuliskan ucapannya waktu itu yang masih membekas di setiap kelokan sel otakku. Dia bilang: “Benar kan? Aku memang suka bercanda, kenapa semua sampai salah paham?” Tunggu, bukan, bukan bagian yang itu. Tapi yang ini: “Haha, kuharap kau tidak seperti gadis kelas sebelah. Mengira aku menyukainya hanya karena bertangkai-tangkai bunga dan kotak susu. Memangnya suka segampang itu? Iya kan?”

Saat tawaku terhenti seketika, aku bisa merasakan getaran yang luar biasa. Sedang Tao sendiri masih tergelak di sana.

Seluruh kata yang ingin kulontar terlalu banyak, hingga mengumpul dan menyumbat semua saluran di leherku. Yang keluar hanya sebuah tendangan di tulang keringnya. Agaknya tak begitu berpengaruh mengingat kakiku terlalu kecil dibandingkan dengan miliknya.

Aku bergetar. Maksudku, hatiku. Getarannya kuat, melebihi getaran lain yang aku rasakan dengannya sebelum ucap kotor yang ia lontar terdengar terlampau akurat. Sampai-sampai aku tak bisa mengehentikannya. Yah, kupikir ini akibatnya jika aku mengabaikan yang namanya pengharapan sia-sia.

Tapi itu bukan berarti aku menyerah pada Tao. Ada kekuatan kuat dalam hatiku untuk terus berdiri menantangnya. Jadi setelah itu, di setiap pagi, aku mulai meletakkan satu coklat di depannya. Tanpa kata, hanya senyum simpul biasa. Ia mencoba bertanya, aku masih diam setia. Selanjutnya, kotak-kotak susu yang kubeli beralih padanya secara cuma-cuma. Yang ini Tao tak bertanya, hanya membalas senyum dan kedik bahu saja. Setidaknya aku senang dia menebar senyum ceria. Hatiku masih bergetar, tentu. Menikmati bagaimana kini ada satu jenis senyum yang Tao khususkan padaku. Oh, biar kuralat, tak hanya senyum tapi waktunya perlahan berporos untuk lebih sering berdiri di sampingku.

Sorakan menggoda tak kupedulikan, aku lebih suka berfokus pada earphone di telinga kiriku, seraya sesekali melirik kerarah Tao dengan kabel earphone sisanya. Dia terlihat lucu kala meninggalkan gerombolan kawannya untuk menghampiriku hanya karena pertanyaan tak mutu. Tao yang biasanya terlihat sangar akan berubah menjadi pribadi menyenangkan jika ada aku yang menemaninya untuk melewatkan makan siang. Lelaki penyuka aliran bela diri wushu itu tak segan menunjukkan kemampuannya padaku. Memintaku untuk melontar pujian habis-habisan. Kendati kelihatan setengah terpaksa, nyatanya aku menikmatinya.

Lagi-lagi kupikir semua ini lucu. Coba saja jika aku meyerah padanya setelah kejadian di halte tempo dulu. Dia tak akan mau menunjukkan rengek manja padaku. Aku tak akan bisa menyandar pada tempat yang ia klaim sebagai bahu. Bahu Tao, aku suka menyandar padanya akhir-akhir ini. Rasanya nyaman dan menyenangkan. Ditambah lagi dia tak keberatan.

Semakin bertambahnya intensitas Tao yang mengajakku keluar (alasannya bermain, tapi kurasa lebih menjorok ke kencan), kupikir mungkin tak ada salahnya jika aku memulai lebih dulu. Jadi kuajak dia menghabiskan waktu pulang bersama. Lihat, betapa aku bisa berani seperti ini karenanya.

Di halte, sama seperti dulu kami bertukar candaan lucu. Kali ini aku yang lebih sering melontar guyonan. Salahkan aku yang terlalu bergetar kala berdiri di sampingnya. Hingga akhirnya Tao mengacak surai lembutku seraya berucap, “Kau pintar melucu juga, rupanya.”

Dengan yakin aku menganggukkan kepala, tersenyum selebar mungkin yang aku bisa. Getaran hatiku mejalar kemana-mana. Seraya terkekeh ringan, kupandang paras rupawan lelaki itu yang sama saja cerahnya denganku.

“Kaubaru tahu aku suka melucu?” Punya kesamaan mungkin akan membuat kami cocok nantinya, jadi kulanjutkan ucapan tadi lebih ringan, “Aku melucu pada semua hal. Jadi, jangan marah seperti kakak kelas kita ya jika aku sering memberimu coklat dan kotak susu tanpa maksud apa-apa.”

Tawanya hilang seketika. Aku semakin bahagia.

“Tanpa maksud apa-apa?”

Tanya yang ia muntahkan makin membuatku ingin tertawa, “Jika kau ingin lebih jelas, tanpa maksud apa-apa itu artinya tidak suka, eh bukan, tidak cinta. Ya begitu deh intinya.” Cengiranku kontras dengan rahang yang seolah akan jatuh miliknya.

“Seperti katamu dulu, suka tidak segampang itu.” Ini kuambil dari kata-kata Tao. Kupikir bagus, jadi kugunakan saja. Jika kautanya efeknya bagaimana? Jawabannya: luar biasa.

Karena selanjutnya entah kenapa getaran di hatiku pada sosok seorang Huang Zitao menghilang sempurna.

Entah kenapa─lagi─Tao justru menyalahkanku setelah kejadian itu. Sebagai pengelak atas tuduhannya aku akhirnya menulis ini sebagai bukti siapa yang salah dalam kisah kami. Kausudah baca semua dari awal, kan? Oke, jadi berikan pendapatmu dengan pertanyaan terakhirku yang mungkin sudah kautunggu.

Katakan, siapa yang salah dalam kisah kami, jika setelah konversasi di halte tadi Tao memutuskan untuk mendorong diriku ke jalanan ramai hingga tubuhku mencium muka truk tinggi?

.

.

.

.end

Hayohloh jawab lho wkwk

Jadi ini ceritanya pada saiko gitu, ceweknya saiko, Tao saiko, aduh kenapa aku nulis beginian .-. Yang penting…

❤ HAPPY BIRTHDAY HUANG ZITAO ❤

(walau ini telat ehe)

MAKIN SANGAR YA BEB/plak/

Tuh kan jadi kangen momen TaoHun :’) (terus cek foto IG Sehun ama Tao jaman dulu yang udah dihapus) (terus baper sendiri) hue :’

p.s: ambil positifnya aja, jan tiru adegan emosional Tao lho wkwk

.nida

2 tanggapan untuk “[TAO BIRTHDAY PROJECT] Please Answer The Question”

  1. hai nida ^^ kalo aku ga jawab boleh ga? bikos dua2nya sama2 salah, ga mau cepetan ngaku dan kelamaan kode2an #akucewekmainterabas *tapi kan harus pilih salah satu ya ya udah
    dan duh tao, kamu udah besar, ngapain sih pake sok emo DX
    anyway, di awal aku suka penggambaran tao-mu, dia terlihat … normal. maksudku biasanya tao tuh kan yg cengeng, manja, takut kecoa, suka gucci, aish. dia ga kayak cowok normal gitu biasanya kalo jadi tokoh sampingan di ff, tapi untung ada event birthday dia sehingga dia digambarkan dgn sedikit lebih benar dan lebih ngeselin hahaha.
    *sebenernya aku sedang mengeluhkan ff tao yg jaaaaaaaaaaaraaaaaaaaaang banget di luar event T.T
    awas typo ya, tadi ada yg lupa dispasi, terus tanda elipsis (…) itu depan dan blkgnya ada spasinya ya. terus aku inget banget tadi ada ‘kekuatan kuat’, terasa aneh ga? mungkin bisa diganti jadi ‘kekuatan hebat’ atau semacamnya yg ga membuat kata ‘kuat’ itu jadi dobel.
    keep writing!

    1. KAKLIANA KYAAA XD
      bener juga kak, harusnya salah satu srobot duluan gitu ya/plak
      aku sebenernya sempet ragu kak mau nge-gimanain karakternya tao, soalnya karakter yang takut kecoa de el el agak susah diterapinnya ehe, jadi kubuat dia normal di hari ulang tahunnya wkwk
      iya kak, tao minim ffnya, padahal dia keren kalok dijadiin semacem prajurti apa pejuang apa agen gitu/lah?
      siap! nanti kuedit lagi kak ehe iya ya kak itu numpuk keknya… sip kak makasih banyak kakliana love besar banget buat kakak ❤ ❤ ❤ ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s