[TAO BIRTHDAY PROJECT] DESTINY VER. 3 — IRISH’s Story

irish-destiny

EXO Birthday Project

Tao’s Story

   DESTINY verse 3 

  EXO`s (ex) Tao & Lovelyz`s Mijoo 

   slight appearance EXO`s D.O., Kai, Suho  

  crime, slight!medical, psychology, thriller, violence story rated by M served in vignette length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


You’re my destiny. The gravity that pulls me.


██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Previous Birthday Series:

〉〉 Lay’s Project – Dumb Dumb Ver. 1Ver. 2Ver. 3Ver. 4 | Wu Yifan’s Project – Like A Fool Ver. 1Ver. 2Ver. 3 | Chanyeol’s Project Dream Candy Ver. 1Ver. 2Ver. 3 | D.O.’s Project – Sing For You Ver. 1Ver. 2Ver. 3 | Kai’s Project – For You Ver. 1Ver. 2Ver. 3 | Xiumin’s Project – One of These Nights Ver. 1Ver. 2Ver. 3 | Sehun’s Project – High Heels Ver. 1 – Ver. 2Ver. 3 | Luhan’s Project – Crush Ver. 1  – Ver. 2  | Tao’s Project – Destiny Ver. 1  – Ver. 2  〈〈

Destiny Ver. 3

♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫ ♪ ♫

HUANG ZITAO VER.

“Dia pembunuh.”

“Dia pasti sudah membuat Sana terbunuh.”

“Dia kan stalker, sudah pasti kematian Sana berhubungan dengannya.”

“Jangan-jangan, dia lah yang membunuh Sana.”

“Dia pembunuh.”

“Kenapa dia masih berani menunjukkan wajahnya di universitas ini?”

“Dasar pembunuh tidak tahu diri.”

Rahangku terkatup rapat. Akibat semua hinaan dan ledekan yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitarku. Sungguh melelahkan, memang. Tapi apa boleh buat, aku tidak bisa begitu saja menghilang dari universitas ini saat nyatanya aku tidak salah.

Aku memang tidak salah.

Aku tidak melakukan apapun pada Sana.

Bukan aku yang membuatnya terbunuh.

Sialan. Kim Jongin. Dia sudah membuatku mendapatkan masalah seperti ini. Haruskah aku menyebar luaskan saja video yang—ah, sial. Video itu sudah kuberikan padanya.

BRUGK!

Aku sedikit terkejut saat seseorang menyenggolku. Mulutku sudah terbuka hendak mengeluarkan umpatan saat aku sadar, tatapan semua orang tengah tertuju padaku.

“Perhatikan jalanmu, stalker!” sosok yang menabrakku malah berucap geram, seolah aku lah yang menabraknya dan bukan malah sebaliknya.

Sialan.

Semua orang pasti berniat untuk melancarkan pembullyan terhadapku sekarang.

Memilih meninggalkan keributan kecil yang mungkin tercipta jika aku memberontak, aku akhirnya melangkah menjauh dari keramaian.

Usahaku tentu percuma, orang-orang terus dengan sengaja menyenggolku. Sialan. Aku bahkan—

BRUGK!

Konsentrasiku terpecah saat kuyakini seseorang pasti sengaja mendorongku dengan cukup kuat hingga—

“Tidak!” aku refleks berucap, mencari sesuatu untuk berpegangan dan—

Dia.

“Kim Jongin…”

Gadis itu. Gadis yang sudah membunuh Sana.

Dengan kasar ia menghempaskan tanganku yang kini mencekalnya, sementara tubuhku mulai kehilangan keseimbangan, teriakan terdengar menggema dalam pendengaranku sebelum—

KRAK!

—aku tak lagi bisa membedakan rasa sakit yang datang.

Dia ada di sana. Berdiri tak jauh dariku. Pria bajingan yang sudah membuat Sana terbunuh. Sementara bayangnya mulai samar karena orang-orang berdatangan, mengerumuni tubuhku yang mulai mati rasa.

“Jongin…”

“Kim Jongin… Pembunuh…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KIM JUNMYEON VER.

Tao sudah tidak ada. Publik sudah membunuhnya.

Kukatakan hal ini karena nyatanya, tak seorang pun mau membuka mulut tentang siapa yang dengan sengaja mendorong Tao hingga terjungkal dari lantai tiga. Aku cukup yakin ada banyak saksi mata, tapi cap stalker yang Tao miliki membuat semua orang memilih untuk bungkam dan menganggap kematian Tao sebagai hal yang sama sekali tidak mengusik kehidupan mereka.

Memang ada, beberapa orang yang masih punya perasaan sebagai manusia dan mau mengatakan kebenaran. Tapi yang mereka ketahui sekedar kalimat terakhir yang Tao ucapkan sebelum ia meregang nyawa.

Kim Jongin. Pembunuh.

Kim Jongin. Bocah sialan yang sudah membunuh Sana.

Aku tahu Tao benar-benar menyukai Sana, dan awalnya aku memang berniat menghabisi Tao saat ia selesai dengan semua tugasnya. Sayang sekali Kim Jongin sudah lebih dulu terobsesi pada gadisku dan akhirnya mengirim seseorang untuk membunuhnya, hingga dengan obsesinya, ia juga membunuh Tao.

Seharusnya aku merasa berterima kasih, karena tak harus mengotori tanganku dengan membunuh siapa pun.

Tapi kenapa kematian Tao begitu mengusikku?

Terlebih, karena sosok yang membunuh Sana, dan Tao, pasti orang yang sama.

Gadis itu. Gadis yang bekerja untuk Kim Jongin.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

LEE MIJOO VER.

“Habisi dia, Mijoo-ya. Balas semua pukulan yang pernah ia sarangkan di tubuhmu.”

Ucapan Kyungsoo jadi sebuah alarm bagiku. Pembangkit keinginanku untuk melakukan hal yang jauh lebih keji daripada yang sudah kulakukan pada gadis bernama Sana itu.

Jongin sudah terbaring tidak berdaya. Kyungsoo baru saja menyuntikkan anti depresan padanya. Setidaknya, aku punya cukup waktu untuk sekedar mengikatnya kuat-kuat, dan menunggunya terjaga untuk menerima semua balasan dariku dalam keadaan sadar.

Akhirnya, sekarang aku duduk menunggunya, dengan bisturi yang sudah siap di tangan. Perlahan, aku mengguncang tubuhnya, berniat membuatnya terbangun.

Kurasakan lengan Kyungsoo melingkar di pinggangku saat gumamannya kemudian terdengar.

“Terlalu lama, Mijoo-ya.” ujar Kyungsoo, rupanya, sebotol air sudah ada di tangannya.

Sekon selanjutnya aku hanya tersenyum puas saat Kim Jongin terbangun dengan terbatuk-batuk menyedihkan. Kyungsoo menyiram wajahnya dengan air, otomatis hal tersebut akan membuatnya terbangun bukan?

Aku tahu Jongin pasti ingin mengumpat. Tapi mulutnya sudah tersumpal kain hingga yang bisa terdengar hanya gumaman samar.

“Kau tahu aku menunggu lama untuk melakukan hal ini, Kim Jongin.” ujarku.

Kyungsoo tertawa pelan.

“Aku akan menunggu di luar, Mijoo-ya. Aku yakin kau butuh bantuan untuk membersihkan tempat ini nanti.” ujarnya, aku mendengar langkah Kyungsoo menjauh, ia pasti menghubungi teman semasa kecilnya yang masih tinggal di panti asuhan.

Jongin menatapku, dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Tapi aku sudah terlalu muak untuk mengulur waktuku dengannya.

Dengan bisturi yang ada di tangan, aku mulai melakukan aktivitasku.

Mengulitinya. Dengan hati-hati tentu saja, seperti yang kulakukan saat aku akan mengambil rambut milik Kim Jiyeon, dan Jinsol, adikku.

Erangan kesakitan keluar dari mulutnya, dan tubuhnya juga memberontak dengan kuat.

Untunglah Kyungsoo membantuku mengikatnya dengan cukup kuat hingga aku tidak harus kewalahan karena pemberontakannya.

Butuh kehati-hatian ekstra bagiku untuk mengulitinya, mulai dari lengan, tungkai, dan terakhir, wajahnya. Darah tentu keluar dari bekas luka yang kuciptakan, tapi tenang saja, aku tidak melukai nadinya, jadi, ia masih punya beberapa menit untuk hidup.

“Apakah sakit?” tanyaku saat aku selesai mengulitinya.

Jongin masih berusaha memberontak, dan pemberontakannya sungguh mengesalkan.

“Kurasa pasti sakit. Ah, apa aku harus membersihkan luka-luka ini?” aku melangkah meninggalkan Jongin sejenak, dan bergerak untuk mengambil botol berisikan alkohol dan povidone iodine yang sebenarnya Kyungsoo siapkan untuk membersihkan tempat ini.

Hati-hati, aku membuka dua botol tersebut.

“Kau tahu, aku biasa menggunakan dua cairan ini untuk membersihkan luka di rumah sakit. Dan… sekujur tubuhmu terluka, jadi aku akan mengobatinya.” ujarku.

Aku kemudian mulai menyiramkan alkohol ke permukaan tubuh Jongin yang sekarang sudah terpapar. Erangan yang lebih keras keluar dari bibirnya, tapi aku masih meneruskan tindakanku.

“Diamlah, Jongin. Aku sedang membersihkan lukamu supaya tidak infeksi.” ujarku.

Mengabaikan erangan kesakitan Jongin, aku terus menyiramkan alkohol pada tubuhnya, bau menyengat alkohol segera memenuhi ruangan, aroma familiar yang mengingatkanku pada rumah sakit, tempat yang sudah begitu lama kutinggalkan.

“Nah, sekarang aku hanya perlu mengobatinya.” ujarku, mengambil botol povidone iodine di dekatku, dan membuka tutupnya.

“Sebenarnya, ada cairan lain yang bisa kugunakan, tapi mau bagaimana lagi, hanya ada cairan ini saja sekarang, jadi, mungkin nanti akan ada residu yang tertinggal di lukamu.” ujarku, menerangkan pada Jongin tentang efek samping dari povidone iodine yang kugunakan.

Jongin hanya menyahuti dengan erangan kesakitan. Sungguh menyedihkan.

Perlahan, aku membiarkan povidone iodine membasahi tubuh Jongin yang terpapar di udara. Lagi-lagi, erangan kesakitan memenuhi pendengaranku, sangat menghibur.

“Mijoo? Apa yang kau la—”

Aku menoleh saat Kyungsoo menghampiri. Gelak tawa memenuhi ruangan saat Kyungsoo menyadari apa yang tengah kulakukan.

“Mijoo-ya, oh, Tuhan, kupikir kau tengah membersihkan ruangan ini saat bau alkohol tercium di luar. Ternyata kau sedang bersenang-senang.” tuturnya, menatap Jongin tanpa belas kasihan.

“Temanku sudah datang, selesaikanlah dulu pekerjaanmu sekarang, kita bisa bereskan tubuhnya nanti.” ujar Kyungsoo.

“Oh, aku akan segera menyusulmu.” ujarku.

Kyungsoo hanya tersenyum kecil, ia lantas melangkah meninggalkanku dengan Jongin lagi.

“Sayang sekali aku tidak bisa berlama-lama denganmu, Jongin-ah.” aku akhirnya sekali lagi menggerakkan bisturiku, untuk menyayat-nyayat otot Jongin, menyisakan luka-luka berbentuk garis cukup dalam di sana.

“Anggap saja aku mengobatimu sekali lagi, sebelum kita berpisah.”

Aku menuangkan cairan berwarna kemerahan yang ada di botol di tanganku ke luka baru di tubuh Jongin. Erangan kesakitannya tak lagi mengusikku, sungguh.

Saat aku selesai, kubiarkan tubuh Jongin begitu saja di sudut ruangan.

Seperti yang Kyungsoo bilang, aku bisa membereskan tubuh Jongin nanti.

Saat aku sudah selesai dengan tempat ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KIM JUNMYEON VER.

Aku tiba di kediaman bajingan itu cukup larut. Dan anehnya, tempat itu terlihat lebih mengerikan daripada biasanya.

Tao pernah membawaku ke tempat ini, satu kali. Dan memang, tempat ini selalu terlihat gelap, tanpa pencahayaan. Tapi kenapa sekarang tempat ini terlihat lebih mengerikan?

Kesibukan kecil tertangkap oleh netraku. Seorang pemuda mengenakan pakaian serba hitam—dari posturnya kuyakini dia bukan Jongin—tampak membawa beberapa bungkusan berwarna hitam ke dalam kediaman Jongin.

Seorang gadis bersurai cokelat terang tampak memandang ke sekitar tempat itu, mungkin mengawasi keadaan.

Kukenali sosok gadis yang ada di dalam rekaman video ponsel Tao di sana. Berjalan dengan membawa dua buah botol ke belakang gedung apertemen tidak terurus itu.

Aku tahu ia akan kemana, karena di belakang gedung ini ada sebuah tempat pembuangan di dekat monorel kereta listrik yang sudah jarang digunakan, ia pasti ingin membuang sesuatu.

Menemuinya di sana mungkin akan jadi option yang lebih baik.

Lekas aku melangkah dengan hati-hati, melewati jalanan sempit untuk mencapai tempat tersebut. Beruntung ia masih belum beranjak pergi saat aku sampai.

“Kenapa kau membunuhnya?” pertanyaan itu serta-merta lolos dari bibirku, menuntut sebuah jawaban dari sosok yang bertanggung jawab atas kematian Sana.

Gadis itu berbalik, menatapku dengan alis berkerut.

“Apa yang kau bicarakan?” tanyanya.

“Sana. Kenapa kau membunuhnya?” tanyaku lagi.

Ia mengerjap cepat. Sekon selanjutnya sebuah tawa keluar dari bibirnya.

“Kenapa aku membunuhnya? Kau harusnya menanyakan hal itu pada Kim Jongin.” jawabnya tanpa sadar membuatku mengepalkan tanganku, menahan amarah.

“Kenapa kalian membunuhnya?” ulangku.

Gadis itu mendengus cukup keras.

“Aku sudah cukup lelah hari ini. Jika kau ingin sebuah jawaban, tanyakan saja pada Kim Jongin, kalau ia masih bisa menjawab.” gadis itu berucap santai, seolah tidak menyadari bagaimana amarahku saat ini.

Dengan santai ia melangkah pergi meninggalkanku.

“Aku punya bukti bahwa kau membunuhnya.” aku dengan bodoh lagi-lagi berucap.

Ia berbalik, menatapku dengan alis terangkat.

“Kau kira bukti bisa menolong saat ini? Jangan bercanda. Gadis itu begitu sial karena mengenal orang-orang aneh. Satu seorang stalker, satu lagi bajingan sakit jiwa yang tergila-gila pada kekerasan.”

“Sekarang, seorang freak malah dengan bodoh menanyakan alasan orang lain membunuh seseorang. Tidakkah kau sadar pertanyaanmu begitu bodoh? Jika kau sudah tahu aku membunuhnya, jika kau memang benar-benar punya bukti, kenapa tidak laporkan saja aku pada polisi?” ia berucap panjang, membuatku merasa begitu muak pada penuturannya.

Sialan.

Bagaimana ia bisa menganggap kematian Sana sebagai sesuatu yang begitu remeh?

Dia bisa mengatakan aku seorang freak, bagaimana dengannya yang bisa bersikap normal setelah membunuh seseorang?

Langkahku tanpa sadar bergerak menyusulnya saat ia lagi-lagi meninggalkanku. Dengan kasar aku meraih rambut panjangnya, membuatnya berteriak kesakitan.

“Lepaskan aku!”

“Kalau kau bisa membuat Sana terbunuh, itu artinya kau juga harus mati.”

BUGK!

Dengan kasar aku membenturkan kepalanya ke tembok gedung apertemen di dekat kami. Berulang kali, mengabaikan teriakan kesakitan juga usahanya untuk memberontak. Ia hanya seorang wanita, kekuatannya tak akan sepadan dengan kekuatan laki-laki.

Ia tak lagi bersuara setelah aku membenturkan kepalanya beberapa belas kali.

Darah sekarang mengotori tembok, juga lengan dan pakaianku.

Dengan kasar aku sekali lagi membenturkan kepalanya, cukup keras hingga aku tak lagi merasa kepalanya akan berbentuk seperti sedia kala.

Ia bisa mencekik Sana dengan santai, jadi, tidaklah sulit bagiku untuk membunuhnya dengan sama santainya.

Aku membiarkan tubuhnya tergolek tidak berdaya di tanah, sementara tanganku sibuk mencari sapu tangan untuk membersihkan darah yang menodai tubuhku.

Aku ingat aku membawa mobil, jadi, tidak sulit untuk sekedar membawa mayatnya dan kemudian membuangnya ke—

SRAT!

Aku tersentak saat benda tajam menusuk punggungku.

“Kenapa kau membunuhnya?”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

DO KYUNGSOO VER.

Tidak pernah, dalam hidupku, aku membayangkan sebuah kejadian dimana aku harus mengotori tanganku sendiri untuk menghabisi nyawa orang lain.

Terakhir kali, saat aku lepas kontrol dan hendak membunuh Kim Jiyeon, Mijoo adalah seorang yang mengembalikan kontrolku. Baginya, aku tak boleh mengotori tanganku dengan sebuah pembunuhan.

Tapi apa yang kurekam dalam ingatanku malam ini, bagaimana seorang lelaki tak dikenal dengan membabi-buta membenturkan kepala Mijoo ke tembok hingga ia tidak bernyawa, adalah hal yang sudah menghancurkan batas kontrolku.

Suntikan yang awalnya hanya kugunakan sebagai senjata cadangan untuk membunuh seseorang di saat genting, akhirnya harus kugunakan untuk melumpuhkan lelaki itu.

Ia berbalik saat jarumku menghujam punggungnya, hanya perlu beberapa detik sebelum ia kehilangan kontrol atas otot-ototnya.

“Siapa kau!?” teriaknya cukup keras.

“Kenapa kau membunuh gadisku?” ujarku, berusaha menjaga ketenangan dalam suaraku agar ia tidak menyadari bagaimana aku ingin membenturkan kepalanya juga ke tembok seperti yang ia lakukan pada Mijoo.

Bibirnya terbuka membentuk kata, dan langkahnya bahkan berusaha menggapaiku saat obat yang kuinjeksikan padanya bekerja. Timing yang sangat tepat karena dering panjang peluit kereta listrik terdengar samar-samar.

Tatapanku segera tertuju pada rel beberapa meter dari tempatku berdiri sekarang.

Aku tak harus mengotori tanganku dengan membunuhnya.

BRUGK!

Tubuh lelaki itu terjatuh ke tanah, separuh kesadarannya pasti sudah menghilang. Dan aku punya cukup waktu untuk membunuhnya.

Sekuat tenaga aku menyeret tubuhnya—yang masih menunjukkan perlawanan lemah—menuju rel. Cahaya menyilaukan samar-samar menyambut, lebih cepat Kyungsoo, kau harus bergerak lebih cepat.

Mengabaikan kemungkinan adanya seseorang yang mungkin melihat kejadian ini, aku menyeret tubuhnya, melintangkan tubuhnya di rel kereta. Kereta listrik hanya berjarak beberapa puluh meter, dan kecepatannya sudah kupastikan akan membuat kereta tersebut tidak menyadari tubuh yang akan hancur akibatnya karena dalam beberapa sekon, cahaya menyilaukan itu menyambutku.

Lekas aku melangkah pergi, mendatangi tubuh Mijoo yang sedari tadi terabaikan.

Aku berjongkok di dekat tubuhnya, ingin sekedar membelai rambutnya untuk mengutarakan bagaimana aku merasa bersalah tapi aku enggan meninggalkan sidik jariku pada tubuhnya.

Lagi-lagi dering panjang kereta listrik terdengar, seiring dengan bisingnya suara roda besi yang beradu dengan rel. Detik selanjutnya berlalu dengan teramat cepat karena aku bahkan tak sadar bagaimana indahnya suara tubuh yang tercabik roda besi tersebut ketika basahnya darah sudah mengenai leherku.

Aku yakin, tubuhnya sudah hancur sekarang.

Bisa kubayangkan kehebohan seperti apa yang akan muncul saat mayat tak berbentuk lelaki itu ditemukan. Tapi aku sama sekali tidak khawatir. Ada banyak orang yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan menunggu kereta menabrak bukan?

“Tenang saja Mijoo, aku sudah membunuhnya tanpa harus menodai tanganku.” ujarku, mengabaikan suara langkah tergopoh-gopoh yang sekarang mendekati tempatku berada.

“Kyungsoo-ya, aku sudah selesai dengan—”

Suara langkah itu sekarang mendekat, pekikan tertahan keluar dari bibirnya saat ia melangkah mendekatiku.

“Apa yang sudah terjadi?”

“Kurasa, aku akan butuh perawat baru di ruanganku nanti, Seulgi-ah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

EPILOGUE

HUANG ZITAO VER.

Minatozaki Sana. Nama itu selalu terdengar menghibur dalam ingatanku. Memang, ia seringkali ketakutan saat melihatku. Bagaimana pun, ia tahu aku adalah seorang yang berjulukan stalker, khususnya, stalker Sana.

Aku mungkin terdengar begitu terobsesi padanya. Tapi tidak, aku sama sekali tidak terobsesi padanya. Aku menyukainya dengan tulus.

BRUGK!

“Kau baik-baik saja?” refleks aku mencekal lengan Sana ketika ia secara tidak sengaja terjatuh di lantai.

Terkejut karena melihatku, aku akhirnya menjauhkan diri darinya, menatap khawatir sementara Sana segera merapikan diri, memunguti beberapa bukunya yang berserakan di lantai.

“Maaf, aku tidak bermaksud menakutimu.” tuturku membuat Sana mendongak.

Ia memandang sekitar kami, sebelum berucap.

“Apa kau benar-benar stalker seperti yang mereka katakan?” tanyanya membuatku terdiam.

“Aku hanya… mengikutimu untuk memastikan kau akan berada di tempat yang aman.” aku akhirnya berucap setelah sekian lama terdiam.

Sana tersenyum samar.

“Terima kasih, Tao.”

Aku terperangah. Ia menyebut namaku. Ia bicara padaku. Ia tersenyum padaku.

Maafkan aku, Sana. Sungguh, jika saja aku tak harus tergiur dengan uang yang Junmyeon tawarkan, aku tak harus menjadi orang yang menjijikkan di matamu.

Anggap saja kau adalah takdirku. Gravitasi yang menarikku untuk terus mendekatimu.

Aku ingin mengatakan hal itu padamu. Tapi strata sosial menjadi batas nyata di antara kita.

Anggap saja, takdir tidak berpihak padaku di kehidupan ini.

FIN

 

 

 

Cuap-cuap by IRISH:

KONSER MODE ON: ingin kubunuh pacarmu, saat dia kecup pipi merahmu, di depan kedua mataku, aku pun cemburu jadinya cantik, aku cemburu. (GANYAMBUNG WOI RISH)

YAUDAH, KONSER MODE ON (2): sudah tau luka di tubuhku yang kau kuliti dengan bisturi, sengaja kau siram, dengan alkohol. INI NYAMBUNG LOH.

Aku sudah bilang kalau akan ada lebih dari satu adegan pembunuhan di versi tiga ini. Dan tentu saja, aku khilaf semalem karena lupa ngejadwal publishnya (KEMUDIAN DI TENDANG) dan akhirnya baru sempet sekarang.

Awalnya, aku pengen ngebantai Tao dengan cara terelit yang pernah ada. Tapi moodku dihancurkan oleh temen aku yang dengan seenak udel bagi-bagi gosip Kai-Stal beli kondom di indomaret. KAN KAMPRET. MOOD AKU KAN JADI PENGEN MENCINCANG-CINCANG JONGIN.

Bukannya kzl, aku cuma merasa Jongin harusnya bawa Krystal ke KUA dulu, baru beli kondom. Inget Jongin-ah, dua anak cukup. Krsytal disuruh pake KB ya nanti ya. Jangan lupa, malem pertamanya jangan di hotel murahan, bawa di hotel bintang lima, supaya kasurnya king size, gak patah kalo dipake belasan ronde. (KEMUDIAN AKU DISAMBIT SEISI DUNIA).

Part yang bikin ngilu itu ya part Jongin. Why? Karena aku tau sakitnya luka dikit seupil yang kena alkohol, ditambah povidone iodine (kalian pasti lebih kenal sebutannya sebagai betadine). Dan well, ngilunya lagi sama part bisturi (mungkin orang awam ngenalnya sebutan pisau bedah, di istilah kesehatan mungkin kalian bisa sebut scalpel, atau mess, sama aja, intinya piso mungil itu) karena FYI KAWAN, BISTURI ITU TAJEMNYA DAHSYAT, SERIUS, TUMPULNYA LAMA BANGET, GAK PERLU DI ASAH KAYAK PISO DAPUR. BISTURI ITU KECIL-KECIL CABE RAWIT. NYELEKIT.

Kasian Jongin, di For You gak diceritain gimana dia terbunuh, dan di sini semua kuungkap. Di One of These Nights, heran banget gak ada yang merasa ambigu sama ‘perawat baru’ di ruangan Kyungsoo, padahal Mijoo itu jodohnya Kai, matinya bareng. Jodoh tigaan sama Suho yang jadi cameo cuma buat dibunuh sama bebeb bantet.

Gak ada juga yang nanya kapan Seulgi terlibat, Seulgi jahat, udah bantuin Kyungsoo, ujung-ujungnya Kyungsoo di bunuh. Hiks. Kamu maunya apa sih?

Tapi kerinduan aku akan kemunculan Kyungsoo akhirnya terobati. DIA HIDUP! AKU UDAH BILANG KYUNGSOO MASIH HIDUP DI SERIES-SERIES SELANJUTNYA KAN?

Dan di versi pertama dari Destiny ini sudah ada nampang pasangan di series selanjutnya, si Mr. Byun dan Mrs. Kim. Nanti Sana mampir lagi di versi selanjutnya. Hiks. Kasian Sana.

Salam ketjup, shy shy shy, IRISH.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

P.s: Let’s vote!

Clue: Dia beberapa tahun lebih muda daripada Baekhyun :v (CLUE APAAN ITU RISH)

20 tanggapan untuk “[TAO BIRTHDAY PROJECT] DESTINY VER. 3 — IRISH’s Story”

  1. Errrr
    Ini betulan lebih dari satu bunuh-bunuhan ya…
    Thriller-nya mantap
    Tao jatoh tapi ini ngga ngeri ya
    Kai… itu sakitnya bukan main ya, mba Mijoo demen pula ‘main-main’nya -_-
    Mijoo diserang Junmyeon nah ini aku udah pusing-pusing karena agak kerasa aja kepala ngebentur tembok itu sakit apalagi si Mijoo._.
    Dan,
    Paling ngeri yang Junmyeon
    Ya ampun itu pas ngebayangin (meskipun agak susah karena aku maksa buat ngga terlalu kebayang) dia dihantam kereta listrik… dan darahnya sampai muncrat ke Kyungsoo…
    Aww

    Oke kak Irish
    Lagi mau baca yang Baekhyun tapi nanti dulu kayanya belum sempet:’)

    1. heeh beneran loh aku kan bilang kalo bunuh2annya lebih dari satu XD wkwkwkwkw
      HAHAHAHAHAH aku juga ngeri kok bayangin luka di siram betadine ini XD wkwkwkwkwkwkwk

  2. Ya ampun rishh….pantes gk greget ceritanya…gk niat twnya ya…aku sih dukung soalnya Tao termasuk member yg krg aku suka di exo. Owhh….bebekk!!!!!!!!
    Rish bebek jgn tewas ya….(untuk ketiga kalinya)…
    Ya ampun uri leader tewasnya ngenes bgt…lagian sihhh gk pinter ngebunuh org malah kepedean pukul2 pala anak org…ya rasakanlah akibatnya….
    Ngemeng2 one and only nya kpn di update??

  3. hahahahahahahahahahahaha cuma bisa ketawa baca adegan bunuh-bunuhannya /ente saiko?/ wkwkwkwkwkwk tapiiiii kenapa mijoo harus matiiiiiiiiii T_T dia saiko cantik terelit yg pernah ada menurutku wkwkwkwkwkwkwk tapi kenapa mati aihhhhh -_- dan kira-kira siapa yg bakalan jadi perawat baru buat D.O? semoga aja member lovelyz lagi yeee hahahahahaha

  4. Pantesan itu tao kalau nguntit suka dibayar banyak
    Ternyata yg ngebayar si suho holkay to,hahahahah
    Pas tahu suho keinget ama penuturan si tao yg biasa dibayar mahal

    Sumpah diriku terlalu terpaku ama si dr.Do jd apa2 pikirannya dr.Do mulu,hahahahaha

    Ksiannya ini si suho, belum jg bday projectnya tayang udah disuguhin gimana akhir hidupnya dia,hahaha

    Trus tao jg tao dr nguntit jd cinta tp berakhir sama2 metong

    Satu chap 4 nyawa melayang, sumpah ini bday project yg memakan korban terbanyak
    Plus sana yg udah metong di ver 1 jdnya 5
    Warbiyasah rish,hahahaha

  5. Kak rish, jd ini yg ultah yg mati ceritany.-. Wow…..trus itu holkay ngapain pake nyempil2 segala. Udh gt ogeb lg, udh tau mijoo yg bunuh, knp msh deket2 sm pembunuh coba :”) menangos sy bacany. Trus nih holkay mati, ntar birthday project suho gmn kak rish :” ahciee yg biasny bsk ultah :3 semangat nulisnyaaa kak rish, ditunggu yaa ^^

  6. jongin udah selesai dikuliti, udah steril tinggal dimasak aja :v dijamin gaada cacingpita berbahaya wkwk
    itu tao matinya gitu doang? haha asiik panda hidup dg berguling mati dg berguling/? *baver kungfu panda
    uwoh ternyata holang kaya itu pacarnya sana toh. segitiga ini~ matinya suho juga keren wkwk
    mijoo disembuhin sama seulgi?
    clue apaan itu kaaaaak T~T semua lebih muda beberapa taun, so yoon pilih yg antimenstrim sajaa~~

  7. jongin udah selesai dikuliti, udah steril tinggal dimasak aja :v dijamin gaada cacingpita berbahaya wkwk
    itu tao matinya gitu doang? haha asiik panda hidup dg berguling mati dg berguling/? *baver kungfu panda
    uwoh ternyata holang kaya itu pacarnya sana toh. segitiga ini~ matinya suho juga keren wkwk
    mijoo disembuhin sama seulgi?

  8. Beneran ngilu bacanya pas jongin dikuliti pake bisturi disiramin alkohol sama betadine pula huhu perihhh bgt itu mah 😫😫 gak kebayang rasanya jadi jongin huhu irish jjang👍👍 si kyungsoo beneran hidup lagi di versi ini dengan peran saikonya😂😂 semoga my cabe byun nanti nasibnya gak semengenaskan jongin yaaa harus elit mah si cabe😂😂 salam ketchuupp rish😘

  9. Aduh kak, kecepatan. Thriller kematian Tao kurang berasa (*mungkin karena kak irish ngetiknya gak malem-malem atau karena kristal yg ada di cuap”? 😂 Kua lho kai, hotel bintang 5 belasan ronde..😂 /plakk/digampar masa..😂)
    Ini si suho kok dateng” main mati aja. Ntu si Seulgi kepribadian ganda ata apa kak? Bukannya dia ya yg ngebunuh si saiko d.o? 😅
    Bukannya di versi 2 ‘byun’ yg nyewa tao, lah kok sekarang suho yg dah koid yg punya rekaman pembunuhannya????😅
    Next versi please kak, kurang ini mah…😄 jadi gak sabar nunggu ultahnya si cabe meski un mendekam di depan mata..😂😂

    1. truthfully, awalnya aku gak mau bikin Tao Birthday Project, kenapa? karena dia bukan bias ._____. tapi gak bikin Tao sama aja melangkahi takdir kan ya? jadi yaudah aku buat aja wkwkwkwkw
      dan kemudian, di versi dua, aku ngejelasin itu versinya Tao. Si Byun cuma kameo di versi 1, coba kamu teliti lagi, mungkin baekhyun keselip di ingetan kamu saat kamu baca versi 2 ._. there’s no baekhyun there, dear…
      dan juga, di versi dua, Tao ngasihin hapenya ke ‘seseorang’ yang punya uang banyak, that’s a clue! orang itu pasti seorang holkay. dan siapa lagi holkay di eksoh kalo bukan Suho? So… aku rasa cerita ini sudah cukup jelas ._.
      di One of These Nights juga Seulgi sebenernya gak diceritain dia niat ngebunuh D.O. apa enggak, dia cuma pengen ketemu Kyungmi sampe dia kemudian baper dan akhirnya ngebunuh Dio ._.
      aku rasa penjelasan ini gak kurang, kita cuma perlu menyamakan persepsi tentang alur (YANG JELAS ENTE ITU ASTRAL RISH MAKANYA ORANG-ORANG GABISA PAHAM SAMA CERITA ENTE)
      okeh :”) maapkeun daku dan cerita daku yang membuat ente bingung :”)

    2. Okedah kak irish, jadi makin ngerti ceritanya. Kak irish itu emang daebak banget dah…😀😁
      Sebenernya kita sama kak, tao bukan buas ane juga makanya ane saya mengharapkan kematian elit dari seorang tao (*kemudian dibacok masaa pakek golok atau biar elit pake mess.😂)

Tinggalkan Balasan ke annisamelani Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s