DECISION [EPISODE 6] – by GECEE

GECEE proudly present

 

  E     I   S     O   N


 WITH
Park Hyemin as Han Jaein (Jane Han)
EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun

 

Ide ceritanya punya Gecee, tapi ChanBaek dan OC bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on DECISION:
[TEASER] | [EP 1] | [EP 2] | [EP 3] | [EP 4] | [EP 5]

Thanks to KAK I R I S H for the amazing poster

 

“I still believe, with you here, our love won’t ever let me down.”

–I Believe in Love (IU & Yoo Seung Ho)

 

 

==HAPPY READING==

Memalukan…”

Jane Han menghela napas sambil membiarkan titik-titik air dari pancuran berjatuhan ke kepalanya. Kepalanya itu sepertinya butuh dibasahi air agar bisa berpikir dengan jernih. Berkali-kali Jane menggelengkan kepalanya dan merutuki dirinya sendiri. Kenapa aku bisa sampai tertidur di apartemen Chanyeol oppa?

Tadi pagi, Jane kaget begitu menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya yang biasa. Setelah mengedarkan pandangan sejenak dan merasa mengenali gitar cokelat yang diletakkan di pojok kamar, Jane akhirnya bisa menyimpulkan bahwa ia tertidur di kamar tetangganya itu. Saat itu ia tersentak. Tertidur? Jane memukul kepalanya sendiri. Gadis macam apa dia yang membiarkan dirinya tertidur di kamar seorang laki-laki padahal di apartment ini hanya ada mereka berdua saja? Ia pasti sudah kehilangan akal sehatnya.

Kemudian Jane menatap jam dinding putih yang tergantung di atas kalender dinding di kamar Chanyeol. Mata gadis itu seketika terbelalak melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam putih tersebut. Pukul tujuh lebih dua puluh menit. Mendadak otaknya bisa bekerja dengan cepat dan ia teringat bahwa ia punya janji dengan Baekhyun untuk berangkat bersama pagi ini. Ia ingat Baekhyun mengatakan bahwa lelaki itu akan menjemputnya tepat pukul setengah delapan. Dengan gerakan cepat Jane turun dari tempat tidur, berlari keluar kamar, dan ia ingat ia sempat meneriakkan nama Chanyeol keras-keras karena terlalu panik sehingga membuat lelaki yang sedang menyiapkan sarapan itu terkejut.

Melihat Jane yang dilanda kepanikan seperti itu, tetangganya itu mengusulkan agar Jane mandi serta sarapan di tempatnya saja, dengan alasan ruang duduknya pasti masih gelap dan kalau menunggu sampai terang, ia akan terlambat. Dan di sinilah Jane sekarang, di ruang kamar mandi apartment Park Chanyeol, sedang merutuki dirinya sendiri atas akar dari segala kesalahan pagi hari ini. Lampu ruang duduk apartment-nya yang mandi.

Terdengar suara ketukan – atau lebih tepatnya gedoran – di pintu, disusul suara berteriak dari luar kamar mandi. “Han Jaein! Berapa lama lagi kau akan mandi?!”

Kesalahan ketiga, melamun ketika mandi. Cepat-cepat Jane mengambil botol sabun cair yang ada di situ, menuangkannya ke telapak tangannya, dan menggosokkannya dengan tergesa-gesa ke seluruh badannya. Ia bahkan tidak peduli sabun tersebut menyebarkan bau maskulin khas lelaki yang nantinya akan menempel di tubuhnya sepanjang hari ini. Kemudian Jane membilas tubuhnya, mengeringkan tubuhnya dengan handuk, mengenakan kembali baju tidur bergambar beruangnya, dan keluar dari kamar mandi. Begitu ia keluar, Chanyeol melemparkan tatapan tajam ke arahnya sambil menggelengkan kepala.

“Cepat kau sarapan lalu kenakan seragammu! Kita akan berangkat ke sekolah bersama,” ujar lelaki itu.

Jane buru-buru menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, oppa. Baekhyun akan menjemputku.”

Rahang lelaki itu terlihat mengeras, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Jane membungkukkan badannya ke arah Chanyeol. “Terima kasih oppa atas bantuannya. Aku permisi dulu.”

Ketika Jane keluar dari apartment Chanyeol dan berjalan ke arah pintu unit apartment-nya sendiri, ia tidak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya.

***

Byun Baekhyun tidak mempercayai penglihatannya sendiri ketika ia melihat Jane berjalan keluar dari apartment Park Chanyeol dengan mengenakan baju tidur serta rambutnya yang masih terlihat basah. Baekhyun ingat sekali bahwa apartment di seberang apartment kekasihnya itu adalah apartment milik Park Chanyeol karena suatu malam Baekhyun pernah mengantarkan Jane pulang dan ia melihat kakak kelasnya itu keluar dari apartment-nya. Baekhyun mengerutkan kening. Apa yang Jane lakukan di apartment Chanyeol sepagi ini?

Apakah…. Kekasihnya itu menginap di apartment kakak kelasnya ini?

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak mungkin. Ia tahu bahwa kekasihnya ini adalah gadis baik-baik. Jane pastilah masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan hal senekat itu.

Tetapi kemudian Baekhyun berpikir lagi. Bukankah mereka bertetangga? Jane memang gadis yang polos, tetapi bisa saja Chanyeol sunbae memanfaatkan kepolosan gadis itu, benar?

Lagi-lagi Baekhyun menggelengkan kepalanya sambil merutuki dirinya sendiri. Imajinasinya sudah terlalu liar sekarang sampai-sampai ia hampir meragukan kesetiaan kekasihnya dan meragukan akal sehat kakak kelasnya.

“Baekhyun-ah!”

Baekhyun memutar kepalanya sembilan puluh derajat dan melihat Jane yang sedang berlari dari ujung koridor menuju ke arahnya. Walaupun berbagai pertanyaan masih berkecamuk di kepalanya, tetapi ia berusaha untuk tersenyum. Jane memeluknya sekilas, kemudian menggandeng tangannya. “Ayo,” ujar gadis itu. “Sebentar lagi kita akan terlambat.”

Mereka berdua memasuki lift yang membawa mereka ke tempat parkir gedung apartment tersebut, dimana Baekhyun memarkir motornya. Baekhyun duduk di motornya, dan Jane duduk di belakangnya. Setelah menyerahkan helm untuk gadis itu, Baekhyun mulai menyalakan mesin motornya dan meninggalkan tempat itu untuk pergi ke sekolah.

Gadis itu memeluk perut Baekhyun erat, dan Baekhyun dapat merasakan kepala gadis itu bersandar di punggungnya. Gadis itu masih sama, senang memeluknya dan menyandarkan kepala di dada atau punggungnya. Pikiran Baekhyun teringat akan kejadian tadi pagi. Rasa penasarannya belum juga hilang. Apakah ia harus bertanya kepada kekasihnya ini?

Entahlah. Baekhyun juga tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Tetapi melihat senyum ceria gadis itu, merasakan tangan gadis itu yang memeluknya erat, merasakan punggungnya menjadi tempat sandaran bagi kepala gadis itu, membuat Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa. Setidaknya, sampai saat ini, menurutnya semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

***

Choi Seolri mengerjapkan matanya berulang kali. Butuh beberapa cubitan di tangan serta di pipinya untuk menyadarkan dirinya bahwa ini semua bukanlah mimpi. Cubitannya terasa sakit. Ini bukanlah mimpi. Ini semua adalah kenyataan. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Masih jelas dalam ingatannya ketika ia melihat seorang gadis keluar dengan piyama dan rambut basah dari apartment Chanyeol. Gadis itu tersenyum sejenak kepada Chanyeol sebelum akhirnya kembali ke apartment-nya sendiri. Seolri menyipitkan matanya. Kalau tidak salah, ia mengenal gadis itu. Ia pernah melihat gadis itu sebelumnya.

Seolri mencoba mengingat-ingat. Kalau tidak salah, gadis itu satu sekolah dengannya. Adik kelasnya. Seolri memejamkan mata, mencoba menggali ingatannya. Di bayangannya muncul sosok seorang gadis sedang tertunduk dengan Chanyeol di hadapannya. Chanyeol sedang memarahi gadis itu. Seolri melihat nametag kardus yang dikenakan oleh gadis itu. Han Jaein. Kelas X-B.

Kemudian gadis itu berpikir. Apa yang kira-kira dilakukan oleh adik kelasnya itu sepagi ini di apartment Chanyeol? Apakah… Han Jaein menginap di apartment Chanyeol semalam?

Seolri menggelengkan kepalanya erat-erat. Tidak mungkin. Ia telah mengenal Chanyeol cukup lama. Chanyeol bukanlah tipe lelaki seperti itu. Chanyeol bukanlah tipe lelaki yang akan menerima gadis manapun menginap di rumahnya seperti itu, hanya berdua. Seolri tersenyum. Ya, tidak mungkin. Mungkin itu hanyalah tetangga Chanyeol yang memberikan sarapan atau mengembalikan barang pinjaman dan semacamnya.

“Choi Seolri?”

Suara berat itu hampir membuat Seolri terlonjak. Ia segera menoleh dan mendapati bahwa Park Chanyeol sedang menatapnya lurus-lurus. Seolri cepat-cepat tersenyum, kemudian tertawa kecil, yang penting berusaha menutupi keterkejutannya.

“Sedang apa kau di sini?” tanya gadis itu.

Chanyeol masih menatapnya tajam. “Justru itu yang hendak aku tanyakan padamu. Sedang apa kau di sini?”

Seolri kembali tersenyum gugup. “Itu…. Umm.. Kebetulan aku sedang mengunjungi, umm… sepupu.. Jadi aku..”

Lelaki di hadapannya itu menggelengkan kepala. Tangan lelaki itu terulur dan mengelus puncak kepala Seolri sekilas. “Kau masih sama seperti dulu, tidak pernah pandai berbohong. Aku yakin kau tidak punya sepupu yang itnggal di gedung apartment ini. Kau hanya sengaja mampir untuk bisa pergi ke sekolah bersamaku, bukan?” Chanyeol menghela napas. “Baiklah kalau itu yang kau mau. Kita berangkat sekarang.”

Lelaki itu meraih lengannya dan menggenggamnya erat-erat. Kejutan kedua untuk Goo Seolri di pagi hari ini. Gadis itu bahkan merasakan tangannya yang berada dalam genggaman Chanyeol gemetar, tetapi gadis itu menolak berkomentar apa-apa. Ia hanya berharap ia bisa merasakan genggaman erat itu lagi untuk waktu-waktu ke depan.

Berharap bahwa suatu hari Chanyeol akan mencintainya kembali seperti dulu.

***

Jane memasuki ruang kelasnya dengan langkah ringan dan perasaan gembira. Perasaan yang akhir-akhir ini hampir selalu ia dapatkan setiap kali ia bepergian dengan Baekhyun. Sejak tadi, senyum tidak lekas hilang dari bibirnya. Ia merasa ia siap untuk menghadapi hari ini.

“Baekhee-ya!” Jane memanggil Baekhee begitu mendapati keberadaan gadis itu. Jane segera berlari menghampiri Baekhee dan memeluk sahabatnya itu erat-erat. Erangan Baekhee yang meronta-ronta melepaskan diri tidak dihiraukannya.

Ya!” seru Baekhee setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Jane. “What’s wrong with you? Did you go with Baekhyun today?”

Jane menganggukkan kepalanya. “Ya, tentu saja. Itulah yang membuat aku merasa bahagia pagi ini.”

Sahabatnya itu mendengus. Jane mencubit pipi Baekhee sekilas sebelum akhirnya berjalan ke tempat duduknya sendiri. Di mejanya, Jane melihat sebuah kertas post-it kuning. Jane mengambilnya dan membacanya.

Jauhi Park Chanyeol kalau kau mau tetap hidup.

“Astaga…” Jane mendecakkan lidahnya. Menggelikan sekali. Siapa yang kira-kira mengirimkan kertas ini padanya? Seseorang yang cemburu akan kedekatannya dengan Chanyeol oppa? Jane tertegun. Tunggu dulu. Kedekatan seperti apa yang sebenarnya dimaksud? Jane merasa ia belum sedekat itu dengan Park Chanyeol. Lelaki itu hanyalah kakak kelasnya di sekolah dan tetangganya di rumah. Tidak ada yang lebih. Jane meremas kertas kuning tersebut dan melemparnya begitu saja ke lantai. Ia memutuskan untuk tidak ambil pusing akan ancaman tersebut.

Begitu Jane duduk di kursinya, ia merasakan sesuatu membasahi rok seragam sekolahnya. Jane cepat-cepat berdiri, meraba bagian belakang tubuhnya, dan ia mendapati di tangannya ada cairan lengket serta bau. Jane memejamkan matanya, mencoba menahan amarahnya.

“Ada apa?” Baekhee cepat-cepat menghampiri gadis itu. “Astaga! Rokmu basah! Apa-apaan ini? Telur? Siapa yang meletakannya di sini?”

“Seseorang yang sedang cemburu padaku,” jawab Jane sinis.

Sahabatnya menggelengkan kepala. “Tidak mungkin. Siapa yang kira-kira berbuat seperti itu? Dan apa maksudmu dengan cemburu kepadamu?”

Jane tidak menjawab perkataan Baekhee. Ia cepat-cepat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan cairan-cairan telur yang berbau amis yang menempel di roknya. Namun ketika Jane masuk ke kamar mandi untuk membersihkan roknya, seseorang menuangkan air dari atas kepalanya, membuat seluruh badan Jane basah kuyup.

“Aish….” Setengah mati Jane berusaha untuk menahan diri agar tidak menendang serta meninju apa pun yang ada di hadapannya. Ini sudah keterlaluan. Siapa pun yang melakukan ini memang sengaja untuk mengganggu dia. Hari bahagia Jane hilang dalam sekejap mata.

***

Untuk kedua kalinya Chanyeol mengerang keras. Pasalnya sedari tadi bel pintu apartment-nya tidak mau berhenti berdering. Saat ini ia sedang mengerjakan soal fisika yang amat sulit. Bel pintu itu berdering kembali. Chanyeol mendesah. Demi Tuhan… tidak bisakah ada yang meninggalkannya dalam kedamaian?

Chanyeol membuka pintu apartment-nya dengan sebuah sentakan keras. Mulutnya sudah siap melontarkan kata-kata pedas bahkan kasar untuk siapa pun yang sudah berani-berani mengganggu waktu luangnya sore ini. Namun ketika melihat seorang gadis yang basah kuyup sedang menatapnya dengan tatapan yang lebih tajam dari yang ia berikan, Chanyeol memutuskan untuk menahan amarahnya.

“Jaein-ah…”

Gadis itu menatap matanya lurus-lurus. Dari ekspresi wajah gadis itu, sepertinya Jane tidak datang untuk mengatakan sesuatu yang baik.

“Park Chanyeol-ssi..”

Chanyeol memiringkan kepalanya sedikit begitu mendengar cara gadis itu memanggilnya. Gadis itu tidak lagi memanggilnya dengan sebutan oppa seperti biasa. Bahkan Jane tidak memanggilnya sunbae. Gadis itu memanggilnya dengan akhiran ssi yang mengisyaratkan bahwa Jane tidak mengenal dirinya sama sekali. Kening Chanyeol berkerut. Ada apa dengan gadis ini?”

“Apakah kau tahu mengapa aku terlihat basah kuyup seperti ini?” tanya gadis di hadapannya.

Chanyeol terdiam sejenak. Berpikir. “Uhm…. Kehujanan?”

Jane memutar bola matanya. “Bodoh. Sudah jelas-jelas udara di luar panas terik seperti ini.”

Chanyeol hanya mengangkat bahu.

“Baiklah kalau kau tidak tahu,” ujar gadis itu. “Seseorang sedang cemburu padaku karena menurutnya kita terlalu dekat. Aku bahkan tidak mengerti kedekatan apa yang ia maksud ketika aku hanya menganggapmu sebagai kakak kelas serta tetanggaku. Namun kecemburuannya sudah terlampau parah sampai akhirnya orang itu memutuskan untuk menggangguku. Bangkuku di kelas diberi cairan telur yang amis. Kemudian aku disiram di kamar mandi.”

Chanyeol menatap gadis itu kembali. “Geuraeseo?”

Gadis itu menarik napas sejenak. “Aku tidak tahu siapa orang itu, tetapi mungkin kau tahu. Dan aku harap kau bisa membereskan semua kesalahpahaman ini. Karena jujur saja, aku merasa sangat terganggu dengan hal-hal tersebut. Katakan padanya bahwa tidak ada yang perlu dijadikan alasan untuk cemburu karena aku dan kau tidak sedekat yang ia kira. Mengerti?”

Chanyeol tersenyum kecil. “Mengerti. Akan ku pastikan tidak akan ada yang mengganggumu setelah ini.”

***

Malam itu waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Byun Baekhyun, sama seperti ferris wheel yang sedang ia naiki kali ini terasa bergerak begitu lambat. Malam itu Baekhyun memutuskan untuk membawa Jane ke taman hiburan untuk menaiki ferris wheel, persis seperti yang mereka lakukan pada hari dimana Baekhyun menyatakan cinta pada gadis itu.

Diam-diam Baekhyun memperhatikan Jane. Kekasihnya itu tidak terlihat seperti biasanya. Tidak ada ekspresi senang yang seperti ia lihat pada waktu itu. Sejak tadi Jane terlihat resah, kebingungan sendiri dan terkadang lupa akan apa yang baru saja ia katakan. Di tengah percakapan, ia sering terlihat melamun sampai akhirnya berkata ya? apa? berulang-ulang. Baekhyun menyentuh pipinya gemas, tetapi seperti dipecut, gadis itu mundur kaget dengan wajah merona. Seperti tidak pernah disentuh sebelumnya.

Rasanya ingin sekali Baekhyun bisa membaca pikiran Jane. Ia ingin tahu apa saja yang gadis itu rasakan sekarang. Mengapa gadis itu terlihat begitu asing di hadapannya. Mengapa gadis itu tampak sedih. Mengapa senyumnya seperti dipaksakan. Mengapa ia begitu canggung.

“Baekhyun-ah.”

Pikiran Baekhyun seketika buyar. “Ne?”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Jane mencondongkan tubuh ke arah Baekhyun, siap untuk mendengarkan.

“Biasanya apa yang disukai oleh perempuan?”

Pertanyaan itu tiba-tiba keluar begitu saja. Baekhyun langsung menyesalinya karena itu pertanyaan yang paling bodoh dan tidak masuk akal yang mungkin pernah ia tanyakan.

Kekasihnya tidak tertawa, hanya tampak sedang berpikir. “Perempuan… senang dibelai sayang. Senang diajak pergi ke tempat-tempat romantis. Senang diajak candle light dinner sambil menikmati indahnya malam. Ada yang senang dibelikan cokelat atau bunga. Tapi tidak semua seperti itu.”

“Neoneun?”

Jane tersenyum lagi. “Na?”

Baekhyun mengangguk.

“Aku senang diajak naik ferris wheel di taman hiburan. Senang dengan harum bunga melati dan paling senang minum teh melati hangat. Aku juga senang makan cokelat putih, dan juga senang mengoleksi kalung bermata bandul lumba-lumba. Seperti pemberianmu ini.”

Baekhyun sudah tahu semua itu tentang dirinya. Baekhee sudah memberitahunya sejak dulu. Tetapi bagaimana dengan apa yang gadis itu rasakan? Apakah ia diam-diam ingin dipeluk juga? Dicium? Disentuh?

Jane meniup-niup tangannya yang tidak memakai sarung tangan. Gadis itu tampak begitu cantik. Tanpa sadar Baekhyun berlutut di hadapannya, mendekap kedua belah tangannya yang dingin, dan memandangi kedua bola matanya yang tampak sedih.

Ketika ia menyentuhkan bibirnya pada bibir gadis itu, Baekhyun seolah bisa menyentuh dasar hati Jane yang paling dalam. Hanya sebuah ciuman yang singkat dan hangat. Mungkin perbuatan semacam ini yang disebut romantic.

“Saranghae, Jaein-ah…”

Dan ketika Baekhyun mengucapkannya, ia juga memaknainya.

***

Sepuluh detik. Jane seakan terhipnotis. Mata gadis itu terbelalak kaget. Bibir Baekhyun baru saja meninggalkan jejak di bibirnya. Inikah rasanya dicium? Bukankah kata semua orang, rasanya manis?

Gadis itu terkejut. Tak mampu bergerak.

Baekhyun berhak mendapatkannya. Lelaki itu adalah kekasihnya. Sudah beberapa lama ini lelaki itu yang mengisi hari-hari Jane. Tetapi dalam hati, Jane merasakan ada sesuatu yang berontak. Sesuatu yang terus-menerus membatin, bukan dia, bukan dia.

Jane tidak bisa menjelaskan kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa yang berkecamuk di hatinya saat ini.

Bukan dia.

 

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 7

“Mengapa kau melakukan semua ini terhadap Han Jaein? Apa benar kau cemburu padaku?”

“Apa sebenarnya hubunganmu dengannya?”

***

“Kau mau jawaban bohong atau jujur? Jawaban jujur. Aku jatuh cinta pada tetangga seberang apartemenku.”

***

“Apa Baekhyun mencintaiku?”

“Tentu saja, bodoh! Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau juga mencintainya?”

 

 

A/N
Untuk readers setiaku yang udah lama banget nungguin lanjutan Decision, dari hatiku yang paling dalam aku minta maaf karena nggak kunjung update…
Real life seolah memintaku untuk hiatus sejenak, jadi bisa dibilang aku lama nggak pegang laptop.. Maaf dengan sangat yaa… 🙂

 

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

30 tanggapan untuk “DECISION [EPISODE 6] – by GECEE”

  1. tuh kan ? itu yg kutakutkan? jane belum tahu perasaannya sendiri, apakah dia suka sama baekhyun atau chanyeol. tapi paling tidak baekhyun sudah mendapatkan first kissnya sama org yg dicintainya, good luck deh baek, tetep berjuang!

  2. setelah jadi siders dari eps 1, akhirnya saya menampakan diri sekarang *nyengir lebar*
    maapkan saya yg sempet jdi siders 🙂
    karena ini cast nya chanbaek saya komenlaah..

    keren bangett ffnya.. 🙂 🙂

    1. waahahahaaa.. kemana saja dirimu selama ini, tidak pernah menampakkan diri? 😀
      gapapaaa… yang penting sekarang sudah muncul, sudah beri komen hihihi…
      terima kasih utk pujiannya yaa 😀

  3. Akhirnya yg selalu ditunggu update juga. Itu Jane kenapa? Dia merasa baekhyun bukan orang yg tepat kah? Iya yg tepatnya itu chanyeol *loh nanya sendiri jawab sendiri. Next thor jangan membuat readers mu jamuran buat nungguin update darimu. Semangat!! 😀

    1. maafkan aku karena aku baru update… aku selama ini bersemedi dulu di planet exo.. /abaikan/ maafkan kalian yang sudah berjamur nungguin updateannya yaaa…

      mungkin… jane hanya mengikuti kata hatinya.. entahlah, jane juga belum cerita ke aku. nanti kalau dia udah cerita, udah curhat, aku lanjut deh ya, aku kasih tahu ke kalian ada apa dengan jane sbnrnya 😀

  4. Keren, sampek gregetan bacanya
    Di tunggu lanjutannya ya thor
    Jangan lama lama nanti keburu njamur
    Semangat ya thor

    1. maafkan aku karena baru update lagi.. dan terima kasih sudah sabar menunggu wkwkwkwk
      ahahaha aku juga gregetan nulisnya XD
      oke lanjutannya ditunggu saja yaa…

  5. Makin greget thor 😁
    Di tunggu lanjutannya ya thor
    Jangan lama lama nanti keburu njamur 😁
    Hwaigting thor 😄

  6. hai aku reader baru di sini ^^
    aku komentar nya di sini ^^ maaf ya…
    ff ini bagus /untuk mu semua jempolku/ lanjut yaa aku makin penasaran ama kelanjutannya , di tambah cast cowoknya Bang CY ><

    1. hihih.. salam kenal juga..
      gapapa kok komentar dimana aja juga boleeehh 😀
      oh ya? terima kasih utk pujianmu… hhihihi aku ngerasa ini masih jauh bgt dari bagus padahal.. masih abal-abal banget ._.
      lanjut baca aja terus kalau penasaran hehehee..
      dirimu suka ceye yaaa? aku juga aku juga ^^

    1. maafkan diriku baru muncul lagiiiii….
      maafkan baek sama jaein sama ceye baru muncul lagi…
      dan makasih sudah sabar menunggu..
      baek jaein ceye juga kangen banget sama dirimu katanyaaa…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s