One and Only – Slice #16 — IRISH’s Story

irish-one-and-only-new

   ONE AND ONLY  

  EXO`s Baekhyun & Red Velvet`s Yeri 

   with EXO, Red Velvet, TWICE & NCT Members  

  fantasy, life, romance, sci-fi story rated by T served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


“Mencintaimu? Ya aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.”


Reading list:

〉〉 Prologue || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || Chapter 12 || Chapter 13 || Chapter 14 || Chapter 15 〈〈

Chapter #16

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

“Aku jatuh cinta padamu, Yeri.”

Chipku seolah akan meledak saat kuucapkan kata itu sendiri pada Yeri. Sementara Yeri menatapku diam, kedua mata nya fokus padaku. Ia pasti terkejut.

“T-Tapi Baekhyun, kau seorang—”

“Bukankah kau selalu mengatakan bahwa aku bukan lagi seorang robot dan bisa memiliki perasaan? Kau juga selalu berpikir aku tidak menyadari emosi yang sebenarnya sudah bisa kurasakan bukan?”

Yeri lagi-lagi terdiam. Larut dalam pemikirannya.

“Ya, memang, aku selalu berkata seperti itu. Tapi maksudku, bagaimana bisa kau menyadari tentang—”

“Menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu?” potongku membuat diriku sendiri tak bisa menahan keinginan chip ini untuk meledak karena aku mengucapkan kata itu lagi.

“Ya… Bagaimana bisa?” tanya Yeri.

“Kau tahu semuanya hanya kuanggap ketidak stabilan. Tapi saat kemarin kau tertidur diperjalanan kita menuju Barcelona, Suho—salah satu Humanoid yang datang bersama kita itu—menjelaskan semuanya padaku.”

“Ia juga yang membuatku sadar bahwa ketidak stabilan ini adalah sebuah sign bagiku. Aku jatuh cinta padamu. Tanpa aku menyadarinya. Bukankah kau juga merasakan hal yang sama padaku?”

Tatapan Yeri membulat. Sensorku bahkan mendeteksi perubahan tanda vitalnya. Aku memperhatikan wajah Yeri, kulihat semburat merah dikedua pipinya dengan jelas karena matahari pagi sudah memberiku pencahayaan yang lebih dari cukup.

“Aah. Itu… Aku…” Yeri tampak berusaha menemukan kalimat untuk menyahuti ucapanku.

“Aku tahu akan terdengar aneh bagimu. Tentang perasaan yang sudah kurasakan untukmu, dan juga tentang semua ini. Tapi tidakkah ucapanku menjadi bukti bagimu bahwa aku tak akan meninggalkanmu?”

“Aku bahkan tak pernah berpikir untuk meninggalkanmu sebelum aku sadar tentang apa yang kurasakan padamu. Tapi sekarang… kau tahu… semuanya menjadi semakin rumit.”

“Maaf Yeri. Aku tahu kau kecewa karena seorang robot jatuh cinta padamu. Aku tak akan menganggapmu aneh jika kau tidak menerima fakta ini.”

Memang pasti terdengar aneh baginya saat tahu seorang Humanoid jatuh cinta padanya. Ia seharusnya mendapatkan perasaan ini dari manusia sepertinya, yang bisa merasakan perasaan dan emosi dengan lebih nyata. Yang tak akan melukainya jika ia mendengar kata-kata jatuh cinta itu sendiri.

Tapi mendengar kata itu dari seorang Humanoid?

“Aku tak bisa mempercayainya.”

Aku tahu ia tak akan pernah bisa mempercayainya.

“Yeri-ah. Kau bisa melupa—”

“Kukira aku begitu aneh.” potongnya.

Tidak. Bukan dia yang aneh. Tapi aku.

“Aku merasa sangat khawatir saat kita akan mencari Owner-mu, Wendy, dan aku juga sangat senang setiap kali kau bilang kau akan melindungiku. Dalam beberapa hari ini… Aku seolah mendapatkan keajaiban karena kemunculanmu.”

“Saat Dahyun mengatakan padaku bahwa ia tahu aku jatuh cinta padamu tanpa aku sendiri menyadarinya, perasaanku jadi semakin aneh. Aku takut kau sadar akan semuanya. Aku takut kau tahu ketika jantungku berdegup tidak karuan. Atau saat aku terlalu merasa senang karena keberadaanmu.”

“Tapi… Mendengarmu bicara seperti ini sekarang… Tidakkah aneh karena takdir terlalu banyak memberiku kebahagiaan?”

Yeri menatapku, tidak dengan tatapan yang kupikirkan—bahwa ia akan menatapku dengan cara teraneh karena ucapanku—dan aku juga sadar, bukan perkataanku yang dipertanyakannya.

Tapi takdir yang tengah terjadi padanya.

“Aku tidak menemukan hal aneh disini. Kecuali ucapanku dan perasaan tidak masuk akal ini tentu saja.”

Senyum kecil muncul diwajah Yeri.

“Apa yang aneh dengan perasaan? Kau seorang Humophage sekarang… Aku sudah tahu kau pasti bisa merasakan emosi juga. Hanya saja… Aku tak ingin mempertanyakan bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku.”

“Aku tahu kau pasti tidak bisa menjelaskannya seperti manusia yang menjelaskan tentang alasan mereka jatuh cinta,”

“Jadi…” aku menatap Yeri bingung, “kau tidak merasa aneh karena aku jatuh cinta padamu?” sambungku dijawabnya dengan gelengan pelan.

“Aku merasa senang, sangat senang,” Yeri tersenyum cerah, senyumnya kemudian hilang sejenak, “Bukankah kau bisa mengetahui tanda vitalku? Aku bahkan bisa merasakan seluruh tubuhku terbakar karena senang sekarang.” ujarnya kembali tersenyum.

Terbakar? Bagaimana bisa ia merasakan tubuhnya seolah terbakar? Apa perasaan itu sama dengan keadaan chip-ku yang… chip-ku yang tadi kukira akan meledak?

“Kau bilang aku tidak bisa menggambarkannya seperti yang manusia lakukan?” ujarku teringat pada perkataannya tadi.

“Ya,” Yeri mengangguk-angguk, “Kau hanya menganggapnya sebagai ketidak stabilan. Kau selalu seperti itu, Baekhyun-ah.”

Aku mengerjap cepat. Ya. Aku memang seperti itu. Tapi bukan berarti aku tak bisa menganalisis diriku sendiri dan tidak mengetahui yang bisa kujadikan alasan aku jatuh cinta padanya.

“Aku sudah merasakan ketidak stabilan aneh ini sejak pertama kali aku melihatmu. Saat aku membuka mataku dan melihat tubuhmu… hampir mati. Rasanya sangat aneh, karena aku tak ingin kau mati.”

“Semua tentang kehidupanmu mengusikku, membuatku tidak ingin menjadi Humanoid yang terlihat buruk dihadapanmu. Karena kau tak pernah dilindungi, aku ingin selalu melindungimu.”

“Aku tidak ingin kau percaya begitu saja pada Humanoid lain karena aku ingin kau hanya percaya padaku. Setelah aku dinonaktifkan bertahun-tahun… satu-satunya yang bisa kupercaya adalah kau, Yeri.”

“Itulah mengapa aku tak mau melepaskanmu begitu saja. Aku senang melihatmu senang, karena kupikir pada akhirnya kau bisa merasa bahagia. Aku selalu merasa khawatir karena kupikir aku sudah melukaimu.”

“Apa itu cukup menjadi alasan?”

Aku menatap Yeri, dan tersentak saat kutemukan sepasang matanya kembali berkaca-kaca.

“Yeri-ah, apa ucapanku melukaimu?”

Aku tak mendapatkan jawaban darinya karena tiba-tiba saja Yeri melingkarkan lengannya ditubuhku. Erat. Sangat erat. Dan ia terisak, menangis, lagi.

“Terima kasih…” bisa kudengar jelas ucapannya walaupun ia bicara disela tangisnya.

“Aku sangat senang, tidak, aku sangat bahagia mendengarnya. Dadaku sangat sesak karena bahagia sampai kukira aku mungkin akan serangan jantung karenanya.”

Aku terkejut mendengar ucapan Yeri.

“Kau selalu mengatakan hal yang mengerikan.” ucapku.

Yeri mendongak, dan tatapan kami bertemu. Melihat wajahnya membuatku ingat pada ingatannya, Sara, yang sekarang pasti tengah terluka di dalam sana. Aku benar-benar khawatir jika Yeri tertidur, dan Sara muncul.

Karena itu artinya aku harus mengabaikan Sara, mengabaikan Yeri. Satu hal yang hampir tak mungkin kulakukan.

“Yeri,” aku kembali membuka pembicaraan.

“Ya, Baekhyun?”

“Kita… akan sama-sama bertahan bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak ada keadaan kaku yang kuperkirakan mungkin terjadi diantara aku dan Yeri saat kami kembali. Tidak ada juga reaksi aneh darinya. Yang ada, tanda vitalnya makin tidak stabil saat pandang kami bertemu, atau saat kulit kami tanpa sengaja saling bersentuhan.

Tanda vital Yeri juga makin tidak stabil saat aku bicara, terutama saat aku bicara padanya.

Awalnya aku merasa khawatir pada keadaan Yeri, tapi kuperingatkan diriku bahwa ketidak stabilan tanda vital yang terjadi pada Yeri disebabkan oleh keadaan kami sekarang.

Kami.

Kenapa kata itu sekarang membuat chipku memanas?

“Grey?”

Sara.

Dia terbangun.

Aku menatap Johnny sejenak, kusadari Johnny sedari tadi memperhatikan Yeri yang tertidur. Mengingat dia lah yang memberiku sebuah solusi untuk menyembuhkan Yeri dari DMS-nya, sebuah isyarat gelengan dari Johnny adalah tanda bagiku untuk mengabaikan Yeri—dengan Sara yang ada di dalam ingatannya.

“Sebentar, Sara.” ujarku singkat. Mengabaikan keinginanku untuk memandang wajahnya, mengamati ekspresinya. Aku harus bisa mengabaikannya.

“Kurasa kita harus mencari transportasi lain yang tidak mencolok.” Jihyo—Outsider yang baru bergabung bersama kami—berucap.

Ada terlalu banyak orang yang sekarang harus kucurigai. Secara spesifik, meskipun aku sendiri lah yang menemukan Suho dan Sana, juga Ten, tapi Yuta, Johnny, dan Jihyo, adalah orang-orang yang masuk dalam kategori mencurigakan.

Mereka tamu tidak diundang dalam perjalanan ini. Kemunculan mereka juga mencurigakan. Aku seharusnya membawa Yeri untuk bicara berdua saja.

Tapi saat keadaan Yeri seperti ini? Bicara berdua dengannya mungkin akan berpengaruh bagi Sara dalam memorinya.

Cepat atau lambat, aku harus berhasil menyembuhkan Yeri. Ia bisa terbunuh jika Sara terus merebut kendali atas memorinya.

“Sebuah homecar akan efektif.” Johnny berucap.

“Tidak. Wendy dan yang lainnya sudah menggunakan homecar. Homecar lainnya hanya akan mengundang kecurigaan. Jumlah kita sekarang juga tidak seimbang.”

Johnny menatapku dengan alis berkerut.

“Apa yang tidak seimbang? Jumlah kita seimbang.” bantahnya membuatku menatap tak senang.

“Kau tidak menghitung jumlah manusia yang ada di dalam perjalanan ini?” tanyaku segera disahuti Johnny dengan senyuman kecil.

“Kau bisa bersama dengan Sara, Yuta bersama dengan Jihyo, Suho dan Sana sudah terprogram sebagai Owner dan Humanoid pribadi. Lalu aku bisa bersama Humanoid muda ini.”

“Kau seorang Humophage, Johnny.”

“Tidak, apa aku terlihat seperti Humanoid?” Johnny menatapku, membuatku sadar akan hal yang tadi Yeri perhatikan darinya.

Ia bisa seenaknya menghilangkan logam nano yang ada di sepasang matanya. Itu artinya ia bisa saja menyamar sebagai seorang manusia.

“Tapi homecar, jangan bercanda, Johnny. Mobil itu tidak bisa sembarangan berada di jalanan.” ujarku membantah.

Johnny menghela nafas.

“Semua orang sekarang bisa saling membantah, menyenangkan sekali.” ujarnya menggerutu.

Sialan. Apa ia baru saja meledekku? Mengatakan bahwa aku bersikap terlalu manusia?

“Mungkin, mini-bus akan terlihat lebih baik.” Sana tiba-tiba saja berucap, dipandanginya kami semua bergiliran sebelum ia kembali berucap.

“Aku tahu kalian mungkin tidak mengharapkan penumpang lain. Tapi, jika Wendy yang kau ceritakan adalah seorang yang berbahaya, tidakkah kita juga harus menyelamatkan beberapa orang yang ada bersamanya?”

“Tidak, Sana. Kita tidak boleh sembarangan melibatkan orang lain. Belum tentu mereka semua yang bersama dengan Wendy itu adalah orang-orang baik.”

Aku terdiam.

Benar. Suho benar. Pendapat Sana juga benar. Dan memang, jangankan mereka yang bersama dengan Wendy, mereka yang sekarang berada di ruang yang sama denganku dan Yeri saja tidak bisa kukatakan sebagai orang-orang baik.

“Grey…” kudengar lagi-lagi Yeri berucap.

Tak tahan, kulemparkan pandanganku ke arahnya, sementara ia sedari tadi menjadi pendengar bisu perdebatan kami.

“Ada apa?” tanyaku, memasang ekspresi tidak tertarik yang akan membuatnya merasa aku tengah mengabaikannya.

Sejenak, Yeri terdiam. Sepersekian sekon, aku merasa dirinya yang dulu, Yeri, muncul, tapi hanya sekilas, hingga aku hampir tidak bisa membedakannya.

“Tidak ada, lupakan saja.”

Yeri?

Kenapa ia sekarang terdengar seperti Yeri?

Aku kembali menatap lingkaran kecil perdebatan di hadapanku. Mereka semua tahu aku memang sengaja mengabaikan Yeri jika ia mulai menyebut dirinya ‘Sara’ atau memanggilku ‘Grey’, dan Johnny sekarang memberiku senyuman kecil, seolah menyemangatiku untuk melakukan hal yang begitu enggan untuk kulakukan.

“Jadi, menurutmu kita harus mengendarai apa? Truk-mu sangatlah mencolok. Dan kami yang ada di belakang tidak bisa mengawasi sekitar.” ujar Ten, berusaha menciptakan konversasi agar keadaan kaku tidak tercipta.

“Mini-bus.” aku akhirnya memutuskan, “kurasa mini-bus adalah pilihan terakhir.”

“Baiklah,” Yuta menepuk tangannya pelan, “Aku dan Johnny akan mencari mini-bus, saat senja kita pergi dari tempat ini.”

Pembicaraan kami berhenti, karena sebuah keputusan sudah diambil.

Sekarang, mau tak mau aku harus bicara pada Yeri, meski keberadaan Sara dalam memorinya harus membuatku mengabaikannya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kemana kita akan pergi?” Yeri bertanya saat aku berusaha menyibukkan diri dengan membereskan barang-barang kami, sekaligus menghapus sidik jari yang mungkin tersisa.

“Edinburgh. Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Kurasa kau juga sudah tahu.” ujarku, berusaha terdengar sedingin mungkin—seperti saat aku membuat Yeri merasa bahwa aku tengah ‘marah’ padanya padahal sebenarnya tidak.

Yeri tak lantas menyahut. Aku rasa, sisi ‘Sara’ yang ada dalam dirinya juga merasa bahwa aku tengah mengabaikannya. Apa ia sekarang merasa terluka? Apa itu artinya aku sudah melukai Yeri?

Ah… kenapa sekarang hal ini terasa berkali lipat lebih mengganggu?

“Kau tidak lapar? Kurasa Sana memasak sesuatu di belakang.” ujarku, mengusir Yeri secara halus.

Aku sungguh tidak tahan mengabaikannya, disaat kami baru sama-sama menyadari perasaan tidak masuk akal ini. Menyakiti Sara sama saja menyakiti Yeri. Aku juga tidak tahu apa Sara akan berusaha melukai Yeri karena ulahku.

Semuanya begitu membingungkan.

Tapi jika Johnny telah kehilangan seseorang yang berarti baginya karena DMS, ada kemungkinan aku juga bisa kehilangan Yeri bukan? Dan aku tidak ingin membayangkan hal semacam itu.

“Aku tidak lapar,” Yeri menyahut, pelan.

Mendengar nada pelannya aku akhirnya melempar pandang. Ia tengah menatapku, ragu. Seolah tindakanku sedari tadi membuatnya curiga.

“Apa kau marah padaku?”

Oh, tolong. Apa hanya karena memori mereka berbaur, hingga sekarang aku tidak bisa membedakan Sara dan Yeri? Mereka bicara dengan cara yang sama persis.

“Tidak, apa aku terlihat marah?” aku bertanya balik.

“Kau mengabaikanku.”

“Aku tidak mengabaikanmu.”

Yeri membuang pandang. Meski aku tahu Sara yang sekarang memegang kendali, tapi sikapnya sama seperti saat Yeri tidak menerima bantahan dariku. Bedanya, Yeri akan berkeras dan menyahuti ucapanku, sedangkan Sara lebih tenang dan menerima.

“Kau tahu, Grey, saat aku terbangun, ada yang aneh denganku.” ia berucap.

“Apa itu?” tanyaku, penasaran juga, apa ia merasakan perbedaan spesifik? Atau ia mengingat hal yang terjadi pada Yeri saat bersama denganku tadi?

“Aku merasa sedih, dan senang, di waktu bersamaan. Apa ada yang salah padaku, sebelum ini?” tanyanya.

Benar, ia pasti tidak tahu menahu soal kematian Yeri sebelumnya, dan aku tak bisa mengatakan semuanya. Yeri mungkin bisa terluka.

“Tidak ada yang salah.” ujarku akhirnya.

Lagi-lagi Yeri terdiam.

“Maksudku, apa ada hal yang terjadi padaku? Hal yang seharusnya tidak terjadi, tapi malah terjadi.” tuturnya, tampak tidak yakin.

Tentu ada. Kemunculanmu sebagai sosok Sara lah yang salah di sini. Hal yang seharusnya tidak terjadi.

“Tidak.” ujarku, “jangan terlalu mengkhawatirkan dirimu. Aku akan—” segera kuhentikan ucapanku saat sebuah kalimat yang akan memperkuat eksistensi Sara hampir terucap.

Jangan ucapkan kalimat terkutuk itu saat kau bersama Sara, Baekhyun. Hanya Yeri yang berhak mendengarnya.

“Kau akan apa?” sudah kuduga Yeri akan mempertanyakannya.

“Aku akan melakukan scanning secara konsisten padamu. Dan pada yang lain juga, untuk memastikan kalian semua baik-baik saja.” ujarku.

Yeri mengangguk-angguk.

“Hey, ayo berangkat, semua sudah siap di depan.” Ten muncul di ujung pintu, melempar pandang sekilas pada Yeri sebelum ia mengambil beberapa tas yang ada di ruangan tempat kami berada.

Semua orang tentu harus mengabaikan Yeri saat sosok Sara muncul. Sara harus terluka supaya ia menghilang bukan? Dan walaupun Yuta harus menunjukkan sikap mengganggunya lagi, aku tak bisa apa-apa. Sikap kasarnya mungkin akan mempercepat hilangnya Sara.

Kami tak bisa berlama-lama membiarkan Sara menguasai memori Yeri. Salah seorang dari mereka bisa saja lenyap secara tiba-tiba. Dan jika ada sosok yang harus lenyap, ingatan Sara lah yang harus hilang.

Dan ingatan tentang Sara pula yang harus kuhapus dari benak Yeri saat ia sudah sadar dan menjadi dirinya sendiri.

Tapi jika aku tidak menjalankan peran sebagai Grey, Humanoid seorang gadis bernama Sara, apa yang harus ku—

Ah, haruskah aku benar-benar menjadi Humanoid milik Yeri?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

MUSIBAH itu gabisa ditebak kapan datengnya. Musibah sekecil maupun sebesar apapun, pasti seringkali terjadi tiba-tiba. Itu juga yang sebenernya terjadi sama fanfiksi ini. Bisa kubilang, bagi aku, musibah yang sangat besar.

One and Only adalah karya yang paling aku sayang, bukannya gak adil sama fanfiksi lainnya. Tapi One and Only ini semacem cinta pertama bagiku, fanfiksi pertama yang saat aku baca ulang, bisa bikin aku ikut deg-degan sekaligus nge-kampret-in sosok yang nulis.

Aneh memang, iya aneh.

Tapi, cerita tentang One and Only sebagai cinta pertama aku di fanfiksi ini bukanlah inti dari cuap-cuap sekarang. Melainkan musibah yang sebenernya.

Well, di blog sebelah aku pernah memberi announcement soal hilangnya folder aku saat dalam proses pemindahan ke hardisk. Dan untuk sekedar informasi, One and Only versi 2016 termasuk di dalamnya. Sakit memang, iya sakit, di sana udah ada One and Only sampe Afterword, udah fiks tinggal di publish-publish doang, tapi kehapus. Yang kesisa cuma folder versi 2015 yang masih perlu perombakan di sana sini dan perlu edit alur di sana sini.

Alur dasarnya tentu masih akan sama, tapi please, versi udah diedit sepenuh jiwa sama sekarang yang editnya keburu-buru mungkin jelas akan kerasa beda. Jadi, aku sungguh gabisa berjanji akan cepet publish chapter selanjutnya.

Alasannya, karena aku pengen bikin chapter selanjutnya punya feel yang sama dengan chapter selanjutnya yang sudah terhapus bersama kenangan akan mantan (mantan file yang di laptop maksudnya).

Semoga kalian bisa memahami kekuranganku dan laptopku yang hanya ciptaan manusia. Semoga juga masih ada yang mau menunggu fanfiksi ini, terima kasih.

P.S: semoga feel bersatunya Baekhyun-Yeri di chapter ini masih kerasa segreget chapter 15 itu ya, saat aku mengumpat si Baekhyun akibat dia jadi robot terlemot di dunia yang baru nembak cewek setelah 15 chapter cerita…

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

145 tanggapan untuk “One and Only – Slice #16 — IRISH’s Story”

  1. Kak apaan ini kak,, kok aku baru nyadar kak irish punya ni ff,, waaa otw maraton an ini mah kak,,,aku ijin baca dari awal ya kak rish😗😗😗😗

  2. Ya ampun, nyesek bgt itu folder One and Only versi 2016 yg udah siap publish smp Aterword’ny tetiba gone..!! komen2 yg kadang pas di post tu hsl’ny incomplete aja bikin ga tenang/ga rela pa lg maha karya sekelas ff ini..!! ommaya.. >.//<

    1. Ya ampun, nyesek bgt itu folder One and Only versi 2016 yg udah siap publish smp Aterword’ny tetiba gone..!! komen2 yg kadang pas di post tu hsl’ny incomplete aja bikin ga tenang/ga rela pa lg maha karya sekelas ff ini..!! ommaya.. >.//<

  3. haaah..ntahlah makin rumit makin puyeng juga nih bacanya#plaak mksdnya ikut”n puyeng kebawa cerita.hee
    aahh ka irish aku turut berduka cita ya atas hilangny foldermu itu 😥 😥
    jan patah semangat ya kak buat nglanjutin ceruta ini..aku bakalan selalu menunggu ff ini..karna aku juga prnh merasakan apa yg kakak rasakan sakiit#laah curcolwkk..pokokny fighting ka

    1. XD buakakakakakaka ikutan puyeng padahal masih membaca XDwkwkwkwk gapapa, santai aja mood dan ide aku tentang ini sudah kembaliihh XD

  4. Kak, baru sampe sini. Dan akting baek luar biasa.. Hahaha, pergilah kau sara. Si jhony aku sedikit, dikit banget curiga. Karena dulu dia kan humanoid tapi kenapa sekarang bukan.. Walawala. Baca aja deh.. Fighting kak rish

  5. ooo…aku puasa bca ff sejak kpn sih,kok aq ngk tau ff ini udh dipublish…*
    btw..aq kok jdi curiga sama johnny ya..klo di chap sblmny sih aq ngk ngerasa dia bwa sesuati yg bruk.tpi di chap ini kok aq jd kepikir klo jgn2 penyakit ny yeri itu sebenernyngk ada n cuman akal akalnny johnny aja…tpi buat apa?motifny ngk jls..
    ah au ah..mending jd pembaca yg baik aja deh..aq lgi gk mau mikirin yg berat berat hihihi..buat kak irish semangat!!

    1. XD buakakakakak entahlah kamu selama apa puasa baca ff nya XD wkwkwkwk
      entah kenapa semua orang di sini jadi dicurigain ya XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s