[EXOFFI FREELANCE] Big liar (Side Story of Forbidden Love)

big liar

Tittle

Big liar ( side story of Forbidden Love )

Genre

School life, friendship, romence.

Cast

Oh sehun ( of EXO-K )

Kim jongin ( of EXO-K )

Kim ji ae ( of OC )

Lenght

Oneshoot

Author

JiYeol Park

Disclaimer

Cerita ini hanya hasil dari pemikiran JiYeol yang terkadang terlalu rumit untuk dijelaskan, tidak ada unsur plagiat dalam cerita ini karna JiYeol sendiri yang punya ide dan JiYeol juga yang menulis fanfic ini sendiri. Jadi, jangan pernah berpikiran untuk memplagiat hasil pemikiran JiYeol ini karna mikirnya susah, jadilah kreatif!.

*

*

*

*

*

…Mengharapkan sesuatu yang berada tepat disampingmu ternyata lebih sulit daripada mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin ada…

^^

 

 

 

Siang itu hujan dengan deras mengguyur kota seoul, membuat beberapa murid terpaksa berteduh didekat halte ataupun didalam gedung sekolah mereka. Seorang gadis dengan setelan seragam sekolah yang rapi berlari menyusuri koridor, saat sampai didepan pintu gerbang aula ia melihat dua orang murid laki laki tengah berdiri membelakanginya. Dengan langkah mantap gadis itu menghampiri kedua laki laki itu. dikedua tangannya ia sudah menenteng dua buah payung.

 

 

“Kalian belum pulang?” tanya gadis itu yang berhasil membuat kedua laki laki menoleh kearahnya, memberinya tatapan bingung. Tentu saja bingung, biasanya para gadis akan menjauhi mereka berdua hanya karena penampilan culun yang setiap hari selalu menjadi pelengkap mereka.

 

 

“Ya?” salah satu dari laki laki itu memberikan sebuah respon, meminta gadis itu untuk mengulang pertanyaannya. Si gadis tersenyum pada kedua laki laki itu beberapa saat kemudian. Dia begitu terpesona dengan ketampanan kedua laki laki dihadapannya, itulah alasan ia akhirnya memberanikan diri untuk menyapa kedua laki laki itu siang ini.

 

 

“Aku bertanya kenapa kalian belum pulang?” ulang gadis itu.

 

 

“Kau tidak lihat diluar sana masih hujan?” kembali salah satu dari laki laki lainnya menyahuti perkataan si gadis, laki laki yang satu ini menyahut dengan dingin.

 

 

“Ini, kita bisa pulang bersama. Aku membawa payung berlebih hari ini.” Si gadis memberikan kedua payung yang ada ditangannya pada kedua laki laki itu. kedua orang itu saling berpandangan untuk beberapa saat lalu kembali melemparkan tatapan bingungnya pada si gadis yang kini hanya berdiri menunggu jawaban dari mereka.

 

 

“Kita?” mereka bertanya bingung, pasti ada yang salah dengan gadis dihadapan mereka sekarang. Si gadis menghembuskan nafasnya lelah, sepertinya ia harus bersabar menghadapi kedua laki laki dihadapannya ini.

 

 

 

“Rumahku searah dengan jalan kalian pulang, jadi kurasa tidak ada salahnya kita bertiga pulang bersama.” Lanjut si gadis.

 

 

“Tidak terimakasih, kami-“, “Baiklah kalau begitu.” Si gadis langsung tersenyum kembali saat salah satu dari laki laki itu menerima payung yang ia berikan dengan senang hati.

 

 

 

~

 

 

 

Seharusnya ji ae bersyukur karna jalan pulangnya hari ini terasa lebih panjang dari biasanya, dia bisa berlama lama bersama kedua laki laki yang tengah berjalan disamping kanannya itu. namun yang membuat ji ae merasa gelisah saat ini adalah atmosfer aneh yang tengah menyelimuti mereka bertiga. Seharusnya salah satu dari mereka membuka pembicaraan daritadi namun mulut mereka terasa bisu untuk sekedar mengeluarkan beberapa kata, termasuk ji ae. Saat ini memandangi rintik hujan didepannya adalah kegiatan yang dirasanya cukup menyenangkan daripada harus berbicara sebagai basa basi kepada kedua laki laki disampingnya, dia sungguh berharap perjalanan yang terasa panjang ini segera berakhir. Lalu kenapa dia malah melakukan ini kalau pada akhirnya dia akan menyesal, berharap bisa berlari pergi meninggalkan kedua laki laki itu tanpa mengatakan apapun hanya akan menjadi tindakan bodoh yang ia lakukan kesekian kalinya hari ini.

 

 

Ji ae sungguh ingin berlari pergi dari situasi ini secepatnya, bisakah seseorang membawanya lari saat ini juga? Tidak. Tidak akan ada yang mau membawa lari seorang gadis sepertinya. Memang apa yang kurang dari dirinya? Sekali lagi tidak ada, ji ae nyaris sempurna. Nyaris, andai masa lalu tidak menodai kesempurnaannya. Dia sungguh tidak tahu diri, dimata semua orang ia hanyalah seorang gadis tidak tahu diri. Jadi bolehkah ia berharap dua orang laki laki disampingnya ini tidak memandangnya seperti orang lain yang menganggapnya sebagai gadis tidak tahu diri, sekali saja. Ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki teman, itu saja. Dia sungguh kesepian selama ini, kakak tirinya sudah mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri sehingga ji ae mulai merasa kehilangan teman untuk berbicara. Walaupun pada akhirnya ji ae mengakui bahwa dirinya memang tidak tahu diri, tapi apakah ia sehina itu dimata orang orang? Ia hanya ingin seorang teman.

 

 

Kenapa ji ae jadi mendrama sendu seperti ini? Orang orang saja tidak peduli padanya jadi untuk apa ia peduli terhadap perlakuan orang orang itu pada dirinya.

 

 

“Kita belum berkenalan. Siapa namamu?” ji ae segera menoleh kesamping kanannya dengan ekspresi yang cukup lucu antara ingin lari dari kenyataan dan terkejut. Sejak kapan laki laki itu bisa bicara dengan nada biasa? Padahal ji ae mengira sosok laki laki berkulit tan yang sejak bertemu beberapa saat yang lalu selalu bersikap ramah padanyalah yang menanyakan kalimat barusan.

 

 

“Ne??” ji ae seperti terserang kelambanan untuk beberapa saat, dia masih terlarut dalam keterkejutan yang berlebihan. Ji ae pasti terlihat sangat bodoh saat ini.

 

 

“Lupakan saja. jika kau tidak mau mengatakan namamu tidak apa apa.” Laki laki itu kembali mengeluarkan nada datarnya, tapi kali ini tidak diselingi dengan ekspresi dingin. Dia terlihat seperti memikirkan sesuatu, apa dia menyesal telah bertanya selancang itu pada ji ae?

 

 

“Maksudku bukan begitu. Namaku kim ji ae, tapi aku mengganti margaku saat aku duduk dibangku kelas lima sekolah dasar. Tanpa aku menjelaskannya kalian pasti sudah tahu alasannya.” Jelas ji ae dengan raut menyesal yang kentara. Menyesal karna membuat salah satu teman barunya merasa menyesal, bisakah disebut teman?

 

 

“Kau tidak perlu menjelaskan soal pergantian margamu itu jika hanya akan membuatmu kembali bersedih.” Kali ini laki laki berkulit tan yang berdiri tepat disampingnya lah yang mengucapkan kalimat itu. ji ae menggeleng, seulas senyum tulus kembali terukir diwajah cantiknya.

 

 

“Aku tidak apa apa, jongin.” Lanjut ji ae yang berhasil membuat kedua laki laki disampingnya mengerutkan kening mereka curiga, bagaimana gadis ini tahu namanya?

 

 

“Kau menyebutkan namaku, kau tahu dari mana?” tanya laki laki bernama jongin itu. ji ae merutuki kecerobohannya, ia harus mencari alasan agar ia tidak ketahuan telah menjadi penguntit kedua laki laki itu selama ini.

 

 

“Nametagmu menjelaskan semuanya.” Jawab ji ae berusaha agar nada bicaranya tidak terdengar gagap, dan itu berhasil membuat kedua laki laki disampingnya mengangguk tanda mengerti.

 

 

Jongin dan ji ae langsung menghentikan langkah mereka kemudian menoleh secara bersamaan kearah sehun-sahabat jongin- yang kini menjadi penyebab terhentinya langkah mereka. Sehun mengedarkan pandangannya kesekitar jalan sepi itu, terlihat sangat waspada. Bahkan ia sudah mengambil ancang ancang untuk menarik jongin dan ji ae pergi dari tempat itu sejauh mungkin, jalan ini sangat rawan baginya. Awalnya ia ingin menghindari jalan ini dan mengambil jalan pintas walaupun harus memakan waktu lama, lebih baik begitu dari pada ia harus menyesal seumur hidupnya. Itu berlebihan. Tapi apa yang membuat sehun setakut ini?

 

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya jongin bingung. Tanpa berkata apapun sehun menunjuk rumah besar berwarna putih yang berjarak beberapa meter disamping mereka dengan dagunya, pagar tinggi rumah itu terbuka lebar dan tidak terlihat berbahaya dari sisi manapun.

 

 

“Ada apa dengan rumah itu, kau tidak akan mengatakan bahwa rumah itu berhantu bukan?” tanya ji ae lagi, perkataannya ji ae hampir saja membuat jongin tertawa namun beruntung jongin masih bisa menahan tawanya.

 

 

“Lebih buruk dari hantu.” Bisik sehun. Jongin ingat sekarang apa yang membuat sehun sewaspada ini, sangat konyol.

 

 

Mereka hampir saja berlari saat hal paling menakutkan bagi sehun muncul didepan mereka, hampir. Andai ji ae tidak menahan mereka pasti saat ini mereka akan berlari ketakutan hanya karna hal konyol, sangat konyol malah. Seorang laki laki yang terkenal memiliki imege dingin, takut pada seekor anjing?

 

 

“Yyak! Apa yang kau lakukan, kau mau digigit?!” ucap sehun histeris saat melihat ji ae berjalan semakin mendekat kearah anjing besar berwarna coklat keemasan yang berjarak beberapa kaki didepan mereka.

 

 

“Dia tidak akan menggigit asal kau memperlakukannya dengan baik, kau itu laki laki tapi kau takut pada anjing?” ucap ji ae sembari membelai tubuh si anjing yang terlihat menyukai ji ae, pandangan ji ae masih terpokus pada sehun yang kini tengah menatap ngeri kearah dirinya. Apa sehun setakut itu?

 

 

“Sehun kemarilah, dia tidak akan menggigitmu. Aku janji.” Ucap ji ae tanpa ragu, jongin yang baru saja berdiri disamping ji ae beberapa saat yang lalu mengulas sebuah senyum manis kearah gadis itu tanpa ji ae ketahui. Dengan mudahnya ji ae bisa berbaur dengan sehun sahabatnya yang terkenal kaku itu, gadis ini benar benar diluar dugaannya.

 

 

“Jangan membuat janji yang belum pasti bisa kau tepati.” Balas sehun sengit. Jongin menatap takut takut kearah ji ae dan sehun secara bergantian, biasanya kalau sudah bicara seserius ini itu berarti sehun sudah mulai naik darah dan itu sangat terlihat dari raut wajahnya yang mulai merah padam. Seharusnya ia membawa ji ae pergi dari hadapan sehun secepatnya, tapi jongin mengurungkan niatnya saat melihat ji ae yang biasa biasa saja malah gadis itu menggiring si anjing untuk  mendekati sehun.

 

 

Jauh dari ekspektasi jongin bahwa sehun akan memukul bahkan meninju wajah ji ae saat anjing itu mulai mengendus endus kakinya, yang ia dapati malah sehun yang tertawa renyah karna kegelian. Jarang jarang ia bisa melihat tawa sehun yang terkenal sangat langka itu.

 

 

“Benarkan apa kataku? Dia tidak akan menggigitmu, aku sudah menepati janjiku.” Ucap Ji ae. Sekarang bisakah ia mempercayai gadis ini?

 

 

 

~

 

 

 

 

Sepasang suami istri yang tengah bersantai diruang tengah itu dikejutkan dengan kedatangan putri kesayangan mereka yang terlihat sangat bahagia hari ini. Mereka tidak pernah melihat putri mereka sebahagia hari ini.

 

 

“Sayang, kau terlihat sangat senang hari ini ada apa?” tanya sang ayah.

 

 

“Duduklah disini.” Sang ibu menarik tubuh putrinya untuk ikut duduk diantara mereka.

 

 

“Jawab pertanyaanku dulu baru aku mau menjawab pertanyaan oemma dan appa.” Ucap ji ae sambil tersenyum lebar, si ayah langsung mengacak ngacak rambut panjang putrinya itu dengan gemas dan itu berhasil membuat ketiganya tertawa.

 

 

“Siapa gadis yang bersama luhan diteras?” tanya ji ae penasaran.

 

 

“Dia kekasih kakakmu. Kenapa kau bertanya hal seperti ini? Kalau kau iri bawalah kekasihmu kerumah juga.” Balas si ibu sambil menahan tawa. Dia tahu ji ae tidak suka membahas hal saperti ini.

 

 

“Padahal tadi aku sempat mengira gadis itu adalah saudara kandung luhan karna mereka mirip sekali, bagaimana mungkin luhan bisa mendapatkan kekasih seorang gadis SMA.” Ucap ji ae polos.

 

 

“Engg…aku tidak bermaksud menyinggung masalah itu lagi eomma appa, maafkan aku.” Ucap ji ae menyesal beberapa saat kemudian.

 

 

“Tidak apa apa sayang, sekarang kami memilikimu dan itu sudah lebih dari cukup.” Ucap si ayah.

 

 

“Emm…ayah bisa aku meminta sesuatu setelah aku lulus nanti?” tanya ji ae pelan, dia tidak berani menatap ayahnya secara langsung.

 

 

“Tentu saja, apa itu?”

 

 

“Bisa kau berikan beasiswa pada dua sahabatku?” dia bahkan dengan lancangnya mengakui bahwa dua orang yang baru menjadi temannya selama enam bulan sebagai sahabatnya, bukankah dia sungguh egois?

 

 

~

 

 

Angin dingin berhembus menerpa rambut hitam panjang milik ji ae. Saat ini ia ada atap sekolah bersama sehun dan juga jongin, seharusnya jongin tidak ada disana namun sehun dan jongin sudah seperti surat dan prangko yang tidak bisa dipisahkan. Membuat ji ae tidak bisa berbuat apa apa lagi sekarang, dia ingin menyatakan perasaannya pada sehun namun tidak bisa jadi wajarkan kalau sekarang ia serasa ingin menangis? Ditambah setelah ini mereka akan berpisah. Kenapa ini selalu terjadi setiap ji ae ingin mengungkapkan perasaannya, selalu ada penghalang yang membuat kata kata yang sudah disusun ji ae sejak lama seakan menghilang dalam sekejap mata. Apa yang terjadi pada dirinya yang memang sudah lemah sejak lama ini?

 

 

“Jadi kita akan berpisah setelah ini.” Ucap ji ae sesegukan, dan itu bisa segera ditangkap oleh telinga jongin maupun sehun. Padahal ji ae tidak berniat dikasihani saat ini.

 

 

“Siapa bilang? Selama kita masih bernafas maka kita akan tetap bersama, kau tidak perlu menagis seperti itu.” ucap sehun, ia menarik dagu ji ae kemudian menghapus airmata yang masih tersisa disudut mata ji ae dengan gantlenya.

 

 

“Kau tahu dimana kami berada bukan?” Ucap jongin yang berdiri dihadapan ji ae sembari tersenyum, walau tak seorangpun menyadari bahwa senyum itu adalah senyum perih. Ada kata yang ia simpan rapat dalam otaknya dan belum bisa ia ungkapkan hingga saat ini, penghalang itu selalu ada walau ia selalu mencoba menghindarinya. Ji ae mengangguk pelan, ia kemudian menghambur kepelukan sehun dan jongin setelah kedua laki laki itu menarik kedua lengannya. Selalu ada kata kata yang tersimpan dipikiran ji ae maupun jongin hingga waktu sendiri yang membuat mereka melupakan kata kata itu, walaupun kemungkinan untuk mereka melupakan kata kata itu sungguh kecil dan hampir tidak ada. Selama meraka belum mengungkapkan kata kata itu maka mereka tidak akan melupakannya.

 

 

 

-END of this side story-

 

 

Anggap aja ini sebagai penjelas(?) bagaimana seorang ji ae dan sifatnya yang sungguh tidak dimengerti itu. bahkan sampai saat ini JiYeol juga belum mengerti betul apa maunya si ji ae, entah apa dia bener bener suka sama sehun atau Cuma obsesi dan sebenernya dia itu cinta sama jongin. Dia gak mungkin suka sama keduanya kan?

 

Sebenernya ji ae itu gak serumit ini orangnya sebelum dia ketemu sama sehun dan jongin, seriusan. Jadi setelah dia ketemu sama jongin dan sehun dia jadi orang yang gampang dilema(?), entah dilema karna apa. Setelah ini JiYeol bakal bikin perombakan besar diinti cerita, bagi yang super jeli pasti menemukan clue yang JiYeol berikan disini tentang abang that good good~ tersayang dan kekasih tercintanya itu walaupun itu masih belum bisa disebut clue sama sekali wkwkwkwkwk, terus jangan curiga kenapa JiYeol tiba tiba merombak inti cerita itu karena supaya makin gereget aja gitu. Walaupun nanti misalnya, padahal ini sangat tidak mungkin, sehun dan jin hye ternyata gak forbidden tapi cerita ini masih akan ada unsur forbiddennya dan itu tetep penting karna gak akan jauh jauh dari si main cast fanfic ini. Kata katanya makin lama makin rumit dan ngawur aja wkwkwkwk, mungkin karna mood ini sering jungkir balik hanya karna satu nama. KIM JONG IN KENAPA KAU MENINGGALKANKU SENDIRI DIDUNIA YANG KEJAM INI? KENAPA?! APAKAH DIRI INI TERLALU KURANG DIMATAMU?!, oke saya memang galau berkepanjangan hingga saat ini tapi seriusan JiYeol masih belum bisa terima kenyataan. Okedeh jangan lupa komen, see you next time~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Big liar (Side Story of Forbidden Love)”

  1. apa ini?
    sehun dan jin hye gk forbidden,apa mksudnya jiyeol???
    apa itu brarti sehun dan jin hye bukan saudara kandung gitu??
    kalau bner bgitu maka aq akan sngat senang krna aq berharap bgt kelak sehun dan jin hye akan bersatu dlm pernikahan dan bukan jadi saudara….

  2. woo jdi Sehun-Jongin itu prtma kali ktemu JiAe pas msih skolah to,,
    JiAe suka Sehun, Jongin suka JiAe, Sehun cma nganggep JiAe sahabat?
    n apaa???? Sehun takut anjing? wkwkk kebayang bgt wajah panik nya dy, imuuutt XD (dicekek Sehun)
    itu berarti ortunya JiAe knal JinHye dnk?? tp msih g rela klo JinHye n Sehun sodara haha
    fighting yaa JiYeol ah :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s