[EXOFFI FREELANCE] I Stalk My Stalker

kris

Tittle                           : I Stalk My Stalker (Oneshot)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Lee Min Yeo (OC)
  • Wu Yi Fan / Kris (EXO)

 

Other Cast                : find in the story

 

Genre                        : Romance, little bit comedy and School Life

 

Rate                            : T

 

Length                       : Oneshot

 

Summary                  :

‘Pria yang kau suka bersikap dingin dan seolah mengacuhkanmu?. Pastikan dulu, jangan-jangan… dia punya rahasia besar yang akan membuatmu mendapatkan kebahagiaan itu’

 

 

~Happy Reading~

 

[Lee Min Yeo side]

 

“Please describe this pencil…”

 

Semua sibuk memperhatikan pengajaran Mr.Crish, guru bahasa Inggris blasteran Korea-Kanada. Guru yang terkenal galak dan tidak segan memarahi muridnya dengan bahasa Inggris yang sulit dimengerti.

 

“Hooaaam.”

 

Tapi sepertinya tidak untuknya, untuk gadis yang duduk di bangku pojok deret ke tiga itu. Bukan, bukan karena dia tidak suka pelajaran bahasa Inggris atau terlalu malas, bukan karena itu. Siapa yang tidak menguap jika terjaga semalam suntuk di depan komputer?. Bahkan jam tidurnya hanya tiga jam untuk malam tadi.

 

“Min Yeo-ssi!, what happend?!”

 

Gadis bernama Min Yeo itu langsung duduk tegap dan menatap guru itu dengan penuh keterkejutan. Oh, Min Yeo… kau akan dapat masalah.

 

“So-sorry sir. I-”

 

“Shut up and just do what you must to do!. NOW!”

 

Semua tahu apa yang dimaksud Mr.Crish, hukuman untuk murid yang tidak mendengar penjelasannya. Hukuman menakutkan sepanjang masa…

 

***

 

Dan disinilah Min Yeo berakhir, membersihkan toilet pria yang berada di lantai tiga. Mungkin kedengarannya sederhana, tapi bagaimana bisa dikatakan sederhana jika kelas Min Yeo berada di lantai satu?. Belum lagi toilet pria di lantai tiga itu penuh dengan serangga menjijikan dan jangan lupa soal baunya. Min Yeo yakin tak seorang wanita-pun mau masuk walau sekedar melihat-lihat.

 

Min Yeo meniup poninya kesal. Suatu kehormatan bisa mendapat hukuman sakral dari Mr.Crish yang tampan tapi galak itu. Min Yeo berusaha mengambil sisi positif dari hukuman ini meski tidak ada satupun yang positif menurutnya.

 

Gadis itu mulai memasuki toilet dengan langkah ragu, takut-takut ada senior yang memergokinya. Bisa gawat jika itu terjadi, mau ditaruh dimana segala harga diri yang selalu gadis itu junjung?.

 

‘Krieet’

 

Bahkan seolah pintu pun menghinanya atas hukuman menyedihkan ini. Tapi hal lain dibalik pintu itu yang membuat Min Yeo terkejut bukan main. Itulah yang membuat Min Yeo begadang semalaman hanya untuk melihat akun SNS, Weibo, Instagram, Facebook, Twitter dan segala akun sosial media lain yang berkaitan dengan orang dibalik pintu bobrok itu.

 

“Eoh?, Min Yeo-ssi.” Kata pria itu terkejut dengan keberadaan Min Yeo.

 

Sementara gadis itu kelabakan mengatur detak jantungnya yang berdetak begitu kencang. Namun ekspresi wajah dengan batinnya seratus delapan puluh derajat berbeda. Wajah gadis itu begitu tenang, seolah tidak terkejut atas pertemuannya dengan pria tinggi itu.

 

“Annyeong, Sunbae.”

 

“Apa yang kau lakukan disini?, dengan… pel dan ember itu?”

 

“Ehem!” Min Yeo berdehem untuk menghilangkan kecanggungan, “Seperti yang kau lihat, aku mendapat hukuman.” Jawabnya dengan lesu.

 

“Hahaha, sudah kuduga. Wajahmu sudah menunjukkan bahwa kau gadis yang bandel.”

 

“Yak sunbae!” Min Yeo memukul bahu pria itu. “Aku tidak seperti itu.”

 

Appogeurae, kalau begitu selamat bekerja keras Min Yeo!”

 

Dan setelah pria itu benar-benar pergi, Min Yeo baru bisa tersenyum lebar, menahan dirinya agar tidak berteriak di depan toilet pria seperti orang gila. Hari ini rupanya hari keberuntungan untuk gadis itu. Tidak sia-sia tadi malam dia hanya tidur tiga jam. Terima kasih untuk Mr.Crish yang sudah berbaik hati mau menghukumnya.

 

***

 

“Aku tahu sekarang siapa senior kelas 11 yang Min Yeo sukai!”

 

“Uhuk!”

 

Kalimat itu mampu menohok jantung Min Yeo hingga gadis itu tersedak oleh ice lemon tea-nya. Dia menoleh pada salah seorang temannya yang barusan berbicara.

 

Gadis dengan kacamata berbingkai coklat itu tersenyum penuh arti. “Pasti yang membuat dia selalu ke kantin hanya untuk memesan ice lemon tea adalah sunbae dari kelas 11-A itu kan?”

 

Min Yeo menegak ludahnya gusar. Tidak, sesungguhnya tidak boleh ada orang dari sekolah ini tahu tentang rasa sukanya pada senior kelas 11-A itu. Senior yang baru-baru ini mengobrol dengannya dua hari yang lalu di depan toilet pria. Tapi jika teman-temannya tahu… ah tidak!, rahasianya akan bocor keseluruh penjuru sekolah. Min Yeo tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi fans dari senior itu jika tahu gadis yang terlampau biasa macam Min Yeo berani-beraninya menyukai pria idola sekolah.

 

“Siapa maksudmu?” Min Yeo mencoba berbicara setenang mungkin.

 

Aigoo, aku sudah tahu rahasiamu Min Yeo-ya!. Senior yang kau sukai itu adalah…”

 

Teman Min Yeo mendekatkan dirinya, membuat yang lain ikut mendekat mendengar siapa yang gadis berkacamata coklat itu maksud.

 

“Kris Wu, kelas 11-A, anak basket yang tampan dan terkenal itu kan?”

 

“HEOL??!” Dua teman Min Yeo yang lain berseru kaget, sementara satu lainnya hanya terdiam memasang wajah dungu. “Siapa itu Kris?”

 

Min Yeo menyumpal mulut gadis berambut pendek itu dengan serbet.

 

“Yak!” gadis berambut pendek protes dengan perlakuan Min Yeo.

 

“Kecilkan suaramu saat menyebut nama ‘nya’!”

 

“Hoho… rahasiamu sudah terbongkar Lee Min Yeo.” Gadis berkacamata menyeringai, meski seringaian itu malah terlihat sangat tidak pantas.

 

“Oh, ayolah guys!. Kumohon untuk tidak menyebarkan hal ini ke orang lain. Please…

 

“Tenanglah!, itu bisa diatur.” Teman-temannya berkata kompak.

 

Min Yeo bisa bernafas lega. Meski tidak bisa dipercayai seratus persen, setidaknya teman-temannya kali ini kemungkinan tidak akan menyebarkan berita tentang siapa yang disukainya seperti kisah cintanya yang lalu. Bahkan sampai sekarang dia selalu menjadi bahan ledekan teman sekelas pria yang dulu pernah disukainya sebelum menyukai Kris.

 

Min Yeo sangat malu dan tidak berani menampakkan wajahnya di depan pria itu sampai sekarang. Perasaan malu dan menyesal karena menyukai pria yang salah selalu terbayang oleh gadis itu, tapi dia sudah berhasil move on pada Kris, pria tampan idola banyak wanita.

 

“Itu dia!, bersama… Jin Ah sunbae.”

 

Min Yeo menoleh, mencari orang yang dimaksud teman-temannya. Perasaan senang karena bisa bertemu -setidaknya menatap wajah Kris, menguap begitu saja ketika mengetahui pria itu tidak sendirian. Seorang gadis cantik yang Min Yeo ketahui adalah senior dari kelas 11-C berjalan beriringan dengan pria yang disukainya, terlihat sangat akrab dan… mesra.

 

Min Yeo tahu tentang hal itu. Tentang kabar kalau Kris sedang menjalin hubungan dengan senior Jin Ah yang terkenal cantik dan idola para murid pria di sekolahnya. Min Yeo tidak berharap lebih, mungkin hatinya sakit melihat kebersamaan dua orang itu. Tapi dia lebih sakit lagi jika berharap untuk mendapatkan Kris. Mengharapkan hal yang mustahil itu lebih menyakitkan daripada dipukul seratus kali dengan tongkat kayu Mr.Crish.

 

***

 

Min Yeo sedang merenung tentang nasib percintaannya di rumah Ah Hwa, sahabatnya sejak SMP. Tak hanya berdua, sahabatnya yang lain, Sung Jin, juga ikut merenung bersama Min Yeo.

 

“Aku sadar kalau aku tidak cantik, dan aku tidak berharap sunbae itu akan menyukaiku. Tapi kenapa rasanya sakit sekali.” Keluh Min Yeo pada kedua sahabatnya.

 

“Aku tahu perasaanmu, nasib kita sama.” Ah Hwa memandang lesu foto senior yang disukainya.

 

“Kita memang sehati.” Sung Jin menimpali, “Tapi setidaknya seorang Min Yeo lebih berani kan?, kau pernah meminta foto Taemin, senior kita di SMP dulu!”

 

“Tapi foto itu untuk dijual!. Lagipula aku tidak punya perasaan apapun pada Taemin sunbae, jadi aku tidak merasa canggung sama sekali.”

 

“Dasar mata duitan!” Ejek Ah Hwa.

 

Min Yeo melotot pada gadis itu, “Bukannya kau juga membeli hasil foto itu?!” Serunya. “Tidak semua gadis bisa mendapat foto Lee Taemin. Jika aku tidak merajuk, senior berhati dingin itu tidak akan mau difoto… hei! Kenapa kita malah membicarakan soal Lee Taemin?!”

 

“Kau sendiri yang meneruskannya.” Sung Jin memukul kepala Min Yeo pelan.

 

Tiga gadis itu menghembuskan nafas lelah. Min Yeo berpikir bagaimana orang yang dia sukai bisa tahu perasaannya tanpa memberitahukannya. But it’s too hard to be real…

 

“Setidaknya kau tunjukkan persaanmu, Tae Ryeong sunbae sudah tahu kalau aku menyukainya -walau dari bocoran temannya yang menyebalkan. Tapi setidaknya aku sudah berusaha.” Ah Hwa memberi nasehat.

 

Sung Jin mengangguk seraya menepuk bahu Min Yeo, “Berharap sedikit tidak ada salahnya kan?”

 

Min Yeo menunduk, merasa dilemma. Bukannya tidak mau untuk berharap, hanya saja dia tidak berani untuk itu.

 

“Berharap sedikit memang tidak ada salahnya, tapi sakitnya itu… tidak sanggup aku untuk merasakannya, lagi.”

 

***

 

Min Yeo berjalan mengendap-endap melewati lorong kelas lantai tiga, dimana kelas Kris berada. Nafas gadis itu masih tersengal karena kelelahan menaiki setiap tangga untuk sampai pada lantai tiga itu. Tapi karena niatnya yang kuat, dia hiraukan semua perasaan ragu.

 

Akhirnya gadis itu sampai pada tempat tujuannya, loker Devi Jones. Oh, tidak-tidak, yang dimaksud adalah loker cinta milik Kris sunbae, pria yang Min Yeo suka. Setelah berjalan mengendap-endap, jalan jongkok agar tidak terlihat, dan bersembunyi ketika ada orang lewat, sampailah dia pada loker itu.

 

Min Yeo dengan cekatan dan berusaha tanpa suara mengeluarkan kue pie coklat yang terbungkus rapi dari saku jasnya. Itu adalah kue yang dia beli di café besar tak jauh dari sekolah menggunakan uang sakunya selama seminggu. Meski sedih karena harus kehilangan uang makan selama seminggu, tapi gadis itu tak akan menyesal jika Kris mau memakan kue mahal -menurutnya- itu.

 

‘Kriiiiing’

 

Min Yeo segera menaruh kue itu di dalam loker Kris yang tidak terkunci lantas menutupnya kembali. Kemudian dia bersembunyi di balik koridor, tapi masih tetap mengawasi. Tak lama, Kris keluar dari kelas bersama temannya. Begitu tahu Kris akan membuka loker, jantung Min Yeo langsung berpacu. Dia berdoa agar Kris tidak akan mencaci hadiah dari secret admirer-nya.

 

“Apa itu?” Salah satu teman Kris penasaran dengan bungkusan yang Kris pegang.

 

Pie coklat!, aku mau!”

 

Kris menahan tangan kedua temannya yang hendak merebut kue coklat itu, “Tidak boleh.” Ujarnya.

 

Min Yeo yang melihat dari jauh tersenyum senang. Setidaknya Kris tidak mencaci bahkan membuang hadiah darinya.

 

“Kris-ah!”

 

Jin Ah datang dan berseru memanggil Kris. Pria itu menoleh lantas tersenyum menyambut kedatangan gadis cantik itu.

 

“Kenapa?”

 

“Bukankah tim dance dan tim basket ada pertemuan?. Jangan berlagak lupa!”

 

Kris mengacak rambut Jin Ah, “Aku tahu.”

 

Dua teman Kris berdehem, “Bisa tidak menunjukkan kemesraan kalian di tempat lain?” Sindir salah satu diantaranya.

 

“Kalian hanya bisa menyindir saja eoh?!” Jin Ah mengejek kedua teman Kris.

 

Kris menengahi, “Sudahlah, kajja!, yang lain pasti sudah menunggu.”

 

“Apa itu?” Jin Ah menunjuk pada kue di tangan Kris.

 

“Kau mau?. Aku tidak tahu siapa pengirimnya, tapi aku tidak terlalu suka coklat.” Kris menyodorkan kue itu pada Jin Ah yang diterima dengan senang hati.

 

Dan ketika dua orang itu berjalan menjauh, seorang gadis dibalik koridor sana sedang menahan semua perasaan sedihnya. Tapi siapa yang tahu gadis yang terkenal untuk tidak mudah menangis itu bisa meneteskan air matanya karena kesalahannya lagi, kesalahan untuk terlalu berharap.

 

***

 

“Darimana saja kau?!, sudah dari setengah jam yang lalu aku membuat pengumuman untuk tim dance berkumpul!”

 

“Maaf, sunbae.”

 

Min Yeo yang baru sampai diruang pertemuan langsung mendapat kemarahan ketua tim basket yang sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu. Sementara gadis itu hanya diam menunduk dan memasang wajah lesu. Jin Ah yang kasihan akhirnya menyuruh ketua tim basket itu untuk membawa anggotanya yang lain berlatih.

 

Min Yeo tetap berdiri di posisinya tadi. Bahkan ketika Kris melewatinya, gadis itu tetap menunduk tak menoleh sedikitpun. Jin Ah menghampiri Min Yeo.

 

“Maafkan saja Jong Shin, dia memang tempramental. Sekarang kita latihan saja untuk pertandingan minggu depan.”

 

“Baik.”

 

***

 

“Semuanya kerja bagus!”

 

Ketua tim basket memberi pujian pada tim dance yang sudah tampil baik untuk menjadi pemandu sorak tim basket.

 

“Tentu saja Jong Shin. Syukurlah Min Yeo bisa menutupi kekurangan salah satu anggota yang tidak bisa hadir. Kau harus berterima kasih padanya!” Ucap Jin Ah.

 

Ketua tim basket menghampiri Min Yeo yang sedang beristirahat seraya minum air mineral pemberian kru.

 

“Min Yeo, kerja bagus!. Terima kasih atas kesediaanmu.”

 

Min Yeo tersenyum, “Ya, sunbae.”

 

“Baiklah, karena kemenangan kita hari ini… KITA ADAKAN PESTA!”

 

“YEAYYYY!”

 

“Ayo kita pergi ke la café!”

 

Anggota dance dan basket sudah bersiap untuk keluar dari ruang ganti menuju la café yang berada tak jauh dari sekolah mereka. Café mewah dimana Min Yeo membeli kue coklat yang dia berikan pada Kris tempo lalu, kue yang menurutnya mahal dan justru diberikan kepada orang lain.

 

“A-aku tidak bisa ikut sunbae.” Perkataan Min Yeo membuat yang lain terkejut.

 

“Kenapa?”

 

“Itu… aku tidak boleh pulang terlalu larut. Keluargaku bisa khawatir.” Tentu saja itu alasan, jarak la café dengan rumahnya tidak begitu jauh jadi tidak butuh waktu lama. Gadis itu hanya tidak ingin berlama-lama ada di dekat Kris.

 

“Bukankah rumahmu dekat dengan café itu?” Kata salah satu teman seangkatannya, membuat Min Yeo menatap tajam gadis yang tidak lebih tinggi darinya itu.

 

“Sudahlah ikut saja, lagipula aku yang mentraktir.” Ketua tim basket menarik paksa Min Yeo untuk mengikutinya.

 

Min Yeo tidak bisa menolak lagi. Dia merasa tidak enak dengan senior yang lain. Sepertinya untuk hari ini saja dia harus menahan semua rasa sakit itu, setidaknya ini hari terakhir dia bergabung dengan tim dance sebagai pemandu sorak untuk tim basket. Itu berarti dia akan menjauh dari kehidupan kedua Kris -basket- dan kesempatannya untuk melihat pria itu semakin sedikit.

 

***

 

“BERSULANG!”

 

‘Trring’

 

Suara dentingan gelas yang beradu menyemaraki pesta kecil dua tim kebanggaan sekolah itu. Canda tawa dari mereka terdengar di seluruh penjuru café. Bagi mereka, persetan dengan pelanggan yang lain. Toh ini pesta mereka dan mereka juga membayar setiap makanan dan minuman yang dipesan.

 

Berbeda dengan teman satu tim-nya yang sangat antusias dengan pesta ini, Min Yeo terlihat lesu dan tidak nyaman berada dikerumunan manusia yang dilanda kegembiraan itu. Min Yeo ingin segera pulang, selain melepas penat dan lelah dia juga ingin melampiaskan segala kesedihannya. Apalagi Kris dengan Jin Ah semakin mesra saja.

 

Min Yeo menghela nafas, lalu meminum ice lemon tea hingga tandas. Kemudian dia memanggil pelayan untuk memesan segelas lagi, kali ini dia membayar dengan uang sendiri. Selama menunggu pesanannya datang, gadis itu terus memperhatikan Kris dan Jin Ah. Walau hatinya sakit, tapi matanya tak bisa berhenti untuk menatap pria yang dia cintai itu.

 

“Silahkan ice lemon tea-nya.”

 

Akhirnya pesanan minuman favoritnya datang. Kembali dia minum, tapi tidak sampai habis begitu saja seperti yang tadi. Tak lama seorang pelayan menghampiri Min Yeo.

 

“Ini ada bonus dari la café atas lima kali pembelian ice lemon tea kami.”

 

Pelayan itu memberikan sepiring kue pie coklat pada Min Yeo yang diterima gadis itu dengan senang hati. Min Yeo ingat, kalau kue itu sama dengan kue yang dia beli untuk Kris tempo lalu.

 

“Haaah~ kenapa semua hal selalu ada sangkut pautnya dengan pria itu?” kata Min Yeo sedikit kesal. Beruntung dia duduk sendiri ditempat terpisah dari yang lain, sehingga tak seorangpun yang mendengar perkataannya tadi.

 

Min Yeo menghabiskan kue coklat itu, menegak minumannya hingga tak bersisa. Lalu meninggalkan beberapa uang tip di meja. Gadis itu beranjak pergi, hendak pulang ketika yang lain tidak menyadarinya. Walau sebenarnya tak seorangpun ada yang menganggap keberadaannya sejak tadi.

 

Namun, ketika Min Yeo merasa tak seorangpun menyadari kepergiannya. Seorang pria yang duduk bersama tim basket dan Jin Ah mengawasi Min Yeo hingga dia keluar dari la café.

 

“Ada apa Kris?” Jin Ah menegur pria itu.

 

“Ah, tidak. tidak ada apa-apa.”

 

***

 

(flashback)

[Kris side]

 

“Please describe this pencil…”

 

“Min Yeo-ssi!, what happen?!”

 

Kris yang berjalan di koridor kelas satu menoleh pada salah satu kelas yang sedang dalam pembelajaran bahasa Inggris Mr.Crish.

 

“So-sorry sir. I-”

 

“Shut up and just do what you must to do!. NOW!”

 

Kris mundur beberapa langkah dari pintu masuk kelas itu, lalu menyembunyikan diri dibalik dinding.

 

“Ah!, dasar menyebalkan!. Padahal aku hanya menguap saja.”

 

Min Yeo yang mendapat hukuman dari Mr.Crish terus mengeluh sepanjang perjalanannya menuju tempat dimana dia dihukum. Sesekali dia menendang angin menunjukkan kekesalannya.

 

Kris yang sedari tadi melihat kejadian itu tersenyum. Senyuman yang tulus. Pria itu memutuskan untuk mengikuti kemana gadis itu pergi, seakan lupa akan tugasnya untuk menyerahkan laporan keuangan tim basket.

 

***

 

Ketika sadar kemana gadis itu akan pergi, Kris lantas mengambil jalan pintas. Pria itu bergegas menaiki tangga yang berbeda dengan Min Yeo menuju lantai tiga. Menghiraukan tatapan aneh dari orang yang berlalu lalang di koridor, Kris berlari menuju toilet pria.

 

Ada dua orang yang sedang berada di toilet itu, satunya merokok dan satunya lagi sedang mencuci tangan di wastafel. Kris menarik dua pria itu untuk keluar dari toilet. Meski sempat menolak, akhirnya dua pria itu menyerah juga dan memutuskan untuk keluar dari toilet.

 

Kris kemudian menutup pintu masuk toilet dan menunggu dibaliknya. Tak lama suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Pria itu mengatur detak jantungnya ketika orang diluar sana sedang mencoba memutar knop pintu lalu mendorong pintu itu perlahan, menimbulkan suara berderit yang menyakitkan telinga. Begitu pintu benar-benar terbuka, Kris segera berpura-pura terkejut.

 

“Eoh, Min Yeo-ssi.” Ujarnya.

 

Kris dapat melihat perubahan raut muka Min Yeo, dan menurut Kris wajah itu begitu lucu membuatnya ingin mencubit dua pipi chubby itu.

 

“Annyeong, Sunbae.”

 

Pura-pura ingin tahu, Kris bertanya soal bagaimana gadis itu bisa berada di toilet pria lantai tiga. “Apa yang kau lakukan disini?, dengan… pel dan ember itu?”

 

Gadis di depannya berdehem baru menjawab, “Seperti yang kau lihat, aku mendapat hukuman.” Ujarnya dengan lesu.

 

“Hahaha, sudah kuduga. Wajahmu sudah menunjukkan bahwa kau gadis yang bandel.” Kris mengatakan itu tentu hanya bercanda, setidaknya dia punya suatu hal yang bisa dibicarakan dengan gadis itu.

 

Namun sepertinya Min Yeo tidak terima dengan perkataannya, “Yak sunbae!” Gadis itu berseru seraya memukul bahu Kris. “Aku tidak seperti itu.”

 

Kris mengusap bahunya, “Appogeurae, kalau begitu selamat bekerja keras Min Yeo!.” Kris kemudian pergi.

 

Sebenarnya dia tidak ingin pergi secepat itu. Tapi apa daya, dia harus segera menyerahkan laporan dan kembali ke kelas. Lagipula, dia bingung harus bicara apalagi dengan gadis itu. Setidaknya hari ini Kris bersyukur bisa berbicara dengan Min Yeo, walau hanya sebentar.

 

***

 

Kelas Kris begitu sepi ketika jam istirahat berlangsung. Kebanyakan murid menghabiskan waktu istirahat untuk pergi ke kantin atau setidaknya berada dilingkungan lain sekolah, kemanapun asal tidak dikelas yang membosankan itu.

 

Tapi Kris tidak, pria itu lebih memilih berdiam diri dikelas. Sekedar menanti jam istirahat selesai dengan mencatat beberapa pelajaran yang tidak dia ikuti dua hari lalu karena bolos. Bagaimanapun juga, seorang pria pasti punya sisi bandel kan?.

 

“Kris-ah!”

 

“Eoh, Jin Ah. Wae geurae?”

 

Gadis cantik bernama Jin Ah itu mendatangi Kris dan langsung menariknya keluar kelas.

 

“Ada apa ini?”

 

“Temani aku ke kantin.”

 

Kris menurut saja, bagaimanapun Jin Ah sudah menjadi teman baiknya. Apalagi pria itu pernah menyukai Jin Ah saat kelas satu. Tapi kali ini sudah tidak lagi.

 

Ketika sampai di kantin, Kris bisa merasakan tatapan setiap orang seolah tertuju padanya dan Jin Ah. Wajar saja, mereka menganggap kalau Kris dan Jin Ah adalah sepasang kekasih karena dua orang itu begitu dekat dan kelihatan mesra. Lagipula si cantik dan si tampan bukankah akan sangat cocok jika bersama?.

 

Tapi Kris tidak nyaman dengan prasangka orang lain seperti itu. Dia- oh tidak!… matanya menangkap seorang gadis yang dia temui beberapa hari yang lalu dengan wajah yang lesu. Kris tidak tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan, tapi itu benar-benar menganggunya.

 

“Kris!, duduk disini.”

 

Jin Ah menarik Kris untuk duduk di salah satu tempat kosong. Pria itu menurut. Ketika hendak kembali melihat pada gadis tadi, bangku yang tadinya ditempati lima orang perempuan kini sudah kosong saja.

 

***

 

Kris berjalan keluar kelas menuju lokernya. Begitu mendapati sebungkus kue coklat, Kris lantas menaikkan sebelah alis. Siapa yang mengirim ini?, terlebih lagi bagaimana orang itu bisa membuka lokernya?.

 

“Apa itu?” Teman Kris bertanya, “Pie coklat!, aku mau!” Hampir saja kue itu jatuh ke tangan temannya jika saja Kris tidak menahan tangan kekar pria itu.

 

“Tidak boleh.”

 

“Kris-ah!”

 

Jin Ah datang lalu mengajak Kris untuk pergi ke ruang pertemuan. Jin Ah kemudian bertanya tentang kue coklat yang pria itu bawa, Kris tidak tahu siapa pengirimnya dan karena dia tidak suka makanan manis, maka kue itu dia berikan pada Jin Ah. Tapi entah kenapa saat kue itu berpindah tangan, Kris seolah tidak rela.

 

“Tunggu dulu!” Dia rebut kembali kue yang hampir dibuka oleh Jin Ah. Jin Ah nampak kesal.

 

“Kenapa?”

 

“Ada baiknya aku belajar makan makanan yang manis.” Kata Kris lalu memasukkan kue itu dalam saku jas.

 

***

 

Ketua timnya begitu kesal ketika Min Yeo hadir tidak tepat waktu. Dia terus membentak Min Yeo, tapi gadis itu hanya diam dan menunduk tanpa membalas. Jin Ah yang kasihan lantas menyuruh ketua tim basket untuk berlatih bersama anggota basket yang lain. Begitu ketuanya setuju, Kris ikut pergi ke lapangan.

 

Tapi saat berlatih, Kris sangat tidak fokus. Perhatiannya tertuju pada bayangan wajah Min Yeo yang terlihat begitu lesu, tidak seperti Min Yeo yang konyol biasanya. Berkali-kali ketuanya marah karena Kris tidak bisa bermain dengan baik. Tapi Kris tidak memperdulikan kemarahan ketua tim basket.

 

“Kris!, pertandingan sebentar lagi dan kau hanya melamun seperti itu?!”

 

Kris yang lelah akhirnya melempar sembarangan bola basket hingga tak sengaja mengenai ketua tim basket.

 

“Hari ini aku tidak bisa latihan.”

 

Setelah berkata demikian Kris pergi meninggalkan lapangan. Kembali dia menghiraukan seruan demi seruan ketua tim dan anggota lain. Kris hanya ingin sendiri, perasaannya berkecamuk. Dia butuh istirahat.

 

***

 

(flashback end)

[Normal side]

 

Min Yeo menyadari sesuatu. Dia lupa jalan pulang!. Walau rumahnya dekat dengan la café tetap saja, gadis yang lupa jalanan itu akan sulit untuk kembali ke rumah. Apalagi dia baru dua kali pergi ke café mewah itu, ini yang ketiga.

 

“Oh tidak!, bagaimana aku bisa kembali?!. Dasar Min Yeo bodoh!”

 

“Mau kuantar?”

 

Min Yeo bisa mengalami serangan jantung mendadak jika Kris selalu datang tiba-tiba seperti ini.

 

“Tidak perlu sunbae. Aku akan mencari jalanku sendiri.” Kata gadis itu dingin, tapi perkataannya yang puitis itu justru membuat Kris terkekeh.

 

Min Yeo menatap senior yang disukainya itu aneh, “Sunbae, kau tidak sedang sakit kan?”

 

Kris menghentikan kekehannya, “Tidak. kau perhatian sekali denganku.”

 

Wajah Min Yeo memerah, “A-ap-apa maksudmu. Aku hanya bertanya karena… karena… karena kau terlihat gila!” Akhirnya Min Yeo salah tingkah juga. Dan itu membuat Kris tersenyum lebar.

 

Kris pun menarik Min Yeo untuk berjalan bersamanya. “Aku memang sudah gila. Aku tergila-gila pada seorang gadis.”

 

Perkataan Kris mampu menohok jantung Min Yeo, “Siapa gadis sial itu sunbae?” Tanyanya dengan sedikit meledek pria itu. Padahal dia ingin menjerit sedih karena ada gadis beruntung yang sudah mendapatkan hati Kris.

 

“Mau tahu saja!, dan lagi, dia itu gadis beruntung yang bisa membuatku suka padanya!”

 

“Terserah.”

 

“Namamu Lee-Min-Yeo kan?”

 

Gadis itu mengangguk, Min Yeo baru ingin menjelaskan arti dari namanya tapi Kris sudah mendahului.

 

“Lee berarti keindahan kemudian Min Yeo sama dengan yeoppo (cantik).” Gadis itu terkejut. Bagaimana Kris tahu soal arti dari namanya?. Ah, itu sudah biasa. Setiap orang Korea pasti tahu arti dari namanya itu.

 

“Lee Min Yeo. Usia 16 tahun. Tinggal bersama ayah, ibu dan adik laki-laki berusia 11 tahun. Agak tomboy dan benci hal-hal yang chessy. Sulit dibuat menangis dan-”

 

“Tunggu-tunggu-tunggu!. Bagaimana sunbae tahu tentang itu semua?!”

 

Kris berhenti berjalan dan berbalik menatap Min Yeo. Senyumannya semakin lebar, membuat jantung Min yeo berdegub kencang. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.

 

“Because… I’m your stalker.”

 

Min Yeo melotot. Matanya yang bulat semakin membulat mendengar pernyataan Kris. Oh My God!.

 

“J-j-ja-jadi selama ini aku men-stalker stalker-ku?. Lalu, siapa yang menjadi stalker sebenarnya?. Atau jangan-jangan aku stalker yang men-stalker stalker-ku sendiri?. Oh tidak!, dan sekarang aku tidak mengerti apa yang barusan aku ucapkan.” Min Yeo menepuk dahinya sendiri menyadari ucapan anehnya itu.

 

Kris mendekat lalu mencubit kedua pipi chubby gadis itu. Seperti yang ia inginkan selama ini.

 

“Jadi… sunbae adalah seorang stalker?. Terlebih lagi… my stalker?”

 

Kris mengangguk seraya mengusap rambut panjang Min Yeo.

 

“Jika kau stalker berarti…”

 

“Yes. I know the boy who you love.”

 

“Jadi… bagaimana?” Min Yeo menegak ludah. Semoga ini bukan mimpi yang bahkan terlalu indah untuk berada dalam daftar mimpi indahnya.

 

“What do you think?”

 

Min Yeo tidak menjawab. Menunggu Kris yang melanjutkan ucapannya.

 

“Oh, baiklah… I love you.”

 

Dan Tuhan mendengar segala doa Min Yeo tentang menjadikan Kris sebagai miliknya. Kedua orang itu saling tersenyum, berdiri diatas sinar lampu jalan yang temaram. Sekarang Min yeo tahu bagaimana indah rasanya mendapat hal romantis dari seorang pria. Terlebih pria yang disukainya.

 

Memang berharap bisa membuat hatimu sakit. Jika harapan itu tidak terwujud. Tapi coba saja kau berharap, sedikit saja. Jika harapan itu terwujud, bukankah kau sendiri yang akan mendapatkan kebahagiaannya?.

 

Bahkan seorang stalker bisa mendapatkan cinta dari seorang stalker juga.

 

 

~END~

 

 

Hehehehehe… hai, ini author yang sama dengan author di FF ‘The One Person Is You’ (kalau ada yang tahu itu ff kekekeke). Alasan saya ngirim ff ini bukan karena ff yang T-O-P-I-Y udah mandek, gak loh ya. Cuman ya daripada ini ff berdiam diri di laptop ya saya kirim aja sekalian buat menghibur pembaca yang siapa tahu lagi galau atau baper atau semacamnya. Ini ff juga ff lawas sih, dibuat pas masih kelas sepuluh dan itu berarti dua tahun yang lalu, jadi maaf kalau gaya bahasanya aneh atau jelek. Ff ini juga berasal dari kisah nyata author (curhat dikit) yah meskipun gak semuanya yang di cerita itu real, seenggaknya diangkat dari kisah nyata yang ‘dirombak’ yeth kekekeke…

Sekedar info juga buat yang menunggu ff The One Person Is You (promo sekalian) saya usahakan cepet ya, soalnya masih dalam proses pengerjaan juga…

 

Oke segitu aja, silahkan RCL Juseyoooo~~~

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] I Stalk My Stalker”

  1. Selama ini jadi stalkernya bias, tapi terus bisa apaahhh??? Ngarep ketemu bisa siih. Tapi kudu bayar. Terusan gabisa ketemu dari deket. Mesti ada jarak~ oke abaikan ini ngawur hahah.

    Btw suka sama ffnyaah. Bikin baper thor. Shungguh! :”’

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s