[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (CHAPTER 3)

ff.png

Title : Choose One

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Sad

Rating : PG-17

Cast : – Bae Irene RV

– Oh Sehun EXO

– Kang Seulgi RV

Main Cast : – Wendy RV

               -Byun Baekhyun

Disclaimer : Fanfiction pertama yang dibuat Author real 100% buatan author, tapi beberapa bagian diambil dari kisah nyata autor*abaikan*. dan beberapa bagian terinspirasi dari drama korea dan cerita-cerita romance lain. Dan ingat! Typo bertebaran dimana-mana, maklum pemula. Okey cukup basa basinya, selamat membaca~ ^_^

CHAPTER 3

“Hentikan! Kau tidak boleh melakukannya di depan anak-anak! Apa kau tidak kasihan melihatnya menangis seperti itu?!” bentak seorang perempuan berusia 30an itu sambil berjongkok lemah di sebelah kaki laki-laki tinggi yang lebih tua 5 tahun darinya. Perempuan itu menangis dengan wajah yang penuh lebam bekas pukulan dan juga darah disekitar bibirnya.

“Eomma, Eomma, Eomma” gadis kecil itu terus memanggil ibunya, sambil menangis.

“Ayo kemari nak, ikutlah bersamaku, kita bersenang-senang bersama dengan orang ‘baru’” gadis kecil itu melangkah mundur hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk berlari sebelum dirinya dikejar oleh pria tinggi itu.

“Irene-ah, kajja kita bersenang-senang” seorang laki-laki seumuran dengannya berdiri tepat di depan Irene sambil membawa sebuah pisau berlumuran darah yang teracung kearah Irene. Irene melangkah mundur, -lagi-lagi ia melangkah mundur, tidak ada yang bisa dilakukan Irene,-.

Kenapa Sehun Sunbae?

 

♡♡♡

Irene masih memikirkan mimpinya semalam, memori ketika masa kecilnya tiba-tiba terputar, dan anehnya kenapa Sehun sunbae muncul tiba-tiba dalam mimpinya?, tiba-tiba rasa trauma yang kemarin mulai hilang, sekarang muncul kembali.

Irene sampai di depan Universitasnya, ia sedang duduk di kursi taman dekat gedung management, Irene sedang menunggu Wendy. Sudah lebih dari 20 menit Irene menunggu, tetapi Wendy tak kunjung datang. Irene kesal dan segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju gedung management.

Seseorang menepuk pelan bahu Irene, dengan cepat ia membalikkan badannya. Seorang laki-laki tinggi berdiri di belakangnya, Irene tersentak kaget ketika melihat laki-laki yang sedang berdiri di belakangnya tersebut, laki-laki itu tersenyum manis sekali kearah Irene.

“S-Sehun Sunbae?!” Irene melangkah mundur menjauhi Sehun. Sehun yang aneh karena sikap Irene melangkahkan kakinya mendekati Irene. Irene melihat Sehun melangkah mendekatinya dengan cepat Irene mundur beberapa langkah sambil terus menatap Sehun dengan wajah setengah takut.

“Irene-ah, ada apa? Kenapa kau menghindariku?” Sehun menatap Irene heran. Irene terus melangkah mundur dan akhirnya Irene berlari meninggalkan Sehun.

♡♡♡

Ya! kenapa kau berlari seperti itu?” Wendy yang sedang berdiri di dekat pintu kelas merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu. “Apa kau baru saja dikejar hantu? Anjing?” lanjut Wendy.

Kajja kita masuk!” Irene mendorong badan Wendy pelan untuk masuk kedalam kelas, suasana di kelas sangat ramai, sepeti biasanya. Irene dan Wendy duduk di bangku barisan depan.

Ya! Kenapa kau lari-lari tadi? Apa kau baru saja bertemu hantu?” Wendy mengulang pertanyaan yang tadi belum Irene jawab.

“Aku hanya takut telat masuk kelas, hanya itu saja” jawab Irene bohong sambil menatap seluruh isi kelas dengan was-was.

“Tidak mungkin! Biasanya kau tidak takut telat masuk kelas dan kau kan selalu terlambat masuk” Wendy menatap wajah Irene dengan wajah yang menyidik.

“Wendy-ah, sudahlah! Aku ingin mengubah kebiasaan burukku, apa tidak boleh aku mengubah kebiasaan burukku itu?” Irene memasang wajah kesal, Wendy hanya bisa pasrah.

“Tapikan kelas dimulai 30 menit lagi, masih banyak waktu, kenapa kau berlari? Berjalan pun tidak sampai 30 menit, hanya membutuhkan waktu 5 menit saja” rasa penasaran Wendy tak kunjung padam, Wendy terus menanyakan hal itu, Irene tidak menjawab apapun, Irene hanya fokus ke lembaran kertas yang cukup tebal, membacanya dengan seksama, membiarkan Wendy mengoceh sendiri.

Pintu kelas terbuka, seorang laki-laki yang tadi pagi Irene temui berjalan menuju dirinya, lalu mengucapkan selamat pagi dan langsung menuju bangku paling belakang, ia disambut meriah oleh teman-temannya.

“Apa Sehun sunbae berada di kelas kita? Ia tidak salah masuk kelas kah?” Wendy masih melihat sekumpulan orang yang mengerumuni Sehun, berbincang-bincang dengan Sehun, sesekali mereka tertawa.

Molla, aku tidak peduli” Irene pun ikut melihat sekumpulan orang yang sedang mengerumuni Sehun.

Pintu kelas terbuka, Prof.Kim memasuki kelas, tetapi kali ini Prof.Kim masuk kelas dengan seorang gadis cantik berambut sedada berwarna coklat. Ia tersenyum keseluruh penjuru kelas termasuk kearah Irene dan Wendy.

Lalu tiba-tiba Wendy berteriak histeris ketika melihat gadis itu. “Seulgi-ya!!” Wendy memangil gadis itu, gadis itupun memasang senyuman yang sangat manis.

“Dia siapa?” Irene menepuk pundak Wendy, “Ahh itu, dia Seulgi, anak teman ayahku, aku mengenalnya saat di Amerika setahun yang lalu” mata Wendy berbinar-binar, Irene hanya tersenyum.

“Oke baik! Perhatian, kita kedatangan mahasiswa pindahan dari Amerika, namanya Kang Seulgi” Prof.Kim memperkenalkan Seulgi, lalu menyuruh Seulgi untuk duduk di temapt yang kosong. Dengan cepat Wendy memberikan tempat duduk, karena bangku yang ditempati Irene dan Wendy masih cukup untuk satu orang.

“Ahh… sepertinya ada wajah baru di kelas ini selain Seulgi, apa kau salah kelas?” Prof.Kim menatap Sehun. Sehun berdiri dan segera membungkuk sopan. “Anio, aku pindah kelas, kelihatannya disini lebih menyenangkan” Sehun menatap Irene dengan penuh senyuman. Irene yang memperhatikan Sehun langsung mengalihkan pandangannya kedepan.

Wendy dan Seulgi berbincang-bincang dengan penuh semangat, Irene hanya diam, tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka. Selama pelajaran, Irene fokus belajar dan mencoba untuk melupakan mimpinya tadi malam. Karena sedari tadi mimpi itu masih terngiang-ngiang di otaknya.

Kelas telah selesai, Irene sedang memasukkan kertas-kertas tebal kedalam tasnya. Wendy dan Seulgi melakukan hal yang sama. Setelah membereskan barang mereka, Irene, Wendy dan Seulgi keluar kelas.

“Emm… kalian belum memperkenalkan diri kalian, ayo perkenalkan diri kalian” Wendy melihat Irene dan Seulgi secara bergantian.

“Oh iya, Emm… perkenalkan, namaku Seulgi” Seulgi mengulurkan tangannya, lalu Irene membalas uluran tangannya, “Namaku Irene” Irene tersenyum kearah Seulgi, Seulgi mebalas senyuman Irene.

“Irene-ah, Sepertinya kita mendapatkan sahabat baru” Wendy tersenyum sambil menatap Irene. Irene hanya tertawa kecil dan mengangguk. Irene tau, Wendy ingin Seulgi menjadi sahabatnya, tidak ada alasan untuk menolak Seulgi menjadi sahabatnya. Sejak saat itu Irene, Wendy dan Seulgi bersahabat.

Irene, Wendy dan Seulgi sedang berada di kantin Universitas, mereka sedang menikmati makanan ringannya, sesekali tertawa, membuat orang-orang disekitarnya melihat kearah mereka, mereka benar-benar berisik.

“Hhaha, mereka seperti anak kecil, benarkan?” seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari tempat duduk ketiga sahabat itu berkomentar. Laki-laki itu sedang duduk dengan temannya, temannya pun ikut memperhatikan tingkah laku ketiga sahabat itu.

“Sehun-ah! Jawab aku!” laki-laki itu menepuk pundak temannya.

“Eung.. mereka seperti anak kecil” Sehun tersenyum melihat salah satu dari ketiga gadis itu, Irene.

“Baekhyun-ah, Kajja kita pergi” Sehun mengajak Baekhyun pergi.

“Tunggu sebentar, apa kau megenal mereka? Sepertinya iya” Baekhyun menyelidiki Sehun.

“Hmm… ya begitulah, mereka teman sekelasku”

“Kenapa kau tak menyapa mereka? Kajja, kita sapa bersama-sama” Baekhyun menarik tangan Sehun menuju tempat yang di tempati Irene, Wendy dan Seulgi.

Sehun dan Baekhyun sudah ada di dekat tempat duduk Irene, Wendy dan Seulgi. Wendy yang menyadri keberadaan Sehun langsung menayapanya.

“Annyeong Sunbaenim” Wendy berdiri dari duduknya dan membungkuk sopan, di ikuti Irene dan Seulgi.

Sehun hanya mengangguk. “Ada apa Sunbae menghampiri kami?” Wendy bertanya seraya duduk kembali di kursinya.

“Tidak ada apa-apa, hanya ini temanku-“ belum selesai Sehun berbicara, Baekhyun menutup mulut Sehun dengan tangannya.

“Perkenalkan, namaku Baekhyun, kuliah di jurusan seni, salam kenal” Baekhyun tersenyum menatap ketiga gadis dihadapannya.

“Aishh” Sehun memutar bola matanya.

“Yasudah, kita pergi dulu ya!” Baekhyun menarik tangan Sehun menjauhi ketiga gadis itu, Baekhyun terlihat salah tingkah. Ketika sudah hampir jauh dengan gadis-gadis itu, Baekhyun melepaskan tangan Sehun.

Setelah Sehun dan Baekhyun pergi. Irene, Wendy dan Seulgi pergi ke perpustakaan, untuk belajar.

Ya! Apa kau liat? Tadi gadis yang duduk di tengah itu cantik sekali, apa kau mengenalnya? Namanya siapa?” Baekhyun bertanya dengan histeris.

“Ohh itu, namanya Irene” jawab Sehun. “Irene? Dia cantik sekali, aku menyukainya” Baekhyun menatap langit-langit bangunan. “Ya! Baru pertama kali kau melihatnya, kau sudah menyukainya?” Sehun terkejut, sangat terkejut. “Yaa.. begitulah, aneh sekali” Baekhyun terkekeh pelan.

Sehun dan Baekhyun berpisah di pintu masuk Universitas, Sehun akan pergi ke perpustakaan dan Baekhyun pergi ke gedung jurusan Seni karena ada panggilan mendadak dari Prof.Lee.

Sehun memasuki perpustakaan, meskipun banyak orang di dalam perpustakaan, tetapi sangat hening. karena mereka fokus membaca dan belajar, Sehun mendekati rak buku sejarah, ia sedang ingin membaca sejarah, ia memilih buku yang ingin ia baca.

Sehun sudah menemukan buku yang ingin ia baca, ketika sedang berjalan menuju kursi untuk duduk, Sehun melihat Irene sedang berusaha mengambil buku di rak yang lebih tinggi dari Irene, dengan cepat Sehun menhampiri Irene, Sehun mengambilkan buku yang Irene inginkan, Sehun mengambil bukunya dari belakang Irene. Dengan cepat Irene berbalik, yang asalnya menghadap ke rak buku, kini sedang menghadap kearah Sehun. Jarak antara Sehun dan Irene hanya sedikit, hanya sekitar 20 cm jarak antara Sehun dan Irene.

Irene mendongkakkan wajahnya menatap wajah tampan Sehun, tanpa Irene sadari, Wajahnya bersemu merah, malu. Mata Irene dan Sehun bertemu, tak sampai 2 detik, mereka mengalihkan pandanganya kearah lain. Sehun melangkah mundur, lalu memberikan buku yang tadi Irene inginkan. Dengan cepat Irene mengambil bukunya dan segera pergi meninggalkan Sehun. Sehun hanya tersenyum dan segera menuju kursi khusus untuk mahasiswa.

Irene pergi meninggalkan Sehun, ia menuju tempat duduknya Wendy dan Seulgi sudah menunggu Irene. Irene duduk ditempat duduknya, wajanya masih bersemu merah.

“Irene-ah, apa kau baik-baik saja? Apa kau sedang sakit?” Tanya Seulgi khawatir.

“Ahh.. tidak, tidak apa-apa” Irene menatap Seulgi, lalu tersenyum.

“Sepertinya terjadi sesuatu ketika Irene mengambil buku” Wendy menyelidik sambil menatap Irene.

“Sepertinya begitu” Seulgi dan Wendy tertawa pelan sambil menatap Irene, Irene memilih diam, jika ia berbicara menanggapi ocehan Wendy dan Seulgi, habislah, ia akan di goda terus menerus.

Sudah lebih dari satu minggu Seulgi berkuliah di Universitas, menjadi sahabat Irene dan Wendy. Irene mulai merasa tidak nyaman berada di dekat Seulgi, dimanapun dan kapanpun, Seulgi selalu membicarakan Sehun sunbae, entah kenapa, setiap Seulgi membicarakan Sehun, hati Irene sakit, seperti diiris oleh pisau tajam. Dan ketika Seulgi mengatakan bahwa ia mulai menyukai Sehun, Irene merasa ada yang beban berat yang menimpanya, hatinyapun seperti ditusuk oleh pedang, ingin rasanya menangis, tetapi untuk apa?.

Irene menatap langit senja, sambil mendengarkan musik-musik favoritnya, Irene sedang duduk di kursi taman Universitas. 10 menit yang lalu Wendy dan Seulgi sudah pulang.

Irene memejamkan matanya, menikmati angin yang menerpa wajah cantiknya, menikmati suara daun yang bersentuhan karena angin, dan menikmati udara sore hari. Itu adalah moment yang paling Irene sukai.

“Sampai kapan kau mau menghindari para lelaki? Jika begini terus, Bayangkan, ketika nanti kau bekerja, pasti banyak lelaki disana, apa kau mau menghidar? Kalian tidak akan bisa bekerja sama nantinya, dan jika itu terjadi, bisa jadi kau akan dikeluarkan dari perusahaan karena kekacauan yang kau buat, dan kapan kau akan mendapatkan pacar? Umurmu yang sudah beranjak dewasa ini semestinya sudah mendapatkan seorang kekasih. Ahh… Irene-ah, ayolah, lupakan masa lalu dan mulai hidup baru. Banyak lelaki yang ingin menjadi pacarmu”

Kata-kata Wendy dua hari yang lalu masih terngiang-ngiang di otak Irene, perkataan Wendy ada benarnya. Sudah hampir 15 tahun ia menghindari laki-laki dan membenci mereka, terakhir ketika ia bermain bersama laki-laki pada umur 7 tahun.

“Apa aku harus menghilangkan trauma ini? Dan apa salahnya jika memiliki trauma terhadap laki-laki? Laki-laki tidak ada gunanya” Gumam Irene.

“Jadi menurutmu laki-laki itu tidak ada gunanya?” Seseorang berbicara, dengan cepat Irene mencari sumber suara, Sehun Sunbae.

Sehun berdiri tepat di belakang Irene. Irene berdiri dari duduknya, menatap Sehun.

“S..Sunbae?” Irene berbicara dengan patah-patah.

“Kau boleh duduk lagi” Sehun melangkah mendekati Irene dan langsung duduk di sebelah Irene. Irene menundukkan kepalanya.

“Baru pertama kali aku menemukan gadis sepertimu, gadis yang membenci laki-laki” Sehun melihat kearah Irene yang sedang menundukkan kepalanya. Angin berhembus dengan kencang membuat beberapa helai rambut Irene terangkat dan membuat rambutnya sedikit berantakan.

“Apa kau akan terus diam seperti ini?” Sehun terus berbicara, tetapi tak ada jawaban dari Irene. Tanpa Irene sadari, air matanya sudah berada di ujung pelupuk matanya, dan … Irene menitikkan air mata.

Menyadari hal itu, dengan cepat Irene menghapus air matanya. Setela dihapus, air matanya lagi-lagi keluar, hingga akhirnya Irene menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba, tangan seseorang menimpa kepalanya dengan lembut, lalu mengelusnya lembut. Irene mengangkat kepalanya, lalu menatap Sehun.

“Apa pedulimu? Kenapa kau selalu mengurusi urusanku? Kau bukan siapa-siapa diriku, kau hanya seorang seniorku” Irene berbicara sambil menangis. Sehun yang mendengar itu langsung menghela nafas panjang.

“Aku memang bukan siapa-siapa dirimu, aku hanya ingin membantumu untuk menghilangkan traumamu itu, apa aku salah? Apa aku tidak boleh membantumu? Apa aku tidak boleh mendekatimu?” Irene menatap Sehun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Sehun yang terakhir. Mendekati? Apa maksudnya?.

“Ahh sudahlah aku ingin pulang” Irene menghapus air matanya dan segera berdiri dari duduknya, meninggalkan Sehun. Lagi-lagi ia meninggalkanku, pikir Sehun.

Belum sampai 1 meter Irene berjalan, Sehun menarik tangan Irene hingga Irene terhenti. Lalu Irene membalikkan badannya dan tiba-tiba grep! Sehun memeluk Irene. Irene mencoba melepaskan pelukan Sehun.

“Dengar, jika kau membenci laki-laki, jika kau menganggap laki-laki tidak ada gunanya, boleh saja. Dan asal kau tau, tidak semua laki-laki seperti apa yang kau pikirkan. Hanya laki-laki yang tidak berpendidikan yang tidak ada gunanya.” Sehun berbicara tepat di telinga Irene, mendengar hal itu, air mata Irene mulai berjatuhan mengenai pakaian yang di pakai Sehun. Irene membenamkan wajahnya di pundak Sehun.

“Lalu aku harus bagaimana?” Suara Irene yang lemah membuat Sehun sedikit mengeratkan pelukannya.

“Kau harus menghilangkan traumamu, dan mulai membuka lembaran baru, melupakan masa lalu” Sehun mengelus rambut lembut Irene. tangisan Irene semakin keras, Irene tidak dapat menahan air matanya.

♡♡♡

Irene membaringkan badannya di ranjang miliknya, waktu menunjukkan pukul 21.00. Irene baru menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia mengambil ponselnya yang berada di sebelahnya. Ia membuka pesan, ada satu pesan masuk, dari Sehun Sunbae.

“Apa kau sudah merasa lebih baik? Aku harap kau sudah berhenti menangis”

“Aku sudah merasa lebih baik, terimakasih:) Aku sudah berhenti menangis sejak tadi” Irene membalas pesan dari Sehun.

“Geurae, baguslah. Kau berhasil membuat bajuku basah, haha”

“Oh ya? Ahh.. Mianhae” Irene tersenyum ketikan membalas pesan dari Sehun.

Sudah hampir satu jam mereka berkirim pesan, tanpa Irene sadari ia mulai terlelap menuju dunia mimpi.

♡♡♡

Cahaya matahari pagi menerobos masuk kesela-sela jendela kamar Irene, ponsel Irene bordering sejak ntah berapa menit yang lalu. Irene membuka matanya lalu segera meraih ponsel yang ada di mja kecil sebelah ranjang tidurnya.

Ternyata itu telepon dari Wendy. Dengan cepat Irene bengun dan mengangkat telepon Wendy.

“Yoboseyo?” Irene membuka percakapan.

“Ya! Kau kemana saja huh?! Baru mengangkat teleponku, aku sudah berada di depan rumahmu bersama Seulgi” dengan cepat Irene menutup panggilan dan segera menuju lantai bawah dan segera membukakan pintu.

Ya! Kenapa kau memberitahuku mendadak? Kau bisa meneleponku lebih awal agar aku bisa bersiap-siap dulu” Irene mengomel setelah membuka kan pintu untuk kedua sahabatnya itu.

“Aku sudah meneleponmu sejam yang lalu paboya!” Wendy dan Seulgi masuk kedalam rumah Irene dan langsung menuju kamar Irene.

Rapih, bersih dan nyaman, itulah yang sedang ada di benak kedua sahabat Irene. Wendy dan Seulgi mengelilingi kamar Irene, sedangkan Irene pergi ke dapur untuk membawakan sahabatnya minuman dan makanan.

Ketika sedang mengelilingi kamar Irene, Seulgi melihat ada sebuah pesan masuk di ponsel Irene, dengan hari-hati Seulgi menagmbil ponsel Irene yang tergeletak di atas ranjang Irene.

Sehun sunbae?!, batin Seulgi. Seulgi ingin sekali melihat pesan yang dikirim Sehun untuk Irene, Seulgi melihat keadaan sekitar, setelah merasa aman, Seulgi mulai membuka layar, dan … Sial! Kenapa ia memakai kode password?! Menjengkelkan!, batin Seulgi saat mengetahui bahwa untuk membuka pesan itu harus ada ‘tahap memasukkan kode password’. Seulgi mencoba mengacak nomber, belum sampai 3 kode yang Seulgi coba untuk membuka pesan Sehun, Irene sudah kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah nampan berisi tiga gelas minuman dan beberapa makanan ringan.

Seulgi memasukkan ponsel Irene ke tas kecil miliknya tanpa sepengetahuan Irene dan Wendy. Seulgi menghampiri Irene dan Wendy yang sedang menyimpan minuman dan makanan di atas meja kecil.

“Eumm… Irene-ah, aku ingin ke kamar kecil sebentar, apa boleh kau tunjukkan kamar kecilnya dimana?” pinta Seulgi.

“Ohh… itu disana” Irene menunjukkan kamar kecil yang terletak di sebelah lemari bajunya yang tak jauh dari tempat Irene berdiri. Seulgi mengangguk dan segera menuju kamar kecil yang di tunjukkan Irene.

Setelah masuk ke dalam kamar kecil, dengan cepat Seulgi mengeluarkan ponsel Irene dari tas kecilnya dan langsung mencoba mengacak kode nya kembali. Sudah hampir 2 menit Seulgi berada di kamar kecil.

“Aishh! Berapa kodenya?” gumam Seulgi pelan. Lalu Seulgi mencoba kode 1111, dan TERBUKA!.

Seulgi tersenyum puas, lalu dengan cepat membaca pesan yang dikirim Sehun untuk Irene.

“Irene-ah, apa kau sudah bangun?” itu isi pesan dari Sehun untuk Irene.

Seulgi mendesah kesal, lalu meggeser layar ponsel keatas, membaca pesan Sehun dan Irene yang sebelumnya. Seulgi mengepalkan tangan sebelah kirinya, geram. Lalu Seulgi mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya dan langsung menyalin nomer telepon Sehun. Setelah selesai, ia memasukkan ponsel miliknya dan milik Irene k etas kecilnya. Lalu keluar dari kamar kecil.

“Sedang apa kau di dalam? Kenapa lama sekali?” Tanya Wendy saat Seulgi keluar kamar kecil.

“Perutku sedang tidak sehat” Seulgi menyengir lalu meninggalkan Wendy menuju meja kecil yang diatasnya sudah tertata rapih minuman dan makanan yang tadi di bawa Irene.

Seulgi mengambil gelas minuman yang masih terisi penuh lalu meminumnya. Mata Seulgi bergerak kesana kemari, memastikan situasi aman, ia akan sembunyi-sembunyi menyimpan ponsel Irene di bawah meja kecil. Setelah situasi aman, dengan cepat Seulgi menyimpan ponsel Irene. Lalu Seulgi melanjutkan meminum minumannya.

Waktu menunjukkan pukul 10.30. Irene, Wendy dan Seulgi bersiap-siap untuk pergi ke Universitas bersama-sama. Sudah hampir satu setengah jam Wendy dan Seulgi berada di rumah Irene.

Mereka berangkat ke Universitas memakai mobil yang dibawa Wendy, dan yang menyetirnya tidak lain adalah Wendy.

“Seulgi-ya, apa kau masih menyukai Sehun Sunbae?” Wendy bertanya kepada Seulgi secara tiba-tiba dan refleks membuat Seulgi terkejut.

“Pertanyaan macam apa itu? Haha jelas, aku masih menyukainya” jawab Seulgi sambil terkekeh pelan.

Heol, sudah kuduga, apa kau ingin menjadi pacarnya?” Wendy tertawa pelan.

“Hmm, aku tidak tau, apa Sehun sunbae sudah memiliki kekasih?” Seulgi menyengritkan alisnya.

“Ahh sudahlah, hentikan pembicaraan omong kosong ini” Wendy mengibaskan tangan kanannya sambil tertawa.

Beberapa menit kemudian, mobil Wendy sudah berada di area Universitas, Wendy memarkirkan mobilnya di parkiran, setelah itu, mereka turun dari mobil dan langsung menuju gedung jurusan management.

Irene, Wendy dan Seulgi duduk di kursi tengah, mereka sibuk dengan laptop maisng-masing, jari-jari mereka sibuk memijit keyboard sana sini, sesekali melihat kertas di sebelah laptop mereka.

Seling beberapa menit, seseorang masuk ke dalam kelas mereka, Prof.Kim. Semua mahasiswa bersiap-siap.

“Baik, semuanya, perhatikan. Kali ini saya akan menyuruh kalian untuk membuat tugas perkelompok dan saya sudah membuat kelompok untuk kalian, langsunng saja, saya akan membacakan anggota kelompok. Kelompok 1 adalah Son Wendy, Krystal Jung, Iim Yoona, Kim Jongdae, Kim Jongin, Do Kyungsoo. Kelompok 2 adalah Oh Sehun, Kim Joon Myeon,Park Chanyeol, Bae Irene dan Kang Seulgi, Kim Yerim. Lalu kelompok 3 ……..” Prof.Kim mengumumkan dengan rinci, apa yang harus di kerjakan, teknik menghapal naskah dengan baik dan lainnya.

Kelaspun usai, Irene menempatkan kepalanya diatas laptop yang masih menyala, menghla nafas lelah. Seseorang menepuk pundaknya, Sehun Sunbae.

“A.. ada apa sunbae?” Irene mengangkat kepalanya lalu melihat Sehun yang sudah berada di depannya.

“Apa hari ini kau ada acara?” Sehun tersenyum.

“Hmmm.. sepertinya tidak ada, memangnya ada apa?” Irene menutup laptopnya tanpa mematikannya terlebih dahulu lalu memasukkannya kedalam tasnya.

“Soal tugas perkelompok tadi, bagaimana kalau kita mengerjakannya sore ini? Apa kau keberatan? Aku sudah memberi tahu anggota lain.

“Baiklah kalau begitu? Kapan dan dimana?” Irene mentapa kedua mata Sehun, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Nanti akan aku beritahu d isms, oke?” Sehun bediri meninggalkan Irene. Kini di kelas hanya tersisa, Irene, Wendy, Seulgi dan beberapa mahasiswa lain.

Kajja~ kajja~” Wendy berseru senang sambil menarik paksa kedua sahabtnya itu menuju luar kelas. Ketika Irene, Wendy dan Seulgi keluar kelas, mereka melihat sekumpulan mahasiswa sedang mengerumuni ntah apa itu, yang pasti ketiga gadis itu penasaran.

Lalu mereka maju kedepan kerumunan dan melihat apa yang sedang terjadi.

”Sehun Sunbae?”.

TBC

Chapter 3 finish!~ ah udah 2 minggu ya Author dan para readers tidak bertemu~*Eaakk. Baru sempet 2 hari yang lalu Author ngeberesin FF ini, ide ideAuthor tiba-tiba mentok. Dan langsung nyari ide di jamban *ehh becanda deng*. Ahh semoga kalian suka sama FF absurd ini:’ … and don’t be siders!~

 

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (CHAPTER 3)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s