[EXOFFI FREELANCE] When Chanyeol Read 10080 (Chapter 1)

aFDxbNy

Title                : When Chanyeol Read 10080 [Indonesia Translation]

Author            : Horramata, Translated by B-Hikari Ayume

Lenght            : Chapter

Genre             : Brothership, fluff, bromance

Rating             : PG

Main Cast      : Chanyeol, Baekhyun, EXO member

Disclamer       : Hi- Ini adalah salah satu fanfic dari asianfanfic dan saya mendapat izin dari penulisnya untuk menerjemahkannya dengan sedikit penyesuaian. Jika kalian ingin melihat versi originalnya silakan lihat di sini. Dan saya juga sudah memposting di akun asianfanfic saya.

Author note   : Ini sebenarnya ada hubungannya dengan ff terkenal chanbaek 10080 by EXObubz, jika kalian belum membacanya saya sarankan untuk membukanya di sini untuk versi originalnya yang tentu saja dalam bahasa inggris. Tapi jangan khawatir, 10080 juga sudah ada yang menerjemahkannya, silakan lihat di sini jika ingin melihat versi terjemahan indonesianya. Okay, hope you enjoy it.

 “Tidak bisa menahannya lagi, Chanyeol melemparkan buku tersebut ke kasurnya kemudian dia mengambil jaketnya dan meninggalkan apartemen. Dan tanpa sepengetahuannya, ketika buku tersebut mendarat, buku tersebut terbuka ke halaman terakhir dimana Baekhyun telah menulis pesan terakhirnya.” (From 10080 by EXObubz)

Chanyeol menatap layar, sebuah kode binari aneh memusingkan matanya.

Terdengar ketukan di pintu, dan dia hampir tidak mengetahui Sehun memanggilnya. “Chanyeol?”

Dia segera menghapus air matanya dengan lengan bajunya, berharap air matanya berhenti mengalir di pipinya. Hal itu tidak membantu. Sehun melangkah masuk, terkejut melihat rapper yang selalu ceria dengan mata bengkak dan pipi merah terang.

“Hyung, ada apa?”

Ketika maknae mendekati meja, Chanyeol dengan kuat memhempaskan laptopnya tertutup. “Bukan apa-apa. Aku.. hanya membaca laporan berita mengerikan tentang penganiayaan hewan.”

Sehun segera menutup telinga dengan kedua tangannya dan mulai berjalan mundur keluar dari kamar. “Oh, jangan ceritakan padaku, jangan ceritakan padaku, aku tidak mau mendengarnya.”

“Aku tidak akan.”

Ketika dia mencapai pintu, Sehun berbalik. “Makan malam sudah siap. Mau bergabung dengan kami?”

“Iya, tunggu sebentar.”

“Baiklah.”

Pintu kembali tertutup. Chanyeol mendengar gesekan kursi yang ditarik dan ocehan bersemangat member band di dapur. Perutnya berputar memikirkan Baekhyun hanya berjarak beberapa langkah darinya.

Chanyeol bukan jenis laki-laki yang menangis dengan mudah. Dia menganggap dirinya sebagai orang yang stabil, dibandingkan beberapa teman membernya. Itu membuatnya bingung kalau cerita tersebut memberikan semacam dampak besar kepadanya.

Itu adalah cerita dari dunia yang berbeda, dengan orang yang berbeda. Tentang seorang laki-laki yang mirip dengannya, dengan nama yang sama, dan hanya itu. Tidak ada alasan untuknya merasa bersalah atas pilihan Chanyeol-10080. Tidak ada alasan untuknya merasa terdorong untuk melangkah ke Baekhyun di ruang lain dan mengatakan padanya bahwa dia tidak akan meninggalkan Baekhyun. Bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati pertemanan mereka, atau meninggalkan dia ketika hal buruk terjadi padanya.

Tidak ada alasan yang tepat untuk Chanyeol memikirkan hubungannya dengan Baekhyun, khawatir jika perasaannya pada sang vokalis tiba-tiba berubah, atau jika dia bisa kembali bersikap normal di sekitarnya, seperti kalau ini tidak pernah terjadi, seperti jika dia tidak pernah mendengar tentang 10080.

Tapi dia melakukannya.

***

“Kau terlihat mengerikan.”

Jongin adalah orang yang selalu jujur. Chanyeol terbatuk saat dia duduk di samping dancer tan tersebut, bergumam bahwa dia baru saja bangun dari tidur siang. Dia melihat Sehun menatapnya dari ujung lain meja, dan Chanyeol bersyukur dia tidak bereaksi terhadap kebohongan kecilnya. Dia yakin telah menggunakan tetes mata sebelum bergabung dengan member lainnya. Matanya bengkak tapi tidak semerah beberapa menit yang lalu.

Makan malam menyiksa.

Dia tidak berbicara, berpura-pura seperti tidak biasanya lebih tertarik pada makanan di piringnya. Jongdae dan Baekhyun, dua mood makers lainnya di grup, terlihat tidak menyadari pasangan cekcok mereka tidak bercanda malam itu. Ketika Tao mengosongkan botol air, Chanyeol dengan suka rela segera mengisi ulang. Berbagai alasan untuk menjauh dari teman bandnya yang riang dan terutama Baekhyun, ia sambut dengan senang.

Ketika dia menekan kran, dia menutup matanya, dan membiarkan air dingin mengalir di pergelangan tangannya.

Tarik napas – buang napas.

Akan ada pertanyaan canggung jika seseorang menyadari perilaku anehnya; dia harus menyadarkan dirinya. Dia berdiri dengan punggung menghadap ke grup ketika suara Baekhyun mengejutkannya dari lamunannya.

“Chanyeol! Ambil saus Tabasco saat kau di situ, aku tidak bisa mengambilnya. Itu ada di lemari di atasmu.” Dia berharap temannya tidak akan menyadari tangan bergetarnya saat dia memegang botol di bawah air yang mengalir, mengisinya sampai penuh. Dia mengambil saus pedas  dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbalik, menghadap laki-laki yang membuatnya bingung.

Dia meletakkan botol air di tengah meja dan menggeser botol kecil Tabasco ke arah Baekhyun. “Terima kasih, giant.” Chanyeol membeku, dan merasakan warna merembes dari wajahnya. Baekhyun tidak menyadari reaksi aneh dari temannya, tapi Chanyeol tahu dia harus pergi dari sini. Dia harus menyendiri.

Saat dia langsung menuju ke kamarnya, Jongin memanggilnya. “Hei, kau tidak menghabiskan makan malammu!”

“Aku sudah selesai!”

Minseok dengan cepat menarik piring Chanyeol ke arahnya, mengambil bagian dari daging yang tidak di sentuh oleh sang rapper. Kyungsoo memberikan tatapan muram ke pintu tertutup kamar Chanyeol yang telah melarikan diri. “Dia bahkan tidak repot-repot membersihkan dirinya.”

***

Chanyeol menekan tumit tangan ke matanya, diam-diam berharap dia bisa mendorong bayangan gila dengan kekuatan fisik. Itu tidak membantu.

Dia tidak bisa berhenti memikirkan Baekhyun, dan hal mengerikan yang telah dilakukan rekan khayalannya. Pikiran mengecewakan sang vokalis seperti itu membuat hatinya terasa sesak di dadanya.

Mereka menjadi sangat sibuk sejak debut mereka, selalu fokus pada apa yang harus dilakukan di sini, di sana. Chanyeol terkejut dia tidak pernah memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Setelah para penggemar pergi. Setelah album mereka telah diturunkan dari rak penjualan di toko. Setelah manajemen menurunkan grup, setelah media melupakan mereka.

Benar, mereka erat sekarang. Mereka punya ikatan, dan itu nyata. Tapi Chanyeol sadar itu adalah ikatan yang terbentuk di bawah pengaruh.

Apa yang akan terjadi jika pengaruh itu tidak ada?

Mereka ada 12; dia tahu itu bodoh untuk berpikir bahwa mereka bagaimanapun akan tetap bersama sampai mereka semua tua dan beruban.

Beberapa dari mereka mungkin meninggalkan grup sebelum mereka mencapai puncak. Seseorang bisa sakit, bisa saja ada kecelakaan mobil yang mengerikan.

Mereka telah membicarakan tentang hal tersebut sebelum mereka debut, tapi terkadang Chanyeol selalu tidak mengerti dampak dari kemungkinan tersebut. Sekarang, kesadaran datang menghempas ke bawah dengan keras, dan tidak bisa lolos dari itu.

Pikiran kehilangan Baekhyun, tentunya, tidak tertahankan.

Dengan itu, air mata datang lagi, dan kali ini ia tidak mencoba menghentikannya.

***

Chanyeol mendengar pintu kamar berderik terbuka, dan langkah kaki pelan mendekat ke ranjang.

“Hei, apa kau bangun?”

Dia tetap menutup matanya dengan rapat, menjaga napasnya tetap tenang dan paru-parunya rileks.

Chanyeol tidak berani bergerak sampai dia mendengar Baekhyun menutup pintu di belakangnya.

Dia menarik selimut ke atas kepalanya, berharap rasa kantuk segera datang.

***

Tidur tidak membawa kelegaan yang sangat Chanyeol butuhkan.

Dia dihantui oleh bayangan Baekhyun, terlihat kurus dan lemah, disebabkan karena dia mencampakkannya ketika sesuatu berubah menjadi buruk.

Berbeda dengan Baekhyun yang sedang menariknya keluar dari tempat tidur dengan mata kakinya tidak membuat lebih baik.

Chanyeol dapat merasakan diselimuti oleh rasa malu dan bersalah saat dia merasakan tangan hangat Baekhyun di kulitnya, tapi anehnya hal itu nyaman melihat temannya senang dan sehat.

“Aku bangun, aku bangun!”

Ketika Baekhyun melepaskannya, dia dengan cepat menutup dirinya lagi dengan selimut, menyandarkan dirinya di headboard kasurnya, dan menyadari bahwa hanya mereka berdua di kamar: Tao dan Xiumin tidak terlihat di manapun.

Penyiksa pagi yang biasa anehnya sedang tidak ada.

“Jam berapa sekarang? Dimana semua orang?”

“Waktunya membuat kaki panjang itu bergerak. Teman sekamar berharga kita pergi ke gym satu jam yang lalu. Hanya kau, Kris, dan aku. Kita punya setengah jam untuk bersiap – manajer kita akan datang menjemput kita. Aku tahu itu hanya radio, tapi cobalah terlihat rapi.”

Baekhyun berjalan kembali ke arah lemari dindingnya dan mengambil sepasang boxer dari laci.

“Aku akan mandi. Kau bisa ikut denganku jika kau mau, aku yakin tidak banyak air hangat yang tersisa. Kris di dalam sana selama 20 menit. Aku harap dia menyelesaikan lamunannya dengan apapun yang ia lakukan di dalam sana.”

Sang vokalis menutup mulutnya, dan meninggalkan kamar.

Chanyeol mengerang. Tepat apa yang ia inginkan, undangan mandi.

***

Aku normal. Aku normal. Aku tidak tertarik pada Baekhyun. Aku normal.

Chanyeol terus mengulang itu di kepalanya, lagi dan lagi, seperti mantra.

“Kenapa, kalau begitu, kau sangat ingin bersamanya” kata suara kecil di kepalanya.

Aku tidak ingin bersamanya, aku ingin ada disana untuknya.

“Apa bedanya?” tanya suara itu.

Ya. Sebuah perbedaan besar. Tapi sekarang, semua yang ia butuhkan adalah menjauh. Bahkan berada dalam satu  ruangan yang sama dengan Baekhyun terlihat sangat membebani.

Chanyeol menyayangi Baekhyun, sebagai seorang teman. Tapi itu beda sekarang. Dan itu aneh untuknya dia tidak bisa menamainya, karena jika mereka bukan lagi ‘teman’, mereka apa?

***

Chanyeol membutuhkan 10 menit sebelum mengumpulkan keberanian untuk mengikuti Baekhyun ke kamar mandi. Shower sudah dimatikan, dan Chanyeol berharap ‘teman’-nya sudah berpakaian.

Dia tahu seharusnya dia menunggu 2 menit lagi ketika dia masuk ke kamar mandi dan melihat jelas bagian belakang Baekhyun saat laki-laki yang lebih itu menunduk, melangkah masuk ke boxernya. Chanyeol mengalihkan pandangannya, tetap menempelkan punggungnya di dinding untuk menghindari menyentuh laki-laki satunya.

“Oh, kau di sana.” Baekhyun berbalik, mengambil handuk basah dan menggantungnya di rak. “Kita kehabisan air hangat, aku khawatir.”

Dia mencolek dada Chanyeol dengan jari tengahnya.

“Itu akan mengajarimu, pemalas-“

Chanyeol memukul tangan Baekhyun menjauh. “Jauhkan tanganmu dariku!”

Baekhyun terkejut menjadi diam untuk sesaat, tapi dengan segera rasa marah menjalar naik ke lehernya, kesal dengan reaksi agresif Chanyeol.

“Ada apa, Chanyeol, aku memperingatkanmu disana tidak ada—“

“DIAM!” Chanyeol tidak bisa mengontrol gelombang kemarahan naik ke dadanya, dan dia mendorong Baekhyun menjauh darinya dengan dorongan kuat lebih dari apa yang dia inginkan. Baekhyun kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang, kepalanya terbentur ubin dingin kamar mandi sebelum jatuh.

Chanyeol merasa angin mengenainya, tidak bisa bergerak saat dia melihat ke bawah ke laki-laki di lantai. Dia didorong oleh Kris, yang menerobos masuk ke kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi.

“Dia mendorongku, secara tiba-tiba!” Baekhyun menunjuk dengan jari menuduh ke Chanyeol, yang memegang tangannya dengan tertahan, bergerak sempoyongan ke belakang saat Kris berlutut dan memeriksa cedera. Baekhyun berteriak saat Kris memegang bagian belakang kepalanya.

“Kau tidak berdarah, tapi kita harus mengompresnya dengan es batu, secepatnya.” Pria tinggi tersebut membantu Baekhyun berdiri, membantunya saat mereka berjalan keluar dari kamar mandi bersama-sama. Chanyeol tetap berdiri di sudut, tangan tertahan, mencoba meminta maaf, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Perutnya melilit dan Chanyeol jatuh berlutut, menunduk di toilet dan mengambil napas panjang saat dia merasa air empedu naik ke kerongkongannya.

Saat dia muntah, Kris melangkah kembali ke kamar mandi. “Aku tidak tahu apa itu, tapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Bersihkan dirimu ketika kamu selesai, kau punya 15 menit. Kita akan membicarakannya malam ini.”

Kris membanting pintu, dan Chanyeol merasakan panik menusuk seluruh beban besar rasa bersalah yang sekarang ini memakannya dari dalam. Dia masih bisa melihat tatapan kaget dan takut di wajah Baekhyun saat dia mendorongnya.

Dia membiarkan dirinya melukai Baekhyun. Dia telah merusak sesuatu di antara mereka.

Chanyeol melangkah ke shower, menangis saat dia ingin tahu apa sebutan yang akan Baekhyun berikan padanya sekarang.

TBC

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] When Chanyeol Read 10080 (Chapter 1)”

  1. Yaampunnnnn gue speechless. Gatau mau komen apa aaaa Chanyeolnyaaa asdfghjkl gue gajelas bgt sumpah. Maapkan authornim

  2. Ini gk unsur yg onoh kan? Iya kan?
    Itu chanyeol emg knp seh? Emg dia ngapain ampe stress kek orgil :v
    Tunggu lanjutannya yoww

  3. Aku normal, aku normal, aku normal.
    Njirr baca mantra xD fiks di sini Chanyeol si happiness delight berubah jadi Chanyeol si cowok mellow sejati xD hatinya jadi sensitif banget. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis, tiba-tiba marah-marah nggak jelas.. Dan semua itu terjadi hanya karena dia baca 10080!! Ya Tuhan >_<
    oke, ditunggu next part yah.. Fighting 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s