[EXOFFI FREELANCE] Who Are You (Chapter 4)

Who Are You

Tittle : Who Are You?

Author : BabyJae96

Genre : Romance, Time-Machine, Fantasy

Lenght : Chapter

PG-15

Cast :

Xiumin a.k.a Kim Minseok

Jin (Lovelyz) a.k.a Park MyungEun

Dll

 

Disclaimer :

FF ini terinspirasi dari film ‘Secret’ sama MV Jin ‘Gone’ tapi alur ceritanya malah beda jauh sama filmnya dan ini murni hasil khayalanku!

Mampir juga ke wp pribadiku ya, aku juga post FF ini disana babyjae96.wordpress.com

 

-Seoul.2013-

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Minseok, Myung Eun pergi kembali ke gudang sekolah disana ia menangis. Ya, satu kenyataan pahit baru saja Myung Eun dengar dari Guru Park bahwa dirinya tak ada dimasa depan ini. Guru Park menjelaskan semuanya bahwa Park Myung Eun sudah meninggal akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu, itulah sebabnya Myung Eun mengucapkan selamat tinggal pada Minseok karna ia berencana untuk tak kembali ke sini dan berdiam di tahunnya karna ia rasa ini sudah terlalu jauh baginya walaupun ia masih penasaran mengapa Minseok tak mengenalnya sekarang.

 

Di tempat lain, Tn.Kim keluar dari mobilnya dan langsung berjalan menuju ke sebuah gedung berukuran luas, gedung itu adalah ‘Seoul memorial’ dimana disana tersimpan ribuan abu jenazah yang disimpan disana. Tn.Kim berhenti didepan salah sau rak kaca yang berada di lantai dua, dimana beliau tengah menatap dua tempat penyimpanan abu secara bergiliran yang pertama adalah abu mendiang istrinya yaitu Yoon ji Sook dan yang satunya adalah Park Myung Eun.

“Myung Eun-aah, mianhae karna tak menceritakan tentang mu pada Minseok” Ucap Tn.Kim penuh dengan penyesalan “Ahjussi janji, Ahjussi akan menceritakan tentang mu pada Minseok nanti” Tn.Kim kemudian menundukan kepalanya dan menutupnya dengan kedua tangannya, Myung Eun sudah seperti putri sulungnya jika bukan karna kecelakaan itu Myung Eun pasti akan berada di dekatnya dan juga Minseok. Ia memiliki alasan tersendiri mengapa ia tak pernah menceritakan Myungeun pada Minseok selama ini.

 

Minseok tak bisa tenang sejak tadi sore saat Myung Eun mengucapkan selamat tinggal padanya, seharusnya ia tadi melarang Myung Eun pergi atau setidaknya meminta nomor Myung Eun. Minseok akui ia memang pengecut karna tak bisa bersikap seperti pria di depan Myung Eun karna ia sendiri masih bingung dengan perasaannya, .Jika saja Minseok bisa memutar waktu tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.

Lebih dari dua minggu ini sejak Myung Eun pergi, kehidupan Minseok tak ada yang berubah hanya saja hampir setiap pulang sekolah ia terus berdiam didepan gudang bawah tanah itu dengan harap Myung Eun akan kembali bermain disana, ia tau itu tidak mungkin karna Myung Eun sudah pindah jauh tapi ia tetap kembali dan kembali kesana tanpa alasan yang jelas.

Seusai pulang sekolah, Minseok kembali ke rumah yang masih dalam keadaan sama sepi. Terkadang ia kesepian tapi karna mungkin sudah menjadi kebiasaan ia sudah terbiasa depan kesiapan. Ayahnya bertugas lagi dari beberapa hari yang lalu dan belum pulang sampai sekarang, Menyebalkan. Itu adalah kata yang sering Minseok katakan dari kecil, kebanyakan orang beranggapan polisi itu keren tapi bagi Minseok menyebalkan karna pekerjaan Ayahnya itu dia tak bisa mendapat perhatian penuh namun seiringnya berjalan waktu Minseok sudah tak memperdulikannya, ia hanya akan hidup dan makan dengan baik.

Minseok berjalan turun menuju ruang tengah sembari membawa beberapa kertas berisi not-not balok ditangannya, ia baru saja membuat beberapa nada yang mungkin akan bagus jika ia mainkan tapi… baru beberapa kali ia menekan piano dia berhenti, ini benar-benar membuatnya gila karna gadis bernama Myung Eun itu terus berada di pikirannya setiap kali ia melakukan apapun. Sebenarnya ia sudah tidak lagi memikirkan siapa wanita yang berada di foto itu bersamanya dan ayahnya waktu itu, karna itu masa lalu jadi ia tak perlu membahasnya dan mungkin saja wanita yang juga bernama Myung Eun memang memiliki wajah yang sama dengan Myung Eun, gadis yang dikenalnya. Ah.. Entahlah.

 

-Seoul. 2003-

Myung Eun berdiam diri didepan pintu gudang bawah tanah sekolah, ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia memeluk lututnya erat dan menangis disana bersamaan dengan suara hujan yang jatuh malam itu, terlihat jelas di lututnya terdapat beberapa luka begitupun pergelangan tangannya dan saat ia menegakan badannya, wajahnya penuh dengan memar. Lagi, lagi.. itu perbuatan Ayahnya. Sang Ayah mabuk berat malam ini dan saat sampai dirumah Ayahnya mulai bercerita bahwa penyebab Ibunya meninggal dan mereka kehilangan semua hartanya karna dia. Myung Eun sendiri tak tau mengapa Ayahnya begitu tega mengatakan itu padanya, ia tau sang Ibu meninggal karna dirinya, saat itu dia sedang mengikuti lomba bermain piano tapi sang Ibu mengalami kecelakaan saat diperjalanan akibat mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan.. Seharusnya saat itu Myung Eun tak memaksa Ibunya untuk datang disaat ia tau kondisi Sang Ibu sedang tak baik.

Menyedihkan, itu yang Myung Eun rasakan sekarang.. ia ingin kembali kerumah itu, rumah keluarga Kim dimana ia disambut hangat dikeluarga itu tapi ia tak bisa. Rasanya, ia ingin segera mengakhiri hidupnya yang menyedihkan ini tak ada lagi alasannya untuk bertahan, ia tak memiliki keluarga yang mendukunganya malah satu-satunya keluarga yang ia punya yaitu Sang Ayah malah menginginkannya pergi, dia juga tak memiliki teman yang akan selalu berada di sampingnya.

“Omma, apa yang harus kulakukan?”

 

-Seoul. 2013-

Di bawah guyuran hujan kecil malam itu, Minseok berjalan kecil di sekitar rumahnya sembari memegang payung berwarna biru miliknya yang saat itu ia ambil kembali di bawah pohon dekat toko tua tersebut setelah Myung Eun pulang. Dia pergi semalam ini untuk memberi beberapa ramen, roti dan makanan kaleng lainnya karna persediaan dirumahnya sudah habis dan malam ini ia tak bisa menahan rasa laparnya. Maklum saja, dia dirumah hanya sendiri jadi ia biasa makan cepat saji yang tak perlu repot-repot dimasak jika Ayahnya pulang biasanya Ayahnya slalu memasak untuknya.

Minseok semakin mempercepat langkahnya menuju minimarket yang tinggal melewati satu blok lagi, udara dingin malam ini benar-benar menusuk kulitnya ditambah turunnya hujan yang semakin membuat dingin. Bukannya sampai tujuan, Minseok malah terpaksa harus berteduh di deretan toko-toko tua disana karna payung sebagai pelindungnya itu terbalik akibat angin “Ashh, mengapa sekarang?”

Minseok berteduh didepan toko yang sudah tutup itu, hinggga ia sadar toko itu adalah tempatnya ia dan Myung Eun berkencan. Berkencan? Minseok segera menyadarkan dirinya, kencan. Mengapa dia mengatakan itu.. Lagi, nama Myung Eun berada di dalam pikirannya, bagaimana ia menghadapi ini jika nama gadis itu slalu berada dikepalanya terus-menerus. Dia kira nama Myung Eun itu akan hilang seiringnya waktu tapi ternyata nama itu semakin sering berada di benaknya. “Ah..” Minseok menyandarkan punggunya pada tembok toko itu melihat air hujan yang turun semakin deras, ia rasa ia tak bisa pulang untuk saat ini karna payungnya sekarang malah patah karna tadi ia terlalu keras memperbaikinya agar tak terbalik.

Brukkk.

Minseok membuka lebar kedua matanya begitupun kedua telinganya saat menangkap sebuah suara. Dia semakin membuka pendengarannya, ia rasa ia mendengar suara sesuatu, ini terdengar seperti suara…. Apa itu? Apa hantu? Minseok berbalik dan mengintip dari luar jendela kedalam toko itu dan tak terlihat gerakan apapapun. Apa ini hanya halusinasi?

Brukk.. Dugg..

Minseok segera berjalan menuju sumber suara yang berasal dari samping toko “Meoww…” ia menghentikan langkahnya ketika seekor anak kucing berhenti didepan kakinya, anak kucing berwarna putih itu yang nampak kedinginan. “Kau kedinginan?” Minseok menggendeong anak kucing itu kepangkuannya dan akan berbalik lagi menuju bagian depan toko tersebut tapi.. ujung matanya menangkap sesuatu, ia berbalik kembali menuju bagian samping toko dan benar, ia melihat seseorang disana.

Gadis itu terbaring lemah dibawah dengan badan yang ia senderkan ditembok dan kepalanya bertumpu pada tumpukan kardus disana. Gadis itu Myung Eun, yang menatap sayu Minseok dari bawah, tatapan lemah Myung Eun itu langsung membuat Minseok segera mendekatinya ia berlutut disamping MyungEun lalu meletakan anak kucing itu disampingnya.

“.. Apa.. yang terjadi?” Suara Minseok bergetar melihat Myung Eun didepannya yang nampak lemah, ia segera membuka jaketnya dan menutupi ke atas rok Myung Eun. “Minseok..” Ucap Myung Eun lemah menatap Minseok dengan mata berkaca-kaca, ia tak menyangka akan bertemu dengan Minseok lagi, padahal ia kembali ke masa depan bukan untuk menemui pria itu lagi.

Apa ini yang namanya takdir, mengapa kita bertemu lagi?

Haruskah aku menghindarinya?

 

“Ya.. Ada apa?”

“Mengapa kau seperti ini?”

“Apa yang terjadi, huh?”

Tanya Minseok berkali-kali, ia sadar bahwa wajah Myung Eun dan kakinya penuh luka. Melihat air mata jatuh dari mata gadis itu membuatnya berhenti bertanya “Arraeo, Gwenchana” Minseok memegang bahu Myung Eun lalu memeluknya, ia tau gadis itu kedinginan dan ia juga mengakui bahwa ia benar-benar merindukan gadis ini. Myung Eun hanya diam dan mencoba menahan air matanya agar tak terus-terusan keluar, hanya saja entah mengapa Myung Eun merasa nyaman berada di pelukan Minseok, adik kecil yang dulu ia rawat. Entahlah, ini berbeda.

Mungkinkah aku menyukainya….

 

 

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Who Are You (Chapter 4)”

  1. Akhir nya thor update juga haha
    Udah nunggu lama nih buat baca kelanjutan ff nya..
    Semangatt terus thor ^^ di tunggu next nya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s