[EXOFFI FREELANCE] Marriage Without Love (Chapter 10)

fanfiction-marriage-without-love

Title : Marriage Without Love

Author : Jung Ki Ki

Genre : Romance, Comedy, Marriage – Life

Leght : Chapter

Rating : 15+

Cast :

  • Park Chan Yeol
  • Jung Eun Ji
  • Kim Myung Soo
  • Ahn Ha Ni

Disclaimer :

  FF ini benar benar buatan saya, namun beberapa alur saya dapat dari beberapa Drama. Jika ada kesamaan yang lain pun, saya minta maaf namun saya tekankan bahwa FF ini murni buatan saya. Terima kasih.

Author’s Note :

  WARNING!! Typo bertebaran dimana mana.

Inspiration :

  • Marriage Not Dating
  • Full House
  • The Girl Who Sees Smile

Summary :

  Pernikahan tanpa cinta, dialami oleh Pasangan muda ini. Mereka menikah tanpa adanya perasaan cinta dan membuat mereka mengalami Kisah Pernikahan yang unik.

 

Chapter 10

 

  Tak terasa 5 Bulan lebih pernikahan mereka telah berjalan dan usia kandungan gadis itu telah berjalan hampir 6 Bulan. Keduanya benar benar bisa menjaga hubungan itu dengan baik sampai sekarang, tak ada seorangpun yang mengetahui kontrak mereka, selain Byun Baek Hyun dan Bang Min Ah.

Namun, sampai kapan semua kebohongan ini tetap akan tertutup mulut oleh mereka. Kalian tahu, kebohongan tidak akan selamanya berjalan mulus. Jadi, bisa saja, suatu hari nanti semua kebohongan itu akan terungkap.

 

*** ***

 

  Jung Eun Ji gadis itu terlihat tengah duduk manis di atas sofa sembari menikmati buah semangka yang baru saja ia dapat dari Park Chan Yeol. Yeah~ ini jam 8 Pagi dan Eun Ji tiba tiba meminta Chan Yeol untuk mencarikan semangka, 3 jam yang lalu.

“Huh~ benar benar sial diminta oleh seorang wanita hamil untuk mencari semangka di pagi buta. Ya ampun~ Tuhan tidak adil membuat-ku menjadi Suami gadis itu.” Ujar Chan Yeol bermaksud menyindiri, yang baru keluar dari kamar tidur-nya.

“Tenang saja,, penderitaan-mu akan segera berakhir dalam hitungan bulan.” Ucap Eun Ji yang terus menikmati semangka yang telah dipotong.

“Hey,, Eun Ji-ah.. ” panggil Chan Yeol. “Setelah kita bercerai, apa yang akan kau lakukan setelah itu?”

Eun Ji terlihat berpikir, dengan masih memakan semangka-nya. “Mungkin aku akan mencoba melawak lagi.”

“Maksud-mu, kau akan datang ke Klub Lawam Seoul itu lagi? Kau yakin?” Timbal Chan Yeol.

“Eum.. tidak, tidak.” Elak Eun Ji sembari mengibaskan tangannya. “Aku akan membuat klub lawak sendiri dan aku akan menamai-nya ‘Tertawalah Dengan Kami’.”

Detik kemudian, Chan Yeol tertawa mendengar apa yang baru saja didengar olehnya. ‘Tertawalah Dengan Kami’? Haha..

“Yak! Apa yang kau tertawakan?” Tanya Eun Ji heran.

“Tidak.. tidak ada.” Ucap Chan Yeol, setelahnya ia berhenti untuk tertawa. “Eun Ji-ah, bagaimana jika malam ini kita makan diluar?”

“Apa? Kenapa tiba tiba mengajak makan diluar?” Tanya Eun Ji heran lagi.

“Yeah~ takkan ada musibah, bukan, jika aku mengajakmu untuk keluar.” Ujar Chan Yeol. “Dan, aku yakin, Park Jun Ho ingin sekali makan selain makanan Ibu atau Nenek-nya.”

Selama ini memang ia selalu makan makanan buatan-nya sendiri, atau kalau tidak buatan Ibu-nya atau Ibu Chan Yeol. Euh.. bagaimana ya?

“Jangan terlalu banyak berpikir. Membuang-buang waktu saja.” Ucap Chan Yeol.

“Kau melakukan kesalahan padaku, ya?”

“Apa? Mana mungkin aku seperti itu.” Elak Chan Yeol. “Tunggu, kau tidak percaya padaku? Ya ampun~ Istri-ku yang sedang hamil muda, bisakah kau tidak selalu berburuk sangka pada pria tampan dihadapanmu ini?”

“Ya ampun~ pria yang mengaku tampan, apakah aku salah berpikir seperti itu? Kau memang tidak pernah mengajakku untuk makan diluar, dan tiba tiba kau melakukannya. Jadi, tidak salah jika aku mencurigai-mu.”

“Baiklah,, katakan saja jika kau tidak mau. Begitu?” Timbal Chan Yeol. “Ya Tuhan~ aku hanya ingun berbuat baik untuk Jun Ho kami juga.”

Eun Ji hanya mendengus kesal mendengar keluh kesah si calon ayah itu. Haruskah ia menerima tawaran Chan Yeol saja?

“Baiklah,, aku mau.”

“Apa? Mau apa?”

“Tentu saja makan bersama-mu. Apa lagi?”

Benarkah? Benarkah gadis itu akan makan bersamanya diluar? Woah~ akhirnya.

“Kau bersungguh-sungguh?”

“Kau mau aku berubah pikiran?”

“Tidak!” Ucap Chan Yeol buru-buru. “Baiklah, aku akan memesan tempat dulu. Euh.. kau bersiap-siaplah sebelum pukul 5, mengerti?”

“Baiklah.. aku tahu.” Ujar Eun Ji yaang terdengar cuek.

Tidak seperti Chan Yeol yang benar benar merasa senang saat ini. Baiklah, ia masih punya banyak waktu. Sekarang, ia harus memesan tempat untuk mereka makan. Ahh,, dimana? Banyak restoran dengan makanan lezat di kota ini. Dimana ya?

 

*** ***

 

Beralih pada Kim Myung Soo yang terlihat sedang bersama Bang Min Ah saat ini, tepatnya di Toko Bunga milik gadis itu. Ditemani dengan 2 cangkir teh hangat, mereka memulai pembicaraan mereka.

“Kau benar benar sudah melupakan Eun Ji? Benarkah?” Pekik seorang Min Ah.

“Aku tidak yakin. Kadang, ia masih mengganggu-ku dengan menelpon. Aku tidak yakin apa selama 5 Bulan aku menjauhi-nya, semua rencana ini akan berhasil.” Ujar Myung Soo.

“Yak! Kau sudah berjanji pada hari itu, bahwa kau benar benar akan melupakan Eun Ji sebagai orang yang pernah kau cintai. Kau benar benar memiliki niat saat mengatakan hal itu.” Ujar Min Ah.

“Apa aku kembali ke Amerika saja?”

“Apa?”

“Kurasa, itu akan mempermudah rencana ini. Yeah~ aku rasa, ini akan berhasil.”

“Aku tidak yakin, tapi jika kau berpikiran seperti itu terserah saja.” Ucap Min Ah yang terdengar pasrah. “Lalu, bagaimana dengan restoran-mu nanti?”

“Mungkin, aku akan menjual-nya lagi.”

“Apa? Secepat itu? Belum sampai 1 Tahun mendirikannya, tapi mau menjual-nya. Kau yakin?”

“Akh!! Aku tidak tahu, tidak tahu.” Teriak Myung Soo frustasi. “Kenapa begitu sulit untuk melupakan perasaan ini? Akh!!”

Ia sungguh tak tega melihat Myung Soo seperti itu. Hanya karena ingin melupakan seorang gadis yang telah bersuami, Myung Soo benar benar rela melepaskan restorannnya juga. Jika saja ia bisa mengatakan tentang kontrak yang dijalani oleh Jung Eun Ji dan Park Chan Yeol pada Myung Soo, mungkin pria itu takkan frustasi seperti saat ini. Benarkan?

“Ahh.. apa yang harus aku lakukan?” Gumam Myung Soo.

“Cari saja gadis lain yang bisa mengganti Eun Ji di hati-mu.” Ucap Min Ah tiba tiba.

“Apa?”

“Eun Ji bukanlah satu-satunya gadis di dunia ini, kan? Dan, hati-mu itu, tidak terbuat dari batu sungguhan. Jadi, kurasa, kau akan mudah untuk menyukai gadis lain.” Ujar Min Ah. “Tak masalah jika dia seperti Eun Ji. Yang terpenting, gadis itu benar benar bisa membuat-mu teralihkan dari Eun Ji.”

“Seperti-mu, begitu?”

“Euh.. siapa kau bilang?”

“Kau masih menyukai-ku, Bang Min Ah?” Pikir Myung Soo.

Apa? Ia masih menyukai Myung Soo? Tidak, tidak mungkin.

“Ah! Kau ini bicara apa?” Ucap Min Ah yang tiba tiba merasa panas di sekeliling-nya saat ini. “Yak!! Aku ‘kan sudah pernah bilang, aku takkan lagi memiliki perasaan padamu. Semuanya hanya masa lalu, mengerti?”

“Aku ‘kan hanya bicara.”

“Yak! Ini semua salah-mu.. ”

“Salah? Salah apa-nya? Aku berbuat apa memang?”

“Jika bukan karena kau terlalu lamban, kau pasti sudah memiliki Eun Ji sampai saat ini.”

“Apa yang kau … ?”

“Aku tahu, kau sudah melamar-nya beberapa hari sebelum Eun Ji menikah.” Ucap Min Ah. “Ahh.. kenapa kau harus berbohong? Dasar.. ”

Myung Soo hanya diam, tak menanggapi ucapan Min Ah. Dia memang lamban jika mengatakan tentang perasaan-nya. Ya Tuhan~ ada apa dengan diri ini? Aigo~

 

*** ***

 

Gadis itu benar benar terlihat cantik walau sedang hamil. Yeah~ saat ini ia sedang bersiap-siap untuk makan malam bersama Park Chan Yeol. Eum.. ini pertama kalinya ia makan diluar bersama ria bermarga Park itu.

“Huh~ selesai.” Gumam Jung Eun Ji sembari tersenyum menatap pantulan dirinya yang ada di cermin rias-nya.

Ia kembali melihat jam dinding yang terpasang, 5 menit lagi waktu akan menunjukkan pukul 5 Sore dan ia benar benar tidak sabar. Ia akui kali ini, ia merasa amat senang karena bisa makan bersama Chan Yeol. Memang, setiap hari mereka selalu makan bersama. Namun, ini akan menjadi moment pertama kalinya. Ahh~ sungguh tidak sabar.

Jung Eun Ji pun keluar dari kamar-nya dengan pakaian yang memperlihatkan bahwa ia cantik.

pakaian yang cocok untuk calon Ibu muda. (cr. IG)

Tak lama kemudian, ponsel-nya berdering menandakan adanya sebuah pesan masuk.

 

From : Park Batu

Eun Ji-ah,, aku menunggu-mu di lobby. Jadi, kau segera turun saja sekarang..

 

“Eo.. jadi dia sudah menunggu? Aish!!” Pekik Eun Ji yang sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal? Pria itu ternyata sudah menunggu sedari tadi dan baru saja mengabari-nya. Huh~

Eun Ji pun segera melakukan apa yang harus ia lakukan, ia bahkan berlari sekuat mungkin. Yeah~ sekuat mungkin.

Disisi lain, Park Chan Yeol terlihat sedang duduk sendirian di area lobby. Ia menunggu sang Istri untuk ia ajak makan malam bersama. Sebenarnya, ada hal lain yang membuat ia memutuskan untuk mengosongkan jadwal malam ini. Ia akan mengatakan perasaan-nya yang sudah ia yakini bahwa ia sudah jatuh cinta pada Jung Eun Ji. Yup!! Ia benar benar yakin tentang perasaan ini. Dan mungkin ia akan meminta Eun Ji untuk membuat Pernikahan Kontrak ini menjadi Pernikahan Sungguhan.

“Chan Yeol.. ” panggil seseorang yang berlari mendekati-nya.

“Eo.. Eun Ji-ah.. ” sahut Chan Yeol. Ahh! Kenapa gadis itu berlari? “Yak! Kenapa kau berlari? Kau bisa kelelahan nanti.” Ujar Chan Yeol sembari berjalan mendekati Eun Ji.

“Kau.. yang membuat-ku berlari.” Ujar Eun Ji dengan nafas yang terengah-engah. “Seharusnya kau mengatakan bahwa kau sudah pulang sebelum sampai disini. Jadi, kau tak perlu menunggu-ku lama disini.”

“Yak!! Aku ‘kan sedang menyetir. Aku tak bisa menggunakan ponsel-ku jika tak ingin kecelakaan.” Timbal Chan Yeol.

“Alasan,, kau bisa menghentikan mobil-mu lalu menelpon-ku.”

“Aku tidak sempat berpikir seperti itu.”

“Ahh!! Pokoknya, aku tak ingin kau menunggu-ku lama. Aku tidak suka membuat orang lain menunggu-ku.”

Chan Yeol tersenyum dan detik kemudian ia meraih kedua pipi Eun Ji dan mencubit-nya dengan gemas. Sontak membuat Eun Ji kesakitan.

“Yak!! Apa kau sedang PMS hari ini? Kenapa kau sangat lebih dari sangat cerewet hari ini? Aigo~ ” ujar Chan Yeol.

“Ahh.. sakit!!” Gerutu Eun Ji kesakitan. Namun, Chan Yeol masih mencubit-nya walau sekarang tidak terlalu menyakitkan untuk Eun Ji. “Yak!! Lagipula, orang hamil akan berhenti untuk masa bulan mereka. Jadi, bagaimana bisa aku PMS?”

“Yeah~ siapa tahu kalau kau PMS karena sedang hamil.”

“Apa?!”

“Sudahlah,, mari kita pergi sekarang. Semakin malam, tidak baik juga untuk kesehatan-mu nanti.” Ujar Chan Yeol yang tak lagi mencubit pipi Eun Ji.

Detik kemudian, Chan Yeol memberikan tangannya pada Eun Ji dan lagi-lagi Eun Ji kembali terkejut juga bingung.

“Mobil sudah menunggu. Dia lebih tidak suka menunggu.” Ujar Chan Yeol.

Eun Ji semakin dibuat bingung dengan sikap Chan Yeol akhir akhir ini. Apa hanya karena ia sedang hamil muda, sikap Chan Yeol jadi berubah? Atau karena ungkapan perasaan-nya di hari itu? Ahh.. tidak,, tidak.

“Hey,, Jung Eun Ji!” Panggil Chan Yeol yang membuyarkan lamunan Eun Ji.

“Euh.. eo.”

“Jangan hanya melamun saja! Mari kita segera pergi!” Ujar Chan Yeol lagi.

Haruskah ia menerima tangan itu? Eun Ji,, buatlah sebuah jawaban! SEGERA!!

“Eo.. baiklah,, kita pergi.” Ucap Eun Ji dan meninggalkan Chan Yeol. Eung.. dia tidak menerima tangan Chan Yeol?

Ditinggalkan oleh Eun Ji, berhasil membuat Chan Yeol merasa sedang ditolah saat ini. Ahh.. ini baru permulaan rencana yang ia buat hari ini.

“Yeah~ ini masih permulaan. Tak apa, Park Chan Yeol! Fighting!!”

 

Jung Eun Ji’s POV

  Saat ini, tepat pukul 18:20 PM, aku dan Park Chan Yeol telah berada di sebuah restoran yang cukup mewah. Cukup ramai karena aku baru menyadari bahwa malam ini adalah malam minggu. Huh~ dan yang kulihat banyak pasangan, entah kekasih atau suami-istri, yang sedang makan malam bersama.

Park Chan Yeol, pria itu terlihat sedang sibuk memilih makanan dari buku menu yang tersedia di restoran ini. Aku terus memandangi-nya sampai suara berat itu segera membuat-ku mengalihkan pandangan.

“Eun Ji-ah,, kau mau pesan apa?” Tanya Chan Yeol.

“Euh.. aku terserah kau saja.” Ucap-ku.

“Maksud-mu, kau meminta-ku untuk memilih?”

“Iya.. ”

“Bagaimana dengan Jun Ho? Apa selera-nya akan sama dengan yang aku pesankan?”

“Apa?”

“Tidak, lupakan saja.” Ujar-nya lalu kembali melihat buku menu.

Setelahnya, ia menyebut beberapa pesanan dan sang Waitter segera mencatat apa yang diminta oleh Chan Yeol. Setelahnya, Waitter itupun segera pergi.

“Aku rasa, pikiran-mu tidak ada disini sekarang.” Ujar-nya dan menatap-ku dengan cukup serius, walau dengan menyinggungkan senyuman.

“Aku hanya masih kepikiran, alasan-mu mengajakku untuk makan bersama di restoran. Hanya itu.” Ujar-ku.

“Kau masih memikirkannya? Lupakan saja, atau anggap bahwa aku melakukannya demi Jun Ho.”

Aku hanya diam, tak menanggapi apa yang ia katakan. Sungguh~ aku masih tidak mengerti. Apa aku alihkan saja pembicaraan ini, agar aku juga tidak berpikiran yang macam-macam?

“Aku juga memikirkan sikap Kim Myung Soo yang telah berubah. Sudah 5 bulan dia selalu bersikap dingin padaku, dan aku merasa tidak menyukai sikap-nya yang sekarang.” Ujar-ku yang mulai mengalihkan pembicaraan.

“Kau mengkhawatirkannya?”

“Bisa dibilang seperti itu, tapi bisa dibilang tidak.”

“Yak!! Kenapa kau begitu plin-plan?”

“Bukan plin-plan, hanya meralat saja.”

“Biarkan saja jika seperti itu. Setiap orang bisa berubah dan takkan selamanya seperti apa yang selalu kita bayangkan.”

“Aku tahu. Bahkan, tak hanya Myung Soo yang berubah. Kau juga.”

“Aku? Kenapa dengan-ku?”

“Kalian itu seperti tertukar jiwa. Myung Soo yang selalu ramah berubah menjadi dingin, sedangkan Chan Yeol yang begitu dingin padaku berubah menjadi baik hati. Aku sungguh tak mengerti pada bagian ini.”

“Aku ‘kan sudah bilang, setiap orang bisa berubah entah hari ini atau esok.”

“Yeah~ kau benar. Aku memang bodoh.” Ujar-ku sebelum menegak segelas air putih yang ada di dekat-ku.

 

Park Chan Yeol’s POV

  Ahh.. kenapa ia harus membahas Kim Myung Soo disaat seperti ini? Menyebalkan! Kalau begini, aku benar benar ragu untuk menyatakan perasaanku ini. Aish!!

Singkat cerita, pesanan yang aku pesan tadi telah terhidangkan dan tertata dihadapan kami saat ini. Tapi, aku benar benar kehilangan nafsu makan saat ini. Ahh~ jika saja gadis itu tak menyebut nama ‘Kim Myung Soo’, aku benar benar sudah melahap habid makanan ini.

“Yak! Park Chan Yeol.. ” panggil Jung Eun Ji. “Kenapa kau hanya memainkan makanan-mu? Itu tidak benar.”

“Asal kau tahu, aku benar benar kehilangan nafsu makan-ku karena ‘pria itu’. Ahh!!”

“‘Pria itu’? Siapa yang kau maksud?”

“Kim Myung Soo.. ahh~ kenapa kau harus menyebut namanya tadi?”

“Kau ini kenapa? Memang, apa salahnya aku menyebut namanya tadi? Tunggu,, biasanya kau cuek saja dengan Myung Soo?”

“Sekarang berbeda.”

“Apanya yang berbeda? Ya Tuhan~ Chan Yeol, berapa kepribadian yang kau punya, huh?”

“Itu karena aku cemburu padanya.” Ucap-ku yang to the point. Ahh,, dasar Jung Bodoh!

“Cemburu? Pada Myung Soo? Apa yang harus kau cemburui darinya?”

Ahh.. kurasa ini bukan sikap ke-po-lo-san seseorang, melainkan sikap ke-bo-do-han.

“Kalian memiliki kehidupan yang berbeda dan keberuntungan yang juga berbeda. Dia seorang pemilik restoran dan kau seorang Dokter. Lalu, kalian sama-sama pintar. Kalian juga menjadi seseorang yang benar benar sukses. Dan, apa lagi?” Ujar-nya dan detik kemudian terlihat berpikir. “Pokoknya, tidak ada alasan kau harus cemburu pada Myung Soo.”

Huh~ inilah kenapa ia mudah ditipu oleh Mantan-nya yang bajingan itu.

“Bukan cemburu seperti itu yang aku maksud, Jung Bodoh.. ”

“Lalu, seperti apa?” Huh.. lihatlah ekspresi-nya saat ini. Benar benar gadis polos memang!

“Aku cemburu karena cinta. Seseorang yang aku sukai sedang memikirkan orang lain.”

“‘Seseorang yang kau sukai’, apa maksudmu?”

“Kau,, adalah orang yang ku-sukai dan cintai. Jadi, jangan memikirkan pria lain disaat kau bersama-ku.”

 

Author’s POV

  Apa? Apa yang baru saja dikatakan oleh Chan Yeol? Tidak,, tidak,, ini pasti mimpi. Benar, pasti!! Apa perlu ia buktikan?

“Ahh.. bercanda-mu sungguh keterlaluan.” Ucap Eun Ji yang mulai gemetaran. “Kalau kau mau membuat sebuah candaan, seharusnya kau mengatakannya dan meminta bantuan padaku. Ya Ampun~ ini adalah candaan yang paling buruk yang pernah ada. Haha.. ”

“Aku tidak bercanda. Aku bersungguh-sungguh.” Ucap Chan Yeol lagi untuk meyakinkan Eun Ji bahwa ia tidak sedang bercanda, saat ini. “Kau tahu, aku bukan-lah Pelawak Baik seperti-mu.”

Detik kemudian, Eun Ji bangkit dari duduk-nya.

“Yak!! Apa yang kau lakukan? Kau tidak menghabiskan makanan-mu?” Tanya Chan Yeol heran.

“Aku ingin kembali ke apartemen. Dan aku sudah kenyang. Aku permisi.. ” dan gadis itu segera pergi meninggalkan Chan Yeol yang masih kebingungan saat ini.

“Tunggu,, apa ia sedang menghindariku saat ini?” Pikir Chan Yeol yang buru-buru untuk mengejar pergi-nya Eun Ji.

Disisi lain, Jung Eun Ji benar benar terus mempercepat langkah-nya untuk pergi dan menghindar dari Park Chan Yeol. Ahh.. ia tak bisa mengendalikan jantung-nya yang terus berdetak sangat cepat. Sungguh~ ia merasa kesulitan.

“Ahh.. Park Jun Ho,, tenanglah disana, eo? Ahh!!”

“Eun Ji-ah!!” Eo.. seseorang memanggil, ia yakin seseorang itu adalah Chan Yeol. Apa yang harus ia lakukan?

“Jalan.. jalan terus.. ” gumam Eun Ji yang semakin mempercepat langkah-nya.

Namun, apa yang dilakukan Eun Ji saat ini malah membuat seorang Chan Yeol berlari untuk mengejarnya. Eun Ji mengetahui hal itu sampai detik kemudian gadis itu terjatuh dan melukai lutut kaki-nya. Benar,, kau tak bisa berlari, walau hanya lari kecil, dengan sepatu ber-hak tinggi.

“Eun Ji!!” Pekik Chan Yeol dan segera berlari menghampiri Eun Ji. Ia berjongkok, untuk menyamakan posisi-nya dengan Eun Ji. “Kau terluka?”

“Aku tak apa. Sungguh!!” Bahkan gadis itu menghempaskan tangan Chan Yeol yang mencoba untuk menyentuh kaki-nya.

Chan Yeol mendengus kesal  sedikit. Ia bangkit dan berdiri di tempat.

“Hanya karena ungkapan-ku tadi. Kau mencoba untuk menghindar dariku, begitu?”

“Aku hanya tidak suka dan takut.”

“Apa yang kau tidak suka? Dan, apa yang harus kau takutkan?”

Kedua mata itu mulai berkaca-kaca, menggenggam tangannya dengan keras, lalu bangkit. Gadis itu  menatap Chan Yeol intens.

“Aku tidak suka kalau kau menyukai-ku. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa aku tak pernah mengharapkan bahwa dirimu untuk menyukai-ku.” Ujar Eun Ji juga mengungkapkan perasaan-nya saat ini. “Dan aku takut, kalau kau menyukai-ku hanya karena merasa kasihan padaku, karena perasaan yang aku miliki, atau karena hubungan kontrak ini.”

“Aku tulus, benar benar tulus. Perlu kubuktikan?”

“Bahkan, jika itu dari ketulusan. Aku semakin takut.”

“Berhentilah untuk takut!! Apa yang harus kau takutkan?” Ujar Chan Yeol yang mulai menaikkan nada suara-nya.

“Ahh.. kenapa kau tidak mengerti juga??” Ucap Eun Ji yang merasa frustasi.

Detik kemudian, kedua tangan Chan Yeol meraih kedua bahu Eun Ji. Dengan erat karena keyakinan-nya, ia kembali bersuara.

“Eun Ji-ah.. aku tekankan, aku tulus untuk mencintai-mu. Bukan karena semua apa yang kau pikirkan. Tapi, aku benar benar mencintai-mu. Jadi, tepis semua rasa takut-mu itu.”

“Chan Yeol.. ”

Chan Yeol mendekap tubuh itu ke dalam pelukan hangat-nya. Ia memang tulus untuk mencintai gadis itu. Tak ada kata paksaan ataupun rasa kasihan untuk mencintai seorang Jung Eun Ji. Ahh.. bagaimana untuk mengatakannya lagi?

“Kau tak perlu lagi buat dirimu tak suka karena aku menyukai dan mencintai. Belajar-lah untuk menyukai karena perasaan tulus ini.” Ujar Chan Yeol semakin mempererat pelukannya. “Dan, aku harap kita bisa membuat sebuah hubungan yang baik setelah ini.”

Eun Ji hanya diam mendengar ucapan demi ucapan manis dari mulut Chan Yeol. Dan entah kenapa, ia cukup terharu karena suatu hal.

Detik kemudian, Chan Yeol melepas pelukan itu dan menatap kedua mata cantik itu.

“Kau hanya terus diam.” Ucap Chan Yeol. “Tunggu,, seharusnya aku mengkonfirm perasaan-mu terlebih dahulu. Ahh.. bisa saja kau tak lagi– ”

“Aku masih menyukai-mu.” Potong Eun Ji cepat. “Dan aku benar benar bahagia sekarang.” Lanjut-nya dan penekanan pada kata ‘bahagia’. “Aku bahagia, karena untuk pertama kalinya seseorang mencintai-ku balik. Bukan ‘cinta bertepuk sebelah tangan’ atau ‘cinta tak terbalas’, tapi, sungguh, ini adalah ‘cinta yang ditakdirkan’.” Ujar Eun Ji menjelaskan alasan ia bahagia saat ini.

“Benarkah? Aku yang pertama?” Tanya Chan Yeol. “Lalu, bagaimana dengan Mantan-mu yang kemarin?”

“Apa? Maksudmu, Playboy Tikus itu? Auh.. kenapa kau harus membuat-ku teringat pria bajingan itu? Menyebalkan!!”

“Tidak masalah, bukan? Mantan yang kau miliki perlu kuselidiki, agar nantinya aku tak seperti dia lalu menjadi Mantan-mu nanti.”

“Ahh.. kau ini bicara apa?!”

Chu.. mengejutkan bagi seorang Jung Eun Ji, karena bibir-nya kembali tersentuh dengan bibir Chan Yeol. Ya Tuhan~ sekarang, jantung-nya benar benar ingin meledak dan menjadi kepingan yang tidak beraturan. Sungguh!!

Tak lama, Chan Yeol melepas tautan bibir itu dan tersenyum pada Eun Ji.

“Bagaimana? Kali ini, rasanya berbeda bukan?”

“Apa?”

“Pertama, karena kau mabuk. Kedua, karena kau ingin menutup mulut-ku. Ketiga, karena kekesalan-ku. Dan yang keempat.. ”

“Haruskah kau menyebut dan menjelaskannya? Yang benar saja.” Ucap Eun Ji kesal lalu kembali melangkahkan kaki-nya untuk pergi.

“Kenapa? Apa itu salah?” Teriak Chan Yeol saat merasa bahwa gadis itu benar benar telah jauh darinya. Ia segera mengejar. “Hey,, Eun Ji-ah, katakan bahwa kau menikmati ciuman yang keempat ini.”

“Tidak! Dan kau, jangan bertingkah aneh. Ahh.. ”

“Ayolah~ katakan! Aku janji, ciuman berikutnya akan lebih panas.”

“Ahh.. kau ini, bicara apa, huh?”

“Eun Ji-ah.. ”

“Hentikan!”

“Aku mohon.. ”

“Park Chan Yeol!”

“Park Eun Ji.. ”

“Aish!! Menyebalkan.. ” dan berikutnya, Eun Ji berlari dan disusul oleh Chan Yeol yang semakin menggoda-nya.

 

*** ***

 

Di keesokkan harinya, Jung Eun Ji terlihat sedang sibuk memasak untuk makan malam ini. Namun, sepertinya raut wajah gadis itu terlihat sangat bahagia. Ahh.. apa ia kembali teringat Sweet Moment semalam?

Yeah~ Bagaimana bisa jika kejadian semalam tidak membuat-nya salah tingkah seperti sekarang? Ya Tuhan..

“Ya.. aku benar benar di surga sekarang. Lalala.. ” gumam-nya dengan nyanyi-an kecil pada kalimat-nya.

Sekarang, waktu telah menunjukkan pukul 16:00 PM, dan tak lama kemudian, terdengar suara bel pintu berbunyi. Siapa yang datang? Eun Ji-pun menghentikan aktifitas-nya lalu segera berlari menghampiri pintu dan kemudian ia menarik knop pintu tersebut.

“Ahn Ha Ni telah datang!!” ucap antusias seorang gadis yang terlihat cantik saat ini. Dengan sebuah bunga yang telah diikat menjadi satu, Ahn Ha Ni memberikannya pada Jung Eun Ji.

“Kenapa kau harus repot-repot untuk membawa bunga-bunga ini?” Timbal Eun Ji sembari menerima pemberian dari Ha Ni itu.

“Tidak masalah, karena aku senang.” Ucap Ha Ni. “Anggap saja sebagai permintaan maaf-ku untuk pertemuan pertama kita.”

“Apa?”

“Hey~ apa kau tidak ingat? Di hari pernikahan-mu, aku datang dan membuat pertengkaran kecil denganmu. Ahh~ sungguh menyebalkan jika mengingat sikap kasar-ku hari itu. Maaf.. ”

Benar, ia kembali teringat hari pernikahan-nya dengan Park Chan Yeol. Hari itu, ia cukup terkejut dengan kedatangan Ha Ni dan semakin terkejut saat gadis itu melempar ‘tuduhan’ yang tak pernah ia lakukan. Haha.. kenapa ia ingin tertawa mengingat kejadian itu ya?

“Tak masalah, aku juga minta maaf karena membuat-mu berpikiran seperti itu.” Ucap Eun Ji dan kemudian mengajak Ha Ni untuk masuk ke apartemen.

Keduanya telah di dapur, sekedar membantu si tuan rumah yang sedang memasak, Ahn Ha Ni mencoba untuk memulai percakapan dengan Jung Eun Ji.

“Aku jadi ingin tahu, bagaimana pertemuan pertama kalian. Karena, setahu-ku, Chan Yeol begitu anti dengan wanita. Ia begitu cuek dan bersikap dingin dengan wanita yang ada didekat-nya.” Ujar Ha Ni yang ingin tahu pertemuan Chan Yeol dengan Eun Ji.

“Benar,, Park Chan Yeol bukanlah pria yang mudah untuk didekati ataupun untuk diajak berbicara. Park Chan Yeol … “

“Pertama kali kami bertemu adalah hari dimana ia baru datang ke SMA-kami. Dia seorang murid baru. Kami berada di kelas yang sama, cuman karena sikap dingin-nya pada lingkungan baru juga, kami tak sempat mengajak-nya untuk berbicara walaupun sebentar.” Ujar Eun Ji. “Saat pulang sekolah, aku menemukannya dengan beberapa siswa berandalan di sekolah kami tengah memukuli-nya. Hanya karena Chan Yeol membela seorang anak yang selalu di-bully, ia rela dipukuli sampai babak belur.” Lanjut-nya. “Cukup singkat pertemuannya dan setelah-nya seperti teman sekelas biasa. Tapi, aku menyadari saat itu ia begitu menyebalkan bagiku karena sikap sombong dan sok dingin-nya. Ya ampun~ aku sungguh merasa jijik mengingatnya.”

“Haha.. kadang aku juga berpikiran seperti itu. Sikap-nya pada orang lain selalu seperti itu, dan aku sungguh tak percaya dia melakukannya. Tapi, jika padaku sebaliknya. Setidaknya, seperti itu.” Timbal Ha Ni, dan Eun Ji hanya terkekeh mendengar komentar Ha Ni. “Tapi, kalau kau selalu merasa sebal pada Chan Yeol, bagaimana bisa kau menyukai-nya?” Tanya Ha Ni heran. “Aku tak mengerti, bagaimana bisa seseorang seperti-nu jatuh cinta pada pria seperti Chan Yeol.”

Eun Ji terdiam untuk beberapa saat, berpikir apa yang membuat dirinya jatuh cinta pada seorang Park Chan Yeol. Hem.. apa ya?

“Aku juga sampai sekarang, belum mendapatkan jawabannya.” Ujar Eun Ji. “Emm.. mungkin ini efek dari cinta buta. Haha.. ”

Kedua gadis itu tertawa dengan masih melanjutkan pekerjaan mereka untuk memasak.

 

Skip Time

  Sudah pukul 7 Sore, tapi seorang Park Chan Yeol tak kunjung pulang dari tempat kerjanya. Kemana ia?

Seorang Jung Eun Ji yang baru saja dari kamar tidur-nya berjalan sembari memainkan ponsel-nya. Ia mendapatkan pesan dari Chan Yeol tadi.

“Dia bilang, ia akan telat. Jadi, ia menyuruh kita untuk makan dulu.” Ujar Eun Ji yang sudah duduk di kursi-meja makan, berhadapan dengan Chan Yeol.

“Ya ampun~ dia yang membuat waktu ini, tapi malah tidak datang. Benar benar!” Gerutu Ha Ni.

“Sudahlah,, sekarang kita makan saja sekarang.”

“Benar,, dan kurasa baru saja Jun Ho mengeluh karena belum mendapat asupan.” Guyon Ha Ni.

Untuk beberapa saat, suasana kembali diam hanya untuk menyantapi makan malam mereka masing-masing. Tapi, karena pekikkan seorang Ha Ni, berhasil memecahkan keheningan.

“Ahh.. aku baru ingat!”

“Ada apa? Apa kau punya jadwal hari ini?”

“Euh.. tidak, maksudku hari ini adalah ‘Hari Ulang Tahun’ Ibu Chan Yeol. Dan kurasa, ia pergi untuk menemui Ibu-nya.”

“Apa? Euh.. kenapa Chan Yeol tidak memberi tahu?” Pikir Eun Ji.

“Kurasa, ia juga baru mengingatnya. Tidak mungkin kalau tidak, dia takkan mengajakku untuk makan malam bersama kalian.” Timbal Ha Ni.

“Benar juga.” Gumam Eun Ji. Kemudian, ia meraih tangannya dan menggerakkan ibu jari-nya di layar ponsel-nya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Ha Ni heran.

“Apa? Euh.. aku sedang mencoba untuk menghubungi Ibu Mertua.” Jelas Eun Ji.

“Kurasa, kau tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, Ibu Chan Yeol yang kumaksud bukanlah Bibi Park, Ibu Tiri Chan Yeol, tapi Bibi Park, Ibu Kandung Chan Yeol yang sudah tiada.”

“Apa?”

“Ia memang berjanji, jika suatu hari nanti mendapat-kan Kekasih, ia takkan mengatakan tentang Ibu Kandung-nya.” Pikir Ha Ni. “Huh~ kenapa harus seperti itu?”

“Ha Ni-ah.. ” panggil Eun Ji lirih, namun saat ini ia tak menatap Ha Ni, ia menatap kearah lain. “Tolong,, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Ibu Chan Yeol bisa meninggal? Dan kapan itu terjadi?”

Eum.. bagaimana ini? Sebenarnya, Ha Ni juga tak bisa mengatakkannya karena Chan Yeol pernah meminta-nya untuk diam tentang Ibu Kandung-nya. Ahh.. bagaimana??

“Ha Ni-ah.. kau dengar aku?” Ucap Eun Ji membuyarkan lamunan Ha Ni.

“Euh.. Eun Ji-ah,, aku tidak yakin bisa menceritakannya.” Ucap Ha Ni. “Kurasa, kau bisa meminta Chan Yeol untuk menceritakan.”

“Aku yakin, ia takkan mau menceritakan.” Timbal Eun Ji. “Ha Ni,, aku mohon!! Biarkan aku mengetahui-nya.. ”

Tunggu,, ia harus memikirkannya baik-baik untuk menceritakan tentang Ibu Chan Yeol pada Eun Ji. Huh~

 

*** ***

 

Jung Eun Ji, gadis itu terlihat duduk didepan pintu. Menunggu seseorang setelah ia mendengar sebuah cerita yang sekarang membuat-nya menyesal. Benar benar menyesal.

“Aku benar benar jahat, sangat jahat!” Gumam Eun Ji yang kemudian menangis dalam diam, duduk dengan memeluk lutut dan membiarkan kepala-nya berada di lutut-nya.

 

Flashback On – 7 Years Ago

  7 tahun yang lalu, tepat-nya di hari perpisahan untuk para murid kelas 12 di SMA tempat Park Chan Yeol menimba ilmu. Ia mendapatkan tugas untuk menjadi Partner Lawak bersama seorang gadis bernama Jung Eun Ji, gadis yang pernah menyelamatkannya di hari ia dipukuli anak-anak berandalan.

Tapi, ia sungguh merutuki nasib-nya ini. Kenapa harus melawak? Ia sungguh tidak bisa melalukannya. Bahkan, berlatih selama 2 bulan dengan gadis itu, dia masih tidak bisa melakukannya dengan baik. Huh~

Dan hari ini, ia diantarkan oleh Ibu-nya untuk pergi ke tempat tujuan. Ibu tersayang-nya itu benar benar seperti jimat bagi-nya. Hanya dengan berada disisi sang Ibu, ia bisa baik untuk latihan melawak.

“Jadi, lawakkan-mu akan menjadi penutupan untuk acara hiburan? Woah~ itu kebanggan tersendiri untuk Ibu.” Ujar sang Ibu yang masih memfokuskan diri untuk mengendarai mobil-nya.

“Entah menjadi yang pertama, kedua, atau terakhir, aku benar benar benci melawak. Huh!” Timbal Chan Yeol yang benar benar tidak suka dengan melawak.

“Ayolah sayang,, melawak utu adalah pekerjaan yang mulia. Kau menghibur banyak orang hanya ucapan atau tingkah laku-mu yang lucu.” Ucap nyo. Park. “Dan melawak adalah suatu kebahagiaan yang benar benar menyenangkan. Jadi, cobalah untuk se-maksimal mungkin membuat orang lain bahagia.”

“Huh~ itu lagi. Membuat orang lain bahagia karena kita adalah kesulitan untukku. Melakukannya untuk Ha Ni, aku tidak bisa.”

Mendengar ucapan Chan Yeol barusan, hanya membuat nyo. Park tersenyum geli.

Chan Yeol, yang sebelumnya fokus untuk latihan melawak, mengalihkan pandangannya dan tepat saat itu matanya menangkap sesuatu yang paling ia suka. Ikan goreng!!

“Ibu!!” Panggil Chan Yeol. “Disana,, disana ada ikan goreng!”

“Apa? Ikan goreng? Dimana?”

“Di kiri jalan. Disana!” Ujar Chan Yeol sembari menunjukkan jari telunjuknya ke sebuah toko pinggir jalan yang menjual Ikan goreng. “Bu,, aku sudah lama tidak makan ikan goreng.”

“Benar. Haruskah kita membelinya untuk perjalanan ke sekolah-mu juga?”

“Tentu,, kita harus membelinya.” Jawab Chan Yeol antusias.

Tepat di depan warung yang menjual ikan goreng, mobil keluarga Park berhenti disana.

“Bisakah kau membeli-nya? Ibu akan ke supermarket seberang untuk membeli minuman.” Ujar nyo. Park lalu memberikan beberapa uang lembaran pada Chan Yeol.

“Baik.” Dan setelah melepas sabuk-nya, Chan Yeol keluar dan menghampiri warung tersebut. Sedangkan sang Ibu pergi ke supermarket untuk membeli minuman botol.

Chan Yeol benar benar suka dengan ikan goreng dengan rasa balado, sama seperti Ibu-nya.

“Tuan,, tolong ikan goreng denga rasa balado. Dan berikan saus sambal yang banyak.” Pinta Chan Yeol, yang memang kebetulan warung tersebut sepi.

“Baik.. ” ujar sang penjual, dan segera melakukan apa yang harus ia lakukan.

Chan Yeol hanya menunggu ikan goreng juga sang Ibu. Namun, tak lama kemudian, ia merasa ponsel-nya bergetar menandakan bahwa ada pesan masuk.

 

From : Jung Eun Ji

  Hey.. kenapa kau belum datang? Kau tidak kabur kan? Awas saja jika kau kabur! Aku akan membunuh-mu besok!!

 

“Huh.. cerewet sekali dia.” Gumam Chan Yeol.

Detik kemudian, saat ia akan membalas pesan dari Eun Ji itu, tiba tiba sebuah suara yang seperti meledak menghentikan aktifitas-nya.

“Bang!!” Suara yang terdengar seperti tabrakan. Apakah terjadi kecelakaan?

“Tuan,, ikan goreng anda sudah siap.” Ucap sang penjual pada Chan Yeol.

Chan Yeol segera memberikan uang-nya sembari menerima cemilannya itu. Tak lupa mengucapkan terima kasih.

Pandangannya kembali teralihkan pada sebuah kerumunan di tepi jalan raya. Sebuah kerumunan yang membuat ia penasaran. Ia pun melangkahkan kaki-nya untuk menghampiri kerumunan itu.

Kerumunan orang-orang setelah terjadi-nya kecelakaan antara sebuah mobil dan seseorang beberapa waktu yang lalu. Dan Chan Yeol, saat ini sudah mulai masuk kedalam kerumunan itu. Namun, detik kemudian, betapa terkejut-nya ia saat melihat siapa yang menjadi korban kecelakaan tersebut.

“IBU!!” Teriak seorang Chan Yeol melihat Ibu-nya tergeletak dengan darah yang bercucuran keluar dari kepala juga bagian tubuh yang lain.

Chan Yeol menjatuhkan bungkusan ikan goreng-nya dan berlari menghampiri nyo. Park. Ia mendekatkan dirinya pada tubuh nyo. Park yang sudah tak berdaya.

“Ahh!! Ibu.. bangunlah! Aku mohon, bangunlah!!” Teriak Chan Yeol dengan air mata yang sudah berjatuhan.

Sungguh mengenaskan dan malangnya pria itu. Ahh.. apa yang harus ia lakukan?

“Tolong,, siapapun! Hubungi 119. Aku mohon!” Teriak Chan Yeol lagi pada kerumanan orang orang tersebut. Dan salah satu dari mereka-pun segera melakukan apa yang diminta Chan Yeol.

Beberapa waktu kemudian, sebuah suara sirine mobil dari petugas 119 terdengar dan berhenti disekitas tempat kejadian. Petugas segera menggotong nyo. Park untuk dibawa ke rumah sakit terdekat dengan mobil mereka. Diikuti oleh Chan Yeol, mereka segera membawa nyo. Park ke rumah sakit.

Dalam perjalanan, Park Chan Yeol terus menangis sembari memegang erat tangan kiri Ibu-nya. Ia tak ingin kehilangan sang Ibu. Tak ingin walau dalam keadaan seperti ini. Ia memohon dalam hati pada Tuhan, untuk tidak mengambil Ibu-nya.

Sesampai-nya di rumah sakit dan juga telah membawa nyo. Park ke ruang operasi, Chan Yeol menunggu di luar dengan perasaan yang amat-amat cemas. Bahkan, sangking tak peduli-nya dengan hal sekitar, ia tak mendengar suara dering dari ponsel-nya, seseorang menghubungi-nya.

1 Jam, 2 Jam, 3 Jam berlalu, waktu terus berjalan tanpa henti, dan Chan Yeol masih setia untuk ‘menemani’ Ibu-nya di luar ruangan. Namun, tak lama kemudian, seseorang keluar dari ruang operasi, dengan keadaan yang venar benar kacau. Dan Chan Yeol segera menghampiri pria bernota bene adalah Dokter yang baru saja mengoperasi Ibu-nya.

“Dokter, bagaimana dengan keadaan Ibu saya? Dia,, dia baik-baik saja, bukan?”

“Tidak ada bagian tubuh-nya yang mengalami kerusakan, namun ia tetap mendapatkan luka jahit karena kecelakaan tadi. Dan ia kehabisan darah, kecelakaan tadi pasti membuat-nya mengeluarkan banyak darah.” Jelas si Dokter.

“Dokter,, aku mohon selamatkan Ibu-ku. Aku tidak ingin kehilangan-nya, tidak ingin.” Pinta Chan Yeol memohon tanpa menghentikan tangisan-nya.

“Aku akan berusaha.” Ucap sang Dokter menguatkan pria tinggi itu. “Tapi, sebelum itu, kau harus memberitahu keluarga-mu yang lain.”

“Benar.. ” pekik Chan Yeol lirih.

Setelah kepergian Dokter tersebut, Chan Yeol segera mengambil ponsel dari kantung jaket yang ia kenakan, dan di layar ponsel-nya memperlihatkan banyak-nya pesan dan panggilan daru seseorang, tapi Chan Yeol tak peduli dan segera untuk menghubungi keluarga-nya.

 

*** ***

 

Keluarga Park hanya menatap iba melihat keadaan nyo. Park saat ini. Nenek Park dan tn. Park benar benar tidak kuat melihat wanita hebat ini seperti saat ini. Ya Tuhan,, kenapa cobaan kali ini lebih berat? Park Chan Mi? Dia hanya bisa menatap heran melihat sang Ibu terbaring koma diatas ranjang rumah sakit (Chan Mi – 7 Tahun).

“Ibu.. Ibu.. Ibu bangunlah~ kenapa Ibu tidur disini?” Ucap Chan Mi mencoba membangunkan nyo. Park dengan kepolosan. “Ayah.. apa Ibu lebih suka disini, dibanding di rumah?” Tanya Chan Mi pada sang Ayah yang berdiri tepat disamping-nya.

Tn. Park mengelus pelan kepala Puteri-nya dan tersenyum, menahan tangisannya, pada Chan Mi.

“Yong Soo-ah.. dimana Chan Yeol?” Tanya nyo. Park, sembari menghapus air mata-nya yang terjatuh karena sang menantu, pada anak tunggal-nya itu.

“Dia ada diluar, ia masih tidak bisa mempercayai tentang kejadian hari ini.” Ujar tn. Park.

“Tapi, bukankah ia seharusnya ada di sekolah? Ia akan melakukan suatu pertunjukkan, bukan?” Ucap Nenek Park mengingatkan ‘apa yang harus dilakukan Cucu-nya itu’. Benar, Chan Yeol harus pergi ke sekolah hari ini.

“Ahh.. aku baru ingat. Baiklah, aku akan mengantarkannya.” pekik tn. Park lalu pergi meninggalkan ruangan dan mnnghampiri anak-nya yang duduk dengan menutupi wajah-nya menggunkan kedua telapak tangannya.

Ia benar benar ragu, tapi ia tak ingin menjadikan Park Chan Yeol menjadi seseorang ang tidak bertanggung jawab. Huh.. baiklah.

“Chan Yeol-ah.. ” panggil tn. Park.

“Ada apa, ayah?” Sahut Chan Yeol yang tak segera menunjukkan wajah-nya pada sang Ayah.

“Bukankah, seharusnya, kau sekarang ada di sekolah? Kau harus melawak hari ini.” Ujar tn. Park dan berhasil membuat Chan Yeol melepas telapak tangannya.

Dengan wajah antara terkejut mendengar ucapan Ayah-nya barusan dan kesedihan yang masih tersirat karena Ibu-nya, detik kemudian ia menatap tn. Park.

“Ayah.. ”

“Jadilah, pria yang bertanggung jawab. Aku akan mengantarkan-mu.”

 

*** ***

 

Singkat cerita, Park Chan Yeol yang sudah turun dari mobil, tanpa membenahi tampilannya yang terluhat buruk saat ini, segera berlari memasuki sekolah dan segera menuju ruangan kelas 2-3, kelas-nya. Tunggu, apa ia sadar kalau ia benar benar terlambat?

“Ahh.. maaf, Aku terlambat.” Ucap Chan Yeol sembari mengaturkan nafas-nya.

“Hey! Chan Yeol,, apa maksudmu? Kau sudah benar benar terlambat dan baru datang setelah acara selesai?” Sahut salah satu Panitia Acara.

Jung Eun Ji, gadis itu benar benar terlihat marah. Apakah kemarahan itu ditunjukkan untuknya? Baiklah,, ia akan menerima apapun kemarahan gadis itu. Sungguh..

Gadis itupun berjalan menghampiri Chan Yeol dan tepat dihadapan pria itu, ia menamparnya amat keras. Hal itu, berhasil membuat orang lain yang melihatnya terkejut.

“Maaf, katamu?? Dan apa ini?! Kau datang disaat acara benar benar sudah selesai? Dimana rasa tanggung jawab-mu? Ada apa denganmu?!” Gertak Eun Ji kesal lalu berlari meninggalkan Chan Yeol.

Chan Yeol hanya bisa diam, ia tak bisa melawan. Yeah~ memang seperti itu. Jika ia ditampar, ia akan diam. Jika ia dipukul sampai mati, ia akan tetap diam. Walau ia punya alasan mengapa tak bisa datang, tapi ia tetap merasa bersalah.

Gadis itu pergi dan seorang Bang Min Ah berlari mengejar Eun Ji yang benar benar kesal padanya.

 

Flashback Off

 

Kembali pada 7 Tahun setelahnya, seorang Park Chan Yeol terlihat berada di lift untuk menuju lantai 12. Raut wajah-nya memperlihatkan kesedihan juga disana. Ia menghela nafas dan detik kemudian keluar dari lift setelah tahu bahwa lift telah berada di lantai 12.

Ia berjalan dan terus berjalan menuju apartemen-nya berada. Sampai langkah-nya terhenti menyadari sesuatu atau seseorang ada didepan pintu apartemen-nya.

“Siapa disana?” Gumam Chan Yeol bertanya.

Ia kembali melangkahkan kaki-nya dan terhenti tepat di hadapan seorang gadis disana. Tunggu,, sepertinya ia kenal.

“Eun Ji.. kau-kah itu?” pikir Chan Yeol yang takut-takut jika ia salah orang.

“Chan Yeol.. kau sudah pulang?” Sahut orang tersebut.

“Eun Ji.. ” panggil Chan Yeol lirih. “Apa yang kau lakukan diluar sini? Dan kenapa tidak menggunakan jaket-mu?”

Jung Eun Ji bangkit dan memperlihatkan air mata-nya yang terus mengalir di pipi-nya.

“Ya ampun~ yak! Apa yang membuat-mu menangis? Seseorang menggangu-mu?” pekik Chan Yeol khawatir.

“Chan Yeol-ah.. aku benar benar menyesal. Aku menyesal telah menjadikan dirimu seperti seseorang yang jahat untukku. Seharusnya, aku mendengarkan penjelasan-mu. Ahh~ kenapa aku begitu bodoh? Akh!!”

Gadis itu semakin menangis. Tidak,, bagaimana jika orang lain melihatnya? Bagaimana jika orang lain merada terganggu? Ahh..

“Aku tidak tahu, apa yang kau bicarakan. Tapi, kita harus berbicara didalam.” Ucap Chan Yeol lalu memasukaan Password Code dan setelanya mendorong Eun Ji untuk masuk kedalam apartemen.

Hanya sampai disana, benar benar tak memasuki apartemen. Chan Yeol diam dan membiarkan Eun Ji menangis. Huh~ apa yang sebenarnya terjadi?

“Eun Ji-ah.. katakan, apa yang sedang terjadi? Kenapa kau terus menangis seperti ini? Aku mohon,, jangan buat aku takut.” Ujar Chan Yeol menanyakan keadaan pada gadis itu.

Gadis itu mulai mencoba untuk menghentikan tangisannya, sembari dihapuskan air mata-nya oleh Chan Yeol, ia menatap nanar pada Chan Yeol.

“Aku benar benar menyesal, menyesal karena pernah membenci-mu selama 7 Tahun. Aku sungguh jahat karena tak ingin tahu alasan 7 Tahun yang lalu. Aku,, aku sungguh, sungguh jahat.”

7 tahun yang lalu? Maksud-nya.. kejadian di hari dimana Ibu-nya kecelakaan?

“Seharunya, kau menjelaskan apa yang terjadi. Kenapa kau membuat dirimu seperti orang jahat untukku? Kenapa kau harus membiarkan-ku membenci-mu selama 7 tahun.”

“Aku pantas, aku pantas untuk kau benci. Jadi, jangan salahkan dirimu. Dan, berhentilah menangis!” Ujar Chan Yeol.

“Tidak.. ini tidak benar.”

Detik kemudian, ditaruhkannya kedua tangan di bahu Eun Ji dan menatap dengan senyuman disana pada gadis itu.

“Aku tidak mempermasalah-kan semua yang pernah terjadi. 7 tahun yang lalu, itu semua sudah terlewati dan aku aka  menjalani hidup-ku yang sekarang dan nanti dengan cinta yang kau berikan padaku.” Ujar Chan Yeol dengan keyakinan dalam hati-nya. “Jadi, aku mohon, lepaskan semua beban-mu itu dan tetap seperti Eun Ji yang ku-kenal untuk selamanya.”

“Maafkan aku.. ”

“Hey.. sudahlah~ ” dan setelahnya ia memeluk erat tubuh Eun Ji. Memberikan kehangatan karena cinta-nya pada gadis cantik itu.

Cukup karena tahun ke-7 kematian sang Ibu, yang mengingatkan kejadian 7 tahun yang lalu, ia tak ingin mengingat-nya lagi. Sudah cukup.

Perlahan, Jung Eun Ji melepas pelukan Chan Yeol dan menatap nanar pria itu.

“Aku mencintai-mu,, dan takkan pernah lagi membenci-mu. Cukup untuk sekali dalam 7 tahun. Aku ingin mencintai dan dicintai selamanya.” Ujar seorang Eun Ji dan detik kemudian ia meraih wajah Chan Yeol untuk mendekat padanya dan memberikan sebuah kecupan di bibir itu. Ia akan mengeratkan apa yang ia ucapkan tadi.

 

Jung Eun Ji’s POV

  Aku takkan melepasnya, entah untuk 1 detik saja. Aku mencintai seorang Park Chan Yeol, dan takkan lagi pernah menumbuhkan perasaan benci seperti sebelumnya. TAKKAN!!

 

To Be Continue … … …

 

Akh.. akhirnya sampai juga di chap 10. Saya, sang Author FF ini, benar benar gak sabar untuk hasil akhir ff ini. Dan mungkin, sepertinya FF ini akan berakhir sampai chap antara 16 atau 18 dan satu epilog untuk flashback **saya kasih bonus untuk bocorannya nanti**

Dan untuk para reader, mungkin mulai di chap ini kalian gak akan kesel lagi sama sosok Ahn Ha Ni yang sebelumnya begitu menyebalkan. Karena cukup kesulitan buat cinta segiempat, satu karakter saya ‘mati’-kan. Jadi, hanya cinta segitiga nantinya sampai akhir cerita. Tapi, kalau boleh saya tahu alasannya, kenapa kalian benar benar kesel sama karakter Ha Ni disini? Padahal, Myung Soo juga jadi ornng ke-tiga diantara Eun Ji dan Chan Yeol. Kasihan tau~ Ha Ni-nya..

Dan lagi **aduh banyak ngomong nih**,, rencana-nya saya akan buat Marriage Without Love season 2. Untuk siapa cast-nya, saya rahasia-kan. Pokoknya, beda cast juga cerita dari season 1 dan saya akan kasih teaser-nya setelah season 1 ini berakhir. Jika, banyak yang berminat, saya akan publish chap 1 dan seterusnya disini.

Baiklah.. sekali lagi, saya berterima kasih pada kalian yang benar benar setia untuk menunggu ff saya. Dan terima kasih karena sudah mendukung saya dalam pembuatan ff ini. Terima kasih.. semoga masih tetap setia sampai Ending Story ya?? ~~  (*^▽^*)

42 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Marriage Without Love (Chapter 10)”

  1. Huaahh aku nangis lagi. Kak kiki jjang!! Aku dapet banget feelnya.

    Chan ji kalian aman di chapt ini. Tak tau badai apalagi yang akan menghadang.

  2. Huaahhh. Aku nangis lagi. Kak kiki jjang. Aku bener² dapet feel nya.

    Chan-ji. Kalian aman hari itu bagaimana dengan hari selanjutnya? Badai apa yang akan menghadang?

  3. O ternyata alasan chanyeol datang terlambat 7thn yg lalu karna ibunya chanyeol kecelakaan, akhirnya kesalahpahaman selama ini sudah terselesaikan

  4. Nahloh..si hani nya uda baik..berarti konflik selanjutnya si myungsoo dong yang jahat..ah dia bener bener gak terpikirkan….

  5. Iinii kerennnn akhirnya mrk salinggg suka XD
    Dan eunjiiiii sipppp jgn benci chanyeol lg dan sedih jgaa samaa yg menimpaaa channel 7 tahun laluuuu sip hani jan jd phooo dan ditunggu loh season duanya XD

  6. wahhh… Daebakkk….Next . next…….
    maaf baru bisa coment skrang….
    tambah adegan romantisnya oeh….
    salam kenal

  7. Mian baru komen skarang….
    kpan publish chap 11 ditunggu y???
    penasarannnnn….. keren..salam kenal
    gomawo

    1. Thor,tau gk btapa galonnya aq nunggu FFmu ini??
      Sampe kbawa mimpi loo thor,bneran…
      Tidakkh kau kasian pada readersmu ini??
      Pagi,siang,sore,malem,aq bolak balik buka FPmu thor..
      Aq sungguh pnasaran thorr lnjutan kisah baekji thor..
      Ayoo lah thor,buru” dpos thor..
      Jeballl….

    2. Ya ampun, kasihan bgt reader satu saya ini. Hehe..
      Yah mau gimana ya? Saya cuman author yg ngirim ff doang. Dan gk bisa nentuin kudu rilisnya ff ini kapan.
      Dan saya punya kerjaan lain selain nulis ff ini. Pgn sih kirim 2 chap per minggu-nya. Tapi, satu chap yg lain belum diselesain. Jadi, tolong pengertiannya ya..
      Dan maaf bgt loh sampe buat kamu bolak-balik buka web ini demi ff saya. Juga terina kasih.. *^▁^*
      Tetep sabar yaa buat nunggu ff saya ini.

  8. Baru selesai baca chapter 1-10… chapter ini bener bener bikin ikutan sedih apalagi pas si eunji tau alasan si chanyeol gak dateng buat ngelawak pas 7 tahun yang lalu

  9. walaaaahhhh jadi itu toh alesan kenapa chanyeol gabisa dateng. Sedih yahh :”
    dan akhirnya mereka bisa bersatu saling mencintai dan bahagia. Aku pikir ini udah end tau thorr, eh masih tbc ternyataa hehe. Aku seneng juga ceritanya panjaaaang. Bikin betah hehe.

    Awal kesel sama hani karena dia kaya belom terima sama keputusan chanyeol dan mau ngerusak hubungan chan-eunji. Tapi pas tau tau dia dateng ke apart dengan ber-ramah tamah hilang sudah rasa keselnya. Emm kenapa ga kesel sama myungsoo? Mungkin kalo sama myungsoo lebih ke kasian deh thor hehe.

    Kenapa myungsoo dan hani ga bersatu ajaa? Gasengaja ketemu atau ada keharusan jadi bikin mereka terlibat buat ketemu terus? Nah kalo minah dia sama baek ajaaaa. Baek pengen beli bunga gitu terus kepincut hatinya sama minah? Hahahahah mollaaaa. Ini cuma imajinasi liar kok thor hehe.

    Ah iya satu lagi! Ditunggu dengan senang hati season 2nyaahhhh hehe.

    1. Oh oke,, bisalah terima alasan kamu gk suka ama hani. Haha..
      Ehh.. permintaan kmu banyak ya? Aku malah jadi bingung. Tapi, liat aja Ha Ni ama siapa nanti. Oke?

  10. Engga tau mau mgomong apa ttg chap ini. Sumpah ini keren banget tauuu!!! Mau ada season 2?!!! waahhh…..
    Gk sabar deh sama next chapternyaa

  11. huaaa keren and aku bahagia ngeliat chamyeol ama eunjii

    semangat author dan jangan kelaman dong…

    ditunggu chap selanjutnya

    dan buat seson 2 aku setuju di tunggu yahhh

    1. Eum.. sbenarnya kalo lama atau gimana rilis-nya ff ini tergantung sama admin dan saya yang ngirim-nya agak molor. Jadi, maaf yaa..

      Ok.. tunggu aja ya..

  12. kyaaaa,,akhirnya saling suka,,,,!!!
    — Boleh bnget seaseon 2,, d tunggu lho!
    — btw anh hani kn dh baik,, kupikir bakal jadi ma baekhyun!!!??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s