KAJIMA – Slice #16 — IRISH`s Story

irish-kajima-5

   KAJIMA  

  EXO`s Sehun & Luhan; OC`s Injung & Ahri

   with EXO Members  

  fantasy, drama, supranatural, life, friendship, school-life and romance story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


“Jebal… Jebal kajima…”


Reading list:

〉〉 TeaserChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7 – Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 – Chapter 13Chapter 14Chapter 15 〈〈

Chapter 16

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Ahri’s Eyes…

Aku tidak mengerti kenapa Injung tampak begitu aneh. Terutama saat tahu Luhan yang menyerang Chanyeol. Dan juga… ucapan Kyungsoo. Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan? Aku yakin Injung bukanlah orang yang akan betah untuk menahan diri dan menunggu jawaban nya begitu saja. Aku yakin Injung akan mencari—

Uhuk…”

Aku segera sigap saat Chanyeol terbangun. Sudah berapa hari aku menunggunya? Entahlah. Yang jelas aku sangat sangat khawatir pada keadaannya.

“Ahri?”

“Chanyeol-ah? Apa badanmu masih sakit?” tanyaku pada Chanyeol.

Ani…” ia berusaha untuk bangun, “…nan gwenchana.” lanjutnya sambil kemudian memandang ke arah Injung yang berbaring di lantai, masih tertidur.

“Apa yang ter—”

Chanyeol segera memberiku isyarat untuk diam. Membuatku memandangnya bingung. Chanyeol menunjuk ke arah Injung.

“Dia mendengar…” bisik Chanyeol sangat pelan.

Aku segera menutup mulutku, menyimpan pertanyaan yang tadinya akan kuutarakan. Segera aku memutar otak, berusaha menemukan pertanyaan lain.

“Kau sudah tidak sadar dua hari.” ucapku.

“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Chanyeol.

“Hmm. Kami semua disini.” ucapku.

“Lalu, apa Jiwa-ku…”

“Sudah kukembalikan. Sehun bilang kau mungkin tidak bisa tertolong jika Jiwamu tidak di kembalikan.” kataku.

“Ah, aku mengerti…” Chanyeol kemudian berbaring.

“Kau sudah merasa baikan?” tanyaku padanya, tatapanku tertuju pada Injung yang membelakangi kami, tampaknya ia kecewa karena tidak berhasil membuat Chanyeol menceritakan padaku tentang apa yang terjadi.

“Jauh lebih baik.”

“Aku akan beritahu yang lain…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Injung’s Eyes…

AniAhjumma itu tidak salah. Aku melihatnya sendiri. Noona itu jatuh karena terpeleset…”

Geurae, noona itu jatuh tepat saat ada mobil yang lewat, noona itu jatuh menimpa depan mobil… Ahjussi itu juga tidak salah…”

Tidak! Aku di dorong Eomma! Ahjussi itu menabrakku! Dia bohong! Kau pembohong! Siapapun kau! Kau bohong! Aku benci padamu! Aku sangat benci padamu!”

Aku segera terbangun. Entah kenapa kejadian itu teringat lagi. Sungguh tidak mengenakkan. Tidak seharusnya aku teringat kejadian itu lagi, apalagi karena seminggu lebih ini aku tinggal bersama Eomma. Ish

Uhuk…”

“Ahri?”

Aku segera memasang telingaku. Chanyeol sudah terbangun.

“Ya Chanyeol-ah? Apa badanmu masih sakit?” Ahri bertanya.

Ani… nan gwenchana.”

“Apa yang ter—”

Ucapan Ahri langsung terhenti. Aku tidak bisa mendengar suara apapun. Tsk.

“Kau sudah tidak sadar dua hari.” Ahri bicara lagi, apa ia tadi mengganti bahan pembicaraannya?

“Apa semuanya baik-baik saja?”

“Hmm. Kami semua disini.”

“Lalu, apa Jiwaku…”

“Sudah kukembalikan. Sehun bilang kau mungkin tidak bisa tertolong jika Jiwamu tidak di kembalikan.”

“Ah, aku mengerti…”

“Kau sudah merasa baikan?”

“Jauh lebih baik.”

“Aku akan beritahu yang lain…”

Aku mendengar suara langkah Ahri menjauh. Aku segera memejamkan kembali mataku, kepalaku masih pening karena semalaman tidak tidur. Tsk. Entah kenapa di saat seperti ini aku ingin bertemu dengan Luhan.

“Kau mau bertemu dengannya untuk membuatnya menciummu lagi?”

Aku segera terkesiap. Menoleh kaget dan melihat Sehun yang berjongkok di dekatku.

“Apa maksudmu?” ucapku memandangnya bingung.

“Apa lagi? Kau jelas sudah tahu.” ucap Sehun sambil melangkah pergi.

“Oh, memangnya kenapa kalau Luhan menciumku? Dia lebih pintar karena berpikir untuk melakukannya.” ucapku kemudian.

“Kau—” Sehun segera menghentikan ucapannya, menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.

“Apa?” tantangku.

Sehun diam. Tidak menyahut. Hah. Jelas ia kalah.

“Terserah kau saja.” ucap Sehun sambil melangkah keluar dari kamar.

“Dia sudah hampir mati karena cemburu di sini selama beberapa hari Injung. Saat kau bersama Luhan dia benar-benar jadi stres.” ucap Chanyeol.

“Benarkah?” aku menatapnya.

“Menurutmu apa yang bisa ia lakukan saat kau selalu di rumahmu bersama Luhan tanpa mau keluar, dan dia tidak bisa menemuimu?” kata Chanyeol.

Aku segera terdiam.

“Aku akan minta maaf padanya…” ucapku sambil kemudian melangkah keluar kamar, mencari Sehun.

Satu hal yang tidak terpikir olehku adalah jika ia akan tahu apa yang terjadi padaku saat berada di rumah. Oh. Ayolah. Dia mendengarnya Injung, tentu saja ia akan tahu. Aish

“Sehun-ah?” panggilku pelan saat melihat Sehun ada di ruang tamu, duduk sendirian, tampak berbaring di sofa.

Hm?” sahutnya tanpa membuka matanya.

Aku berdiri di dekatnya, memandangnya.

Mian. Aku lupa kalau kau akan mendengar apa yang terjadi di rumahku…”

“Kau melakukannya dua kali dengan Luhan itu. Dan aku melihatnya. Tsk, heran kenapa aku harus jadi orang yang tidak beruntung karena melihat hal itu.”

Aku duduk di lantai, menghadap Sehun. Ia masih berbaring. “Seharusnya kau berhenti jadi penguntit.” ucapku kemudian.

“Penguntit?” Sehun menoleh ke arahku, terbelalak.

Aku tertawa pelan. “Aku hanya bercanda… Kau cemburu seperti anak-anak saja.” ledekku. “Memangnya apa yang salah dengan cemburu?” ucapnya balik.

“Tidak ada. Bagus malah jika seorang dingin sepertimu bisa cemburu.” ucapku.

Sehun menatapku, lama. Kemudian ia menghela nafas.

“Jangan biarkan ia melakukan hal itu lagi… Jebal. Aku sangat tidak suka melihatnya.”

Aku mengangguk-angguk intens. “Aku bisa saja melarangnya, tapi Luhan terlalu sering memaksaku untuk menurutinya.”

“Pukul saja dia.” ucap Sehun kembali membuatku tergelak. “Aku serius.” imbuh Sehun dengan nada serius.

“Iya iya. Aku tahu kau serius.” kataku mengiyakan.

Beberapa detik kami berdua sama-sama terdiam.

“Injung-ah…”

“Ya?”

Sehun tiba-tiba saja menarik wajahku, menciumku. Tidak seperti ciuman Luhan yang selalu tiba-tiba dan memaksa, ciuman Sehun lebih terasa tulus, dan membuatku tanpa menunggu lama membalas ciumannya.

Dan juga… tidak seperti saat bersama Luhan, aku berusaha menghentikan ciuman nya, tapi saat bersama Sehun… rasanya aneh, seolah… aku tidak ingin momen ini berakhir.

“Baiklah, sepertinya kalian berdua tidak memilih tempat yang lebih pribadi.”

Ucapan itulah yang menghentikan ciumanku dan Sehun—yang sudah berlangsung entah berapa detik. Kami sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Chanyeol.

“Bagus sekali. Kau datang di momen yang tepat.” ucap Sehun, terdengar nada menyindir dalam suaranya.

“Dia memang menyindirku Injung, kalian bisa melanjutkannya di kamar saja.” ucap Chanyeol, mengerling ke arah Sehun.

Mwo!?” kataku terkesiap, melemparkan pandanganku ke arah Sehun.

“Tidak tidak. Aku tidak akan melakukannya sebelum kita terikat secara resmi. Aku tidak berpikiran pendek seperti Chanyeol.” ucap Sehun.

Aku segera menatap Chanyeol dengan kesal.

“Apa salahku? Wajar saja kan jika laki-laki berpikir seperti itu?” ucapnya.

“Bodoh.” umpatku kesal sambil kemudian beranjak untuk berdiri.

“Setidaknya ucapanku tadi membuat kalian terhenti. Coba tidak? Kalian mau berciuman sampai kapan?” ucap Chanyeol.

“Diamlah!” bentakku pada Chanyeol sambil melangkah menjauh.

“Bagus sekali. Sekarang aku yakin dia tidak akan mau melakukannya lagi. Kau sangat baik, Park Chanyeol.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baiklah. Aku masih menyimpan pertanyaan atas pertengkaran yang terjadi antara Chanyeol dan Luhan. Karena saat itu aku ingat salah satu dari VPGN itu—entah siapa, Baekhyun atau Sehun, aku lupa—bicara bahwa memberitahuku tentang alasan pertengkaran itu akan menambah masalah Chanyeol.

Mereka bertengkar tentangku bukan? Dan sangat wajar jika aku ingin tahu alasannya. Tidak satupun dari mereka yang mau memberitahuku tentang alasannya, jadi aku harus mencari tahunya sendiri. Ayolah. Memangnya sejak awal aku tahu tentang keberadaan VPGN itu aku tidak mencarinya sendiri?

Aku mencarinya di internet! Astaga. Heran sekali bagaimana aku masih bisa ingat dengan jelas saat-saat itu. Saat-saat yang aneh ketika aku akhirnya bisa menjadi seseorang yang tidak-terlalu-anti-sosial. Baiklah. Setidaknya hal ini berefek baik padaku karena aku tidak harus pindah sekolah lagi. Aku tidak tahu sekolah mana yang bisa menampungku dengan catatan kriminal-sekolah sebanyak itu.

Tsk. Penyesalan selalu datang terakhir.

Itulah yang terjadi padaku sekarang.

Menyesal karena tidak pernah jadi siswi yang baik. Oh. Chakkaman. Jika aku dulu jadi haksaeng yang rajin dan baik aku tidak akan bisa bertemu dengan VPGN ataupun A-VG itu kan? Baiklah. Satu poin positif untuk kenakalanku.

Poin kedua adalah, jika aku jadi anak yang baik. Mungkin aku tidak akan bertemu dengan Eomma ku, atau Ahri. Poin ketiga, mungkin aku tidak akan jadi seseorang yang dipercaya untuk menyimpan kehidupan orang lain.

Bagus. Tiga poin.

Sisi buruknya?

Poin pertama, aku akan kesulitan melanjutkan sekolahku.

Poin kedua, aku kehilangan dua orang yang kusayangi. Nenek dan Jaekyung Unnie. Poin ketiga, aku terpaksa harus menghadapi kehidupan yang sangat aneh dan membingungkan juga menegangkan dan tidak tenang sama sekali.

Adil.

Aku bertemu dua orang yang kusayangi, keluargaku, tapi aku kehilangan dua orang juga. Dan setidaknya… karena aku disini, Baekhyun dan Kyungsoo bisa mengingat kembali masa lalu mereka. Keberadaanku disini tidaklah begitu merugikan, bukan?

“Lee Injung!”

Aku segera tersadar dari lamunanku.

“Oh?”

Kenapa seonsaengnim dengan anehnya muncul dan mencariku? Apa mungkin ini karena—

“Ke ruang konseling. Sekarang.”

Ndeseonsaengnim.”

Ya. Beginilah aku. Secara intens masuk ke ruang konseling. Tunggu. Kasus apa yang aku lakukan? Aku berbuat baik beberapa minggu ini! Dan bahkan tidak membolos tanpa alasan! Dan aku tidak bertengkar. Atau terlambat. Ish

“Duduklah.” ucap seonsaengnim.

Aku duduk dan memandang seonsaengnim bingung.

“Apa aku melakukan pelanggaran?”

Seonsaengnim tersenyum.

“Senang melihatmu jadi lebih baik seperti ini. Kurasa kau cocok dengan sekolah ini. Iya kan Injung?”

“AAh… Nde seonsaengnim.”

“Kulihat kau punya banyak teman sekarang. Walaupun membolos masih jadi masalah utamamu, setidaknya kau tidak berkelahi lagi… Atau membolos saat pelajaran.”

Aku tersenyum kaku.

“Aku turut sedih soal nenek dan saudaramu…”

Seketika itu juga aku diam. Rasa sesak kembali menyelimuti dadaku. Tidak Injung. Tidak boleh menangis. Tidak disini.

Gomawoyo seonsaengnim…”

“Bagaimana kehidupanmu sekarang? Dimana kau tin—”

Seonsaengnim!”

Aku berbalik, terkesiap melihat beberapa orang siswa di ujung pintu.

Mwo!? Kalian tidak punya tata krama!?” bentak seonsaengnim kaget.

“Ada perkelahian di belakang sekolah!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hanya satu Jiwa yang tersisa. Jiwa milik Sehun.

Kai di serang oleh A-VG itu. Keenamnya! Entah kenapa Luhan bisa ikut muncul. Apa ini yang di maksud Baekhyun dengan perang sudah dekat? Entah. Yang jelas melihat keadaan Kai sekarang sangat menyedihkan.

“Kau tidak tahu bagaimana mereka berusaha membekukanku atau melemparku kesana kemari…” ucap Kai bercerita.

Ia sudah tahu kekuatan enam orang itu. Dan wajah mereka. Kai hanya belum tahu nama-nama mereka. Tapi satu hal yang aku tidak mengerti. Kenapa mereka menyerang Kai bersama-sama? Ish. Dan menyerang di sekolah. Membuat kami semua, termasuk Aku dan Ahri harus menunggui Kai di—

Sial. Inilah tujuan nya.

“Injung-ah, Gwenchana?” tanya Ahri.

Aku diam. Berusaha merasakan feeling buruk itu. Benar. Feeling ini… saat Luhan mengawasi… Bodoh… Seharusnya aku sadar dari tadi.

“Dia sudah tahu kau terlibat.” ucap Baekhyun.

“Aku tahu.”

Aku berbalik. Melemparkan pandangan ke ujung koridor. Benar. Luhan disana. Bersama Yixing. Dan tatapan kami bertemu…

Mianhae, Luhan-ah. Aku tidak—tunggu. Bukankah Luhan yang seharusnya meminta maaf? Dia yang menyerang teman-temanku—bisakah kusebut mereka semua sebagai temanku? Tapi… Tidak. Hubunganku dengan Luhan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.

Kami hanya berkenalan dengan cara yang tidak tepat. Dan bertemu kembali di saat yang tidak tepat. Baiklah. Ini alasan yang bagus.

“Baguslah dia sudah tahu. Dia tidak akan berani mendekatimu lagi.” ucap Sehun, aku mengenali suaranya.

Aku mengalihkan pandanganku dari Luhan. Kembali serius pada keadaan yang sekarang kuhadapi. Masih ada hal aneh yang belum terjawab. Ayolah. Sekarang ada dua hal aneh yang belum terjawab. Oh! Tidak tidak. Empat hal. Baiklah. Beserta dua hal yang sangat rahasia itu.

“Apa hal sangat rahasia itu huh?” tanya Sehun.

“Sangat rahasia. Tidak ada satupun dari kalian boleh tahu.” kataku.

Sehun menyernyit.

“Aku akan mencoba untuk mencari tahu.”

“Coba saja.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Untuk kedua kalinya sejak kedatanganku ke tempat ini. Aku mematung menatap search engine di depanku. Membaca akan memberi pengetahuan kan? Baekhyun mengatakan seperti itu. Kurasa ia benar. Tapi aku akan mencari apa? Apa yang ingin kucari?

Jiwa VPGN.

Aku mencoba mengetik di search engine.

Baiklah. Ada banyak. Kurasa aku harus mencari yang ada hubungan nya dengan—oh! Dapat! Pemisahan Jiwa VPGN.

Pemisahan Jiwa di lakukan dengan melindungi sebagian Jiwa dari VPGN di dalam inang. Bisa benda mati. Atau benda hidup. Lebih sering di lindungi dengan menyembunyikan sebagian Jiwa itu di dalam benda mati. Karena inang yang hidup, akan menyerap kehidupan lain saat Jiwa itu berpindah kembali ke pemiliknya.

Apa maksudnya?

Saat Jiwa kembali ke pemiliknya. Jiwa itu membutuhkan satu kehidupan untuk membuat pemiliknya hidup. Biasanya Jiwa inang itu lah yang akan di ambil. Tapi jika satu inang menyimpan lebih dari dua Jiwa, maka Jiwa itu akan menghisap aura orang di dekat inang itu, dan mengambil kehidupan orang tersebut sebagai pengganti kehidupan inangnya.

Tunggu… Ini…

Saat Kyungsoo di serang… Jiwanya di kembalikan…

Saat Chanyeol di serang saat aku menyusul Baekhyun…

Lalu Suho…

Lalu Baekhyun…

Dan sekarang Kai.

Aku dan Ahri sama-sama menyimpan lebih dari dua Jiwa. Artinya… Jiwa itu akan mengambil kehidupan orang di sekitarku dan Ahri sebagai pengganti kehidupan ku.

Jaekyung Unnie… Pembantu Ahri…

Mungkinkah mereka? Pengganti Jiwa Kyungsoo dan Chanyeol?

Tapi Chanyeol juga kecelakaan bukan? Padahal dia VPGN. Dan dia juga—dia dekat dengan Ahri! Chanyeol hampir setiap hari datang ke rumah Ahri!

Benar. Chanyeol sebagai pengganti kehidupan Suho. Tapi karena dia VPGN, dia tidak bisa mati. Baiklah… Halmeoni… Itu artinya Halmeoni meninggal karena mengganti kehidupan Baekhyun?

Lalu… penyerangan Kai…

Akan mengambil satu nyawa lagi.

Siapa? Siapa yang dekat dengan Ahri? Dia beberapa minggu ini selalu bersama dengan kami. Apa salah satu dari kami? Atau mungkin Sehun? Atau… Aku? Kami tinggal serumah beberapa hari ini.

Tidak… Tidak boleh ada yang terbunuh lagi.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku duduk dengan kaku di sebelah Luhan. Ia tampak diam. Hampir tidak menganggapku ada. Semuanya berjalan seperti dulu. Sehun dan Kai keluar dengan intens setiap dua jam. Dan aku sendirian. Sendirian? Tentu. Karena Luhan tidak sedikit pun bicara padaku. Aku yakin ia benar-benar tahu bahwa aku terlibat.

Aku melemparkan pandanganku ke arah Luhan. Sangat rindu mendengar suara kekanak-kanakkannya. Atau melihat tingkah lakunya. Dan melihat senyumnya. Hal yang tidak kulihat beberapa hari ini.

Dan juga, belum ada tanda-tanda nyawa terancam disini. Jika Jiwa Kai mengambil kehidupan VPGN. Mungkin salah satu mereka akan menjadi seperti Chanyeol saat itu. Tapi setidaknya mereka masih bisa bertahan hidup.

Tapi jika nyatanya Jiwa itu ingin mengambil nyawaku? Bagaimana? Aku kan—

Aku terkesiap saat merasakan sejuk secara bersamaan di pergelangan tangan, leher, dan pergelangan kakiku. Jiwa ini melakukan kontak denganku. Ah. Mereka pasti tahu kegelisahanku yang seperti ini.

Tunggu. Tiga Jiwa masih ada padaku—dengan satu Jiwa utuh milik Sehun—dan kurasa… Jiwa ini akan melindungiku. Aku yakin itu. Entah dengan alasan apa dan dasar apa. Aku hanya percaya mereka akan melindungiku seperti caraku melindungi mereka.

Aku memandang Luhan—entah untuk keberapa puluh kalinya di hari ini—dan ia masih tampak mengabaikanku. Rasanya bibirku begitu ingin bicara padanya. Walaupun satu kata. Aku ingin ia bicara… sebelum keadaan disini berubah menjadi kacau dan mengerikan.

KRIIIIINNNGGG!

Luhan segera membereskan mejanya. Dan aku? Aku bahkan tidak mengeluarkan satu benda pun dari tas ku. Aku hanya melamun dan berpikir sepanjang pelajaran. Jadi, aku hanya perlu menjinjing tasku dan berjalan keluar kelas. Seperti yang sekarang sedang kulakukan.

Aku terhenti. Berbalik memadang Luhan.

“Aku pulang dulu… Luhan-ah.”

Entah pikiran apa yang membuatku dengan nekad berani bicara padanya. Aku segera berbalik, melangkah meninggalkan kelas itu. Dan tanpa sengaja aku memandang Luhan dari luar jendela. Ia tengah menatapku, dengan tatapan Luhanku. Bukan Luhan sebagai sosok lain. Tapi Luhan yang kukenal.

Gidaryeo—tunggu—!”

Aku terpaku. Dia bicara… padaku. Ucapan yang sangat sering di ucapkannya… Aku hanya mematung di tempatku saat melihat Luhan berlari keluar kelas, menyusulku.

“Ayo kita pulang bersama… Injung-ah.” ucap Luhan, tersenyum padaku meski batin ini kini meronta saat melihat senyumannya.

Apa aku bisa melihat ia tersenyum seperti itu lagi padaku nanti?

Aku tidak menjawab apapun. Tapi toh aku melangkah mengikutinya. Kami diam. Sepanjang jalan keluar sekolah. Kami sama-sama diam.

“Aku rasa ini terakhir kalinya kita pulang bersama…” ucap Luhan.

“Terakhir kalinya juga kita bicara?” tanyaku.

Luhan memandangku.

“Aku benar-benar tidak menyangka kau ada di pihak mereka… Selama ini kukira kau tidak tahu apa-apa Injung-ah…”

“Luhan-ah. Kau tidak harus—”

Gwenchana. Aku hanya perlu melenyapkan mereka semua, lalu mengambilmu kembali. Dengan begini aku semakin bersemangat untuk melenyapkan mereka… Karena mereka berhasil menculik Injung dariku.”

Aku menatap Luhan. Tidakkah ia tahu bahwa aku sangat menginginkan VPGN itu untuk tetap hidup?

“Apa kau harus benar-benar melenyapkan mereka?”

Langkah Luhan terhenti.

“Itu adalah tugasku.”

Aku memandang Luhan. Lama.

“Tidak bisakah takdirnya berubah? Apa semua VPGN harus di lenyapkan? Apa tidak bisa untukmu untuk tidak melenyapkan mereka?” desakku.

Luhan tersenyum.

“Kau masih cerewet dan suka menanyakan banyak hal seperti dulu…”

“Kau tidak menjawab satupun pertanyaanku.” ucapku gusar.

Senyum di wajah Luhan lenyap.

“Apa ada Jiwa yang mereka sembunyikan padamu?”

Jantungku segera terpompa lebih kencang.

“Berikan padaku, Injung-ah. Aku tidak mau salah satu dari temanku melukaimu. Dan aku… tidak mau melukaimu di saat perang itu terjadi.” Luhan melangkah mendekatiku, membuatku dengan segera bergerak menjauhi Luhan.

“Kau bahkan sudah melukaiku sejak tujuh tahun yang lalu… Luka yang sekarang kau tambah dengan luka baru.” aku berucap, berhasil menghentikan usaha Luhan untuk menggapaiku.

Ia kini bergeming, menatapku penuh arti.

“Aku tidak akan menganggapmu salah satu dari mereka Injung-ah. Kau tetap Injung kecil yang aku kenal…”

Aku tersenyum tipis.

“Sayangnya, Injung kecil yang kau kenal berbeda dengan Injung yang kau temui sekarang, Luhan. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tidak berubah menjadi sosok yang berbeda.” kataku.

“Maafkan aku…”

“Senang bisa bicara denganmu, Luhan. Aku harap kita bisa bicara lagi lain kali. Saat keadaannya berubah jadi lebih baik. Saat aku masih bisa bertemu dengan teman-temanku.”

Aku melangkah meninggalkan Luhan. Aku tidak ingin menangis di hadapan Luhan. Tidak ingin ia tahu bahwa aku terluka…

“Injung-ah!”

Aku menghentikan langkahku. Tidak berbalik. Tapi Luhan menarik bahuku untuk berbalik, merengkuhku ke dalam pelukannya yang membuat dadaku sesak, aku tahu ini pelukan terakhir kami.

Lembut, jemari Luhan menyapu pipiku, tersenyum dengan cara yang paling kusukai dan kurindukan, sebelum ia menyarangkan sebuah kecupan hangat di dahiku. Bukan ciuman penuh paksaan, atau ketulusan, tapi sebuah kecupan yang sarat akan luka.

“Aku menyayangimu… Kau harus tahu aku sangat menyayangimu…” suara Luhan bergetar, aku tahu ia bersungguh-sungguh tentang ucapannya. Aku juga tahu bagaimana tulusnya perasaanku pada Luhan.

Tapi tidak begini.

Tanpa sadar air mataku mengalir. Kata-kata yang baru saja kudengar mungkin sangat di harapkan gadis manapun dari sosok yang selalu ada di hidupnya. Tapi tidak di saat ini… saat kami sudah tidak bisa bersama seperti ini…

Perlahan, aku menjauhkan jemari Luhan dari tubuhku, melepaskan tiap kontak yang ada hingga aku sadar aku ingin menyentuh jemarinya lagi, aku tak ingin perpisahan seperti ini. Aku tak ingin dipisahkan dengannya.

Aku menginginkan Luhan.

Tapi aku harus mengambil keputusan.

“Kau pasti tahu, bagaimana perasaanku padamu, Luhan-ah. Tapi Luhan yang kusayangi… Bukan Luhan yang ingin membunuh temanku.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

SIAPA YANG DARI KEMARIN MINTA MOMEN SEHUN-INJUNG? SIAPA? SINI TUNJUK KOMEN.

MAU PAMER DONG KALO AKHIRNYA DI SATU POSTER ITU SEHUN LUHAN SAMA CAKEPNYA, SAMA-SAMA GODAIN IMAN PERAWAN.

Aku ini pengen bercuap-cuap dengan berlebihan tapi maap-maap aja karena chapter ini penuh kebaperan akibat kissingnya Sehun-Injung dan perpisahan Luhan-Injung jadi biarlah aku bercuap-cuap lain kali aja.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

231 tanggapan untuk “KAJIMA – Slice #16 — IRISH`s Story”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s