[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] – Regret(s)

REGRET(S)

(special fic /again/ for the April-birthday-boy <3)

 superthumb.png

vignette by hyeonMP

starring EXO’s Luhan | supporting EXO’s Byun Baekhyun

rated PG-13 | angst, brothership, family

disclaimer | fic ini adalah special-fic untuk merayakan ultah Luhan, I only own the plot

.

.

.

Dan di dua puluh april terakhir dalam hidupnya ini—Luhan menyesal’

.

.

.

.

.

.

.

 

 


 

20 April 2002

 

Luhan terdiam. Berjuta sel sarafnya menegang, tak mampu dilalui hantar rangsang dengan baik. Kedua tangan terkepal di pangkuan, mata memandang dua orang dewasa di depannya. Sepasang suami-istri itu masih tenggelam di alir konversasi dengan orang dewasa lain di sisi kanan Luhan—yang dipanggilnya ‘Bibi Peri’ kendati sudah berumur lebih dari setengah abad.

Luhan masih dua belas tahun, dirinya tak punya minat untuk ikut larut ke perbincangan itu, pun tak ada niat untuk mengerti arti kalimat-kalimat mereka. Namun dari rumor yang tersebar ke seluruh penjuru panti asuhan maupun pemandangan sama yang sering dilihatnya terjadi pada anak lain, Luhan sudah dapat menarik satu konklusi simpel—dia diadopsi.

“Nah, sekarang kita tanya Luhan dulu.”

Lamunan kecil Luhan lantas dibuyarkan oleh suara serak Bibi Peri. Yang sedari tadi tak punya arah pandang yang jelas, netra Luhan kini tertuju pada gurat wajah pemilik panti asuhan itu.

“Semuanya terserah kamu, Luhan. Luhan mau diadopsi, tidak? Disini ada calon ayah dan ibu yang sangat baik, bisa mengantar Luhan ke sekolah setiap hari. Oya, kemarin Luhan bilang ingin bola baru? Nanti ayah dan ibu ini akan membelikannya untuk Luhan.”

Tutur panjang itu menautkan kembali pola pikir si anak. Luhan tidak tahu pasti yang diinginkannya. Dia tentu ingin bola baru dan diantar ke sekolah, tapi bukankah itu kata lain untuk tidak bisa bertemu Bibi Peri lagi? Apa akan menyenangkan? Nah, jangankan Bibi Peri. Luhan tidak akan bisa bermain dengan Jongin, Yixing, Seokjin, dan, oh, Baekhyun pula tentu saja.

Omong-omong soal Baekhyun, tiba-tiba saja atensi Luhan teralih. Tidak ada lagi bayangan senang dan sedih yang akan dirasakannya dengan orang tua baru. Memori Luhan melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu, dimana Baekhyun—karibnya paling dekat—mengatakan hal yang entah kenapa membuat Luhan sakit hati. Dia tahu Baekhyun suka sekali bercanda, tapi Bibi Peri pernah bilang bahwa semua ada batasnya, tidak boleh berlebihan. Final, Luhan pun berpikir bahwa dia berhak sakit hati dan marah pada Baekhyun. Luhan masih kecil, tidak tahu arti kata dendam, tapi yang jelas dia ingin membuktikan bahwa ucapan Baekhyun tidak benar.

“Aku mau, Bibi Peri.”

Dan dengan itu kedua orang dewasa di depan Luhan mengulum senyum bahagia, begitupun Bibi Peri—mengabai pada titik air nuansa haru yang keluar dari ujung matanya.

 

 

“Luhan? Benar tidak mau pamit Baekhyun dulu? Nanti kamu menyesal, lho.”

Saat itu Luhan belum sekalipun mengenal kata menyesal. Seingatnya Bibi Peri tidak pernah mengajarkan kosakata buruk, dan itu berarti kata menyesal adalah hal buruk. Kesimpulan singkat itulah yang menjadi anutan Luhan untuk menganggukkan kepalanya pelan.

 

 

“Luhan tidak akan pernah diadopsi. Buktinya, dia yang sudah tinggal di panti sedari bayi, tapi sampai sekarang belum teradopsi juga, kan. Aku pasti akan diadopsi dulu, jadi jangan sedih, ya, kalau aku nanti mengucap selamat tinggal duluan kepada kalian, termasuk kamu, Luhan.”

 

 

 

 

20 April 2007

 

Dua binar cokelat Luhan meminggir, tilikannya menuju ke sosok wanita usia empat puluhan yang sedang berjalan ke arah ia duduk. Menyadari itu, cepat-cepat ia selesaikan roti selai yang diapit jari-jarinya dalam sekali lahap, lantas berdiri dan menenggak segelas susu vanilla secepat kilat.

“Luhan? Pelan-pelan, Nak.”

Sudah cepat-cepat, pun, Luhan masih keduluan wanita itu sampai di sebelahnya. Dia menepuk-nepuk punggung Luhan pelan, membantu Luhan menelan makanannya. Namun bukannya senang, putra angkat berumur tujuh belas tahunnya itu justru menyingkirkan tangannya. Mengabai pada alasan tata krama, Luhan segera menggerakkan tungkai untuk menghindar dari si sosok ibu.

“Luhan! Sebentar, kemarilah dulu. Ibu ingin berkata sesuatu.”

Namun Luhan tetaplah Luhan yang teguh pendirian. Raung panggil dari ibunya tak seinci pun menggeser sifat keras kepala itu.

 

 

Suara nyaring dari pita suara Bu Ahn menggema di ruang kelas Luhan, mengais tiap atensi anak muridnya agar tetap fokus. Tak ada cercah lain yang menemani, hanya penjelasan membosankan (bagi Luhan) dari guru biologi itu. Luhan mengetuk-ngetukkan pensil ke atas buku tebalnya—agar tidak menimbulkan kebisingan. Dia bosan, kesal, mood-nya rusak, dan bingung.

Well, bingung. Luhan tak biasanya begini. Dia tahu dia mengabaikan presensi ibu angkatnya itu hampir setiap saat, tapi hari ini ada perasaan  yang mengganjal di palung benaknya, tak mau menunjukkan pun menghilangkan diri. Khawatir? Ehm, it sounds weird, man. Maksudnya, kenapa juga Luhan harus khawatir? Dia bersikap seperti itu bukan tanpa alasan juga, toh. Memang nampaknya Luhan seperti seorang anak durhaka yang tak tahu terimakasih—sudah diadopsi, tapi sikapnya seperti itu. Tapi ibu dan ayahnya sendiri memang bagaimana? Berangkat dan pulang kerjanya saja Luhan tak tahu kapan. Seminggu sekali sudah termasuk frekuensi tertinggi mereka menginjak lantai rumah mansion itu. Apalagi ibunya, yang dilihat Luhan dari beliau hanyalah jiwa seorang entertainer yang sekali naik ke panggung akan menampu berjuta-juta won banyaknya. Hah, membicarakan pekerjaan ibunya tak akan berujung. Sangat tidak penting, pula.

“Apakah siswa yang bernama Luhan masuk?”

Nah, Luhan kebanyakan melamun. Ketika ia menengadah, berbelas pasang mata sudah menunjuk ke arahnya—termasuk guru perempuan yang berada di ambang pintu.

“Saya?”

Melihat Luhan menunjuk dirinya, guru itu menengok ke Bu Ahn sebentar sebelum mengulas senyum pada Luhan.

“Ayo, ikut saya sebentar, ya, Nak.”

Luhan hanya menurut, berdiri mengikuti guru piket itu kendati sebuncah perasaan tak menyenangkan tetap bersarang di benaknya.

 

 

Luhan tak tahu apa yang dilakukannya kini—duduk di kursi tunggu rumah sakit bersama ayahnya yang berdiri menyandar ke dinding serba putih itu. Kedua tangan terkepal di pangkuan—terasa klise, kecuali tatap yang ia jatuhkan ke lantai berbau obat-obatan. Pikirannya campur aduk, penat, penuh bayang tak tentu. Sedih atau cemas, takut atau kalut, Luhan pun tak tahu yang mana. Yang jelas, keberadaannya di sini tidak sia-sia. Segala kekhawatiran dan rasa bersalahnya pun punya sebab. Terlebih saat sesengguk pelan dari ayahnya mengingatkan Luhan akan sebab itu—menunggu otopsi mayat sang ibu.

“Ibumu mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Belum tahu apa penyebab kecelakaannya, tapi masih diselidiki dan mayatnya sedang diotopsi. Ayahmu menelepon dan memintamu untuk segera pergi ke rumah sakit.”

Luhan menutup kelopaknya, ingin menangis saja sekeras-kerasnya agar berbagai perasaan tak jelas yang mengganggu hatinya segera hilang. Namun entah kenapa, setetes air mata tak kunjung meleleh dari iris gelap itu.

“Ibumu….,”

Terdongak, Luhan mendapati suara teriris itu datang dari ayahnya—meski beliau masih tak kuasa mengunci kontak mata dengan Luhan.

“Dia hanya ingin, hanya…”

Sengguk tangisnya muncul kembali—sepertinya sudah susah payah ditahan dari tadi untuk berbicara.

“Dia membatalkan semua jadwalnya, Luhan. Tapi kamu tidak sepatah pun menganggap perkataannya. Dia kecewa berat, merasa sepenuhnya gagal menjadi ibu.”

Luhan tak tahu, tak bisa berpikir, hanya ingin menyimak pernyataan ayahnya dengan benar.

“Dia…., hanya ingin merayakan hari ini, Luhan. Ulang tahunmu, sekaligus hari dimana kamu diadopsi.”

Luhan terjingkat, tak menyadari tanggal yang tertera di kalendernya. Sudah jelas sekarang, 20 April.

“Tapi kamu malah menandainya sebagai hari kematian ibumu.”

 

 

 

 

20 April 2012

 

“Sudah, ya, aku pergi dulu.”

Luhan menatap punggung perempuan lawan mainnya di film terbaru itu menjauh, menuai beberapa langkah hingga sampai di meja lain. Inginnya segera mengalihkan pandang, tapi tak tahu juga kenapa netranya masih ingin lekat ke sana. Meja disana bersuasana berbeda dengan yang ia duduki, sangat berbeda. Rekan-rekan aktor dan aktris Luhan tengah menggelar konversasi ringan di meja itu, tertawa renyah tanpa beban, meninggalkan presensi tak teranggap miliknya di sini. Sebenarnya Luhan tak akan merasa diabai hanya jika salah satu dari sekelompok manusia itu tidak ada. Orang itu, yang bersurai cerah, bermata sempit, berjari lentik bak perempuan, yang figurnya terlampau familiar bagi Luhan.

“Baekhyun!”

Sebuah panggil—yang tidak ditujukan padanya—sedikit mengusik lamunan Luhan, namun juga menjawab pertanyaan tentang siapa figur familiar itu. Nah, sekarang ornag-orang itu tampak semakin ria ketika sang produser mengambil salah satu kursi di sana. Luhan hanya mendengus pelan. Seingatnya ia masih memegang peran utama kedua setelah si perempuan tadi—atau paling tidak tetap lebih tinggi kedudukan daripada Baekhyun—tapi produser yang memohon-mohon pada Luhan beberapa bulan lalu itu sekarang benar-benar lupa diri, atensinya sudah lepas kemudi dari kuasa Luhan.

Luhan menelengkan kepala—melepaskan tatapan dari gerombol orang di meja bar seberang. Ditatapnya sepotong kue ulang tahun dari fans yang terpampang di mejanya. Luhan tak tahu—untuk kesekian kali. Pikirannya kosong, blank. Hari ini 20 April, hanya itu yang diingatnya. Memori-memori lain, Luhan tidak ingin mereka datang lagi ke alir sarafnya. Jemari kanan Luhan membuat kontak dengan sebilah pisau kecil yang tergeletak di piring kuenya. Untuk apa? Luhan blank, sudah dibilang. Tahu-tahu, benda tajam itu sudah diangkatnya ke depan obsidian. Luhan mendalamkan tatapannya, mengobservasi ketajaman si benda yang tampak mengilap. Setengah, hingga satu menit. Tak ada hasilnya. Well, siapa yang bisa tahu setajam apa pisau hanya dengan melihatnya? Luhan penasaran—masih blank. Ingin tahu, entah apa. Luhan tak tahu sejak kapan, tapi permukaan dingin si pisau sudah mencium kulit pergelangan tangannya. Kuriositas Luhan tak kunjung terobati. Jari-jari yang mengapit pisau tergerak untuk mendorong benda itu lebih jauh—merobek kulit arinya. Perih, tapi hanya sedikit. Luhan ingin melihat benda merah—

“Luhan!”

Belum sampai ditusukkan ujung tajam pisau itu lebih dalam, kedua pergelangan Luhan tiba-tiba ditahan oleh milik orang lain. Luhan mendongak. Kendati tatapannya kosong, ia tahu bahwa orang yang berada di depannya adalah Baekhyun.

“Apa kamu sudah gila? Kamu ini kenapa?”

Baekhyun berteriak sarkastis, sudah seperti ada aksi bunuh diri. Luhan mengelak, masih penasaran bagaimana rasanya jika darah dari pembuluh arterinya mengalir keluar.

“Bisa lepaskan aku?”

“Lepaskan bagaimana jika kamu mau bunuh diri?”

Luhan berdecak keras. Baekhyun masih keras kepala dan suka mengganggunya—tidak berbeda dari yang dulu. Luhan tak mengerti, tapi dia tak suka diganggu. Pisau masih di genggaman, tak sungkan Luhan membuatnya menyentuh tangan Baekhyun yang menggenggam kuat miliknya.

“Argh!”

Luhan bisa mendengar pekik sakit Baekhyun, namun tindakannya belum cukup, dibuktikan oleh pegangan Baekhyun padanya yang belum runtuh.

“Luhan!”

Luhan menggerakkan tangannya lagi, melukis garis merah lain di lengan Baekhyun.

“Tck!” Baekhyun mendesis keras. Luhan menatapnya.

“Sakit? Makanya, lepaskan aku.”

“Lalu kamu mau bunuh diri setelah kulepaskan? Kamu sudah gila, Luhan!”

Iya, Baekhyun memang benar. Luhan juga merasa itu benar. Dirinya sudah gila, Luhan tahu. Terlebih saat detik berikutnya Luhan kembali membuat sumber keluar darah dari tubuh Baekhyun lebih banyak. Beberapa kali, hingga Baekhyun terkapar di lantai bar tanpa napas atau teriak sarkastis lagi. Luhan melihat orang-orang yang tadi hanya menonton kini mendekat, menolong Baekhyun maupun menatapnya nanar—dan saat itu Luhan sadar.

 

 

 

 

20 April 2016

 

Luhan menatap kosong belasan anak tangga di bawah kakinya. Melempar sebotol tanpa tutup minyak tanah pemicu api ke lantai di sana, Luhan menceloskan hembus napas pasrah. Luhan berhitung. Empat belas, sembilan, dan terakhir empat tahun lalu. Di tanggal yang sama, berturut-turut.

Luhan selalu bilang tak akan menyesal dalam relung hatinya, tapi tidak terkabul. Luhan selalu memproklamirkan dia baik saja, namun tak berakhir demikian. Di umur dua belas, Luhan diadopsi. Tanpa pikir panjang, tanpa pikir penyesalan, ia mengangguk dengan ucap Baekhyun diacunya. Itu kesalahan, tak begitu besar, tapi penyebab hal besar lain. Bertahun-tahun dia hidup bersama keluarga baru, saat itulah, untuk pertama kali dalam hidupnya Luhan menyesal. Kenapa dia harus menerima untuk diadopsi hanya akan alasan tak masuk akal? Luhan menyesal.

Puncak penyesalan Luhan berturut pada tanggal yang sama, di ulang tahun ke tujuh belas. Dia menyesal sudah diadopsi, tapi pada hari itu Luhan lebih menyesal telah mengabaikan ibunya. Tanggal itu pun menyimpan kenangan pahit baru—ibunya meninggal.

Luhan berpikir tidak ingin menyesal lagi setelah itu, namun penyesalan pertamanya muncul kembali. Entah darimana datangnya Baekhyun menghampiri, mencetuskan ide gila lain ke serebrum Luhan. Saat itu Luhan tidak tahu dan tidak mau tahu, hanya ingin penyesalannya segera berakhir—namun ternyata Luhan justru melukis penyesalan baru—dia membunuh Baekhyun.

Luhan mendengus kasar. Dia tidak mengerti kenapa dua puluh april-nya dilakoni untuk menyesali dua puluh april sebelumnya. Luhan muak, ia ingin semuanya berhenti. Penyesalan—kata-kata itu sudah terlalu lama bersarang di benaknya. Luhan ingin tidak ada penyesalan lagi, ia terlampau lelah.

Selesai dengan pikiran dalamnya—membuatnya semakin yakin atas keputusan terakhir ini—Luhan menyalakan korek api di genggaman. Ditatapnya api kecil itu, ia ingin apinya menjadi besar. Luhan pun melemparkannya ke bawah—dimana dia menyebarkan minyak tanah tadi. Dalam sekejap, apinya membesar—membuat Luhan mengernyit kepanasan.

Luhan pun tersenyum, bersiap untuk menggulingkan diri dari tangga teratas ke lantai berkobar di bawah. Dia yakin tak akan ada penyesalan lagi setelah ini—

—setelah dia mati.

 

 

-fin

.

.

.

A/N : akhirnya selesai juga >< fiuuh, untung engga lebih dua ribu kata, hehe ^^ makasih buat yang udah baca, meskipun fic ini artinya engga jelas -_- hyeon lagi bener-bener butuh inspirasi, lihat aja fic yang ‘transitory’ itu /dipos di exoffi juga/ yang baca pada engga ngerti -_- dan hyeon sendiri juga engga ngerti -_- ya sudahlah, hyeon berharap fic ini masih bakal ada yang baca dan mengerti maksudnya :3 sekali lagi makasih, drop comments guys ^^

.

.

Kindly check my personal blog

https://hyeonmp.wordpress.com/

3 tanggapan untuk “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] – Regret(s)”

  1. cukup menyedihkan. gaya bahasanya ringan jadi mudah dipahami trus enak dibaca lah. salut ama ide ceritanya yg menurutku sebenarnya cukup berani ya karena secara ceritanya yg seharusnya di hari ulang tahun tuh harusnya indah gitu ya, tapi ini kebalikannya. emang sih nggak semua ulang tahun berakhir indah tapi ya.. kembali lagi deh. ini idenya dapet banget ko ^^

  2. hah. depressing. tapi moral lessonnya nyampe kok walaupun ya kudu hati2 bacanya.
    tapi yg aku suka dari fic ini tuh ya krn kepribadian luhan yg agak twisted, terus ya BAEKLU AKU LEMAH SAMA CRACKPAIR
    dan susunan kata2nya juga boleh, walaupun masih ada bbrp kata yg agak membingungkan. inti ceritanya ttp sampe tapi, dan feel sesalnya luhan itu bener2 kerasa.
    keep writing ya!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s