[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] – L

CB4mnSqUAAAFreJ.jpg

L

by Liana D. S. // Lu Han as Agent L, Wu Yi Fan (Kris) as Agent K, EXO Suho (Kim Joonmyun) as Agent J // Friendship, Sci-Fi, Men in Black!AU // <2000 words // Teen and Up

.

.

“Mereka masih berdebat tentang sesuatu, tak bisa lagi menyusulku. Aku sudah mulai mereboot sistem, membersihkan seluruh program yang tak perlu!” (Lu Han – That Good Good)

***

“Yaaah, hari ini panas sekali! AC-nya kurang dingin, J! Terus kau, K, apa kau tidak lihat tadi ada kakek-kakek yang barusan mendahului mobil ini? Menyetirlah lebih kencang!”

K, pria jangkung bersetelan hitam yang memegang kemudi, mengerang jengkel; tak pernah ia temui agen baru yang seserampangan pemuda bermuka kekanakan di jok belakang. Sementara itu, J si agen senior tampak kalem seperti biasa saat mengatur AC mobil; barangkali J memang tak punya emosi, cocoklah buat ‘mengasuh’ L si mulut besar itu. Sial, andai K bukan partner J, pasti cuma J yang akan diturunkan sebagai pengawas L di lapangan.

“Sumpah, aku masih tidak percaya wajahku bisa setampan ini! Jas ini pun sangat bagus! Hei, J,” L mencondongkan tubuh, “kalau beli jas macam ini di luar Men in Black, aku harus bayar berapa?”

“Fokus pada misimu, Agen L.” sahut K, menekankan kata ‘agen’ agar L yang masih bau kencur itu paham profesionalisme. Men in Black tidak menerima sembarang orang dan mereka yang sudah resmi bergabung mesti bekerja sebaik mungkin, sedangkan L—di mata K—kelihatannya cuma ingin bermain-main di luar markas.

L meleletkan lidah tak suka pada K, tetapi rautnya riang kembali ketika J menjawab:

“Sekitar 1 juta won.”

“1 juta won?! Keren! Aku benar-benar tak boleh merusakkannya!”

“Tak mungkin kau tak merusaknya. Kau tidak menyimak penjelasan J sama sekali soal misi kita, jadi pasti kau akan melakukan hal-hal liar seperti ketika kau masih dikurung dalam laboratorium.” tegur K, tidak sabar lagi. J, yang sebelumnya tak menggubris apapun tindakan K, jadi awas sekarang. Ia membekap K dengan satu tangan begitu menyadari iris mata L yang berubah keemasan.

“Sepertinya, kaulah di sini yang tidak memperhatikan instruksiku. Ada peraturan-peraturan yang tak boleh dilanggar pada misi kali ini, salah satunya adalah menyinggung masa lalu L. Paham?”

J melirik L yang, beruntung, sudah kembali stabil. Pemuda itu bersandar di jok belakang, kakinya disilangkan bak seorang penguasa. “Itu benar! Aku ini agen baru yang wajib diperlakukan dengan baik oleh para senior. Kalau kalian semena-mena padaku, aku akan melapor pada Z!”

Z, padahal, adalah pimpinan tertinggi Men in Black.

“Tenangkan dirimu, K. Dia merupakan kunci penting misi ini. Senangkan dia dan jangan guncang emosinya.” J menurunkan tangan dari mulut rekannya yang langsung megap-megap menarik napas dan protes.

“L boleh berbakat, tetapi itu tidak cukup untuk sebuah kerja sama tim. Dia bisa mengacaukan tugas jika apa yang diperbuatnya di luar komandomu,” K membelokkan Ford hitamnya menjauhi lalu-lintas padat, mengabaikan L yang masih mengoceh, “Menurutku, dia belum banyak belajar di kantor pusat sana.”

J mengetuk-ngetuk sisi pintunya, menimbang-nimbang. Ia kemudian menoleh pada L yang sedang ngambek.

“Apa?” salak L.

“Coba sebutkan tugasmu dalam misi ini.”

“Aku hanya harus diam menunggu sampai kalian menemukan pesawat ruang angkasa dari Planet Boglodotia yang diperkirakan akan mendarat setengah jam lagi. Kalau kalian sudah menghabisi semua Boglodite yang diangkut pesawat itu, barulah aku turun dan mengakses rencana penyerbuan mereka untuk pimpinan.”

“Bagus,” J lantas beralih pada K, “Dia paham tugasnya. Aku yakin dia tak akan berbuat di luar rencana.”

“Keyakinanmu bukan jaminan, J.”

“Oh, K, kenapa sih kau curigaan amat?” teriak L frustrasi, “Aku ‘kan sudah bilang, aku tidak akan berbuat macam-macam. Kau tahu betapa kuatnya aku; andai aku ingin memberontak, sudah dari dulu aku kabur dari fasilitas penelitian Men in Black, tau!”

L punya poin di situ, K akui. Ia harap L betul-betul tak punya niat untuk membantu musuh karena itu akan sangat merugikan mereka.

Ford berhenti di padang rumput luas, perbatasan Provinsi Gangwon dan Gyeonggi. Merasakan hentakan dari mobil yang direm, L membuka mata dan berpegang pada jendela mobil. Maniknya yang sewarna karamel membulat layaknya anak-anak yang kesenangan melihat pemandangan. Bagi L yang terlalu lama berada di basemen kantor pusat Men in Black, suguhan yang agak monokromatik ini sudah bagus sekali.

“L, tangkap.”

Gelagapan, L berbalik dan mendapati sebungkus cokelat melayang ke arahnya, dilempar K. Cokelat itu meluncur beberapa kali dari tangan L akibat ketidaksiapan sang agen, tetapi ujungnya, si cokelat bisa anteng dalam genggaman L. Diendus-endusnya manisan tersebut, khawatir ada obat yang dicampurkan karena ini K, lho, si garang dengan alis bertaut, yang memberikan. K memutar bola matanya, menanggapi reaksi berlebihan L atas sikap baiknya.

“Tidak ada racun di sana, Nak. Makanlah buat mengisi waktu.” –dan pintu di sisi kursi pengemudi tertutup.

“Coba dia bersikap baik dari tadi,” gumam J sebelum menutup pintu pula, “Nah, L, tunggu kami dan jangan berulah.”

L tak punya alasan untuk berulah sekarang: cokelat susu yang diberikan K enak sekali, soalnya.

Cokelat batang K terbagi menjadi delapan blok. L sedang mengemut blok keempat ketika cahaya sangat terang menyapa netranya. Ia berpaling dan menemukan piring terbang yang lumayan besar, juga sangat familiar, mendarat di padang rumput tersebut. Sekali lagi L menempelkan ujung-ujung jarinya pada kaca jendela mobil, deg-degan menanti aksi J dan K. Series-4 De-Atomizer, mirip senapan laras panjang tapi dengan kaliber lebih besar dan beramunisi plasma, yang dibawa J masih mungkin dipakai untuk menumpas alien, tetapi K? Ia tidak berbekal apapun selain…

“Mainan?” L tergelak begitu K mengarahkan senjatanya yang bahkan lebih kecil dari telapak tangan pria dewasa ke pesawat Boglodite, “Sempat sekali dia melawak—“

DUAR!

‘Mainan’ yang diejek L tadi, rupanya, mampu meledakkan separuh bagian piring terbang dengan mudah. Kekuatan senjata itu sungguh tak bisa diremehkan; jika K tidak menggunakan supresor pada senapan super mininya, jelas ia akan terpental sejauh 5 meter setiap kali menembak. L ternganga dengan tidak elit, terkagum-kagum, dan berteriak kegirangan setelahnya.

“Tembak lagi, K!”

Seolah mampu mendengar L, K melancarkan serangan kedua dan alien-alien berhamburan keluar dari piring terbang. J bergerak. Plasma dari De-Atomizer miliknya menembus beberapa Boglodite—makhluk mirip bulu babi yang berkaki dan bertangan duri—sekaligus dalam sekali tembak. L duduk tegang di jok belakang, makin cepat mengunyah cokelatnya selagi K menyusul J menembaki pasukan penyusup dari ruang angkasa itu. Sesekali L bersorak, heboh sendiri saat sekelompok besar alien diledakkan oleh senapan canggih teman-temannya, dan mengungkapkan kekecewaannya karena tak bisa ‘ikut bermain’. Kekacauan di padang itu rupanya bukan masalah besar buat sepasang agen Men in Black handal, jadi yang tersisa dari tembak-tembakan tadi tinggal pesawat ruang angkasa ringsek yang menjadi urusan L.

Pada detik K menonaktifkan sistem pengunci mobilnya, serta-merta L membuka pintu dan melompat.

“Boleh aku investigasi pesawatnya sekarang? Melihat kalian barusan, aku jadi gatal ingin bekerja! Sayang sekali kalian tidak menyisakan Bogloditenya! ‘Kan lumayan kalau aku menembaknya pakai mainan milik K!”

“Ini Noisy Cricket, L,” tegas K, tak suka direndahkan ‘agen magang’ dalam timnya tersebut, “Senjata terkecil namun terkuat di Men in Black. Kau harus berlatih dulu agar bisa mengoperasikannya dan latihan itu tidak sebentar.”

“Ya, ya, terserah, deh,” L mengangkat sebelah telapak seraya berjalan menuju pesawat dan K mati-matian berusaha agar tidak menjitaknya, “Hm… kalau dilihat dari dekat, pesawat ini terlihat lebih berantakan, ya. Apa ada informasi yang masih bisa diselamatkan dari sini, kira-kira?”

“Tentu. Ruang kontrol utamanya tak tersentuh senjata kami.” ucap J.

“Iya, aku tahu, kok. Kau sempat menyinggung ruang kontrol di briefing singkat misi sebelum berangkat.”

K tersedak—sepertinya ingin tertawa tapi gagal—dan J menoleh dengan alis terangkat. Ekspresi kaku itu bisa terlihat mengancam jika K tidak mampu membaca pemikiran J mengenai L yang baru mempermainkannya.

“Kena kau. Masih bisa bersabar menghadapi bocah itu, J?”

“Mengapa aku harus tidak bersabar?”

“Tapi, dia menyebalkan, ‘kan?”

Sangat.

Walaupun tidak langsung menjawab, nyatanya pengakuan J kali ini lumayan memuaskan K.

Karena posisi piring terbang itu miring setelah diledakkan satu sisinya, otomatis ruang kontrol yang sudah terpisah dari kompartemen lain pesawat itu juga berada tegak lurus dari tanah. Bagi manusia biasa, butuh alat bantu khusus untuk masuk ke sana, tetapi L cuma memerlukan dua kakinya yang kuat sebagai alat bantu. Ia melompat jauh lebih tinggi dari kebanyakan manusia, sehingga gampang saja baginya masuk ke ruang tersebut. L menemukan gurat-gurat tak percaya di wajah J dan K yang bisa dilihatnya dari jendela ruang kontrol, maka ia berkata lantang:

“Hei, apa kalian tidak ingin memuji lompatan indahku barusan?”

“Cari saja informasi penyerbuan Boglodite dengan benar, Agen!” K kembali menyembur L.

***

JRAK!

“L! Jangan lengah, Bodoh!”

Dari bawah panel kontrol, satu monster duri yang rupanya selamat dari sergapan J dan K mencekik L. K panik, tetapi J membentangkan sebelah tangannya di depan sang rekan—yang direspon K dengan menunda serangan. L lebih tahu apa yang mesti dilakukan, J menyampaikan tanpa kata, meski ia sedikit mencemaskan L yang meronta-ronta dalam cengkeraman si Boglodite. Tawa mengerikan alien itu pecah dalam sempitnya ruang kontrol, diiringi serangkaian suku kata inkoheren nan parau, bahasa Boglodotia. Artinya kurang lebih:

“#2004, hasil penelitian laboratorium Boglodite yang diprediksi para pemimpin akan menjadi tentara tertangguh, kabur hanya untuk dikurung dalam raga manusia? Miris.”

L lama-lama diam, tidak lagi memberontak, dan sebentar kemudian tersenyum miring, menampakkan gigi-gigi…

…ralat, taring-taring, yang tajam berkilatan.

“Siapa #2004? Aku L, agen terbaru Men in Black.”

Satu lengan L memanjang, telapaknya terarah ke kepala si Boglodite. Sepatunya berangsur terlepas, menampakkan sepasang tentakel yang bercabang banyak. Boglodite itu terkejut, tetapi tak sempat menghindar lantaran ia terlanjur terjebak dalam jalinan tentakel L. Soket tempat bola mata L sebelumnya berada menjadi kosong dan telapak L yang semula mulus kini dirobek oleh cacing-cacing bermulut banyak yang tanpa basa-basi menyedot isi kepala si Boglodite dan data storage di antara panel kontrol, menyerap segala data penting tentang invasi Bumi dari sana sembari mengeringkan energi kehidupan musuh.

K terhenyak.

“Aku sudah tahu kalau L itu alien, tetapi… dia Boglodite?”

“Yang terbaik di antara mereka. Ia lari dari Planet Boglodotia sebelum disempurnakan oleh para peneliti yang sibuk memperdebatkan perannya dalam invasi ke Bumi. Seperti yang kaulihat, dia benci dikurung di planetnya, jadi kami berikan ia fasilitas yang lebih layak di laboratorium dan dengan begitu saja, ia setuju untuk membantu organisasi. Karena ia berbahaya, segala informasi tentangnya dijaga ketat agar tidak bocor keluar, termasuk ke para agen junior—kau dihitung.”

Penuturan J membuat K tidak memandang L dengan cara yang sama lagi, terlebih menyaksikan raut L yang terdistorsi amarah saat menghisap segala memori dari Boglodite musuhnya sampai kering. Tak tersisa apapun dari sana kecuali kulit, maka L menggunakan zat asam dari tentakelnya untuk melelehkan raga itu dan selesai. Selesai. Bola mata L bergulir mengisi soket pada tengkoraknya, alat-alat geraknya kembali normal, dan tanpa rasa bersalah pada makhluk yang barusan ia bunuh, L mengecek keutuhan setelannya.

Gila.

Yes! Apa kataku, K, pakaian ini tidak bakal rusak! Plus, aku sudah merekam semua informasi tentang rencana invasi mereka dalam otakku,” Dengan kemampuan khususnya, L memindahkan data-data dari ingatannya ke perangkat penyimpan, lalu menyerahkan perangkat tersebut pada J, “Misi selesai, ayo kita ngopi!”

“Tunggu sebentar,” J memiringkan kepalanya ke satu arah sebagai isyarat, “Lihat di belakang kalian.”

Ups.

“Pemerintah mengirim bantuan militer kemari? Aish,” K tergesa-gesa menarik L, “ayo masuk mobil!”

“Tapi, J bagaimana?”

“J harus mengaktifkan Void Density Core untuk melenyapkan puing pesawatnya. Tugas kita adalah menyalakan Neuralyzer agar ingatan para tentara itu tentang alien terhapus. Ayo ce—“

“NEURALYZER?! ITU ARTINYA AKU AKAN PAKAI KACAMATA HITAM! ASYIK!”

Astaga, anak ini!, gerutu K dalam hati. Bisa-bisanya mencari celah untuk bersenang-senang!

Sebuah alat menyerupai granat dilempar J ke arah pesawat Boglodite, menciptakan Lubang Hitam kecil yang segera menutup begitu selesai membersihkan puing. J lantas berjalan cepat memasuki mobil, menghindari tatapan penasaran para tentara yang baru tiba. “Nyalakan Neuralyzernya dan injak gas, K.” komandonya sambil mengenakan kacamata Ray-Ban, diikuti K, agar terbentengi dari efek penghilang ingatan Neuralyzer.

“Baik. L, pasang kacamatamu,” K menekan tombol merah di sisi AC; bagasi mereka terbuka dan sebuah silinder titanium muncul dari sana, “dan oh, kerja bagus hari ini, Agen. Selamat bergabung di Men in Black.”

L nyengir lebar. Kini, ia sepenuhnya berpihak pada manusia sebab lihatlah, manusia lebih menerimanya dibanding rekan sejenisnya di Boglodotia. Dikenakannya kacamata hitam standar Men in Black dengan bangga sebelum berujar:

“Aku bagian resmi dari ‘imajinasi orang-orang’ sekarang? Keren!”

***

Silinder titanium memancarkan sinar yang seketika menukar memori para tentara mengenai serangan alien dengan ingatan yang lebih realistis. Ford hitam dan pria-pria berjas di dalamnya kini bukan apa-apa selain sepotong khayalan bagi mereka.

TAMAT

kuharap ada org dalam fandom penuh romance-marriage life ini yg pernah nonton Men in Black, krn ada catchphrase di sini yg aku ambil dari sana. kalo ga nonton pasti ga bener2 kerasa humornya. tapi aku berusaha menuliskan AUnya sebaik mungkin biar yg ga pernah nonton bisa paham. aslinya sempet dilema pake StarWars!AU atau MIB!AU tapi akhirnya pake ini deh. Anyway, HBD Han!

 

 

11 tanggapan untuk “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] – L”

  1. luhan songong banget :3 tapi siapa yg mau nolak alien setampan luhan XD
    trus deh terkikik sampe ceritanya habis. agent K benar2 butuh kesabaran ekstra buat hadapin partner macam luhan :v
    ceritanya menarik. aku suka ide ceritanya tentang agent MIB. lagunya luhan beneran nyatu banget ama ceritanya jadi enak dibaca dan santai
    selamat kak ffnya jadi juara 1 ^^

  2. Kerasa banget seru dan tegangnya yaampun. Action dapet banget. Ya jujur aja aku cuma tahu ada film men in black. Tapi gapernah nonton sih.
    Karakternya luhan juga lucu gitu ya? Padahal umur udah tua gitu, tapi karakternya berasa masih abg unyu nan menyebalkan haha. Banyakin bikin fic yang genrenya gini bisa kali kak. Seru banget deh hihi😄 Keep writing kak li! 💪

  3. KAK, AKU SUKAK! JOAH JOAH JOAH! Demi apa ini bagaikan angin segar di musim panas yang kerontang. Aku suka pendeskripsiannya yang emejing! Dan karakter Luhan dimari tuh masuk pisan lah. Terus aku suka dimana Kris jadi rekannya Junmyeon /yang lalu membuatku berimajinasi soal epep krisho yg shounen-ai/ digeplak/ XD

    1. kamu paham ini? ahaha senangnya ^^ aku juga suka krisho, forever eomma-appanya exo tapi ffnya skrg udah jarang, friendship pun kalo ada pasti canon ga pernah AU huhu
      aku ga berani baca sho-ai btw hahaha
      makasih udah baca!

    2. Pahamlah. Meski sini nggak mendalami fandom MIB, tp kalo filmnya pernah liat /meski lupa-lupa-ingat/ XD
      Tapi kalo yaoi berani /lalu diseblak/ XD
      EH IYA, CONGRATS LOH KAK UDAH JADI JUARA PERTAMA

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s