Lampion-Chen

lampion chen.jpg

Lampion-Chen

Kim Jongdae / Wendy Son

AU / Hurt / Friendship / slight!Romance / Sad / G

.by l18hee

Another Lampion:

Luhan | Xiumin | Chanyeol | Kris | Kyungsoo | Suho | Kai

 

Lima lampion buatan Kim Jongdae untuk Wendy Son, sahabatnya.

 

“Kim Jongdae.”

Si pemilik nama menoleh. Menatap gadis yang tiba-tiba saja masuk dalam lingkup pandangnya.

Lelaki itu mendengus pelan seraya mengetukkan jari di atas meja, “Biarkan aku beristirahat sebentar, Wendy Son.” Dengusan kini berpindah ke arah Wendy, “Aku ‘kan hanya minta dibuatkan lima lampion saja. Ayolah, jangan bermalasan seperti ini.”

Jongdae memilih diam. Dia sedang memikirkan permintaan yang Wendy lontarkan. Sebenarnya tak sulit membuat lima buah lampion kecil untuk orang sepertinya. Hanya membutuhkan beberapa bahan dan sekian waktu jika ia benar-benar berusaha.

Tapi Jongdae sedang tak ingin berusaha. Walau itu untuk gadis manik indah yang berdiri di sampingnya. Suasana hatinya sama sekali tak baik untuk melakukan apa pun. Dia masih merasa kehilangan. Hatinya begitu hampa.

Dia tahu persis Wendy melakukan ini untuk menghiburnya. Sebagai pengalih perhatian walau hanya sesaat. Setidaknya gadis itu sudah mencoba peduli.

“Hanya lima buah, aku janji.” Lagi-lagi Wendy membujuknya. Menangkupkan kedua tangan dengan manik memohon sempurna. Oh, Jongdae akan dicap sebagai lelaki tega jika menolaknya kali ini, “Baiklah. Akan aku buatkan.”

Sementara Wendy berjingkrak girang, Jongdae hanya melayangkan tatapan muram.

.

.

.

“Nah, yang itu warna hijau.” Wendy menunjuk kaleng cat dengan semangat. Membuat Joangdae mencibir terang-terangan, “Ini untuk siapa saja sih? Kenapa harus repot-repot membuat lampion seperti ini?”

Setelah melempar batu kecil sembarangan, Wendy mau membuka mulut, “Rahasia. Nanti malam jika sudah selesai akan kuberi tahu.” Senyumnya kembali mengembang, “Ayo dong, semangat! Cuma lampion kecil kok lama.”

Dikatai seperti itu, Jongdae mencipratkan sedikit cat ke arah si gadis. Sayang, tidak kena. Menarik kembali tawa Wendy ke udara. Gadis itu semakin bersemangat kala mendapati beberapa cipratan cat di pipi dan kaus yang Jongdae kenakan.

Diam-diam Jongdae menahan senyum. Sedikit air di ujung matanya membuat persepsi senyumnya sedikit berbelok. Entah karena memang bahagia atau sekedar penutup duka.

“Jongdae.”

Di tengah kegiatan mengecatnya, Jongdae menoleh. Mendapati Wendy menatapnya sendu, “Senyum dong, malu tahu punya teman jelek yang tidak suka senyum sepertimu.”

Seketika Jongdae tergelak sebelum menatap Wendy lama. Wendy tetaplah Wendy. Gadis ceria dengan tawa keras yang selalu mampu menarik untuk dipandang.

“Terima kasih. Setidaknya hariku tidak semuram kemarin.” Sebenarnya ini bukan-Jongdae-sekali. Tapi tak apa, untuk Wendy yang sudah menghiburnya, Jongdae rela.

Dan detik-detik selanjutnya hanya terdengar celoteh panjang dari katup bibir Wendy. Daripada berganti memaparkan cerita, Jongdae lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya. Dengan begitu ia bisa meyisihkan waktu untuk berjalan-jalan dengan Wendy malam ini. Sedikit memberikan hiburan bagi dirinya yang terlihat suram sejak tempo hari.

Emm, masalahnya… Jongdae bingung harus mengajak Wendy dengan cara apa. Oke, dia akui ada rasa gengsi yang menarik lidahnya kuat. Tapi melihat Wendy begitu bersemangat menghiburnya, ada sudut hati yang meginginkan gadis itu tetap tinggal. Menemaninya hingga hari berakhir.

Ah, astaga. Mengapa tiba-tiba perkara jalan-jalan saja dibuat susah?

“Malam ini mau tidak mengantarku melepas lampion?”

Ada hal yang lebih mengesalkan dari pada melawan rasa gengsi untuk mengajak seorang gadis keluar, yaitu sebelum berhasil mengutarakan ajakan, si gadis lebih dulu mengajak dengan santai tanpa beban.

Mendadak Jongdaae merasa jika dia bukan seorang pria.

“Banyak sekali permintaanmu, nona. Apa aku harus menghitung biayanya?” Nada kesal Jongdae hanya dibalas kekehan oleh karibnya. Setidaknya gadis itu tahu, Jongdae tak akan menolak tawarannya.

.

.

.

Sebagai seorang lelaki, Jongdae mau tak mau setuju saja ketika Wendy memintanya membawakan semua lampion. Oh, astaga, Jongdae benar-benar sudah jatuh dalam diri sang gadis. Lihat bagaimana dia terus saja menatap Wendy kala keduanya menyisir jalanan.

Sesekali Wendy berhenti untuk menunjuk benda lucu yang akan ia tertawakan. Jongdae hanya tersenyum. Kali ini saja ia harus melupakan duka yang ada. Masih ada Wendy di sampingnya.

“Nah, nah, di sini!” Entah ini kali keberapa Wendy melompat girang. Jika saja tangan Jongdae tidak penuh akibat lampion yang dibawa, mungkin ia akan menarik Wendy agar diam.

“Tolong nyalakan yang kuning, oranye, dan biru.”

Jongdae berjongkok, menyulutkan api di ketiga lampion dengan cepat sebelum kembali beranjak. Dia hanya bisa menatap Wendy yang kini mengambil satu persatu lampion.

“Satu untuk ayah. Satu untuk ibu. Dan satu untuk adikku.”

Setelah satu persatu lampion mulai terbang, ia menangkupkan tangan dengan mata terpejam. Jongdae menebak, sedang merapal doa. Selagi Wendy sibuk berdoa, Jongdae lebih memilih memandang lama-lama paras yang ia anggap sempurna itu. Sudut bibirnya tertarik.

“Hei.” Sosok Jongdae yang masih tersenyum tipis adalah pemandangan yang hinggap di mata Wendy begitu ia membuka mata.

Kau cantik.

Seharusnya itu yang ingin Jongdae ucapkan. Namun entah apa yang membuat ia menggeleng dan kembali berjongkok. Memilih menghidupkan dua lampion terakhir yang tadi sore ia selesaikan.

Wendy tak bertanya. Ia hanya menunggu Jongdae beberapa saat sebelum mengambil dua lampion terakhirnya.

“Yang hijau untuk Runa. Semoga kau bahagia, teman. Aku menyayangimu. ” Satu garis samar terlihat di pipi Wendy. Jongdae mulai merasakan matanya memanas hebat. Dia mati-matian menahan diri agar tak lepas kendali.

“Yang putih, untuk Bibi Penjual Ramen kesukaan Wendy Son dan Kim Jongdae.” Kendati garis air mata itu semakin terlihat, Wendy tetap mencoba tersenyum. “Terima kasih atas bermangkuk-mangkuk ramen penuh kenangannya.”

Seusai satu lampion terakhir diterbangkan, Wendy menatap sang lelaki. Yang ditatap masih berusaha menahan diri.

“Lampion untukmu aku yang membuatnya.” Senyum manis itu terlihat. Senyum yang mampu menciptakan bahagia di sudut tersendiri di hatinya.

“Wendy─”

“Kim Jongdae.” Wendy seenaknya memotong. Dia menatap ujung sepatunya sebelum kembali pada manik si lelaki, “Ini mungkin tidak bisa disebut lampion. Tapi…”

Untuk sesaat kalimat itu menggantung. Bersamaan dengan gerakan Seughwan yang terkesan pelan. Ayunan tangannya menimbulkan percikan warna lembut biru laut.

Gadis itu memudar perlahan sebelum pada akhirnya bayangan itu pecah menjadi butiran biru yang menghias udara malam. Membuat pertahanan yang telah Jongdae bangun runtuh dalam sekali kerjap. Bersamaan dengan butiran biru yang akan ia ingat sampai akhir hayat.

…terima kasih Jongdae. Setidaknya kini aku punya sesuatu untuk dikenang.

***

Jongdae masih terdiam memandang nisan yang ada di depan mata. Kali ini ia tidak menangis sesenggukan seperti hari yang lalu. Dia tersenyum seraya meletakkan bunga di atas makam.

Makam karibnya, Wendy.

“Hei.” Jongdae sedang berusaha bermonolog. Dipikirnya lebih baik dari pada diam dan membatin dalam hati. Lagipula kemungkinan Wendy muncul lagi seperti kemarin masih ada bukan? Yah, walau biasanya kesempatan seperti itu hanya datang satu kali. Oke, oke, Jongdae akan berhenti mengharapkan itu sekarang. Dia jadi terlihat seperti manusia super egois jika meminta terus-terusan.

“Emm, aku harap kau di sini, untuk mendengarku.” Hening kembali menyapa sebelum akhirnya suara kembali terdengar dari katup bibirnya, “Terima kasih telah meninggalkan sesuatu untuk dikenang, Wendy Son.”

.

Terima kasih sudah mau menemuiku.

Em, satu lagi, kau cantik.

.end

LAMPION IS BACK AHAHA /koprol/

Setelah Chen rilis, tinggal 4 member lagi ya kalok gak salah .-. Selagi hiatus kemaren aku udah selesein Lampion Series ini, nanti tinggal post secara bertahap aja ehe

Ada yang mudeng sama cerita Lampion kali ini? Yap, Wendy udah gak ada (lalu nangis di pojokan). Jadi tuh sebenernya alesan Chen sedih banget dan pas kejadian lempar-lemparan (?) cat itu si Wendy gak kena karna Wendy emang udah gak ada (nggak real, gitu deh intinya). Aku gatau kenapa bisa aku bawa bias cantikku ini ke ranah sad heu :’

Ohya, btw aku mau minta maaf kemarin sewaktu post Luhan Birthday ada kesalahan jadi kolom komentar gak muncul. Tapi udah kubenerin sekarang kok heu maaf banget kalok ada yang gak nyaman (kalau ada loh ya, kalau ada). Itu action kedua yang aku bikin setelah main game perang-perangan lho ahahaha. Sama terinspirasi pengakuan anak EXO di Happy Camp (taun 2014 keknya, soalnya masih ada Luhan /lalu baper/).

Oke, gitu aja. Makasih semuanya ❤

p.s: hayo, siapa member di series selanjutnya? xD

.nida

20 tanggapan untuk “Lampion-Chen”

  1. aku sih udah baca yg luhan sampe kai
    aku telat gak yaa baru baca sekarang
    ahh aku sama sekali gak kepikiran kalo wendy ternyata udah koid/digeplak
    maklum otakku rada ga nyampe hehe

    keren thor
    next

  2. Aku udah baca ini semalem di LINE@ kita, aku baca lagi di sini..
    Hueeeee chenchen hueeee, sini nuna peluuukk, jangan sedih lagi hueeeeee..

    Ada typo nama 2x kalo ga salah Nid, ada yg seughwan. itu salah apa gimana ya?
    aku bingung /lalu pegangan

    Kenapa pas nama Runa disebut ada garis samar juga di pipi aku?
    jangan jangan aku…. wendy? /gak.

    Yg selanjutnya mungkin thehun?
    kemungkinan paling besar, tao terakhir bhakakakaka..

    1. chen udah gaksedih kak, dia bisa berlapang dada wkwk
      iya? okesip nanti kubenerin kak ehe itu typo soalnya wkwk
      PELIS KAK AKU NGAKAK OTOKEH AHAHAHA kaknean kan seulgi, hayohloh lupa yhaaa… aku yang wendy/LHA RUNA TERUS SIAPA?/dibalang
      hmmm sehun gak ya sehun gak yaaa ahaha eh, KAKAK BISA BACA PIKIRANKU YHA/plak

    2. Chenchen yg tegar, sini nuna peluk dulu /dasar nuna menel wkwk/
      Iyah emg namanya salah kan ya bukan ada tokoh lain kan wkwkwk..
      Ohiya aku kan seulgi ya *brb ombre kuning lagi /gak*
      Lah jadi runa sama wendy…. Orang yg sama? *kurang fokus wkwk
      Buahahhahaha..
      Icing lampion uda belom yah? Keknya aku belom bacaaa..

  3. Kaaaaa Nida. Omegaaat chen dataaang.. may bebek terlopek (?). hmmmmmmmmmmmmmm. Aku ngerti koo ngerti jalan ceritanya. walaupun pas bagian nerbangin lampion aku kudu baca dua kali, tapi tetep kesananya ngerti. wendy meninggal kenapose?? hmmmmmmm. sukaaa bangeet sama series lampion ini. ceritanyaa bedaa bedaaaa. dan buat selanjutnya aku berharap itu sehun. oke. satu lagi, besok aku ulang tahun ka. sekian

    p.s: untuk bagian terakhir, bisa diabaikan atau engga.

    1. RIZKA OTOKEH AKU KEMAREN GAK ON HEU jadi gatau kamu sekarang ultah 😦 pokoknya HAPPY BIRTHDAY RIZKAKUUUUH MUMUMU LOVE U POKOKNYA ❤ ❤ ❤ sehat selalu yha, tambah cantik, tambah yang baik2 pokoknya, makin banyak yang sayang (({}) makasih banyak udah jadi rizkakuh yang mau baca2in ff ecek2 nida seksi ini/digeplak/
      love u pokoknya peluk ciyum ({}) :*
      btw… selanjutnya sehun? hmmmmmmm bener gak ya wwkwk

  4. bagus ceritanya! cara wendy ngehibur jongdae di awal sampe kereveal kalo wendy itu udh meninggal, semuanya dirangkai dgn pas dan penuh feel ^^ makasih sdh bikin ff ini ya di saat ff chen terasa makin jarang ^^
    ada typo sedikit sih tadi ada ditengah harusnya di tengah
    keep writing!

    1. kakliana xD
      heu makasih kak :’ aduh nanti aku benerin kak, makasih koreksinya 😀
      ehe kakliana fannya chen yah :3 semoga besok2 aku bisa bawain chen lagi xD aaaakkkkk kakliana makasih banyaaak udah mampir aku seneng banget ❤ ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s