[EXOFFI FREELANCE] Sorry, Because I Love You Oppa (Chapter 3)

Sorry Because I Love You Oppa

Tittle:
Sorry, Because I Love You Oppa (Chapter 3)

Author: Joy Kim (@_jonginexo94)

Main Cast
Kim Jong In a.k.a Kai (EXO)
Park Cheonsa(OC)

Other Cast
Xi Luhan (EXO)
Krystal F(x)
Min Young(OC)
Kim Myungsoo(Infinite)
EXO’s Member

Leaght: Chapter

Ratting: 16

Genre
School life, romance, sad

Disclaimer:
Dont plagiat!!! This is my pure fanfiction!

Iam Sorry If you Find typo

Happy Reading

 

Guru Shin yang sedang menerangkan Sejarah tentang Korea Selatan pada Dinasti Joseon di kelas dengan pintu bertuliskan X-2 dengan suara yang sangat melengking menunjukkan semangatnya yang tinggi meskipun di usianya yang sudah menginjak 45 tahunan itupun tak mengusik sedikipun kegiatan melamun seorang Park Cheonsa. Sudah 30 menit yang lalu sejak Guru Shin memasuki kelas setelah jam istirahat selesai tapi seakan-akan Guru dengan lipstik merah darah itupun tak menarik perhatian Cheonsa hanya sekedar untuk melirikpun. Hey! Cheonsa bukanlah tipe siswa yang dengan gampangnya memikirkan hal tak penting lain selain mata pelajaran. Tapi hal ini memang benar-benar mengganggu pikirannya. Oke! Mungkin memang menurut orang lain ini tidaklah penting. Tapi menurut Cheonsa?

Sejak tadi, hal yang dilamunkan oleh Cheonsa adalah Kai. Ya! Siapa lagi? Perlu kalian tahu selain Cheonsa memang murid yang pintar yang tentu saja sibuk belajar dan memikirkan rumus-rumus yang menyebalkan menurut sebagian orang, sumber bahan pikiran Cheonsa yang ke dua tidak lain dan tidak bukan adalah Kai. Jongin Oppanya. Kalian bisa menyebut kalau Cheonsa adalah Jongin’s Addict? Ya! Cheonsa memang tak akan pernah bisa sedetikpun tanpa memikirkan namja itu. Namja yang ia sayangi dan ia anggap sebagai Oppanya. Namjanya. Miliknya.

Masih teringat jelas di otaknya kejadian beberapa jam yang lalu. Oh bahkan belum satu jam. Dimana ketika Cheonsa duduk bersama EXO di kantin lalu disusul dengan kejadian Kai meninggalkan kantin dengan alasan akan pergi ke kamar mandi tapi nyatanya sampai bel istirahat berakhir, Kai tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Apa karena dirinya Kai tidak mau kembali ke kantin dan makan siang bersama teman-temannya? Itulah yang ada dipikiran Cheonsa.

‘Jongin Oppa… Apa oppa benar-benar membenciku?’

Cheonsa masih setia memangku wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja sambil melihat ke arah jendela yang memperlihatkan bangunan perpustakaan dan laboratorium kimia yang berada di sampingnya.

Tak beberapa lama setelah itu Cheonsa menegakkan tubuhnya kembali ketika matanya tak sengaja melihat seorang yeoja cantik yang baru keluar dari ruang lab.

“Bukankah yeoja itu…. “ Cheonsa semakin menajamkan pandangnnya melihat dengan pasti yeoja cantik dengan baju khas lab berwarna putih serta tabung reaksi yang ada di genggamannya. Sepertinya yeoja itu akan membuang sesuatu ke tempat sampah.

“… Soojung sunbae” lanjutnya.

Tak lama setelah itu mata Cheonsa yang sedikit melebar itu semakin melebar ketika seorang namja keluar dari ruangan yang sama. Tapi tak seperti ketika melihat Soojung tadi yang perlu menajamkan penglihatannya terlebih dahulu, Cheonsa dapat langsung mengenali meskipun namja itu sedikit menundukkan kepalanya ditambah wajahnya yang memang telah terutupi sedikit poni di dahinya itu membuat wajah namja tersebut sedikit tak terlihat. Itu Jongin Oppanya. Tampak Jongin yang sedang membawa tabung reaksi juga dan sepertinya ia keluar karena memiliki tujuan yang sama dengan Soojung.

“Jadi mereka benar-benar seorang sepasang kekasih? Bahkan Jongin Oppa dapat tersenyum begitu manis kepada Soojung Sunbae”

Cheonsa yang tadi menegakkan kepalanya kini menundukkan kepalanya kembali. Terlalu menyakitkan melihat senyuman Jongin yang bukan ditujukan untuknya melainkan kepada yeoja lain mengingat Jongin tak pernah tersenyum seperti itu pada dirinya. Hei.. seharusnya Cheonsa sadar. Jangankan tersenyum, melihat dirinyapun Jongin seperti ogah-ogahan.

Padahal Cheonsa semangat sekali pagi ini berangkat ke sekolah lantaran dirinya akan bisa lebih dekat lagi seperti dulu dengan Jongin. Tapi nyatanya?

“Huuufffft”

Cheonsa menghembuskan nafasnya kasar lalu meletakkan kepalanya di atas meja. Dan hal inipun mengundang perhatian Min Young yang sedari tadi memang merasa aneh dengan Cheonsa. Tak biasanya sahabatnya ini tak memperhatikan pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru.

“Hey Cheonsa! Gwaenchana?”

Tanyanya sambil berbisik takut terdengar oleh Guru Shin yang saat ini masih tetap mengoceh panjang lebar tanpa memperhatikan siswa-siswanya yang terlihat begitu bosan lantaran Guru Shin sudah berbicara di depan kelas -menerangkan- hampir 45 menit non stop. Huhhh tidakkah Guru Shin berbusa dan tak merasakan pegal di mulutnya? Min Young saja yang hanya melihat sudah hampir merasa kehabisan napas.

“Huh? Gwaenchana”

Cheonsa menolehkan sedikit kepalanya ke arah Min Young lalu meletakkan kembali kepalnya di atas meja.

“Kau memikirkan Luhan Oppa ya? Aku tahu dia tampan. Tapi kau tidak perlu sampai memikirnya seperti itu” Min Young berkata sambil menyeringai jahil ke arah Cheonsa lalu terkikik.

“Mwo? Siapa yang memikirkan Luhan Oppa?”

“Ish! Mengaku saja Cheonsa!”

“Tidak Young”

“Jangan Bohong Park Cheonsa”

“Tidak!”

“Ayolah…”

“Terserah kau sajalah”

Cheonsa yang malas berdebat dengan Min Young memilih diam. Dia tak mau memperpanjang masalah. Kalau ditanggapi, bisa-bisa akan menjadi panjang kali lebar kali tinggi seperti rumus volume balok. Hahaha

“Oh ya. Bukankah kau bilang kalau Jongin Oppa-mu itu sekolah di sini? Apakah kau sudah bertemu dengannya hari ini?”  Tanya Min Young antusias.

Ya. Min Young sebagai sahabat Cheonsa dari JHS tentu saja mengetahui tentang ‘Jongin Oppanya Cheonsa’. Bagaimana tidak? Cheonsa yang biasanya tak terlalu banyak bicara bisa berubah 180  menjadi sangat super duper cerewet dan banyak bicara kalau sudah bercerita mengenai Jongin Oppanya itu. Lebih cerewet dari dirinya malah, pikir Min Young. Cheonsa selalu terlihat semangat dan antusias tiap kali bercerita mengenai namja bernama Jongin itu. Jadi tak heran bukan kalau Min Young tahu?

Lalu bagaimana mengenai sikap Jongin kepada Cheonsa selama ini?

Min Young pun juga tahu. Tak satupun yang ada pada Cheonsa yang tak diketahui oleh Min Young mengingat mereka memang selalu terbuka satu sama lain. Tak pernah ada rahasia. Karena mereka telah berkomitmen untuk selalu menjaga persahabatan mereka sampai tua kelak dengan cara ‘Tak ada yang namanya rahasia diantara mereka’. Ngomong-ngomong mengenai sikap Jongin  yang selama ini Cheonsa ceritakan pada Min Young membuat gadis imut tapi sedikit bar bar ini merasa kasihan pada sahabatnya itu. Bagaimana sikap dingin dan acuh Jongin kepada Cheonsa. Yah walaupun Min Young tak pernah bertemu dengan Jongin secara langsung tapi ia bisa menebak bagaimana Jongin itu.

‘Berhati Batu’

Itulah kata yang selalu Min Young gunakan untuk menggambarkan bagaimana Jongin. Namja yang selalu membuat sahabatnya itu terlihat semangat dan ceria walaupun tak kadang ia melihat Cheonsa murung karean namja itu juga. Ia masih ingat 2 tahun lalu, tepatnya ketika mereka duduk di tingkat 2 JHS.

*Flashback On*

Jam sudah menunjukkan pukul 8.25 yang itu artinya bel masuk berbunyi tinggal 5 menit lagi. Min Young yang duduk di kursinya berkali-kali menengokkan kepalanya ke arah pintu masuk kelas sambil sesekali melihat ke arah jam tangan berwarna pink yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

“Tak biasanya anak itu belum datang. Kemana dia? Apakah tak masuk? Ahh mana mungkin hari ini kan ada tes matematika” gerutu Min Young yang masih melakukan kegiatannya – menengok ke arah pintu dan melihat arah jarum jam di tangannya -. Sahabatnya itu tak mungkin tak masuk sekolah kan?

“Cheonsa! Kau kemana?” geramnya sambil meremas roknya sendiri. Kalau Cheonsa tidak masuk pasti yeoja itu sudah menelponnya di malam hari. Min Young benar-benar gusar. Dirinya tak tahu apa yang akan di lakukannya seharian ini di sekolah kalau tak ada Cheonsa. Selain belajar tentunya. Siapa yang akan ia ajak mengobrol nanti?  Apa kata dunia kalau dia sekolah tapi Cheonsa tak ada bersamanya?

Ketika Min Young sibuk sendiri dengan pikiran-pikiran konyolnya, nampak seorang yeoja masuk dengan langkah pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya memasuki kelas tepat pada saat jam menunjukkan pukul 8.30 yang artinya bel juga berbunyi. Ketika Min Young menengokkan kepalanya lagi ke arah pintu-

“Yak Cheonsa! Kenapa baru datang huh?” Yeoja itu berteriak ke arah yeoja yang baru masuk dengan menundukkan kepalanya tadi, Cheonsa.

“Molla~” Jawab Cheonsa lemah sambil mendudukkan dirinya di atas kursi tepat di sebelah Min Young duduk. Ya, mereka teman sebangku.

Min Young yang melihat sahabatnya itu terlihat tak baik-baik saja hari ini, mengurungkan niatnya untuk melanjutkan acaranya menceramahi dan mengintrogasi Cheonsa.

“Gwaenchana?” Min Young terlihat khawatir.

“Min Young-ah. Jongin Oppa…..” Wajah Cheonsa berubah begitu sendu seperti ingin menangis.

“Wae? Apa yang dia lakukan lagi padamu?” Tiba-tiba Min Young terlihat emosi. Kenapa Jongin selalu membuat sahabatnya seperti ini sih? Okay! Memang ia akui sahabatnya ini sering terlihat bahagia juga karena Jongin. Tapi hey… Jongin lebih banyak membawa kesedihan untuk Cheonsa daripada kebahagiaan untuk sahabatnya itu, pikir Min Young.

Cheonsa yang akan menceritakan alasannya memilih untuk diam lalu mengeluarkan buku catatannya lantaran Guru Choi memasuki kelas yang artinya akan ada tes matematika di jam pertama ini. Min Young pun juga melakukan hal yang sama seperti Cheonsa. Mungkin saat istirahat nanti dia bisa menanyakan alasannya kepada Cheonsa. Bukan karena Min Young kepo atau ingin tahu masalah orang lain tapi ini merupakan salah satu bentuk perhatiannya sebagai seorang sahabat.

Tapi nyatanya ketika jam istirahat Cheonsa tak mengatakan apapun. Yeoja itu bahkan tak mau diajak ke kantin dan memilih berdiam diri di dalam kelas dengan meletakkan kepalanya di atas meja. Dan tentu saja ini membuat Min Young sedikit cemas dan sedikit…. jengkel. Kim Jongin itu benar-benar, pikir Min Young. Yang membuatnya semakin geram terhadap Jongin adalah selain membuat Cheonsa tak mau makan siang di kantin dan murung, Gara-gara Jongin itu Cheonsa bahkan terlihat tak berkonsentrasi di tes matematika tadi. Buktinya Cheonsa yang selalu mendapat nilai minimal 90, tadi hanya bisa mendapat nilai 85 dan hal ini tentu saja membuat Guru Choi terheran-heran. Tak biasanya murid kesayangannya ini mendapakan nilai 8 pikir guru matematika yang terkenal sedikit galak itu.

Kim Jongin benar-benar membuat Cheonsa kacau.

*Flashback Off*

“Hey, sudah belum bertemu dengan Jongin Oppamu itu hari ini Cheonsa?” Min Young mengulangi pertanyaannya.

Mendengar nama Jongin keluar dari mulut Min Young mau tak mau membuat Cheonsa mengarahkan perhatiannya kembali ke arah sahabatnya itu. Kenapa tiba-tiba sahabatnya ini menanyakan tentang Jongin? Apakah Min Young tahu kalau dirinya sedang memikirkan Jongin? Wahhh selain cerewet dan bawel sepertinya sahabatnya ini berbakat menjadi seorang cenayang. Haruskah ia meminta Min Young untuk menerawang apakah Jongin dan Soojung itu memang berkencan? Tapi apakah dirinya siap untuk mengetahui kenyataan kalau nantinya Jongin dan Soojung memang benar-benar seorang sepasang kekasih?

“Yak! Kenapa kau malah melamun dan menatapku seperti itu huh?” Min Young yang merasa jengkel karena sudah dua kali bertanya dan Cheonsa tak menanggapinya lantas berteriak tak memperhatikan aura tajam yang kini mulai terlihat di wajah paruh baya Guru Shin yang terlihat beberapa keriput. Cheonsa yang sadar akan apa yang terjadi lalu menatap ke arah Guru Shin yang membuat nyalinya langsung menciut karena tatapan Guru dengan lipstik merah darah tersebut. Ia lalu mengalihakan pandangannya ke arah Min Young sambil mendelik dan mendesis pelan.

“Pabbo-ya~”

“Mw-“

“Kalian berdua! Keluar dari kelasku sekarang juga!”

Min Young akan mengajukan protesnya atas tatapan menyebalkan dari Cheonsa mengurungkan niatnya ketika suara Guru Shin menggelegar ke seisi ruang kelas membuatnya diam tak berkutik. Bukan hanya dirinya tapi semua siswa di dalam kelas tersebut tampak diam. Takut karena teriakan Guru Shin.

Dengan kepala yang tertunduk Cheonsa mulai mengangkat tubuhnya dari kursi yang didudukinya lalu menarik tangan Min Young. Sebelum keluar kelas, dirinya meminta maaf kepada Guru Shin sambul membungkuk hormat tapi dijawab dengan gumaman saja oleh Guru Sejarah tersebut. Tentu saja Guru Shin masih jengkel. Dirinya tahu kalau ini jam pelajaran sejarah yang artinya pelajaran mengenai sebuah cerita untuk diceritakan tapi yang boleh diceritakan di sini hanya tentang sejarah bukan yang lain.

————————

At Laboratory

“Kenapa kau lama sekali Kai?” Tanya Chanyeol yang sudah menunggu sedikit tak sabaran karena mereka harus menyelesaikan penelitian praktikum ini sekarang juga. Ya walaupun sebenarnya masih ada waktu yang tersisa sekitar 15 menit. Tapi masih ada 2 bahan yang harus mereka uji.

“Ooohhh Soojung-ah.. pantas saja” Chanyeol yang melihat Soojung berjalan di belakang Kai lantas mengangguk-angguk sambil terkekeh. Chanyeol terlihat benar-benar aneh kan? Yah! Itulah Park Chanyeol. Kalau tak aneh, bukan Park Chanyeol namanya. Sedangkan Soojung hanya tesenyum lembut seperti biasa lalu melangkah ke arah kelompoknya.

“Ada apa denganmu hyung?” Kai yang heran dengan hyung konyolnya itu lantas berujar dingin seraya menyerahkan tabung rekasi yang telah ia cuci tadi kepada Sehun. Memangnya ada apa sampai-sampai hyungnya itu terkekeh tanpa alasan? Apa karena Soojung? Lalu kenaoa kalau dia barusan ada di luar bersama Soojung? Adakah hubungannya?

“Chanyeol hyung meminum cairan HCl ini barusan Kai” Sehun berucap tak kalah dinginnya seperti Kai.

“Sehunni~ kau tak boleh begitu. Chanyeol itu hyungmu” Luhan yang berada di samping Sehun menepuk punggung dongsaeng kesayangannya itu dan membuat wajah Sehun yang sebelumnya dingin berubah cemberut dengan bibir mengerucut ke arah Luhan. Ya Sehun sedang melaukan aegyo di depan Luhan. Luhan yang melihatnya hanya terkekeh geli. Beginilah Sehun kalau sudah di depan Luhan. Berubah menjadi benar-benar manja.

“ Stop beraegyo seperti itu! Kau membuatku ingin muntah Sehun” Baekhyun tiba-tiba membuka suarnya sambil tetap mengaduk-aduk cairan yang berada di dalam tabung.

“Dasar ChanBaek” Sehun kembali menunjukkan wajah dinginnya. Huh! Sehun tahu kalau Baekhyun secara tidak langsung sedang membela pacar gelapnya, Park Chanyeol si telinga lebar.

“HunHan!” Sahut Baekhyun tak terima.

“ChanBaek!”

“HunHan!”

“Chan-“

“Bisakah kalian diam? Ini sudah kurang 5 menit. Ayo bekerja jangan hanya berbicara” Kai berucap membuat perdebatan Sehun dan Baekhyun terhenti seketika. Bukannya mereka takut akan ucapan dingin Kai atau apa tapi mereka memang merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing.

Dengan tanpa suara lagi kini Sehun dan Chanyeol mengamati dengan betul perubahan yang terjadi di dalam tabung reaksi “reaksi elektrolisis” itu lalu melaporkan hasilnya kepada D.O dan Baekhyun untuk nantinya akan dikoreksi oleh Kai dan Luhan yang kini terlihat sedang sibuk browsing untuk mencari referensi mengenai Laporan Praktikum Reaksi Elektrolisis tersebut. Sedangkan Park Chanyeol? Namja dengan telinga lebar – kata Sehun – itu bertugas mengambil gambar praktikum sebagai lampiran untuk laporannya nanti.

Sedangkan dari meja seberang Soojung hanya menampilkan senyumnya. Merka memang benar-banar sahabat yang sangat aneh. Kadang bertengkar satu sama lain memperdebatkan sesuatu yang tidak penting tapi tak lama setelah itu pasti mereka akan akur kembali. Lebih-lebih Sehun dan Baekhyun yang selalu saling mengejek. Hahaha Baekhyun memang tak pernah mau mengalah dengan Sehun, Si Magnae Sialan itulah panggilan sayang Baekhyun untuk namja berkulit seputih susu itu. Dan kalian pasti tahu kan apa yang selalu mereka perdebatkan? Ya masalah ChanBaek dan HunHan. Mereka memang benar-benar aneh.

Ketika jam pelajaran kimia telah berakhir bersamaan dengan bunyi bel yang berbunyi menandakan istirahat kedua telah mulai, nampak Kai dan teman-temannya telah membereskan alat-alat praktikum dan alat tulis mereka.

“Kalian boleh istirahat dan laporannya saya tunggu besok pagi” Guru Kimia dengan kumis tebalnya itu berucap di depan lantas keluar lab terlebih dahulu yang disusul dengan murid-murid yang mengekor di belakangnya termasuk Kai dan teman-temannya, EXO.

“Kita akan ke kantin lagi sekedar minum atau apa setelah ini?” Chanyeol berujar sambil menenteng tasnya berjalan di samping D.O yang enggan berjalan di samping Chanyeol lantaran akan terlihat yah… kalian pasti semua tahu. Oke! Jangan bahas masalah tinggi badan jika kalian tidak ingin mendapat tatapan burung hantu dari namja bernama lengkap DO Kyungsoo ini.

“Aku akan perpustakaan bersama Luhan Hyung untuk mencari referensi untuk laporan kita” Kai menjawab sambil berjalan diantara Luhan dan Sehun yang tentu saja membuat Sehun memberenggut kesal. Kenapa Kai yang berada di samping Luhan Hyungnya? Huuuh menyebalkan sekali dan apa tadi ke perpustakaan bersama Luhan?

“Kalau begitu aku ikut kalian ke perpustakaan” Sehun berujar cepat.

“Huuuhhh tak heran” Baekhyun mencibir mengetahui maksud Sehun, Si Magnae Sialan.

“Sudahlah Baek~ Apakah kau ingin ikut kami juga?” Luhan yang mengetahui kalau Baekhyun sedang memancing peperangan dengan Sehun menengahi terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar akan beradu mulut kembali, seperti biasa. Sehun yang mendengar Luhan sedang membelanya  – menurut Sehun – menolehkan kepalanya ke arah Bekhyun sambil menujulurkan lidahnya dan tersenyum evil. Untuk kesekian kalinya Baekhyun selalu kalah kalau sudah berurusan dengan Sehun.

“Dasar magnae evil sialan! Cadel! Albino!” Baekhyun menggurutu lalu berjalan duluan melewati Luhan, Sehun dan Kai sambil menarik tangan Chayeol dan D.O membuat korban yang ditarik paksa oleh Baekhyun tersebut berteriak kesal lantaran Baekhyun menyeret mereka layaknya mereka adalah seekor hewan.

“Yak Byun singkirkan tanganmu!” Chanyeol berusaha melepaskan tangannya yang masih diseret Baekhyun sedangkan Kyungsoo hanya menampakka ekspresi yang tak seorangpun dapat menebaknya. Do Kyungsoo memang tak mempunyai ekspresi wajah bahkan ketika ia senang ataupun sedih ekspresi wajahnya tetap itu-itu saja, dengan mata burung hantunya yang lebar. Kkkkk

“Kau bawa gitar kan Yeol? Ayo kita kolaborasi. Aku dan Kyungsoo akan bernyanyi dan kau yang memainkan gitarnya, okay?” Tawar Baekhyun yang kini telah melepaskan tangannya ditangan ChanSoo yang dijawab anggukan oleh mereka berdua.

“Dasar Byun Cerewet!” Sehun mencibir orang yang kini sudah tak terlihat lantaran sudah menghilang di belokan koridar membuat Luhan dan Kai hanya terkekek geli. Sebenarnya mereka semua heran apa sebenarnya yang membuat Baekhyun dan Sehun tak pernah akur. Kenapa mereka layaknya kucing dan tikus kalau sudah bertemu? Tapi dibalik itu semua mereka mengetahui bahwa mereka tak benar-benar bertengkar. Ya, mereka saling menyayangi hanya saja cara mereka menunujukkan kasih sayang kepada sesamanya terkadang sedikit aneh. Seperti halnya Baekhyun dan Sehun ini.

“Kajja kita ke perpustakaan” Kai menginterupsi mereka berdua – Luhan dan Sehun – yang masih setia memandangi punggung Baekhyun yang telah menghilang di balik koridor.

“Ne, Kajja” Luhan berkata lalu mengalungkan kedua tangannya di bahu Sehun dan Kai yang tentu saja membuat Sehun dan Kai sedikit merendahkan tubuhnya lantaran dua magnae ini memang tumbuh dengan baik bahkan malah mengalahkan hyungnya, Luhan.

“Hyung, sepertinya kau harus minum susu lebih banyak lagi” Kai berucap jahil sambil melirik ke arah Sehun. Dua magnae ini tersenyum evil sambil memandang satu sama lain.

“Ne, Luhan hyung nanti bisa ke rumahku untuk minum susu yang bisa membuat Luhan hyung menjadi tinggi dan tak pendek lagi” Sehun menambahi.

“Yak! Aku tak sependek itu. Kalian saja yang seperti tiang” Luhan pura-pura memberenggut kesal tak lama setelah itu mereka tertawa bersama sambil berjalan di koridor yang saat ini mulai ramai lantaran semua murid sudah keluar kelas. Tak ayal pemandangan seperti ini membuat sebagian siswa perempuan berhenti dan berkerumun melihat pangeran-pangeran sekolah mereka tertawa menunjukkan wajah tampannya. Terlebih Kai. Jarang sekali mereka melihat senyuman dari namja sempurna itu selain ketika bersama teman-temannya.

“Kai Oppa!”

“Eomma…… kenapa Kai Oppa tampan sekali? Kau lihat Nana-ya, OMO! Senyumnya”

“Heemmm dia tampan sekali tapi Sehun Oppa dan Luhan Oppa juga sangat tampan saat tertawa”

“Nana-ya ambilkan kipas! Aku panas sekali. Aigoo Kai Oppa!!!”

“Hey, Raina kau lihat! Kai Oppa melihat ke arah kita!” Raina hampir berteriak mengucapkannya saking senangnya kerana Kai saat ini melihat ke arah mereka mereka berdua sambil……

“Nana-ya!!!!! Akk-“

Bruk!

Kai yang tadinya memperlihatkan smirknya kepada dua gadis yang memang merupakan penggilanya dari JHS itu kini malah menampakkan senyuman mengejeknya. Ah ani. Senyuman meremehkan dan merendahkan lebih tepatnya setelah melihat yeoja yang ia ketahui bernama Raina – mungkin – jatuh karena melihat ketampanan seorang Kim Jongin. Oh.. sebenarnya Kai tak terlalu mengenal yeoja itu. Lalu bagaimana Kai mengetahi namanya? Tapi ayolah bukankah keterlaluan kalau Kai tak mengenal teman seangkatnnya dari JHS itu walaupun ia terkenal sangat tertutup dan sulit bergaul dengan orang lain selain EXO tentunya. Jadi setidaknya kalau hanya namanya saja tak masalah dan bukan sesuatu yang aneh bukan?

Raina yang masih shock di tempatnya karena mendapat smirk dari seorang Kim Jongin untuk pertama kalinya terlihat blank dan pandangan matanya kosong.

“Nana-ya! Apakah aku sedang bermimpi? Apakah aku sedang bermimpi kalau Kai memperlihatkan smirknya padaku? Cubit aku Nana-ya” Nana yang kini ikut terduduk di samping Raina yang memang belum bangun dari jatuhnya tadi mencubit pipi Raina lumayan keras.

“Yak! Sakit pabbo!”

“Bukank-“

“Jadi ini benar? Kyaaaaaaaaaaaaaaa! Eomma” Raina dengan reflek berdiri sambil melompat-lompat di tempaknya sambil menggigit jarinya dan tersenyum-senyum sendiri lalu berlari sambil menarik tangan Nana.

“Jangan lari! Kau mau mengajakku kemana?” protes Nana.

“Kajja aku akan memtraktirmu ke kantin. Kau boleh makan sesukamu”

Sedangkan Kai, Luhan dan Sehun yang tadi menghentikan sebentar langkahnya kembali melangkah lagi tatkala Kai mulai berjalan kembali dan jangan lupakan senyuman menyebalkan miliknya yang masih terpatri di wajahnya yang tampan.

“Kau membuat mereka benar-benar gila Kai” Ujar Luhan sambil menonjok ringan punggung Kai – bercanda -.

“Lama-lama ada kau di sini sepertinya akan memusnahkan spesies mereka semua” Tambah Sehun.

“Spesies murahan seperti mereka memang cocok untuk dimusnahkan Hun” Jawab Kai dingin.

“Ya ya ya kalian ini sedang bicara apa. Kajja masuk dan jangan berisik. Bisa-bisa nanti Ny Jung akan memakan kalian” Ucap Luhan dengan sdikit berbisik di akhir kalimatnya.

————————

Di sinilah mereka, Min Young dan Cheonsa. Gara-gara diusir dari kelas Guru Shin tadi mereka memutuskan untuk berada di ruangan yang penuh dengan berbagai buku ini. Kenapa mereka pilih perpustakaan? Tentu saja. Haruskah mereka memilih untuk ke kantin yang pastinya nanti akan membuat mereka mendapat teguran lagi atau bahkan hukuman jika kesialan sedang ingin bermain-main dengan kedua sahabat tersebut hari ini.

Terlihat Min Young yang sedang serius membaca novel yang telah ia temukan barusan. Novel dengan genre romance itu kini telah menenggelamkan dunia Min Young mengabaikan Cheonsa yang kini mulai bosan lantaran tak ada satupun buku yang menariknya. Bukannya tidak ada sih, sebenarnya tadi mereka hanya mencari buku di golongan fiksi dan itu merupakan buku yang paling tidak Cheonsa sukai. Kalian taulah kalau Cheonsa merupakan murid pintar, ya seperti murid-murid pintar pada umumnya, buku yang biasanya Cheonsa buka dan baca  hanyalah buku mengenai pelajaran. Dan ketika Cheonsa meminta Min Young untuk menemaninya mencari buku yang menarik – menurut Cheonsa – gadis sedikit bar-bar itu tak mau. Ia bilang:

‘Ish! Cari saja sendiri. Bahkan hanya melihat sampulnya saja aku muak melihat buku yang biasa kau baca’.

Dan akhirnya di sinilah Cheonsa, mencari-cari buku sendiri tanpa di temani Min Young di bagian rak buku yang terletak di pojok bagian selatan. Cheonsa mulai melihat satu persatu buku yang mungkin saja menarik perhatiannya. Dengan jeli matanya menyusuri tiap buku-buku yang rata-rata memiliki ukuran lumayan tebal itu.

“Paling enak cari buku apa ya? Biologi? Kimia atau-“

“Ooooo…. sepertinya kita jodoh”

Cheonsa yang mendengar suara namja itupun lantas mendongakkan kepalanya yang tadi sedikit menunduk menyusuri tiap judul-judul buku yang tertata rapi di depannya.

“Ssun-bbae”

Cheonsa sedikit kaget. Tampak sekali ketakutan yang terpancar dari wajahnya. Kenapa dirinya bisa bertemu dengan namja ini lagi?

“Iya aku. Masih ingat kan? Oh tentu saja. Btw, dimana pangeran kesianganmu tadi?” Namja yang dipanggil sunbae tadi yang ternyata adalah Myungsoo terlihat menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah-olah sedang mencari-cari seseorang.

“Dia tak ada? Berarti, kita bisa bermain-main sedikitkankan?” Ucap Myungsoo yang kini mulai mendekat ke arah Cheonsa.

“sunbb-ae, geumanhae”

“Ne?” Myungsoo lalu menurunkan pandangannya ke arah bawah. Bukan ke lantai. Ke arah Tubuh Cheonsa bagian bawah tepatnya. “Kenapa kau menutupi paha mulusmu itu dengan kain tak berguna ini baby?” Lanjut Myungsoo sambil memegang blazer Luhan yang menutupi paha Cheonsa. Hal itu sontak membuat Cheonsa menghempaskan tangan Myungsoo.

“Andwae sunbae”

“Woow selain cengeng ternyata kau galak juga ya? So interesting” Myungsoo kini semakin mendekat ke arah Cheonsa dengan tatapan yang errrr seperti menelanjangi tubuh Cheonsa.

“Kau memilih tempat yang bagus untuk kita berdua baby” Bisik Myungsoo sambil melihat ke sekeliling yang memang merupakan bagian dari perpustakaan yang lumayan sepi ini mengingat mereka sedang berada di bagian pojok perpustakaan. Bisikan Myungsoo yang tepat berada di samping telinga gadis itu membuat kulit halus di sekitar telinga dan leher Cheonsa meremang.

“Sun-nbae jebal” Untuk kesekian kalinya di hari ini Cheonsa harus dihadapkan dengan situasi ini. Angan-angannya untuk dapat semakin dekat dengan Kai dan sekolah dengan tenang di hari pertama masuk sekolah sirna seketika. Kenapa semua yang telah ia bayangkan semalam sebelum tidur tak ada yang terwujud sama sekali. Bayangan ia dapat bertemu dengan Kai seharian ini di sekolah, makan di kantin bersama Kai dan berangkat ke sekolah dengan Kai tentunya. Oke untuk yang satu ini -berangkat bersama – memang terjadi walaupun Kai tetap acuh pada dirinya tapi setidaknya apa yang ia inginkan terjadi. Tapi kenapa semua ini jauh sekali dengan apa yang ia bayangkan? Bahkan tak sedikitpun terbayangkan oleh Cheonsa ia akan bertemu dengan sunbae-nya yang seperti ini. Sunbae ini benar-benar menyeramkan menurut Cheonsa. Dan tanpa terasa air mata itu mengalir lagi di pipi mulusnya.

“Kenapa kau selalu menangis huh?” Myungsoo berujar tepat di depan wajah Cheonsa yang saat ini sedang menunduk lalu mengusap pelan air mata Cheonsa dengan ibu jarinya.

“Sunbae jangan sentuh aku… ku mohon” Cheonsa semakin mencekram erat blezer Luhan yang melingkar di tubuhnya. Tampak sekali terlihat kalau yeoja ini sedang ketakutan. Myungsoo yang melihat ini malah semakin manampilkan smirk-ya. Membuat hoobae barunya ini ketakutan cukup membuatnya senang. Myungsoo menemukan mainannya?

“Tak perlu menangis baby. Kau nanti juga akan menikmati jika aku…..” Myungsoo menyusuri wajah cantik Cheonsa dimuali dari bulu mata lentik Cheonsa, mata yang sedikit lebar dan bulat yang membuatnya terlihat lucu tapi tidak untuk saat ini, hidung mancung yang sangat proporsional dengan pipinya yang agak sedikit chubby, lalu bibir mungil berwarna pink itu. “menyentuhkan bibirku pada ini..” Lanjut Myungsoo mengusap ujung bibir Cheonsa.

Cheonsa hampir lupa bagaimana caranya bernapas dan tubuhnya kaku bagaikan patung karena tubuhnya benar-benar seperti tak bisa digerakkan. Bukan karena ia terpesona kepada Myungsoo ataupun sentuhan Myungsoo di wajahnya tapi gadis ini telalu takut. Benar-benar takut. Air matanya kini semakin deras yang disertai dengan isakan kecil yang keluar dari bibirnya mungilnya yang terlihat bergetar. Cheonsa tak bisa mengeluarkan protesnya lagi. Gadis ini memiliki kebiasaan, jika dirinya sudah benar-benar ketakutan ia tidak akan bisa mengeluarkan apapun dari mulutnya. Mulutnya akan terkatup rapat sambil terisak dan parahnya lagi gadis ini biasaya akan menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.

“Hmmm… aku lepas ne?” Kata Myungsoo yang terdengar seperti pemberitahuan kepada gadis itu karena tanpa mendengar jawaban dari Choensa Myungsoo sudah menjatuhkan blazer Luhan yang membuat paha mulus Cheonsa terekspos lagi.

“Woahh~ Kau benar-ben-“

DUK!

Terdengar bunyi gesekan antara buku super tebal dengan kepala seorang namja yang tak bukan dan tak lain adalah kepala malang dari seorang Kim Myungsoo yang diikuti dengan suara umpatan dari namja tersebut.

“OMO! Cheonsa!”

Min Young langsung mnghampiri sahabatnya yang kini terlhat terisak dengan mata masih terpejam, bibir bergetar dan terkatup rapat dan jangan lupakan air mata yang masih setia membuat aliran anak sungai di pipinya. Apa yang telah terjadi pada sahabtnya ini? Sementara Min Young kini terlihat memeluk Cheonsa bermaksud menenangkan gadis itu, nampak dua namja menatap Myungsoo dengan datar. Kalau dilihat dengan teliti satu diantara dari mereka terlihat sedang menahan emosinya yang benar-benar akan meledak.

“Tak seharusnya kau melakukan ini Myungsoo” Ujar namja dengan kulit seputih susu yang tak bukan dan tak lain adalah Sehun. Sedangkan Myungsoo yang usahanya ingin bersenang-senang dengan hoobae-nya ini telah gagal untuk kedua kalinya dan yang menggagalkannya adalah orang yang sama. Bukan sama sebenarnya. Tapi bolehkan Myungsoo menganggap mereka orang yang sama? Sama-sama anggota EXO maksudnya. Bukankah Luhan, Sehun dan…. Kai adalah EXO? . Tapi ngomong-ngomong, Kai? Kai ada di sini? Hey perlu kalian ketahui bahwa dalang dari pelemparan buku super tebal ke kepala malang Myungsoo adalah Kai. Ya, seorang Kim Jongin dengan tatapan dinginnya dan wajah yang terlihat menahan amarah.

“Woooah 2 pangeran sekolah eoh?” Myungsoo tersenyum miring.

Kai  melirik ke arah Cheonsa yang kini berada di pelukan Min Young dengan mata masih terpejam dan air mata seperti tadi. Dan hei, sepertinya yeoja ini benar-benar sedang ketakutan. Lihatlah saat ini Cheonsa menggigit bibirnya dengan sangat kuat yang membuat Min Young bingung karena Cheonsa tak mendengarkan ucapannya untuk berhenti menangis dan menggigit bibirnya sendiri. Gadis ini selalu menyakiti dirinya sendiri ketika ketakutan.

Kai lalu memandang ke arah Myungsoo lagi dengan tanpa disadarinya kedua telapak tangan yang berada di samping tubuhnya terkepal kuat.

“Waeyo Kim Jongin? Sepertinya kita lama tak bermain-main?” Myungsoo tetap menampilkan senyum miringnya lalu menatap Kai balik dengan tatapan tak kalah dinginnya dengan Kai. Sedangkan Sehun yang melihat ketegangan di antara keduanya mengerutkan alisnya. Kenapa Kai terlihat emosi sekali? Apa karena gadis yang sedang menangis ini? Tak biasanya sahabatnya ini menunjukkan wajah sedingin dan semarah ini meskipun Kai sering menampilkan wajah dinginnya. Atau ada sesuatu yang tak ia ketahui telah terjadi antara Myungsoo dan Kai di masa ……. lalu mungkin?

Kai tetap menatap Myungsoo dengan tatapan paling dingin yang pernah ia punya.

“Dasar banci”

“Hahahahaha kau tak malu eoh?”

“Hey Jongin! Kau tak bermain barbie dengan pacar ingusanmu yang cengeng itu?”

“Gadis ingusan cengeng sekali! Akukan hanya menarik kunciran dan mencubit pipinya. Kenapa menangis?”

“Tak salah kau berpacaran dengannya! Aku juga suka melihatnya menangis Hahahahaha”

“Banci!”

Kata-kata itu terus berputar di otak Kai seiring dengan tatapannya yang semakin menajam, kepalan tangannya yang semakin kuat dan rahangnya yang semakin mengeras.

 

 

TBC….

Ada yang masih nunggu gak? Pasti gak deh. 😥
Oh ya, aku rasa ceritanya makin kesini makin gak jelas dan absurd. Bener gak? Aku juga bingung sendiri. Aku gak terlalu semangat seperti nulis chap 1 & 2-nya. Dan maaf jika buat kalian gak suka bacanya. Oh iya, chap ini lumayan panjang drpd chap 1&2, ini 4.661 words kkkk Eh iya, ada HUNHAN SHIPPER gak di sini? aku HunHan hard shipper jadi karena aku gak bisa melihat moment mereka lagi di dunia nyata -__- izinkan saya membayangkan mereka di sini ne?
Seperti sebelumnya, karena ini ff pertama aku, jadi dengan segala permintaan dari hatiku yang paling dalam, RCL ya? DONT BE SILENT READERS. Kalian komen ff aku biar
aku tahu kekurangannya sehingga bisa aku perbaiki. Kita saling menguntungkkan lah
aku yang nulis kalian yang hanya tinggalin komen. Gampangkan?

Yang terakhir, bagi yang pengen kenal sama aku, bisa mention ke twitter aku
@_jonginexo94 or add me in line. Here’s my id: miqookai. Kalian bisa jadi teman aku di sana. Ehh iya. Ini profil singkat aku:
nama asli aku miqo, 3rd of SHS.

Terima kasih buat yg udah mau baca ff aku. And once again, RCL JUSEYO.

See You J

 

 

 

 

 

 

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Sorry, Because I Love You Oppa (Chapter 3)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s