The Falling Leaves (Chapter 1) – Shaekiran

The Falling Leaves Chapter.jpg

The Falling Leaves

By: Shaekiran

Main Cast

Chanyeol [EXO], Wendy [RV], [SNSD]

Additonal Cast

Byun Baekhyun [EXO]

Genres Romance, Drama, Hurt, Sad (?)

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer:

Ff ini murni buatan author yang otaknya rada sengklek banyak (?). Nama cast disini hanya minjam dari para member boyband and girlband korea yang ganteng dan cantik bingits terutama dari SM Entertainment dan terkhusus untuk abang-abang EXO yang selalu setia di tulis di bagian paling atas bias list saya. Happy reading!

Previous Chapter

Prolog | [NOW] Chapter 1 |

“Jika helai demi helai daun itu berserakan diterpa angin, maka keping demi keping hatiku telah berserakan diterpa kata perpisahan darimu.”

 

-Chapter 1-

 

Raja siang nampaknya enggan mengalah pada manusia. Dengan seenak jidatnya sang mentari malah memberikan panas yang menyengat bagi setiap kulit di siang hari itu. Keringat menetes dari kumpulan-kumpulan manusia yang sedang berteriak, memecah keheningan yang biasanya terjadi di sirkuit itu kala tak ada jet darat yang meluncur di sana.

“Park Chanyeol, apa kau dengar. Kau sedang berada di posisi 3 sekarang, cobalah untuk mendekati si Jepang itu lebih dekat.”, kata namja dengan topi merah yang menutupi surai gelapnya dari luar lapangan.

“Ne hyung.”, jawab lelaki yang dipanggil Park Chanyeol itu lewat earphone mini yang memang selalu setia menengger di telinga perinya.

Setelah menjawab nya singkat, Chanyeol melepas earphone-nya kasar. Dengan sigap dia membanting stir jet darat yang sedang dikendarainya itu, tak pelak membuat speedometer yang menancap manis disana bertambah puluhan kilometer per jam hanya dalam beberapa detik. Tinggal 3 putaran lagi, kali ini namja itu bertekad untuk menang dari si Jepang tua satu itu.

Baekhyun melepas earphone-nya marah. Dia mendesah berat sambil menurunkan topi merah yang sedari tadi dia kenakan.

“Dia melakukannya lagi!”, teriak namja itu pada rekan setim-nya yang lain yang kini sama-sama bermuka kecut seperti pakaian menumpuk yang menunggu disetrika.

Berbeda dengan tim-nya yang marah dengan kelakuannya memutus komunikasi secara sepihak, namja di jet darat berwana merah menyala dengan bendera Korea Selatan di bagian ekornya itu malah tersenyum kecil, pasalnya jet daratnya baru saja melewati si Jepang tua dan memimpin di posisi pertama.

“Sedikit lagi chagi, sebentar lagi aku akan membawamu ke podium pertama.”, ucap Chanyeol yang ntah ditujukan untuk siapa. Namja itu semakin menggila membanting stir di hadapannya, melewati belokan terakhir dan mengantarkannya ke podium pertama dengan selisih 3 detik dengan Jepang tua yang mulus berada di posisi 2.

Ribuan manusia di tribun Fuji Speedway  itu berteriak tak kala mobil merah menyala itu melewati garis finish. Chanyeol keluar dari mobil balap kesayangannya yang kini telah terparkir di lapangan rumput di samping lintasan balapan. Dengan mesra dia mencium jet darat bernomor 61 itu.

“Kita menang chagi-ya…”, bisik namja itu dengan nada mesra dan mencium mobil itu berkali-kali, seperti mencium seorang yeoja saja.

“Hyung, kita menang…”, teriak Chanyeol menyudahi ciumannya saat menyadari bahwa anggota teamnya sedang berlari berhamburan ke arahnya. Dengan percaya diri Chanyeol melebarkan kedua lengannya, hendak menyambut para kru balapnya.

“Pletak!”

Baekhyun yang pertama kali sampai ke hadapan Chanyeol malah memukul kepala namja itu dengan topi merahnya, bukannya memeluk orang itu dan memberikan selamat atas kemenangannya di sirkuit.

“Ya! Kenapa kau memutus komunikasi lagi, hah? Kau ingin membunuhku apa?!”, teriak Baekhyun marah. Jika cerita banteng yang marah bisa mengeluarkan asap dari telinganya itu benar, maka mungkin sekarang sudah ada asap yang keluar dari kedua telinga mungil Baekhyun meskipun Baekhyun bukanlah banteng.

Chanyeol hanya diam mendengar perkataan managernya itu. Memang dia salah, tak seharusnya dia memutus komunikasi begitu saja. Tapi sumpah, Namja itu melempar earphone-nya hanya agar dia konsentrasi mengendari jet daratnya yang tengah meluncur dengan kecepatan super tinggi, bukannya ingin membuat kru teamnya khawatir. Melihat baekhyun yang tengah memarahi racer mereka, para kru yang lain pun berhenti berlari dan hanya memandangi kedua namja itu dari jauh.

Baekhyun melunak. Amarahnya menghilang begitu saja melihat namja tinggi di depannya hanya diam tanpa menjawab. Chanyeol membungkuk, sekali-kali dia memainkan rumput di lapangan itu dengan kakinya.

“Gwenchana?”, Tanya Baekhyun kemudian.

“Ne hyung.”, jawab Chanyeol cepat sambil tersenyum. Dia segera merangkul hyungnya itu. Chanyeol paham benar akan sifat Baekhyun, saat namja mungil itu mengatakan gwenchana, itu artinya dia tidak marah dan Chanyeol tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Melihat itu kru teamnya kembali berlari dan memeluk Chanyeol dan menyelamati namja itu.

***

Chanyeol tertidur di bangku bandara. Dia menutup wajahnya dengan topi dan menyumbat telinganya dengan headshet yang kini tengah memutarkan lagu-lagu dari Negara asalnya. Suara merdu Super Junior mengalunkan “Sorry Sorry” yang membuat kepala namja itu kini ikut bergoyang dengan gaya yang dibuat se-cool mungkin.

“Tak.”

Dengan kasar seseorang menarik headshet putih yang bergelantungan di telinga peri Chanyeol. Namja itu kesal bukan main, dia membuka topinya dan menatap namja yang baru saja melepaskan headshetnya dengan kurang terhormat.

“Ah, hyung!”, kata Chanyeol kesal.

“Kau benar-benar mau pulang sekarang, hah? Yang benar saja!”, jawab Baekhyun sambil memangku tangannya. Wajah cemberut terlukis jelas di wajahnya.

“Wae? Kau marah Baek?”, Tanya Chanyeol pada Baekhyun dengan nama kecil namja itu, tanpa embel-embel hyung lagi.

“Bahkan kru yang lain baru akan pulang 3 hari lagi Yeol!.”, jawab Baekhyun malas. Chanyeol malah tersenyum kecil sambil mengambil kaleng soda yang sedari tadi dipegang Baekhyun dan meminumnya sampai habis.

“Kau marah karena aku tidak mau mengikuti idemu untuk pergi ke labbing? Ayolah Baekhyun, kita bisa pergi ke labbing di Seoul. Bukannya biasanya juga begitu?”, Tanya Chanyeol lagi sambil melempar kaleng sodanya ke tempat sampah yang kira-kira berjarak 3 meter darinya dan beruntungnya tepat sasaran sehingga image keren yang sedang dibangun namja itu tidak hilang.

“Tapi gadisnya beda Yeol. Kau mana bisa menemukan gadis-gadis Jepang dengan rambut hitam lurus dan mata sipitnya yang menggoda di Seoul. Oh,Jangan lupa kimono longgar mereka.”, terang Baekhyun sambil menerawang jauh ke suasana pub di Jepang yang pernah dikunjunginya dulu.

“Jadi bagaimana? Kau mau kita pergi ke labbing sekarang? Jawdal take off pesawat kita masih setengah jam lagi.”, canda Chanyeol sambil menunjuk monitor pengumuman di bandara itu.

“Apa yang bisa kau lakukan dengan setengah jam Tuan Park?”, balas Baekhyun sinis dan kini malah dia yang mulai tidur dengan gaya persis seperti yang dilakukan Chanyeol tadi.

“Mc,” kata Chanyeol melihat kelakuan hyungnya yang kekanakan itu.

***

Rumah mewah dengan pagar setinggi 2 meter lebih itu berdiri angkuh di salah satu perumahan di daerah Gangnam, Seoul. Mobil sedan hitam metalik masuk ke pekarangan rumah bercat coklat muda dengan campuran warna krem dan putih gading itu. Mobil sedan itu pun berhenti tepat di depan pintu rumah berwarna coklat tua yang berisi motif-motif ukiran kayu yang semakin memperindah sepasang pintu tadi.

Seorang namja setinggi 180 cm lebih keluar dari mobil sedan itu sambil menenteng sebuah tas di punggungnya. Si supir dengan sigap segera mengeluarkan koper-koper tuannya itu dari bagasi mobil. Sementara namja tinggi dengan kacamata hitam itu asyik berjalan ke dalam rumah bernuansa hangat itu.

Rumah itu kosong. Sepi . tak ada suara yang menyahut ketika namja itu memanggil-manggil nama eomma-nya selain suara pembantunya yang menyahut bahwa nyonya rumah itu sedang pergi arisan dengan teman-temannya. Dengan malas Chanyeol melepas kacamatanya dan melempar tas ranselnya ke arah sofa di ruang tamu.

Tangannya menggapai remote tv di meja dan menghidupkan  benda berbentuk persegi itu. Tanganya menekan-nekan tombol di remote dengan malas. Tak ada acara yang membuatnya tertarik. Membosankan.  Tanpa sadar akhirnya namja itu malah ketiduran di sana, dengan tv yang masih senantiasa menyala dan menampilkan acara yang silih berganti.

***

Kedua buah mata itu mengerjap-ngerjap pelan. Tangannya menggapai-gapai tak jelas. Jemarinya menyentuh matanya yang kini rasanya seperti basah dan, asataga! Namja itu segera berdiri dari tidurnya.

“Noona, berhenti mengganguku!”, teriak Chanyeol kesal kepada wanita yang tengah duduk di sofa yang sama dengan tempat namja itu tertidur. Di tangannya bertengger manis sebuah gelas kaca berisi air putih dan lihat, tangan yeoja itu basah.

“Wae? Itu menyenangkan.”, jawab yeoja itu ogah menyanggupi permintaan donsaeng satu-satunya itu.

Chanyeol kemudian duduk kembali di sofa sambil mengelap-ngelap matanya yang basah karena ulah usil noona-nya yang memercikkan air itu. Park Yoora tertawaa penuh kemenangan melihat tingkah adiknya yang kesal. Baginya menjahili adiknya merupakan salah satu rutinitas yang tidak bisa ditinggalakan begitu saja oleh wanita berumur 25 tahun itu.

“Kau sudah pulang? Kenapa tidak bilang-bilang? Kan noona bisa menjemputmu tadi.”, lanjut Park Yoora  menyudahi tertawanya sambil menyodorkan seonggok tissue pada adik laki-lakinya itu.

“ Aku malas semobil denganmu yang punya cara menyetir yang bisa membuatku mual setelah duduk berjam-jam di pesawat.”, jawab Chanyeol asal yang akhirnya berakhir dengan jitakan sang kakak di kepala namja itu.

“Kau mengesalkan Park Chanyeol. Jangan panggil aku noona-mu lagi.”, kata Park Yoora sambil mengganti channel tv dihadapannya dengan acara berita gossip artis. Wajahnya dibuat secemberut mungkin.

Chanyeol hanya diam tanpa menanggapi aksi kakaknya lagi. Matanya menatap lekat ke layar tv sejauh 2 meter di hadapannya. Melihat tingkah Chanyeol yang hanya diam membuat Yoora bingung saja.

“Aku pergi ke luar dulu.”, kata namja itu singkat dan pergi meninggalakn kakaknya yang kini terbengong-bengong melihat tingkahnya.

“Kenapa dia? Dasar aneh.”, batin yeoja itu sepeninggal adiknya.

“Hah, seharusnya aku tidak mengganti channel-nya tadi. Dasar bodoh kau Park Yoora.”, batin yeoja itu lagi sambil memukul kepalanya sendiri setelah melihat acara di layar televisinya sekarang.

***

“Drrtt….Drttt…..”

Handphone di meja itu berbunyi nyaring. Sebuah pesan masuk setelah 3 kali handphone itu berdering tanpa diangkat oleh pemiliknya. Baekhyun membuka selimut tebal yang dipakainya sedari tadi. Namja itu menatap handphone di mejanya dengan tatapan menusuk. Dengan enggan dia membaca pesan di handphone-nya dan langsung mendecakkan lidahnya kesal.

“Aku tidak bisa.”,balas Baekhyun dengan cepat dan melanjutkan tidurnya.

“Drrrttt….drrrttttt”

Baekhyun bangun dengan kesal. Dia menatap jam weker di meja yang sama dengan tempat dia meletakkan handphone-nya itu. Oh ayolah, ini sudah jam 11 malam. Siapa yang berani-berani membangunkan Baekhyun di jam segini. Dengan frustasi dia mengacak rambut blonde-nya asal dan mengangkat handphone-nya yang sedari tadi berdering.

“YA PARK CHANYEOL! Kau ingin aku membunuhmu ,eoh? Kenapa kau terus menghubungiku tengah malam begini, hah?”,jawab Baekhyun setengah berteriak pada Chanyeol yang sejak pukul 7 malam tadi menghubunginya dan mengirim pesan untuk menemani namja itu mencari udara segar.

“Ma…maaf tuan. Ini bukan Park Chanyeol yang anda maksud.”, jawab wanita di seberang sana takut-takut setelah mendengar teriakan Baekhyun.

“Geobseyo? Tapi ini handphone Chanyeol kan?”, Tanya Baekhyun kemudian dengan nada melunak. Dia merasakan firasat buruk saat tau bukan Chanyeol yang menghubunginya.

“Ne, ini memang handphone milik tuan Park Chanyeol tapi sekarang tuan itu sedang tidur terlelap setelah menghabiskan 3 lusin soju di restoran kami. Maaf, tapi bisakah kau menjemputnya tuan? Restoran kami sudah mau tutup.”, jelas yeoja di seberang sana. Baekhyun mendesah mendengar jawaban yeoja itu.

“Ne, aku akan menjemputnya sekarang. Tolong kirimkan alamat restorannya padaku.”, jawab Baekhyun kemudian. Namja itu mengucek-ngucek matanya dan segera mengambil kunci mobilnya di meja.

***

Mobil Baekhyun melaju kencang di jalanan Seoul. Pukul 00.00 kst, tentunya jalanan Seoul yang ramai kini berubah sangat lenggang dan sepi. Hanya ada beberapa toko 24 jam di sepanjang jalan yang masih buka. Meski begitu Seoul tak pernah mati. Cahaya warna-warni dari sekian ribu lampu jalan dan pertokoan di Seoul membuat kota itu hidup sepanjang malam.

“Kau kenapa lagi Park Chanyeol?”, batin Baekhyun sambil memandangi sahabatnya yang sedang tertidur di bangku sebelahnya yang sedang mengemudi.

Namja bernama lengkap Byun Baekhyun mendesah lagi. Nampaknya perjalanan mengantar pulang orang mabuk di sebelahnya itu akan berlangsung semakin lama, mengingat bensin mobilnnya yang kini semakin menipis. Mengingatkan namja Byun itu agar segera mengisi tangkinya jika tidak ingin berakhir mogok di jalanan Seoul yang sepi akan taxi di tengah malam.

“Aku harus segera mencari pom bensin jika tidak ingin berakhir menemani orang mabuk semalam suntuk.”, batin namja itu yang kini melajukan mobilnya semakin cepat ke arah pom bensin terdekat.

“Isi full saja.”, kata Baekhyun cepat setelah yeoja yang menjaga pom bensin itu mengucapkan salam dengan ramah.

“Ne.”, jawab yeoja itu ramah dan memulai menekan-nekan tombol di pom bensin itu.

“Kau blasteran?”, Tanya Baekhyun memecah keheningan di pom bensin yang sepi itu.

“Ah, maksud anda aku? Oh tidak, aku bukan blasteran. Aku orang Korea asli.”, jawab yeoja itu sambil memegangi selang bensin yang sedang mengisi tangki bensin mobil berwarna silver itu.

“Tapi wajahmu tidak terlihat seperti orang korea asli.”, lanjut Baekhyun sok tau karena melihat wajah yeoja itu yang memang agak mirip dengan orang luar.

“Anii, anii ahjusi. Aku orang korea asli.”, lanjut yeoja itu sambil tertawa sedikit.

“Tunggu agashi, kau bilang apa? Ahjussi? Demi Tuhan. Kau tidak lihat wajah baby face ku ini? Aku ini baru 22 tahun nona.”, lanjut Baekhyun tidak terima dikatai ahjusi oleh yeoja yang baru bertemu dengannya selama 15 menit. Baginya itu adalah sebuah penghinaan besar.

“Ne? Ah Byan. Aku tidak tau kau masih muda.”, ledek yeoja itu lagi sambil melepaskan selang bensin yang telah selesai mengisi tangki mobil Baekhyun hingga penuh.

“Ya! Itu penghinaan. Sebenarnya berapa umurmu hah?”, kata Baekhyun semakin kesal.

“Byan, tapi aku masih lebih muda darimu. Aku masih 20 tahun ahjussi.”, jawab yeoja itu lagi dengan masih memanggil Baekhyun dengan sebutan ahjussi.

“Berhenti memanggilku seperti itu Seunghwan-ssi. Panggil aku Baekhyun saja, atau jika perlu panggil saja oppa atau orabeoni.”, lanjut Baekhyun kemudian setelah melihat name tag di seragam yeoja itu.

“Arasseo, Baekhyun-ssi.”, jawab Son Seunghwan sambil menyebutkan harga yang harus dibayar namja yang baru saja dikenalnya itu. Dengan cepat Baekhyun mengeluarkan beberapa won dari dompetnya.

“Kumawo Baekhyun-ssi. Silahkan datang lagi untuk mengisi tangki anda yang kelaparan ke pom bensi ini lagi.”, lanjut yeoja bermarga Son itu sambil memberikan kembalian kepada namja yang duduk di bangku kemudi itu dengan bahasa non formal.

“Araseo, aku akan datang lagi jika mobilku ini minta makan.”, jawab Baekhyun sambil mengambil kembalian yang disodorkan yeoja itu.

Son Seunghwan membungkukkan kepalanya hormat kepada Baekhyun yang kini menutup kaca mobilnya. Dengan perlahan mobil Baekhyun melaju meninggalkan pom bensin itu, tapi mobil itu tidak menuju pintu keluar, malahan berhenti di titik yang tidak terlalu jauh dari tempatnya mengisi bensin tadi. Seunghwan menatap mobil itu heran. Baekhyun pun keluar dari mobilnya dan menemui Seunghwan yang kini melongo di tempat.

“Maaf Seunghwan-ssi, bisakah kau menjaga temanku sebentar? Dia sedang mabuk dan tertidur di mobil. Aku ingin pergi ke toilet sebentar. Dan ingat, jangan memanggilkan ahjussi, dia akan sangat marah. Dia bahkan belum genap 22 tahun sepertiku.”, terang Baekhyun panjang lebar dan mengeluarkan cengiran khasnya ketika melihat Seunghwan yag hanya mengangguk pasrah dengan permintaanya.

Seunghwan menatap mobil Baekhyun penasaran. Pom bensin sedang sepi sekarang. Tidak ada pengunjung seperti Baekhyun lagi yang mengisi bensin kendaraan mereka tengah malam begini. Yeoja itu pun merapatkan jaket yang dia pakai.

“Aishh, dingin sekali.”, batin yeoja itu yang sedang berjalan menuju mobil Baekhyun.

Seunghwan iseng mengintip ke bangku penumpang mobil Baekhyun. Dia penasaran seperti apa teman seorang Baekhyun yang katanya sedang mabuk dan belum genap 22 tahun itu. Yeoja itu meletakkan kedua tangannya di depan kaca bangku penumpang. Dan tiba-tiba saja kaca mobil itu malah terbuka.

“Aishhh, namchagiya! Membuatku kaget saja.” , kata Yeoja itu kaget dan jatuh terduduk. Ternyata namja mabuk itu tak sengaja menekan tombol untuk membuka kaca mobil.

Hening, tiba-tiba Seunghwan menghentikan omelannya begitu saja saat melihat namja di mobil itu. Ntah kenapa hatinya merasa teriris dan kasihan melihat namja yang bahkan dia tak tau namanya itu kini mulai mengeluarkan cairan bening dari kedua bola matanya yang tertutup.

“Dia menangis.”, batin Seunghwan dalam hati. Rasanya aneh melihat seorang namja menangis dalam tidurnya, pastinya dia sangat tersiksa hingga bisa menangis bahkan ketik dia sedang berada di alam mimpi.

Seunghwan membalikkan badannya. Dia paling tidak tahan melihat orang menagis dan kini seorang namja yang tidak dia kenal sama sekali menangis di hadapannya. Itu lucu. Sebuah mobil memasuki pom bensin itu, dengan sigap Yeoja itu pun berjalan kembali ke posnya.

“Kenapa kau meninggalkanku padahal aku sangat mencintaimu?”

Sebuah pertanyaan terlontar tanpa diminta. Yeoja itu menghentikan langkahnya dan menatap mobil Baekhyun kembali. Dari jarak 2 meter ini dia masih bisa melihat bahwa namja di mobil itu yang memberikan pertaanyaan menyayat hati itu dengan mata yang masih terpejam dan butiran air mata yang terus berjatuhan.

 

-To be Continued-

Catatan ABSURD:

 

Anyeonghaseyo semuanya…

Perkenlakan, nama pena author Shaekiran, freelance baru di exoffi. Salam kenal semuanya. J

 

Ceritanya Shaekiran lagi buat ff yang judulnya The falling leaves, asli judulnya ngalay banget. Ntah karena apa author sreg aja sama judulnya meski rada alay. Sebenarnya author ragu ada yang baca ff ini yang baru bagian prolognya kemarin, (syukur kalo ada yang baca :v) . meskipun ff ini sangat absurd dan tidak jelas, semoga para readers semua yang berminat membaca ff ini mengerti jalan cerita yang author suguhkan dari prolog ke chapter 1 ini (?). ceritanya main chastnya ada 3, dan author main rahasia-rahasiaan. Kan inget tuh yg di prolog posternya di blur semua? Itu karena di prolognya author belum ngasih tau nama castnya aja. Nah sekarang di chapter 1 ini autor udah ngehapus semua blur di poster itu dan jjeng-jeng…. Muncullah Park Chanyeol sebagai main chast untuk ff ini. Untuk yang perempuan ada 2 yeoja, yaitu member SNSD dan Red Velvet. Di Chapter ini terbongkar sudah bahwa member RV di ff ini adalah Son Seunghwan atau nama gaulnya Wendy. Sementara member SNSD nya masih rahasia, tunggu aja ya di chapter-chapter selanjutnya, author bakal kasih tau karena author gak bakalan ngebawa rahasia ff ini sampai ke liang kubur (maksud lo apa sih shaeki?). sebenernya author juga bingung apa maksudnya. Tapi kalo kalian benar-benar penasaran (cielah, pede banget lho thor…) kalian bisa mencoba menebak dagu –dagu para yeoja di poster ff ini. Silahkan mencoba bagi yang penasaran. J

Dan karena author adalah seorang yang masih sangat pemula (juju aja the falling leaves ini adalah ff pertama author) jadi kalo ada kata-kata yang menganehkan, typo bertebaran,bahasa korea yang gak jelas rimbanya dan kesalahan-kesalahan lainnya, apalagi buat profesi Park Chanyeol yang ceritanya seorang pembalap yang sedang berlaga di F3 di Jepang . Sekedar info F3 itu adeknya F1, bisa dibilang ini untuk kelas junior. Biasanya yang jadi pembalap F1 dulunya berasal dari F3. (Sok tau lo thor..) Yah itulah yang author tau, maklum masih pemula. Jadi buat para sunbae yang lebih berpengalaman apalagi tau seluk beluk tentang dunia balapan, silahkan boleh memberi masukan pada author yang shaeki ini. J

Sekian catatan absurd dari author yang tanpa sadar bisa sepanjang ini (?). semoga para readers sekalian tidak bosan membaca ff dan catatan absurd ini. Makasih juga buat para staff exoffi yang sudah menerbitkan karya author di blog ini. Jeongmal kamsahamida…. J

Jangan lupa read,like dan comment ya chingu. Don’t be a silent  reader, please.. (sok bule lo thor, nilai bahasa inggris lo aja masih remed) -_-

 

Regards

Shaekiran!

16 thoughts on “The Falling Leaves (Chapter 1) – Shaekiran

  1. Ping-balik: The Falling Leaves (Chapter 2) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

    • tunggu, kok jadi kembaran syahrini chingu? waks, cetar membahana? epep abal” cem ini dibilang cetar membahana? eki terhura, hiks /plakk/😄
      thanks for reading, cintakuh padamuh❤

  2. Aduh, siapa yg kasihan chingu? Chanyeol yak? Emang ane jahat banget sama yeol (*maafkan daku oppa /plak/ digampar -,-) , sabar ya nunggu next chapternya chingu, kita akan liat kesengsaraan yeol bersama-sama (*plak/ digampar lagi ) 😂. Thanks for reading…😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s