[Luhan’s Birthday Project] Liar

jatuh4jatuh6

Twelveblossom’s

“I’m a liar and a cheat and a coward, but I will never, ever, let my friends down.”

-oOo-

Sehun

Tepuk tangan dan sorak sorai riuh, meneriaki namaku. “Oh Sehun,” begitu cara mereka berseru dengan semangat. Aku tidak keberatan, toh itu hak mereka. Walaupun, aku menjadi tuan rumah di acara perpisahan ini, aku tak punya kuasa mengendalikan keliaran. Dua belas pria lajang, tak ada satu pun wanita sebagai pengecuali—berkumpul menjadi satu.

Serius, aku tidak ambil pusing ketika salah satu dari mereka, berseloroh menggoda. “Sehun, kau sudah pakai obat kuat apa?” Pertanyaan dari seorang pria pendek—aku tidak melecehkan, itu fakta. Baekhyun benar-benar pendek—dia sahabatku.

Rautnya yang tengil berubah kecewa, melihatku mengacuhkanya dan malah meneguk wine dengan khidmat. Seakan-akan menikmati hingar bingar The Cornwall yang diisi oleh gelak para sahabatku.

Mengontrol, minuman yang masuk ke tubuh menjadi hal yang paling aku ingat hari ini. Tidak diperkenankan mabuk. Ayolah, itu hal yang sukar. Perlu pengendalian hasrat besar, apalagi The Cornwall mengusung sentuhan London di tahun ‘60-an, lengkap dengan wine maccurie, brand favoritku.

“Kami tidak menyewa club mahal ini hanya untuk melihatmu diam, Oh Sehun.” Kata Kris geram, ia menunjukkan ketidaksabaran.

Aku tersenyum remeh sembari mengendorkan dasi. “Well,” aku menanggapi malas.

Lay yang sedari tadi hening menunjukkan gurauannya. “Seperti besok kau mati saja. Diam, kemudian mengatakan pesan terkahir.”

“Dia mati besok. Kesenangannya akan diambil atau dipenjara seumur hidup,” timpal Kyungsoo yang tengah duduk di kursi paling ujung.

“Pantas saja, hari ini The Cornwall lampunya redup,” celetukan tidak pas berasal dari Chen. Dia suka sekali bercanda, namun selera humornya unik.

Aku enggan menyanggah ucapan sengau Chen. Pikiranku sibuk mengolah beberapa kalimat yang sempat kusadur dari perkataan Lay serta Kyungsoo, seperti besok kau mati saja, dia akan mati besok, dan kesenangannya akan diambil atau dipenjara seumur hidup.

Aku setuju dengan pendapat mereka. Oh Sehun besok tamat. Jika hari ini, aku dapat pulang kapan saja, menunggu bosan. Tetapi, besok ataupun lusa, kesenangan itu terambil. Aku tak akan dapat pergi, lalu kembali seenaknya. Ada seorang gadis yang akan selalu menungguku pulang.

Kalau mau, aku bisa menarik wanita sembarangan, berbagi ranjang. Menghentikan eksekusi esok hari, kemudian kembali memperoleh kebebasan.

Aku mengulum senyum. Berfantasi tentang bagaimana aku dapat dengan bebas menarik wanita yang kutemukan di jalanan Seoul, setelah itu menidurinya. Jika aku, benar-benar ingin mati dalam makna sesungguhnya, meniduri sembarang gadis, menjadi opsi yang tepat.

“Lihatlah, dia tersenyum-senyum sendirian.” Baekhyun menginterupsi lamunanku.

“Jangan ganggu dia, Byun Baekhyun. Biarkan Sehun berbuat semaunya. Mengalahlah untuk seseorang yang akan kehilangan kebebasan,” kata Suho, terselip kebijaksanaan yang dibuat-dibuat.

“Aku memang akan dipenjara besok. Puas?” Aku mendengus.

“Tentu saja. Kami puas, sangat puas.”

“Sebenarnya tidak begitu memuaskan, sebelum kau hang over malam ini.” Suho mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di hidung Chanyeol—pria terkonyol yang baru saja mengusulkan membuatku mabuk berat. “Aku yang memohon pada sipir agar tahanan ini diizinkan untuk berpesta dengan syarat ia tidak boleh mabuk,” kata Suho.

“Astaga, bahkan Suho takut dengan sipirmu itu, Sehun.” Minseok terkekeh hingga terbatuk-batuk, menyadari betapa lucu celetukkannya tadi.

“Bagaimana caramu menaklukkan sipir itu? Kalau tidak salah tonjokan dari Luhan menjadi bumbu,” timpal Tao yang duduk di sebelah Chanyeol.

Luhan yang namanya diungkit-ungkit merasa perlu angkat bicara. “Sehun patut mendapatkan pukulan telak saat itu. Dia dulu terlampau berengsek.”

Satu-satunya momen yang dapat membuatku bertekuk lutut menuruti ucapan Luhan adalah ketika tinju itu, menganugerahkan sesuatu yang hanya bisa aku impikan. Cinta seorang gadis, picisan. Mereka lebih senang menjulukinya gadis itu sebagai Sipir.

Sipir yang membuat hatiku utuh dan tidak terbelah-belah menjadi beberapa bagian. Gadis yang menaklukkan Oh Sehun dan membuatnya berhenti mempermainkan hati gadis lain.

Aku jadi mengingat awal pertemuanku dengan sipir yang menjadi topik pembicaraan kami.

Hm, dia punya nama. Namanya Nara.

Nara, nama yang sederhana, tetapi memiliki berbagai makna. Nara berarti penyejuk. Nara dengan arti terlelap. Nara memiliki makna kedamaian. Nara yang mencintaiku, dengan tidak terbatas.

Aku mengenalnya sejak lama. Usia kami masih terlampau dini untuk memahami apa itu cinta antara pria dan wanita. Kami hanya tahu bagaimana saling membagi. Berbagi coklat, permen, atau mainan. Nara pada umur enam tahun hanya tahu bagaimana cara mengikutiku—tetangganya dari sebelah kiri rumah, serta Luhan—tetangga sebelah kanan rumah. Kami sebaya.

Tidak ada hal-hal istimewa yang mewarnai cerita kami sampai diujung acara ulang tahun Nara yang ke tujuh belas. Luhan dan Nara menjalin hubungan. Aku menjadi orang luar yang mengayomi sepasang kekasih itu. Saat gadis itu, terkena rintik hujan, Nara akan tetap kering berteduhkan jaket Luhan. Namun, ketika Nara menangis karena Luhan—aku meneduhkan kesedihan itu dari Nara.  Selalu begitu.

Nara bilang, “Sehun itu obat jika aku sakit sedangkan, Luhan adalah penyakit itu sendiri.”

Gumaman pemujaan Nara terhadapku, mengetuk sebagian perasaan. Rasa senang awalnya, kemudian bangga, menjalar ke kasih, bermuara pada cinta. Nara terkasih berakhir di ranjang bersamaku dengan statusnya sebagai kekasih Luhan.

Berengsek.

Itu definisi yang tepat untuk sahabat penghianat sepertiku.

Ternyata kata berengsek tidak hanya terlabel padaku, Luhan juga.

Puncaknya pada malam Natal dua tahun lalu. Luhan yang mematok pendiriannya sebagai kekasih dingin tak tersentuh, ternyata berselingkuh terang-terangan—dipergoki langsung olehku. Pertengkaran hebat terjadi. Aku mendapatkan satu pukulan dan membalas dengan tinju bertubi-tubi. Luhan menyelamatkan dirinya dengan kalimat paling ampuh sepanjang eksistensinya.

“Nara mencintaimu, bodoh.” Satu pukulan kulayangkan, tanpa perlawanan kembali menghujani wajah Luhan. “Dia tidak pernah mencintaiku, bahkan satu hari pun. Aku juga berusaha tidak mencintainya.” Ia melanjutkan—tidak berkeinginan menyerah.

Terengah-engah aku melepaskan mantan sahabatku itu. Menatapnya dalam-dalam hingga larut pada luka di rautnya. Aku masih mengingat dengan jelas kepedihan di netranya. Kekasih yang mengaku mencintainya selama tujuh tahun, menipu—lebih parah lagi aku menjadi alasan sahabatku terbunuh secara virtual.

Putaran film lama itu tergulung selesai, ketika Baekhyun menuangkan maccurie penuh-penuh ke dalam gelasku, sembari menyeringai. “Kau dan Luhan sepertinya telah berdamai.”

Luhan hanya menggeleng dan tertawa jahil. “Kalau saja, ia tidak segera mengejar, kemudian melamar Nara saat itu, aku tidak akan melepaskannya.”

Jongin ikut-ikut memojokkan. “Aku masih tidak dapat percaya sampai sekarang. Oh Sehun seorang managing director bertingkah sebodoh itu. Berlarian di sepanjang stasiun hanya dengan menggunakan celana dalam.”

“Celana pendek, bukan celana dalam.” Aku mengoreksi sambil mendengus.

Kris yang tertawa terpingkal-pingkal beserta umpatan, menjadi musik hardcore yang membawaku masuk pada kenangan lainnya. Berlanjut pada roll film setelah Luhan mengungkapkan kejujuran versinya.

Insiden baku hantam antara aku dan Luhan selesai melalui jalur damai. Kami berpelukan—mendapatkan perhatian dari pengunjung club lain. Mengira sepasang gay sedang mengumbar keintiman.

Setelahnya aku pulang dengan kepala berdenyut, setengah mabuk, dan sisanya karena terlampau senang—gadis yang selama ini hanya dapat kusebut sebagai kekasih di dalam mimpi ternyata mencintaiku. Sejak dulu.

Seakan-akan telah menghempaskan beban yang paling berat di hidup, aku terlelap sangat pulas. Semuanya berjalan baik-baik saja sampai pada dering ponsel beberapa kali menguar ke seluruh penjuru ruangan. Baekhyun calling, layar ponsel bertuliskan seperti itu.

“Cepat pergi ke stasiun, Nara tertabrak kereta,” suara histeris Baekhyun menghantam pendengaran. Yeah, kalau saja waktu itu aku tidak sehabis bangun tidur dan nyawaku telah terkumpul, aku tidak akan percaya kekonyolannya. Sayangnya, saat itu aku percaya. Tanpa berpikir panjang langsung saja mengambil kunci mobil, bergegas ke stasiun dekat rumah Nara.

Benar, aku bertemu Nara disana. Gadis itu mengenakan celana jins dan kaos longgar—Nara’s style. Nara duduk di sudut ruang tunggu dengan raut tertekuk. Tergesa-gesa aku memelukknya, menumpahkan segala perasaan yang dapat meledak setiap saat.

“Aku mencintaimu, Nara.” Pengakuan yang terdiri dari satu kalimat—tiga kata, berhasil membuat Nara terpingkal-pingkal.

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana raut Nara yang merah padam menatapku sembari terbahak. Ia memegangi perutnya, bibir merahnya itu melontarkan pertanyaan yang sukses membuatku malu terlahir di dunia. “Aku tahu, kau mencintaiku. Luhan sudah bilang. Tapi, dimana celanamu, Oh Sehun?” Aku lantas melirik ke bawah tubuhku, mata ini membulat—sebulat-bulatnya. Belum sempat, menyalurkan rasa malu, Nara sudah menimpali lagi. “Aku tahu kau pria urakan, tapi berlarian dengan menggunakan celana pendek kemudian mengatakan cinta pada seorang gadis, itu tidak  sopan.” Nara melanjutkan terselip nada jenaka di perkataanya.

“Aku dikerjai, Baekhyun,” hanya mampu bergumam. Aku sadar sepenuhnya, alasan apa pun hanya membuatku malu. Berlarian di stasiun yang padat pada pagi hari, bukan pilihan yang perlu dibanggakan.

Nara berdiri dari tempat duduk stasiun yang berkarat. Gadis itu mengelus lembut pipiku. Kesenangan sederhana masih dapat kurasakan, kendati usiaku saat itu memasuki 24 tahun. Kelembutan Nara, selalu membuatku tergila-gila. “Aku juga mencintaimu, Sehun. Dari dulu, tapi kepalamu terlalu bodoh, sehingga tidak menyadarinya.” Ia mengakhiri balasan cintanya dengan berjinjit kemudian mengetuk kepalaku ringan.

Tidak tahu aku terbawa suasana atau bagaimana. Pria lain mungkin akan meminta kekasihnya berpacaran dahulu, baru menikah, tetapi aku malah….

“Jung Nara, jadi istriku ya?”

“Tentu saja dia menolak lamaranmu di stasiun itu, bukan?” Pertanyaan Tao mengakhiri pikiran yang menyeretku pada kenangan.

Aku hendak menjawab, tetapi Baekhyun dengan seenaknya malah meriuhkan suasana. “Yang penting, Nara akhirnya menerima lamaran Sehun. Well, meskipun butuh waktu dua tahun. Apa kalian sudah tahu, satu rahasia besar?”

Chanyeol membenarkan posisi duduknya. Bocah tengik itu, selalu ingin tahu urusan orang lain. “Tahu apa?”

Baekhyun memasang ekspresi serius. Dia tersenyum miring penuh teka-teki, menatapku dalam-dalam—aku membalas dengan tatapan mengantuk.

“Nara hamil.”

Dua kata.

Satu kalimat.

Luhan berdiri, menepuk pundakku. “Pastikan dia selalu bahagia.”

.

.

.

Luhan

Namaku Luhan. Semua orang memanggilku Luhan karena itu memang namaku. Hari ini aku menghadiri pesta bujangan salah satu sahabat dan rival terbaik—Oh Sehun. Ia akan menikah dengan Jung Nara besok. Benar, Jung Nara bukan nama yang asing di hidupku. Gadis itu mengisi setiap lembaran cerita yang aku tulis. Mulai dari yang paling jujur, hingga kebohongan yang aku benarkan.

Hubungan kami rumit. Sangat berkelok. Menyerupai lingkaran yang tidak ada ujungnya. Ada banyak prasangka di dalam lingkaran yang kami buat. Aku mencintai Nara, Nara mencintaiku, dan Sehun mencintai Nara. Prasangka ke dua—Aku mencintai Nara, Nara mencintai Sehun, dan Sehun mencintai Nara.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya menjadi orang ketiga?

Aku atau Sehun?

“Bagaimana caramu menaklukkan sipir itu? Kalau tidak salah tonjokan dari Luhan menjadi bumbu?” Ucapan Tao mengisi seluruh ruang VVIP The Cornwall. Ternyata, bukan hanya menggema disana, penyesalan yang merasuki tubuhku tiba-tiba ikut memenuhi seluruh ruangan.

Aku masih mengingat rasanya. Aku seorang pria yang sedang jatuh cinta ketika itu. Namun, dikelabui oleh kekasih dan sahabat terbaik. Aku tahu mereka berbagi ranjang pada malam sebelumnya. Aku benar-benar paham, bahwa perasaan kasih pria dan wanita berkembang di antara mereka.

Aku sangat marah, tentu saja. Semuanya terlihat salah. Banyak pikiran berkecamuk, mulai bicara baik-baik hingga keinginan membunuh Sehun.

Lantaran setuju memisahkan—membuat ego menjadi pemenang, aku malah menyatukan.

Kebohongan itu dimulai, ketika aku mencoba menyakiti Nara. Mengacuhkannya. Membiarkan gadis itu menangis dan memperoleh keteduhan di pelukan sahabatku.

Sehun mencintai Nara.

Nara mencintaiku.

Mulanya begitu.

Kebohongan kedua, mencari gadis lain. Istilah kotornya berselingkuh, tepat di depan mata Sehun. Aku pantas mendapatkan pukulan telak yang nyeri tidak lebih sakit dari perasaanku sendiri.

Aku tidak akan bisa menghinati Nara, walaupun seribu gadis menari telanjang di hadapanku.

Sebenarnya begitu.

Namun, fakta kuputar balikkan. Demi Sehun—sahabat terbaik.

“Nara mencintaimu, bodoh.” Aku mengucapkan kalimat itu disela napas yang memburu. “Dia tidak pernah mencintaiku, bahkan satu hari pun. Aku juga berusaha tidak mencintainya.” Kalimat tambahan menjadi kebohongan ke tiga.

Faktanya, Nara mencintaiku, sedari dulu. Sebelum aku sengaja menyeretnya ke pelukan Sehun.

Kenapa kau melakukan itu, Luhan?

Dengam alasan yang serupa.

Karena Sehun mencintai Nara. Sebab ia sahabatku.

Aku menyesap maccurie yang tertuang di dalam gelas kaca. Hangat di tenggorokan membuat lupa sejenak seluruh tipu muslihat yang telah tercipta. Mereka masih berbincang dengan Sehun sebagai pusat perhatian. Aku hanya mendengarkan.

“Kau dan Luhan sepertinya telah berdamai,” Baekhyun menyelipkan namaku dalam ledekannya. Pria kecil itu menuangkan maccurie ke dalam gelas yang kosong.

Aku menggeleng—berusaha jujur bahwa aku belum bisa benar-benar berdamai, meskipun logika ini merelakan pernikahan mereka berlangsung besok, tetapi hatiku masih terlampau sakit.

Benar, aku masih mencintai Nara. Kadarnya tidak berkurang.

“Kalau saja, ia tidak segera mengejar kemudian melamar Nara saat itu, aku tidak akan melepaskannya.” Begitu caraku menutupi keengganan hati.

Kuteguk sekali lagi wine kelas menengah atas ini, sembari berusaha mengikuti alur perbincangan.

“Aku masih tidak dapat percaya sampai sekarang. Oh Sehun seorang managing director bertingkah sebodoh itu. Berlarian di sepanjang stasiun hanya dengan menggunakan celana dalam.” Jongin menyerukan pikirannya

Sehun terlihat tidak suka, mengoreksi ucapan Jongin yang tak senonoh, “Celana pendek, bukan celana dalam.”

Bibirku tertarik membentuk senyuman ketika tawa Kris menggelegar. Kenangan akan Sehun memakai celana pendek dan berlari-lari di stasiun juga melekat. Saat itu aku berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, jika diriku dapat merelakan Nara pergi. Menemuinya di stasiun. Rasanya ingin tertawa hingga berbusa ketika mengingat kembali betapa melankolis, aku pada saat itu.

“Sehun mencintaimu. Jika, kau tidak mencintaiku sebesar perasaanmu pada Sehun, aku akan melepaskanmu.”

Gadis itu berlinang air mata, menatapku. Aku seperti larut memasuki perasaan Nara. Rasa bersalah yang teramat dalam. Bisikannya masih terdengar gamblang di ingatanku, meskipun peristiwa itu telah berlangsung dua tahun lalu.

“Luhan, maafkan aku.”

Aku memeluknya sebagai tanggapan, tidak mampu memberikan apa pun selain itu. Tubuhnya bergetar di dalam dekapanku. Gadis itu menguarkan satu kalimat yang benar-benar menyatakan bahwa usahaku berhasil—Nara mencintai Sehun.

“Aku mencintaimu Luhan akan selalu begitu. Kau akan selalu ada di tempat khusus.”

Seiring perkataan itu tercetus. Akhirnya, menyadari bahwa aku benar-benar kehilangan Nara.

Mungkin, selamanya.

Bukannya, mengobati lukaku sendiri. Aku malah mempertahankan sikap rela berkorban, diracik dengan kebohongan yang selalu kubenarkan. Bibir ini berkata, “I can let you go, Jung Nara. Asal kau bahagia, aku juga.”

Dan semuanya selesai. Menyedihkan.

Sudahlah, seharusnya aku dapat memenuhi satu janji saja. Asal kau bahagia, aku juga. Nara memperoleh kebahagiannya, walaupun dibutuhkan waktu dua tahun untuk setuju—gadis itu perlu memastikan jika aku sudah tidak mencintainya sebelum menerima cicin Sehun.

“Yang penting, Nara akhirnya menerima lamaran Sehun. Well, meskipun butuh waktu dua tahun. Apa kalian sudah tahu, satu rahasia besar?” Baekhyun membuat seisi ruangan penasaran, tak terkecuali aku.

Baekhyun bermain-main dengan rasa penasaran kami. Ia memberikan tatapan serius pada Sehun. Sengaja mengeja, pria itu mengucapkan rahasia yang ia maksud.

“Nara hamil.”

Kebohonganku, berbuah manis, bukan?

Tetapi, menyakitkan sampai ke ulu.

Besar atau kecil, kebaikan atau keburukan.

Kebohongan tetap kebohongan.

Aku menepuk pundak Sehun. Berpesan, “Pastikan dia selalu bahagia.”

.

.

.

Jung Nara

Katanya, seorang gadis hanya dapat menikah satu kali seumur hidupnya, jika ia ingin bahagia. Katanya, seorang gadis selalu bermimpi, bahwa cinta pertamanya akan menjadi suaminya. Aku tidak percaya.

 Aku menolak opini yang berawal katanya dan lebih memilih nyatanya.

Nyatanya, aku ingin menikah dua kali—karena aku memang jatuh hati pada dua pria. Nyatanya, aku lebih ingin menikah dengan cinta ke duaku—karena cinta pertamaku dengan berbagai kebohongan yang dibenarkan olehnya, memintaku begitu.

“Kau tampak cantik sekali dengan gaun itu,” suara seorang pria membuatku menyunggingkan senyum.

Dia berada di belakangku, namun aku tidak berbalik. Bayangannya terpantul di dalam cermin.

Aku berpatut di cermin besar yang dapat merefleksikan seluruh tubuhku, lengkap dengan Luhan sebagai pendamping.

Bayangan kami bersanding.

Hanya bayangan.

Ia memakai tuksedo hitam, bukan putih yang senada dengan gaun pengantinku.

“Kau datang,” kataku setelah seperkian detik kesulitan memilih sapaan yang tepat.

Luhan, berjalan mendekat. Ia menyambut senyumku dengan cengiran. Jadi, raut  ini yang membuat hatiku terbagi dua.

“Tentu saja, aku datang. Peristiwa penting seperti ini, mana bisa dilewatkan.”

Aku berbalik, menelusuri ekspresinya dengan netraku. Mencari-cari kebohongan lain di matanya. “Luhan, terimakasih.”

“Tidak perlu mengucapan terimakasih—”

“—Pasti ada gadis lain yang akan kau tatap seperti kau menatapku. Pasti ada gadis lain yang mencintaimu—sebesar kau mencintainya.” Aku memotong perkataanya.

Luhan hanya tersenyum menanggapi segala kekhawatiran yang meluap di dalam setiap ucapanku. Pria itu menyentuh tiara yang kukenakan. Merengkuh daguku dengan lembut, menatap mataku dalam-dalam. Memberikan pacuan pada jantung. Setiap sekon yang kami habiskan dalam posisi ini, terjadi pertukaran pesan tersirat seperti, aku mencintaimu Nara dan maafkan aku, Luhan.

“Seharusnya, aku tidak diperbolehkan melakukan ini. Apalagi, pada gadis yang lima belas menit lagi akan menikah dengan sahabatku.” Luhan bergumam tepat di telingaku. Secepat gumaman itu diproses oleh pikiran, secepat itu pula, Luhan mengecup bibirku.

Tidak lama.

Tidak dalam.

Hanya kecupan perpisahan.

“Berjanjilah untuk selalu bahagia, selamanya.” Pesan terakhirnya, sebelum meninggalkanku sendirian di ruang putih yang senyap.

Altar menjadi awal kehidupan. Ketika aku berdiri di altar segala kenangan beserta cerita yang menuntunku untuk menuju ke tempat ini, kembali menguar.

Tatapanku bergantian, menyusuri cinta pertamaku yang terduduk dengan raut bahagia di kursi paling depan—cinta yang memberiku cinta lain yang diikat kekelan. Luhan selalu memiliki ruang khusus, tidak ada yang akan menggantikan. Meskipun itu Sehun.

Tatapan kedua kuberikan pada seorang pria yang mengenakan tuksedo berwarna senada dengan gaunku. Satu-satunya pria yang menggenggam jemariku dan menemaniku berdiri di altar. Pria yang memilikiy belahan hati. Memiliki semua ruangan yang memang dia inginkan. Seorang pria yang menjadi pendamping di setiap tahun penuanku. Oh Sehun.

Dengan cara ini persahabatan kami, akan selamanya. Aku dan Luhan satu dalam arti denotasi. Aku dan Sehun satu dalam arti konotasi.

-oOo-

a/n: Hadiah untuk Sehun dan Luhan.

9 tanggapan untuk “[Luhan’s Birthday Project] Liar”

  1. Eh eh apa ini? Kok luhan baik banget wkwkwk yaampun jadi itu ceritanya nara sebenernya cinta sama luhan begitu juga sebaliknya tapi karena ada sehun luhannya jadi ngalah gitu ya? Kalo ada orang kayak gitu sumpah baik banget wkwkwk, ini bagus banget kak ceritanya! ASLI INI BAGUS! Pake sudut pandang 3 orang sekaligus satu cerita tapi macam-macam pendapat! Ih KEREN! Oke ini keren! SEMANGAT TERUS YA KAK! ^^

  2. WAH. BAPER. MAU NANGIS. Keren banget, beneran. Gimana sakitnya luhan yang berkorban kerasa banget sampe bikin mau nangis. Keep writing buat authornya, fighting!

  3. Aku…
    Gatau harus bilang apa sama Kak Titis tentang ff-nya. Aku jadi inget sama dua sahabat /cowo pula/ dari TK. Dan nyatanya emang susah buat nyari persahabatan murni tanpa ada rasa cinta di dalamnya. Karena kita bertiga ngalamin.

    OKE INI KEREN BANGET! SUMPAH ARUM HARUS TUTOR KE KAK TITIS SAMA KAK IRISH BUAT BIKIN DIKSI SEHEBAT INI YA SOOMAN! Kak Titis spesialis love theme – Kak Irish spesialis dark theme.

    POKONYA KUSAYANG KALIAN BERDUA<3

    1. Halo, Arum. Jadi, kamu terlibat cinta segita gitua? XD. Aku juga harus banyak belajar. Hahaha. Apalagi, FFku kebanyakan cinta-cintaan pengen banget bisa bikin yang fantasy gitu. Makasih ya, Arum sudah baca 😁😁😁😁

    2. Haha, ya bisa dibilang kaya gitu kaktis:v
      Tapi arum suka ff kaktis soal cinta-cintaan, soalnya kaya punya ciri khas sendiri gitu:v haha. Banzai pokoknya kaktis mantav:v

      Semoga bisa master di genre yang lain juga ya kaktis. SEMANGAT!!!!😁😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s