SPRINGFLAKES – Slice #2 — IRISH`s Story

irish-springflakes

Springflakes

With EXO’s ??? and OC’s Lee Chunhee

Supported by EXO and iKON Members, with OCs

An adventure, slight!action, dark, fantasy, life, romance story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

— release hurt with a truth —

Related Slice:

Slice 1 [NOW] Slice 2

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chunhee`s Eyes…

SRAK!

Aku menyernyit saat mendengar suara berisik didekatku. Tapi aku tidak membuka mataku. Ingatanku berusaha beradaptasi dengan apa yang sudah terjadi. Sekujur tubuhku terasa nyeri, ah… Hukuman itu?

Dan sekarang? Dimana aku?

Aku segera bangkit dan tersentak saat sadar bahwa aku baru saja sadar setelah menerima hukuman. Aku lebih terkejut saat pemuda itu berdiri tak jauh didepanku.

“Kau sudah bangun?”

Tanganku dengan sigap meraih pedang perak yang ada disebelahku, dan mengayunkan pedang itu padanya.

“Kenapa aku masih disini?” ucapku menyadari bahwa aku seharusnya tidak terbangun ditempat ini.

“Sekarang apa yang kau lakukan?” tanyanya, sedikit melangkah mundur karena pedang perak yang kuacungkan ke arahnya.

“Aku tidak seharusnya terbangun ditempat ini.”

“Lalu aku harus membiarkanmu dihutan selama lima hari?”

“Apa?”

Tatapanku melebar saat melihat seorang pemuda berdiri diujung jendela lebar yang ada diruangan ini.

“Jauhkan pedangmu.” ucap pemuda itu tampak tidak menyadari kehadiran orang lain disana.

Aku mengeratkan cekalan dipedangku saat pemuda lain yang berpakaian serba putih itu nyatanya mempunyai pedang perak seperti milikku. Dan ia tengah bersiap menghujamkan pedang itu pada pemuda yang berdiri beberapa meter dariku.

Kakiku tiba-tiba saja bergerak melawan keinginanku untuk membiarkan saja pemuda ini mati terbakar karena pedang perak yang ada ditangan sosok itu. Tapi aku malah bergerak mendorong pemuda itu dan menahan pedang yang beberapa saat lalu akan mengenainya.

“Jauhkan pedangmu. Kau tidak dengar apa yang Ia katakan?” ucapku

“Goo Junhoe.” pemuda dibelakangku berucap

“Wah wah. Rupanya sekarang pangeran ini punya pengawal seorang manusia.”

Aku mendengus pelan.

“Cih, buat apa aku repot-repot menjadi pengawal salah satu monster seperti kalian?” dengusku.

“Lalu apa yang baru saja kau lakukan? Bukankah kau sedang melindunginya? Bagaimana jika kau menyingkir, dan membiarkanku membunuhnya tanpa ada keributan?”

Pemuda itu bergerak turun, dan menjajariku. Tapi pedangku masih enggan beralih darinya. Aku yakin semua vampire jahat dan kejam. Tapi pemuda di depanku ini pasti lebih jahat dari yang aku bayangkan.

Aku menyadarkan diriku.

Untuk apa aku repot-repot melindunginya? Biarkan saja dia mati. Biarkan saja Chunhee-ah.

Aku akhirnya menurunkan pedangku dan beranjak menyingkir dari tempat yang aku yakin sebentar lagi akan berubah menjadi lahan perang ini. Pemuda berpakaian serba putih itu tersenyum.

“Keputusan yang bagus.” ucapnya sebelum fokus pada pemuda lain yang sedari tadi berdiam diri.

“Kau akan menghadapi kematianmu sekarang, pangeran.”

Pemuda itu hanya menatap diam.

“Tidak hari ini Junhoe. Pergilah dari tempat ini sebelum pengawal-pengawalku datang.”

Pemuda bernama Junhoe itu tertawa kasar.

“Kau pikir aku datang sendiri ke tempat ini?”

BLAR!

Aku tersentak saat mendengar suara ledakan diluar. Mengabaikan keadaan genting yang sekarang terjadi, aku melangkah ke arah jendela, menatap keluar dan tersentak saat melihat perang sudah terjadi di tanah—yang jaraknya puluhan meter dari tempatku sekarang berdiri.

Tatapanku tertuju pada pemuda itu. Seolah melihat ekspresi ngeriku karena baru saja melihat keadaan di luar, rahang pemuda itu terkatup menahan marah.

“Apa yang kau inginkan?” ucapnya dingin.

“Membunuh kalian semua dan merebut istana ini.” sahut pemuda bernama Junhoe itu enteng.

Dan aku harus membiarkan semua ini terjadi? Membiarkan kelompok vampire—yang entah mengapa aku yakini bahwa mereka jauh lebih kejam—lain ini menguasai kota kecilku?

Aku menghembuskan nafas panjang dan akhirnya menarik pedangku lagi. Dengan langkah panjang aku menempatkan diriku diantara dua orang itu.

Ck ck, apa yang sekarang kau rencanakan?” ucap sosok bernama Junhoe itu.

“Jangan menyentuhnya.” ucapku membuat Junhoe mendengus kesal.

“Kalau begitu terpaksa aku harus membunuhmu.” ucapnya.

Dan adu pedang segera terjadi diantara kami berdua. Ini pertama kalinya bagiku, beradu pedang dengan seorang vampire. Dan aku harus menang. Harus.

Pemuda bernama Junhoe ini tampak sedikit kesulitan menangkis seranganku. Tapi pedang ini belum menusuk tubuhnya. Dia harus mati. Monster seperti mereka semua seharusnya mati!

SRAT!

Aku tersentak saat pedangnya menembus lenganku. Aku menyernyit menahan rasa sakit luar biasa di lenganku, tapi aku tersenyum penuh kemenangan. Ia tak lagi mempunyai pedang yang bisa digunakan menyerangku.

Aku menggerakkan lenganku, walaupun rasa sakitnya membuatku ingin menjerit. Tapi akhirnya dengan dua gerakan ringan aku berhasil menancapkan pedangku diperutnya.

SRASH!

Ia lenyap. Bersamaan dengan lenyapnya pedang yang menancap ditanganku.

Akh…” aku menyernyit saat darah mengucur deras dari luka ditanganku.

“Kenapa kau melindungiku?”

Aku berbalik, menatap pemuda yang baru saja kuselamatkan ini dengan tatapan kesal. “Karena aku membencimu!” ucapku dengan kasar.

Ia menyernyit.

“Lalu apa yang baru saja kau lakukan?” tanyanya.

“Aku membenci kalian semua. Bangsa kalian. Terutama aku membenci kelompok vampiremu. Yang setiap tahun memaksa kami untuk menyerahkan bangsa kami, dan bahkan hampir setiap hari entah siapa membunuh bangsa kami. Keundae…” aku menahan ucapanku, dan menahan air mata yang ingin menerobos keluar dari pertahananku.

“…kurasa bangsa kami mungkin tak akan bertahan hidup dalam sehari jika vampire lain yang ada disini.”

Ia terdiam.

“Aku pergi sekarang. Aku harus melindungi rumahku,” aku memelankan kalimat akhirku, dan segera melangkah mengambil senjataku yang teronggok di sudut ruangan.

Aku tersentak saat ia menarik lenganku, dan mendudukkanku dengan paksa ditempat tidurnya. Aku menyernyit saat ia membuka lengan pakaian lengan panjang yang kukenakan.

“Aku merawatmu lima hari ditempat ini supaya kau tidak terbangun seperti mayat hidup, tapi kau malah membuang darahmu sia-sia.” ucapnya

Mataku terbelalak saat ia menggigit telapak tangannya sendiri, dengan santai menarik lenganku dan membiarkan darah dari telapak tangannya menetes ke luka yang ada di tanganku.

“Apa yang kau lakukan?!” ucapku kesal dan menarik tanganku darinya, tapi seperti keajaiban, luka itu menutup rapat.

“Bagaimana kau bisa melakukannya!?” kali ini aku terkesiap.

“Berapa usiamu?” aku merengut kesal saat ia tak menjawab pertanyaanku.

“21 tahun.” sahutku. “Siapa namamu?” lagi-lagi ia bertanya.

“Lee Chunhee.”

Ia menatapku, membuatku ikut terdiam tanpa sadar.

“Kenapa?” tanyaku dan ia menjawabnya dengan gelengan pelan.

“Terima kasih, Chunhee-ah.”

Jantungku berdegup beberapa hentakan lebih kencang saat ia menyebut namaku. Terutama karena ia menyebutku ‘Chunhee-ah’ seolah kami sudah kenal dekat. Segera aku menyingkirkan perasaan aneh itu dan mengalihkan pikiran pada keadaan kota kecilku.

“Kenapa aku tidak terbangun ditengah hutan seperti yang lainnya yang pernah dihukum seperti ini?” entah sejak kapan mulut lancang ini berucap.

“Kau ingin aku membiarkanmu ditengah hutan selama lima hari?”

Aku menatapnya beberapa lama, sampai akhirnya aku menggeleng pelan.

“Terima kasih banyak, pangeran.” ucapku, aku kemudian berdiri dan beranjak keluar dari ruangan itu.

“Kau yakin mau kembali sekarang?”

Aku berbalik, menatapnya tak mengerti.

“Memangnya kenapa?”

“Pasukan vampire itu pasti sudah ada disana.”

Aku mengkeretakkan rahangku. Dan mengeratkan peganganku pada pedang perakku. “Lalu aku harus berdiam disini dan menyaksikan kematian bangsaku?” ucapku sembari menarik gagang pintu ruangan itu.

“Kami bisa melindungi tempat tinggalmu.” langkahku terhenti saat ia berucap.

“Apa?” aku menatapnya lagi.

“Aku akan memerintahkan prajuritku untuk melindungi tempat tinggalmu.” tuturnya, terdengar tulus dalam pendengaranku.

Aku mengurungkan niatku untuk keluar dari ruangan itu. Sekarang aku berdiri menghadapnya. Ia akan melakukannya?

“Imbalan apa yang kau minta?” ucapku membuatnya mengerjap beberapa kali, sudut bibirnya kembali terangkat sedikit, dan aku mulai yakin seperti itulah ia tersenyum.

“Mengabdilah untuk kerajaan ini.”

Aku terpaku.

“A-Apa?” ulangku tak percaya.

“Aku bahkan bisa memindahkan tempat tinggal kalian semua ke dalam istana ini. Dan kupastikan tidak akan ada vampire manapun yang berusaha membunuh bangsamu.”

“Kau bersungguh-sungguh?”

“Kau tidak mempercayai ucapanku? Apa kita perlu bersumpah dengan darah?” ucapnya membuatku terdiam. Bangsaku akan aman di balik tembok raksasa ini? Dan mereka tak akan mengusiknya?

“Apa hanya itu syaratnya?” tanyaku.

“Ya. Hanya itu.”

Aku sungguh tidak ingin berada di tempat ini. Bersama bangsa yang merupakan musuhku dan setiap tahunnya membunuh sepuluh bangsa kami? Belum lagi mereka juga—tidak. Aku tidak bisa bersikap apatis seperti ini.

Bukankah ini impianku? Alasanku bertahun-tahun berlatih sekeras ini? Karena aku sangat ingin bisa membunuh vampire bukan?

“Baiklah. Aku akan mengabdi pada kerajaanmu jika kau menepati janjimu.”

Pemuda itu tersenyum, benar-benar tersenyum.

“Aku butuh pembuktian. Bawa aku dengan selamat ke gerbang depan, dan aku akan memerintahkan mereka untuk melindungi desamu.”

Tanpa berpikir panjang aku mengeluarkan pedangku, dan membuka pintu dibelakangku.

“Sedari dulu aku sangat ingin membunuh vampire…” ucapku pelan sebelum aku berbalik, dan menatap keadaan kacau di hadapanku.

Aku terdiam saat melihat peperangan nyatanya juga terjadi di luar ruangan ini. Dan bahkan beberapa pasang mata sekarang menatap ke arahku.

“Kau yakin bisa menghadapi mereka?” aku melirik sekilas, dan sadar bahwa pemuda itu sudah mengenakan jubah gelapnya dan berdiri dibelakangku.

“Kau tunjukkan arahnya, dan aku akan membersihkan jalan.” ucapku, menarik satu pedang perak lainnya.

Dengan dua pedang yang ku buat dengan tanganku sendiri ini, aku harus bisa melenyapkan mereka. Untuk kota kecilku. Kehidupan kecil bangsa kami yang sekarang dipertaruhkan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In ‘Prince’—s Eyes…

Aku tidak bisa meremehkan gadis manusia ini. Kemampuannya benar-benar luar biasa. Tanpa ragu ia mengayunkan pedangnya pada vampire manapun yang mendekati kami.

Aku tidak tahu bagaimana ia bisa sejeli ini, Ia bahkan tahu saat ada vampire yang hendak menyerangku dari belakang saat aku bahkan tidak sadar pada kehadiran mereka, dan melenyapkan mereka dengan mudah.

Kami sampai di gerbang depan, dan ia berdiri tegap menatapku. Rambut berwarna karamelnya bahkan tidak acak-acakan karena adu pedang tadi, dan abu hitam mengotori wajahnya di beberapa bagian. Abu vampire itu.

Aku menyernyit melihat darah juga ada dilengannya. Ia pasti terluka lagi.

“Aku sudah membawamu kesini. Sekarang tepati ucapanmu.” ucapnya, suaranya sedikit bergetar, dan aku bisa melihat ekspresi kesakitannya.

Aku menjentikkan jemariku, dan dua orang prajurit segera datang padaku.

“Kirim seratus vampire ke tempat manusia ini. Lindungi mereka, dan siapkan lahan di istana kita, manusia-manusia ini akan tinggal disini.”

“Baik pangeran.”

Aku memandang manusia ini, ia tampak tengah menatap ke bawah, dimana peperangan sudah mulai mereda, dan ia menatap menerawang seolah tatapannya sanggup menembus hutan lebat di depan gerbang istana. Dia pasti memikirkan tempat tinggal kecilnya.

Tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya. Luka goresan tampak berbekas di pipi kanannya, dia pasti sudah sering terluka sebelum ini.

“Aku tidak tahu kenapa aku tidak pernah memilihmu selama sepuluh tahun ini.” mendengar ucapanku, ia menoleh.

Aku tersentak saat ia mengayunkan pedangnya.

SRASH!

Pasti seorang vampire lagi mati.

“Aku juga heran kenapa kau tidak melakukannya. Aku sangat benci karena kau selalu memilih orang yang ada disebelahku.” sahutnya ringan membuatku ingin tergelak.

“Maksudmu?” tanyaku memancingnya agar bicara lebih banyak.

“Selama sepuluh tahun aku sangat ingin dipilih. Tapi saat hari itu datang, saat aku pikir kau menatap ke arahku dan akan menunjukku, kau malah menunjuk seseorang yang ada di sebelah kiri atau kananku. Benar-benar mengesalkan.” ucap gadis itu kesal sambil mengalihkan pandangannya, tapi kemudian ia menatapku lagi, membuatku menunggu ucapannya.

“Tidak tahukah kau aku sudah menghabiskan berapa tahun untuk berlatih supaya aku terpilih?” ucapnya dengan tatapan sangat kesal.

Ia kembali menggerakkan pedangnya—mengingat bahwa aku berdiri dihadapannya dan dialah yang berdiri ditempat aman—maksudku dia tidak berdiri di ujung jendela lebar sisi gerbang ini sehingga ia tak harus berdiri membelakangi perang ini—dan mengarahkannya ke belakangku.

“Aku sudah berlatih memegang pedang sejak usiaku empat tahun. Dan aku sudah membunuh hewan buas saat usiaku tujuh tahun. Tidak ada yang berani berlatih melawanku saat usiaku sepuluh tahun…” ia berucap, kali ini menyampirkan dua pedangnya, dan mengambil busur panahnya.

Aku bisa mendengar suara hangus saat ia melepaskan busur panahnya.

“Tapi selama sepuluh tahun aku dihina karena tak terpilih sama sekali.” lanjutnya sambil kemudian menatapku.

“Kenapa sekarang? Saat aku sudah merasa hidupku akan berlanjut dengan normal, aku malah terpaksa mengorbankan hidupku demi bangsaku. Kenapa sekarang? Kenapa tidak sepuluh tahun ini?” protesnya kesal.

Aku tersenyum tipis dan menarik lengannya, kusadari lengannya terluka saat ia tadi melepaskan anak panahnya. Ia sedikit tersentak karena tindakanku, terutama karena aku kembali melukai tanganku untuk memberikan darahku di lukanya.

“Kenapa kau tidak pernah mengajukan diri?” tanyaku.

“Apa?” ia terkesiap.

“Kenapa tidak pernah berusaha terlihat menonjol dalam pandanganku? Seperti misalnya, kau mengatakan bahwa kau ingin terpilih, kenapa kau selalu diam dan menunduk?” tanyaku, teringat jika sepuluh tahun lalu, seorang gadis mungil berdiri di barisan paling depan tapi selalu menunduk, dan bahkan tak berani mendongak sedikit pun.

“Kau tahu aku sering menunduk dihari itu?” tanyanya saat aku melepaskan tangannya.

Aku mengangguk pelan.

“Ya. Hanya saja, ditahun ketiga kau tidak lagi menunduk, dan ditahun kelima aku sama sekali tidak bisa menemukanmu. Kau berubah sangat banyak.” ucapku mengakui bahwa ia sekarang sudah tumbuh tinggi dan jauh berbeda dengan gadis kecil yang sepuluh tahun lalu kulihat.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa memilihku sekarang?” ucapnya.

“Bukankah kau menginginkannya?” tanyaku balik.

Ia mengerjap beberapa kali. Tatapannya lalu menerawang saat menatapku.

“Aku memang menginginkannya. Tapi aku menyetujuinya bukan karena aku ingin, tapi karena aku ingin menyelamatkan bangsaku.” ucapnya pelan, dan aku sedikit tersentak saat ucapannya bisa membuatku merasa bisa melihat luka yang ia derita.

Membuatku memandangnya sebagai gadis kecil berusia sepuluh tahun yang dulu meringkuk ketakutan saat melihat bangsa kami. Gadis kecil yang dalam pandanganku seharusnya dilindungi dan bukannya ada di tempat kasar ini. Dia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu alasan kami membawa manusia ke tempat ini setiap tahunnya.

“Kurasa perang ini sudah berakhir. Bisa aku kembali sekarang?” tanyanya padaku.

“Ya. Kembalilah sekarang. Besok tempat tinggal kalian akan mulai dipindahkan kesini. Dan kau harus datang untuk sumpah pengabdianmu tiga hari setelah tempat tinggalmu di pindah.”

Ia mengangguk-angguk pelan dan tersenyum.

“Terima kasih, pangeran.” aku berjengit saat ia memanggilku seperti itu. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman saat ia menyebutku begitu.

Aku tidak ingin ia menatapku dan bersikap seperti ini padaku hanya karena aku pangeran ditempat ini. Gadis itu berbalik, hendak melompat turun dari pembatas gerbang, tapi kemudian ia menatapku lagi.

“Dan terima kasih karena sudah berbaik hati menyembuhkan lukaku.” lanjutnya

Ia akhirnya melompat turun, dan aku melangkah pelan, kulihat dia melompat ringan di setiap pembatas ruangan, dan akhirnya sampai dibawah. Dia berlari ke arah gerbang tanpa sempat melemparkan pandangan ke belakang lagi.

Ah, siapa nama gadis itu tadi?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Remember ketika aku begitu galau dan gak tau harus ngejadiin siapa buat jadi main cast di cerita ini? Kegalauan itu masih berlanjut hingga sekarang—dan sebenernya sampe chapter lima sih—jadi sekarang di tengah kegalauanku, aku semacem ingin bikin cerita ini bermain cast member EXO yang kalian biasin aja.

Haruskah? Entahlah. Haruskah aku selipin semua ciri khas yang berbau masing-masing member EXO supaya ‘feel’ nya ada? Haruskah aku tetapin aja siapa main castnya? Kenapa aku begitu galau kawan? Bantu hamba ya Tuhan, atasi kegalauan hamba-Mu yang nista ini.

Aku begitu galau, haruskah lead male cast nya terus kusebut ‘Prince‘ /kemudian nyanyi ‘aaaahh ne wangjangnim~~~ ala soshi dengan background Wildest Dream‘/.

Untuk chapter ini aku gak memaksa kalian untuk menebak who will be the lead male cast of this story. Tapi seiring berjalannya cerita, mungkin setelah lewat lima chapter, beberapa member EXO yang ‘gak jadi’ main cast akan muncul, so… will you keep read this story?

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

130 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #2 — IRISH`s Story”

  1. Haiiii gue pembaca baru nihh.. Bukan baru juga sih, gua udh pernah baca ff mu yg judul’a apa yah gue lupa klo gasalah yg 3hari itu wkwk..

Tinggalkan Balasan ke Windz52 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s