The Man Who Can’t Be Moved ― Len K

req-the-man-who-cant-be-moved-1

 

“Kau tahu pria yang selalu ada di taman di sudut jalan sana?”

“Memangnya kenapa?”

“Dia itu terkenal di kota ini! Kau tahu julukannya? ‘The Man Who Can’t Be Moved’.”

The Man Who Can’t Be Moved

Standard disclaimer applied. I don’t take any profit of this fic.

Storyline © Len K. “The Man Who Can’t Be Moved” © The Script.

 

Starring: Kim Jongin–Kai EXO, Scarlet Smith, and other | Rate : T | Genre : Western, Song-fic, Psychology, Sad romance, Friendship

 

WARNING! Typo(s), rush, chara-death, etc.

Special thanks to IRISH noona for the poster 😉

.

The Man Who Can’t Be Moved

.

                Saat itu baru senja dan ibu Scarlet yang duduk di samping ayahnya yang mengemudikan mobil membangunkan gadis berambut coklat auburn itu. Scarlet mengerang pelan di kursi belakang, merenggangkan tubuhnya sebelum benar-benar terjaga. Perhatiannya langsung teralihkan oleh pemandangan di luar jendela mobil. Pemandangan yang begitu asing baginya.

“Kita hampir tiba di rumah baru kita.” Ibu Scarlet menoleh sedikit ke belakang dan mengerling pada putri tunggalnya.

“Sudah sampai Montpelier ya?” sahut Scarlet. Suara gadis berusia tujuh tahun itu terdengar serak baru bangun tidur.

“Kita baru saja memasukinya,” jawab ayahnya, “beberapa menit yang lalu.”

Meninggalkan kota New York yang penuh hingar-bingar dan tidak pernah tidur, Mr. Smith dan keluarga kecilnya memutuskan untuk pindah ke Montpelier. Sebuah kota kecil yang terletak di negara bagian Vermont, di sebelah pucuk utara Amerika dan bisa dikatakan cukup dekat dengan negara tetangga Kanada.

Belum ada yang menarik perhatian Scarlet. Hingga ketika mobil yang ditumpanginya melaju pelan melewati taman, tanpa sadar Scarlet mencondongkan tubuhnya, menempelkan tangannya ke kaca mobil, mengeliminasi jarak wajahnya dengan kaca hingga embun muncul di sana. Taman yang berada di sudut jalan itu sudah sepi karena petang. Tapi masih ada seseorang di sana. Seorang pria yang duduk di sudut taman sana―dekat jalan―sambil memakan burger.

Bukan hanya itu yang menarik perhatian Scarlet.

Melainkan kardus dan foto yang tertempel di sana. Scarlet yakin matanya tidak salah menangkap jika ada kalimat yang tertulis di kardus sana. Namun mobil yang ia tumpangi terus melaju tidak peduli dengan rasa penasarannya.

Dan esoknya ketika berangkat ke sekolah barunya, lagi-lagi Scarlet melewati taman itu.

Pria itu masih ada di sana. Tapi ia tertidur di kursi taman. Dan lagi-lagi Scarlet belum bisa membaca kalimat yang tertulis di atas kardus itu.

Pun dengan besoknya, besoknya, besoknya, dan besoknya lagi. Scarlet masih―atau selalu―melihat pria itu di taman di sudut jalan. Tapi Scarlet masih belum mengetahui apa yang tertulis di kardus itu.

Dirinya masih belum melebur benar dengan lingkungan barunya. Dan ibunya masih mengantar-jemputnya ke sekolah menggunakan mobil. Tidak memberinya kesempatan untuk memuaskan rasa penasarannya.

“Apa besok kau bisa berangkat sekolah sendiri, Sayang?” tanya ibunya saat makan malam. “Ibu tidak menyangka jika sudah akan sesibuk ini.”

Mata Scarlet berkilat senang, tapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berarti. Sambil terus memotong steak-nya, gadis kecil itu berkata, “Ya, aku bisa. Mom juga tidak perlu menjemputku. Aku bisa kok pulang-pergi ke sekolah sendiri. Mungkin aku juga bisa bermain dengan teman-teman baruku.”

“Ngomong-ngomong soal sekolah,” suara berat Mr. Smith terdengar, “bagaimana sekolahmu hari ini? Sudah berapa banyak teman yang kau miliki?”

“Menyenangkan,” jawab Scarlet enteng. “Aku sudah hafal nama-nama orang yang satu kelas denganku. Sejauh ini, mereka semua menyenangkan. Meski ada perempuan yang namanya Susan Brooks yang kelihatan centil dan suka menggosip.”

Mr dan Mrs. Smith tertawa mendengar penuturan putri mereka. Dan makan malam berlanjut seperti biasa. Mr. Smith bercerita mengenai karirnya sebagai dosen pengajar di Union Institute and University―beliau dipindahtugaskan dan itulah alasan mengapa mereka pindah. Mrs. Smith berceloteh tentang pekerjaan barunya di salah satu perusahaan asuransi di sana. Terkadang Mr. Smith menimpali dan Scarlet tidak begitu paham dengan pembicaraan kedua orangtuanya. Ada banyak istilah asing―polis, klaim, kredit semester, inflasi, dan lainnya. Jadi Scarlet lebih banyak diam tak menanggapi.

Tidak. Watak gadis kecil itu memang tidak banyak bicara.

Tapi saat ibunya memintanya menceritakan hal-hal seru di sekolahnya, Scarlet tidak keberatan untuk bicara banyak. Scarlet bicara tentang keinginannya untuk masuk klub hoki, membeli sepeda untuk sekolah dan bermain, tentang Logan Morton―teman sekelasnya yang suka mem-bully, lalu bagaimana anak-anak tidak menyukai pelajaran Sejarah yang diajarkan oleh Mrs. Joaquin karena guru setengah baya itu sangat tidak ramah dan membosankan, dan hal-hal lainnya.

Tapi Scarlet tidak pernah bertanya atau mengatakan sesuatu tentang pria di taman yang sudah menarik perhatiannya sejak pertama pindah ke kota ini.

 

***

 

Anak-anak di kelas Scarlet patut bersorak dan berbangga hati kali ini. Itu karena pelajaran matematika hari ini adalah jam kosong karena Mr. William selaku guru matematika mereka berhalangan hadir secara mendadak. Beliau meninggalkan sekolah di jam kedua dengan alasan keadaan darurat keluarga dan tanpa meninggalkan pesan atau tugas apapun.

Mr. William termasuk orang yang menyenangkan dan sudah jelas masuk di jajaran ‘Guru Favorit’ para murid. Pelajaran matematikanya tidak pernah membosankan dan mudah dipahami. Sebenarnya anak-anak merasa sedikit kecewa karena absennya Mr. William. Tapi … jam kosong? Di mapel matematika? Yang tidak senang karenanya pasti hanyalah maniak matematika.

Jadi anak-anak di kelas Scarlet mulai sibuk sendiri-sendiri. Logan Morton dan gengnya sedang membahas sesuatu di sudut belakang kelas dan sesekali tertawa-tawa keras. Susan Brooks dan geng centilnya cekikikan sambil bergosip di sudut lain. Scarlet tidak mau susah-susah mengetahui apa yang kedua kelompok itu bicarakan.

Di depan kelas, Eric Brown sok menjadi penyanyi. Yah, suaranya tidak terlalu buruk, pikir Scarlet. Tapi nyanyian Eric terhenti karena Mia Jones melemparinya dengan penghapus dan mengatainya berisik. Hanya selang satu detik sebelum keduanya bersitegang. Lama-kelamaan kelompok-kelompok kecil mulai terbentuk―walau ada juga yang memilih untuk asyik sendiri. Scarlet sendiri masuk dalam kelompok ‘asyik sendiri’ karena ia masih terlalu canggung untuk tiba-tiba masuk ke dalam sebuah obrolan.

“Tidak! Pria di taman di sudut jalan itu gila!”

Pria di taman di sudut jalan? Telinga Scarlet langsung menajam tanpa diminta. Manik birunya melirik ke sebelah kirinya. Terpisah satu meja, ada kelompok cukup besar yang tengah membicarakan sesuatu. Sesuatu yang membuat Scarlet amat tertarik.

“Gila? Kau yang gila, Ashley! Dia tidak gila,” sahut gadis berwajah oriental. Kim Sooyoung.

Scarlet tahu gadis itu. Gadis berdarah Korea yang keluarganya memiliki usaha laundry yang bersebelahan dengan taman.

“Scarlet?” teguran itu membuyarkan fokus Scarlet.

Uh-oh, sepertinya Scarlet terlalu fokus memandang. Lihat, sekarang semua anak yang berkumpul di kelompok besar itu menatapnya.

“Mau bergabung bersama kami?” sebelum sepatah katapun meluncur dari mulut Scarlet, gadis yang Scarlet kenal sebagai Olivia Wood, menelengkan kepala dan tersenyum ramah padanya.

“Ka-kalau boleh … ” balas Scarlet kikuk.

“Tentu saja boleh!” dan lagi, sebelum Scarlet bertindak, dirinya sudah dirangkul dan diseret ke kelompok besar itu oleh Ava Long. “Sebagai penduduk baru kota ini, kau harus tahu beberapa hal di kota ini. Kita sedang membicarakan pria di taman di sudut jalan itu. Kau tahu?”

“Y-ya. Aku melewati taman itu setiap hari saat berangkat atau pulang ke sekolah,” jawab Scarlet.

“Apa pendapatmu tentang dia? Dia itu gila ‘kan?” Ashley Ortiz menyela.

“Ashley Kepala Jahe, berhenti mengatai dia gila,” erang Sooyoung. “Jangan sok tahu deh. Kau mulai terdengar seperti nenekku.”

Di tempatnya, Ashley mengerucutkan bibirnya kesal. Tidak terima dirinya yang masih bocah ini disamakan dengan nenek Sooyoung yang sudah mulai ubanan. Selain itu juga karena Sooyoung mengejek rambut merahnya.

“Dia itu gelandangan. Simple,” sahut James Sullivan. Si pirang bertubuh jangkung.

“Teman-teman, jangan buat kawan baru kita semakin bingung dong,” potong Richard Ross―laki-laki dengan tubuh kecil, tinggi sedang, berambut brunette ikal “Nah, Scarlet, kau tahu pria di taman di sudut jalan itu?”

“Richard, aku sudah bertanya mengenai hal itu.” Ava Long memutar kedua bola matanya malas dan mendapat balasan “Oh, shut up, Ava!” dari Richard.

“Ya,” tapi Scarlet tetap menjawab, “memangnya kenapa?”

“Dia itu terkenal di kota ini!” kata Richard antusias. “Kau tahu apa julukannya?” Scarlet menggeleng pelan. Lalu Richard bicara dengan nada sok misterius yang dibuat-buat. “The man who can’t be moved. Itu julukannya.”

Alis Scarlet naik. “The man … who can’t be moved?”

“Iya, the man who can’t be moved,” ulang Richard dengan penekanan. “Pria itu tidak mau pergi dari tempat itu meski ayahku yang sheriff di kota ini sudah menyuruhnya pergi dari sana. Berkali-kali. Kejadiannya sekitar setengah tahun yang lalu. Aku masih ingat betapa hebohnya kejadian itu di kota kecil ini. Pria itu tidak mau beranjak dari tempatnya meski orang-orang menyuruhnya pergi―termasuk ayahku. Tapi tidak peduli bagaimana kerasnya orang-orang membujuknya untuk pergi, ia tidak mau pergi. Jadi orang-orang mulai mengabaikannya, membiarkannya bertindak sesuka hatinya selama tidak melanggar aturan, dan julukan ‘the man who can’t be moved’ tersemat padanya. Sekarang ini rumahnya yaaa taman itu, sudut itu.”

“Padahal dia dulu tidak begitu,” desah Sooyoung di akhir kalimatnya.

“Nah, maka dari itu dia gila!” Ashley kembali dengan argumennya.

Baru saja Sooyoung mau menyahut, dia sudah keduluan oleh Richard. “Tidak! Dia itu Cuma gelandangan. Tahu dari mana kau kalau dia gila, heh? Beri aku bukti nyata. Kalau aku, aku bisa bilang kalau dia itu gelandangan karena memang begitu kenyataannya.”

Debat kusir itu baru berhenti ketika James Sullivan menyeletuk, “Oh ya, Scarlet. Kau dari New York ‘kan? Ceritakan soal New York dong. Aku ingin ke sana tapi belum kesampaian.”

Hanya satu kalimat itu dan Scarlet sudah jadi pusat pembicaraan. Mengharuskannya menjawab ini-itu, menjelaskan ini-itu kepada teman-temannya.

Tidak ada banyak informasi yang Scarlet dapatkan soal “Pria di taman di sudut jalan” atau “The man who can’t be moved”. Tapi Scarlet sudah punya rencana.

 

 

Jam kosong matematika, bisa lebih berbaur dengan teman-teman, tidak ada tugas ataupun PR, dan bisa pulang sendiri―berjalan kaki. Scarlet sungguh merasa harinya hari ini begitu sempurna! Pulang dengan berjalan kaki memberi Scarlet kesempatan untuk lebih mengenal lingkungan barunya.

Ditambah cuaca musim gugur yang bagus. Tidak lupa pemandangan yang memukau dan identik dengan romantis.

Scarlet jadi tahu toko permen dan manisan yang jadi buah bibir teman-temannya karena enak. Ia jadi tahu restoran Cina milik keluarga Lana Cheng―teman orientalnya yang satu lagi. Scarlet juga jadi tahu ada berapa banyak restoran dan kafe yang tersebar di sepanjang jalan antara rumahnya dan sekolahnya, tahu kantor polisi tempat ayah Richard Ross bekerja, dan hal-hal remeh-temeh lainnya.

Dan langkah Scarlet terhenti ketika ia tiba di taman di sudut jalan. Tepat di sudut taman itu, yang juga berada tepat di tepian sudut jalan, Scarlet kembali melihat sosok pria yang tadi dibicarakan oleh teman-temannya.

The man who can’t be moved.

Scarlet terpaku di tempatnya. Pria itu nampak tertidur di kursi yang ada. Jaket tebal menyelimuti tubuh pria itu. Tudungnya melindungi kepala si pria. Dan syal hitam yang ia kenakan membuat Scarlet tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Juga kardus yang menarik perhatian Scarlet sejak awal tidak bisa Scarlet baca tulisannya karena posisinya yang terbalik.

Jadi dia benar-benar gelandangan ya? Celetuk Scarlet dalam pikirannya. Tapi Scarlet sendiri masih ragu apakah pria itu benar-benar gila atau tidak.

Kemudian Scarlet nampak merogoh saku mantelnya. Di saku kiri tidak mendapati apa-apa, Scarlet beralih ke saku kanan. Ia menemukan uang receh sejumlah satu dolar. Mengambilnya beberapa dan kemudian meletakkannya di dekat si pria lalu pergi.

“Hei,” panggilan itu sukses membuat langkah Scarlet terhenti.

Ia menoleh ke belakang tanpa memutar tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan si pria yang kini sudah bangun, terduduk di kursi taman itu.

“Hei, Gadis Kecil,” panggil pria itu dengan suara beratnya, “kemarilah.”

Scarlet ingat aturan dari orang tuanya; jangan menuruti perintah orang asing. Tapi kali ini Scarlet melanggarnya. Instingnya mengatakan pria itu tidak berbahaya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan kemudian Scarlet sudah tiba di hadapan si pria.

Wajah khas milik orang Asia kembali menyapa penglihatan Scarlet. Rambut hitam, mata coklat cenderung ke hitam khas milik orang-orang Asia, dan kulit yang tan.

“Ulurkan tanganmu,” titah pria itu.

Scarlet menurut saja. Dan gumaman “Lho?” terucap dari mulutnya saat Scarlet melihat uang recehnya tadi kembali ke tangannya. Scarlet melongo, menatap pria itu bingung.

“Kukembalikan uangmu. Aku tidak butuh itu.” Pria itu tersenyum kecil.

“Eh? Tapi kau―”

“Gadis Kecil,” pria itu memotong perkataan Scarlet dengan panggilan lembut, “aku tidak butuh uang itu. Aku serius. I’m not broke, I’m just a broken-hearted man.”

“Jadi kau bukan gelandangan ya?”

Pria itu terkekeh. “Bagaimana ya?” pria itu kelihatan berpikir. Dagu bertumpu pada kepalan tangan dan dahi sedikit berkernyit. “Kalau dilihat dari keadaanku sekarang, aku memang tak ubahnya seorang gelandangan. Tapi disebut gelandangan sepenuhnya juga tidak benar.”

Scarlet mengerjap “…aku tidak paham.”

Tawa pria itu meledak. “Yah, tidak perlu kau pikirkan sampai seserius itu. Oh ya, aku belum pernah melihatmu. Apa kau baru di sini?”

“Ya. Baru pindah seminggu yang lalu.”

“Jadi apa yang sudah kau dengar tentangku?”

Scarlet berusaha mengingat. “Teman-temanku bilang kau itu gelandangan. Kau tidak mau pergi dari tempat ini. Bahkan ada juga yang mengataimu gila.”

Lagi. Pria itu tertawa keras. “Kau jujur sekali ya?”

“Kau yang bertanya. Aku hanya menjawab.”

“Ya, ya. Itu terserah kau, mau percaya semua itu atau tidak. Aku sudah tidak peduli lagi. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Tidak keberatan berkenalan denganku ‘kan?”

“Scarlet. Scarlet Smith,” jawab Scarlet. Mengabaikan pertanyaan terakhir dari pria itu.

“Aku Kim Jongin.”

“Hah?” Scarlet ber-hah tanpa sadar. “Kim … Kim Joining? Kim John-in?” satu-satunya kata yang bisa ia ucapkan dengan fasih adalah ‘Kim’.

Pria itu kembali tertawa dan bibir Scarlet langsung manyun. Ya wajar saja jika dia salah menyebutkan nama pria itu. Lidahnya yang sudah terbiasa dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu pasti terasa kaku mengucapkan kata atau kalimat yang bukan bahasa ibunya. Terlebih lagi rumpun bahasa Asia Timur.

“Kau bisa panggil aku Kai saja kalau begitu.”

“Kai.” Scarlet mencoba mengulangi nama itu. Jauh lebih mudah.

“Ya, seperti itu. Nah Scarlet, aku ingin bertanya sesuatu. Keberatan?”

Scarlet menggeleng. “Tidak.”

Ketika tahu pria itu meraih kardus bertuliskan sesuatu―yang tadi sempat Scarlet lupakan―jantung Scarlet berdegup kencang karena rasa penasaran yang semakin menekan adrenalinnya. Akhirnya! Rasa penasarannya akan terjawab! Scarlet sampai sempat menahan nafasnya.

Dan kala kardus itu terpampang di hadapannya, Scarlet bisa melihat foto seorang gadis―juga berwajah Asia Timur―yang berukuran cukup besar tertempel di kardus itu. Lalu ada tulisan tangan besar-besar dengan huruf kapital yang ditulis menggunakan spidol warna hitam.

If you see

“Nah, Scarlet.” Panggilan Kai kembali mengalihkan fokus gadis cilik itu yang tengah membaca tulisan yang terpampang di sana.

“Y-ya?”

“Kau pernah melihat gadis ini?” telunjuk Kai mengetuk-ngetuk foto gadis itu. Scarlet mengamatinya dan menggeleng.

Sungguh, Scarlet tidak pernah melihat gadis di foto itu. Gadis dengan wajah Asia Timur, rambut hitam lurus dan panjang, mata besar, senyum cerah. Cantik, pikir Scarlet.

“Ya sudah,” Kai menghela nafas sejenak, “kupikir kau pernah melihatnya.”

“Memang kenapa?”

“Kalau kau melihat perempuan di foto ini, bisakah kau mengatakan padanya dimana aku berada?” Kai membalas pertanyaan Scarlet dengan pertanyaan. Atau lebih tepatnya permintaan.

Baru Scarlet menyadari tulisan di kardus itu―“If you see this girl, can you tell her where I am?

“Tentu.” Angguk Scarlet.

“Bagus. Kalau begitu, pulanglah. Kau tidak ingin membuat orang tuamu khawatir ‘kan?”

“Ya. Kalau begitu … sampai jumpa, Kai.”

Kai balas melambaikan tangan pada Scarlet yang berjalan menjauh.

Hari itu, rasa penasaran Scarlet soal tulisan di kardus itu sudah terjawab. Scarlet juga berkesimpulan jika ‘Pria di taman di sudut jalan’ atau Kai itu tidak gila. Tidak, Kai tidak gila. Kalau Kai gila, tidak mungkin ia bisa bercakap-cakap dengan begitu normalnya dengan Scarlet ‘kan?

Tapi tanda tanya lain muncul.

Siapa Kai sebenarnya?

Siapa gadis itu?

Kenapa Kai di sana dan tidak mau pergi dari sana?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mau lepas dari kepala Scarlet. Memang, pertanyaan-pertanyaan itu sempat menghilang di saat-saat tertentu. Seperti saat Scarlet bermain di belakang rumahnya, saat makan malam dan mengobrol bersama orang tuanya, juga saat ia menerima telepon dari Aiden Clark, salah satu sahabat baiknya di New York.

Tapi saat Scarlet selesai menggosok gigi, mencuci kaki-tangannya, dan berbaring di atas kasur sambil memeluk erat gulingnya, pertanyaan-pertanyaan itu kembali timbul mengusik Scarlet.

I’m not a broke. I’m just a broken-hearted man.”

                “Kalau kau melihat perempuan di foto ini, bisakah kau mengatakan padanya dimana aku berada?”

Sebuah gagasan membuat Scarlet terjaga seratus persen.

Jadi Kai ada di sana menunggu seseorang? Gadis di foto itu? Tapi dari perkataan Kaikalau kau melihat perempuan di foto ini―mengesankan kalau gadis itu menghilang dan Kai mencarinya. Tapi jika Kai mencari gadis itu, kenapa dia hanya diam di sana?

 

***

 

Kini Scarlet sudah bisa pulang-pergi ke sekolah sendiri. Meski itu harus berjalan kaki karena sepeda yang diimpikannya belum juga tiba.

Sepulang sekolah hari ini Scarlet sudah bertekad akan mampir menemui Kai. Seharian ini dirinya tidak bisa fokus di sekolah karena memikirkan berbagai kemungkinan soal Kai. Beruntung saat mapel Mrs. Joaquin, Scarlet yang sempat melamun dan kena tegur bisa menjawab pertanyaan dari guru killer itu.

Kai masih di sana. Pria itu duduk bersila di kursi taman sambil makan sandwich. Di sampingnya ada kantong plastik besar yang Scarlet tebak isinya adalah makanan. Di sebelah kantong plastik itu ada sebotol air mineral juga kardus itu―kardus yang ada foto gadis misterius itu. Tanpa ada keraguan, Scarlet berjalan mendekati pria itu.

“Oh, kau,” Kai berkata dengan mulut penuh sandwich cepat saji yang bisa dibeli di swalayan-swalayan, “gadis yang kemarin. Siapa namamu? Scarlet ‘kan? Kalau tidak salah.”

Scarlet mengangguk. “Ya, itu namaku.”

“Apa yang kau lakukan di sini? Tidak langsung pulang?”

Scarlet gantian menggeleng. “Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku ingin bertanya banyak hal padamu.”

“Kira-kira jawaban pendek atau panjang yang akan keluar?”

Scarlet nampak berpikir. “Kurasa … panjang. Yah, itu kalau kau tidak keberatan dan merasa terganggu sih.” Bahu Scarlet mengedik cuek.

Kai tertawa ramah. Tangannya yang tidak memegang sandwich dikibaskan. “Tidak. Sama sekali tidak. Aku jadi penasaran pertanyaan seperti apa yang akan kau tanyakan. Sini, duduklah.” Kai menyingkirkan kardus itu, juga kantong plastiknya. Ruang kosong itu segera diisi oleh Scarlet. “Kau mau sandwich? Kalau kau pikir jawabannya akan panjang, kau pasti akan lapar.” Sebungkus sandwich Kai sodorkan pada Scarlet.

Scarlet menatap roti isi itu ragu-ragu.

“Ini bisa dimakan.” Kai seolah mengerti keraguan gadis cilik itu. “Aku baru membelinya dari swalayan. Tanggal kadaluwarsanya masih lama. Ini, kau bisa lihat sendiri ‘kan? Ini juga tidak beracun. Buktinya aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong roti isi ini sudah jadi makanan wajib untukku dalam waktu yang cukup lama.”

Scarlet masih ragu.

Tapi perutnya tidak bisa dibohongi. Perutnya berbunyi dengan cukup keras dan itu membuat Kai tergelak dan Scarlet merasa malu.

“Perutmu itu tidak bisa diajak bekerja sama ya?” celetuk Kai ketika Scarlet menerima roti isi darinya.

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Scarlet. Gadis itu makan roti isi dalam diam seraya berpikir untuk menambah porsi makan siangnya di sekolah.

“Jadi kau mau tanya apa?”

Ah, hampir saja Scarlet melupakan tujuannya hanya karena perutnya yang meraung protes minta diisi.

Scarlet menyelesaikan kunyahannya dahulu kemudian bertanya, “Kenapa kau selalu ada di sini? Kau tidak punya rumah ya?”

Seulas senyum tipis disunggingkan oleh bibir Kai. “Aku sedang menunggu seseorang.”

“Siapa? Gadis di foto itu?”

“Pintar. Kau benar.”

“Kenapa di sini? Kalian sudah berjanji?” sisi cerewet Scarlet mulai muncul.

“Itu karena…” ingatan Kai melayang pada kepingan memori yang ia miliki. “Itu karena ini adalah tempat pertama kali kami bertemu. Juga tempat ini adalah tempat kami sering menghabiskan waktu. Jadi yaaa begitulah.”

Scarlet ber-oh tanpa suara. “Memangnya siapa gadis itu?”

“Tunanganku….”

“Kenapa dia pergi? Kau tahu kemana dia pergi? Bukankah kalau ia pergi seharusnya kau mencarinya dan bukannya berdiam diri di sini? Apa dia mengkhianatimu dengan pria lain?” sela Scarlet cepat. Seolah-olah ia merasa jika Kai menjawab lebih jauh lagi maka pertanyaan-pertanyaannya tidak akan terjawab.

“Kau cerewet juga ya?” Kai melempar senyum pada Scarlet. “Kenapa dan kemana dia pergi … aku tidak tahu. Tahu-tahu dia menghilang begitu saja. Tanpa kabar hingga sekarang.”

“Jahatnya…” komentar Scarlet. “Lalu kenapa kau masih mau menunggunya? Dia ‘kan pergi begitu saja, tanpa kabar. Mungkin sekarang dia bersenang-senang di tempat lain. Kau hanya membuang-buang waktumu tahu. Cari dia dengan benar.”

Kekehan Kai keluar. “Bocah sepertimu bisa bicara juga ya?” dan Scarlet mendengus singkat karena merasa diremehkan. “Yah, kau tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya benar. Kalau kau bertanya kenapa aku masih mau menunggunya … itu karena aku sangat mencintainya. Dan mungkin saja suatu hari ia terbangun dari tidurnya, lalu tiba-tiba ia merindukanku … saat itu terjadi, saat ia berubah pikiran, aku yakin ini adalah tempat pertama yang akan ia tuju.”

Cinta. Kata itu tidak asing di telinga Scarlet. Dongeng-dongeng pengantar tidur―terlebih lagi yang menampilkan alur si putri dan si pangeran saling jatuh cinta lalu hidup bahagai selama-lama-lamanya―penuh dengan bumbu cinta. Namun meski Scarlet juga pernah menghabiskan waktu sebelum tidurnya dengan mendengarkan dongeng-dongeng semacam itu, Scarlet menganggapnya angin lalu. Scarlet percaya cinta itu ada. Orang tuanya adalah buktinya. Tapi akhir ‘bahagia selama-lamanya’? Oh, dari dulu itu sudah menggelitik logika Scarlet.

Mana ada bahagia selama-lamanya?

“…aku tidak begitu paham dengan alasanmu. Menurutku, itu kurang masuk akal. Hanya karena … kau mencintainya? Hanya karena cinta?”

Kai kembali terkekeh. “Yah, kau masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti itu, Gadis Kecil. Kau masih bau kencur. Tapi kau perlu tahu, ketika kau mencintainya seseorang, kau rela melakukan apa saja untuknya.” Scarlet menghadiahi Kai sebuah tatapan yang menuntut jawaban lebih. “Oke, begini…” Kai membenahi posisi duduknya. “Contohnya dekat saja. Ibumu, atau ayahmu, atau kedua orang tuamu untuk singkatnya. Mereka tentu mencintaimu ‘kan? Mereka pasti rela melakukan apa saja untukmu. Mereka tidak mau kau terluka, mereka ingin yang terbaik untukmu.”

Ingatan Scarlet melayang ke momen-momen tertentu. Saat ia sakit dan orang tuanya khawatir minta ampun. Saat ayahnya merelakan waktu mengajarnya untuk melihatnya lulus dari Taman Kanak-Kanak. Lalu saat ibunya mencari info mengenai kursus biola kala ia merengek-rengek meminta belajar biola, dan lainnya.

“Bagaimana? Sudah paham maksudku?” pertanyaan Kai membuyarkan lamunan Scarlet.

Gadis itu mengangguk. “Ya, aku paham.”

“Jadi aku tidak jauh beda dengan contoh tadi. Aku rela menunggunya, sampai kapanpun…. Meski hujan atau salju turun, aku akan tetap berada di sini. Karena ada seseorang yang aku tunggu. Entah itu aku harus menunggunya sehari, sebulan, setahun, atau lebih,” kata Kai. Scarlet merasa mulai memahami perasaan Kai. Ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan, pasti sakit.

Scarlet pernah merasakan itu. Yaitu saat sahabatnya Aiden mendiamkannya selama satu minggu tanpa sebab. Karena tidak tahan, Scarlet akhirnya meninju sahabat laki-lakinya itu sambil berseru, “Apa masalahmu denganku? Kenapa kau mendiamkanku? Bicaralah kalau aku punya salah, jangan diam seperti pecundang!”. Dan kemudian Scarlet tahu jika Aiden marah karena Scarlet tidak menepati janjinya untuk pergi bersama untuk piknik.

“Serius deh. Kau hanya buang-buang waktumu.” Scarlet menyelesaikan lahapan terakhir pada roti isinya.

“Dan serius, kau itu menyebalkan.” Kai mengakhiri kalimatnya dengan tawa.

 

***

 

Tanpa direncakan, kini Scarlet menjadi dekat dengan Kai. Sepulang sekolah Scarlet selalu mengunjungi Kai. Kadang ia membawakan Kai makanan. Seperti kemarin saat Scarlet membeli sekotak donat hanya untuk ia habiskan bersama Kai. Kini bahkan Scarlet sudah memiliki sepeda idamannya. Dan Scarlet juga bercerita soal itu dengan begitu antusias pada Kai.

Menurut Scarlet, Kai tidak gila. Dia adalah pria yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Kai juga selalu mendengarkan segala ocehannya yang kebanyakan tentang sekolah. Dan walaupun Kai hanya membalasnya dengan singkat atau respon yang kurang disukai Scarlet, Scarlet tidak peduli. Scarlet juga bertanya banyak hal pada Kai, terutama mengenai kota kecil tempat mereka tinggal.

Namun hari ini, Scarlet menemukan sesuatu yang baru.

Ia tidak menemukan Kai di taman seperti biasanya. Ia justru menemukan Kai keluar dari toko laundry milik keluarga Sooyoung―teman sekelasnya. Kai belum menyadari keberadaannya hingga mereka berjarak tiga meter.

“Oh, hai Scarlet,” sapa Kai seperti biasa.

Scarlet yang terkejut tidak membalas. Ia membanting sepedanya begitu saja ke tanah dan berjalan cepat ke arah Kai.

“Kenapa kau keluar dari toko laundry itu?” tanya Scarlet dengan nada tidak terima. Telunjuknya mengarah ke tempat laundry.

Kai heran dengan reaksi gadis cilik di hadapannya. Tapi ia tetap menjawab. “Karena aku bekerja di sana.”

“Apa? Bekerja? Kau? Bekerja? Yang benar saja!”

“Yang benar saja itu kau. Memangnya kenapa kalau aku bekerja? Tidak boleh?” Kai mencibir balik. Tubuh jangkung itu kembali melangkah ke kursi taman tempat ia biasa berada.

“He-hei!” panggilan Scarlet tidak digubris oleh Kai. Gadis cilik itu menggerutu kesal. Gerutuannya makin menjadi saat ia harus mengangkat dan menuntun sepedanya lalu berusaha menyusul Kai. “Jangan mengabaikanku begitu dong!” Scarlet menghempaskan pantatnya di samping Kai. “Yang benar kau bekerja di toko laundry itu?”

Kai berdecak. “Iya. Memangnya kenapa? Reaksimu aneh sekali. Memangnya kau pikir aku ini apa? Gelandangan, pengangguran, tuna wisma?”

“Ketiga-tiganya!” balas Scarlet polos dan dibalas putaran bola mata oleh Kai. “Habisnya julukanmu ‘kan “The man who can’t be moved”!”

Ah, Kai paham sekarang. Pria itu tersenyum tipis. “’The man who can’t be moved’―pria yang tidak bisa disuruh pergi. Di-su-ruh. Ingat dan garis bawahi itu. Disuruh itu kata kerja bentuk pasif. Sedangkan aku pergi karena kemauanku sendiri. Aku menyuruh diriku sendiri untuk pergi. Me-nyu-ruh, kata kerja aktif. Jadi kau berpikir kalau aku hanya menghabiskan seluruh waktuku untuk berdiam diri di sini?” tanya Kai agak sinis.

Scarlet mengangguk cepat. “Ya kau tidak bisa menyalahkanku! ‘Kan soalnya tiap aku bertemu kau atau melihatmu, kau selalu ada di sini.”

“Kalau aku selalu ada di sini, kau pikir dimana aku membersihkan diri dan buang air? Kau pikir darimana dan bagaimana aku bisa membeli makanan? Merampok? Aku juga bekerja tahu. Hanya saja kebetulan tiap kali kau melihatku, aku sedang tidak bekerja. ‘Kan sudah kubilang, I’m not broke. I’m just a broken-hearted man.

Scarlet menyengir menyadari kebodohannya.

Eh, tapi Kai baru saja keluar dari toko laundry milik keluarga Sooyoung ‘kan? Ahhh, sekarang Scarlet paham kenapa Sooyoung waktu itu bersikukuh mengatakan jika Kai tidaklah gila. Sooyoung pasti sudah pernah bertemu Kai beberapa kali―karena Kai bekerja di toko keluarganya. Jadi Sooyoung pasti tahu sosok Kai.

Tiba-tiba saja Scarlet bertekad untuk mengomeli Sooyoung keesokan harinya karena tidak memberitahunya sesuatu sepenting itu.

“Kenapa kau hanya diam?” tanya Kai.

“Tidak. Tidak apa-apa,” jawab Scarlet. “Jadi kau tahu So-young dong?”

So young?”

“Aaaahhh, itu lhooo … putri pemilik laundry tempat kau bekerja. Dia teman sekelasku.”

“Oooh, Sooyoung…”

“Nah! Itu dia! Kau tahu dia?”

“Namanya itu Sooyoung, bukan So-young (begitu muda). S-o-o di namanya itu dibaca ‘su’ dan ‘young’ dibaca seperti ‘young’ dalam bahasa Inggris.” Kai mengoreksi pelafalan Scarlet dan benar-benar tidak menggubris pertanyaan gadis cilik itu.

Scarlet baru menyadari jika selama ini ia salah mengucapkan dan memanggil nama temannya itu. Tapi ia tidak peduli. “Ya, ya, oke. Lain kali aku tidak akan salah. Jadi kau mengenalnya? Dia orangnya bagaimana?”

“Kenapa kau justru bertanya padaku? Kau kan teman sekelasnya.”

“Arrghhh, Kai!” erang Scarlet. “Kan aku juga mau tahu pendapatmu. Aku mau tahu pendapat orang lain mengenai dia. Cepat, katakan! Dia orangnya bagaimana?”

Dan Sooyoung hanyalah topik pembuka di perbincangan mereka hari itu.

 

***

 

Kedekatan yang sudah terjalin antara Scarlet dan Kai membuat gadis cilik itu mengetahui beberapa fakta tentang Kai yang Scarlet yakini, tidak diketahui oleh teman-temannya. Seperti ternyata rumah Mrs. Wilson yang terpisah tiga rumah dari rumahnya adalah rumah milik Kai yang disewakan. Scarlet juga tahu kalau selain bekerja di laundry milik keluarga Sooyoung, Kai juga bekerja di bengkel kecil milik Mr. Ferguson.

Kai juga tidak pernah main-main dengan ucapannya. Meski hujan atau salju turun, aku akan tetap berada di sini. Karena ada seseorang yang aku tunggu. Entah itu aku harus menunggunya sehari, sebulan, setahun, atau lebih”. Terbukti saat hujan turun, Kai masih berada di tempatnya, dengan jas hujan lengkap, dan kardus tulis yang dibungkus plastik agar tidak rusak. Pun saat salju turun semakin deras di bulan Desember ini. Tubuh jangkung Kai yang terbalut jaket warna hitam terlihat kontras dengan pemandangan taman yang seluruhnya putih karena tertutupi salju.

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Libur musim dingin sudah tiba dan jalanan serta toko-toko mulai dihiasi pernak-pernik Natal. Scarlet dan keluarganya menjalani Natal pertama di Montpelier. Lalu ia dan keluarganya menghabiskan libur tahun baru di New York. Bertemu kakek-neneknya beserta kerabat lain, juga sahabatnya, Aiden Clark. Scarlet tidak sabar untuk menceritakan semua pengalamannya pada Kai.

Tapi ketika Scarlet kembali ke Motpelier, keinginan Scarlet yang satu itu tidak akan pernah terwujud setelah Scarlet membaca salah satu kolom berita surat kabar lokal yang diantar ke rumahnya pagi ini.

“’THE MAN WHO CAN’T BE MOVED’ FOUND DEAD LAST NIGHT”

Judul yang dicetak dengan huruf tebal dan besar-besar itu menarik seluruh atensi Scarlet. Ia buru-buru membaca artikel tersebut.

“…warga keturunan Korea yang bernama Kim Jongin (22), atau yang lebih terkenal dengan julukan ‘The man who can’t be moved’ itu ditemukan meninggal semalam oleh polisi yang sedang patroli di taman. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Tapi di sekitar mayatnya terdapat beberapa pil obat berserakan dan potongan surat kabar satu tahun lalu. Diduga Kim Jongin meninggal karena overdosis…”

Scarlet tidak berminat untuk membaca lebih lanjut. Perhatian Scarlet kemudian beralih pada gambar potongan surat kabar yang ada di dekat mayat Kai. Meski tulisannya kecil-kecil, tapi Scarlet masih bisa membacanya.

“A couple got in an accident. The man seriously injured and the woman died”

Sekarang Kai benar-benar menjadi ‘the man who can’t be moved’. Tidak ada yang bisa menyuruhnya pergi dari taman itu sekarang.

 

 

 

Hari ini, kematian Kai menjadi buah bibir di kota. Mereka semua membicarakan sesosok pria yang sia-sia menunggu seorang gadis. Dan pria itu adalah Kai.

 

“Dia dulu tidak seperti itu. Sangat berbeda.”

 

“Dia berubah setelah kecelakaan itu ‘kan?”

 

“Dia hidup dalam dunianya sendiri, dalam khayalannya sendiri.”

 

“Dia berpikir bahwa tunangannya itu masih hidup. Padahal tunangannya itu sudah meninggal di tempat saat kecelakaan itu terjadi.”

 

“Aku merasa kasihan padanya…”

 

“Dia sempat memukulku ketika aku berkata bahwa tunangannya sudah meninggal.”

 

“Penantian yang sia-sia ya?”

 

“Tapi pada akhirnya dia mengetahui kebenarannya kan? Entah bagaimana caranya ia bisa menemukan artikel tentang kecelakaan yang ia dan tunangannya alami setahun lalu.”

 

“Ya, lalu setelah itu mungkin dia dilanda shock yang sangat hebat. Dia pasti merasa sangat terguncang ya?”

 

“Lalu dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sungguh tragis…”

 

Scarlet bisa mendengar semua yang orang-orang bicarakan mengenai Kai. Tidak ada komentar yang bisa gadis kecil itu berikan.

“Ada yang bisa kubantu, Gadis Kecil?” tanya seorang florist begitu Scarlet memasuki toko bunga yang berada tidak jauh dari sekolahnya.

Scarlet tersadar dari lamunannya mengenai Kai dan menjawab, “Aku mencari bunga. Untuk temanku…”

Dan ketika Scarlet keluar dari toko bunga itu, ia sudah membawa sebuket bunga mawar kuning. Sepedanya melaju pelan dari toko bunga menuju taman yang ada di sudut jalan. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi sosok yang selalu duduk di bangku taman itu. Tidak akan ada lagi yang membalas cerita-ceritanya dengan gumaman singkat dan jawaban menyebalkan.

Scarlet lalu meletakkan buket mawar kuning itu di bangku taman dan melanjutkan perjalanan pulangnya.

 

― The Man Who Can’t Be Moved ― END ―

 

Glossary              :

  • I’m not broke : aku bukan orang bangkrut. (‘broke’ di sini bukan berarti rusak, melainkan ‘bangkrut’ atau ‘nggak ada duit’. Jadi kalo lagi bokek, bilang aja “I’m broke.” )

 

 

 

A/N        :

Akhirnya kelar juga fanfiksi ini. Fanfiksi ini terinspirasi dari lagunya The Script dengan judul yang sama dengan judul fanfiksi ini. Lagunya itu beuuhhhh! Keren deh. Apalagi ada salah satu liriknya yang nge-jleb right in the kokoro. Yaitu, “How can I move on when I’m still in love with you?” #eaaaa /lalu mendadak baper/ XD

Di sini emang Len sengaja nekanin ke hubungan pertemanan antara Jongin Item Pesek sama Scarlet Smith dan bukannya hubungan Jongin sama tunangannya.

Dan kenapa western? Kenapa setting-nya di Amerika? Len rasa cocok aja. No particular reason. Gadis kecil, pindah ke kota kecil di Amerika, dan di kota itu ia mulai temenan sama orang yang terkenal seantero kota sebagai ‘the man who can’t be moved’. Sempurna! XD

And then, di sini pastinya udah paham kan kalo Jongin itu mengalami halusinasi? Sebenernya kan tunangannya udah mati di kecelakaan itu. Tapi Jongin selamat dan sejak itu ia berubah. Dia nganggep tunangannya masih hidup dan pergi ninggalin dia. Disebut skizofrenia bisa kali. (Yang nggak tahu skizofrenia itu apa bisa tanya gugel). Nah, Jongin yang skizofrenia inilah yang melatarbelakangi genre psychology. Tapi kurang nendang banget ya? XD

Sebenernya lewat fanfiksi ini, Len pengen nyampein beberapa hal. /dehem cakep/

Well yeah … orang yang mengalami gangguan mental/jiwa itu juga sama kayak kita-kita ini. Mereka punya hak yang sama kayak kita. Hanya karena mereka didiagnosa ‘kurang waras’ bukan berarti mereka harus dihindari, dipasung, or even diisolasi dari lingkungan sosial. Justru interaksi sosial yang terbuka itu bisa lho menyembuhkan mereka.

And then, belum tentu orang yang keliatan waras ternyata waras dalemnya XD Bisa aja dari luar dia keliatan waras tapi sebenernya di dalem itu ancur. Bisa aja senyumnya ternyatan menyembunyikan luka :”) /eaaa/ apaan sih?/ Sebenernya, apa sih gila itu? Kalo Len beranggapan sih, hampir semua orang di dunia ini gila XD Tergantung kadar dan jenisnya masing-masing ye? Kayak gila nge-game, gila ngidol, gila makanan, dan lainnya. Itu mah gila yang lazim ye? Yang udah level dewa kalo gila itu yaaa yang ada di RSJ XD

And also, suicide is NOT a solution! Bunuh diri itu bukan solusi atau jalan keluar. Yaaa oke, mungkin kalian ada yang pernah mikir buat ngelakuin itu. Tapi plis berhenti sampe di situ aja. Jangan dilakuin beneran. Your life is worth it, guys 🙂 Bunuh diri itu nggak akan nyelesain masalah. Yang ada justru ninggalin masalah dan nambah-nambahin dosa XD

Udah, gitu aja dulu. Sebelum A/N ini jadi drabble, Len mau cabut!

Saya Len, Si Tjakep Jembatan Ampera, pamit dulu, sampai jumpa di fanfiksi lainnya. Adios!

ps: mawar kuning itu melambangkan persahabatan 😉

72 tanggapan untuk “The Man Who Can’t Be Moved ― Len K”

  1. KAKKK LENNNNN >< FFNYA KEREN BENERAN ㅠ.ㅠ AKU NANGIS DI AKHIR CERITA ㅠ.ㅠ JONGIN NISTA BANGET DI SINI:'v wkwk Udah ditinggal tunangannya, kena gangguan mental, gembel, dibunuh pula 😄 emeyzing syekaleeh *prok prok prok* (2) ngakak baca komenannya kak irish yang panjangnya udah kek ff drabble/? :'v kata GEMBEL bertebaran di mana-mana:'v. Endingnya ngga ketebak. Ouhh kim jonginnn engkau begitu setia~
    sempet mikir kalo si cewenya itu masih hidup, atau mungkin dia koma/?
    "mungkin saja suatu hari ia terbangun dari tidurnya, lalu tiba-tiba ia merindukanku … saat itu terjadi, saat ia berubah pikiran, aku yakin ini adalah tempat pertama yang akan ia tuju.”
    Seorang kim jongin depresi karena ditinggal mati oleh sang kekasih/?
    Jongin terlalu berdelusi, kesian:'( sini sama aku aja/? /ga/ wkwk
    ngga bisa berkata-kata lagi pokoknya ffnya keren, DAEBAKK (y)

    1. Ane bikin anak orang nangis, yalord XD XD
      Yaaaaa kenapa Jongin? Karena siapa lagi sih yang bisa meranin peran beginian di eksoh? XD XD XD /disambit/
      Makasih ya udah mampir. Peluk hangat dari Len XD

  2. Sya la la♪ du du du♪ kak Len~♪ sla la la♪ du du du♪ Ini fanfic macam apalagi?♪ *abaikan

    Aku akan mulai,

    KAK LEN!!!!!!!!!!!!!! :V YA AMPUN PADAHAL AKU NIATNYA CUMA ISENG LIAT-LIAT TAPI JUDUL FANFIC INI MAKSA BANGET MINTA DI BACA :V KAI NYA JUGA DI POSTER ULALA SYEKALI :V HADUUUUU DAN KAK LEN TAU GIMANA RASANYA LIAT KATA ‘END’ SAAT MASIH BERHARAP ITU BERITA BOONGAN ? :3 Sya la la la♪ rasanya ingin berkata kasar♪♪♪

    Duh maapkeun kak, caps jebol efek gereget stadium mentok hampir berubah jadi power rangeeer :v *abaikan yang ini

    KAK! :V Haduuuuuuu hadu hadu haduuu kenapa Kai mati mendadak gitu sihh masya allah yaahh, lagi gereget par par tiba2 ditinggal matiiiiii :3 apalagi pas baca ‘End’ aku be like : *tangan mematung di udara, mata masih melotot tanpa berkedip, mulut terkatup tak dapat berkata apa-apa, lalu.. Lalu lalu aku baca a/n yang sangat panjang dan berujung : ‘Mawar kuning tanda persahabatan’. Akhirnya tanganku terjatuh dan metaku tertutup sempurna sambil berkata dalam hati : mampus. Kelar idup lo’* :’D *yang ini abaikan juga. siram, siram aja.

    Hhhhhhhh… Ini memang end. Dan pada akhirnya yang bakal aku katakan adalah, INI EMEYZING KAK! EMEYZING!!! *guncang bahu kak len* pokoknya ini badass. BADASS!!!

    Sepertinya ini harus aku akhiri. Kak Len, demi natsume yang bentar lagi bakal rilis season 5, bersiaplah menemukan namaku di fanficmu yang lain. Akhir kata, Kak Len sangat memukau! *prok prok prok*

    1. XD XD XD
      Lu tanya ane tau perasaan elu apa kagak? Ya kagak lah, sebodo amat :v /lalu dicekik/
      Kenapa Kai mati? Soalnya ane bunuh :v :v :v :v

      Hei, ati-ati kalo mau guncang-guncang orang. Ane ini rapuh lho :”) XD XD XD

    2. *Cekek leher kak Len* Iyasih siapa juga yang mau tau :3 wkwk Udah ditinggal tunangannya, kena gangguan mental, gembel, dibunuh pula XD emeyzing syekaleeh *prok prok prok*

      Ah yang bener? *guncang makin kenceng* Hahahahaa *disiram

    3. Untung aja pas dia tergeletak mati gak ditutupin koren terus dilalerin XD hahahaa *ditendang

      Yang bagusan dikit napa kak, kaya genangan air di solo stagenya Sehun Kai gitu XD hahaha

    4. Kan jadi lebih berasa gembel dan kesian gitu kak XD hahahaa *digantung

      Yaudah kak Len dulu lah coba, kalo beneran bagus aku rela disiram aer keras XD

  3. For me, Scarlet tu ky Masha, cerdik & kepo nya, ga takut sm org asing, cuek, helpful, cute & bawel khas bocah 😀 hm.. klo Kai di ff ni ky wkt Kai di Oh! My Baby, maen & ngurusin kiddo. Kaget, pas tau2 Kai suicide gt 😥 my tears fall out *wlw ga se-bnyk ky wkt bc Leaders’ Talk, cm ky Chanyeol di MV Miracle in Dec aja

    Sbenernya wlw tanpa minum drugs u/ suicide gt, badan’ny kai udah bnyk ‘tergerus’ cuaca xtreme, tinggal di luar gt, tanpa atap, pas turun hujan, pa lg snowing >.< kshn bgt..

    Kocak bgt bc long review dr Irish 😀

  4. Halo kak^^ salam kenal.
    Tau blog ini dari blog sebelah.
    Ini serius keren banget.
    Nyesek coba aku bacanya. Tp sayangnya gabisa sampe nangis.-.
    Dan gatau kenapa suka sama karakternya Scarlet. Gemes sama scarlet >.<
    Aku jg suka cara kakak ngegambarin karakter jongin.
    Btw jongin setia bangettt.
    Endingnya jg ga ketebak. Ga kepikiran jongin bakal mati.
    Suka suka sukalah pokoknya ❤

    1. Salam kenal, Rain 😉
      Blog sebelah mana elah? Emang ada blog yang mau nampangin penpik gaje cem ini? XD
      Nggak usah mpe nangis juga nggak apa-apa kok. Entar Len dosa soalnya bikin anak orang nangis lagi XD
      Glad to know that you like it!

  5. endingnya nyesek banget, kasian jongin yang ditinggal tunangannya karna kecelakaan harus mengalami itu semua, menganggap tunangannya masih hidup. dan sekarang jongin bunuh diri karna tau yang sebenarnya..

  6. dari judulnya aja dah bikin aku tertarik. Aku tahu lagu dan inti lagunya The Man Who Can’t be Moved sih dari temen ya. Terus penasaran juga kalo lagu ini dibikin ff. Eh ternyata ada. Sumpah setiap baca detailnya hampir nggak nemuin kekurangan apapun saking enjoynya sama alur cerita. Ditambah bbrp scene/? yg real life.
    KAK LEN JJANG🙌🙌🙌
    btw, aku ngakak baca drabble nya kak irish di kolom komentar�✌
    FF collab Kak Len sm Kak Irish boleh dong?

    1. Yukiiiiii makasih udah berkenan mampir dan ngebuat pala ane membesar dengan pujiannya XD
      Wks, ane juga ngakak baca komennya Kak Irish XD
      FF kolab? Let we think about that

  7. EHEM. TEST. INI KOMEN DARI WORD. MOHON MAKLUMI PANJANGNYA DAN JUGA KEPSLOKNYA YA.

    Pertama, biarlah diriku tau diri kalo itu poster abnormal buatan aku, kemudian inget perbincangan kita di e-mail dan berujung KAI ITU GEMBEL. Dan yep, saat ngerjain poster ini pada dasarnya mind-set aku ‘RISH, KAI JADI GEMBEL, CARI GAMBAR KAI YANG GEMBEL’ dan pas gugling pun aku sambil gumam-gumam “Kai…. gembel… Kai…. gembel….” plus “ah ini kurang gembel… ah ini putih… nah ini gembel banget tapi kok gak HD…” SEMACEM ITU. Dan hebatnya, SETELAH BACA FF INI DIA BENERAN GEMBEL. KAI GEMBEL. NANTI KUJELASKAN DARIMANA ASAL MIND-SET “KAI GEMBEL INI”

    Sumpah, cara Len ngebawain cerita ini bikin aku melayang-layang ke film-film keluarga ala Disney, terutama, yang terakhir kali aku tonton ini film animasi Inside Out yang juga basicnya menceritakan anak yang pindah rumah. Meskipun konsep ceritanya beda, aku ambil perumpamaan pindah rumahnya ini ya.

    DAN PLIS LEN, apa kamu pernah berpindah-pindah di luar negeri? Adegan nempel-nempelin tangan di kaca terus ngeliat makhluk astral (si Kai atau makhluk sejenisnya) ini bener-bener ngasih feel tentang karakter Scarlet yang kepoan (selalu ingin tau rish, bukan kepoan)

    Kelakuan si Scarlet tiap lewat depan angkringan Kai ini juga menggambarkan konsep “KAI GEMBEL” di mindset aku, jadi… KAI GEMBEL (1)

    Dan itu, adegan makan malem itu bener-bener ya, YA ALLAH SCARLET, ENTE KECIL-KECIL, KEPOAN, SUKA GOSIPIN TEMEN LAGI, NGATAIN TEMENNYA TUKANG GOSIP, KAN KMVRT SEKALI… BILANG AJA MAU KEPO SAMA OM-OM DI ANGKRINGAN.

    Adegan selanjutnya yang bikin aku kepingkel ini adegan si Erik nyanyi, terus dilemparin sama Mia. KAMPRET, INI TRUE BANGET, AKU SERING KELAKUAN KAYAK SI MIA, NGELEMPARIN TEMEN YANG KONSER DI DEPAN KELAS, TROLOLOLOLOLOL XD wahai brondongku, dirimu punya bakat nujum juga~~~

    Dan perdebatan bocah-bocah ingusan ini juga bener-bener Len bawa ala western sekali, sampe aku pengen jedotin pala ke tembok saking gemesnya sama Len, sama ceritanya maksudnya, wkwkwkwk XD tbh, aku pun demen ngegosip pas kecil, dan model aku ini model si Ashley yang demen ngatain siapa aja yang mencurigakan jadi orang gila. INI KONSEP KAI GEMBEL. KAI GEMBEL (2).

    Tbh (2) Olivia sama si Ava ini beneran model cewe-cewe kekinian yang ntar kalo SMA nya sukanya meni-pedi sama jalan-jalan gahoel ke mall. Itu susannya mana? Aku mencari susan yang centil~~

    PENJELASAN RICHARD INI JUGA BENER-BENER JADI KONSEP KAI GEMBEL. KAI GEMBEL (3).

    OKEH. OKEH. BIARKAH AKU SKIP SEMUA BAGIAN PEMIKIRAN SCARLET SI GADIS KEPOERS DARI NEW YORK INI. AKU GA KUAT SAMA BAYANGAN KAI YANG TIDUR, ITU GEMBEL SEKALI. KAI GEMBEL (4) DAN KAMPRETNYA AKU MALAH NGAKAK-NGAKAK, PERKARA PAS MAU BIKIN POSTER ITU NEMU KAI BERTUDUNG (PAKE JAKET SIH) DAN ITU GEMBELERS BANGET KAN!?

    Okeh, diri ini udah terlalu gatau diri mengetik panjang di atas, jadi dari sini biarlah aku ringkas inti dari komentar yang mau aku sampein ya…

    INTINYA: pada awalnya, aku mikir Kai ini gangguan jiwa. Serius. But, I thought that he was being obsessive with a girl, and it turn him mad like that. Like GEMBELERS. Kemudian pikiran aku menerka-nerka begitu jauh sampe sempat terpikir di kepala aku, apa Scarlet ada hubungannya sama si item gembelers ini? But nope. Scarlet was too old to be a child from someone that Kai’d been waiting for. So, that’s impossible. Kemudian aku beralih pada fakta yang lebih sweet and bitter lagi. Mungkin Kai memang nunggu seseorang, mungkin seseorang itu memang ada. Mungkin… kai begitu cinta mati. Karena cinta mati alias cinta terlalu berlebihan dan terobsesi itu juga termasuk jenis gangguan jiwa so… there’s a possibility about that right?

    THE KAMPRET MOMEN: why did Kai not doing anything but waiting for his girl? Aku ngerasa curiga ini ketika Kai meminta semua orang buat ngasih tau si cewek dimana Kai berada. EMANG INI CEWEK CACAT ATAU GIMANA? SAMPE GABISA NEMUIN KAI? Atau itu cewek lupa ingatan? Atau Kai yang lupa ingatan? KAI, GEMBELERS NOMER SATU. KAMPRETOS.
    SKIP BAGIAN PENJELASAN KAI TENTANG SI AWEWE, JIWA INI UDAH GAK KUAT MAU MENGUMPAT AKIBAT TWIST YANG DISAJIKAN.

    THE MOST KAMVRETOS MOMEN: WHY? WHY HE’S DOING SUICIDE? THAT…. KAMPRET! GEMBEL KAMPRET! GAK BERTUNGGANG JAWAB, KENAPA ENTE BUNUH DIRI? KENAPA NGE-END IN INI CERITA YANG UDAH MASUK KLIMAKS? KAMPRET. YANG KAMPRET INI LEN APA KAI SIH? KZL SEKALI. KZL SEKZL KZLNYA. SERIUS.

    THE MOST MOST MOST KAMVRETOS MOMEN: WHO? Siapa yang ngasih itu potongan koran sampe Kai bunuh diri!? IMPOSSIBLE SEKALI KORAN SEBARAN SETAHUN LALU MASIH ADA KELELERAN GITU AJA. EMANG KAI TINGGAL DI PERPUSTAKAAN YANG SELALU ADA KORAN? ANJRIT. INI PASTI PEMBUNUHAN BERENCANA! PASTI! LEN! INI BUTUH PREKUEL OR SEKUEL, KAI GAK MATI BUNUH DIRI! DARIMANA DIA DAPET OBAT-OBAT BEGITU? DIA PASTI DIBUNUH! DARI AWAL GAK ADA CERITA TENTANG ORANG TUA ATAU SODARA SI CEWEK, GAK ADA. INI PASTI DENDAM, INI PASTI PEMBUNUHAN! KAI GAK AKAN JADI ROH TENANG DI ALAM SANA KARENA DIA GAK MATI DENGAN TENANG. Ini sumpahh… aku pengen mengumpat… sumpah… pengen mewek juga. LEN PLEASE, AKU TUH GABISA DIGINIIN. Aku tuh gabisa dikasih sad ending karena aku gampang mewek, pas ngetik komen ini aja aku udah mewek serius, udah mbrebes mili (boso jowone) karena gatega bayangin nasib Kai yang mati tanpa alasan jelas. POLISI, PLIS, LAKUIN VISUM! KAI ITU GAK TENANG! SCARLET, DO SOMETHING!!!

    Okeh, inhale. Exhale. Itu kepslok non-stop loh HUAHAHAHA XD miane Len~~~ ini sumpah, aku pada dasarnya ga kuat mau baca sad ending, kok ya gatau diri di atas ada ‘sad romance’ ya di baca aja saking keponya sama nasib GEMBEL YANG GABISA MOVE ON di sini XD wkwkwkwk ini bagus sekali Leeennn~~~ lebih bagus dari godaan Om-Om (RISH, TOBAT RISH) serius aku mewek sekali, aku cengeng kalo perkara beginian, nyentuh sekali :”)

    TETEP AJA, SAMPE DI SINI, KAI GEMBEL. GEMBEL. KAMPRET. GEMBEL. AWAS DI TAMAN ADA HANTU GEMBEL BERKELIARAN!!!

    1. Astaga! WHY I CAN’T STOP LAUGHING WHILE READ YOUR COMMENT?! XD
      Ada berapa banyak kata ‘gembel’ yang ditujukan buat Kai dimari?! Pokoknya entar kalo ane mimpi terus ngigau ‘gembel’ yang ane salahin Kakak!
      Tapi insting Kakak buat nyari gambar Kai yang gembel itu betul kan? Bikos sebelumnya Kakak nggak tau nih ceritanya bijimane. So, Kai bukanlah gembel yang doyang nyuit-nyuitin mbak-mbak bohay-bahenol yang numpang lewat XD
      And I just realized kalo Inside Out juga ada pindahannya! Awalnya nggak kepikiran sampe situ sumvah. Intinya ada bocah pindahan, udah, gitu aja. Kelar.
      Len belum pernah pindah-pindah di luar negeri, besok-besok pasti pindah-pindah kok (AMIN) XD
      Kkkk, Len mau gambarin karakter Scarlet ini tipe-tipe kuudere yang calm, cool, curious about a lot of things a.k.a kepoan, tapi juga punya sisi cerewet yang pedes-nyrocos macem mercon pas malem takbiran XD
      Sejak kapan tamannya berubah jadi angkringan WOI?! XD
      Tbh, pas nulis adegan bocah-bocah yang ngegosip itu Len mencoba membawa diri Len ke jaman-jaman Len TK. Di saat yang lain ngegosip, Len cuma dengerin, nyaut kalo perlu, dan look like a fool XD Syukurlah kalo rasa western-nya dah keluar. Nggak tahu kenapa scene bocah-bocah ini paling gampang dibuat. LOL
      Susannya sengaja nggak Len nongolin lebih lanjut bikos I DON’T KNOW HOW. SERIOUSLY.
      Demi apa ya, bagian komenmu yang “Mungkin Kai memang nunggu seseorang, mungkin seseorang itu memang ada. Mungkin… kai begitu cinta mati.” itu entah kenapa sounds so sweet XD
      Yap, obsesi yang berlebih terhadap seseorang atau suatu objek juga bisa dikatakan gangguan jiwa.
      XD XD XD XD XD Ya Tuhan, apakah ini rasa puas ketika liat orang pengen ngumpat karena kamvret momen? Why so … byutifullll~~~ XD
      Sebenernya nih, ending Kai yang bunuh diri itu muncul dengan ajaibnya. Tiba-tiba pas bikin kerangka, ada ide sliweran terus … “Fix! Kai gue bunuh! HAHAHAHAHAHA!” XD Yang kamvret itu Kai. Kok manut aja dibikin mati ama authornya? /WOIIII/
      Buat selebaran koran, Len sengaja biarin gitu. Biar pembaca berspekulasi. INGET, KAI GEMBEL. Mungkin dia nemu selebaran di tong sampah XD Darimana dia dapet obat? Mari kita asumsikan di sini Kai udah dalam kondisi mental yang hancur-lebut pas tau kalo tunangannya udah mati. And he can’t afford those depressed feeling anymore so he choose to commit a suicide. Intinya, Kai mati karena cinta :”) /eaaaa/
      Astaga … ini kenapa Len bikin nangis anak orang lagi, ya Tuhan? Salah Len apa?
      Kkkkk, idk why but seeing someone crying because of what I’ve done (sometimes) feels sooooooo damn good XD /dibejek Kak Irish/
      Yosh, makasih atas komen panjang yang bikin ngakak, juga mantra ‘gembel’nya XD

    2. You asked me why you can’t stop laughing? AKU PENGEN NENDANG LEN DEH JADINYA INI. KEZAM DEH KEZAM DIRIMU HUHU.
      Ada sekitar enam atau tujuh kata gembel di sana XD entahlah XD aku pun gak menghitung jumlah kata gembel di sana XD wkwkwk emang nya kejadian mimpi tentang gembel? XD wkwkwkwkwkw
      IYA BENER, ITU KARENA SUMMARYNYA ITU LOH, GEMBEL POENYA. WKWKWKWKWKWKWK XD OIYAA! LUPA NGEMENTION SOAL KAI GODAIN BOCAH-BOCAH BAHENOL. BOCAH YA, MODEL SUSAN SAMA AVA XD WKWKWKWKWKK
      TAPI emang sebenernya cerita pindah-pindah ini akan mengurai sebuah sejarah. Termasuk berpindahnya hati aku, juga menciptakan sejarah baru (APASIH RISH) wkwkwkwk XD
      Dan serius, itu karakter kepoers Scarlet itu dapet banget loh. Semacem Scarlet gedenya cucok jadi wartawan wkwk XD
      ITU ANGKRINGAN LEN, BAHASA JAWANYA ANGKRINGAN, BAHASA GAHOELNYA TAMAN XD
      Oh jadi Len ini anak baik-baik gitu ‘ceritanya’ pas masih TK? TK doang ya XD wkwkwk
      Kalo susan di nongolin ini pasti aku akan ngeluarin jurus Kai si Gembel Tukang Godain Bocah di Bawah Umur yang Bahenoel XD wkwkwkw
      Entahlah… itu bisa jadi sweet karena aku kepikiran Len atau karena aku kepikiran nasib gembel bernama Kai…
      YEAH, KAMU BENER. Obsesiku sama bias pun termasuk gangguan jiwa, TROLOLOL XD
      So byutiful ya? -___- kejam masa, aku galau sekali pas Kai tiba-tiba aja mati, kan kampret. Semacem abis nonton film selama tiga jam yang isinya perjuangan main cast, tetiba di akhir main cast nya ketabrak mobil, mati. KAMPRET MOMEN KAN ITU?
      OIYA, KAI GEMBEL, mungkin dia lagi cari-cari koran buat alas tidur tetiba korannya nongol ya… Hmm… bisalah ini diterima dengan akal gak warasku XD wkwkwkwk ini kalimat ‘Kai mati karena cinta’ sama aura sweet nya kayak pas aku ngatain KAI GEMBEL itu XD wkwkk
      Ini the kampret moment versi berapa ya -____- kamu tega Leeenn tega sekali bikin diri ini menangeesss, ente gatau air mata ane saingan sama air mata duyung? ITU KAI ABIS JADI DUYUNG, KETEMU PUJAAN HATI, DIA BERUBAH JADI MANUSIA, PUJAAN HATINYA MATI, KAI JADI GEMBEL. KASIAN. MANTAN DUYUNG BERUBAH JADI GEMBEL….
      Thanks juga Len buat fanfiksi sehebat ini XD aku masih pengen mewek kalo inget endingnya, huhu~

    3. XD Ya siapa juga yang bilang Len ini baik dan tidak kejam? LOLOLOL

      Nggak, Len nggak jadi mimpi dapet nujum ‘gembel’ dari Mak Irish(?). Semua ini berkat lagu ninabobo dari The Script. HELL YEAH! XD

      Ceritanya sih … begitu. Tapi aslinya mah rese juga dari kecil XD
      Kalo Susan dimunculin lebih, takutnya ngeganggu mood cerita yang so damn bittersweet ini. Kkkk.
      Ih, so sweet deh. Kepikiran aku jadinya so sweet XD

      And so am I here. We both mentally ill (?) XD
      KAI GEMBEL EGEN! ANJIRRR LAH! XD
      Sumveh Kak, I didn’t mean to make you or samwan(?) else to keuraaiiiiiii. Kalian aja yang terlalu wafer(?) XD /ditampol/

      EH KOK NYAMBUNG YA? XD

      Btw, ada salah satu orang yang usul buat kita bikin fic colab masa XD

    4. Itu artinya ente ngaku kalo kejam ya? XD wkwkwkwkwkw sejak kapan diri ini berubah pangkat jadi Mak dan bukannya noona? menua lah diri ini…
      XD wkwkwkwkwkwk ngakak! kan aku bayangin susan dicuit-cuitin kai si gembelers XD wkwkwkwkkwk
      ya Allah aku baru sadar kalo di balesan komen pun aku ngemention Kai gembelnya banyak XD wkwkwkkw
      wafer? -_- ente kira tenggo? -_-
      Ya Tuhan XD iya aku liat kok, wdyt? XD wkwkwkwk kita kan sama-sama abnormalnya XD

    5. Yaaa nggak kejem-kejem juga sih XD
      Sejak kemarin :v
      XD Entar jatohnya Kai jadi pedo macem om Suho dong :v
      -_- Baru nyadar? Wtf dah LOL
      Bukan tenggo, itu kurang enak. Itu tuh wafer selamet. ENAK BET ITU MAH! SEKALENG LEN BISA ABIS SENDIRI ITU!
      Boleh juga XD /lalu teringat ide fanfik dimana kita ngeksis/ LOLOLOL

    6. sama aja kejem -__- BUAKAKAKAKA ane kan ngakak, nanti Kai godain Kim Kadarkesian yang lewat di angkringannya dia XD wkwkwkwkwk
      Len itu perut apa tong? -_- muat banget buat makanan ya –” wkwkwkwk
      OIYA! MARILAH KITA BERJAPRI DI IMEL, SIAPA TAU KOLABNYA BERHASIL XD

    7. XD
      Wut? Kim Kadarkesian? Kesian aja apa kesian banget? XD
      Tong karet ini mah XD Buat makanan aja muat, apalagi buat hatimu XD /eaakkk/ disambit/
      OKEH! MULAI SUBJEK BARUKAH IMELANNYA?

    8. Kadarkesian atau Kadarkeseksian? XD wkwkwkw ini kenapa semua jadi ambigu XD wkwkwkwk
      OKEH! ayo mulai Len XD bentar, imel yang onoh belum ane bales XD

  8. AAAH KAK LEN AKU BAPER!! Mau nangis masa… kasian scarletnya gapunya temen ngobrol lagi pas pulang… jadi ternyata Jongin ada di kecelakaan yang ngenewasin tunangannya? Terus dia mental breakdown sampe ngotot kalo tunangannya masih hidup? Aaah… padahal kupikir akhirnya bakal happy ending… T▲T

    1. Cieee yang wafer(?) cieee XD
      Kalo mau nangis mah nangis aja, nggak usah ditahan. Nggak bagus buat kesehatan badan ama mental. Kalo butuh pundak buat bersandar, pundak Len selalu ada buatmu kok :”) /WOIIII/
      Yaaa … bisa dibilang begitu. Jongin belum bisa nerima fakta kalo tunangannya udah meninggal. Beda ama kamu yang udah bisa nerima fakta kalo senpai nggak bakal notis kamu /HEIIIII/
      No happy end for this fic. Emang kamu nggak baca warning-nya heh? XD

  9. Ih ngga nyangka bgt kalo kai akhirnya meninggal mungkin karna shock kali ya dia akhirnya tau kalo tunangannya meninggal sedih bgt bacanya aku sampe nangis dan menurutku orang2 yg beranggap kalo kai gila itu keterlaluan bgt . Ff nya keren thor daebak

    1. Hola findi, makasih udah mau mampir 😉 Well, jangan panggil ane ‘thor’, panggil aja Len, yang nggak suka kalo dipanggil ‘thor’ XD
      Kai disini itu terlalu banyak delusi jadi pas kenyataan datang, dia nggak bisa nerima dan pilih nyusul tunangannya XD

    2. Maaf len aku ngga tau hehe tapi aku suka bgt sumpah sedih gitu aku ngga nyangka kalo kai bakalan meninggak kirain bakalan ketemu sama tunangannya . Ditunggu ff selanjutnya hihi

    3. Nggak apa-apa kok 😀
      Selanjutnya ane bakal publish buat Luhan’s birthday, tunggu aja.
      Btw, selama nungguin boleh kali mampir di epep Len yg lain dimari XD

  10. Leeennn ><
    uh endingnya sukses bikin nangis (╥_╥)
    tp sbenernya masyarakat skitar tau kn klo Kai itu g 'gila'?
    bktinya ad yg blang 'dulu dia tdk sprti itu. sngat berbeda'
    yah gmna ya, kasian klo dibiarin, hrusnya kn diajak interaksi n trus diawasi biar kjadian 'penemuan mayat akibat bunuh diri' itu g trjadi, bkannya diabaikan gtu,,
    n ngmong" dipasung, ad kponakan ttangga(seumuran gw) yg dipasung drmahnya krna depresi, kasian bgt deh pkoknya, n parahnya masyarakat skitar tu mlah setuju klo dy dipasung, kn kasian bgt,,
    dtnggu ff lainnya ya Len, aplgi itu, KPF nya hehe fighting!!! :*

    1. Pagi-pagi jangan nagis woi. Sambut pagi ini dengan senyum ceria dong XD
      Yep, masyarakat sekitar akhirnya tau kalo Kai itu mengidap skizofrenia.
      Wah, lu bisa lho laporin itu ke dinas sosial :O daripada dipasung ntar ga sembuh-sembuh pan kasian.
      Happy waiting! XD

  11. Len~ ane baper-_-
    Pdhal dri liat jdul sma Warning udh nyiapin hati buat baca. Eh, ttep aja baper. Anjai:v
    Keren.

    Nah itu dia. Org yg pnya gangguan mental, ato “berbeda” apapun jenisnya ini knyatannya emg bnyaknya dprlakukan tdk shrusnya. Seandainya smua org saling mengerti~ Bah, seandainya Naruto dgn tekad itu hidup ddunia nyata~ /sadar nad/
    bdw ane stuju sm prsepsimu soal orang gila, Len. Scra garis bsarnya sih gitu 😀
    kan gak semua yg tampak itu sprti yg trlihat. Dan gak smua yg bunyi itu sprti apa yg trdengar.
    Kadar kewarasan org2 jg beda2. Tnggal gmana mnjalankan peran msing2 aja sih 🙂 Hahahak~ brasa apa bgt ini.

    The man who can’t be move~ ente lgi gak ngalamin kan Len? /apaa ini?

    1. Jangan ikutan baper weh -_-
      Itu artinya kokoro ente belom siap :v
      Seandainya Avatar Aang ada beneran XD /WOIII/
      Good, good. Nggak tau kenapa ane seneng ada yang satu persepsi ama ane XD /Wajar kan?/
      XD Apaan lu weh? Ya ane kagak ngalamin itu lah XD Jangan-jangan malah ente lagi XD

    2. Gapapa baper, Len.. ane bapernya kagak nangis-nangis bombay kok -__-
      Wkwk. ane juga seneng sih pas baca bagian persepsi Len ttg orang gila itu :v /makannya ane setujah, eh setuju lah/ jarang2 ketemu org yg sama mikirnya kayak gitu. wks~ wajar kok Len, wajar 😀
      Enggak Len. Ane udah move on kok -____-

    3. Yoii. kadar bapernya diukur pake gelas ukur kok. berlebih, dibuang :v
      Hahaks~ kaum minoritas~~ ane sering banget masuk daftar ini kayaknya. tapi, kubahagia~~ hahah 😀
      Yakin, Len.. udah mupon ke kouhai ini *eh. kkkk~

    4. Elt.. elit.. kayak pasukan khusus ya? kkkk~
      Gak. Lagi bosan ama senpai :v 😀
      Moso?
      Len, kamu line brpa? dsni 99L.

  12. Hmm, halo ini kali kedua aku datang di ffmu haha XD
    Waaa aku malah fokus ke dialog antara Scarlet sama Jongin yang meski sedikit tapi kek langsung klik gitu. Yeah meski akhirnya sad but no problem soalnya bener-bener masuk akal.
    Nice fict anda keep writing yay! 🙂

    1. Welcome back Kak! 😉
      Mereka emang klop dimari.
      Btw, sekarang kita selapak lho di indo fanfics. Cuma sayang ane belum sempet bikin intro XD

  13. huweeeee

    ff nya nampooool(?)

    bahasanya sederhana jadi enak dibaca
    tapi nyeseknya lhoh sampe sekarang gak olang ilang
    aku kudu eotteohke??? masih nyesek nih

    tuh temsek ngenes banget yaaaa, cintanya sampe kayak gitu T.T

    scarlett apa kabar ya setelah di tinggal ‘the man who can’t be moved’?
    padahal mereka tuh imut lhooo,anak kecil yang temenan sama om om ganteng tapi kayak gelandangan (?), duh cuma ngebayangin aja udah senyum senyum sendiri
    eh eh, malah endingnya ngebuat aku ngerasa habis terjun bebas dari puncak gunung everest T.T

    pokoknya keren banget deh kak!!

    he

    1. XD Pake vanish Nak, biar ilang XD
      Jangan tanya nae neo kudu eotteohkae XD Scarlet will be alright :”)
      Len juga imut lho /WOIIIII/
      Yosh, makasih udah mampir 😉

  14. Hwa… keren…
    Dada sesek rasanya mbaca yg akhir”
    Lagunya the scrip yg ini bener” lagu yg paing tak sukai stlh man on wire 😀
    Lagunya keren banged, dan ff ini keren… >,<
    Hwa.. kerenn…
    Mungkin nanti bisa di tunggu buat song fic nya the script yng lain.. 😀 x"D
    .
    Keep writing thor!!
    Fighting!! ^^

    1. Ane bisa dibilang baru tau The Script. Niatan mau download album-album mereka udah ada tapi belum nemu wayfay gratis XD Tapi so far, favorit ane tuh If You Could See Me Now ama Superhero
      .
      Cieee yang nyesek. Perlu obat asma nggak Mbak? XD
      Yosh, makasih udah mau mampir 😉

    2. Jangan manggul mbak dnk xD kesannya kek uda tua.. xD
      Kalo aku sih ya gak lama” banged tau the script
      Temen deket ku ada yg uda pny lagu” di albumnya full, soalnya dia jg ngefans sama the script, daniel sky apa lagi, 😀
      Kalo aku cuma suka lagu”nya gitu ajah..😂, lagunya pun minta ke temen.itu yg menurutku enak gituh..😂
      Aku juga suka yg superhero, lagunya enak, 😀
      .
      Nggakkok, ga butuh obat asma, butuhnya obat baper ?/😂 *apaan
      Yap, masama.. ^^

    3. The Script mah cadas gila. Eh itu minta dong album-albumnya T.T
      Obat baper? Sini sama ane aja. Mari baper berjamaah XD

  15. mas len boleh titip buket buat jongin gak? buket air mata yg dihias serpihan hatikuh *apa
    aku ga pernah terseret sedalam ini ke FF jongin, barangkali krn fokusnya yg lebih ke perhatiannya scarlet ke seorang stranger itu manis tapi endingnya pahit. romancenya juga lumayan kerasa walaupun interaksi sama ceweknya jongin yg asli justru ga ada. interaksi scarlet-jongin manis, terus aku suka rasa2 novel terjemahannya haha.
    tapi kerasa sih rushnya, di beberapa bagian ada kata yg berkali2 dipasang, terus susunan kata dalam kalimatnya juga ada bbrp yg diulang.
    no problem, ga separah FFku kalo lagi rush kok hahahaha
    keep writing!

    1. Boleh kok Kak XD
      Cieee yang keseret cieee, ahayde XD Aku seret ke hatiku mau nggak? /WOIII/
      Rasa-rasa novel terjemahan katanya XD
      Buat rush, Len akui itu. Emang ada di beberapa tempat. And tbh, I don’t know what am I supposed to do to fix those damn rushes! >.< Rasanya udah mentok gitu /sungkem/
      Makasih udah mau mampir Kak 😉

  16. feel patah hatinya dapet banget. bahasanya juga sederhana tapi menyentuh.
    dan aku suka banget endingnya, sad tapi masuk akal

    pokonya ini ff keren banget

    n.p : aku juga suka banget lagu ini

    1. Hai Resti, makasih udah mampir dan meninggalkan jejak 😉
      Woahahahah, daku tersunjang(?) sama komenmu XD
      The Script emang sesuasu(?) /tosss/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s