[EXOFFI FREELANCE] My Liar Girl (Chapter 17)

mlg11 (1).jpg

||Title               : My Liar Girl [Chapter 17 – Flashback] ||

||Author           : Ariana Nana ||

||Cast               : Kim Ara – Oh Sehun – Lee Yian – Park Hana – Kim Jongin – Han Jihyun – etc ||

||Genre             : Romance ; School Life ; Friendship ; Sad ||

||Length           : Chapter ||

||Rated             : PG-17 ||

||Author’s Note: Annyeong, chingu.. I’m back J Chapter ini spesial buat readers yang masih setia menunggu kelanjutan FF ku yang gak jelas ini. Ide cerita ini masih original dari hasil pemikiranku sendiri. Maaf untuk typo yang bertebaran dan jalan cerita yang muter-muter gak jelas. FF ini pernah di post di ffsekaiexo88.wordpress.com . Happy reading, guys.. 😉

***

**

*

“Ya ampun, Kim Ara!”

Hana langsung terkejut melihat keadaan Ara begitu ia tiba di atap sekolah. Sahabatnya itu terlihat sangat kacau sekali. Dihampirinya Ara yang terduduk lemas di lantai atap yang dingin.

“Ara.. Kim Ara..” Hana menepuk pelan pipi Ara yang sudah terasa dingin. Mata gadis itu hampir menutup namun mulutnya mencoba untuk mengatakan sesuatu. Hana sangat yakin kesadaran Ara sebentar lagi akan hilang. Ia bingung apa yang harus ia lakukan disaat seperti ini.

“H-hana…” Samar-samar Hana bisa mendengar suara Ara yang nyaris seperti bisikan. Hana mendekatkan telinganya ke depan mulut Ara agar bisa mendengar lebih jelas apa yang akan gadis itu katakan.

“Ha-na… Obatku… ambilkan blazerku…” bisiknya.

Alis Hana saling bertautan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Ara katakan. “Apa maksudmu, Ara? Obat yang mana?” Hana memegang telapak tangan Ara yang sudah dingin. Ia menggerakkannya, memaksa Ara untuk bicara lebih jelas lagi. Kepalanya menoleh ke sekitar. Tak ada siapapun disana selain keduanya. Apalagi jam sekolah sudah berakhir sejak tadi.

Jongin.. Yian..

Kemana sebenarnya kedua lelaki itu?

“Ara.. katakan lebih jelas lagi. Aku tidak bisa mengerti!!!” sentak Hana. Air matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Ia kebingungan dan ketakutan. Kenapa Ara jadi begini?

BRAKK

“Hana!!”

Pintu atap terbuka cukup keras diikuti dengan keluarnya dua sosok lelaki jangkung yang berteriak memanggil Hana. Langkah kaki keduanya langsung terhenti begitu kedua pasang mata itu melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Hana yang menangis dan Ara yang keadaannya sangat lemas sekali. Apa yang terjadi sebenarnya?!!

“Ara..” Tanpa bisa dicegah lagi, kaki Yian langsung melangkah mendekati Ara. Diraihnya gadis itu dan ia tatap dengan pandangan mata tak percaya. “Ara, apa yang terjadi padamu?” tanyanya dengan pandangan nanar.

Ara menoleh dengan lemas dan menatap lelaki itu dengan sisa kesadarannya. “Oppa..” panggilnya dengan suara lirih. Ia tersenyum manis lalu tiba-tiba tubuhnya ambruk ke dalam pelukan Yian.

“Ya Tuhan!!!” pekik Hana terkejut.

“Cepat kita bawa dia ke UKS.” Titah Kai yang sejak tadi hanya diam menyaksikan itu semua. Yian bangkit dan menggendong Ara diikuti dengan Hana dan Kai yang berlari dibelakangnya.

***

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa bus sudah sampai di halte untuk kesekian kalinya. Beberapa penumpang turun dengan teratur dan disambut dengan udara malam yang semakin menusuk tulang. Yian mengeratkan genggaman tangannya pada gadis di sebelahnya. Ia tersenyum samar mengetahui bahwa dirinya bisa bersama dengan gadis itu lagi. Jika diingat-ingat, setelah ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Seoul, dirinya dan gadis itu tak pernah bersama lagi. Apalagi bisa sampai sedekat ini.

“Aku bisa pulang sendiri, Oppa.” Suara gadis itu mengembalikan Yian ke dunia nyata. Ia menoleh pada gadis itu dan lagi-lagi tersenyum.

“Kau sedang sakit, Ara. Dan sebagai kakakmu, mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri.” Jawabnya sambil membenarkan syal yang dipakai Ara.

Bukannya senang karena perhatian Yian, Ara justru mengerucutkan bibirnya. “Cih~ kau selalu saja berkata bahwa kau ini kakakku. Aku tidak punya kakak, bodoh. Aku ini anak tunggal.” Desisnya dan berjalan mendahului Yian.

Mendengar hal itu, Yian hanya terkekeh dan menyusul Ara yang berjalan dengan sangat cepat.

“Hei, siput. Sejak kapan kau bisa berjalan secepat ini?” tanya Yian yang kini sudah menyejajarkan langkahnya dengan Ara. Ia tersenyum jahil mengetahui Ara yang akan langsung marah jika digoda olehnya.

Ara menghentikan langkahnya dan menatap Yian dengan tatapan sebal sambil berkacak pinggang. “Jika kau hanya ingin menggangguku, lebih baik kau pulang saja. Aku tidak perlu diantar.” Katanya dengan tegas. Ia kemudian meneruskan kembali jalannya.

Yian menatapnya dengan tidak percaya. Ia menghembuskan nafas panjang. Sahabat kecilnya ini rupanya sangat emosional. Yian tertawa kecil lalu menyusul Ara kembali.

“Baiklah.. baiklah. Aku minta maaf.” katanya sambil mengangkat kedua tangannya.

Ara berhenti dan kembali menatap Yian. “Aku maafkan.” Katanya singkat.

“Benarkah? Ah~ kau memang baik sekali..” kata Yian lalu mengacak rambut Ara.

“Yak!! Jangan lakukan itu lagi! Aku bukan anak kecil, Lee Yian!!”

“Iya.. iya.. Aku mengerti.” Kata Yian menyerah. “Omong-omong, apa besok kau ikut study tour ke Jeju?” tanyanya.

Ara masih menatap Yian. Ia memandang sepatu yang dikenakannya sambil mengendikkan bahu. “Entahlah. Mungkin tidak.” Jawabnya.

Kedua alis Yian langsung bertautan. “Kenapa tidak ikut?”

“Aku tidak berminat.” Akunya. “Ibu menyuruhku untuk pulang ke Namhae selama liburan dan membantunya di kedai.” Sambungnya diakhiri dengan senyum. Namun raut wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

“Owh begitu. Aku sudah lama tidak ke Namhae. Kau tahu ‘kan, keluargaku sudah pindah ke Seoul semua.” Kata Yian.

“Ya aku tahu. Aku juga dengar Ayahmu mendapatkan banyak proyek di Seoul.” Jelas Ara. Ia memang pernah mendengarnya beberapa kali dari tetangganya yang suka sekali bergosip di kedai milik Ibunya. Yian hanya tersenyum, lalu keduanya melanjutkan perjalanan menuju rumah Ara dalam diam.

***

“Halo.. Iya aku sudah sampai.”

Ara mengangkat teleponnya yang kebetulan berdering saat dirinya baru saja turun dari kereta api yang membawanya menuju ke Namhae. Ia berjalan keluar dari stasiun sambil membawa kopernya yang cukup berat.

“Aku kesini sendirian. Bukankah aku sudah bilang jika aku akan menghabiskan liburanku di Namhae. Lagipula, aku tidak suka di Seoul.” Jelasnya pada seseorang yang meneleponnya. “Hana, bagaimana Jeju? Apakah sangat menarik?”

Sambil mendengarkan Hana yang bercerita panjang lebar tentang dirinya yang masih berlibur di Jeju dengan teman-teman sekolahnya, Ara terus berjalan hingga ia melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh di depannya. Ibunya. Wanita itu adalah Ibunya yang sangat ia rindukan.

Ara tersenyum saat matanya bertatapan langsung dengan mata Ibunya. Ia mempercepat langkahnya sambil terus mendengarkan apa yang tengah Hana katakan. Namun tiba-tiba saja perkataan Hana itu membuat langkah kakinya terhenti.

“Omong-omong, aku tidak melihatnya disini. Ara, sepertinya Sehun tidak ikut study tour.”

Ditariknya ponsel yang masih menempel di telinganya itu. Ia sedang tidak ingin tahu tentang lelaki itu. Mendengar namanya saja, langsung membuatnya tak bisa bernafas. Kaki-kakinya terasa lemah dan rasanya ia ingin mati saja. Memang setelah kejadian hari itu Ara tidak melihatnya ataupun mendengar kabarnya lagi. Lelaki itu seperti menghilang entah kemana. Bahkan, ia juga tidak mengatakan apapun mengenai hubungan mereka.

Tapi sudahlah. Ara sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin melupakan lelaki itu. Ia berharap dengan keberadaannya dirinya di Namhae dan disamping Ibunya, ia bisa merasa lebih baik dan bisa kembali lagi ke sekolahnya seminggu kemudian dengan berani. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan hidup dengan baik.

“Ara..”

Lamunan Ara terhenti ketika suara lembut yang sangat familiar itu menyerukan namanya. Ia kembali ke dunia nyata dan tersenyum mendapati Ibunya sudah berdiri tepat di hadapannya. Ara tersenyum dengan sangat lebar. Ia langsung memeluk wanita yang sudah sangat ia rindukan itu.

“Ibu…” panggilnya dengan mata yang mulai berair. Ia memeluk Ibunya dengan kencang untuk menghilangkan semua beban di hatinya. Ia tidak ingin terus-terusan begini.

“Sayang, kenapa kau menangis?” Ibu menyadari jika Ara menangis di bahunya. Ia menarik tubuh Ara dan mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi putri semata wayangnya itu. “Apa ada yang menyakitimu disana?”

Ara menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak betah disana?”

Sekali lagi Ara menggelengkan kepalanya.

“Lalu kenapa?” Ibunya semakin bingung.

“Aku merindukan Ibu. Dan aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Ibu kembali.” Jawab Ara akhirnya yang membuat Ibunya tersenyum lega.

“Ibu juga merindukanmu, sayang” kata Ibunya sambil memeluknya kembali.

“Owh ya, Ibu bilang Ibu akan mengenalku pada kekasih Ibu. Jadi kapan?” tanya Ara, mengingat kembali percakapannya dengan Ibunya ditelepon beberapa hari yang lalu.

“Dia akan datang sore ini. Kau pasti akan terkejut saat melihatnya nanti.”

“Benarkah? Aku harap dia seperti Leonardo D’Caprio.”

“Silakan berharap.”

***

Sore harinya Ara sudah berdandan dengan rapi. Dress selutut yang dikenakannya sangat pas di tubuhnya dan membuatnya terlihat anggun. Ditambah polesan make up natural membuatnya terlihat segar dan menambah kecantikannya. Ia mengambil cermin kecil yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi dan kembali mematut dirinya.

“Kau sudah cantik, sayang.” Ibunya yang sejak tadi duduk di hadapannya itu tersenyum dan mengambil cermin Ara untuk ia gunakan bercermin. Penampilan Ibunya juga tak kalah cantik. Mereka memang sengaja berdandan cantik untuk bertemu dengan lelaki yang disukai Ibunya.

“Ibu juga sudah cantik.” Kata Ara sambil merebut cermin kecil miliknya dan memasukkannya kembali ke dalam tas selempangnya. Ia tidak ingin orang-orang yang duduk sekitarnya mengalihkan perhatiannya dari makanan yang mereka pesan pada dirinya dan Ibunya. Apalagi restoran ini sangat ramai di sore hari. Benar-benar harus berhati-hati dalam bersikap.

“Nah, mereka sudah datang.” Kata Ibu Ara sambil menunjuk ke arah pintu masuk yang ada di belakang Ara.

Tiba-tiba saja Ara menjadi gugup. Ibunya sudah memberitahunya jika pria itu akan datang bersama dengan putranya dan ia sangat penasaran bagaimana rupa orang yang disukai Ibunya. Apalagi Ibunya tidak bisa melupakan Ayahnya untuk waktu yang lama. Berarti pria itu benar-benar mampu meluluhkan hati Ibunya hingga bisa mengikhlaskan kepergia Ayahnya.

Dengan jantung yang berdebar-debar Ara bangkit dari duduknya dan berbalik untuk menyambut kedua orang yang sejak tadi mereka tunggu. Ara memasang senyum terbaiknya yang membuatnya berkali-kali lipat terlihat semakin cantik. Ibunya menggandeng tangannya agar membuat mereka lebih dekat. Dan saat mata Ara menangkap kedua sosok lelaki itu, ia langsung tertegun.

Ya Tuhan. Bukankah itu kepala sekolahnya dan……. Oh Sehun??!!

Bagaimana bisa? Ara pasti salah lihat. Tidak! Ini tidak benar!

“Sayang, perkenalkan dia adalah Oh Seunghyun. Kau pasti mengenalnya ‘kan?”

Perkatan Ibunya itu sukses membuat Ara semakin terkejut lagi. Oh Seunghyun.. Oh Sehun..

Ya Tuhan.. Ara melupakan hal itu. Sehun adalah anak kepala sekolahnya. Tapi kenapa ia tidak berpikir sampai sejauh itu saat Ibunya menyebutkan siapa nama pria yang disukainya waktu itu? Sebenarnya apa yang kau pikirkan waktu itu, Ara? Kenapa kau tidak menyadarinya sejak dulu?

Jadi, jika Ibunya dan pria ini saling menyukai lalu mereka akan menikah.. Apakah dirinya dan Oh Sehun akan menjadi saudara? Hidup dibawah atap yang sama? Apa itu mungkin?

“Dan ini putranya, Oh Sehun..”

Pandangan mata Ara langsung tertuju pada lelaki jangkung yang berdiri di hadapannya. Ia memakai setelan jas berwarna cokelat yang membuatnya terlihat sangat tampan dan gagah. Ara tak bisa tersenyum ataupun mengatakan sesuatu. Ia hanya diam, terus menatap mata Sehun yang hanya menatapnya dengan pandangan datar.

Ara merasa dunianya berhenti berputar saat ini. Semua yang ada disekitarnya mendadak senyap, yang terdengar hanyalah degupan jantungnya yang seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Ingin rasanya Ara menangis saat itu juga. Namun ia mencegahnya karena ia tahu keadaannya sangat tidak memungkinkan. Kau bisa membayangkannya, berpisah dengan cara seperti itu lalu bertemu lagi dengan keadaan seperti ini. Kau bisa tahu bagaimana rasanya? Sangat menyakitkan. Terlebih bagi Ara yang sudah terlanjur mencintai Sehun sepenuh hati.

“Ayah, jadi kau mengajakku jauh-jauh dari Seoul kesini hanya untuk bertemu dengan mereka?” Sehun yang sejak tadi diam membuka suara. Matanya masih tetap menatap Ara dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Iya. Kau pasti sudah mengenal Ara ‘kan? Aku dengar kau dan dia cukup dekat di sekolah.” Jawab Tuan Oh sambil tersenyum dan menyuruh semuanya untuk duduk.

“Kami memang dekat. Awalnya..” kata Sehun dingin. Ara bahkan sampai terkejut mendengarnya.

“Owh ya, Ayah berencana untuk menikah dengannya. Apa kau setuju?” tanya Tuan Oh pada Sehun saat mereka sudah duduk di meja yang sudah dipesan.

Sehun nampak terkejut melihatnya. Ia menatap Ara dan Ibunya bergantian. “Ayah akan menikah dengannya? Yang benar saja.”

“Oh Sehun, jaga sikapmu. Kau membuat Ayah malu saja!” sentak Tuan Oh saat melihat Sehun menunjukkan ketidaksukaannya.

“Memangnya kapan aku membuat malu Ayah? Justru Ayah yang membuatku malu.” Bentak Sehun dan ia mulai bangkit. “Ayah akan menikah dengan siapapun aku tidak peduli. Asalkan jangan dengan wanita ini.” Sambungnya lalu pergi begitu saja.

“Oh Sehun.. Yak!!! Kau mau kemana? Berhenti atau Ayah akan menghentikanmu!!” teriak Tuan Oh yang membuat seluruh pengunjung restoran menoleh karena penasaran. Sehun masih tetap pada pendiriannya. Ia terus berjalan hingga keluar dari restoran dan tak mempedulikan perkataan Ayahnya. Ini membuatnya sangat terkejut. Ia benar-benar sangat membenci keadaan seperti ini.

Ara tak bisa tetap diam seperti ini. Ia berlari menyusul Sehun yang belum terlalu jauh pergi, membuat Ibunya dan Ayah Sehun saling berpandangan kebingungan. Dipanggilnya Sehun yang berjarak beberapa meter di depannya hingga membuat lelaki itu berhenti.

“Kenapa kau pergi seperti itu? Apa kau tidak mau melihatku lagi?” Ara berteriak cukup keras karena ia terlalu marah dengan semua ini. “Jawab aku, Oh Sehun!!”

“Memang. Aku memang tidak mau melihatmu lagi.” Jawab Sehun yang membuat Ara merasa seperti terhempaskan begitu saja. “Setiap kali aku melihatmu, aku akan merasa sakit. Mengingat bagaimana aku meninggalkanmu waktu itu, mengingat semuanya.. aku akan marah pada diriku sendiri. Dan hari ini, aku tidak menyangka jika Ibumu adalah orang yang dicintai Ayahku. Ibumu.. dia yang menghancurkan keluargaku!!”

“A-apa?” Perkataan Sehun barusan cukup membuatnya terkejut. Apa yang coba lelaki ini katakan? Bagaimana bisa ia bisa sembarangan menyebut Ibunya adalah wanita yang sudah menghancurkan keluarganya. Memangnya apa yang sudah Ibunya perbuat? Lagipula, setahunya Ibunya mulai menjalin hubungan dengan Ayahnya Sehun beberapa bulan yang lalu. Jadi bagaimana bisa hal itu terjadi?

“Kau pasti tidak percaya ‘kan? Aku juga!! Coba saja kau pikir, bagaimana aku akan hidup nantinya jika mereka benar-benar akan menikah? Lalu bagaimana dengan kita? Aku tidak mau terus-terusan melihatmu.”

“Apa kau bilang? Jadi benar kau tidak mau melihatku lagi?” Sudah cukup!! Semua ini benar-benar membuat Ara geram.

Bukannya menjawab, Sehun justru pergi. Ia berlari menjauh menyeberangi jalan sepi di depannya. Ara tidak tinggal diam. Ia mengejar Sehun sambil terus berteriak memanggilnya untuk berhenti.

“Oh Sehun, apa kau mendengarku? Aku bilang aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku minta maaf untuk semua kebohonganku. Kau harus tahu alasanku melakukan itu. Oh Sehun, kumohon berhenti.” Teriaknya. Ia terus berlari mengejar Sehun. Diseberanginya jalan sepi yang tadi dilewati Sehun. Namun ia tak menyadari jika ada mobil yang melaju di jalan itu hingga tanpa sadar Ara berhenti dan membuat dirinya terhempas begitu saja.

BRAAAKKKK

 

Di layar itu, aku melihat wajahmu dan namamu

Sesaat aku mengingat perpisahan kita,

Apa yang harus aku lakukan?

Tidak, aku tahu semua tentangmu

Beberapa hari terakhirku, aku tidak bisa menghentikan cinta ini meski hanya sedetik

Tapi apa yang kau lakukan?

Aku tidak tahu.. Aku tidak bisa tahu

Sama seperti hubungan kita yang hanya seperti itu..

Tolong.. tolong jangan tinggalkan aku seperti ini

Aku masih mencintaimu..

 

***

FLASHBACK ON

Namhae, 2014

Malam itu Sehun tidak bisa tidur, jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar villa milik Ayahnya yang ada di Namhae. Waktu itu adalah liburan musim panas setelah kelulusannya dari SMP, jadi ia dan Kai, tepatnya Kim Jongin yang merupakan sahabat karibnya sejak kecil, memutuskan untuk berlibur. Kebetulan Ayah Sehun memiliki villa di dekat pantai yang sangat indah dan sangat cocok digunakan untuk liburan, apalagi musim panas saat itu.

Dengan hanya memakai celana training panjang dan jaket tipis, ia melangkahkan kakinya keluar dari area villa dan berjalan tak tentu arah. Hingga langkah kakinya membawanya ke salah satu dermaga kecil yang ada disana. Sehun menghentikan langkahnya dan menempatkan dirinya bersandar pada salah satu balok kayu yang menjadi penopang di dermaga itu. Matanya menatap hamparan laut luas yang terlihat seperti lautan tinta berwarna kelam di malam hari. Angin laut yang cukup dingin, menyibakkan rambut kecoklatannya dan membuatnya sedikit tidak beraturan. Namun ia mengabaikannya karena indera pendengarannya seperti mendengar suara tangisan.

Kepalanya menoleh ke sekeliling, mencari sumber suara itu dan tatapannya langsung menemukan seorang gadis yang tengah berdiri cukup jauh darinya. Tanpa ia sadari, kakinya melangkah menadekati gadis itu dan berdiri di belakangnya, menatap gadis berambut panjang yang tengah menatap ke arah laut lepas. Dari jarak sedekat itu, Sehun bisa mendengar isak tangis yang dikeluarkan dari gadis itu. Bahkan, gadis itu sampai sesenggukan hingga Sehun berpikir pastilah gadis itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Mungkin diputuskan oleh kekasihnya? Ah, jangan menebak yang aneh-aneh, Oh Sehun. Lebih baik kau abaikan gadis itu dan kembali ke villa lalu tidur, batin Sehun.

Namun entah mendapat dorongan dari mana, Sehun justru mendekati gadis itu dan mengulurkan tangannya, menyentuh pundak gadis itu.

“Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, Nona.” Katanya, yang entah bagaimana, ia sendiri heran kenapa melakukan hal ini.

Gadis itu menoleh dengan sedikit terkejut. Matanya yang sipit itu hanya berbentuk seperti satu garis tipis saja karena terlalu lama menangis. Sehun menatapnya, memperhatikan raut wajah yang ditunjukkan gadis itu.

“Siapa kau?” tanya gadis itu dengan suara sengau, sambil mengusap air mata di pipinya dengan kasar.

“Hanya seseorang yang kebetulan lewat. Kau tak seharusnya menangis hanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apalagi jika berpikir bahwa kau tak pantas untuknya hanya dari segi fisik.” Kata Sehun, membuat dirinya sedikit terkejut dengan apa yang dikatannya barusan. Padahal ia tidak tahu apa yang membuat gadis ini menangis, tapi kenapa ia bisa mengatakan hal itu?

Gadis itu menatapnya dengan bingung. Dalam pikirannya, ia seolah bertanya bagaimana Sehun bisa tahu apa yang membuatnya menangis? Ia menebak apakah Sehun bisa membaca pikirannya atau bagaimana. Sehun yang melihat raut bingung dan penasaran yang terpatri di wajah gadis itu, tersenyum misterius dan mendekati gadis itu.

“Jangan berpikir jika aku bisa membaca pikiranmu, itu tergambar jelas di wajahmu.” Kata Sehun, menunjuk wajah gadis itu dengan jari telunjuknya. “Hei, aku memiliki tahi lalat di bawah bibirmu, dan itu sangat indah.”

“Hah???” Gadis itu hanya mampu terbengong mendengarkan apa yang dikatakan Sehun. Yah, sebenarnya Sehun sendiri juga heran kenapa mulutnya begitu tidak terkontrol malam ini.

“Jangan menangis lagi, karena itu akan membuat matamu semakin tak terlihat. Baiklah, sampai jumpa.” Kata Sehun akhirnya. Ia lalu memutuskan untuk segera pergi dari sana, karena ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin ia agak mencampuri urusan gadis itu dan sedikit mengganggu privasinya. Tapi, ia sendiri juga tidak tahu kenapa melakukan hal itu. Sudahlah, hari sudah semakin larut dan Sehun memutuskan untuk segera kembali ke villa.

***

“Ibu… bagaimana jika aku berubah menjadi cantik?”

“Hah??!!!”

Ibu Ara langsung terdiam di tempatnya berdiri. Ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan anak tunggalnya tersebut. Berubah menjadi apa, dia bilang? Berubah cantik seperti apa yang diinginkan anaknya itu?

“Ibu, aku ingin melakukan operasi plastik agar aku bisa secantik dirimu.” Kata Ara, kali ini dengan penuh penekanan. Ia menatap Ibunya dengan manik cokelat gelapny yang menunjukkan keseriusan yang luar biasa.

“Operasi plastik kau bilang? Kau tidak sedang bercanda ‘kan, Kim Ara?” tanya Ibu Ara dengan gamang. Ia seolah baru saja mendengar jika rumahnya itu runtuh dan membuatnya tidak bisa menguasai diri.

Ara masih menatap Ibunya, ia menarik tangan Ibunya dan menggengamnya erat. “Aku menyukai Yian Oppa, Ibu. Dan untuk mendapatkannya, aku harus menjadi cantik.”

Ibunya hanya diam, terkejut dengan jawaban putrinya. “Sayang, kau masih terlalu kecil. Kau belum tahu bagaimana perasaanmu. Bisa saja itu hanya rasa suka yang akan menghilang secepat angin lalu. Lebih baik belajarlah dengan giat agar kau bisa mendapat beasiswa lagi di SMA.” Jelas Ibunya memberikan nasihat. Ara jadi marah dan memilih untuk pulang saja. Ia meninggalkan Ibunya dan langsung mengurung dirinya di dalam kamarnya begitu ia sampai di rumah.

***

“Han Jihyun..”

Ara menghentikan Jihyun yang sore itu kebetulan lewat di depan kedai Ibunya. Ia menatap Jihyun dengan tatapan marah dan kesal karena merasa sudah dikhianati oleh sahabatnya.

“Eh Kim Ara, apa kau yang memanggilku?” Tanya Jihyun berpura-pura tidak mendengar jika Ara memanggilnya.

“Sudahlah, jangan berpura-pura lagi. Aku hanya ingin menanyakan satu hal. Kenapa kau berbohong padaku?” tanya Ara langsung pada intinya. Jihyun terlihat tidak mengerti.

“Berbohong tentang apa?”

“Jika kau juga menyukai Yian Oppa.”

Bukannya terkejut karena sudah ketahuan berbohong, Jihyun malah tertawa dan menatap Ara dengan pandangan meremehkan. “Owh Ya Tuhan, kenapa kau masih membahas masalah itu? Bukankah kau sudah melihat dengan jelas jika Yian itu menyukaiku? Lalu apa masalahnya, Ara?”

“Han Jihyun, kau tahu ‘kan jika kau menyukainya?”

“Lalu kenapa? Hanya karena kau menyukainya jadi aku tidak boleh menyukainya juga?” tanya Jihyun sedikit menyudutkan Ara. “Hei Kim Ara, kau tahu ‘kan Yian itu tampan, pintar, kaya, baik hati dan populer, gadis mana yang tidak menyukainya? Diluar sana juga banyak yang menyukainya. Namun sayangnya Yian hanya menyukaimu seorang dan menganggapmu sebagai adiknya saja. Sadarilah hal itu. Kau harusnya bersyukur karena dia mau menjadi sehabatmu.”

“Jihyun, kau keterlaluan.” Ara mulai menangis, ia tidak percaya Jihyun mengatakan hal seburuk itu padanya.

“Keterlaluan bagaimana? Kau yang keterlaluan. Harusnya kau berpikir siapa kau sebenarnya? Kau tidak lebih cantik dan pintar dariku. Kau juga hanya anak dari keluarga biasa. Jadi bagaimana bisa kau bermimpi mendapatkan Yian yang begitu berbeda darimu? Ara, apa kau tahu? Manusia digolongkan menjadi beberapa bagian. Dan yang terpenting, golongan atas akan selalu bersama dengan golongan atas pula. Kau paham maksudku. ‘kan?”

“Jihyun.. Kau – apakah benar kau ini teman yang selama ini ku kenal?” tanya Ara gamang, ia benar-benar tidak yakin dengan Jihyun yang sekarang ada dihadapannya.

“Maafkan aku, Ara. Tapi sayang sekali aku tidak benar-benar ingin berteman denganmu.” Kata Jihyun tanpa perasaan bersalah.

“Jadi selama ini kau menganggapku apa, Jihyun? Kau membohongiku?” tanya Ara tidak percaya.

“Maafkan aku. Sekali-kali seseorang perlu berbohong, kau tahu itu ‘kan?” Kata Jihyun lalu mulai berjalan menjauh. “Aku pulang dulu, masih banyak yang harus ku persiapkan sebelum aku pindah ke Seoul. Kau sudah tahu ‘kan jika aku dan Yian masuk ke SMA Seoul?”

“Apa?”

***

Sebuah mobil berhenti di halaman rumah mewah yang terletak di kawasan elit kota Seoul. Penumpangnya yang seorang pemuda itu turun sambil membawa ranselnya yang terlihat cukup berat. Matanya menangkap sebuah mobil berwarna merah yang terparkir di halaman rumah. Ia tersenyum melihatnya karena tahu jika Ibunya sudah pulang. Bergegas ia masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi itu.

Lelaki itu masih saja memasang senyum di wajahnya saat memasuki rumahnya yang terlihat seperti istana. Ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Ibunya. Jadwal syuting Ibunya yang padat membuatnya tak bisa leluasa bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya itu setiap waktu. Setiap hari Ibunya selalu berangkat lebih awal sebelum ia bangun dan pulang sangat larut setelah ia tidur. Bahkan, suatu waktu Ibunya sampai tidak pulang beberapa hari jika ada jadwal syuting di luar kota. Lelaki itu memakluminya, karena menjadi aktris adalah cita-cita Ibunya sejak kecil dan ia tentu saja bangga pada Ibunya.

“Ibu, kau sudah pulang – “

Perkataan lelaki itu menggantung di udara saat kakinya berhasil mencapai pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang keluarga. Ia terpaku melihat pemandangan yang tak biasanya itu terjadi di depan matanya. Dilihatnya ada Ibu dan Ayahnya yang tengah berada di ruang keluarga. Matanya menatap lekat keduanya, mengamatinya seakan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi disana.

“Apa lagi yang ingin kau tahu? Aku sudah menjelaskan semuanya!!”

Dapat ia dengar Ibunya yang bersuara cukup keras membentak Ayahnya. Lelaki itu masih terpaku, mencoba mencerna semuanya. Ini tidak biasanya terjadi.

Ayahnya menarik tangan Ibunya yang dengan cepat langsung dihempaskan begitu saja Ibunya. “Subin, jangan seperti ini. Kita masih memiliki Sehun disini.” Kata Ayahnya dengan nada setengah memohon.

“Sehun sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri.” jawab Ibunya dengan cepat. Ia mencoba melangkah pergi yang langsung saja dicekal oleh Ayahnya.

“Kau menguji kesabaranku, ya?” Sentak Ayahnya. “Bukankah sudah kubilang untuk bersabar? Aku sedang mengatasi semua masalah di perusahaan Ayah dan kau malah seperti ini?”

Ibunya melangkah menjauh dan melepaskan genggaman tangan Ayah Sehun. “Bersabar kau bilang? Aku sudah bersabar selama ini!! Tapi apa kau ada waktu untukku?” teriak Ibu Sehun tepat di depan wajah pria yang ada dihadapannya. “Kau terlalu sibuk mengurusi sekolah dan perusahaan Ayah, Seunghyun. Jadi bagaimana bisa aku bersabar?”

“Apa pria itu memiliki waktu untukmu? Dia selalu ada disampingmu?”

PLAKK

Sebuah tamparan mendarat di pipi Ayah Sehun tepat setelah ia mengatakan hal itu. Ayah Sehun menatap istrinya tidak percaya. Ia sudah tidak tahan lagi menahan emosi yang sejak tadi membuncah di dadanya. Tanpa ia sadari, ia mendorong istrinya hingga jatuh dan menabrak meja di belakangnya.

BRUUUK

Terkejut. Sehun kembali mendapati dirinya terlonjak hingga rasanya jantungnya ingin melompat dari rongga dadanya. Ia tidak bisa tinggal diam. Kakinya langsung saja melangkah mendekati Ibunya yang terhembas ke lantai marmer abu-abu itu.

“Ayah!! Apa yang kau lakukan pada Ibu??!!” Sentak Sehun pada Ayahnya. Ia mencoba menolong Ibunya untuk bangkit namun Ibunya justru menghempaskan tangan Sehun begitu saja dan memilih untuk berdiri sendiri.

“Aku bisa sendiri.” Kata Ibunya sarkartis. Ia menatap suami dan anaknya itu dengan mata yang mulai berair dan menghembuskan nafasnya panjang. “Sehun, jaga dirimu baik-baik. Ibu akan selalu mencintaimu.” Sambungnya dan berjalan keluar rumah.

Sehun diam melihat kepergian Ibunya. Ia menatap Ayahnya dengan mata berkilat penuh emosi. “Ayah, kenapa Ibu seperti itu? Apa yang kau lakukan padanya?” teriaknya seperti orang kesetanan.

Berbanding terbalik dengan Sehun, Ayahnya itu justru bersikap tenang seolah itu adalah hal yang biasa. “Biarkan saja. Dia yang memilih untuk meninggalkan kita.”

Deru suara mobil mulai terdengar dan Sehun bisa memastikan itu adalah mobil milik Ibunya. Sehun semakin hilang kendali. Ia tak mau Ibunya pergi meninggalkan dirinya. Maka ia berlari keluar ke halaman rumah berniat untuk mengejar mobil Ibunya yang sudah keluar dari halaman rumah.

“Ibu.. jangan tinggalkan aku!!!” Teriak Sehun sambil menangis. Ia memang sudah beranjak besar, namun jika menyangkut tentang orang yang paling ia cintai di dunia ini, ia akan berubah menjadi anak-anak yang akan menangis histeris ketika melihat Ibunya pergi meninggalkannya.

“Sehun, jangan seperti ini! Biarkan saja Ibumu pergi!” Ayahnya yang sudah menyusul keluar mencoba menenangkan Sehun.

Sehun menarik kedua tangan Ayahnya masih tetap terus menangis. “Ayah.. cepat kejar Ibu.. Tolong, jangan biarkan Ibu pergi. Aku tidak mau pergi, Ayah.” Rintihnya. Ia memohon kepada Ayahnya untuk membawa Ibunya kembali pulang.

“Jangan seperti ini, Nak.”

“AYAH!!! Aku mohon.. Sekali ini saja. Hanya sekali ini saja tolong turuti permintaanku..” katanya semakin dalam memohon. Ayahnya tidak tega melihatnya. Dengan perasaan bercampur aduk, Ayahnya melangkah menuju mobilnya dan mulai menjalankannya. Ia berjanji pada dirinya akan membawa istrinya pulang, hanya untuk putra semata wayangnya.

***

27 Juli 2014,  23.16 KST

Langit malam beberapa kali terlihat terang oleh kilat yang mulai sambar menyambar mewarnai hujan yang turun malam itu. Angin kencang berhembus beberapa kali hingga membuat jejeran pohon cemara di kiri kanan jalan itu meliuk-liuk mengikuti ritme curahan hujan. Jalanan pegunungan yang berkelok-kelok ditambah dengan hujan deras membuat sopir bus itu harus ekstra hati-hati mengemudikan bus yang penuh dengan penumpang itu. Ditambah lagi dengan tidak adanya satupun penerangan di sepanjang jalan membuat bus itu seperti sedang melaju di dalam kegelapan yang tak berujung.

Beberapa penumpang bus itu tampak ada yang sudah tertidur sebagian dan sisanya masih terjaga dengan beragam kegiatan yang mereka lakukan untuk mengurangi rasa bosan. Sama seperti halnya yang dilakukan Ara. Ia memilih untuk menatap keluar jendela yang ada disebelahnya, dan mengamati pemandangan yang disuguhkan di sampingnya. Hujan deras cukup membuatnya kedinginan dan ia tak berniat membuka jendela itu. Hanya menikmati kegelapan diluar sana dari balik kaca jendela, itu sudah membuatnya lebih baik.

Ditatapnya Ibunya yang sudah tertidur pulas disampingnya. Ia merapikan anak rambut yang menutupi wajah Ibunya dengan hati-hati. Dalam hati Ara merasa bersalah. Ibunya pasti sangat kelelahan karena seharian tadi berjualan di kedai dan sekarang harus menemaninya berangkat ke Seoul. Setelah tahu bahwa ia diterima di SMA Seoul, sekolah yang sama dengan Yian dan Jihyun, Ara langsung memaksa Ibunya untuk segera ke Seoul walaupun ia tahu Ibunya tidak setuju dengan keputusan itu. Tapi Ara terus memaksa, meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik selama tinggal di Seoul di rumah Bibinya. Ia akan bekerja paruh waktu untuk membantu Ibunya membayar biaya sekolah yang sangat mahal dan akan belajar dengan giat. Ia sangat yakin akan hal itu karena disana ada Yian, seseorang yang disukainya yang pasti akan membuatnya semangat menjalani hari-hari sekolahnya yang pastinya akan sangat melelahkan. Ah, membayangkannya saja sudah membuat Ara tidak sabar untuk hari pertamanya dua hari yang akan datang.

Bus masih terus melaju di tengah kegelapan. Jalanan terlihat sangat sepi apalagi di daerah pegunungan seperti ini. Hari juga sudah semakin larut dan Ara mulai merasakan kantuk yang sudah tidak terbendung lagi. Perlahan matanya mulai tertutup sedikit demi sedikit dan ia mulai menuju ke alam mimpinya.

BIIIP… BIP BIIIP…

Tiba-tiba suara klakson terdengar cukup keras membuat beberapa penumpang terbangun dan bahkan terlonjak kaget. Ara juga melakukan hal yang sama. Baru saja ia mulai tertidur dan harus dibangunkan oleh suara yang sangat nyaring di telinganya. Ia mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun tanpa ia dan semua yang ada dalam bus itu duga, sebuah mobil dari belokan muncul dengan kecepatan tinggi dan hilang kendali sampai menabrak bus hingga terpental.

BRAAAKK

Ara merasakan tubuhnya terpental keluar dari bus melalui kaca jendela di sampingnya. Ia merasakan tubuhnya berdenyut-denyut diringi dengan darah yang merembes dari dalam bajunya. Bisa Ara lihat beberapa penumpang lain yang juga bernasib sama dengannya. Suara jeritan dan bunyi klakson yang terus berdering memenuhi pendengarannya.

Sesaat Ara tersadar. Ibunya. Ia tidak merasakan Ibunya ada disamping. Ara mencoba untuk bangkit mencari Ibunya. Namun tubuhnya tak bisa digerakkan, seakan mati rasa. Tiba-tiba ia merasakan kepalanya yang berdenyut-denyut. Di depan matanya, ia melihat darah segar yang mengucur dari dahinya. Ara mencoba menjangkaunya dengan tangannya, dan ia terkejut bukan main merasakan wajahnya yang dipenuhi dengan darah.

Jantungnya langsung berpacu dengan cepat. Apa ini? Ia pasti sedang tidur dan bermimpi buruk. Dirinya pasti sedang duduk di dalam bus dan tertidur. Jika ia membuka matanya kembali ia akan menemukan Ibunya yang tengah tertidur disampingnya. Ya, ia pasti bermimpi. Ara, bangunlah. Ini hanya mimpi buruk. Kau pasti bermimpi.

“Ara….”

Telinganya mendengar suara yang sangat familiar itu memanggilnya. Ara mencoba menoleh. Namun kepalanya tak bisa digerakkan. Bahkan tubuhnya pun seakan sudah menempel di aspal jalanan yang basah namun terasa panas di tubuhnya. Perlahan ia mendengar langkah kaki mendekat kearahnya. Matanya yang masih setengah terbuka itu melihat siluet seorang wanita. Itu adalah Ibunya yang tiba-tiba saja menangis setelah melihatnya. Ara ingin bangkit dan memeluk Ibunya, namun ia tak bisa.

“Ibu…”

Panggilnya lirih. Suaranya seperti tercekat di tenggorokannya dan Ara tak tahu kenapa. Tadi ia masih baik-baik saja dan entah kenapa ia merasakan hal yang aneh terjadi pada tubuhnya. Semakin lama ia merasakan kepalanya semakin keras berdenyut hingga membuat penglihatannya kabur. Ara mencoba untuk memfokuskan penglihatannya namun tubuhnya seperti enggan menurutinya. Ia sudah tidak tahan lagi. Rasanya sangat menyakitkan dan tiba-tiba saja ia mendapati dunia menjadi gelap. Hening. Dan sepi.

 

 

TBC

 

Holla~ author gaje balik lagi setelah sekian lama menghilang.

Maaf banget bagi yang udah lama nungguin.. Next chap pasti ga akan lama kok 😀

Owh ya, makasih buat yang masih mau baca dan maafkan aku untuk typo yang bertebaran di sepanjang ff ini.

See you in the last chapter, guys..

 

Ariana Kim :*

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Liar Girl (Chapter 17)”

  1. ya ampun knpa author lama bngt update ny sih..sampe lupa jln ceritany.. kalo gk liat nama Yian sbg cast ny mgkn lupa sma skali aq..hahaha
    lain kali klo update ny lama bngt mending diawal ksh summary chap sblmny biar otak kita yg baca langsung triiingggg gtu..*apaan sih*
    hahahaha…..
    next..next..

  2. izin baca thor, aku baru liat cerita ini, terus mulai baca dari awal deh, dan sekarang baru selesai baca, seruu thorr…
    maaf yaa, baru ngasih komen^^
    mian, author yang baik hati
    nextttt

  3. wahh ternyata chapter ini menjelaskan semuanya 😂
    tapi, kenapa Sehun benci sama ibunya Ara?
    oke, ini salah satu ff ug ditunggu lanjutannya 😊😄

  4. Sehun sudah lama mengenal Ara hanya saja ia tak tau kalau Ara itu adalah gadis yang ia temui di Namhae.. dih gimana hubungan mereka. Padahal mereka sungguh sangat mencintai satu sama lain hanya saja karena masalah masalalu Ara . Menjadikan hubungan mereka retak. Next chapternya ya. Buat happy ending kasihan Sehun dan Ara. Fighting

  5. Uuuhh sedih banget chap ini T_T
    sehun ara gimana nasib nya o.O
    cerita flashback nya juga menjelaskan semua nya …

    Keren lanjuutt
    fighting author ^^

  6. Wah chapter ini ttg flashback Ara kecelakaan sama Sehun yang ketemu Ara sblum mereka ketemu di Seoul. . .
    Btw Sehun Ara gak bakalan happy ending nih. ?. .
    Yasudahlah ditunggu last chapnya!!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s