[Sehun Birthday Project] Dating After Marriage Special Flashback

Dating After Marriage Poster

[Sehun Birthday Project] Dating After Marriage–Special Flashback

A vignette by nokaav3896 ׀ Starring [EXO] Sehun and [Red Velvet] Irene ׀ It’s a romance and labeled as PG17 ׀ OCs and plot are mine!

Related to: [1][2][3][4][5]

©nokaav3896 – 2016

“Sejujurnya, aku tidak berencana menikah.”

Sehun meletakkan garpu di sebelah kanan piring makan berisi potongan daging sapi medium dan menatap perempuan paruh baya di hadapannya dengan terpaksa. Suasana hatinya sedang buruk karena pekerjaan di kantor tidak berjalan dengan mulus dan orangtuanya malah membicarakan rencana pernikahan. Usianya baru dua puluh satu–dan dia bukan pewaris utama yang wajib memiliki pendamping untuk dipajang dalam berbagai pertemuan penting. Oh Sehun adalah pewaris sekunder yang akan memegang anak perusahaan Ostech Corporation–Ostech Smartphone. Memaksakan pernikahan sementara Oh Rion–sang pewaris utama–masih bersantai membuatnya sedikit muak.

“Aku tidak memaksa,” Ibunya mengulas senyum hangat yang entah kenapa terasa langsung menjalari sudut hatinya, “tapi hatiku rasanya sakit mengingat kabar hubunganmu dengan nona Kwon belakangan ini, Sayang. Aku hanya merasa kau berhak untuk bahagia.”

Sehun menunduk. Hatinya panas mendengar marga perempuan itu menyusupi gendang telinganya. Ditinggal pergi saja sudah cukup memalukan–bagaimana bisa kedua orangtuanya mengetahui kabar semacam ini!

“Sehun-ah,” Rion menepuk pundaknya dengan lembut membuat Sehun mengangkat kepala dan menatapnya, “habiskan saja makanmu dan ayo jalan-jalan denganku.”

“Rion-ah, aku sedang bicara dengan adikmu.”

“Ibu, adik kecilku yang tampan ini sedang tidak ingin membahasnya. Kita bahas masalah ini lain kali saja ya? Dia masih dua puluh satu.” Rion mengerling ibunya sebelum beralih kepada sang ayah yang sedari tadi hanya memperhatikan sembari mengulas senyum tipis. “Aku sudah melakukan hal yang benar ‘kan?”

“Habiskan makan kalian dan pergilah keluar.”

.

.

Ah, jalan-jalan macam apa ini,” Sehun mengeluh sembari menjauhkan gelas berisi red wine yang baru saja diulurkan kakaknya. “Bilang saja kalau kau butuh teman minum. Ada apa lagi?”

Oh Rion tertawa sembari mengembalikan red wine ke hadapan Oh Sehun. “Aku benar-benar frustasi. Aku sudah ingin menikah tapi perempuan itu memintaku untuk menunggu sampai pendidikannya selesai.”

“Sekarang aku yang jadi korban,” Sehun mencebik. “Kau tahu, Ibu menyukai sekretarisku. Aku akan benar-benar kabur dari rumah kalau sampai dia benar-benar menjodohkanku dengan perempuan itu.”

“Kudengar bukan,” Rion menggeleng sembari tersenyum misterius, “kali ini seorang perempuan cantik yang juga dicampakkan oleh tunangannya.”

.

.

Oh Rion benar.

Perempuan yang ‘ditawarkan’ ibunya kali ini cukup cantik dibandingkan sebelum-sebelumnya. Namanya Irene dari keluarga Bae. Dia adalah anak tengah dari tiga bersaudara–kakaknya adalah Bae Soobin; seorang pria tampan dengan bentuk tubuh luar biasa sempurna dan bekerja di perusahaan keluarga; menaruh perhatian yang luar biasa besar terhadap adik-adiknya dan–terus menatap Sehun selama pertemuan keluarga berlangsung.

Adiknya bernama Bae Suzy; perempuan cantik yang cukup menyenangkan dan tak henti mengulas senyum; beberapa kali mengoceh tentang betapa baik kakak perempuannya layaknya seorang promotor; yang lebih mengejutkan lagi–perempuan itu seumuran dengan Sehun. Itu berarti–

“Irene tiga tahun lebih tua daripadamu, Sehun-goon.

–dugaan Sehun benar. Dia akan menikahi seorang Noona.

.

.

Sehun tidak bisa memutuskan siapa yang lebih tidak waras antara dirinya atau perempuan itu. Menyetujui pernikahan pada pertemuan pertama mereka bukanlah hal yang normal. Dia menyetujui pernikahan ini karena tertarik pada Irene tapi tidak yakin alasan yang sama menjadi latar belakang perempuan itu menerima perjodohan.

“Maafkan aku karena terlambat, Sehun-ssi.

Kemunculan Irene di hadapannya mengenakan parka hitam panjang dengan rambut diikat satu membuat Sehun membuyarkan lamunan dan bangkit berdiri untuk mempersilahkan Irene duduk.

“Macet?”

“Bukan,” Irene menggeleng, “sedikit berdebat dengan kakakku karena dia memaksa ikut.”

Sehun mati-matian menahan diri untuk tidak berkomentar aneh atas pengakuan Irene barusan. Tidak habis pikir laki-laki itu ternyata sangat protektif dengan adik-adiknya. Tapi dia juga paham karena apa yang menimpa Irene belakangan jelas sangat menyakitkan.

“Kau mau pesan apa?”

“Apa saja, Sehun-ssi. Kebetulan aku baru pertama kali kemari. Aku percaya padamu untuk memilih menu yang terbaik.”

Sehun terkekeh sebelum mengambil buku menu dan membuka halaman pertama. “Sebenarnya ini juga kali pertama aku kemari.”

“Oh,” Irene tersipu, “maafkan aku.”

“Bukan masalah, dan hilangkan saja embel-embel –ssi itu, Nona. Kita ini calon pasangan dan bukannya rekan kerja.”

.

.

“Jadi, kali ini benar-benar akan menikah.” Irene menggumam pelan sembari menatap cone es krimnya sayu. Sehun ada di sebelahnya dan mendengarkan namun enggan berkomentar lantaran takut salah ucap. “Sehun-ssi, aku–“

“Sehun-ah, Oh Sehun, Sehunie,” Sehun menyela, “Oppa juga tidak masalah meski aku lebih muda. Let’s drop our honorific, Miss.

Irene tersenyum tipis dan mengangguk. “Sehun-ah, aku memang menyetujui pernikahan ini. Tapi, bukankah waktu yang mereka tetapkan terlalu cepat? Januari…”

“Kurasa lebih baik daripada terlalu lama tenggelam dalam kesedihan,” Sehun berujar dengan lembut. Separuh untuk dirinya sendiri, separuh untuk menghibur perempuan itu. “Kurasa kita ada jadwal untuk mengepas baju pernikahan seminggu lagi. Jadi, kita berpisah disini dan bertemu Sabtu depan?”

“Ya.” Irene mengangguk dan menelan sisa es krim beserta waffle cone-nya. “Dimana–“

“Tidak,” Sehun menggeleng, “kali ini aku akan menjemputmu di rumah, Nona. Pastikan saja Kakak laki-lakimu itu tidak berusaha mencakarku, ya.”

.

.

Sehun sudah selesai mengepas tuxedo yang akan dia gunakan dalam pernikahan sejak sepuluh menit yang lalu dan tak habis pikir mengapa Irene belum kelihatan.

Ah, sial. Padahal aku sudah membangun benteng yang bagus di sebelah sini. Oh Rion memang seorang pro dalam permainan dengan genre perang.” Laki-laki itu menggerutu sebelum melempar handphone-nya ke bagian sofa di sebelah kanan setelah kalah ‘perang’ dengan kakak laki-lakinya.

Tepat sebelum Sehun memutuskan untuk bangkit dan mengambil kopi gratis yang disediakan di ujung ruangan, tirai di hadapannya terbuka–menampakkan calon istrinya dalam balutan gaun pernikahan panjang dengan model Victorian. Rambutnya dibiarkan tergerai menutupi bagian terbuka di area pundak dan leher. Irene sangat cantik dan Sehun tahu dirinya sedang menganga.

“Tidak cocok ya?”

“Hmm,” Sehun melirik pegawai perempuan di sebelah kanan Irene, “apa rambutnya akan dibiarkan tergerai saat pernikahan nanti? Kurasa itu justru menutupi bagian tubuhnya yang terbilang seksi.”

“Sehun!” Irene membelalak sembari menarik rambut panjangnya hingga menutupi bagian tubuhnya yang terekspos diikuti tawa kecil pegawai butik di sebelahnya. “Jangan macam-macam.”

Sehun tertawa. “Aku suka yang ini dengan syarat model rambutnya tidak boleh seperti itu. Tapi kurasa memang bukan seperti ini ‘kan? Aku yakin sekali rambutnya akan ditata di belakang.”

“Benar, Tuan. Rambutnya akan ditata ke belakang dan hanya menyisakan beberapa helai saja menggantung di depan.”

Irene melirik Sehun gemas, sementara laki-laki itu hanya tersenyum. “Ambil yang ini, cukup seksi. Akan menjadi pemandangan bagus selama pernikahan.”

.

.

“Sehun-ah, ayo pergi denganku untuk merayakan malam terakhir sebagai per–“

“Aku mau tidur.” Sehun memotong tanpa mengalihkan perhatian dari layar handphone-nya. “Aku harus terlihat tampan besok pagi karena ternyata Irene cantik sekali.”

Rion tertawa keras sembari melangkah masuk ke dalam kamar adiknya. Kharisma sebagai pewaris perusahaan tetap terpancar dari sosoknya meski dalam balutan kemeja cokelat berantakan dan rambut acak-acakan. Sehun seringkali merasa kurang percaya diri jika dibandingkan kakak laki-lakinya yang satu ini.

“Iya, Irene cantik.” Rion mengangguk, melempar bantal dari sisi tempat tidur adiknya dan duduk di tepian. “Kamu harus janji padaku tidak akan menyakiti perempuan itu.”

“Aku janji.” Sehun menggumam pelan. “Lagipula ibu sudah bilang padaku, perempuan itu ditinggal mantan tunangannya yang sudah menghamili perempuan lain saat menyiapkan pernikahan. Dia pasti lebih rapuh dari siapapun saat ini. Aku tidak akan membuatnya merasakan hal seperti itu dua kali.”

“Wah, kamu benar-benar sudah dewasa sekarang.” Rion tertawa. “Kamu menyukainya?”

“Kurasa…sangat menyukainya.”

.

.

Oh Sehun merasa jantungnya berdebar ribuan kali lebih kencang begitu pintu ballroom hotel bintang lima beberapa belas meter di belakangnya terdengar terbuka diiringi alunan piano dari calon adik iparnya yang memainkan lagu pernikahan. Dia merasa semua orang sudah berdiri menyambut calon pengantin perempuan yang tengah melewati red carpet dalam gandengan ayahnya. Laki-laki itu mati-matian menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, berharap apa yang akan dilihatnya beberapa saat lagi adalah pemandangan terindah yang pernah dia saksikan sepanjang hidup. Dia sudah melihat Irene dalam balutan gaun pengantin saat fitting beberapa hari lalu tapi dia ribuan persen yakin perempuan itu akan jauh lebih indah hari ini.

Sehun berbalik begitu merasakan tepukan lembut calon ayah mertua di pundaknya dan menganga (lagi) saat menemukan Irene dalam di hadapannya. Tangan kanan yang dia gunakan untuk menerima tangan Irene dari sang ayah tampak bergetar dan Sehun bisa melihat Irene tersenyum simpul. Cantik.

Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibir Sehun sampai calon ayah mertua kembali ke tempat duduk dan dirinya menghadapi perempuan cantik itu untuk mengucap janji. Suara pendeta laki-laki di dekatnya mulai menyapa telinga. Sehun mengucapkan beberapa kalimat, pun dengan Irene yang masih terus mengulas senyum. Kalimat-kalimat indah yang merupakan janji pernikahan mereka. Sehun tak benar-benar mendengarkan dan seratus persen sadar. Kesadarannya sudah tersita oleh perempuan di hadapannya. Yang ia tahu, janji pernikahannya sudah selesai diucapkan. Itu artinya–

“Kau boleh mencium istrimu, Oh Sehun-ssi.

–Sehun harus mencium Irene. Di hadapan sangat banyak orang.

Laki-laki itu belum tahu bagaimana perasaan Irene padanya. Sehun sendiri sudah ribuan persen yakin memilih perempuan ini sebagai istrinya. Dia percaya cinta pada pandangan pertama sudah menyerangnya. Dia sudah berjanji pada Oh Rion untuk menjaga perempuan ini. Tapi Irene, dia tidak tahu apa yang ada di pikiran perempuan itu.

Jadi, Sehun memutuskan untuk menarik perempuan itu dengan posisi membelakangi ‘penonton’ sebelum mencium sudut bibirnya alih-alih tepat di bibirnya.

Suara tepuk tangan terdengar dari belakangnya, siulan Oh Rion terdengar paling keras menyapa pendengarannya tepat sebelum Irene menarik diri dan memberikan senyum manisnya pada Sehun.

“Terima kasih.” Irene berbisik sebelum kemudian menyisipkan lengannya di lengan Sehun dan memberikan penghormatan sembilan puluh derajat pada hadirin yang ada disana.

Sehun tersenyum, menunduk sedikit sebelum Irene melangkahkan kakinya menuruni altar demi berbisik pelan. “Sama-sama. Semoga kau bahagia denganku.”

End.

So, this is Dating After Marriage’s Special Flashback! Gimme your opinion, guys! ❤

Regards, Nokaav

 

 

21 tanggapan untuk “[Sehun Birthday Project] Dating After Marriage Special Flashback”

  1. Terima kasih banyak author yang super daebak ini… ^_^ akhirnya ff ini ada lagi hampir harap – harap cemas takut gak lanjut huhu #salamsayangbuatauthor :*

  2. Ternyata sehun emang udah suka dari awal… ckckck
    Tapi masih kesel sama joonmyunn…
    Please jangan jadi perusak ya oppa 🙂

  3. Ya seperti yang seharusnya/?
    Sehun memang udah jatuh cinta dari awal dan itu tuh sweet bangeeet ><
    Suka sama special flashback-nya, gimana Sehun nyetujuin, pas pernikahan, plus kembali lagi ke masa-masa Irene yang belum ada sepersenpun perasaan buat Sehun XD

  4. Awww how sweet>< sehun nya tau diri banget he, lucuuuu gemes gemes gituu😂😂 ditunggu chap 6 nya ya eonnn, keren banget aaaaaa

  5. Kurang panjang nih kak :v tapi keren bangeeeet kok! Irene memang yang paling tepat untuk Sehun :v di dunia nyata juga ia, maunya :v Lanjut kak !

    Fighting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s