[EXOFFI FREELANCE] Who Are You [Chapter 3]

who

Tittle : Who Are You?
Author : BabyJae96
Genre : Romance, Time-Machine, Fantasy
Lenght : Chapter
PG-15
Cast :
Xiumin a.k.a Kim Minseok
Jin (Lovelyz) a.k.a Park MyungEun
Dll

Disclaimer :
FF ini terinspirasi dari film ‘Secret’ sama MV Jin ‘Gone’ tapi alur ceritanya malah beda jauh sama filmnya dan ini murni hasil khayalanku!

-Seoul. 2003-
Park Myung Eun adalah gadis biasa diusianya yang menginjak 17 tahun ini, ia suka bermain bersama teman-temannya dan melakukan hal yang seperti gadis seusianya lakukan tapi kehidupannya mulai berubah saat Sang Ibu meninggal dan usaha Ayahnya bangkrut, sang Ayah yang terlilit hutang pun sering berjudi namun tetap saja itu tak bisa membayar hutangnya dan sering kali, Myung Eun menjadi pelampiasan sang Ayah ketika mabuk yang membuatnya banyak menerima pukulan.
Suatu hari saat musim semi, Sang Ayah ditahan karna telah menipu beberapa orang, setelah itu ia harus tinggal sendiri dan bekerja full untuk menghidupi dirinya sedangkan sekolah ia tinggalkan. Takdir buruknya tak belum berakhir, tak lama setelah itu Myung Eun harus kehilangan tempat tinggalnya karna dia belum membayar sewa selama beberapa bulan. Tapi beruntungnya, salah satu detective menangkap Ayahnya itu mengijinkannya untuk tinggal di rumah detective tersebut yang bernama Kim Man Sik.
Tn. Kim mengajak Myung Eun tinggal dirumahnya, rumahnya cukup luas dan beliau memiliki seorang anak berusia 7 tahun yaitu Kim Minseok. Tn. Kim bahkan membiayanyinya sekolah dengan imbalan menjaga Minseok. Selama tinggal disana ia dan Minseok pun semakin dekat Myung Eun juga yang mengajari Minseok bermain piano.
Ibu Minseok meninggal ketika Minseok berusia 2 tahun dan inseok tak mengingat itu, Minseok sendiri anak yang ceria dan pintar, ia slalu mendapat ranking satu dan juga pandai bersosialisasi.
Sudah 2 tahun Myung Eun tinggal dirumah itu, kini usianya sudah menginjak 19 tahun dan berada di tahun akhir sekolahnya. Minseok juga sudah berumur 9 tahun sekarang. Selama ini, Myung Eun menyukai hidup barunya, ia diberlakukan seperti anak sendiri oleh Detective Kim dan Noona bagi Minseok sendiri. Ya, jika ia memiliki kesempatan ia ingin menjadi anak sulung di keluarga ini mungkin kehidupan yang akan datang.. Myung Eun tak pernah lupa mengenai Ayah kandungnya yang masih berada di penjara, ia masih sering mengunjungi Ayahnya disana walaupun tak jarang Sang Ayah menolak dirinya.
“Ayahmu akan bebas minggu depan” Suara berat itu segera membuat Myung Eun terdiam menunduk ketika mendengar ucapan Tn.Kim yang tengah duduk berhadapan dengannya di meja makan “ Myung Eun ah, Kau bisa tetap tinggal disini dan…”
“Aku akan pergi” Myung Eun menegakan kepalanya “Terima kasih, Ahjussi! Aku akan ikut dengan Ayahku”
“Tidak, Myung Eun.. Pikirkan lagi, apa kau benar-benar tak ingin bergabung di keluarga ini? Ahjussi akan mengurus semuanya dan kau akan benar-benar menjadi Noona bagi Minseok”
Myung Eun menggeleng, ia tersenyum tipis “Tidak, aku masih memiliki Ayah. Aku yakin Ayahku akan berubah dan sebelum Ibuku meninggal, dia bilang aku harus menjaga Ayahku”

Beberapa hari kemudian…

Myung Eun memasukan semua pakaiannya dari dalam lemari ke tas besarnya, ia akan pergi dari rumah Tn.Kim malam ini. Dia sengaja pergi saat malam hari setelah Minseok tidur agar Minseok tak mengikutinya karna Minseok tak ingin Myung Eun pergi dari rumahnya.
“Noona benar-benar akan pergi?”
Suara itu membuat Myung Eun berhenti merapihkan tasnya, ia menoleh kearah pintu kamar yang sedikit terbuka dimana disana ada Minseok. Myung Eun mengangguk sembari tersenyum “Eumm.. Noona harus pergi”
Minseok kecil menghela nafasnya dan menundukan kepalanya. Myung Eun berdiri menghampiri Minseok lalu membungkukan badannya dan menumpukan kedua lututnya kelantai agar tingginya sama dengan Minseok “Minseok-ah, Kita hanya akan berbeda rumah tapi kita masih akan bisa bertemu”
“Bisakah Noona tak pergi?
“Mianhae, Noona juga punya seorang Ayah yang harus Noona jaga”
“Noona…”
“Hemmm.. ”
“Noona, aku menyukai Noona.. Jadi, aku akan membiarkan Noona pergi tapi aku janji aku slalu melindungi Noona selamanya” Myung Eun terkekeh mendengar ucapan polos Minseok, ia mengelus-ngelus kepala Minseok “Arraseo, tapi kau juga harus tumbuh menjadi pria yang baik, mengerti?”

Beberapa bulan kemudian…
Kehidupan Myung Eun tak sesuai rencananya, ia kira Sang Ayah akan berubah setelah keluar penjara tapi ternyata tetap saja. Ayahnya masih sering berjudi, mabuk dan tak jarang memukulnya saat ia melarang Ayahnya untuk minum.. Kehidupan disekolahnya pun sama, mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang narapidana semua teman-temannya menjauhinya dan mengucilkannya.
Myung Eun ingin sekali mengakhiri ini bahkan ia pernah mencoba akan bunuh diri tapi ada seseorang yang bisa tetap membuatnya tersenyum, itu adalah Minseok. Minseok memang masih kecil tapi pikirannya sudah dewasa, Myung Eun benar-benar menyanyanginya seperti adiknya sendiri tapi sayangnya ia harus menjahuinya karna jika Sang Ayah megetahui Minseok adalah anak dari detective yang telah mempenjarakannya mungkin Sang Ayah akan melakukan hal buruk pada Minseok, Myung Eun tak yakin tapi itu mungkin saja karna Ayahnya banyak berubah .
Suatu hari, ia tak sengaja kegudang sekolah yang berada di bawah bangunan gedung sekolah. Disana, ia menemukan piano itu.. Piano tua yang masih menghasilkan nada-nada nyaring dan indah hingga tak sengaja ia menemukan sebuah tulisan yang tertutup oleh debu diatas piano itu, sebuah tulisan yang tertulis jika seseorang memainkan sebuah nada yang juga tertulis disana maka orang itu akan pergi ke masa depan yang ia inginkan.
Awalnya, Myung Eun tak percaya dan mencoba memainkan nada itu tanpa sengaja tapi secara ajaibnya.. ketika ia membuka pintu gudang itu, ia tau bahwa dirinya bukan berada di tahunnya tapi di tahun masa depannya 2013. Mulai saat itu, Myung Eun sering memainkan nada itu untuk pergi kemasa depan, untungnya seragam yang ia kenakan masih sama dengan seragam saat ini jadi murid-murid lainnya yang ia temui tak akan mencurigainya. Tapi.. waktunya di masa depan ini hanya 72 jam yang berati tiga hari, jika lebih dari itu Myungeun tak memainkan nada-nada itu dan kembali ke masanya maka Myungeun akan terjebak di masa depan selamanya.
Awal pertemuannya dengan Minseok slalu ia ingat, Minseok kecil yang slalu menemaninya kini sudah tumbuh besar dan tingginya telah melebihinya. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu Minseok disekolah ini padahal dulu Minseok pernah bilang tak mau sekolah disekolahnya karna guru-gurunya galak tapi malah sebaliknya. Satu hal yang membuatnya penasaran, kenapa Minseok menjadi dingin? Dia sudah mengawasi Minseok secara diam-diam disekolah dan Minseok benar-benar berbeda dengan Minseok yang ia kenal dulu. Mengapa itu bisa terjadi?
Setelah pertemuan terakhirnya dengan Minseok, ia merasa ada yang aneh. Ketika Minseok berkata bahwa Ibunya bisa memainkan piano dan Ibunya memiliki nama yang sama dengan Myung Eun bahkan marga mereka? Ini aneh.. Tn.Kim pernah bercerita mengenai Ibu Minseok yang tak bisa memainkan piano, piano dirumahnya itu milik pemilik rumah sebelum mereka dan nama Ibu Minseok bukanlah Park Myung Eun tapi Yoon Ji Sook. Apa ini? Apa dia bukan Minseok yang dikenalnya? Tapi, mengapa wajah mereka mirip? Itu benar-benar Minseok.

-2013-
Minseok masih terus menatap foto itu selama hampir 20 menit ini, ia berpikir.. berpikir keras mengenai wanita di foto itu yang sangat mirip dengan Myung Eun. Apa mungkin… wanita itu Ibunya? Hah, Itu sangat tak mungkin karna wajah wanita itu masih muda dan nama Myung Eun sama dengan nama Ibunya bahkan nada yang gadis itu mainkan juga sama dengan nama Ibunya. Apakah ini hanya kebetulan semata.
“Arggg!!!!!” Teriak Minseok frustasi melempar foto itu, ia benar-benar tak bisa mengingatnya. Tangannya yang terluka sudah ia perban tapi itu bukanlah masalahnya saat ini. Dia sudah berkali-kali menghubungi Ayahnya untuk bertanya tapi ponsel Tn.Kim tak aktif karna beliau sedang sibuk bertugas diluar kota selama beberapa hari mungkin akan memakan waktu beberapa minggu jika beliau belum berhasil menangkap targetnya.

Dua hari ini Minseok mencari-cari keberadaan gadis itu disekolah tapi tetap saja ia tak bisa menemukan Myung Eun bahkan ketika ia bertanya kepada semua temannya, mereka tak mengetahui siapa Park Myung Eun. Dan sampai sekarang Ayah Minseok belum pulang jadi dia tak bisa bertanya mengenai foto itu dan Ibunya..
Minseok mendudukan dirinya diatas tangga yang berada di depan gudang itu, ia menghela panjang nafasnya dan memegangi kepalanya yang pusing karna berkeliling sekolah mencari gadis itu, aneh memang karna tak ada satupun yang mengetahui Myung Eun.
“Ya! Apa yang kau lakukan disini?”
Minseok membalikan kepalanya ketika mendengar suara seseorang dibelakangnya “Ah.. Seongsaenim” ia berdiri dari sana dan langsung membungkukan badannya.
“Mengapa kau berada di gudang ini di saat semuanya sudah pulang? Apa tidak menakutkan?” Minseok menggeleng “Aku mencari seseorang”
“Seseorang?” Pria paruh baya itu turun menuruni tangga dan berhenti didepan pintu gudang berwarna biru itu lalu membuka pintu gudang tersebut “Apa kau mau masuk?” Tanpa pikir panjang Minseok mengikuti guru tersebut yang merupakan salah satu guru senior disekolah ini dan menurut rumor beliau bisa saja menjadi kepala sekolah di sini tapi beliau menolaknya entah apa alasannya. Guru.Park berhenti didepan piano tua itu menatap Minseok yang berdiri tak jauh darinya “Apa kau mau memainkan piano ini?”
Minseok menggeleng “Tidak, aku tidak bisa memainkan piano” Bohongnya, sebenarnya ia sedang tidak dalam mood baik untuk memainkan piano pikirannya masih kacau. Guru Park mengganguk pelan sembari tersenyum “Aku tau kau bisa memainkannya, bukankah dulu kau sering memenangkan piala karna ini”
Minseok terdiam, bagaimana bisa Guru didepannya ini bisa mengetahui itu? Itu sudah lama sekali… bahkan itu sebelum ia kehilangan ingatannya. Dia sama sekali tak mengingat pernah mengikuti lomba tapi menurut Ayahnya dan foto-foto dimana ia memegang piala dirinya memang pernah mengikuti lomba “Itu… Aku…”
“kau pasti tak mengingatnya tapi salah satu muridku pernah mengenalkanmu padaku saat kau kecil”
“Murid?Siapa..” Minseok terkejut, apa lagi ini? Apa yang sebenarnya Guru.Park katakan?
Guru Park langsung menggeleng tidak, “Aku rasa aku mulai berbicara omong kosong lagi” Sejak kecil ia bersama Ayahnya tinggal di Busan jadi mana mungkin ia mengenal Guru Park sebelumnya.
“Tapi… Murid itu..”
Dreddd… Dred… Dreddd….
Ponsel Minseok bergetar dan itu membuatnya terpaksa menghentikan ucapannya, itu dari Ayahnya. Minseok segera pamit setelah itu dan pergi keluar dari dalam sana meninggalkan beberapa pertanyaan yang masih ada didalam pikirannya. Jika bukan karna panggilan dari Ayahnya ia pasti akan bertanya lebih banyak pada Guru Park. Guru Park memandang piano tua yang tengah ia sentuh itu.

Hari sudah menjelang malam dan di gudang sekolah tersebut terdengar suara alunan piano, siapa lagi kalau bukan Myung Eun yang memainkannya.
“Jadi kau sudah menemui Minseok?”
Suara itu membuat Myung Eun berhenti memainkan piano dan langsung menoleh kearah sumber suara dimana disana ada Guru Park yang baru saja masuk kegudang itu. Ya, Guru Park adalah Guru yang paling mengerti Myung Eun dan Guru tersebut juga mengetahui rahasia mengenai piano yang baru saja ia mainkan, beruntungnya di masa depan ini Guru Park masih mengajar disekolah ini.
“Seongsaenim..”
“Sepertinya Minseok mencarimu, mengapa kau tidak menemuinya saja” Myung Eun tersenyum tipis lalu menggeleng “Aku rasa aku tak mau menemuinya lagi” Ucapnya memandang Guru Park yang berdiri didepannya.
“Mengapa? Bukankah kau seharusnya senang karna bisa bertemu Minseok dimasa depan?”
“Aku senang bertemu dengannya tapi, aku rasa semuanya semakin aneh dan aku ingin tau satu hal”
“Apa itu?”
“Apa Seongsaenim tau bagaimana masa depanku disini?”
“Dia sudah meninggal” Ucap Tn.Kim pada Minseok saat melihat foto yang diberikan Minseok dimana disana ada seorang wanita yang mirip dengan Myung Eun. Minseok tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar wanita di foto tersebut sudah meninggal. Tn.Kim juga menjelaskan bahwa wanita itu pernah menjadi bagian dari keluarga ini selama 2 tahun dan dia sering bermain dengan Minseok. Minseok semakin terkejut mendengar nama wanita itu ‘Park Myung Eun’ nama itu sama dengan nama Ibunya dan juga dengan gadis itu.
“Mengapa dia meninggal?”
“Karna kecelakaan, setelah ia kembali tinggal bersama Ayahnya ia mengalami kecelakaan” Kata Tn.Kim menaruh foto tersebut diatas meja makan tapi raut wajah Tn.Kim seperti masih menyimpan sesuatu lagi yang tak bisa ia katakan pada Minseok. Minseok menyadari itu, ia tau Ayahnya masih menyembunyikan sesuatu darinya ia juga belum yakin dengan perkataan Ayahnya yang bisa jadi hanya sebuah kebohongan.

Perkataan Ayahnya tadi malam berhasil membuat Minseok tak bisa berkonsentrasi selama pelajaran tadi, sebenarnya masih banyak pertanyaan di dalam pikirannya tapi ia tak bisa bertanya begitu saja pada Ayahnya karna itu memang tak mungkin karna ini menyangkut Myung Eun. Ya, dia masih penasaran bagaimana bisa gadis yang ia kenal itu sangat mirip dengan wajah wanita yang berfoto bersamanya saat kecil terlebih nama mereka sama. Sampai.. gadis itu muncul di depannya, Myung Eun berdiri tak jauh dari Minseok saat ia baru saja sampai di komplek rumahnya.
Sebenarnya Minseok tak mau bertemu dengan gadis itu karna itu hanya akan membuatnya semakin penasaran tapi hatinya berkata lain, ia tak bisa mengungkiri bahwa gadis itu memang menarik baginya.
“Ada yang ingin ku katakan padamu?” Ucap Myung Eun saat Minseok berhenti didepannya, wajah Myung Eun terlihat serius membuat Minseok semakin penasaran dengan apa yang akan gadis itu katakan padanya “Ada apa?”
Myung Eun terdiam menyakinkan dirinya untuk mengatakan ini “Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, aku akan pergi”
“Pergi? Kemana?”
“Yang pasti aku akan pergi jauh, aku tau kita baru saling mengenal jadi aku rasa aku harus mengucapkan selamat tinggal padamu karna kau adalah satu-satunya teman yang kumiliki” Myung Eun berhenti sejenak, ia mengigit bibirnya sendiri menahan air matanya “Aku harap kau tak akan melupakanku lagi walaupun kau hanya mengingat sedikit tentangku”
Minseok hanya diam mendengar semua itu, ia tak tau harus bereaksi apa. Sedih? Tentu saja ia merasakan itu tapi siapa dia sampai melarang Myung Eun untuk pergi. Ah.. Minseok hanya bisa memandang Myung Eun balik dan mengucapkan selamat tinggal dengan terpaksa “Kalau begitu, Selamat tinggal! Aku harap bahagia disana, aku tidak akan melupakanmu”

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Who Are You [Chapter 3]”

  1. Ohh jdi brang siapa yg mainkan lgu trsebut menggunakan piano itu mka mreka akan ke msa depan?
    Tpi aku masih sdikit bngung nih kakk#garukkpala

    Izin bca ya kakk^^

  2. wah thor cerita nya seru , jadi Myung Eun itu udah meninggal ya ? masih agak bingung sih cuma seru thor , next jangan lama lama ya thor update nya hehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s