[Chapter 8: Fragile] Emerency Love

Emergency2

Shuu’s present

Emergency Love

CAST: Suho, Irene, Luhan| SUPPORT CAST: Yoona, Chorong and Others | RATING: PG-15 | GENRE: Romance, School life | LENGTH: Chaptered | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families . Enjoy your spare time by reading this story. Leave a comment at the end of the story and don’t plagiarize, dude. Thank you! 

Prolog | After a Long Time | Q n A | Sweet Memory | Heartbeat | Beginning | With You| Broke? | Fragile

Mata pria yang menyebut dirinya sendiri dengan Junmyeon ini begitu teduh saat menatap mata hazel milik Irene. Irene mengulaskan senyuman tipis sebelum kemudian akhirnya tertunduk karena canggung. Lelaki itu duduk dihadapan Irene.

“Nah, Irene. Ini Suho. Panggil saja begitu.” Kata Nyonya Kim. “Kalian seharusnya banyak menghabiskan waktu berdua. Tetapi hati-hati bocah itu sering kali menyebalkan.” Kata Nyonya Kim sambil menyipitkan matanya.

Ne. Nyonya Kim.” Jawab Irene dengan menampakkan senyum manisnya.

“Eyyyyy, jangan panggil aku Nyonya Kim. Panggil saja Eomma-nim.” Kata Nyoya Kim sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat lelaki bernama Suho itu melotot kepada Ibunya sendiri.

“Ne. Eomma-nim.” Kata Irene malu-malu.

“Tadi aku mencarimu. Dan ternyata kau tidak masuk ya? Aku mengetahuinya dari Sekertaris Hwang. Apakah kau baik-baik saja?” tanya Suho kepada Irene.

Eoh? Ne. Aku merasa tak enak badan jadi aku tidak masuk untuk hari ini.” Kata Irene canggung.

Merekapun terlihat berbincang ringan. Keluarga Kim begitu hangat, Irene mersa nyaman. Ia rasa tak masalah jika mereka menikah nantinya. Bukankah begitu?

Irene masuk kerja seperti biasanya, ia memasuki ruang erjanya dan menyampirkan tasnya di punggung kursi. Matanya terpaku kepada kotak makan di atas mejanya, dengan sebuah note diatasnya.

Halo, ini Suho. Eomma menyuruhku memberikan ini padamu. Semoga kau suka! Jaga kesehatan baik-baik. Makan sampai habis. Isinya 4 sehat 5 sempurna, tidak memakai vetsin. Sangat sehat!

Irene tersenyum kecil membaca tulisan di note tersebut. ia kemudian duduk sambil mengintip isi kotak makan tersebut. perutnya tiba-tiba berbunyi saat melihat sosis, serta tumis kangkung, juga beberapa tomat cherry utuh.

Eyyy,” ucap Chorong dari belakang. Membuat Irene sedikit terlonjak karenanya. “Kenapa tidak masuk kemarin?” tambahnya.

“Aku sakit.” Jawab Irene.

Chorong meng-o perkataan Irene. “Kau tahu tidak? Mulai kemarin, ada CO-CEO baru, kudengar ia adalah anak dari CEO rumah sakit ini. Dia begitu tampan! Namanya Kim Junmyeon.”  Kata Chorong menggebu.

“Aku tahu.” Kawab Irene singkat.

“Wahhh…, berita itu menyebar sangat cepat ya? Apakah karena dia tampan? Ngomong-ngomong kau tahu dari mana?” tanya Chorong.

“Ibunya.”

“Ehhh…?”

“Ma-maksudku, lupakan saja.”

“OH, EH, itu dari siapa? Dari Luhan? Ehemmm…” tanya Chorong sambil menunjuk kotak makan di hadapan Irene.

Raut wajah Irene seketika berubah drastis dari sebelumnya, “Ani.” Dia menjawab singkat tanpa ekspresi, dia hanya memasang wajah datar andalannya.

Krieeettt…

Pintu kaca itu dibuka oleh seseorang, menampakkan sosok yang membuat Irene langsung berpaling. Chorong melihat mereka berdua bergantian. Sebelum akhirnya menghela nafas. Sosok itu terlihat melihat Irene intens tadi, tetapi ketika Irene berpaling mata itu terlihat meredup.

Chorong lalu menyeret kursi beroda itu ke samping Irene kemudian duduk di sebelahnya. “Kau bertengkar?” tanyanya hati-hati.

Ani.”  tidak. Melainkan berakhir.

“Lalu kenapa dengan kalian?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau ada masalah sebaiknya ceritakan, kita ini teman. Setidaknya jika kau cerita, beban itu akan sedikit berkurang.” Ucap Chorong.

Ani. Tidak ada yang terjadi.” Ucap Irene kemudian berjalan ke luar menuju ruang ganti. Meninggalkan Chorong yang terheran melihat Irene yang berkaca-kaca.

Seperti biasanya, Irene akan memeriksa bangsal anak seperti hari yang lalu. Tetapi, tidak ditemani Luhan. Entah, apa yang dilakukan Luhan sekarang.

“Nara,” ucap Irene sambil duduk di bibir ranjang Nara. Gadis itu, sekarang memakai kupluk yang menutupi kepalanya yang botak. Irene terlihat mengucap puncak kepala Nara dengan lembut. Kemudian tersenyum simpul.

Eonni, wae?” tanya Nara yang melihat tingkah Irene yang tak biasanya,

Ani.” Jawabnya masih dengan tersenyum simpul.

“E-oh! Oppa mau kemana?” tanya Nara sambil melambaikan tangannya kepada seseorang di belakang Irene.

“A-ani, kalian lanjutkan saja.” kata Luhan, kemudian melesat pergi dengan kecangguangan yang menjalar.

Eonni dan oppa bertengkar?” tanya Nara dengan wajah polosnya.

Irene terdiam cukup lama sambil meremas kedua tangannya. “Kurasa iya. Kurasa tidak.” Kata Irene dengan mata yang berkaca-kaca. “Sudah lupakan, aku tak mempunyai hubungan apa-apa dengannya.”

Malam ini, Suho memaksa untuk mengantar Irene pulang. Untung saja tadi pagi Yoona tak mengizinkan Irene membawa mobil sendiri. Irene harus diam-diam menemui Suho di basement, supaya tidak ketahuan siapa-siapa dan menimbulkan gosip yang membuat kuping Irene panas setiap harinya.

A-annyeong,” sapa Irene kepada Suho yang sudah siap dengan helm di tangannya.

“Ini, pakailah. Kita mampir makan dulu, ottae?” tanya Suho sambil menyerahkan helm hitam kepada Irene.

“Ki-kita naik apa?” tanya Irene kepada Suho. Lalu menerima helm yang diberikan Suho kepadanya.

“Naik motor.” Kata Suho sambil menunjuk motor sport-nya. “Kau belum pernah? Mungkin mulai hari ini kau harus memakai celana setiap harinya. Karena, aku akan mengantar jemputmu setiap hari.” Kata Suho panjang lebar.

“E-eh?” Irene terlihat keheranan dengan Suho yang seperti ini. “N-ne.”

Suho terlihat menggaruk tengkuknya kemudian menunjukkan senyumnya kepada Irene. “Ji-jika kau tidak keberatan, aku menjemputmu.”

“Tentu saja aku tidak keberatan. Aku jadi tidak enak kepadamu.” Jawab Irene.

“Aku menganggapnya sebagai tanggung jawab yang harus dilakukan lelaki. Kajja!” kata Suho sambil menaiki motornya.

Mereka mampir ke bistro kecil di pusat kota. Tempat ini tidak terlau mencolok, tetapi lumayan banyak yang datang berkunjung. Suasana hangat menyeruak saat mereka memasukinya. Kemudian, mereka duduk ujung ruangan yang terdapat kaca besar menghadap jalanan.

“Jika aku boleh tanya,”

“Ya, silahkan saja. Tanya apa saja sesukamu.” Kata Suho.

“Kenapa anda mau menerima perjodohan ini?” tanya Irene ragu-ragu.

“E-eh, hanya saja…,” Suho terlihat bingung mau menjawab apa. “Aku sudah lelah main-main dengan perempuan. Sudah waktunya aku serius. Mungkin, dengan menerima perjodohan yang direncanakan orang tua kita, aku bisa merasakan cinta itu apa sebenarnya.” Kata Suho.

Entah kenapa saat mendengar Suho mengatakannya, pipi Irene memanas. Sedangkan Suho menopang kepalanya diatas meja dengan menggunakan kedua tangannya sambil memandang diluar jendela.

Mademoiselle, apa kau tahu. Coba lihat sini.” Kata Suho. Terlihat Irene juga mengikuti Suho untuk menopang kepala diatas meja dengan tangannya.

“Apa?” gumam Irene.

“Coba lihat, jalanan itu. terlihat banyak sekali orang yang saling mendahului untuk dapat pulang ke rumah dengan cepat.” Kata Suho, terlihat Irene tertarik dengan arah pembicaraan Suho. “Tetapi apa kau tahu? Yang terdepan bukanlah yang terbaik. Dunia ini begitu kejam. Kau tahu mobil di belakang itu? benar ia lambat, tetapi siapa tahu dia yang terbaik dari pengendara lainnya? Lagi pula sejauh ini ia terlihat menaati peraturan tidak seperti yang lainnya. Kau melihat mobil mewah terdepan itu? iya mewah, tetapi tidak mempunyai aturan sampai melanggar marka jalan.”

“Dunia ini kejam, jadi jangan percaya kepada siapapun yang berjanji dan mengatakan hal-hal manis kepadamu. Kau juga boleh tidak percaya padaku. Aku mungkin saja tidak baik seperti yang lainnya.” Kata Suho sambil menunjukan senyum simpulnya.

“Kau terlihat baik , Suho. Aku percaya padamu.” Kata Irene.

“E-eh, kita jadi membicarakan hal yang berat dicerna malam ini. Maafkan aku. Makanan kita sudah datang!” kata Suho menunjuk pelayan yang mengantarkan makanan mereka.

Irene terlihat tersenyum simpul saat itu, ia menyadari. Jika Suho telah membuat Irene mulai suka kepadanya dengan caranya sendiri. Ya, dengan kejujuran serta cara bicaranya itu. Irene menyukainya entah kenapa. Irene merasa, ia telah menemukan seseorang yang dibutuhkannya.

Seminggu sudah, Irene menjalin hubungan diam-diam dengan Suho. Dan seminggu sudah Jonghyun, Lay, serta Chororng mencium gelagat mencurigakan yang ditunjukkan Irene dan Luhan. Mereka meyakini jika Irene dan Luhan sedang bertengkar hebat. Setiap Luhan ikut berbincang dengan yang lain, saat itu juga Irene akan berpaling. Begitu seterusnya.

Hari ini serta hari-hari yang lalu, Irene selalu diantar jemput oleh Suho menggunakan motornya. Suho selalu menjaganya, ia begiu yakin jika ia menikah dengan Suho akan baik-baik saja. ia rasa ia tak merasa sepi lagi dengan Suho yang terkadang memberikan guyonan, setidaknya bisa membuatnya bahagia.

Irene mengambi catatan pasien. Sebelumnya ia berpasaan dengan Luhan. Tak ada sepatah katapun yang mereka lontarkan, seperti yang diminta Luhan sebelumnya. Jika, setelah kejadian itu berpura-pura tidak saling mengenal. Itu menyakitkan untuk Irene, tetapi ia harus menelan kenyataan itu bulat-bulat. Saat berpapasan, lirikan saja tak ada. Sinyal-sinyal yang diberikan satu sama lain tak ada.

Membuat Irene bergumam sendiri, “Seperti kata Oscar Wilde, kita ini seperti dua kapal yang berapasan saat badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain, tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata apapun, kita tidak punya apapun untuk dikatakan.”

Tahu tidak, hatinya bergejolak kembali. serta pikirannya berubah kosong saat mengingat masa lalu. Tetapi, masa lalu yang indah itu berubah menjadi omong besar. Terlalu percaya, itu kesalahan Irene.

“Wanita rubah itu, setelah ia menggoda Luhan uisa. Sekarang kau tahu tidak? Ia meninggalkannya dan mencari lelaki yang lebih kaya daripada Luhan Uisa. Kau tahu ia menggoda CO-CEO. Apa dia menjual tubuhnya?” ia mendengar omongan itu dari salah seorang perawat. Sepertinya perawat itu memang ingin menyindirya.

“Bagaimana kau tahu? Dasar wanita rubah.” Ucap yang lain.

“Beberapa hari ini dia datang tidak dari basement. Tetapi dari parkiran VIP diatas. Dan beberapa perawat melihatnya datang dengan CO-CEO dasar wanita rubah.” Kata yang lain, membuat kuping Irene panas. Saat itu juga kupingnya menjadi panas. Tangannya menggenggam disamping hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah. Langkahnya, saat itu langsung terhenti.

Kemudian, ia menatap para perawat yang membicarakannya itu dengan wajah tak bersahabat. Kabut telah menghiasi wajahnya yang cerah sebelumnya. Tetap saja perawat itu melanjutkan gosip mereka. sepertinya mereka benar-benar tidak menyukai Irene luar dan dalam.

“Kudengar dia juga masuk ke rumah sakit ini melewati jalur gelap.” Tambah yang lain. Irene ingin sekali melumat kepala mereka sekarang juga. Memberitakan hal-hal tidak benar dapat masuk penjara dengan tuntutan pencemaan nama baik. Mata Irene sudah melotot membuatnya ingin keluar dari tempatnya. Saat itu juga ia menhentikan langkahnya.

Irene kembali menatap para suster yang sedang duduk-duk tersebut. tentu saja, tatapannya seperti elang kepada ular buruannya. Saat itu juga Irene kalut dan menendang meja yang dikelilingi suster-suster bermulut besar tersebut

Brakkk…. bunyi dentuman itu kencang sekali. Membuat para suster itu menjerit.

“Apa yang kalian bicarakan, eoh?” kata Irene lantang sambil menggulung lengan bajunya.

“Kau! Wanita rubah!” ucap salah seorang suster yang Irene yakini adalah salah satu yang pernah mendekati Luhan.

“Jaga mulutmu!” bentak Irene.

“Apa masalahnya? Benarkan omonganku,” jawab suster tersebut. Kali ini Irene ingin menjambak rambutnya. Terlihat kedua temannya tengah memegangi suster agresif itu.

“Apakah kau tidak bisa mencampuri urusan orang lain? Merasa hidup sendiri paling benar! Jangan pernah mengusik hisupku sebelum hidup diri sendiri benar. Lalu, apa masalahnya jika aku menjalin hubungan dengan CO-CEO? Apa itu merugikanmu? Lalu apa masalahnya aku masuk ke sini dengan bantuannya? Apa itu juga merugikanmu?” kata Irene sambil telunjuknya mengarah ke wajah suster tersebut. mata Irene sudah berkaca-kaca menhan tangis yang hendak meluap.

Bebrapa suster tengah membentuk lingkaran mengerubungi mereka. sebelum pada akhirnya Chorong datang menembus formasi itu dan berada di belakang Irene sambil menenangkan Irene tetapi gagal seratus persen.

“Oh, si wanita rubah ternyata mengakui kesalahnnya.” Ucap suster tersebut enteng.

“Kenapa kau selalu mencampuri hidup orang lain jika hidup sendiri belum benar? Apa kau mempunyai banyak waktu sehingga bisa memikirkan hidup orang lain? Oh, kau berbeda denganku ya aku lupa. Aku selalu sibuk sampai tidak sempat memikirkan makhluk sepertimu.” Sifat Black Irene telah keluar. kau lihat sendiri kan?

“Ya! Jaga mulutmu!” ucap suster itu. Tanpa mereka sadari suster senior yang lain berusaha menghentikan suster brengsek itu dengan memeganginya.

“Irene sudah,” ucap Chorong sambil memegang kedua lengannya.

“Aku tak bisa membiarkan mulutnya itu terus berkoar. Aku tak bisa membiarkan hati Suho terluka karena aku!” sentak Irene kepada Chorong.

Seorang lelaki menerobos kerumunan dengan cepat. Ia kemudian memegang kedua pundak Irene dari belakang. membuat Irene terkesiap. Kemudian terlihat berbisik kepada Irene tetapi beberapa dari orang yang mengerumuni Irene dan suster tak tahu diri itu mendengar, “Jangan mengawatirkan aku, aku justru takut hatimu terluka.”

“Jaga mulutmu! Atau aku harus mengeluarkanmu dari sini.” Ucap orang tersebut kepada suster yang ia tahu bermarga Hong itu. Perkataannya membuat orang disana terkesiap termasuk Irene yang masih belum bisa berbalik.

“Jangan menghujat orang jika belum tahu kebenarannya. Juga, aku tidak membutuhkan pekerja dengan mulut kotor seperti itu. Aku tidak bisa membiarkan orang yang telah membuat hatinya terluka hidup dengan tenang.” Perkataan Suho membuat keadaan yang semula riuh rendah berubah menjadi gemerisik setelah dia mengeluarkan pernyataan itu. Mata suster Hong saat itu juga membulat, rahangnya jatuh sehingga hanya dapat melongo. Tubuhnya seketika bergetar melihat kilatan marah dari Suho.

Dengan pasti, Suho menggenggam tangan Irene dan menerobos kerumunan orang tersebut. Kemudian meninggalkan tempat itu. tampak beberapa orang sedang berbisik, ada yang kagum serta ada yang bertanya-tanya.

Tanpa Irene sadari, Luhan sedang memerhatikannya dari balik tembok. Wajahnya khawatir, tetapi tidak mau mendekat. Takut menyakiti hati Irene lagi. Ia hanya dapat mengintip dari balik tembok dengan nyali ciut. Perasaannya tak kalah hancurnya dengan Irene saat ia mengatakan kalimat bejat itu kepada Irene yang tak bersalah. Mungkin, ini adalah karma untuknya.

Angin berhembus menerbangkan anak rambut Irene. mereka –Irene dan Suho- sedang duduk di taman atas atap. Belum ada pembicaraan sejak Suho menariknya kesini. Irene-pun masih shock saat mendapati Suho sudah berdiri dibelakangnya saat ia bertengkar dengan suster brengsek tersebut.

“Apa yang mereka katakan padamu?” kata Suho. “Aku yakin jika kau sampai semarah itu, berarti mereka duluan yang memulai.” Tambahnya.

“Aku sudah biasa di rendahkan seperti itu. bahkan sebelum ada perjodohan ini.” Kata Irene tertunduk sambil memandag jari-jarinya.

“Kenapa tidak cerita?” tanya Suho.

“Untuk apa?”

“Aku tak bisa membiarkan dirimu tersakiti seperti itu! sekarang saja aku tidak bisa menjaga dirimu, bagaimana aku akan menjagamu nantinya? Kumohon, jangan sembunyikan apapun dariku! Aku tak mau kau menanggung beban sendirian.” Kata Suho.

“Itulah alasan aku ingin menyembunyikan perjodohan ini. Aku tahu ini bakal terjadi.” Ucap Irene. kemudian Suho menggenggam tangan Irene dan meletakkan kepala Irene ke pundaknya.

“Aku tahu. Bahkan aku sudah tahu tentang hubunganmu dengan salah satu dokter disini. Kalau kau siap kau boleh cerita.” Kata Suho.

“Aku tahu sakit itu seperti apa. Aku tahu melebihi siapapun. Suho, aku tahu aku belum jatuh cinta kepadamu. Tapi aku akan berusaha.” Ucap Irene dengan bergetar.

“Jangan sok kuat kalau hanya ada aku.” Kata Suho. Dan saat itu juga air mata Irene menyeruak membuat sungai-sungai kecil di pipinya.  “Jangan munafik dihapanku aku tidak suka. Kalo sakit bilan sakit, Kalau marah bilang marah.”

“Kau tahu dari siapa tentang itu?” tanya Irene sambil terisak.

“Kakakmu, Yoona.” Jawab Suho pendek.

Di tempat lain, Luhan sedang duduk berhadapan dengan seorang psikolog. Wajahnya terlihat serius saat ini. Bapak paruh baya berkepala botak itu terlihat menopang tangan di atas meja sambil memainkan pulpennya sebelum membuka percakapan mereka.

“Apa yang anda keluhkan?” tanyanya.

“Sulit tidur.” Jawabnya.

“Kenapa kau malah ke psikolog sepertiku?” tanya bapak itu sambil terkekeh.

“Jika aku tidur pasti memimpikan dua orang. Membuatku stress.” Kata Luhan. “Aku dulu mempunyai seorang kekasih saat sekolah menengah. Tetapi, beberapa tahun kemudian dia meninggal karena penyakit jantung. Itulah yang membuatku sekarang menjadi dokter. Tetapi, saat sekarang aku mulai menyukai seseorang yang baru, dia selalu muncul di mimpiku seperti memberi perintah jangan mendekati orang yang kusuka saat ini.”

“Lalu?”

“Lalu? Karena aku dilanda mimpi yang sama selama 2 minggu, aku akhirnya memutuskan hubunganku dengannya. Tetapi, tak bisa kupungkiri aku masih menyukainya.” Jawab Luhan.

“Itu hanya halusinasi, kau pasti ada perasaan bersalah atas kematiannya. Maka dari itu walaupun kejadian itu sudah lama, kau terbayang-bayang oleh pacarmu yang dulu. Dan saat memulai hubungan baru dengan orang yang baru, kau pasti awalnya ragu, karena takut menyakiti perasaan kekasihmu dulu. Betul?”

“Ya, kurang lebih seperti itu.” kata Luhan.

“Jadi solusi dari semua itu adalah berusahalah untuk tidak merasa bersalah atas kematiannya. Bagaimanapun juga, jenis kelamin, kematian, itu semua adalah hendak yang kuasa.” Kata psikolog tersebut. “Akan ku sarankan kau untuk mengikuti teraphy.” tambahnya

“Itu akan berhasil?” tanya Luhan.

“Tentu saja. Jika kau juga ingin sembuh.”

Ini menunjukkan pukul 00.00 KST. Tidak ada kabar appaun yang diberikan oleh Irene kapada Yoona maupun ibunya. Mereka sudah menguhubuni Irene ratusan kali kalau boleh dibilang. Sampai tangan mereka capek. Kegelisahanpun menjalar dihati mereka, ibu Irene masih mencoba menghubungi anak semata wayangnya. Sedangkan Yoona mencari nomor teman Irene di ponselnya.

“Yeoboseyo?”

“Suho, tahu Irene? Sumpah mati aku dan ibu sedang mencari Irene. aku dimana, aku berharap jika kau tak sibuk kau akan membantu kami.” Kata Yoona dengan keputusasaan yang sudah mencapai level maksimum.

“Iya, ya bantu aku. Aku takut dia berbuat macam-macam.” Kata Yoona sambil menggigit kukunya saking khawatirnya. Ibu Irene duduk di sofa sambil berusaha menelpon anaknya.

Kemudian Yoona kembali mencoba menghubungi seseorang, ‘Yeoboseyo?”

“Ne. Kau tahu Irene? eum.. apa kau bersamanya? Tidak apa aku hanya tanya.” Kata Yoona disambungan telepon, rupanya orang yang ditelpon adalah Luhan.

Suho baru saja turun dari mobilnya dan supirnya sedang menurunkan barang-barang yang akan ia bawa untuk kunjungan ke Jpan beberapa hari. Saat itu ponsel di sakunya berdering, ia melihat bahwa pemanggil adalah Yoona.

“…..”

“Ne noona?”

“….”

“Ok aku akan berusaha mencarinya sekarang juga”

“…..”

“Baiklah, ya.. ya…” kata Suho kemudian memanggil supirnya. “Pak, saya tidak akan pergi ke Jepang. Aku akan membawa mobilnya, anda telepon yang lain untuk menjemput. Katakan kepada ayah bahwa aku pergi kerena Irene. dia pasti mengerti.” Kata Suho kemudian masuk di balik kemudi.

Ia melesatkan mobilnya meninggalkan bandara. Dengan kecepatan penuh, wajahnya nampak khawatir, bagaimanapun juga Irene sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang. Sebelah tangannya masih sibuk dengan stir, dan yang lainnya sesekali memencet tombol di layar ponselnya. Ia mencoba menghubungi Irene. Ia teringat bahwa beberapa hari yang lalu ia sempat memasang aplikasi mencari ponsel melalui lokasi. Mungkin dengan itu Suho dapat menemukan Irene.

“Dia di sungai Han? Apa yang akan dia lakukan?” gumam Suho. Ia melemparkan ponselnya ke sembarang tempat. Kemudian memacu mobilnya dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Suho berlari terengah-engah setelah keluar dari mobilnya. Matanya terlihat berkeliling menyapu seluruh sudut are Sungai Han. Hari sudah hampir subuh, ia sangat khawatir karena Irene tidak segera pulang ke rumah. Pikiran-pikiran buruk masih mengaduk otak. Membuat bulu kuduknya meremang. Kawasan Sungai Han mulai sepi, tetapi ia masih belum menemukan Irene di sana. Sungai Han pada waktu hampir pagi seperti ini terasa sangat mengerikan. Kesan indah hanya terlihat saat orang-orang masih beraktivitas di sekitarnya.

Ia masih terus berlari hingga dadanya hampir-hampir sesak. Pada akhirnya ia menemukan seorang gadis yang sedang duduk di bangku menghadap Sungai Han. Demi Tuhan, ia merasa lega setengah mati. Dengan langkah yang pasti, Suho mendekati sosok itu yang sedang membelakanginya.

Suho terlihat menanggalkan mentel yang ia gunakan, kemudian menyampirkannya ke bahu Irene. irene terlihat sedikit terperenjat, tetapi tidak mengubah posisi duduknya sedikitpun. Suho llau duduk di sebelah Irene.

“Kau tahu. Kau membuatku khawatir setengah mati.” Kata Suho. “Kau bisa menceritakan apapun kepadaku, Mademoiselle.” Kata Suho sambil memandang wajah Irene, tetapi wajahnya terhalang rambutnya. “Hei,” kata Suho setelah mendengar Irene sesenggukan.

“Hiks…Hiks,”

“Wae geurae?” kata Suho sambil memegang pundak Irene. kemudian tangan Irene terlihat menutup wajahnya dan mulai mennagis lebih keras.

“Aku tak akan lagi bersikap tegar di hadapanmu. Aku sakit. Aku berkata apa adanya seperti yang kau bilang.” Kata Irene dengan suara serak.

To Be Continue…..

Hello lama update-nya. Maaf banget ya. Soalnya awalnya kepikiran mau selesai sampe Chap 7 aja soalnya takut kalo kalian bosen sama ceritanya. Dan pada akhirnya aku memutuskan lanjut karen nggak tega. Setidaknya jika aku lanjut dan FF ini selesai, kalian nggak bakal penasaran lagi sama ending ceritanya. Maaf kalo chapter ini sangat nggak memuaskan. Maaf banget ya. Komentarnya masih ditunggu T^T

20 tanggapan untuk “[Chapter 8: Fragile] Emerency Love”

  1. Uwaaaaah..
    Aku bacanya marathon thornim..
    Jadi komennya sekalian disini yaaa..
    Aaaah, irene eonni sama suho oppa aja deh thor, luhan oppa jahat#plakk
    Wkwkwkwk..
    Okeh, daebak thornim
    Fighting ne!!

  2. “jangan percaya kepada siapapun yang berjanji dan mengatakan hal-hal manis kepadamu” jadi inget sama luhan..
    Tuhan gak ngasih yang kita mau tapi ngasih yang kita butuhkan..
    Semoga irene jadi sama suho.. ( abaikan)
    Hahahaha
    Lanjut lagi ya….
    Tetap semangat 🙂

    1. huhuhuhu… maaf banget ya T^T aku takut au update soalnya ya gitu deh takut kalo readers bosen. Makasih udah baca dan komentar ❤

    1. kalo soal itu tanyakan kepada rumput yan beroyang aja. aku nggak mau janji2 kekekeke…. makasih udah baca dan komentar

    1. huhehehehe…. kalo jangan end dulu aku nggak bisa janji, coba tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang mesra *ceilah makasih udah baca dan komentar ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s