About Love #4 [Xiumin Vers.] – deagoldea

1459687714442.jpg

 

About Love by deagoldea. series. comedy, romance, school life, teen.

 

Starring by EXO’s Xiumin and OC’s Park Eunhee.

 

Supported by EXO’s member and others.

 

The storyline is purely from my imagination. Don’t be plagiator and siders!

Thanks IRISH for the poster!

Prrevious : Chanyeol

 

Happy Reading!

 

Lelaki ini tampak sedang berlari menuju ke sebuah tempat di sekolahnya. Tentu bukan tanpa alasan lelaki ini berlari seperti orang kesetanan. Ia terlambat dari waktu yang dijanjikan bersama seseorang. Oh, bisa dikatakan seseorang yang spesial kini sedang menunggunya di taman belakang sekolah. Dan Minseok yakin jika gadis itu sudah menggerutu kesal karena ia datang terlambat. Ingin rasanya Minseok menyalahkan Kim seonsangnim yang memberikannya nasihat tidak jelas tentang anggota basket. Yah, dirinya seorang ketua tim basket sekolah dan ditugaskan untuk mencari pengganti Park Chanyeol selama lelaki jangkung itu sakit.

Tidak tanggung-tanggung, bahkan Minseok harus terkurung di ruang guru selama setengah jam hanya mendengar celotehan Kim seonsangnim. Dan berakhir dengan dirinya yang harus meluangkan waktunya nanti sepulang sekolah untuk kembali menyeleksi tim cadangan yang sekiranya pantas untuk masuk ke dalam tim inti. Padahal sepulang sekolah nanti rencananya akan ia habiskan di tempat tidurnya yang nyaman sampai malam.

Oh, seakan kesialan tidak bosan untuk terus mendatanginya, Minseok juga sempat bertabrakan dengan murid tingkat dua di salah satu koridor. Untung siswi itu tidak menahannya terlalu lama. Ah, tampaknya siswi itu bukan salah satu ‘fans’ nya di sekolah. Lagipula siswi itu sedang bersama Baekhyun, meskipun mereka tidak mengakui bahwa mereka menjalin hubungan namun Minseok yakin jika mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.

Oke, lupakan masalah mereka dan kembali ke Minseok. Butuh beberapa langkah lagi untuk sampai ke taman belakang sekolah. Sesampainya di taman, ia langsung melempar pandang ke arah bangku taman yang berada di sudut kanan karena memang biasanya gadis itu selalu menunggunya di sana. Dan jangan lupakan sepasang earphone hitam yang selalu gadis itu bawa kemana pun ia pergi. Haruskah Minseok mengakui jika ia terkadang merasa cemburu pada sebuah earphone? Bahkan gadis itu sangat menyayangi earphone itu.

Benar saja, seorang gadis berambut hitam tengah duduk membelakangi arah datangnya Minseok dengan sepasang earphone menghiasi kedua telinga gadis itu. Benar ‘kan? Earphone itu selalu menemani gadis itu, bahkan mengalahkan dirinya. Heol, aneh rasanya bersaing dengan sebuah earphone. Oke, buang jauh-jauh pikiran tentang ingin membuang earphone itu jika tidak ingin gadis yang sudah berjarak kurang dari satu meter ini mengamuk. Minseok sudah mendudukkan dirinya di samping gadis itu. Seakan tidak mempedulikan Minseok yang baru saja duduk, gadis itu sudah bersiap untuk berdiri sebelum akhirnya Minseok menahan gadis itu.

“Maaf aku terlambat.”

Gadis itu hanya mendengus kesal mendengar ucapan Minseok beberapa sekon yang lalu. Hei, dimana letak kewarasan lelaki ini? Ia sudah menunggu selama hampir satu jam di taman belakang sendirian namun lelaki ini malah datang saat bel masuk sudah akan berbunyi sepuluh menit lagi? Makhluk mana yang memiliki tingkat kesabaran setinggi itu? Siapapun juga pasti akan merasa kesal jika menunggu selama itu. Dan gadis itu memiliki masalah dengan tingkat kesabarannya. Harusnya Minseok tahu itu mengingat mereka sudah saling mengenal hampir tiga tahun lamanya.

“Kau tahu jika aku tidak suka menunggu.” jawab sang gadis dengan nada ketus. Minseok tahu betul jika gadis yang masih duduk di sampingnya ini marah karena keterlambatan dirinya untuk datang. Ingin rasanya Minseok memanggil Kim seonsangnim untuk menjelaskan secara langsung pada gadis ini jika ia memiliki alasan yang masuk akal jika datang terlambat dari waktu janjian mereka.

“Tapi Kim ssaem memanggilku tadi.”

“Apa kau tidak punya ponsel untuk memberitahuku, huh?”

Minseok menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Benar juga, lelaki bermarga Kim ini sama sekali tidak terpikirkan untuk menghubungi gadis ini. Entah mengapa kadar kebodohannya muncul di pagi hari seperti ini. Atau mungkin otaknya sudah terlalu lelah mendengar nasihat Kim seonsangnim dari tadi pagi? Yah, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

“Sudahlah. Aku harus ke kelas.”

Untuk kedua kalinya Minseok mencegah gadis itu untuk pergi dengan menahan pergelangan tangan gadis itu. Gadis bermarga Park itu menoleh dan melempar tatapan bingung sekaligus kesal pada Minseok. Apa lagi yang lelaki ini mau? Belum puas setelah membuatnya menunggu seperti orang gila selama hampir satu jam?

“Aku tahu kau marah karena aku membiarkanmu menunggu. Maafkan aku Eunhee-ya.”

Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban atas permintaan maaf Minseok. Yah, setidaknya ia masih merasa tidak tega setelah melihat wajah Minseok yang tampak sangat menyesali kesalahannya. Mana pernah gadis bernama Eunhee ini tega melihat Minseok yang memasang wajah bersalahnya seperti itu. Ketahuilah, jika Minseok sudah merasa bersalah seperti itu, bisa dipastikan dalam waktu sehari penuh ia akan kehilangan konsentrasinya dalam mengerjakan apapun. Dan Eunhee tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada Minseok hari ini.

“Benarkah? Kau sudah memaafkanku?” tanya Minseok yang dibalas dengan anggukan dari Eunhee. Lelaki itu melempar pandangan bingung sesaat, heran juga mengapa gadis ini dengan sangat mudah memaafkan seseorang. Bahkan setahunya Eunhee bukanlah tipe orang yang dengan gampangnya memaafkan orang lain.

“Tentu saja. Dengan satu syarat.”

Nah! Benar ‘kan? Pasti gadis ini mengajukan syarat saat akan memaafkan seseorang. Minseok sudah hapal betul dengan sikap gadis ini. Jika Eunhee memaafkan seseorang tanpa syarat mungkin adalah hal yang mustahil –setidaknya itu menurut Minseok.

“Traktir aku di café yang ada di ujung jalan sepulang sekolah.”

Tunggu dulu? Sepulang sekolah? Yang benar saja. Ia sudah harus menyerahkan nama-nama pemain cadangan tim basket yang cocok untuk dimasukkan ke dalam tim inti besok. Mana mungkin ia langsung pulang begitu saja meninggalkan tugasnya? Bisa-bisa ia yang dikeluarkan dari tim inti jika terlalu nekat.

“Ta-tapi–”

“Tidak ada penolakan.”

Minseok kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Heol, cobaan macam apa ini? Mengapa Eunhee seakan menyuruhnya memilih antara hobinya atau gadis itu? Yah, memang mereka baru menjalin hubungan beberapa hari yang lalu dan sama sekali belum pernah berkencan. Mungkin saja ini ide gadis itu untuk mengajaknya berkencan bukan?

“Tunggu dulu. Apa kau sedang mengajakku berkencan?”

Tidak, katakan jika Minseok sekarang tidak sedang ingin menggodanya. Pipinya bersemu merah menahan malu. Oh God, sama sekali bukan itu maksud Eunhee mengajak kekasihnya untuk pergi ke café di ujung jalan. Ia hanya ingin mengerjai Minseok saja, tapi mengapa malah jadi seperti ini? Ah, ingatkan Eunhee untuk tidak mengerjai Minseok seperti ini lain kali. Kali ini malah Minseok yang memandangnya dengan senyum jahil.

Aigo, apa kau sudah tidak sabar berkencan denganku?”

Lihatlah, Minseok semakin gencar menggoda kekasihnya. Hei, Minseok benar bukan? Mengingat mereka sudah menjalin hubungan dari beberapa hari yang lalu dan sama sekali belum melakukan kencan pertama mereka, rasanya wajar jika Minseok berpikiran seperti itu. Untung otak cerdasnya itu cukup bermanfaat untuk berpikir tentang maksud gadis ini mengajaknya ke café di ujung jalan. Yah, setidaknya bisa menjadi tameng untuk melindunginya dari amukan Eunhee jika ia memang tidak bisa mentraktir gadisnya hari ini.

“Tidak jadi. Lupakan saja.”

Eunhee segera berdiri dan berjalan meninggalkan Minseok –yang mengekori Eunhee– dengan wajah tertunduk. Ayolah, ia tidak mau wajahnya yang sudah semerah buah apel terlihat oleh siswa lain. Ah, rasanya Eunhee juga tenar mendadak mengingat bahwa ia memiliki kekasih seorang kapten tim basket sekolah. Tidak sedikit yang mendukung namun tidak sedikit juga yang mencibir setiap kali Eunhee berpapasan dengan mereka. Yah, tidak ada yang bisa gadis ini lakukan selain diam saja. Karena menurutnya para ‘fans’ Minseok hanya iri saja dan mereka tidak melakukan hal-hal aneh padanya –setidaknya belum.

Gadis ini melangkah menuju lokernya diikuti Minseok. Sebuah kebetulan yang menarik karena mereka sama-sama akan mengambil buku yang diperlukan dari loker. Oh, jangan lupakan kebetulan lain tentang loker mereka berdua yang bersebelahan. Tunggu, apakah itu masih mungkin disebut kebetulan? Lagipula tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur dengan sedemikian rupa.

“Cih, dasar kekanakan.”

Minseok mengerutkan dahinya bingung saat mendengar umpatan yang diucapkan gadis ini. Bukankah gadis ini baru saja tersipu malu karena ia yang menggodanya? Lantas mengapa mood gadis ini tiba-tiba saja berubah? Minseok melongokkan kepalanya untuk melihat sesuatu yang sedang dipegang Eunhee. Sebuah kertas dengan tulisan tinta merah darah yang sangat mencolok.

 

Jauhi Minseok oppa!

Tidak ada yang boleh memilikinya!

 

Eunhee segera membuat kertas yang berisi ancaman tidak penting itu –menurut Eunhee– menjadi sebuah bola kertas dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Heol, ulah para penggemar Minseok sudah membuatnya gerah. Bagaimana tidak? Mereka sudah terlalu lancang dengan mengirimkan pesan teror seperti itu. Oh, jangan anggap Eunhee akan diam saja setelah mendapat surat seperti itu. Akan ia pastikan jika orang yang mengiriminya surat itu akan terbaring di rumah sakit. Jangan pernah anggap Eunhee sama seperti gadis dalam cerita fiksi yang akan diam saja jika diperlakukan seperti ini. Gadis ini sepenuhnya berbeda, tidak akan segan-segan melawan jika ada yang mencari masalah dengannya.

Minseok sendiri tampak acuh. Yah, ia tidak mau jika ia yang dijadikan sasaran amukan Eunhee. Minseok sudah pernah merasakannya dan ia tidak mau menjadi korban untuk yang kedua kalinya. Perlu diketahui jika Eunhee akan menjadi sangat menyeramkan jika sudah mengamuk. Bisa-bisa korbannya berakhir di ruangan serba putih berbau obat yang menyengat. Untung saja Minseok tidak separah itu.

“Sudahlah. Tidak perlu emosi.”

“Tapi para penggemarmu yang memulainya.”

Eunhee sengaja menekan kata penggemar agar Minseok mengerti. Hei, tidak mudah untuk menjadi kekasih seseorang yang populer dan memiliki banyak penggemar. Minseok hanya tersenyum singkat dan merangkul Eunhee.

“Biarkan saja. Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal buruk pada gadisku.” ujar Minseok sambil mengacak rambut Eunhee pelan. Gadis itu hanya berdecak sebal dan melepaskan rangkulan Minseok. Berhubung bel masuk belum berbunyi, akan sangat memungkinkan jika ada beberapa orang yang masih lalu lalang di tempat mereka berdiri sekarang. Dan Eunhee tidak mau jika hubungannya dengan Minseok terlalu diumbar.

“Minseok hyung.”

Keduanya langsung menolehkan kepala ke sumber suara. Seorang lelaki berambut hitam sedang berjalan mendekati mereka. Tentu Minseok kenal lelaki itu, bahkan ia satu tim dengan lelaki bermarga Kim itu di tim basket sekolah. Memang umurnya lebih muda satu tahun jika dibandingkan dengannya.

“Ada apa?”

“Hai Eunhee noona! Lama tidak berjumpa.” sapa Jongdae pada gadis yang berdiri di samping Minseok. Lelaki yang berstatus sebagai kekasih Eunhee itu hanya mendelik sebal setelah Eunhee membalas sapaan Jongdae dengan senyumannya. Heol, apa Jongdae ingin mengerjainya? Tadi ia memanggil Minseok tapi kenapa yang disapa malah Eunhee?

“Ada apa?” tanya Minseok sekali lagi. Jika didengarkan secara detil, terselip nada ketus di balik pertanyaan Minseok dan Eunhee merasakannya. Ia segera menahan tawa, pasti lelaki ini cemburu dengan kedekatan Jongdae dan dirinya. Yah, ia lebih dulu mengenal Jongdae daripada Minseok, hal yang wajar jika ia bersikap seperti itu pada tetangganya ini bukan? Sekedar informasi, Jongdae merupakan tetangga Eunhee, jarak rumah mereka hanya berkisar beberapa rumah saja.

“Tadi Kim ssaem menitipkan pesan untukmu. Jangan lupa sepulang sekolah hyung harus menyeleksi beberapa anggota cadangan yang bisa menggantikan Chanyeol hyung.”

“Hanya aku saja?” tanya Minseok memastikan. Astaga, kesialan apa lagi sekarang yang datang? Tidakkah kesialan merasa bosan untuk terus mendatanginya hari ini? Ingin rasanya Minseok mengumpat sepuasnya hari ini. Apa keberuntungan tidak ingin mendatanginya? Ayolah, Minseok sangat membutuhkannya hari ini.

“Ya. Tadi Kim ssaem bilang jika tim inti hari ini bisa libur latihan dulu sementara hyung menyeleksi tim cadangan.” jawaban Jongdae sekian sekon yang lalu membuat Minseok memejamkan matanya –untuk menenangkan emosi yang sudah akan meledak. Astaga, apa seburuk itukah kelakuan Minseok di masa lalu sampai-sampai harus menerima kesialan beruntun seperti hari ini? Sementara anggota tim yang lain bisa langsung pulang ke rumah, dirinya malah disibukkan untuk menyeleksi tim cadangan. Dimana letak keadilan, huh?

Jongdae dan Eunhee hanya menahan tawa melihat ekspresi wajah Minseok. Sangat terlihat jika lelaki itu sedang dalam mood yang buruk. Hei, siapa yang akan baik-baik saja jika dihadapkan dengan kesialan beruntun dalam satu hari? Minseok memang lelaki yang cukup sabar, tapi tidak untuk hari ini. Oh, ingatkan Minseok untuk melayangkan protesnya pada Kim seonsangnim nanti. Tapi tunggu, jika ia melayangkan protes maka posisinya sebagai kapten tim yang terancam. Bisa saja posisinya juga diganti dengan pemain cadangan –sama seperti Chanyeol.

“Apa Kim ssaem memiliki dendam padaku, huh?” umpat Minseok dengan nada sebalnya. Sementara Jongdae dan Eunhee hanya tertawa mendengar nada bicara Minseok yang sama sekali tidak bersahabat itu.

“Sudahlah, jalankan saja perintah Kim ssaem. Posisimu sebagai kapten bisa terancam jika mengajukan protes.” ujar Eunhee seraya menepuk pundak Minseok. Lelaki itu hanya berdecak kesal mendengar jawaban santai dari kekasihnya.

“Lalu bagaimana dengan kencan kita?” tanya Minseok. Eunhee tampak mengerutkan keningnya, benar juga. Bagaimana dengan kencan mereka? Diundur lagi? Perlu diketahui jika ini bukan pertama kalinya mereka mengundur waktu kencan mereka. Alasannya juga bermacam-macam, mulai dari Minseok yang sibuk latihan sampai Eunhee yang sibuk mengerjakan tugas yang menumpuk. Sudah beberapa kali mereka merencanakan untuk berkencan namun akhirnya terpaksa gagal.

“Mungkin lain waktu.” jawab Eunhee singkat, terselip nada sedih di balik jawabannya. Yah, Minseok tahu jika Eunhee sangat berharap bisa berkencan dengannya. Aneh rasanya, padahal mereka sudah menjalin hubungan tapi belum pernah berkencan. Minseok juga ingin memiliki waktu luang untuk mereka berkencan, tapi rasanya dewi fortuna memang belum berpihak padanya kali ini.

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang nanti.” ujar Minseok sambil mengusap puncak kepala kekasihnya. Yah, ia merasa bersalah sekarang. Ia selalu sibuk dengan urusannya namun dengan relanya Eunhee bersedia menjadi kekasihnya. Tentu gadis itu tahu seberapa sibuknya Minseok, lelaki itu harus bisa membagi waktu untuk sekolah, basket, keluarga, dan dirinya. Minseok merasa menjadi lelaki egois sekarang.

“Tidak apa-apa. Aku bisa pulang bersama Jongdae.”

“Maafkan –tunggu, apa?!”

Minseok yakin seratus persen jika telinganya masih berfungsi dengan baik dan tidak ada gangguan apapun pada telinganya. Eunhee akan pulang bersama Jongdae? Tidak, ia tidak boleh membiarkan itu terjadi. Hei, Eunhee ini kekasihnya bukan kekasih Jongdae. Mana boleh gadis itu pulang bersama Jongdae.

“Iya, aku akan pulang bersama Jongdae. Benar ‘kan?” tanya Eunhee pada Jongdae yang sedari tadi hanya diam saja. Eunhee seolah memberikan kode pada Jongdae untuk mengatakan iya melalui tatapan matanya. Seolah mengerti, Jongdae hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Eunhee barusan.

“Tentu, aku bisa mengantarkan noona sampai dengan selamat.” jawab Jongdae dengan senyum tanpa dosa di wajahnya. Tidakkah bocah itu tahu jika Minseok sedang menahan kekesalan padanya? Apa wajah Minseok yang cukup memerah tidak cukup untuk membuktikannya? Tidak mungkin juga ia menunjukkan kekesalannya secara gamblang, ia tahu Eunhee sedang ingin menggodanya saat ini. Jika ia menunjukkan kekesalannya, maka Eunhee akan menertawainya sekeras mungkin.

“Ah, kurasa aku ingin mampir dulu di café ujung jalan. Apa kau keberatan untuk menemaniku?”

Apa lagi ini? Belum puaskah Eunhee melihat wajah Minseok yang sudah cukup merah?

“Tentu saja tidak. Aku akan menemanimu noona.”

Demi apapun, ingin rasanya Minseok menghilang dari tempat itu. Ah, ingatkan Minseok untuk menandai tanggal hari ini di kalender sebagai hari tersial sepanjang masa.

“Baiklah, sampai nan–”

“AKU BENCI HARI INI!”

 

-END-

 

 

Cuap-cuap dulu deh. Sebelumnya mohon maaf banget soalnya makin hari updatenya makin lama. Banyak banget gangguan waktu mau update dan akhirnya malah gajadi. Gara-gara kehidupan pribadi juga sih yang minta diperhatiin jadi gapunya waktu buat update dan lanjutin series yang lain. Kayaknya gaperlu disebutin satu satu deh ya apa aja gangguannya, saking banyaknya gitu XD

Oh ya, ada yang nungguin lanjutan series ini? Nggak ada? Yaudah, ga nuntut banyak yang baca kok. Yang penting cuma nyalurin ide-ide gila yang muter di otak aja. Sayang kan daripada dibuang idenya mending dijadiin fanfic. Ide itu mahal kalo kata orang mah XD

Thanks buat readers yang aktif komen maupun yang jadi siders aja. Big thanks buat readers yang munculin dirinya di kolom komentar. Duh pengen kukasih hadiah rasanya yang aktif itu XD

Dikit aja cuap-cuapnya deh, yakin juga gabakal dibaca cuap-cuap gajelas ini XD

Mind to review? Silahkan di kolom komentar

Regards,

Dea

One thought on “About Love #4 [Xiumin Vers.] – deagoldea”

  1. Hahaha.. kencanya gagal lg gagal lg..wkwkwk
    Yg sabar ya minseok oppa, nanti jga ada waktunya untk brkencan kok Mungkin..hahaha

    Izin bca lg ya kakk 🙂 hehe ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s