Dating After Marriage [Chapter 5] – Cheonggyecheon Stream

Dating After Marriage Poster

Dating After Marriage [Chapter 5] – Cheonggyecheon Stream

A chaptered story by nokaav3896 ׀ Starring [EXO’s] Sehun and [Red Velvet’s] Irene ׀ It’s a marriage life and labeled as PG17 ׀ OCs and plot are mine. Members belong to you!

 Previous Chapter: [1][2][3][4]

©nokaav3896 – 2016

 

Irene kesal setengah mati lantaran kencan Yeouido Park yang seharusnya berjalan romantis malah berakhir di salah satu kedai kopi dengan Kim Junmyeon di hadapan mereka. Kim Hyunwoo–bocah laki-laki berusia kurang dari dua tahun yang duduk di pangkuan Junmyeon sekarang–terus saja mengulurkan tangan kepadanya seolah minta gendong.

“Kebetulan sekali kita bertemu di Yeouido, Oh Sehun-ssi.

Sehun tersenyum tenang–seratus delapan puluh derajat dengan Irene yang sejak pesanan mereka datang sudah bernafsu ingin menumpahkan Americano-nya ke puncak kepala Junmyeon dan menghancurkan tatanan rambut sok tampan itu.

“Ya, kebetulan sekali.”

“Aku sedang berjalan-jalan dengan Hyunwoo, kurasa dia akan senang melihat cherry blossom bermekaran disini,” Junmyeon mengacak rambut pirang Hyunwoo membuat bocah itu tertawa lucu, “mungkin bisa membuatnya nyaman tinggal di Korea.”

“Berapa usianya?”

Sehun menoleh, sedikit terkesiap mendengar pertanyaan barusan meluncur dari bibir Irene. Perempuan itu apalagi–dia merasa hanya menanyakannya dalam pikiran dan tertegun saat menyadari telinganya dapat menangkap pertanyaan itu.

“Belum genap dua tahun. Satu tahun sekian. Dia lahir beberapa bulan setelah aku menikah dengan mantan istriku. Beberapa bulan setelah kau–“

Irene bisa saja melempar handphone dalam genggamannya kalau Junmyeon benar-benar melanjutkan kalimatnya. Terima kasih kepada Sehun yang memotong ucapan laki-laki itu dengan memasang ekspresi konyol pada Hyunwoo yang membuat bocah itu tertawa keras.

“Astaga lucu sekali,” ujar Sehun sembari mengerling singkat pada Irene, “kurasa kita harus berusaha lebih keras supaya cepat punya bayi dan aku bisa menghabiskan waktu lebih menyenangkan daripada berkutat dengan laporan.”

Junmyeon tersenyum.

“Kim Junmyeo­n-ssi,” Sehun melanjutkan ucapannya, “apa kau memang sering menghabiskan waktu dengan Hyunwoo?”

“Aku harus,” Jumnyeon membenahi duduk Hyunwoo dan kembali menatap Sehun, “ibunya meninggalkanku. Sampai aku mendapatkan ibu baru untuknya, aku tak punya pilihan lain.”

“Kau bisa membayar babysitter, Kim Junmyeon-ssi.” Irene menanggapi dengan cepat–terlanjur gusar lantaran laki-laki itu seolah sengaja membahas pertemuan mereka sekitar dua minggu lalu dimana Kim Junmyeon memintanya untuk menjadi ibu bagi putranya.

“Aku tak merasa dia akan baik-baik saja dengan babysitter, Irene-ssi. Aku termasuk salah satu yang percaya babysitter punya kemungkinan melakukan hal buruk padanya. Meskipun aku tak yakin apa dia adalah putra–“

“Kau juga harus percaya kisah Cinderella bahwa ibu tiri mungkin saja bertindak jahat pada putramu.”

Junmyeon hendak menanggapi kalimat Irene tepat sebelum Sehun berdeham. “Aku…tahu kalian adalah sepasang kekasih tempo lalu,” ujarnya santai, “tapi aku suaminya sekarang dan aku merasa paham kemana arah pembicaraan ini. Jadi, bisakah kita berhenti? Aku tahu ini sedikit kurang sopan, Kim Junmyeon­-ssi, tapi bisakah aku dan istriku pamit pulang? Kurasa dia mulai lelah dan Kim Hyunwoo sudah menguap beberapa kali.”

Junmyeon tersenyum, melirik Hyunwoo yang kebetulan tengah menguap sebelum kembali pada Sehun dan Irene. “Tentu saja. Kurasa aku juga harus meminta maaf, Oh Sehun-ssi. Kalau boleh kukatakan, istrimu masih sangat cantik. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menujinya.”

“Terima kasih,” Sehun mengangguk sebelum bangkit berdiri, “terima kasih kepadamu yang telah melepasnya hingga bertemu denganku, Kim Junmyeon-ssi. Kuharap kau tidak menyesal.”

.

.

“Kau berbohong padaku.”

Adalah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Sehun begitu melangkah masuk ke dalam apartemen. Lelaki itu melepas parka yang membalut tubuhnya beberapa saat lalu, menaruhnya di gantungan, dan berjalan lurus menuju ruang televisi tanpa menoleh ke belakang. Irene di belakangnya–senyum yang terus terulas selama berada di dalam mobil lantaran kalimat keren Sehun yang terlontar untuk Junmyeon sebelum mereka berpisah langsung lenyap begitu saja.

Jantungnya berdebar tak karuan; bukan karena bahagia atau tersipu seperti biasanya–perempuan itu takut. Nada bicara Sehun tak pernah sedingin itu sebelumnya.

“Aku baru saja bilang kau bohong padaku,” Sehun berujar sembari menekan tombol on pada remote televisinya, “aku benar kalau kau diam saja.”

“Aku memang menemuinya tempo hari.”

“Kau tidak menghargaiku.”

“Sehun,” Irene menyusul Sehun ke sofa dan melempar tubuhnya tepat di samping kiri, “aku tidak bermaksud–“

Sehun menatap televisi. Bukan menonton, hanya mencari obyek lain untuk dipandang selain Irene. “Seharusnya aku membuat sebuah perjanjian denganmu sebelum percaya begitu saja. Kupikir kau berbeda.”

“Apa maksudnya?”

“Kau tahu, sibuk bekerja bukan satu-satunya alasanku tak pernah berkencan.” Sehun melepas tangan kanan Irene yang baru saja melingkari lengan atasnya. “Pengalaman ditinggalkan adalah yang membuatku enggan kembali berkencan.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Mendengar ibuku bercerita tentang seorang gadis bernama Irene yang ditinggalkan tunangannya untuk menikah dengan perempuan Jepang–kupikir kita punya latar belakang yang sama yang membuat pernikahan ini akan berhasil karena perasaan senasib. Aku percaya kau tahu rasanya ditinggalkan dan tak akan melakukan hal yang sama padaku.”

“Aku sudah bilang tidak akan meninggalkanmu, Sehun-ah.

“Kau sudah meninggalkanku dengan menemui Kim Junmyeon tanpa memberitahuku, Irene,” ujar Sehun, “kau tahu apa yang paling membuatku sakit hati hari ini?”

Irene diam–tak ingin menanggapi.

“Saat aku ingat kau bahkan berdandan di depan cermin sebelum menemui laki-laki itu seolah berharap dapat kembali menarik perhatiannya.”

Irene membelalak. “Oh Sehun-ssi, aku tidak serendah itu! Aku menemuinya untuk bilang–“

“Aku tidak ingin berdebat.” Sehun memotong. Mengangkat remote televisinya dan menekan tombol off sebelum bangkit dari sofa. “Tidurlah. Aku tidur di kamar tamu, kau bisa mengetuk pintunya kalau terjadi sesuatu.”

Lelaki jangkung itu melangkah, meninggalkan Irene yang menatap punggungnya sembari termenung. Rasa kesal atau perasaan bersalah–entah mana yang tengah menguasai emosi perempuan itu. Yang jelas, satu detik kemudian, satu tetes air mata meluncur dari sudut matanya.

.

.

Aku tidur di kamar tamu–adalah kalimat Sehun yang terus saja berputar di kepala Irene bahkan setelah berendam nyaris dua jam dalam air hangat. Sepercik perasaan tak diinginkan tiba-tiba menguasai dirinya. Irene benci tak diinginkan. Irene benci Sehun menghindarinya. Irene merasa dirinya tiba-tiba berubah menjadi perempuan hina hanya karena menemui Kim Junmyeon. Merasa menjadi perempuan hina karena Sehun bahkan tak lagi ingin tidur bersamanya.

“Aku harus bagaimana?”

.

.

Irene bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk Sehun berbekal buku resep digital yang ada di handphone-nya. Juga sembari mengingat-ingat pelajaran memasak yang ia dapat dari Suzy dan ibunya beberapa hari lalu. Seafood soup yang tersaji di meja makan dengan uap yang masih mengepul jelas tak mungkin gagal menggugah nafsu makan–dan Irene berharap Sehun kembali melunak pasca menghabiskan sarapannya nanti.

Perempuan itu melirik kamar tamu yang masih tertutup rapat sebelum melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Kalau menuruti jam masuk kantor normal, suaminya itu jelas sudah terlambat tiga puluh menit.

“Dia…nggak mungkin sakit ‘kan…” Irene menggumam pada dirinya sendiri sembari berjalan menuju kamar tamu. Sesampainya di depan pintu, Irene hanya mematung. Bimbang antara harus menunggu atau mengetuk. Pertengkaran dengan Sehun semalam membuat pikirannya bekerja dua kali lebih keras sebelum memutuskan sesuatu.

Saat perempuan itu akhirnya memutuskan untuk langsung membuka pintu, Irene terkesiap lantaran kamar tamu sudah kosong. Tempat tidurnya sudah rapi, dan tak ada siapapun disana–tak ada Sehun.

“Sehun?”

Hening.

Irene melangkah masuk untuk mengecek kamar mandi. Pintunya tak terkunci dan kosong. Kamar tamu benar-benar kosong. Tak ada siapapun.

Irene berbalik menuju ruang tengah untuk mengambil handphone-nya dan menelepon Oh Rion–dia tidak siap mendengar jawaban langsung dari Sehun, omong-omong–kemungkinan kakak iparnya itu tahu keberadaan Sehun cukup besar karena mereka bekerja di gedung yang sama meski ada di departemen yang berbeda. Setelah menunggu cukup lama, suara jahil laki-laki yang seumuran dengannya itu terdengar dari seberang telepon.

Halo, adik ipar, ada apa?”

Irene terdiam, tiba-tiba gamang lantaran khawatir kalau sampai laki-laki itu tahu masalahnya dengan Sehun.

“Irene, kau baik-baik saja?”

“Oh, ya. Aku…hanya berencana mengantar makan siang untuk Sehun nanti. Dia ada di kantornya ‘kan?”

“Dia tidak bilang padamu ada tugas ke Singapore selama tiga hari? Dia sudah sampai di kantor pagi ini sekitar pukul enam dan langsung menuju Incheon. Dia tidak bilang padamu?”

Deg.

.

.

Irene kecewa–entah kepada dirinya sendiri atau kepada Oh Sehun. Laki-laki itu pergi ke luar kota selama tiga hari dan tidak mengucapkan ‘selamat tinggal-sampai ketemu’ sedikitpun. Tidak secara langsung, pun melalui pesan singkat. Dan hal ini terjadi tepat setelah mereka bertengkar karena Kim Junmyeon.

“Kak,” Suzy melambaikan tangannya di depan mata Irene yang tengah melamun, “mau pulang ke rumah sementara kakak ipar di luar negeri?”

Irene menggeleng, senyum samar terulas di sudut bibirnya. “Kamu mau Kak Soobin mendatangi Sehun dan melempar perabotan rumahku ke wajah tampannya?”

Suzy tertawa, tiba-tiba ingat kejadian nyaris dua tahun lalu dimana kakak laki-lakinya berlari menuju rumah mewah Kim Junmyeon di pusat kota Seoul dan memecahkan jendela kaca kamar Junmyeon pasca mengetahui kejadian malang yang menimpa Irene.

“Aku lebih memikirkan nasib Kak Soobin yang bisa saja dilaporkan ke polisi karena tuduhan perusakan sih,” Suzy menjawab tenang, mengangkat satu buah strawberry ke bibir kakaknya, “tapi aku sungguh penasaran apa yang membuatmu menemui Kim Junmyeon.”

“Empire menawarkan kerjasama dengan Ostech Corporation untuk program pengadaan smartphone bagi siswa Empire High School. Kim Junmyeon melakukannya dengan sengaja.”

“Lalu?”

“Aku menemui Kim Junmyeon untuk memperingatkannya,” Irene mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas berisi air mineral sebelum melanjutkan, “memperingatkannya untuk jauh-jauh dari Sehun dan aku.”

“Tapi?”

Irene terdiam, menatap Suzy yang balas menatapnya dengan serius. “Dia memberitahu hubungannya dengan Myoui Sola sudah berakhir dan mendapat hak asuh Kim Hyunwoo–dia bilang padaku butuh ibu baru dan bilang padaku tak pernah mencintai perempuan lain selain aku.”

Suzy tertawa mengejek. Perempuan muda itu juga sudah tahu kebusukan Kim Junmyeon sebelumnya. “Kak Irene percaya?”

“Tidak pernah,” Irene menggeleng, “aku tahu Junmyeon memang sering bersama wanita lain bahkan selama bersamaku. Tapi dia sempat mencoba mengatakan padaku kalau Kim Hyunwoo bukanlah anaknya.”

Suzy tersedak buah strawberry yang belum genap tiga detik memasuki rongga mulutnya dan Irene buru-buru memberikan gelas air mineralnya.

“Kau percaya?”

Irene menghela napas panjang. “Aku tidak ingin mempercayainya tapi entah mengapa hatiku percaya Junmyeon mengatakan yang sebenarnya.”

.

.

Dua hari berlalu tanpa kegiatan yang berarti bagi Irene selain merindukan Oh Sehun dan memikirkan status Kim Hyunwoo.

Bocah laki-laki itu sejujurnya sangat menarik perhatiannya–dan Sehun menyukainya. Irene pernah melihat Myoui Sola secara langsung dan Hyunwoo hanya mirip Sola–bukan Junmyeon. Tapi, kalau memang Kim Hyunwoo bukanlah putranya, mengapa Kim Junmyeon bersedia menikahi Myoui Sola; memberikan marganya untuk bayi itu; memperjuangkan hak asuh Kim Hyunwoo?

“Ah,” Irene menjatuhkan tubuhnya hingga dalam posisi berbaring di sofa ruang televisi, “aku bisa gila.”

Hening.

Sepuluh menit berlalu dalam keheningan. Irene masih di tempatnya–memikirkan Kim Hyunwoo, dan mengecek smartphone-nya barangkali Oh Sehun menelepon. Irene merindukannya. Sangat.

Ting!

Interkom apartemennya berbunyi–membuat perempuan itu bangkit dari sofa mendadak. Suzy sudah pulang; Bae Soobin ada di luar negeri; ayah dan ibunya berlibur di Jeju; Kim Junmyeon?

Irene berjalan perlahan menuju pintu untuk melihat siapa tamunya kali ini sembari berharap semoga bukan Kim Junmyeon.

“Adik ipar! Buka pintunya!”

Ah!

Irene menghela napas lega begitu melihat wajah tampan Oh Rion dan suaranya terdengar dari interkom. Laki-laki itu menunjukkan tas plastik berwarna hitam di kamera interkom sembari melambai-lambai.

“Tunggu sebentar.”

.

.

“Kurasa dia tidak serius memulai pertengkaran denganmu, Irene-a.” Oh Rion membuka percakapan sembari mengupas kulit jeruk untuk kemudian diberikan pada Irene. “Sehun sedang banyak pikiran.”

“Tapi aku tidak menyangkal kalau aku memang salah. Aku menemui Kim Junmyeon tanpa ijinnya. Aku maklum dia marah padaku tapi aku benar-benar kecewa karena dia pergi tanpa pamit. Aku bahkan sudah bangun lebih awal demi membuat seafood soup.

Oh Rion tertawa mendengar curhatan polos adik iparnya. “Dia pulang besok.”

Irene mengangguk paham. “Tapi, omong-omong, dia memberitahumu kalau sedang bertengkar denganku?”

“Aku sudah curiga saat kau meneleponku menanyakan keberadaannya,” Oh Rion menghabiskan yoghurt anggur-nya dalam satu tarikan napas sebelum mengulurkan yoghurt lain kepada Irene, “aku langsung meneleponnya dan bukan Oh Sehun namanya kalau tak bersuara.”

“Ah, aku benar-benar malu sekarang.”

“Kau boleh ceritakan masalahmu padaku, Irene. Terutama yang ada hubungannya dengan adikku–langsung ataupun tidak.”

“Terima kasih,” Irene tersenyum, “aku benar-benar menghargai ini. Terima kasih dan maaf merepotkan.”

“Yah, sebenarnya bukan kau yang merepotkan. Sehun jauh lebih merepotkan. Dia suamimu, kau harus menghormatinya. Tapi jangan melupakan fakta paling penting bahwa dia tiga tahun lebih muda darimu. Oh Sehun itu luar biasa childish, Irene.”

.

.

Irene melangkahkan kakinya sembari menikmati pemandangan warna-warni yang terpancar dari air terjun mini di Cheonggyecheon Stream. Perempuan itu tak pernah sebosan ini sebelumnya. Jauh dari Sehun dan tanpa kabar sama sekali benar-benar bukan hal yang bagus. Sejujurnya, dia ingin menghabiskan malam ini bersama Suzy–sayang, perempuan itu sudah ada janji dengan Byun Baekhyun.

Berjalan sendirian memang bukan hal yang baru bagi Irene namun mengingat statusnya yang bukan lagi single, entah mengapa rasanya menyakitkan.

“Sendirian, Nona?”

Irene malas menanggapi pemuda-pemuda nakal yang menggodanya. Inilah kerugian berjalan seorang diri. Menjadi sasaran kejahilan anak-anak SMA atau mahasiswa kurang kerjaan yang–

–tunggu dulu.

Irene tidak asing dengan suara barusan. Perempuan itu menoleh ke kanan dan mendapati Oh Sehun membawa dua batang permen kapas sembari tersenyum–masih mengenakan jas kerja.

Surprise!”

Sehun mengulurkan salah satu permen kapasnya kepada Irene kemudian memakan miliknya sendiri sembari menatap air terjun warna-warni di hadapan mereka.

Surprise katamu?”

Hmm,” Sehun mengangguk santai, melanjutkan kegiatan menghabiskan permen kapas berwarna merah muda di tangannya, “aku sedang membuat kejutan dengan pulang lebih awal.”

“Aku nyaris mati karena kecewa, Oh Sehun.”

“Dan aku bersyukur kau masih hidup.” Sehun tertawa, memukul puncak kepala Irene dengan bagian bawah tongkat permen kapas yang bersih dari gula-gula. “Aku sudah dengar dari Oh Rion dan Bae Suzy kalau kau benar-benar merindukanku.”

Irene terdiam. Malas menanggapi lantaran hatinya sendiri juga bingung harus bersedih atau bahagia.

“Dengar ya,” Sehun menyentuh bahu Irene dengan kedua tangannya, memaksa perempuan itu menghadapnya, “aku bukannya marah padamu.”

“Aku sudah bingung setengah mati mengira kau marah padaku.”

Sehun tertawa. “Aku percaya kau tidak akan kembali pada Kim Junmyeon.”

“Lalu kenapa kita bertengkar malam itu?”

Hmm,” Sehun berdeham, “kita belum bertengkar sama sekali sejak hari pernikahan. Aku ingin mencoba, kira-kira bagaimana rasanya bertengkar dengan–“

“Sehun!”

“Aku serius.” Laki-laki itu tertawa keras. “Aku tidak bisa lagi menahan diriku untuk tidak tertawa setelah masuk ke dalam kamar. Aku tidak tidur semalaman karena membayangkan wajahmu yang panik dan kemudian aku berangkat ke Incheon dengan mata panda yang membuat seluruh karyawan berpikir yang aneh-aneh.”

“Tidak lucu.”

“Aku tidak melucu,” Sehun berdeham, “aku minta maaf karena membuatmu khawatir.”

“Tidak dimaafkan.”

“Aku bukan tipe pencemburu dan aku luar biasa percaya diri kalau wajah ini seribu kali lebih tampan dari Kim Junmyeon. Aku juga tahu kau perempuan pintar yang memikirkan berbagai kemungkinan sebelum memutuskan sesuatu.”

“Pujian tidak diterima.” Irene berbalik, tak lagi memperhatikan Sehun namun memilih untuk memandangi air terjun mini di hadapannya sembari menikmati permen kapas. “Kak Rion terlibat dalam skenariomu?”

Sehun menggeleng. “Dia tidak tahu. Ini adalah skenario solo dimana aku menjalankannya sendirian.”

“Kau senang melihat istrimu nyaris mati–“

“Hey,” Sehun membungkuk demi mendaratkan sebuah kecupan di pipi Irene yang langsung bersemu kemerahan, “kenapa hari ini mudah sekali bagimu mengucapkan kata-kata seperti itu?”

Irene menoleh–menatap Sehun dalam diam sebelum menghambur ke pelukan Sehun dan memeluknya erat. “Kau jahat sekali, astaga.”

Sehun mengulas senyum tipis, melingkarkan lengannya melewati pundak Irene dan mengusap puncak kepala perempuan itu dengan lembut sambil sesekali mengecupnya. “Aku sayang padamu, tahu.”

“Aku tidak akan kembali pada Kim Junmyeon, Sehun-ah. Percaya padaku ya?”

Sehun melepaskan Irene dari pelukannya dan menahan pundak perempuan itu–setengah memaksa wajah cantik itu untuk menatapnya. “Aku percaya.”

“Kalau nanti aku berubah pikiran–“

Ya!”

“–ingatkan aku untuk kembali padamu ya?”

“Permintaan macam apa ini huh?” Sehun berkacak pinggang, mengangkat tongkat permen kapas di tangan kanannya lagi–bermaksud memukul puncak kepala Irene dengan benda itu. Sayang Irene lebih cepat. Tangan mungilnya menahan lengan Sehun di udara.

“Jawab dulu, jangan main pukul.”

Ah,” Sehun mendesah pelan, “sekarang aku yang luar biasa kesal padamu, Nona.”

“Tidak mau?”

“Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu berubah pikiran untuk kembali pada Kim Junmyeon, Nona!”

Irene tertawa riang sebelum melepaskan cengkeramannya dari lengan Junmyeon. Perempuan itu berniat kembali menikmati Cheonggyecheon Stream saat telapak tangan Sehun memalingkan wajahnya–demi mendaratkan sebuah ciuman lembut yang tak bisa dihindari –menciptakan sebuah ‘gambar’ romantis dengan latar belakang Cheonggyecheon Stream.

.

.

“Sehun-ah, kurasa…semakin mendekati seratus persen.”

“Lalu?”

“Kaubilang kita harus berusaha keras supaya bisa punya anak seperti Kim Hyun–“

Ah, lupakan. Sudah kubilang aku akan melakukannya setelah seratus persen. Jadi, tidurlah. Aku punya hadiah untukmu sebagai permintaan maafku.”

“Apa?”

“Bagaimana kalau melihatnya di episode selanjutnya? Aku kelelahan. Kau berubah menjadi pencium yang handal belakangan ini.”

“Sehun!”

“Selamat tidur.”

Tbc.

 

Hahahaha 😀 Halo, ini cepet kaan updatenya? :p Momen Sehun-Irenenya memang lebih sedikit dari episode yang lain-lainnya. Dan fyi, ini bukan ending kok. Ini kayak Descendants of the Sun episode 12 gitu–kelihatan kayak ending tapi sebenernya bukan dan konfliknya akan semakin….apa ya. /Apaan sih Kav 😀

Pokoknya kalau yang mau nungguin yang sabar aja yaa Nokav kebanyakan event di real-life belakangan ini jadi agak susah buat milih diksi. Huhuhu. Sebel. Ini kena writerblock gitu sebenernyaaa. Ada yang mau kasih referensi bacaan bagus biar tulisannya ikutan bagus ga? Novel-novel gitu ehehe 😀 Kalo ada tulis di kolom komentar yaa 😀

Makasyiiiii ❤

Eh, btw lagi, besok antara tanggal 12,13,14 pas ulang tahun Sehun, Nokav punya Dating After Marriage Special Flashback. Jangan lupa dinantikan juga ya! ❤

61 tanggapan untuk “Dating After Marriage [Chapter 5] – Cheonggyecheon Stream”

  1. Keren sangat ceritanya,
    mereka berdua unyuk sama” saling memahami XD
    keep writing! Keep fighting!
    Kapan mau dilanjutt? Semua pada nungguin kelanjutan cerita keren inii…

  2. Sumpahhh dapet banget feel nya.. kesel banget sama si joonmyun.. jangan pernah mikir bakal balik lagi ke joonmyun please.. 🙂

  3. Wahhhhh
    Kak, ceritanya makin seru aja nih sampai2 terbawa suasana…..

    Di tunggu chapter selanjuynya ya kak….
    Jgn lma2….

  4. kak Nokaav.. ini sweetnya kelebihan diabetes ntar :V 😀
    Ohiya kak, yang bagian sblum dialog penutup HunRene itu “cengkramannya dari lengan Junmyeon” emang Junmyeon apa gimna? 😀 wkwks

    Aku readers baru kak. Salam kenal yaahhh 🙂
    semoga dijauhin dari Writers block lah 😀

  5. Huaaaaa udah 100%?? Kok kalopun udah 100% aku malah takut yaah. Semakin kuat biasanya semakin banyak rintangannyah.

    Suka banget sama sweetnya mereka yaampuuunnnnnnn bikin baper sendiri bacanyaahhh ._.

    Ditunggu chapter selanjutnyaahhh!! ^^

  6. Astaga aku nyaris menjerit jerit baca ff ini dr chp 1-5, manis kata2nya, pemilihan diksinya sederhana tpi bikin readers menghanyutkan gitu. Ada yg unik di ff ini 😀

    Oh ada saran nih kali aja nokav bth saran, kalo ff dr awalnya pake bhsa baku terus lanjutin pemakaian bhs bakunya smpe ending, jangan pov ini bahasanya baku tpi pov itu non baku, jangan. Itu terkesan mengganggu 🙂

    ok, next chap nok.. Jgn berenti menulis readers lg sayang2nya sama kamu lho 🙂

    salam kenal, nokaav..

  7. WAAA ASTAGA SEHUNN, HEU keren banget eonnn, kalo novel romance gak begitu ngikutin sih akuu tapi mungkin hmm dear nathan? Saran dari temen juga sih ituu😂 ditunggu special flashback nyaaa aaaaakkkk

  8. Novel romance?
    Karya agnes jessica bagus2 chingu.. Sama sitta karina..
    Okee moga c4 smbuh dr writerblock ya.. Fightiiiingg

  9. Seneng banget ngeliat ini update, iya kak cepet nih 😀
    Demi apapun Sehun lucunya kebangetan, pengen nyoba berantem haha padahal Irene dan yang bacanya pun udah takut banget._.
    Hm, I see
    Kerasa kok, ini emang kesannya kaya ending tapi nyatanya ada konflik besar yang menanti /dor
    Tapi aku ga mau ngebayangin itu dulu, merekanya masih so sweet so sweet-an di sini, jadi mau puas-puasin manisnya dulu haha

    Aku bacanya kebetulan pas hari ini Sehun ultah /lalu?/ wkwk
    Ditunggu ya kak special flashback-nya~
    Oh ya, semoga kak Nokav dijauhkan dari penyakit writer’s block ya :’D

  10. romantisnya ya ampuuuuunnnn! suka banget penyelesaian masalahnya di sini.. konfliknya ada, tapi gak berkepanjangan, salut deh sama ff ini.. lanjut ya author! KEEP WRITING! 😘

  11. duh pengen ngerasain kok ya ngrasain yang namanya ngambek.an
    lucu banget si si sehun.
    kalau novel romance gak banyak tau, karna lebih suka novel terjemahan genre fantasi.
    tapi kalau novel romance indonesia biasanya novelnya ilana tan sama tere liye bagus….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s