SIMPLY US #ONE LATE STEP

Untitled-1 copy

Simply Us

ONE LATE STEP

starring by Kim Minseok and Kim Na Hee (OC)

Series

T

Romance

A.N : cuma fanfict picisan yang dijadikan terapi wb hiks TT^TT

Happy reading~ /kalau minat

*Kringggg

Minseok menoleh kearah pintu café yang terbuka. Dia tersenyum. Gadis itu, sosok itu, akhirnya datang juga. Salah, akhirnya gadis itu kembali. Entah berapa lama waktu yang gadis itu habiskan tanpanya. Apa saja yang gadis itu lakukan tanpanya. Tapi, Minseok tahu, gadis itu akan menceritakan semuanya hari ini.

‘Minseok’

Tidak ada suara, bibir merah muda gadis itu menggumamkan nama Minseok sambil melambaikan tanganya kearah Minseok yang masih sibuk dibelakang meja kasir. Hanya lewat tatapan mata, dan senyuman singkat. Gadis itu, Kim Na Hee duduk disalah satu sudut café. Seperti dengan tatapan dan senyuman dari Minseok yang memintanya untuk duduk disana.

Dada Na Hee berdebar. Ah….ya… dia tidak sabar untuk menceritakan semuanya pada Minseok. Terlihat dari kakinya yang terus membentuk irama dengan lantai marmer.

Dan Minseok, ia tidak bisa berhenti memperhatikan Na Hee yang bergerak gelisah. Ia juga. Sesuatu yang membuat Na Hee gelisah dan sesuatu yang terus berputar dikepalanya. Ia meraba saku apronnya. Bernafas lega karena masih bisa merasakan sesuatu didalam sakunya. Benda yang akan menyelesaikan semua gundahnya masih ada disana.

“Terimakasih, silahkan datang lagi,” Minseok selesai menyelesaikan Americano milik customer terakhirnya. Tanpa basa-basi Minseok mengayun langkahnya ke sudut dimana Na Hee masih mengetuk-ngetuk sepatunya pada marmer di bawahnya. Ia segera berhenti begitu sadar Minseok menarik kursi dan duduk didepannya menopang dagu. Menunggu ceritanya.

“Minseok, kau tidak tahu apa yang terjadi seminggu ini,” Minseok terpaku sesaat pada mata berbinar Na Hee. Tidak, dia memang selalu membeku ketika menatap langsung mata Na Hee. Butuh beberapa detik untuknya agar bisa tersadar dari hipnotis mata Na Hee.

“Jadi ini tentang apa? Kucingmu? Adikmu? Atau…”

“Yi Fan,” lagi, Min Seok menutup mulutnya. Hanya untuk memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.

“Kenapa kau tidak cerita kalau rumahnya ada didaerah rumah kita?”

“O…ohh itu… ku pikir akan lebih baik jika kau mendengarnya langsung dari Yi Fan,” seketika. Jantung yang tadinya berdetak tak karuan berhenti sesaat sebelum detakannya melemah. Dia kira Na Hee akan habis-habisan memarahinya. Tapi…

“Kau memang cerdas Minseok !! Minggu lalu dia datang kerumahku… kau tau? Pasar malam yang buka hanya pada hari Rabu dan Sabtu? Ah iya… kau pasti tahu kita kan biasa kesana. Dia mengajakku kesana !! Dan tebak apalagi yang special?” wajah Na Hee memerah. Senyumnya kian mengembang. Berbanding terbalik dngan Minseok yang mulai merasakan sesuatu yang tak beres.

“…..dia bilang, dia suka padaku. Dia memakaikanku kalung ini lalu, buzzzz…. Kembang api menyala dimana-mana!! Entah bagaimana tapi timingnya tepat sekali” Na Hee menyampirkan rambut hitam sebahunya. Memperlihatkan sesuatu yang menggantung dilehernya. Rantai dan bandul hati berwana keperakkan sederhana yang menjadi mewah berkat keanggunan Na Hee.

Minseok tidak tahu harus merespon apa. Cerita Na Hee memang benar-benar mengaggumkan hingga membuat Minseok kehilangan kata-kata. Fakta bahwa Yi Fan sudah melangkah semakin jauh didepannya ditambah tempat special yang hanya ia kunjungi bersama Na Hee sekarang bukan sesuatu yang special lagi. Fakta itu berkumpul menyudutkan Minseok. Ini saatnya Kim Minseok digantikan oleh Wu Yi Fan.

“Minseok? Kau kenapa?” sial bagi Minseok karena sesaat yang lalu Na Hee mendapatinya melamun sambil memainkan sesuatu dibalik apronnya. Berharap mendapat kekuatan tapi hasilnya malah sebaliknya. Minseok terkesiap. Mengeluarkan tangannya dari dalam saku apron dengan cepat untuk mengembalikan tangannya ke atas meja. Membuat kegaduhan kecil karena benda didalam apron itu juga ikut keluar bersamaan dengan tangannya yang membentur ujung meja.

“Itu… apa?” Minseok bingung kenapa gerakan tubuhnya jadi lambat. Iya tahu apa yang dimaksud Na Hee karena saat ini juga dia melihatnya. Kalung dengan rantai perak dan bandul merpati kecil yang sejak tadi berada di saku apronnya. Benda itu, benda yang tadinya ia pikir akan menyelesaikan semuanya berakhir mengenaskan dilantai. Sama seperti hatinya yang beberapa saat yang lalu jatuh bebas ketanah.

“Aiishhh….kurasa aku salah mengambil apron. Punya siapa yang aku ambil ini? Ah iya, jangan-jangan punya manager,” Minseok menunduk. Mengambil kalung sambil berusaha menghindari tatapan Na Hee.

“Aww…”

“A..ahh maafkan aku, aku tidak melihat tanganmu dibawah sana,” Minseok tersenyum mengiyakan pada seseorang didepannya yang berdiri canggung karena tidak sengaja menginjak tangannya. Tidak, orang ini tidak salah. Dia sendiri yang langsung menunduk tanpa melihat sekitar.

‘Aku gagal, aku terinjak. Kau memang terlahir menyedihkan Kim Minseok,’

“Minseok, kau sungguh tidak apa-apa?”

“H..ah? aku? Tidak, aku tidak apa-apa,” Minseok sadar senyumnya sekarang benar-benar terlihat dipaksakan. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Na Hee karena dia berusaha menghindari tatapan Na Hee dengan pura-pura membersihkan kalung yang tadi ia jatuhkan dengan ibu jarinya. Tapi, salah. Ia mengalihkan tatapannya pada tempat yang salah karena semakin dia melihat kalung itu, semakin ia tertampar kenyataan tentang untuk apa yang akan ia lakukan dengan benda itu? disaat ia susah payah mendapatkannya, tidak mungkin ia membuangnya begitu saja. Perjuangan kerja lemburnya akan sia-sia. Tapi disatu sisi ia juga tidak mau menyimpan benda yang terus menerus menyiksanya dengan kenyataan ia terlambat. Seharusnya ia bisa membiarkan merpati ini bertengger di leher Na Hee meski hanya sebentar.

“Kalau begitu, tidak apa-apa ‘kan kalau aku tinggal?” Na Hee menoleh sekilas pada jendela besar disampingnya. Minseok mengikuti arah mata Na Hee. Mendapati Yi Fan yang baru saja melepas helmnya dan sekarang memperhatikan ia dan Na Hee dari atas motor putihnya.

“Tunggu sebentar…” Minseok mencekal tangan Na Hee tepan sebelum gadis itu bangkit dari kursinya.

“Kau datang sejauh ini. Tapi pergi begitu saja tanpa mendengar ceritaku?” Na Hee kembali duduk. Mempersilahkan Minseok memulai ceritanya dengan tangan yang ia gunakan untuk menopang dagunya.

“Ini cerita lama,… tapi aku baru bisa memberi tahumu,”

Na Hee belum memberikan respon. Masih diam memperhatikan Minseok yang berhenti untuk mengambil nafas dengan tatapan antusias.

“Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu saat kau bertemu Yi Fan. Aku…jatuh cinta pada seseorang…”

Minseok melihatnya. Saat perlahan mata Na Hee berbinar dan bibirnya menahan senyum. Tapi dia tetap belum bergerak dari tempatnya.

“Sejak lama aku menyukainya, tidak aku mencintainya,”

Hening sesaat. Minseok menarik nafasnya lagi. Sementara Na Hee menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ada perasaan bangga, bahagia dan tidak percaya karena akhirnya, Minseok berbicara tentang gadis padanya. Sisi lain dari Kim Minseok yang akhirnya ia tunjukkan.

“Kurasa kau tahu orangnya…” Na Hee menegakkan duduknya. Semakin penasaran dengan nama yang akan keluar dari bibir Minseok.

“Itu…..Kim Na Hee. Namanya Kim Na Hee,”

“APA?”ada hening sebelum Raut Na Hee berubah seketika. Oh iya, semua terlalu diluar ekspetasi Na Hee dan wajah Minseok terlalu serius untuk dikatakan sebagai candaan.

“Kau bercanda, Minseok?”

“Terserah kau menganggapnya apa. Benda ini juga tadinya untukmu,” Minseok meletakkan kalung merpatinya diatas meja. Membuat Na Hee bisa melihatnya lebih jelas daripada saat benda tadi jatuh ke ubin.

“Tapi…kau dan aku… kita…dan Yi Fan…”

“Aku tahu. Kita sahabat. Tidak lebih. Dan kau sudah bersama Yi Fan. Tidak ada celah untuk orang ketiga. Aku tahu aku terlambat. Aku mengatakan ini hanya untuk kau tahu,”

Na Hee mengepalkan tangannya. Tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin pergi, tapi ia tidak mau membuat Minseok semakin terpuruk. Bagaimanapun Minseok sahabatnya, bagian hidupnya. Tapi membiarkan dirinya tetap duduk diam tanpa melakukan apa-apa juga tidak membantu apa-apa.

“…Tapi ada satu hal lagi. Kau selalu melupakan fakta ini,”

Na Hee mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Menatap lurus mata Minseok didepannya yang jga menatapnya dalam. Ia merasakan matanya berat dan wajahnya sekarang pasti kacau.

 

“……Sekarang April Mop,”

“Apa?” lagi, hening. Na Hee masih mencerna tiga kata terakhir yang diucapkan Minseok saat ia melihat Minseok membenamkan wajahnya kelipatan tangannya diatas meja dengan bahu yang naik turun.

“Ahhhh….sialan kau Kim Minseok!! Kau membuat jantungku hampir lepas!!!” bukannya berhenti, Minseok semakin membuat Na Hee geram dengan tawanya yang kian meledak diatas lipatan tangannya.

“Sialan!!” Na Hee bangkit dari duduknya dengan meninggalkan deritan keras akibat kursinya yang terjatuh kebelakangsetelah sebelumnya menendang sekuat tenaga tulang kering Minseok hingga berdenyut nyeri. Na Hee bangkit dan berjalan dengan cepat keluar café dan menemui Yi Fan yang bingung melihat ekspresi kesal Na Hee.

Minseok melihat semuanya. Menghentikan tawanya begitu ia yakin Na Hee sudah naik ke motor Yi Fan.

“Aisshhh….Kim Na Hee, aku belum selesai bicara,” Minseok berkata seolah Na Hee masih ada didepannya saat ia lihat Na Hee masih sibuk mengenakan helm nya. Sedikit menunduk untuk mencapai tulang keringnya dibawah meja.

“Ini memang April Mop, tapi Na Hee kau juga lupa,” Minseok tersenyum kecil ketika ia melihat Na Hee yang menjawab ketus pada apapun yang Yi Fan katakan sebelum Yi Fan menyalakan motornya dan mereka meninggalkan parkiran Café. Tangannya kini beralih memutar-mutar kalung ditangannya sebelum kemudian ia lempar sembarangan ke sudut café yang tidak ada pengunjungnya.

 

“Aku Kim Minseok. Aku tidak pernah menjadikan perasaan sebagai lelucon….”

 

 

E.N.D

8 tanggapan untuk “SIMPLY US #ONE LATE STEP”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s