[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Chapter 10)

unnamed

The One Person Is You

 

Tittle                           : The One Person Is You (Chapter 10)

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)
  • Kang Rae Mi (OC)

 

Other Cast                :

  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

 

Tangan Hyojin terasa pegal semua. Lima jam lebih dia duduk seraya mengetik makalah tugas kuliah di laptop pinjaman dari Chanyeol. Setelah itu ia harus menyiapkan segala keperluan makan pria itu kemudian mencuci piringnya. Sementara sang pemilik rumah alias apartemen tinggal bersantai bahkan ‘meminta’ Hyojin untuk mengerjakan tugasnya.

“Aissh benar-benar!…” gerutu Hyojin.

 

Ia melempar jaket hoodie biru milik Chanyeol yang sedang dicucinya. Lantai kamar mandi penuh dengan busa bahkan beberapa menempel di dinding karena cipratan dari Hyojin. Rambut gadis itu sudah acak-acakan, ikatan rambutnya hampir terlepas, belum lagi celana training dan kaos V-neck warna putih yang ia kenakan penuh dengan noda, entah noda apa.

 

“Aku benar-benar kelelahan disini, lelah otak, lelah tubuh… MEMANGNYA AKU INI PEMBANTU!”

 

Dadanya naik turun karena berteriak. Ia sudah tidak peduli apakah Chanyeol -selaku majikan-opss- akan mendengarnya, rasa lelahnya telah memuncak dan kekesalannya sudah berada di ujung tanduk. Hyojin bukan wanita penyabar, emosinya selalu tak stabil dan sering marah-marah. Maka dari itu sekarang juga ia berjalan dengan cepat menuju ruang tamu, dimana pria tinggi bertelinga lebar itu tengah membaca majalah sambil mendengarkan musik melalui earphone.

 

“PARK CHANYEOL!” teriak Hyojin dengan keras. Tapi tak digubris karena suara musik yang Chanyeol setel volume-nya lebih tinggi bahkan mengalahkan teriakan Lee Hyojin.

 

Hyojin mendekat lagi dan langsung menarik earphone yang Chanyeol kenakan. Pria itu tersentak kemudian menatap protes pada Hyojin.

 

“Kau ini kenapa?!”

 

Hyojin mendengus, “Kau yang kenapa?!. Apa aku adalah pembantu disini? Apa kau hanya memanfaatkanku saja? Kau pikir aku ini robot? Pelayan? HUH?!”

 

Chanyeol yang panik lantas menaruh jari telunjuk di depan bibir Hyojin dan menyuruhnya diam.

 

“Pelankan suaramu atau kita akan kena protes tetangga, atau lebih parahnya mereka tahu aku tinggal dengan seorang wanita.”

 

Hyojin menyingkirkan jari Chanyeol dari bibirnya. “Aku-” tiba-tiba dia kehilangan kata-kata, dan sadar atau tidak muncul rona merah pada pipi tembamnya. Apalagi kalau bukan karena jarak mereka yang cukup dekat sekarang.

 

“Kenapa?!. Yak! dengar, kau disini itu menumpang. Aku, Park Chanyeol, dengan senang hati membiarkan dirimu tinggal untuk sementara waktu. Jadi, tidak masalah jika aku meminta bayaran dengan cara ini kan? Toh kau juga tidak punya uang sepeserpun!”

 

Hyojin kalah telak, dan dia tahu akan hal itu. Tangannya terkepal kuat, ini kali pertama dia tidak bisa membalas perkataan orang lain. Hal itu membuatnya marah sekali, apalagi orang itu adalah Park Chanyeol, entah orang dalam urutan keberapa yang dia benci di dunia ini.

 

“Baiklah!” katanya penuh penekanan, “Aku akan bekerja, kau tunggu saja!. Aku akan mendapat bayaran dan segera menampar wajahmu dengan uang hasil kerjaku sendiri!”

 

Hyojin mengambil salah satu jaket dari tumpukan pakaian di meja dengan asal, kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar. Baru hendak memegang knop, tangannya dicekal oleh Chanyeol. ketika melihat sorot matanya, Hyojin sangat terkejut. Siapapun yang mengenal Chanyeol pasti akan terkejut jika melihat ekspresi wajahnya sekarang. Tatapan mata yang tajam dan ekspresi dingin yang menusuk, Hyojin dapat merasakan perasaan tidak terima dari sorot mata dan mimik muka Chanyeol. Namun dia menahan agar tidak nampak takut di depan pria itu.

 

“Apa maksud dari perkataanmu tadi?”

 

Hyojin mengak ludah, “Apa? Kata-kata yang mana?” tapi dia berusaha terlihat tenang.

 

“Dengar nona Lee Hyojin yang terhormat. Aku memang tidak pernah bekerja, menjadi pemain band juga hanya sebagai hobi, segala keperluanku telah dipenuhi oleh orang tuaku-”

 

“Lantas?” potong Hyojin tak sabaran.

 

“Tapi setidaknya aku bukan seseorang yang manja. Aku juga bisa mendapat uang dengan jerih payah sendiri jika aku mau. Memang, kau yang seorang cucu dan pewaris satu-satunya perusahaan kakekmu mana bisa dibandingkan dengan keluargaku yang hanya punya perusahaan biasa. Tapi kau tidak seharusnya mengatakan-”

 

“Mengatakan apa?” potong Hyojin lagi. Sekarang dia sudah tidak merasa takut, tapi amarahnya kembali muncul. Bahkan dia mendorong tubuh Chanyeol dengan penuh emosi. “Apa yang telah aku katakan padamu? Apa aku menyindirmu?. Kalau iya, apa kau harus mengungkit soal keluargaku?. Dengar tuan Park, kau tidak tahu apa-apa mengenai kehidupanku!”

 

Giliran Chanyeol yang tidak berkutik dengan tatapan mata Hyojin.

 

“Aku, keluargaku, kakek gila itu, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Jadi berhenti menjadi orang sok tahu!”

 

Setelah berkata demikian Hyojin benar-benar keluar apartemen. Meninggalkan Chanyeol yang masih terpaku dengan amarah gadis itu. Tapi Chanyeol yang tidak mau kalah bersikeras untuk tetap membenci Lee Hyojin.

 

***

 

“Hyojin?”

 

Gadis itu menoleh cepat begitu ada yang memanggil namanya. Tapi ekspresinya berubah menjadi dingin saat tahu kalau orang itu adalah Bang Yongguk. Dia merutuki diri sendiri yang terus-terusan sial, hingga sekarang harus bertemu dengan pembuat masalah paling terkenal di kampus.

 

“Sambutan yang dingin rupanya.” Sindir Yongguk yang kemudian berjalan beriringan dengan Hyojin.

 

“Yah, kau tahu kalau aku membencimu. Tidak mungkin aku berteriak keras sambil bilang ‘kyaaa~ oppa~’ seperti orang gila.”

 

“Hahaha… lucu sekali.”

 

Hyojin mendecih, “Berarti selara humor mu payah. Aku tidak sedang melucu tadi.” Ucapnya. Kemudian diam dan berpura-pura tidak ada Yongguk di sebelahnya.

 

“Kau bilang kita akan bertanding. Aku penasaran tentang kapan, dimana, dan apa pertandingan yang kau usulkan itu.”

 

“Masih belum terpikirkan. Aku masih sibuk dan bukan pengangguran dengan banyak tingkah seperti dirimu.”

 

Yongguk mendengus, mencoba menahan amarahnya. “Wah, jadi kau ini orang sibuk?. Biar kutebak apa pekerjaanmu, eung…pembunuh bayaran?, pesuruh? Atau…pelayan bar?”

 

“Jangan menebak, kau tahu kalau Bang Yongguk itu payah dalam urusan otak.”

 

Yongguk tersenyum sinis, perkataan -sebenarnya hinaan- Hyojin lebih menyebalkan dari biasanya. Sepertinya gadis itu sedang dalam perasaan buruk dan hal itu membuat Yongguk ingin melakukan sesuatu agar Hyojin terpancing.

 

“Apa sesuatu terjadi?”

 

“Apa maksudmu?”

 

Yongguk mengetuk telunjuknya di dagu beberapa kali, bertindak seolah sedang berfikir keras.

 

“Misalnya, apa Park Chanyeol mencampakkanmu?. Kudengar kalian tinggal satu apartemen, mungkinkah terjadi sesuatu diantara kalian?”

 

“Ya. Terjadi sesuatu. Kenapa?”

 

Yongguk membulatkan matanya, kemudian menutup mulut tidak percaya. “Kapan? Apa tadi malam? Apa hubungan kalian serius?”

 

Hyojin menghentikan langkahnya dan langsung menghadap Yongguk. Tangannya bersedekap lantas memicingkan mata.

 

“Yak! Bang Yongguk!. Aku heran, kenapa hari ini kau banyak sekali bertanya?. Sekarang giliranku yang bertanya, apa kau sedang ada masalah?. Misalnya, kau tersesat dan terpisah dari ibumu?”

 

Mendengar kata ‘ibu’ ekspresi Yongguk berubah marah. Niatnya untuk memancing kekesalan Hyojin malah berbalik padanya. Hyojin tidak tahu, sama sekali tidak tahu kalau seorang Bang Yongguk punya ‘alergi’ dengan sesuatu yang berhubungan dengan ‘ibu’. Tapi Yongguk tak akan peduli, siapapun yang mengungkit masalah ibunya akan mendapat hukuman dari dirinya sendiri.

 

“Jika iya kenapa?. Bang Yongguk telah dicampakan oleh ibunya, dia dijual pada orang lain dan harus pura-pura bahagia dengan keluarga barunya. Kau katakan saja pada semua orang, pasti akan menyenangkan.” Ujarnya. Membuat Hyojin merinding melihat dan mendengar Yongguk sekarang. Tapi kemudian ia sadar dengan maksud perkataan Yongguk.

 

“Maaf, bukan maksudku-”

 

“Untuk apa meminta maaf? Kau tak perlu mengasihaniku.”

 

Hyojin terkekeh dan itu membuat Yongguk bingung.

 

“Siapa yang mengasihanimu?. Kau tahu, setiap orang juga punya masalah. Kehidupan mereka tak sepenuhnya bahagia. Dulu, aku percaya bahwa kehidupanku akan bahagia, walau tanpa orangtua. Namun ketika mereka menghilang, aku harus menerima kenyataan bahwa hartaku yang paling berharga adalah mereka. Bukan uang, rumah atau mobil, bahkan kekasih. Jika kau hanya mengeluh, segalanya tidak akan berubah seperti kemauanmu.”

 

Yongguk terdiam dan terus menyimak setiap perkataan Hyojin, meskipun dirinya tak mau menerima nasihat apapun dari orang lain, apalagi dari salah satu musuh terbesar dalam hidupnya, Lee Hyojin.

 

Hyojin tersenyum dan menepuk bahu Yongguk pelan, “Sekali-kali, kau lihat kehidupan orang lain. Nantinya kau pasti akan menyesal setelah tahu lebih dalam.”

 

Yongguk tersenyum miring lantas menepis tangan Hyojin. “Benarkah?” katanya, dan mendapat jawaban anggukan kepala dari Hyojin. Ia melipat kedua tangan di depan dada, senyumannya seolah mengintimidasi lawan bicaranya.

 

“Apa keuntungan yang aku dapat jika melakukan itu?”

 

Hyojin mengedipkan mata beberapa kali, “Yah… kau bisa tahu kalau hal tersebut bisa menghapuskan pandangan sinismu terhadap masalah yang kau miliki.” Ujarnya seraya mengangguk-angguk, menyetujui kalimatnya sendiri.

 

“Hah!” Yongguk mendengus, “Apa pentingnya itu untukku?. Masalah sendiri belum tentu dapat dipahami, malah mengurusi masalah orang lain.”

 

Hyojin menghela nafas kesal. “Ya ampun!, percuma juga aku bicara denganmu!” mendengar itu Yongguk merasa puas. “Dengar ya, terserah bagaimana presepsimu mengenai orang tua. Yang jelas, jika memang ibumu berniat menjualmu kenapa tidak dari dulu sejak kau lahir? Kenapa dia putuskan untuk merawatmu dahulu bahkan rela bersakit-sakit untuk melahirkan huh?!” lalu Hyojin berjalan meninggalkan Yongguk.

 

“Satu lagi!” dia berbalik sebelum benar-benar menjauh, “Dan jika ibumu memang menjualmu, kenapa kau harus bersikap pesimis dengan hidup?. Lupakan atau jadikan itu sebagai batu loncatan supaya kau bisa hidup lebih baik. Bukannya menjadi pecundang besar seperti ini!. Bye! And I wish we will not meet again.”

 

Setelah kepergian Hyojin, barulah senyuman percaya diri yang dia tunjukkan sedari tadi luntur, berganti amarah yang dia sendiri tidak mengerti ditujukan pada siapa. Entah itu pada Ibunya, Lee Hyojin, atau bahkan dirinya sendiri.

 

***

 

Rae Mi berdiri kaku di depan gerbang sebuah rumah besar. Rumah mewah dengan tiga lantai yang sangat megah bagai istana modern bergaya Victorian. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan pelan, untuk menghilangkan segala kegugupan. Tangannya mulai terulur untuk menekan bel, tapi urung lagi, untuk yang kelima kalinya. Dia pandang lagi kertas catatan dari lima tahun lalu di tangan kirinya. Sebuah catatan yang dia tulis sendiri secara ilegal dari buku harian ibunya dulu. Catatan yang dia rahasiakan dari siapapun juga.

 

“Ibu, aku harus bagaimana?” ujarnya pada diri sendiri. Ada rasa sesal dalam hatinya karena apa yang akan dia lakukan sekarang, sang ibu pasti sangat tidak menyukainya. Bahkan hal inilah yang dilarang oleh sang ibu. Tapi, rasa penasarannya sejak kecil membuatnya harus melakukan ini. Demi mengetahui masa lalunya yang hilang, bahkan jika bisa membantunya mengingat tentang ayahnya.

 

“Siapa?” suara dari intercom menyadarkannya dari lamunan.

 

Sebelum menjawab, Rae Mi menarik nafas lagi.

 

“Saya Kang Rae Mi, apa saya bisa bertemu dengan…” ia sempat ragu untuk mengatakannya, karena ia yakin pasti orang itu adalah orang penting dan tidak bisa bertemu sembarang orang.

 

“Bertemu siapa?” suara itu mengulangi, nampak tak sabar.

 

“Ah maaf, saya ingin bertemu dengan presdir Lee.”

 

“Ada kepentingan apa? Tuan besar sedang tidak ada dirumah.” Suara itu berkata dengan nada lebih ketus. Terdengar gumaman tak suka dari suara itu.

 

“Oh begitu, eung… bisakah saya titip pesan untuk beliau nanti?”

 

“Ya, cepatlah!”

 

“Katakan pada presdir kalau Kang Rae Mi mencari, katakan saya dalah anak dari Min Heo Rin dan Kang Jae Suk. Saya-”

 

“Iya akan saya sampaikan.” Potong suara itu dan intercom langsung dimatikan.

 

Rae Mi menghela nafas lega. Ia tidak merasa kesal dengan perlakuan kasar tersebut, justru berterima kasih karena bisa mengutarakan keinginannya. Walau kemungkinan bisa bertemu presdir Lee sangat kecil, tapi dia tetap berharap agar hal itu bisa terwujud untuk menuntaskan rasa penasarannya.

 

“Ibu aku minta maaf, sungguh.” Katanya sambil pergi meninggalkan rumah kediaman Lee.

 

***

 

“Hyojin-ssi!”

 

Hyojin yang sedang melihat pengumuman lowongan kerja di sebuah toko menoleh dan akhirnya menyesal karena membuang waktu berharganya hanya untuk melihat wajah Byun Baekhyun. Pria itu menghampirinya bersama dua orang wanita cantik dengan pakaian yang lumayan seksi.

 

“Apa kabar?”

 

Hyojin tersenyum palsu, “Baik.” Katanya -pura-pura- ramah.

 

“Sedang apa kau disini? Ayo ikut aku ke café, kita makan-makan!” ajakan Baekhyun membuat dua wanita dibelakangnya langsung menatap Hyojin tajam. sementara gadis itu tersenyum kaku.

 

“Tidak terima kasih, aku ada keperluan setelah ini.”

 

Baekhyun mengangguk dengan wajah kecewa. “Sayang sekali…” lirihnya. “Keperluan apa?” dia bertanya lagi dan Hyojin berusaha mempertahankan kesabarannya.

 

“Dengan teman, biasalah, reunian.”

 

“Dengan pakaian seperti ini?” Baekhyun terkekeh melihat penampilan ‘payah’ Hyojin dari bawah keatas.

 

Merasa diremehkan, Hyojin mengepalkan tangan dibalik jaketnya. Ia tersenyum palsu dan mengangguk pelan.

 

“Ah maaf, aku harus pergi.”

 

Tapi Baekhyun keburu menahannya.

 

“Bisa bicara sebentar, tak lama kok. Ini soal kekasihmu, Park Chanyeol.”

 

Nada bicara Baekhyun yang berubah membuat Hyojin penasaran sedikit.

 

“Memang ada apa dengannya?”

 

‘Semoga pria tinggi itu tidak mempunyai riwayat penyakit parah. Apalagi yang menular,’ lanjutnya dalam hati.

 

Baekhyun tersenyum, mengabaikan keluhan manja dari dua wanita yang bersamanya. Seolah hal yang akan dia sampaikan lebih penting dari kedua wanita itu yang tadinya khusus dia ajak sejak awal.

 

***

 

Yongguk merasa nafasnya menjadi sesak seketika saat menginjakan kaki di daerah tempat tinggalnya dulu, sebelum pindah ke rumah ayahnya. Matanya terasa perih tapi ia anggap itu pengaruh angin. Bahkan pada dirinya sendiri, harga diri Yongguk sangatlah tinggi. Beberapa orang yang sedang membersihkan rumah meliriknya sesekali, sepertinya mengenali sosok Yongguk yang pernah menjadi tetangga mereka.

 

Mengetahui hal tersebut, Yongguk buru-buru menurunkan topinya, berusaha membuat dirinya tidak dikenali. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia sudi untuk kembali ke tempat yang sudah dia anggap sebagai ‘rumah iblis’ itu, tapi setelah mendengar perkataan Hyojin membuat Yongguk terus terpikir mengenai ‘sang ibu’ dan berakhir disana, berdiri tepat lima puluh meter dari sebuah rumah kecil yang terlihat lebih kumuh dari terakhir kali dia melihatnya.

 

Tangan Yongguk terkepal kuat, sakit hatinya kembali muncul dan membuatnya semakin sesak. Tapi entah kenapa, perasaan bersalah muncul di benaknya. Bagaimanapun dia berusaha untuk menepis perasaan itu, mempertahankan rasa benci tanpa alasan yang jelas.

 

“Eoh?”

 

Pintu reyot itu bergerak, sepertinya sang pemilik rumah akan keluar. Karena itu Yongguk segera bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Seorang wanita paruh baya sedang membersihkan daun-daun yang berserakan. Sesekali dia merapatkan jaket yang lusuh, jaket dengan beberapa tambalan yang Yongguk tahu itu tak akan mampu menangkal udara dingin saat ini. Dia tersenyum puas melihat keadaan wanita itu, tapi hatinya mengelak, rasa bersalahnya kembali muncul dan membuat Yongguk kesal karenanya.

 

Beberapa menit berlalu dan wanita itu kembali masuk kerumahnya. Yongguk berbalik, bersandar pada pohon yang lebih besar darinya itu. Tangannya meraih ponsel di saku kiri jaket, setelah mencari kontak seseorang, dengan ragu Yongguk menelpon pemilik nomor tersebut. Walau tak yakin, dia tak punya pilihan lain selain bertanya pada orang yang sudah sok memberikan nasehat kepadanya.

 

“Komohon…angkatlah…”

 

***

 

“Apa kau tulus mencintai Chanyeol?”

 

“Ya?”

 

Baekhyun bertopang dagu, membuat beberapa wanita yang berada di café menjerit tertahan saat tak sengaja melihat keimutannya. Hyojin mengedipkan mata beberapa kali, tak menyangka kalau pria yang sedang duduk di depannya sekaligus mentraktirnya Hot Chocolate adalah pria yang populer di kalangan wanita.

 

“Setelah apa saja yang sudah aku ceritakan tentangnya, baik dan buruk, kau masih menyukainya?”

 

“Te-tentu…” jawab Hyojin agak sangsi. Mengatakan dia cinta pada Chanyeol walau hanya pura-pura membuatnya merasa aneh. Seolah banyak serangga yang berputar-putar di perutnya tanpa permisi.

 

“Bagus, kau sangat tulus mencintainya. Jadi aku bisa mempercayakan dia untuk kau jaga.”

 

“Hehe…iya…”

 

‘Dasar pria aneh sok serius!’

 

Baekhyun menegakkan tubuhnya. “Dan soal Yejin, dia hanya masa lalu Chanyeol, jangan biarkan dia mempengaruhi dirimu.”

 

“Baiklah.”

 

‘Aku harus cepat pergi dari sini!’

 

Hyojin meneguk sisa coklat panasnya. Mulutnya terbuka untuk pamit pada Baekhyun tapi dering ponsel di saku celana membuatnya terdiam.

 

‘…trouble devil calling…’

 

Adalah nama yang tertera di ponselnya. Alis Hyojin terangkat sebelah, heran karena Yongguk kembali menghubunginya setelah Hyojin menolak kerjasama.

 

“Siapa yang menelpon?”

 

Pertanyaan Baekhyun membuat Hyojin sadar kalau dia tidak sendiri.

 

“Ini…temanku. Yah, bisa dibilang begitu.”

 

“Kau tidak… selingkuh kan?”

 

Hyojin melotot, “Tidak mungkin!” katanya penuh keyakinan. “Maaf, aku harus pergi. Aku sudah terlambat. Permisi.” Dia bangkit dan segera beranjak meninggalkan Baekhyun yang nampaknya masih tidak percaya. Tatapannya terus terarah pada Hyojin sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.

 

“Halo? Ada apa?” ujar Hyojin saat menerima panggilan.

 

Terdengar suara serak sebelum Yongguk bicara, “Apa yang harus kau lakukan jika merasa bersalah pada sesuatu?”

 

“Eoh? Pada apa?”

 

“Aku… sudahlah. Maaf sudah mengganggumu.”

 

Yongguk hendak memutuskan panggilan sebelum suara Hyojin kembali terdengar.

 

“Kau bertemu ibumu?”

 

Yongguk diam, bibirnya bergetar dan matanya kembali memanas. Namun sekuat mungkin ia menahannya. Dia ingin tidak terlihat lemah walau tak seorangpun melihat.

 

“Ya.” Kemudian hening beberapa saat, “Aku harus bagaimana?”

 

‘Temui dia’ adalah kalimat pendek yang Yongguk pikir akan Hyojin katakan padanya. Yang membuatnya harus menolak dengan alasan apapun itu karena dia sendiri masih belum sanggup bertemu.

 

“Pulanglah!”

 

Tapi perintah Hyojin mengejutkannya.

 

“Jika kau masih belum sanggup, jangan temui dia. Jika kau masih belum memaafkan dia ataupun dirimu sendiri, jangan temui dia. Kau hanya akan menambah rasa sakit ibumu.”

 

“Apakah hanya ‘orang itu’ yang sakit? Apa aku tidak?”

 

Hyojin menghela nafas, dia duduk di salah satu kursi sebuah taman.

 

“Aku tahu Yongguk, aku sangat mengerti perasaanmu walau aku tidak pernah mengalaminya. Tapi pernahkah kau berfikir, ibu mana yang tidak sakit hati jika melihat anaknya datang dan hanya menimbulkan masalah?. Serindu apapun ibu itu, jika hanya akan mendapat cacian darimu, hal apa yang akan membuatnya bahagia?. Lagipula, apa kau sanggup untuk sekedar mengatakan ‘hai’ padanya?, kau juga masih merasa canggung bukan?”

 

“Aku mengerti.” Yongguk mengusap air matanya yang sempat jatuh. “Jangan katakan pada siapapun mengenai hal ini dan anggap aku tak pernah mengatakan apapun padamu.”

 

“Tak masalah. Aku pandai menjaga rahasia.”

 

Hyojin memutuskan sambungan telepon lalu memasukkan ponsel kedalam saku. Matanya tertuju pada jam dinding sebuah toko yang tak jauh darinya. Terhitung sudah lima jam dia pergi dari rumah Chanyeol tapi belum menemukan pekerjaan yang cocok. Jangankan mencari lowongan, waktunya habis untuk menceramahi Yongguk dan membicarakan hal tidak penting bersama Baekhyun, dopplegangger dari Chanyeol.

 

“Jika terus begini, aku akan pulang dengan rasa malu!” kicaunya.

 

Suara perutnya yang keroncongan membuat Hyojin malu, takut jika ada yang mendengarnya. Ia terus berjalan, tanpa tahu harus kemana. Tanpa sadar, ternyata dia sudah sampai di sungai Han. Hyojin tertawa sendiri karena dia sebelumnya tak pernah pergi ke sungai Han dan sekarang ia sampai disana karena sebuah ketidaksengajaan.

 

“Tunggu dulu!” ucapnya tiba-tiba.

 

“Bukankah aku tidak tahu jalan ke sungai Han?. Lantas, bagaimana aku bisa kembali?!” Hyojin mengacak rambutnya. “Kesialan apalagi ini?, kenapa Tuhan membiarkan manusia buta arah ini untuk pergi kesembarang tempat?! Arrrggh!”

 

Ia menimang-nimang lalu terdiam, “Serius aku tersesat?” ujarnya setelah lima menit berfikir keras.

 

***

 

Chanyeol melirik jam dinding, tapi buru-buru menggeleng sambil bergumam ‘tidak peduli’ berkali-kali dan kembali fokus pada saluran televisi yang menayangkan drama favoritnya. Ketika adegan romantis muncul, Chanyeol sama sekali tidak nampak senang atau bahkan mengharu biru saat salah satu pemain utama meninggal. Ekspresinya datar dan matanya menerawang, tidak tertuju pada drama tersebut.

 

Dia berdiri tiba-tiba seraya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. “Arrghh gadis ini!, bagaimana dia bisa seenaknya pergi seperti ini?!. Jika ibu, ayah, bahkan noona tahu kalau dia tidak disini malam ini bisa gawat!” ucapnya lalu mengacak rambut asal.

 

“Apa dia kabur?” kemudian Chanyeol menuju kamar tamu yang selama beberapa hari ini digunakan oleh Hyojin. Ada sedikit perasaan lega ketika dia melihat koper milik gadis itu masih berada di samping kasur dan beberapa pakaian kotor serta barang-barang Hyojin yang berserakan di kamar tersebut. Membuat Chanyeol menyesal melihat pemandangan berantakan itu.

 

“Dasar manusia pemalas!” ejeknya tanpa sadar bahwa waktu Hyojin hampir digunakan hanya untuk mengerjakan tugas darinya.

 

Dia terdiam beberapa saat untuk memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada Hyojin sampai belum kembali hingga sekarang. Dan yang paling masuk akal baginya adalah ‘Hyojin kabur dan mengadu pada keluarganya’. Sesegera mungkin Chanyeol mengambil jaket, kunci mobil, serta ponsel di atas meja lalu keluar apartemen untuk mencari Hyojin sebelum apa yang Chanyeol takutkan menjadi kenyataan. Namun dering ponselnya menghentikan langkah Chanyeol untuk sementara.

 

“Nomor siapa ini?” gumamnya begitu melihat layar ponsel. Tanpa berfikir panjang Chanyeol langsung membuka pesan tersebut dan membacanya.

 

‘Apa kau bisa menjaga Hyojin?, jika tidak maka putuskan hubungan kalian dan biarkan aku menjaganya serta jangan pernah menemuinya lagi. Tapi jika kau sanggup menjaganya maka temui dia di sungai Han SEKARANG JUGA!. Aku tak akan membiarkanmu menyakiti Hyojin, camkan itu!’

 

“Woaah!, siapa sih orang ini?!” Chanyeol kesal sendiri dengan isi pesan tersebut, “Yak!, jika kau ingin melindunginya! Maka jadikan dia kekasihmu!. Ck!, aku tidak menyangka Hyojin punya fans gila seperti ini, dan aku jadi sasarannya huh!”

 

Chanyeol memasukkan ponselnya kembali ke saku lantas melanjutkan perjalanan menuju parkiran. Ia urungkan niat untuk menemui sang kakak, tujuan utamanya sekarang adalah sungai Han. Namun ia tidak ingin terburu-buru, dia punya rencana untuk menjahili Hyojin dengan membuat gadis itu menunggu lebih lama. Senyum miringnya muncul hanya dengan memikirkan rencana jahat tersebut tapi lagi-lagi deringan ponsel menginterupsi kesenangannya.

 

“Apa lagi sih?!”

 

Sebuah pesan lagi dari nomor yang sama dengan sebelumnya.

 

‘Informasi untukmu bahwa Hyojin buta arah. Kau harus segera kesana atau dia akan mengalami depresi karena tidak tahu arah dan tak mengenal siapapun untuk dimintai bantuan’

 

Chanyeol membulatkan matanya, ingin tertawa sayangnya tertahan oleh fakta yang bisa saja membahayakan untuk Hyojin jika saja Chanyeol tak lekas menyalakan mesin dan berangkat menuju sungai Han demi menemukan calon tunangan yang harus dia lindungi. Bukan hanya untuk pemilik nomor misterius yang terus mengiriminya pesan tanpa memberitahu identitasnya, atau bahkan untuk keluarganya dan keluarga Hyojin. Tapi dengan enggan Chanyeol mengakui kalau dia harus menemukan Hyojin juga untuk dirinya. Tanpa alasan yang jelas.

 

 

~TBC~

 

 

PENGUMUMAN!!! -sengaja pake capslock biar kerenan dikit-

Mohon maaf sebelumnya buat para pembaca yang mengikuti ff ini dari awal sampai akhir, jadwal update ff ini akan ngaret dan lebih lambat dari biasanya karena author sibuk dengan persiapan UNBK (kalau ff ini di update sama admin berarti author sudah selesai UNBK)

Tapi saya akan berusaha keras untuk membuat chapter demi chapter selanjutnya demi pembaca yang sudah mau baca apalagi kasih feedback komentar yang membuat saya semangat buat ngelanjutin ff amatir ini, jadi saya mohon maaf jikalau pembaca merasa ff ini tidak memuaskan atau tidak sesuai selera pembaca sekalian. Maka dari itu, saya butuh kritik dan sarannya apakah ceritanya kurang bumbu? Kurang sedap? Atau apalah itu…

Minta doanya juga ya supaya ujian kali ini lancar dan lulus dengan nilai memuaskan (ini juga berlaku buat pembaca yang sedang dalam masa ujian) kita doa sama-sama supaya kita -yang ujian maupun yang tidak- bisa mendapat nilai bagus dan lulus dengan kebanggaan, amiiiin…

Udah deh itu aja dulu, mohon pembaca maklum adanya…

Oke kalau gitu… RCL Juseyooooo~~~

33 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Chapter 10)”

  1. Ayo kak lanjutin lagi epep nya…aku nggk sabaran sumpah-,epep ini favorit aku bnget.ceritanya beda pula dari yg lain.
    Btw,karakter hyojin kaya karakter temen aku^^

  2. Author Dancinglee_710117, ini sudah hari ke-7. Kapan kau akan update ffmu? Tidak taukah para readersmu menunggu kelanjutan crta.a? Aku pun sma bru selesai UNBK hehehe skrg lgi belajar buat SBM sekedar jaga” klo SNM ngga
    Fighting buat author supaya cptan update ff lanjutan.a yaaa

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      haduuuh maaf banget ya atas keterlambatannya, tapi saya barusan udah kirim ff-nya kok, insyaallah mungkin minggu depan di update sama adminnya… sekali lagi maaf ya… tunggu next chapter karena pasti saya lanjutin ff-nya…

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      wah udah di ramal nih kekekeke~ apakah mereka bersaudara? kenapa Rae Mi polos dan lugu sedangkan Hyojin pemarah dan sadis *Hyojin udah persiapan tendang author dari ff* kekekeke tunggu next chapter yaaaa…

  3. Siapa itu?? Yang menelpon Chanyeol dan mengatakan Hyojin di Sungai Han dan ia buta arah. Duh Chanyeol sudah mengetahui sisi lemahnya Hyojin. Next chapternya ya. Rae Mi saudara kandungnya Hyojin kah. Apalagi ia mau menemui Presdir Lee Kakeknya Hyojin.
    Next chapternya ya. Fighting
    Wih penasaran banget apa mungkin Baekhyun atau Jongin..??

  4. Siapa itu?? Yang menelpon Chanyeol dan mengatakan Hyojin di Sungai Han dan ia buta arah. Duh Chanyeol sudah mengetahui sisi lemahnya Hyojin. Next chapternya ya. Rae Mi saudara kandungnya Hyojin kah. Apalagi ia mau menemui Presdir Lee Kakeknya Hyojin.
    Next chapternya ya. Fighting

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      duh, siapa yaa? siapa hayoooo? dan apa status Rae Mi sebenarnya? saksikan -eh baca di chapter selanjutnyaaaa, tunggu next chapter yaaaaa…

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      namanya juga cogan ‘bangsadh’ kata anak kpop salah gaul kekekekeke… tunggu next chapter yaaaa…

  5. Hebat lu… Thor…..jarang2 low ada ff chapter yg bukan cast utamanya
    Di bikinin cerita kayak yg lu tulis itu tuh* nunjuk ke atas*….klo kayak gini caritanya gk cuma fokus ke masalah hyojin CEYE ato raemi doang….dan ceritanya jadi makin panjang….hebat thor hebat…NEXT YA
    and buat ujianya semoga dapet nilai yg bagus…smangat blajar yaaaaaa

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      hehehe makasih loh udah di bilang hebat, jadi terharu *lap ingus dan air mata* Hyojin : author jorok!* sengaja dibikin gitu juga supaya gak bosenin dan gak cepet kelar ff-nya kali ya kekekeke… makasih juga doanya ^.^ tunggu chapter selanjutnya yaaaa…

  6. Aku gk sabar buat chapter selanjutnya!,saran aku thor di chapter selanjutnya,si chanyeol tau sisi rapuhnya si hyojin.Biar ada perasaan gimana gtu,si chanyeol sama hyojin.Oiya! jangan2 yg sms chanyeol,sehunn laagii aduhh gimana nihh*lebhaay*lupakan. Fighting thor!

    1. Setuju…..saya sepemikran sama kamu…biar chanjin momentnya lebih dapet……hahahaha….#sory ikut2 komen

    2. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      wah author juga sebenarnya ga sabar pengen update chapter selanjutnya huhuhu…
      SELAMAT buat OH SHERLY karena ide kamu akan saya muat di chapter selanjutnya (rahasia di chapter berapanya) kalau kamu gak setuju atau ga sreg langsung kontak author di e-mail : Berlindalee7@gmail.com atau FB : Berlinda Lee juga buat konfirmasi apa kamu mau data diri kamu di muat juga atau nggak… terus kasih masukkan kritik dan saran apalagi ide kayak gitu yaaa sebagai semangat buat author juga… oke tunggu next chapter yaaaa

  7. jangan bilang kalo raemi cucuny kakek hyojin sedikit curiga thor kapan2 buat double date antara yonguk sama hyojin and chanyeol sama raemi kaya adegan cemburu2an gituu kan asik cuman saran keep writting

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      hayooo siapa sebenarnya si Rae Mi? *Hyojin : sok misterius lu!*
      SELAMAT buat KIMI384 karena ide kamu akan saya muat di chapter selanjutnya (rahasia chapter berapanya) terus kasih masukkan apalagi ide kayak gitu yaaa, kalau misalnya kamu gak setuju atau gak sreg langsung kontak author melalui e-mail : Berlindalee7@gmail.com atau FB : Berlinda Lee juga buat konfirmasi karena mungkin kamu pengen data dirinya saya muat di curcol author pada chapter akan ditayangkan scene tersebut… oke tunggu chapter selanjutnya yaaa

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      ChanJin alias HyoYeol alias JinYeol… aelah banyak amat nama couple nya… pokoknya moment dua orang itu akan author usahakan lebih banyak karena itu tunggu next chapter yaaaa…

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      Yongguk juga manusia *Hyojin : dan bakal jadi anak buah gua HAHAHAHAHA!* abaikan Hyojinnya. sebenarnya ini rahasia, author juga buta arah wkwkwkwkwk *Hyojin : lah katanya rahasia malah buka aib di komentar* Author : brisik lu jin!* awas kesasar yaaa… oke tunggu chapter selanjutnyaaaa

  8. Wahh makin seru eonni.. Tp mw kasih saran nih, scene raemi nya diperbanyak dong! Hehe :Dv . Amiin semoga nilai ujian eonni bagus. Ok deh ditunggu chap 11 nya yaa! Semangat!! :Dd .

    1. haiiii~ ini author ‘T-O-P-I-Y’

      makasih udah mau baca ff-nya…

      wih, baru nemu nih fans-nya Rae Mi ya? *Rae Mi : yeay! ada yg minta scene ku diperbanyak!* makasih doanya ^.^ tunggu next chapter yaaaa…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s