#4thYearsWithEXO – APRIL`S MOVE: A HOUSE KEEPER [A-1] — IRISH`s Story

irish-aprils-move

APRIL`S MOVE

[A-1: A House Keeper]

With EXO`s Chanyeol, D.O., Kai, Sehun and OC`s April

A fantasy, hurt-comfort, life, slight!romance story rated by T in mini-chapterred length

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

Choose your own love story, April.

Reading list: Prologue – [NOW] A-1: A House KeeperB-1: Song In The Waves

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

A HOUSE KEEPER

In Author`s Eyes…

Beberapa sekon sibuk mempertimbangkan kemungkinan berjalan-jalan dan istirahat, April akhirnya menyerah. Sendi-sendinya sudah meronta menginginkan tempat tidur. Bahkan kelopak matanya saja sudah akan menutup jika April tidak memaksakan diri untuk terus membuka lebar-lebar matanya.

Ugh…” dengan bersusah payah gadis itu menggeret kopernya—dengan menggunakan tangan kanannya yang sudah jadi lengan multi fungsi karena ia gunakan untuk menyangga tongkat dan sekaligus menarik koper—dan menyeret langkah mendekati tiga buah anak tangga di bagian depan rumah.

TOK! TOK! TOK!

April memejamkan matanya sesaat saat suara ketukan keras itu masuk dalam pendengarannya tiap kali ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Dengan usaha keras, gadis itu menarik kopernya untuk melewati anak tangga dan—

“Butuh bantuan?”

Omo!” April menjerit saat sebuah suara masuk dalam pendengarannya, sontak gadis itu melepaskan pegangannya dari tongkat.

Hukum gravitasi tak lagi bisa dilawannya. Tubuh April limbung, sudah akan terjatuh jika saja sepasang lengan tidak menariknya cukup keras untuk kembali berdiri.

Ya! Gwenchana?” bentakan itu sekarang membuat April menahan kekesalan.

“Kau kira aku baik-baik saja?!” April balas membentak, sekarang di hadapan April, seorang pemuda bermata bulat tengah menatap terkejut.

“A-Aku bertanya apa kau baik-baik saja. Kau terlihat sangat takut.” tutur pemuda itu melunak.

April lekas menarik lengannya dari cekalan pemuda itu, untuk kemudian melirik ketus. Sadar bahwa keberadaan pemuda ini di sini sudah sangat tidak wajar.

“Kau siapa?!” kini April menunduk, meraih tongkatnya, siapa tahu benda alumunium itu akan berguna jika pemuda di depannya ini bertingkah laku aneh.

“H-Hey! Tunggu dulu!” pemuda itu lekas menahan usaha April—yang sudah bergerak untuk mengacungkan tongkat tersebut padanya.

“Aku penjaga rumah ini.” lagi-lagi ia berucap.

“Apa?”

Pemuda itu menatap April singkat, jemarinya kemudian menunjuk ke arah meja bulat di dekat mereka, beberapa bungkus makanan ringan berserakan di sana, beserta sebuah jaket gelap.

“Benarkah?” sekarang April bertanya menyelidik.

“Hmm, paman memintaku menunggu pemilik rumah ini datang.” alih-alih menatap April, pemuda itu malah melirik jam di lengannya.

Aish, ini sudah larut sekali…” gerutunya, ia lantas menatap April lagi, “kau dan keluargamu yang akan tinggal di rumah ini kan?” sambungnya.

“O-Oh.” jawab April.

“Baguslah. Aku akan pulang sekarang. Jangan lupa nyalakan lampu teras, kalau tidak rumah ini akan terlihat seperti rumah angker.” tutur pemuda itu ketus.

Lekas ia meraih jaket hitam miliknya, dan melangkah melewati April. Menyadari koper gadis itu teronggok tak berdaya akibat pemiliknya yang sempat kehilangan orientasi, pemuda itu menghembuskan nafas cukup panjang.

“Aku akan menolongmu kali ini.” ujar pemuda itu, meraih koper April dan memindahkannya ke lantai teras.

Gomawo.” ucap April, menatap pemuda itu hati-hati.

“Oh.” sahut sang pemuda, singkat, ia kemudian melangkah menuruni anak tangga dan mendekati sepeda kayuh yang entah sejak kapan bersandar di tepi pagar pendek kayu yang membatasi teras dan halaman rumah April.

Hey!” panggil April saat pemuda itu sudah akan mengayuh sepedanya.

“Apa?”

“Siapa namamu?” tanya April.

“Do Kyungsoo.” ucap sang pemuda, dengan cepat mengayuh sepedanya meninggalkan halaman rumah April.

“Namaku April!” teriak April, sekon selanjutnya gadis itu menepuk mulutnya sendiri.

“Bodoh, kenapa aku memperkenalkan diri—”

“Sampai bertemu lagi April!”

April menatap terkejut ke arah Kyungsoo yang sekarang menoleh ke belakang, menyunggingkan sebuah senyum kecil sebelum pemuda itu menatap ke depan lagi.

“Sampai bertemu lagi, Kyungsoo.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Rumah baru tidaklah seburuk dugaan April. Gadis itu bahkan tidak merasa takut di rumah barunya. Mengingat lampu-lampu jingga terang yang mendominasi rumahnya adalah warna menenangkan yang membuat April merasa aman, ia juga tidak menemukan ruangan-ruangan aneh, atau mendengar suara aneh dari rumahnya.

Ucapan Kyungsoo sedikit meneror sebenarnya, mengingat pemuda itu menyebut kata-kata rumah ‘angker’ tadi saat mereka pertama kali bertemu.

Sekarang, April bahkan bisa duduk manis di sofa mungil yang ada di ruang tamu kecil rumahnya. Ia menyangga siku dengan bantal kecil, sementara di tangannya sekarang ada sebuah buku yang sibuk ia baca.

“Sialan kau!”

April berjengit mendengar umpatan barusan. Berasal dari luar rumahnya memang, dan April sungguh terkejut.

“Kau sengaja melakukannya bukan?!”

April menyernyit. Ia lantas menggeser tubuhnya mendekati tirai cream yang membatasi dirinya dengan luar rumah. Hati-hati, dibukanya sedikit celah tirai, untuk mengintip apa yang tengah terjadi.

“Kalau aku memang sengaja, kau mau apa?” April memicingkan sepasang matanya, desahan kagum tanpa sadar lolos dari bibir gadis itu kala ia melihat dua orang pemuda jangkung berdiri berhadapan, satunya memunggungi April, tengah berkacak pinggang, dan satu lagi menghadap ke arah rumah April, menatap tenang seolah tak ada masalah yang sedang ia hadapi.

“Kau dan teman-teman hinamu memang senang mencari masalah dengan kami!” sang pemuda yang memunggungi April kini berucap geram, ia juga yang tadi mengeluarkan umpatan.

“Hah,” pemuda jangkung satunya mendengus kesal, netranya berkeliling sejenak sampai sepasang manik gelapnya bersarang pada April, membuat gadis itu terkejut bukan main. “Kau dan temanmu yang terlalu banyak berulah. Makhluk kotor seperti kalian seharusnya sudah dilenyapkan.” sambung pemuda itu, mengalihkan pandangannya dari April saat ia selesai berucap.

Merasa tak seharusnya mendengar pertengkaran tersebut, April akhirnya menutup tirai dengan hati-hati, menyandarkan tubuh di sandaran sofa sementara perdebatan masih terjadi di luar rumahnya.

“Kau tahu kami bisa berulah lebih mengerikan bukan?” mengenali suara bariton milik pemuda yang memunggungi rumah, April menyernyit.

Mengerikan?

“Dan kau juga tahu kami bisa melenyapkan kalian.” bass milik pemuda yang tadi bertemu pandang dengan April kini muncul.

Sungguh, April terkesiap. Gadis itu sampai berjengit dari sofa karena mendengar ucapan dua pemuda di luar rumahnya.

Lagipula, kenapa mereka bertengkar di tempat seperti ini? Apa mereka tidak tahu kalau rumah yang jadi tempat pertengkaran mereka sekarang sudah ada yang menempati? Atau mereka berpura-pura tidak tahu?

Memangnya nyala lampu saja tidak—oh! April tidak menyalakan lampu teras rumahnya.

Gadis itu menepuk dahinya saat ia tak menemukan bias cahaya yang seharusnya terlihat jika ia sudah menyalakan lampu teras. Gadis itu mendesah pelan, perlahan, jemari gadis itu bergerak mengintip lagi dari tirai saat—

BUGK!

April terkejut bukan main ketika pemuda yang memunggungi rumahnya tiba-tiba saja menyerang pemuda lainnya. Baku hantam terjadi, dan April sungguh merasa bersalah jika harus membiarkan sebuah pertengkaran terjadi di rumahnya. Rumah barunya.

Bagaimana kalau tiba-tiba ibunya pulang dan mendapati pemandangan seperti itu?

~ let’s choose for April! ~

A-2. Minimal, April harus membuat dua pemuda itu tahu bahwa seseorang sedari tadi menjadi penonton pertengkaran. April harus keluar dan menghentikan mereka. [Go read: Friend or Foe]

B-2. Tidak, April tidak mau jadi korban salah sasaran. Apalagi dua pemuda itu tampaknya sama-sama kuat. Biarkan saja mereka bertengkar, toh mereka bukan anak-anak dan akan sadar dengan sendirinya. [Go read: Accidentally or Purposely]

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

28 tanggapan untuk “#4thYearsWithEXO – APRIL`S MOVE: A HOUSE KEEPER [A-1] — IRISH`s Story”

  1. Baru sempet baca ini setelah prolog gara-gara marathon drama XD

    Oh, sekali lagi /angguk-angguk/
    Jadi kita bisa milih storyline-nya karena ada dua yang beda…
    Tapi kok kalo sempet aku masih pengen baca semua ya? Hahaha XD

  2. kaaak kok lucu sih konsep ceritanya, jadi kita bisa pilih sendiri lanjutannya kan yah?
    aku sempet bingung yg prologue itu kok terakhirnya ada pilihan 😁
    ternyata emang gitu konsepnya, sukaaaa 😄

  3. itu yang berantem chanyeol sama siapa? ini fantasy jugakan? mereka semacam spesies apa? /parah spesies/ wkwk yaudah aku baca selanjutnya ya mumpung jam kosong wkwk

  4. yang berantem itu chanyeol dan sehun kah? atau kai??
    trus ini berarti kita milih sendiri next ceritanya mau seperti apa.gitu ya??

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s