#4thYearsWithEXO – Don’t Go

don't go

Collaboration EVENT with MixMax Kpop Fanfiction

| #4thYearsWithEXO | Don’t Go | wonderful cover by AsuraKumiko and story by @peonyconyzoides | Oneshoot |

*****

Baekhyun memacu langkahnya membelah desauan angin malam kota Bucheon dengan cepat. Gurat kekhawatiran tercetak jelas di wajah tampan pria bertubuh mungil tersebut. Sepanjang tungkai kakinya berlari Baekhyun terus saja mengumpat panjang lebar.

Ketika di persimpangan jalan pria dari keluarga Byun itu berbelok menuju taman bermain dekat kedai es krim langganannya.

Walaupun malam sangatlah pekat, namun onyx Baekhyun dapat menangkap dengan jelas sosok gadis berambut pirang panjang dengan keriting di ujungnya, terduduk dalam posisi santai mengadah ke atas langit.

Malam ini bulan sabit tertutup awan. Nun jauh di atas sana bintang berkelap-kelip genit menimbul tenggelamkan cahayanya yang terlihat indah. Angin semilir terbangkan anak rambut pirangnya dengan nakal. Gadis itu adalah Kim Raemi. Teman semasa kecil Baekhyun.

Satu helaan nafas lega meluncur keluar dari mulut Baekhyun. Tanpa mengurangi kecepatannya Baekhyun berlarian mendekat. Kedua tangan besarnya meraih pundak Raemi lalu membalikannya dengan gerakan cepat.

“Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Baekhyun khawatir.

“Yak! Byun Baekhyun bodoh! Kau telah menjatuhkan es krim terakhirku.”

Baekhyun menyerngitkan keningnya bingung. Nafasnya masih menderu-deru dengan detak jantung yang belum normal. Perasaan khawatir, takut, bercampur hal berbau negatif lainnya berkecamuk di dalam rongga dadanya. Tapi sepertinya Baekhyun terlalu berlebihan. Karena pada kenyatannya Raemi terlihat … sangat baik-baik saja!

“Apa yang sedang kau lakukan, Kim Raemi?!” tanya Baekhyun.

“Tadinya … memakan es krim. Ugh, tapi es krimku telah kau jatuhkan, Baekie.”

Baekhyun terlihat frustrasi dengan ekspresi kekanak-kanakan Raemi. Poni ratanya terembus angin sehingga terlihat berantakan.

“Maksudku, apa yang sedang kau lakukan di taman ini sendirian? Kau bahkan mengirimkan sms yang sukses membuatku lari tergopoh-gopoh karena khawatir.”

Raemi terkekeh kecil. “Oh, tadi aku iseng berjalan sendirian, lalu ternyata aku tersesat. Paman Jung tidak bisa menjemputku dalam waktu dekat. Ya sudah akhirnya aku menghubungimu saja, Baekie.”

“Berhenti bertingkah seenaknya sendiri!” Baekhyun mendaratkan jitakan ke kepala Raemi. “Kalau kau diculik, diperkosa, atau dirampok bagaimana, hah?!”

“Itu tidak mungkin terjadi. Bukankah ada kau?”

Baekhyun mendengus. Ia merasakan hatinya tercubit. “Tapi kalau ternyata aku tidak bisa datang bagaimana?” lirih Baekhyun.

Raemi bangkit dari atas ayunan lalu mengibas-kibaskan rok pendeknya untuk menyingkarkan debu atau kotoran lainnya. Gadis itu mengulum senyum menenangkan.

“Kau ini berbicara apa, Baekie. Sudahlah lebih baik kita bergegas pulang.” Raemi menggenggam tangan Baekhyun lalu mengajaknya menyusuri jalan. “Kita bisa naik bus, atau kalau ada naik taksi lebih baik, ah … rasanya aku sangat lelah.”

“Bodoh! Kau fikir mana ada taksi yang berkeliaran di tengah malam seperti ini.”

Raemi ber-oh-ria seraya membenarkan poninya. “Benarkah? Aku tidak tahu.”

“Lalu, kenapa kau bisa tersesat, eoh?” tanya Baekhyun.

“Iseng,” sahut Raemi cepat.

“Yang benar? Kau berbohong ya?”

Raemi bergeming. Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya untuk meniliti perubahan air muka Raemi.

“Iya benar … berbohong.”

“Aniyo!” sungut Raemi.

“Tidak masalah jika tidak mau mengaku.”

Raemi menyikut rusuk Baekhyun. Sejurus kemudian Baekhyun mengaduh kesakitan. Wajah oval Raemi berubah sendu dengan mata berkaca-kaca.

“Aku bukan pembohong. Lagipula kau yang telah berbohong, Baekie,” ujar Raemi terdengar sarkastik.

“Eh? Apa maksudmu, Raemi-ya?”

Tiba-tiba hening melanda. Baik Baekhyun maupun Raemi mereka terdiam. Seolah sibuk dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri.

“Baekie,” panggil Raemi menyentak Baekhyun ke kehidupan nyata.

“Ye?”

“Kau ingat tidak waktu kecil dulu kita sering menghabiskan waktu di taman bermain ini,” ujar Raemi memulai nostalgianya.

“Tentu aku mengingatnya. Hey, bukankah dulu kau sangat manja?”

Raemi mendelik kesal. “Aniyo!”

“Ah, tapi sekarang pun kau masih manja.”

Baekhyun tertawa riang. Berbeda dengan Raemi yang berubah menjadi murung. Jauh di dalam lubuk hatinya Raemi merasakan sesak yang begitu menghimpit.

“Aku memang manja. Kau puas?!”

“Eyy…,” Baekhyun menghentikan tawanya dan menatap Raemi, “kau marah ya?” Ia mencubit pipi Raemi sekilas dengan gemas. “Maafkan aku. Aku hanya bercanda.”

Raemi tidak merespon ucapan Baekhyun. Gadis itu terus saja melangkahkan kakinya dalam diam. Otaknya menerawang jauh hingga mengantarkan gambaran-gambaran tentang masa kecilnya secara acak.

“Hmm … Baekie, dulu ketika kita kecil, kau selalu berjanji untuk melindungiku, bisakah aku menagih janji itu?”

Baekhyun tercekat. Langkahnya berhenti mendadak. Kilasan tentang masa kecilnya menyerumuk di benak otak. Ada desiran yang terasa sakit menghantam ulu hati Baekhyun.

“A-apa ma-maksudmu?”

Raemi pun menghentikan langkahnya. Tangan Raemi bergetar hingga tanpa sadar membuatnya terkepal begitu erat. Airmata menumpuk di kedua kelopak matanya.

“Apakah bisa aku menagihnya? Kau sudah berjanji bukan? Apakah sekarang aku bisa–”

“Berhenti berbicara omong kosong, Raemi-ya!” tukas Baekhyun.

Airmata menetes membelah kedua pipi tirus Raemi menciptakan aliran sungai kecil. Untungnya posisi Raemi membelakangi Baekhyun hingga membuatnya sedikit bersyukur karena Baekhyun tidak melihatnya menangis secara langsung.

“A-aku tahu, Baekie, a-aku hanya seorang gadis manja…,” Raemi mulai membuka suaranya yang terdengar bergetar, “tapi bukan berarti aku bodoh. Semua sudah mengetahuinya. Kau akan pergi menjadi traineer di salah satu perusahaan ternama di Seoul. Aku benarkan?!”

Pundak Raemi berguncang-guncang. Isakan kecil menerjang indra pendengaran Baekhyun. Tak pelak hal itu membuat hati Baekhyun sakit seperti teriris pisau tajam tak kasat mata.

“Apa tidak bisa aku menagih janjimu. Tetaplah di sini. Jangan pergi. Setidaknya demi aku … ah tidak … maksudku demi janji itu.”

Hati Baekhyun mencelos. Ia tidak menyangka kalau Raemi akan mengetahui hal ini. Padahal sudah susah payah Baekhyun menyembunyikannya.

Bukan!

Baekhyun bukan ingin membohongi Raemi. Ia hanya tak ingin Raemi bersedih. Semua akan berjalan sulit untuk Baekhyun meninggalkan tanah kelahirannya, keluarganya, bahkan … cinta pertamanya jika harus melakukan ucapan perpisahan berurai airmata.

Dalam satu tarikan Baekhyun membawa Raemi ke dalam rengkuhannya. Dagunya jatuh ke pucuk kepala Raemi yang menyebarkan wewangian dari sampo buah kesukaan Raemi.

“Maaf…” lirih Baekhyun.

Raemi memukul dada Baekhyun sekeras mungkin. “Jangan pergi…,” Raemi kembali memukul, “kumohon…,” Gadis itu terus memukul untuk menyalurkan kesedihannya. “AKU MOHON JANGAN PERGI, BAEKIE!!”

“Jangan percaya padaku seperti orang bodoh. Aku bilang aku akan melindungimu selamanya tapi itu semua bohong. Aku hanyalah pembohong.”

Raemi menggeleng. “Aku tidak perduli kalau kau pembohong, yang terpenting kau harus tetap berada di sebelahku, cukup di sebelahku dan jangan pergi.”

“Maaf … maaf. Aku tidak bisa lagi melindungimu…,” Pelukan itu semakin erat. Tangis Raemi semakin kencang meraung-raung. “Aku harap kau akan baik-baik saja. Aku berharap kau bisa melupakanku…,” Raemi mencengkram kaus abu-abu bagian belakang Baekhyun dengan erat. “Lupakan aku … meskipun itu sakit.”

Pelukan Baekhyun sesaat terasa erat dan hangat namun perlahan-lahan pelukan tersebut mengendur. Bersamaan dengan itu pula Raemi jatuh meluruh ke jalanan. Hatinya terasa kosong dan hampa. Perpisahan ini terasa begitu kejam. Bahkan airmata seolah tidak mampu membasuh lukanya.

“Tidak, aku tidak bisa, tidak akan…,” Raemi menggeleng keras. “Aku tidak bisa melupakanmu. Jangan pergi. Kumohon,” lirih Raemi terbawa semilir angin malam.

“Jika aku diizinkan sekali lagi…,” Baekhyun menguatkan dirinya, “untuk kita bisa bertemu. Bahkan hanya dalam kenangan masa lalu…,” Tanpa terasa satu tetes airmata berhasil menjebol dinding pertahanan Baekhyun, “di dalam rasa sakit itu, aku akan memanggilmu … karena kau … kegembiraanku, segalanya untukku … takdirku.”

Raemi tersentak. Ia mengangkat kepalanya menatap wajah Baekhyun. Mulutnya terbuka menggumamkan sesuatu.

“A-apa?”

Baekhyun menghela nafasnya. Untuk sekali ini saja, ia akan berterus terang, mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi.

Karena bertahun-tahun lamanya menyimpan sebuah perasaan lebih dari seorang teman kepada Raemi bukanlah perkara mudah. Bahkan sangat sulit untuk menyebutkan dua kata sakral yang selama ini hanya menjadi sebuah keluhan yang mengalir di hatinya.

Bukankah menyatakan perasaan rasanya seperti berjudi? Dan Baekhyun tidak perduli apakah judinya akan berakhir menang ataupun kalah malam ini.

“Kim Raemi, kau hidup dan bernafas di dalam hatiku, kau berjalan di dalam detak jantungku. Bahkan sejak hari pertama kita berteman aku sudah menyimpan rasa ini. Aku mencintaimu.”

END

*****

(Catatan penulis : Hey semua, salam kenal, Peony imnida. Fanfiction-nya gaje ya? Duh, maafkan Peony yang masih amatir ini yah. Nah, untuk kalian yang ingin membaca karya lain Peony bisa berkunjung ke akun wattpad Peony di @peonyconyzoides. Terakhir, untuk readers, jangan lupa kritik dan sarannya yah. Eh, tambahan, niatnya Peony akan membuat sequel fanfic ini dalam sudut pandang Raemi. Hohoho … nantikan saja ya. Xoxo.)

3 tanggapan untuk “#4thYearsWithEXO – Don’t Go”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s