[EXOFFI Facebook] Twaddles of A Rapscallion

12380757_177560215963202_2132728087_o

Twaddles of A Rapscallion

Just another of a  nonsense fiction by Riruka

 

“Namun jika kau membenci terlalu banyak, kebencian itu akan memakanmu, kau tahu?”

 

***

 

Sebenarnya, apa makna eksistensi manusia di dunia ini? Kenapa mereka hidup? Kenapa Tuhan menciptakan mereka? Untuk berjuang? Untuk merasakan kebahagiaan? Apa itu kebahagiaan? Apakah itu waktu dimana kau mendapatkan apa yang kau mau? Saat seseorang memujamu? Mencintaimu? Ah, cinta? Bagaimana jika itu semua tidak berhasil? Masihkah disebut sebagai manusia?

“Tuan Oh Sehun, seseorang datang untuk bertemu dengan anda.”

 

Sehun berpijak pada kedua kakinya, masih memandang kosong keluar jendela entah sejak kapan. Refleksi buramnya terpantul disana, balas menatap padanya dengan iris sekelam malam. Pemuda itu tidak bergerak, tidak menjawab, tidak pula memalingkan pandangan. Ia lebih memilih untuk memandangi taman yang memang berada di bawah lantai kamarnya. Jemari panjangnya hanya bergerak menelusur tepi jendela sesaat. Tanpa memberikan pertanyaan lagi, wanita yang sempat berdiri di ambang pintu segera mempersilahkan seseorang untuk masuk dan meninggalkan keduanya begitu saja. Derap langkahnya sempat terdengar bergema untuk sesaat di lorong sebelum kembali diisi keheningan.

 

Dilihat dari sudut manapun, ini terlihat seperti seseorang yang tengah memberikan kudapan kecil pada seekor ular. Sayangnya, Sehun hanya melirik tamu barunya sekilas tanpa berminat menyentuhnya sedikitpun. Bibirnya masih terkunci rapat. Ia sudah tahu apa yang gadis asing ini akan bicarakan, apa tujuannya, kenapa dia ada disini, dan semua hal menjengkelkan lainnya. Dan semua akan bermula serta berakhir seperti biasanya.

 

“Namaku Alana,” ujar gadis itu. “Aku datang untuk berbicara denganmu.”

 

Lihat? Sama saja, bukan?

 

Gadis itu, Alana, dia tak menunggu Sehun menyahut. Ini adalah pertama kalinya bagi Sehun untuk mendengar seseorang berkata tanpa penekanan atau apapun. Ia tak bisa menangkap makna tersembunyi di balik kata-katanya. Dan Alana hanya melanjutkan kalimatnya tanpa keraguan, “Mungkin aku memang akan mengajukan pertanyaan sama seperti orang-orang sebelumnya. Aku tahu itu menyebalkan bagimu. Namun aku masih berharap bisa sedikit membantu karena—”

 

“Uang.”

 

“Hm?” seulas senyum miring terulas pada wajah si gadis, “Katakan sekali lagi.”

 

“Karena uang,” sahut Sehun datar. “Kau datang kemari karena uang. Semua orang seperti itu. Uang adalah segalanya. Apa aku benar?”

 

Sehun kini memalingkan wajah dan menangkup presensi si gadis dengan sempurna. Pemuda itu bersandar pada dinding dan melipat tangannya di depan dada. Sepasang netra cokelat Sehun mengerjap pelan sebelum sukses menukik tajam. Harusnya itu bisa melukai sedikit dari kepercayaan diri lawan bicaranya, namun gadis bersurai cokelat gelap itu nampak tak terganggu barang sejengkalpun. Ia berwajah dan bersikap begitu tenang—hampir menyerupai permukaan air telaga.

 

“Aku datang karena sebuah imbalan,” sahut Alana kemudian. Sehun tak memberikan respons apapun dan gadis itu berbicara lagi, “Namun bukan hanya itu saja. Aku datang untuk menolong. Menolongmu, Oh Sehun.”

 

Yang benar saja. Sehun tersenyum sinis, “Terdengar hebat sekali, Alana. Tapi ada beberapa manusia di dunia ini yang berada dalam titik tertentu dimana mereka tak bisa diselamatkan lagi.”

 

Alana mengangguk pelan, “Memang.”

 

“Kau berpikir aku gila, bukan?” tuding Sehun tanpa ekspresi.

 

Well, seseorang yang gagal dalam melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali memang bukan orang waras,” sahut gadis itu rendah. Ia melangkah mendekat, menghapus jarak diantara keduanya dan Sehun menyadari sesuatu yang salah dengan gadis ini. “Aku tahu alasan pasti mengapa Ayahmu mengurung putra sulungnya di dalam sebuah kamar, mengapa kau melakukan semua percobaan itu, dan mengapa kau masih hidup sampai detik ini. Oh, aku tahu semuanya. Itulah kenapa aku datang.”

 

Sehun mungkin memang berhasil menyembunyikan rasa gusarnya. Tapi rasa gelisah mulai merayap dari ujung kaki dengan janggal. Ini aneh. Ini tidak seperti dirinya sendiri. Beberapa bulan terakhir, Ayahnya memang selalu mengirim orang-orang sejenis Alana dengan alasan sama. Psikiater, dokter, atau apapun itu. Bahkan hampir tiap minggu, nyaris terasa seperti makan malam. Meski tak membuahkan hasil apapun, Sehun yakin ia telah menguasai cara untuk membuat mereka pergi. Tapi kenapa kali ini berbeda? Jelas ada yang tidak beres, bukan? Tapi apa?

 

“Kau membenci Ibumu, Sehun?” Alana bertanya lirih. “Bagaimana dengan Ayahmu?”

 

Sehun menggertakkan giginya tak suka, “Diamlah.”

 

“Kenapa?”

 

“Diamlah!”

 

“Apa mereka pergi meninggalkanmu?”

 

Sepasang iris Sehun mendelik gusar, “KUBILANG DIAM—”

 

“Tidak,” Alana memotong, menyeringai, dan ia memiringkan kepalanya seduktif, “Oh, rupanya kau memang benar-benar membenci wanita itu. Ayahmu juga, bukan? Kau tahu, Sehun? Tuhan akan membencimu jika kau membenci keduanya.”

 

Sehun menukik iris Alana dengan tatapan geramnya. Langkah panjang pemuda itu berderap cepat sebelum ia mendorong bahu Alana hingga keduanya terjungkal di tempat tidur. Dengan cepat, Sehun mencengkeram kedua pergelangan tangan gadis tersebut hingga ia tak bisa bergerak. Namun alih-alih memberontak, Alana hanya menatap pada sepasang iris cokelat Sehun dengan datar.

 

Untuk beberapa alasan yang entah apa, Alana memang nampak begitu tenang meski ada seorang laki-laki muda tengah menindih tubuhnya. Yang dia lakukan hanyalah menatap wajah Sehun yang perlahan dipenuhi rasa sakit yang membuncah. Yang gadis itu lakukan hanyalah mengamati dengan ekspresi tak terbaca. Menyelami, mencari rahasia yang tersembunyi hingga titik dimana pemuda itu melepaskannya.

 

“Dia meninggalkanku dan pergi dengan laki-laki lain—wanita sialan itu. Ayahku bahkan tak ada bedanya dengan seekor hewan liar. Dia mengurungku karena tak ingin nama baiknya tercemar,” Sehun tersenyum miring, irisnya menatap nanar dipenuhi frustasi yang nyaris meledak, “Dan kau tahu bagian terbaiknya? Semua orang, semua orang disekitarku hanya menginginkan harta dan uang itu. Tidakkah kau pikir itu sungguh memuakkan? Tidakkah kau pikir manusia begitu menggelikan?”

 

Lambat, Alana mengulaskan segurat senyum tersenyum puas, “Benar.”

 

Sehun menundukkan wajahnya, bergumam pada diri sendiri meski ia tahu Alana bisa mendengar suara bergetarnya dengan jelas, “Aku benci mereka semua. Aku benci mereka semua. Aku benci—”

 

“Aku tahu,” Alana melepaskan satu cengkeraman Sehun dengan lembut dan perlahan menggerakkan jemarinya menelusuri profil wajah pemuda itu. “Namun jika kau membenci terlalu banyak, kebencian itu akan memakanmu, kau tahu?”

 

“Tch,” Sehun mendecih dan kembali memusatkan atensinya yang sempat terpecah. Ditangkapnya jemari Alana pada pipinya, meremas jari lentik itu lalu tersenyum kosong, “Kalau begitu biarkan saja. Biarkan kebencian itu memuaskan hasratnya hingga tak menyisakan jengkal apapun.”

 

“Kalau begitu biarkan aku membantumu.”

 

Jika saja Alana mengatakan itu pada awal percakapan mereka, Sehun mungkin hanya akan membiarkannya berlalu begitu saja. Namun entah untuk alasan apa kini pemuda itu nampak tercengang untuk sesaat. Ia terpaku pada sepasang mata milik Alana, membiarkan iris itu menguasai dirinya. Membiarkan dirinya jatuh dan menyelami makna pandangan gadis asing ini. Sesuatu yang salah itu, mungkin bisa membuatnya kembali hidup.

 

“Kau hanya perlu mengikuti instruksiku,” Alana menghela nafas seraya bergerak bangkit. Sehun tercekat, benar-benar nampak kehilangan kontrol diri hingga dia memundurkan tubuh serta wajahnya sampai posisi mereka berganti. Dengan lambat Alana menatap lurus pada iris Sehun, membiarkan pemuda itu berada di bawah tubuhnya. “Dikurung di tempat ini sungguh menjengkelkan, bukan? Mereka merenggut kesempatanmu, bukan? Ah, lalu kenapa kau tidak membalasnya saja?”

 

Sehun menatap kosong, “Huh?”

 

“Merasa bingung?” Alana tersenyum miring. Gadis itu lalu bergerak lambat untuk menghapus jarak diantara keduanya dan berbisik pelan pada telinga pemuda tersebut, “Oh Sehun. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Kau bisa menyingkirkan mereka yang menyakitimu. Kau bisa membuat surgamu di tempat ini dengan mudah.”

 

Sehun terhenyak. Ini semua gila. Segalanya terjadi diluar prediksi dan kemampuannya. Gadis ini, siapa dia sebenarnya? Apa Ayahnya benar-benar mengirim Alana kemari demi kesembuhannya? Tidak, itu tidak mungkin. Namun alih-alih menggunakan logikanya untuk mencerna keadaan, Sehun hanya membeku dengan sepasang iris kosong.

 

Oh, melakukan apapun yang aku mau? Jelas hal itu terdengar begitu hebat. Ia sudah cukup dengan penjara ini. Dia juga sudah merasa cukup dengan tempat ini. Muak, amarah, rasa tak puas yang membeludak dalam batinna. Sehun merasa aneh, namun dia tak mampu mencegah bibirnya untuk tak mengulaskan seringai. Wajah pemuda itu lalu mendongak lurus. Menatap pada sepasang iris Alana yang menukik tajam padanya.

 

“Benar, kau datang untuk menolongku,” gumam pemuda itu lirih. Ia kemudian bergerak menghapus jarak dengan lambat—semakin dekat hingga Alana menutup kedua kelopak matanya. Sehun tahu ia seharusnya tak begini. Namun ketika sensasi itu menjalar seperti sengatan volt listrik, dia tak lagi sanggup mengontrol diri. “Katakan apa yang harus aku lakukan, Alana.”

 

Gadis itu menatap lembut. Dia mendaratkan satu lagi kontak pada bibir pemuda tersebut dan mengulaskan segurat senyum miring, “Semua hal yang perlu kau lakukan hanyalah mempercayai Iblis sepertiku, Sehun. Dan harga yang perlu kau berikan akan setimpal dengan hasilnya. Buatlah sebuah perjanjian denganku.”

 

 

Fin.

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI Facebook] Twaddles of A Rapscallion”

  1. ini msih ada lnjutannya gk?
    seru deh kyknya klau dlanjutin…
    alana sbnernya jahat gk sih ma sehun?
    ditunggu next nya kak 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s