[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (Chapter 2)

Untitled-1 (2)

Title : Choose One

Author : RF.Aeri

Length : Chapter

Genre : Romance, AU

Rating : PG-15

Cast : – Bae Irene RV

– Ooh Sehun EXO

– Kang Seulgi RV

Main Cast : – Wendy Rv

                -Byun Baekhyun

Disclaimer : Fanfiction pertama yang dibuat Author real 100% buatan author, tapi beberapa bagian diambil dari kisah nyata autor*abaikan*. dan beberapa bagian terinspirasi dari drama korea dan cerita-cerita romance lain. Dan ingat! Typo bertebaran dimana-mana, maklum pemula. Okey cukup basa basinya, selamat membaca~ ^_^

CHAPTER 2

“Kenapa aku jadi seperti ini? Ada apa denganku?” gumam Irene seraya berjalan di trotoar menuju rumahnya, jarak Rumah dan Universitas lumayan jauh, jadi mau tidak mau Irene harus berjalan dan menaiki kereta.

Sebenarnya, Irene mempunyai mobil pribadi, pemberian Ibunya saat Irene ulang tahun, tahun kemarin. Tetapi Irene tidak mau memakainya, Irene juga belum bisa mengemudikan mobilnya, Ibu Irene sudah beberapa kali menyuruh Irene untuk mengikuti kursus mengemudi, Irene menolaknya dan lebih memilih menaiki kereta.

Ibu Irene seorang pemilik butik dan toko bunga yang lumayan terkenal, tetapi teman sekampus Irene tidak tau tentang hal itu, ketika Irene membantu ibunya di butik dan toko bunga, Irene beberapa kali bertemu dengan temannya. Dan teman temannya bertanya, apakah ini butik milik ibumu? Tetapi Irene menjawab “bukan, ini tempat aku bekerja”.

♡♡♡

 

Waktu menunjukkan pukul 20.30, Irene menuju perjalanan pulang menuju stasiun kereta. Ketika sedang dalam perjalanan menuju stasiun kereta, ponsel milik Irene bergetar, dengan cepat Irene mengambilnya dari dalam saku baju yang ia pakai. Ternyata itu pesan dari Wendy.

Irene-ya, sepertinya kau menyukai Sehun sunbae, buktinya wajahmu merah sekali tadi. Apa traumamu sudah berkurang? Apa kau sudah tidak takut lagi dengan laki-laki?haha.. ini, aku berikan nomor ponsel Sehun Sunbae 0***-8*3*-5**1*” ntah kenapa, tiba-tiba Irene tersenyum setelah mendapatkan nomor ponsel Sehun. Lalu ia tersadar dan segera menepuk-nepuk pipinya pelan, lalu malenjutkan perjalanan menuju stasiun kereta.

Seling lima menit, ponsel Irene kembali bergetar, itu adalah telepon dari ibunya, dengan cepat, Irene menganggkatnya.

Yoboseyo?” Irene berbicara terlebih dahulu.

Irene-ah, kau dimana sekarang?” sahut ibunya dari sambungan telepon.

“Aku sedang menuju stasiun kereta, ada apa Eomma?” Tanya Irene.

“Ahh, syukurlah kau masih disitu Eomma ingin meminta tolong padamu, bahan masakan dirumah sudah habis, jadi bisakah kau membelikan bahan masakan? Di supermarket dekat taman sepertinya ada, Eomma pernah melihatnya, nanti Eomma akan memberi tau apa saja yang harus dibeli” sambungan telepon di tutup.

Sebenarnya Irene malas jika sudah disuruh untuk membeli bahan-bahan itu, ibunya sering sekali menyuruhnya membelikan bahan makanan. Tapi Irene tidak mau mengecewakan Ibunya, jadi mau tidak mau Irene harus menuruti apa kata ibunya. Karena satu-satunya keluarga yang Irene punya hanya ibunya. Ayah Irene sudah meninggalkan Irene dan Ibunya ketika kejadian yang membuat Irene takut kepada laki-laki.

Irene berbalik arah, karena supermarket yang dimaksud sudah terlewat beberapa meter. Ketika sedang menuju supermarket, Irene merasa ada yang mengikutinya, Irene beberapa kali menengok kebelakang, tetapi tidak ada siapapun, hanya ada beberapa sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan di area taman.

Irene mempercepat laju jalannya, semakin lama, Irene semakin takut dan memutuskan untuk berlari. Ketika sampai di depan supermarket ia langsung masuk dengan nafas yang terenga-engah. Irene menenangkan diri sebentar dan langsung membeli bahan yang sudah di sms-kan ibunya ketika sedang berada di jalan.

Irene melihat ke luar jendela supermarket, seorang laki-laki bertubuh tinggi dan juga besar sedang memperhatikan gerak-gerik Irene, sesekali laki-laki berbaju rapi dengan jas hitam itu menatap layar ponselnya dan berbicara sendiri, sepertinya ia sedang menghubungi seseorang. Irene semakin takut, Irene sudah selesai berbelanja dan ia mulai mendekati kasir untuk membayar.

“Tolong, ulur waktu, tunda dulu pekerjaanmu, sebentar saja” Irene berbicara kepada sang kasir, sang kasir merasa heran.

“Ada apa? Apa ada yang belum anda beli?” Tanya kasir itu, Irene menggeleng dan terus memohon untuk menunda pekerjaannya memeriksa barang yang akan dibeli Irene.

Irene mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, ia segera menghubungi ibunya, tetapi tak ada jawaban, Irene menghubungi telepon rumah pun tidak ada jawaban sama sekali. Lalu ia mencoba menghubungi Wendy, tetapi ponsel Wendy tidak aktif. Irene panik dan rasa takut menghantui Irene. Irene hampir menangis dan tiba-tiba Irene teringat sesuatu.

Irene membuka percakapan sms-nya dengan Wendy, Irene ragu untuk menghubungi nomor yang tadi Wendy berikan kepada dirinya, nomor ponsel Ooh Sehun. Dengan ragu, Irene memencet nomor posel Sehun dan langsung menempelkan ponselnya ketelinganya.

Nada sambung yang cukup lama membuat Irene khawatir, pikirannya sudah liar kemana-mana, ia panik sekali. Sampai akhirnya nada sambung berganti dengan suara seorang namja yang mengangkat telepon. Saat itu juga, Irene tidak bisa menahan air mata yang sedari tadi sudah penuh berada di pelupuk mata Irene. Irene menangis.

Yoboseyo?” suara yang baru Irene kenal siang tadi, membuat Irene merasa tenang dan lega.

“Yo..Yoboseyo Sehun Sunbae” Irene berkata dengan terpotong-potong karena tangisannya.

Nuguseyo?” Sehun bertanya,

“….” Tetapi tidak ada jawaban dari Irene, hanya terdengar suara isak tangis Irene.

Irene-ah? Apa benar itu kau?” Sehun menyadari bahwa yang meneleponnya adalah Irene, Irene bernafas lega.

Ne, ini aku, Irene. Sehun sunbae, a.. ap.. apa kau-“ kata-kata Irene terhenti, Irene meliat orang yang sedang mengawasinya mulai mendekat keraha pintu masuk supermarket.

“Sehun Sunbae! Jebal! Tolong aku!” Irene memelankan suaranya sambil sedikit menaikkan nada bicaranya, saat ini Irene sangat panik.

“Kau dimana? Aku akan segera kesana” suara Sehun menjadi sangat panik ketika mendengar Irene meminta tolong padanya.

“Di supermarket dekat taman yang tidak terlalu jauh dari kampus” Irene memberitahukan lokasinya saat ini. Lalu telepon ditutup, Irene menutup matanya berdoa agar Sehun segera sampai dan menyelamatkannya.

Irene sudah sering meliat orang yang mengawasinya saat ini, Irene melihat orang itu ketika Irene sedang membantu Ibunya di butik dan toko bunga, sewaktu keluar area kampus, sewaktu di dalam kereta. Irene sudah sering merasa ketakutan ketika akan pulang.

Irene sudah membayar belanjaannya lima menit yang lalu. Sekarang orang yang sedang mengintai Irene sudah berada tepat di depan pintu supermarket. Irene menutup matanya. Pintu supermarket terbuka dengan keras, dengan cepat Irene membuka matanya, ternyata itu adalah Sehun.

Ketika Irene melihat Sehun, Irene lega dan senang. Tanpa Irene sadari, air matanya mulai mengalir berjatuhan kembali ke permukaan lantai supermarket. Dan tanpa Irene sadari, Irene memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu. Sehun.

Sehun membalas pelukan Irene. Meskipun Irene dan Sehun baru saja bertemu tadi siang, tetapi rasanya Irene sudah sangat dekat dengan Sehun. Irene merasa nyaman ketika sedang bersama Sehun. Irene sudah menyadari bahwa ia sedang berpelukan dengan Sehun, dengan cepat, Irene melepaskan pelukan itu dan segera menghapus air matanya.

Gwenchana, jika kau nyaman seperti itu, lakukan saja” Sehun tersenyum kepada Irene, lalu Irene menundukkan kepalanya.

Kajja, kita keluar dari sini” Sehun mengajak Irene keluar dari supermarket dengan membisikkannya ke telinga Irene. Sehun sudah mau melangkahkan kakinya tetapi tiba-tiba Irene meraih pergelangan tangan Sehun, menahan Sehun untuk berjalan.

“T..tapi, bagaimana dengan-“ Kata-kata Irene terhenti, Sehun menempatkan jari telunjuknya tepat di bibir tipis Irene.

“Tidak apa-apa, tenang ada aku” Sehun meyakinkan Irene. Lalu Irene mengangguk dan mengikuti Sehun berjalan dari belakang. Ketika orang yang mengintai Irene memperhatikan Irene dengan seksama, Irene pindah kesebelah Kiri Sehun, orang itu berada di sebrang kanan Irene dan Sehun. Irene memegang tangan Sehun erat. Lalu Sehun merangkul Irene menjauh dari orang yang sangat Irene takuti saat ini.

Lama kelamaan Sehun dan Irene sudah semakin menjauh, dan orang itupun meninggalkan tempat dimana ia mengintai Irene. Ia berlari menjauh dari supermarket sambil memegang ponsel, dan samar-samar orang itu terdengar sedang menelepon seseorang.

♡♡♡

Irene sudah berada di dalam mobil mewah milik Sehun. Irene menundukkan kepalanya, matanya masih sembap karena menangis. Sedari tadi, Irene maupun Sehun belum berbicara apapun. Sehun sudah memberikan Irene sebotol air mineral, Irene meminum hingga setengahnya, sekaligus.

“Irene-ah, apa kau sudah merasa baikan?” Sehun bertanya dengan hati-hati kepada Irene. Irene mengangguk.

“Aku sudah merasa lebih baik” Irene mengangkat kepalanya lalu tersenyum kearah Sehun, meskipun Sehun tau Irene tersenyum agar tidak membuat  Sehun khawatir, tetapi Sehun merasa tetap khawatir.

“Terimakasih sudah menyelamatkanku, jika tidak ada Sunbae, ntah sekarang aku berada dimana” Irene menundukkan kembali kepalanya, menahan tangis.

Tiba-tiba Sehun memeluk Irene, kepala Irene bersandar di dada Sehun. Sehun mengusap-usap lembut rambut Irene, menenangkan Irene.

“Akan aku antar kau sampai rumahmu” Sehun melepaskan pelukannya, lalu Irene mengangguk. Beberapa menit kemudian setelah mesin mobil dinyalakan, Sehun menancap gas untuk pergi mengantarkan Irene pulang ke rumah. Irene menunjukkan jalan ke arah rumahnya.

Di perjalanan, tidak ada percakapan apapun. Sampai akhirnya Sehun dan Irene sudah sampai di depan gerbang rumah yang cukup megah tetapi tidak terlalu besar, bergaya modern dengan cat berwarna-warni, sangat unik, itu adalah rumah Irene. Irene keluar dari mobil, Irene melihat sekeliling, tiba-tiba Irene melihat orang yang sama ketika sedang di supermarket, orang itu sedang memperhatikannya dari kejauhan dari belakang pohon, Irene dapat melihat dengan jelas keberadaan orang itu.

Irene kembali masuk kedalam mobil milik Sehun. Sehun heran, apa yang sedang terjadi. Sehun langsung menanyakannya kepada Irene yang terlihat takut.

“Irene-ah, ada apa?” Sehun bertanya dengan suara yang pelan.

“Orang itu mengikuti sampai rumahku, aku takut Sunbae” Irene menunjuk orang yang sedang berdiri di belakang pohon. Sehun dapat melihat dengan jelas orang yang berdiri di belakang pohon, lalu Sehun mengarahkan lampu mobilnya ke pohon itu, karena lampu mobil Sehun, orang itu bersembunyi di belakang Pohon hingga tidak terlihat oleh Irene dan Sehun.

“Akan aku antar kau sampai ke depan pintu rumahmu” Sehun membuka pintu mobilnya lalu turun dari mobil. Irene enggan untuk turun dari mobil karena masih merasa takut.

Sehun membukakan pintu untuk Irene, lalu meyakinkan Irene bahwa tidak apa-apa untuk turun dari mobil. Lalu Irene turun dari mobil sehun dan segera membawa belanjaan yang tadi Irene beli, tidak terlalu banyak, hanya satu keresek berukuran sedang.

Irene membuka pintu gerbang khusus untuk pejalan kaki, satpam yang menjaga rumah Irene entah kemana, padahal televisi di posnya masih menyala. Irene mendengus kesal. Lalu Sehun dan Irene mulai memasuki area rumah Irene.

Setelah sampai di depan pintu rumah, Irene langsung membuka pintu rumah.

“Terimakasih sudah mengantarkanku hingga sejauh ini, maaf bila merepotkan sunbae” Irene membungkuk sopan kearah Sehun.

“Tidak masalah, santai saja” Sehun tersenyum kearah Irene, Irene membalas senyuman Sehun.

“Yasudah, aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik, kunci semua pintu dan jendela rumahmu, jangan sampai ada yang terbuka” Sehun mulai melangkah menjauh meninggalkan Irene yang berada di ambang pintu rumahnya.

Lalu Irene segera masuk dan mengunci pintu. Irene berlari menuju dapur untuk menyimpan belanjaan dan segera menuju kamarnya. Irene membukakan gorden jendela kamarnya, melihat mobil mewah yang baru saja ia dan Sehun naiki sudah berlalu meninggalkan rumah Irene.

Setelah itu, Irene menutup kembali gorden dan menuju meja belajarnya, Irene membuka sebuah buku kecil yang indah, dengan cover warna pink membuat Irene terliat semakin feminim dan girly. Ia membuka tutup pulpen dan segera mencoret-coretkan tinta didalam pulpen. Irene menuliskan sebuah kaliamat yang akan mengubah hidupnya.

Berkat Sunbae, aku dapat menghilangkan rasa traumaku ini, Kamsahamnida –Irene.

-TBC

PREVIEW CHAPTER 3

*

“S…Sunbae, sedang apa kau disini?”

*

“Ohh begitu, terimakasih. Oh ya, perkenalkan, namaku Seulgi”

*

“Apa perlu ku ulangi?”

Chapt. 2 beres!~ kepanjangan ya? Mian:D , ceritanya gimana? Makin seru apa nambah bosen? Author udah berusaha buat bikin readers seneng. Author ingin coment-an kalian~~

 

 

 

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] CHOOSE ONE (Chapter 2)”

  1. uhh so sweet…duhh sehun cinta pada pandangan pertama..
    hahh…kapan bisa ktemu cwo kek gtu…ngayal tinggi”
    next…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s