[EXOFFI FREELANCE] Some Body (chapter 7)

somebody3

SOME BODY

Title: Some Body (chapter 7)

Author: Jung21EunSoo

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), J-hope/Jung Hoseok (BTS).

Cast:

  • Kim Namjoo (Apink)
  • Xi Luhan, Park Chanyeol (EXO)
  • Kim Nara, Lee Miju (Oc)
  • Hayoung and Sehun’s Parents
  • Park Jiyeon (T-ara)

Genre: School life, Friendship, Brothership, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length:  Chaptered

Disclaimer: Semua pemain bukan milik saya, tapi cerita ini milik saya.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… J

I’ll be the one to hold your hand

Look at me and smile

Enforce fixed head

I’ll be there for you

When things get tough, you can lean on me

Let us share the dream

 

Recommended Song:  For You – Lovelyz

*~*~*~*~*~*~*

Seoul, 2015

Pagi yang cerah untuk menghirup udara segar yang mulai menipis, beberapa orang bangun untuk mengawali kegiatannya dipagi hari seperti jogging, memasak untuk keluarga ataupun diri sendiri, dan lain sebagainya. Namun sebagian orang yang lain memanfaatkannya untuk tetap terlelap dalam selimut tebal mereka karena ini adalah hari minggu.

Termasuk namja yang satu ini. Padahal sinar matahari yang cerah sudah merambat masuk menyinari ruangan itu dengan niat membangunkan namja itu, namun masih belum ada satu pun respon dari namja itu. Namja itu – Sehun terus tidur sempit-sempitan dikasur yang tidak terlalu besar sambil terus memeluk yeoja yang masih tertidur dengan masker nafas yang menempel diwajah yeoja itu dan suntikan infuse ditangannya.

Sehun pasti sudah gila. Dia pasti sudah sangat merindukan dongsaengnya sampai-sampai memutuskan untuk tidur bersama yeoja itu – Hayoung sambil memeluk hangat Hayoung, memberikan kekuatan kepada Hayoung yang dingin. Jujur sebenarnya Sehun sudah bangun sedari tadi, hanya saja dia terlalu malas untuk bergerak karena hari ini adalah hari santai tidak terkecuali untuk kedua orang tua mereka, tanpa mengetahui bahwa ada sesuatu yang lain dari pendeteksi jantung dongsaengnya itu.

Dan benar saja tanpa Sehun ketahui, kedua kelopak mata yeoja itu mengerjap perlahan dan bibir pucatnya mulai bergerak seperti mengucapkan sesuatu, sementara Sehun masih menikmati tidurnya dengan dagunya yang berada dipuncak kepala Hayoung. Masker nafas itu terus menampilkan uap air, hasil dari pernafasan Hayoung.

“Oppa…” gumam yeoja itu dengan sangat pelan, namun masih dapat ditangkap oleh telinga Sehun karena ruangan ini sangat sepi, membuat Sehun membuka mata elangnya dan menundukkan pandangannya ke arah Hayoung yang masih menutup matanya, serta menatap yeoja itu dengan tatapan tidak percayanya.

Mwoya ige? Apakah Hayoung sudah bangun? Tanya Sehun didalam batinnya.

“Oppa…” gumam Hayoung lagi masih dengan suara pelannya, membuat Sehun kembali terkejut. Apakah dongsaengnya ini benar-benar sudah bangun?

“H-hayoung-ah, apakah ini benar-benar dirimu?” Tanya Sehun yang masih terkejut dengan tanda-tanda yang diberikan oleh Hayoung. Sementara Hayoung mulai membuka matanya perlahan dan menampilkan mata coklatnya yang terpancar oleh sinar matahari yang masuk ke ruangan itu. Lalu Hayoung mulai menarik kedua sudut bibirnya secara perlahan, membentuk sebuah senyuman tipis diwajah cantiknya.

“Annyeong.”

***

“Yak! Oh Sehun! Lepaskan!” seru Hayoung kesal sambil terus mendorong tubuh Sehun.

“Shireo!” balas Sehun sambil terus memeluk Hayoung dengan erat. Membuat Hayoung semakin kesal karena sedari tadi setelah dokter yang memeriksa Hayoung pergi dari ruangan itu, Sehun terus memeluknya dengan erat dan membuatnya risih.

“Cepat lepaskan! Disini sempit!”

“Sudah kubilang, aku tidak mau! Ini balasan untukmu karena sudah membuatku merindukanmu!”

“Haishh, kau itu sangat menyebalkan.”

“Yak! kau tahu? Kau itu tertidur selama dua minggu.”

“Cuma dua minggu? Kupikir itu hanya sebentar.” Ujar Hayoung tanpa beban, sedikit melupakan dirinya yang risih karena masih dipeluk oleh oppanya.

“Itu adalah waktu yang sangat sangat lama, ara?”

“Cih, kau lebay! Yak! Cepat lepaskan! Tubuhmu sangat bau!” seru Hayoung lagi dengan kesal.

“Mworagu?! Yak! Aku baru saja mandi tadi malam. Kau itu yang bau karena tidak mandi selama dua minggu..” Jawab Sehun sambil melepaskan pelukannya dan menatap sebal dongsaengnya.

“Hhh, akhirnya lepas juga.” gumam Hayoung sambil membuang nafas lega. “Kau tahu aku belum mandi. Kalau begitu kenapa kau memelukku?” Tanya Hayoung, membuat Sehun hanya menyengir. “Pergilah mandi dulu! Kau sangat bau!” seru Hayoung sambil mendorong tubuh Sehun sehingga terjatuh dari kasur sempitnya.

“Haishh, kau tidak sopan sekali.” Gumam Sehun sambil menatap Hayoung sebal setelah didorong dari kasur yang sebenarnya hanya untuk memuat satu orang itu. “Kau juga harus mandi! Kau kan sudah dua minggu tidak mandi.”

“Kenapa aku harus mandi? Aku kan masih sakit. Nanti kalau makin sakit bagaimana? Kau ingin tanggung jawab?” Tanya Hayoung bertubi-tubi berdebat dengan Sehun.

“Kalau untukmu, apapun akan kulakukan.”

“Cih! Dasar pembual!”

“Hayoung-ah.” Panggil Sehun dengan nada yang melembut.

“Ada apa lagi? Cepatlah mandi!”

“Kapan kau akan memanggilku ‘oppa’ lagi?” Tanya Sehun sambil menatap Hayoung dalam, sementara Hayoung hanya memutar matanya ke kanan dan ke kiri karena bingung harus menjawab apa.

Kriiet…

Suara pintu yang terbuka membuat kedua sejoli itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Mata mereka dapat menangkap sepasang suami istri berada di balik pintu yang terbuka itu menatap mereka atau lebih tepatnya menatap Hayoung dengan tatapan terkejut. “Hayoung-ah!” seru mereka senang sekaligus terkejut sambil mengambil langkah cepat kea rah Hayoung.

Sementara Hayoung hanya bergumam, “Eomma. Appa.” Sambil menatap mereka dengan tatapan kerinduan. Mungkin saat ini Hayoung tengah melupakan sebuah fakta bahwa Hayoung agak membenci sepasang suami istri yang notabenenya adalah kedua orang tuanya itu karena mereka termasuk orang yang super sibuk, sampai-sampai dirinya tidak sempat memasang wajah dinginnya seperti Sehun yang berada disampingnya yang sudah memasang wajah dingin sedari tadi sejak kedua orang tua itu masuk ke ruangan ini.

“Hayoung-ah! Syukurlah, akhirnya kau bangun juga.” ujar appa Hayoung lega.

“Kami sangat merindukanmu, nak.” Ujar eomma Hayoung sambil memeluk hangat Hayoung, membuat kerinduan Hayoung semakin membuncah sehingga membuat Hayoung membalas pelukan hangat itu dan matanya yang mulai berbinar-binar.

“Na-nado, eo-eom-ma.” Jawab Hayoung agak gugup. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Hayoung dapat merasakan kehangatan seorang eomma karena eommanya ini selalu saja sibuk.

Namun pelukan itu hanya bertahan sebentar bagi Hayoung, karena eomma Hayoung lebih dulu melepasnya dan memilih untuk duduk di kursi yang telah disediakan disamping kasur Hayoung. Padahal Hayoung masih menginginkannya lagi dan lagi.

“Kami mengkhawatirkanmu. Bagaimana kau bisa mendapatkan obat itu?” Tanya appa Hayoung khawatir, namun membuat Hayoung kesal seketika kepada kedua orang tuanya.

“Bisakah kita tidak membicarakan itu?” Tanya Hayoung kesal. Hayoung sedang tidak ingin membahas obat itu, karena mereka bertiga –Sehun dan kedua orangtuanya– dan mimpi buruk Hayounglah penyebab Hayoung membeli dan meminum obat itu.

“Baiklah. Apa kau sudah makan?” Tanya eomma Hayoung, membuat Sehun memutar bola matanya jengah.

“Tentu saja belum. Kami baru saja bangun tidur.” Jawab Sehun dingin.

“Ah, geure? Kalau begitu makanlah.” Ujar eomma Hayoung sambil menyerahkan sebuah plastic yang berisi makanan yang telah dibungkus didalamnya.

“Kami membelinya ditoko didepan rumah sakit ini. Rasanya sangat enak. Cobalah.” Jelas appa Hayoung.

“Ka-kalian membelinya?” Tanya Hayoung sepertinya agak kecewa dengan penjelasan appanya.

“Iya. Memangnya ada apa?”

“Ania. Tidak ada apa-apa kok.” Jawab Hayoung sambil menyembunyikan kekecewaannya dan hanya diam menatap plastic bening itu tanpa ada niat untuk membukanya dan memakan makanan yang ada didalamnya. Jujur saja, sebenarnya Hayoung kecewa karena mereka membeli makanan ditempat lain bukan membuat makanan sendiri. Hayoung sangat ingin merasakan bagaimana lezatnya makanan eommanya seperti dulu.

“Tapi, apakah Hayoung boleh memakan makanan ini?” Tanya Sehun sambil menunjuk makanan itu dengan dagu runcingnya, mengingatkan appa dan eommanya yang sudah semakin menua.

“Ah, iya. Aku lupa. Bagaimana mungkin aku membeli ini disaat Hayoung sedang sakit?” Tanya eomma Hayoung kesal kepada diri sendiri. “Jadi bagaimana makanan ini?”

“Eumm… untuk Sehun saja.” Usul appa Hayoung.

“Tidak terima kasih.” Tolak Sehun datar. Membuat kedua orang tuanya dan Hayoung mengkerutkan kening mereka bingung dengan penolakan Sehun.

“Waeyo?”

“Aku masih kenyang. Itu untuk kalian saja. Kalian pasti akan membutuhkannya ketika dikantor.” Jawab Sehun santai.

Dan tepat beberapa detik setelahnya, terdengar bunyi handphone yang menggema keseluruh ruangan. Appa dan eomma Hayoung pun memeriksa handphone mereka yang menjadi sumber suara dan mengangkat panggilan telepon yang sepertinya penting itu, mengabaikan kedua anak mereka yang hanya menatap jengah mereka berdua.

Didalam hati mereka, Sehun dan Hayoung menggeram. Ingin sekali rasanya mereka menghancurkan benda persegi panjang yang tipis itu karena selalu merusak momen keluarga mereka.

“Aku harus pergi.” Ucap appa Hayoung sambil beranjak dari duduknya, lalu mengecup kening Hayoung. Sementara Sehun hanya menghela nafas sinis. Sehun tahu, cepat atau lambat hal ini akan terjadi.

“Kau harus pergi? Aku juga harus pergi. Ada sedikit masalah yang disebabkan oleh anak baru dikantor.” Jelas eomma Hayoung sambil ikut beranjak dari duduknya, membuat Hayoung kecewa lagi. Eomma Hayoung mengecup kedua pipi Hayoung sebelum dirinya dan suaminya pergia dari ruangan itu meninggalkan Hayoung yang kembali kecewa dan Sehun yang menggeram.

Jika seperti itu, sebaiknya kalian tidak perlu datang saja sekalian. Batin Sehun kesal didalam hatinya. Sehun melirik Hayoung yang menundukkan pandangannya dan menghela nafas berat. Sehun tahu, Hayoung merasa sangat sangat kecewa dengan kedua orang tuanya begitu juga dengan dirinya sendiri.

“Gwenchana.” Gumam Sehun kepada Hayoung, tanpa memperdulikan apakah Hayoung dapat mendengarnya atau tidak.

“Bisakah aku kembali tidur untuk selama-lamanya? Atau mati? Mungkin itu lebih baik dari pada harus mendapati hal seperti ini didalam hidupku.” Ujar Hayoung sambil menatap kosong pintu ruangan itu. Sehun menatap Hayoung tajam, lalu menjitak kepala Hayoung keras.

Pletak!

Membuat perhatian Hayoung teralihkan ke rasa sakit yang tengah menjalar dikepalanya karena baru saja dijitak oleh oppanya. “AKH! Appo!”

“Bisakah kau berhenti berpkir seperti itu? Apa kau tidak memperhatikanku disini? Aku sudah cukup frustasi begitu tahu kalau kau koma. Aku tidak bisa memikirkan kehidupanku bila kau mati. Ani, aku tidak akan pernah membayangkan hal itu. Makanya tetaplah hidup bersamaku.” Jelas Sehun serius, membuat Hayoung terperangah seketika.

Apakah dia benar-benar Sehun oppaku? Tanya Hayoung sambil menatap tidak percaya ke arah Sehun

“Pikirkan saja kalau mereka melakukan hal itu demi kebaikan kita juga, agar kita mendapatkan kehidupan yang sangat berkecukupan. Positive thinking saja.” Lanjut Sehun namun kali ini lebih santai.

“Baiklah. Komawo.” Ucap Hayoung, membuat Sehun menarik kedua sudut bibirnya. Entah kenapa kata ‘komawo’ yang dilontarkan  oleh Hayoung, terasa sangat sangat berarti bagi Sehun. “Cepatlah pergi mandi dulu! Aku sangat tidak tahan dengan baumu!” seru Hayoung sambil menutupi hidungnya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya ia kibas-kibaskan kea rah Sehun sepeti sedang mengusir namja itu.

“Arasseo, nae dongsaeng.” Jawab Sehun malas sambil beranjak dari samping Hayoung. Namun baru beberapa langkah  Sehun berjalan, ia menghentikan langkah kakinya. “Tapi apa kau tidak akan mandi? Kau bahkan lebih bau dariku karena tidak mandi selama dua minggu.”

“Aku akan mandi setelah kau.”

“Kau tidak ingin mandi bersamaku?”

“Kita bukan anak kecil lagi, Oh Se–” kalimatnya sengaja ia gantung setelah menyadari sesuatu. “Yak! mworagu?! Dari mana kau mempelajari itu hah?!” seru Hayoung sambil melemparkan bantalnya kea rah Sehun, namun sayangnya Sehun sudah lebih dulu kabur ke kamar mandi dengan cengiran jahil dibibirnya sebelum bantal itu mengenai dirinya.

“Cih! Dasar namja! Bagaimana mungkin oppa sendiri memikirkan hal itu kepada dongsaengnya? Dasar aneh!” umpat Hayoung kesal, melipat kedua tangannya didepan dada.

***

Kriiet…

Pintu ruangan itu kembali terbuka, namun kali ini menampilkan seorang yeoja dengan sebuah kantong plastic ditangannya yang berisi sesuatu masuk kedalam ruangan yang terdapat Hayoung dan Sehun didalamnya, lalu meneriakkan nama Hayoung, “Hayoung-ah!!” sambil sedikit berlari kearah yeoja itu.

“Kim Namjoo!!” balas Hayoung terkejut melihat yeoja yang baru saja memasuki kamarnya – Kim Namjoo diikuti oleh dua yeoja dibelakang Namjoo yaitu Nara dan Miju yang menemani Namjoo menjenguk Hayoung.

“Hayoung-ah, syukurlah kau baik-baik saja.” Ujar Nara yang menyusul dibelakang Namjoo yang sudah berada disamping Hayoung.

“Kau sungguh membuat kami semua khawatir, ara?” sambung Miju.

“Darimana kalian tahu kalau aku disini?” Tanya Hayoung heran.

“Aku bertanya kepada oppamu.” Jawab Namjoo sambil meletakkan plastic buah-buahan yang ia bawa dimeja nakas disamping kasur Hayoung. “Yak! kau benar-benar jahat! Aku termasuk anak baru disekolah dan kau adalah teman pertamaku. Bagaimana mungkin kau meninggalkanku sendirian hah? Tega sekali kau.” Omel Namjoo kesal.

“Hehe, mian.”

“Tapi bagaimana kau bisa meminum obat itu?” Tanya Namjoo pelan atau lebih seperti berbisik, karena Namjoo yakin Hayoung tidak terlalu ingin membicarakan masalah yang termasuk kedalam privasi.

“Ceritanya panjang.” Jawab Hayoung singkat, yang hanya dibalas dengan ber-oh ria oleh Namjoo.

“Oenni, bisakah kalian menunggu diluar?” Tanya Namjoo kepada Nara dan Miju.

“Memangnya kenapa?” Tanya Nara balik.

“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.”

“Kenapa harus dirahasiakan? Bukankah kita berteman.” Protes Miju.

“Oenni…” rengek Namjoo sambil mengerucutkan bibirnya.

“Arasseo.” Ucap Nara mengalah dengan permintaan dongsaengnya. “Kajja Miju-ya.” Ajak Nara yang hanya dibalas anggukan oleh Miju. Lalu mereka pun melangkahkan kaki mereka ke pintu kamar rawat Hayoung dan keluar dari ruangan itu.

“Kau juga oppa. Bisakah kau menunggu diluar?” Tanya Namjoo, kali ini kepada Sehun yang berada diseberang Namjoo dan masih setia bertengger di samping Hayoung.

“Aku juga?” Tanya Sehun heran sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Jebal…” rengek Namjoo dengan wajah memelasnya, membuat Hayoung menatap aneh yeoja itu.

“Arasseo.” Ucap Sehun pasrah. Lalu dia pun melangkahkan kakinya ke pintu kamar rawat Hayoung dan keluar dari ruangan itu setelah ia menutup pelan pintu kayu itu.

“Sejak kapan kau memanggilnya oppa?” Tanya Hayoung. bahkan dirinya belum memanggil Sehun dengan embel-embel ‘oppa’.

“Eumm… aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku tidak punya kakak laki-laki dirumah, makanya aku memanggilnya ‘oppa’. Lagipula kau juga memanggil Nara oenni dengan embel-embel ‘oenni’. Jadi kita impas bukan?” jelas Namjoo, sementara Hayoung hanya ber-oh ria dengan jawaban Namjoo.

“Oh iya, kenapa kau menyuruh mereka semua keluar?” Tanya Hayoung lagi.

“Karena kau berhutang penjelasan kepadaku tentang obatmu itu. Kupikir itu cukup privasi, makanya aku menyuruh mereka semua keluar.” Jawab Namjoo. “Sekarang jelaskan padaku semuanya.” Lanjut Namjoo sambil mendudukkan dirinya dan mengambil posisi yang nyaman untuk mendengar.

“…”

Hayoung hanya diam, dia ragu untuk menjelaskan semuanya kepada Namjoo. Masalahnya Hayoung takut untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain lagi selain, walaupun orang itu baru-baru ini dekat dengannya. Sudah cukup baginya Kyungsoo dan J-hope yang ia beri kepercayaan, Hayoung tidak ingin menambah kepercayaan kepada orang lain.

“Wae?” Tanya Namjoo begitu melihat Hayoung yang hanya diam dan melamun.

“Ani, aku hanya ragu untuk mengatakannya.”

“Memangnya kenapa? Bukankah kita berteman?”

“Iya, kita memang berteman. Tapi… aku… hanya… hanya…”

“Kau tidak percaya kepadaku karena aku termasuk orang yang baru bagimu?” Tanya Namjoo memotong kalimat ragu Hayoung, membuat Hayoung membulatkan kedua matanya terkejut dengan pertanyaan Namjoo. Apakah Namjoo mempunyai kekuatan untuk membaca hati seseorang?

“Se-sepetinya begitu.” Jawab Hayoung agak ragu, lalu dia menghela nafas berat setelah mengambil nafas panjang. “Aku hanya takut kau akan mengkhianatiku dan akan menyakitiku nantinya.” Sambung Hayoung sambil menundukkan pandangannya, membuat Namjoo prihatin.

“Apa kau pernah dikhianati sebelumnya?”

“Iya.”

“Oleh siapa? Sehun oppa?”

“Ani, bukan dia. Tapi orang yang lain.”

“Siapa itu?”

“…”

“Baiklah, kalau kau tidak ingin menceritakannya.” Ujar Namjoo pasrah dengan Hayoung yang masih menutup hatinya. Padahal dia seperti ini karena tidak ingin Hayoung merasa terbebani menyimpan semua permasalahan itu sendirian. “Aku akan memanggil oenni dan oppa untuk kembali masuk.” Lanjut Namjoo sambil beranjak berdiri, namun pergerakannya terhenti karena Hayoung menahan lengannya dan menggelengkan kepalanya.

“Ani, aku memang tidak akan menceritakan tentang orang itu. Tapi aku akan menceritakan tentang semua yang berhubungan dengan obat itu dari awal.” Kata Hayoung, membuat Namjoo membulatkan matanya terkejut. “Kupikir Hyemi oenni benar. Aku harus mulai membuka mata dan hatiku, karena aku mulai tersiksa dengan semua itu.” Sambung Hayoung sambil tersenyum tipis, membuat Namjoo juga ikut mencetak senyuman tipis diwajahnya.

“Itu baru benar. Mulai sekarang jangan memendam semuanya sendirian, kau akan sakit jika harus seperti itu.” Tambah Namjoo lembut.

“Baiklah aku akan menceritakannya. Tapi jangan pernah memotong ceritaku, atau aku akan marah.”

“Arasseo.”

“Jadi begini, dulu aku juga mempunyai seorang oenni, namanya Oh Hyemi. Masa itu adalah masa-masa yang paling bahagia yang pernah kulalui, kenangan-kenangan yang melekat erat dikepalaku. Disaat kami semua masih menjadi sebuah keluarga yang harmonis dan hangat, saling berbagi canda tawa, Sehun juga masih hangat waktu itu.” Jelas Hayoung dengan senyuman tipis yang terpatri diwajahnya. Namun didetik berikutnya, Hayoung melunturkan senyuman itu dan mengembalikan wajah datarnya.

“Tapi, semua itu berubah sejak Hyemi oenni pergi meninggalkan kami ke surga. Sehun menjadi orang yang dingin dan mengacuhkanku, appa dan eomma menjadi gila kerja, tidak ada yang perduli denganku. Lama kelamaan, membuatku menjadi orang yang dingin juga dan menutup hatiku.”

“Sepertinya kau tidak cocok dengan sifat dingin itu.” Namjoo berkomentar.

“Maksudmu?”

“Kalau kau dingin, kau tetap saja dibully. Tapi kalau Sehun dingin, dia tidak pernah dibully, dia malah mempunyai banyak teman.” Jelas Namjoo, membuat Hayoung hanya mendesah.

“Tentu saja. Itu karena dia tampan.” Jawab Hayoung spontan.

“Kau benar juga ya.” Balas Namjoo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Sampai akhirnya Namjoo menyadari sesuatu. “Tunggu dulu, tadi kau bilang apa?”

“A-apa?”

“Bukankah tadi kau bilang kalau Sehun tampan?” Tanya Namjoo memastikan, membuat Hayoung salah tingkah karena sudah keceplosan mengatakan hal yang seperti itu.

Hayoungiie pabo! Rutuk Hayoung didalam hati.

“A-anigoteun! Kau salah dengar!”

“Berarti kau sudah mengakui oppamu bukan? Tapi kenapa kau belum memanggilnya dengan panggilan ‘oppa’?”

“Eung… karena… dia masih membenciku.” Jawab hayoung ragu.

“Kau masih berpikir seperti itu?! Setelah apa yang telah ia lakukan baru-baru ini?!” Tanya Namjoo tidak percaya dengan jawaban Hayoung yang menurutnya tidak logis itu.

“Memangnya apa yang telah ia lakukan?” Tanya Hayoung datar, membuat Namjoo tertohok.

“Noe.” Sahut Namjoo geram sambil memijit pelipisnya karena pertanyaan konyol Hayoung. “Kurasa Hyemi oenni benar, kau harus benar-benar membuka mata dan hatimu lebar-lebar, dan biarkan Sehun memperbaikinya.” Lanjut Namjoo menasehati Hayoung.

“Kenapa harus dia? Kenapa tidak kau saja?” Tanya Hayoung tidak terima.

“Karena dia oppamu! Dan kurasa hanya dia yang bisa, karena dia yang membuatmu seperti itu maka dialah yang harus mengembalikannya SEPERTI SEMULA.” Jawab Namjoo geram dengan penekanan pada kata ‘seperti semula’ yang mengartikan bahwa Hayoung harus menjadi hangat dan banyak tersenyum seperti dulu, membuat Hayoung hanya mendengus kesal.

“Yak! Kenapa kau seperti itu hah? Jangan memasang tampang seperti itu!”

“Memangnya kenapa?” Tanya Hayoung kesal, sementara Namjoo hanya mendesah.

“Cobalah untuk tersenyum sedikit saja untuk oppamu. Kasihan dia. Dia akhirnya sudah mengenalkanmu kepada teman-temannya dan membuatmu bertemu dengan sahabat lamamu, J-hope oppa. Disaat kau koma, dialah yang paling khawatir dan frustasi tentang dirimu diantara kami semua. Sesekali hiburlah dia. Sudah cukup kalian saling memberikan rasa sakit kepada diri kalian sendiri selama ini, makanya mulai saat ini hentikan itu semua. Arachi?” kata Namjoo lembut menasehati Hayoung.

“Akan kucoba. Komawo, temanku.”

“Choenmaneyo.”

***

“Hayoungiie! Aku datang!” seru seorang namja dari balik pintu kamar rawat Hayoung dengan sebelah tangannya sementara satu tangannya yang lain menggenggam sebuah plastik berisi buah-buahan – hal yang biasa dibawa seseorang ketika menjenguk seseorang yang sedang sakit.

“J-hope oppa, kau telat!” ujar Hayoung sebal sambil melipat kedua tangannya diatas perut.

“Hehe, mian.” Namja itu – J-hope hanya menyengir sambil terus melangkahkan kakinya mendekati Hayoung. “Tadi aku harus mengantarkan Eunji noona ke bandara karena ia harus melanjutkan pekerjaannya yang berada di Jeju.” Jelas J-hope sambil mendudukkan dirinya disebuah kursi disamping kasur Hayoung, membuat Hayoung hanya mengerutkan keningnya heran.

“Eunji?”

“Jangan memanggilnya seperti itu. dia lebih tua darimu.” Tegur J-hope, mengingatkan Hayoung untuk tetap bersikap sopan setelah beberapa tahun yang lalu mereka pernah bertemu.

“Aku tahu. Bukankah dia adalah sepupumu yang dari Busan itu?” tanya Hayoung memastikan.

“Iya.”

“Kapan dia ke Seoul? Bukankah terakhir kali kudengar darimu dia berada di Tokyo?”

“Iya sih. Dia tiba-tiba datang ke Korea, katanya dia merindukan negara asalnya ini.”

“Bagaimana kabarnya?” tanya Hayoung canggung.

“Dia baik-baik saja. Dia semakin sibuk sekarang sebagai seorang penyanyi sekaligus pianis.”

“Mianhee. Waktu dulu aku selalu mengacuhkannya.” Ujar Hayoung menundukkan kepalanya, merasa menyesal dengan sifat dinginnya yang tidak sopan waktu dulu.

“Gwenchana, lagipula dia mengerti kenapa dirimu seperti itu dulu.” Jawab J-hope lembut. “Kau tahu? Dia begitu mengkhawatirkanmu ketika dia tahu kalau kau koma dirumah sakit dan dia memarahiku karena itu.” jelas J-hope, sementara Hayoung tertawa tertahan begitu mendengar bahwa J-hope dimarahi oleh noonanya.

“Geure? Bagaimana dia memarahimu?” tanya Hayoung sambil masih menahan tawanya.

“Kau mau tahu?” tanya J-hope balik, yang hanya dijawab sebuah anggukan oleh Hayoung. “Seperti ini.” Ucap J-hope sambil menyeringai didalam hatinya.

Ttak!

“Aw! Appo…” rengek Hayoung sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja mendapat jitakan tanpa angin dari J-hope yang hanya tertawa pelan melihat Hayoung yang baru saja ia kerjai. “Yak! Kenapa kau menjitakku hah?!”

“Bukankah kau bertanya kepadaku bagaimana ia memarahikukan?” tanya J-hope memastikan sambil menahan tawanya. “Waktu dia memarahiku, dia juga menjitakku.”

“Aku hanya memintamu mencontohkan bagaimana cara Eunji oenni memarahimu, kau tidak perlu memasukkan adegan menjitak didalamnya.” Ujar Hayoung kesal. “Lagipula, bagaimana mungkin kau menjitak seorang pasien hah?!” tanya Hayoung sebal, sementara J-hope lagi-lagi hanya menyengir tidak bersalah.

“Oops… Mian.”

“Kemari kau! Kau harus dihukum!” seru Hayoung sambil memainkan jari telunjuknya seperti menyuruh J-hope untuk mendekat. Namun bukannya mendekat, J-hope malah menjauhkan dirinya dari sisi kasur Hayoung tempat Hayoung duduk saat ini dengan piyama biru rumah sakit yang masih melekat ditubuhnya.

“Aku benar-benar menyesal. Jangan hukum oppamu yang tampan ini. Oke?” pinta J-hope sambil menunjukkan wajah memelasnya.

“Apaan itu? Kau bahkan tidak tampan sama sekali.” Ledek Hayoung tanpa merasa berdosa. “Cepat kemari! Palli!” seru Hayoung lagi. “Atau aku akan merajuk!” ancam Hayoung membuat J-hope mau tidak mau mendekati Hayoung. Sementara Hayoung hanya menunjukkan senyuman kemenangannya ketika J-hope memajukan kepalanya kehadapan Hayoung.

“Hana… dul… set.”

PLETAK!!

“Akh!” rintih J-hope kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Hayoung yang kini tengah tertawa penuh kemenangan.

“Hahaha!”

“Bahkan ketika dirimu sedang sakit, kenapa jitakanmu harus kuat sekali sih? Eunji noona tidak menjitakku sekuat ini, tapi dia menjitakku dua kali. Ah! Kalian sama saja!” omel J-hope kesal.

“Hahaha! Rasakan itu! Siapa suruh menjitak seorang pasien hah?” tanya Hayoung membuat J-hope hanya mendengus kesal karena ini murni kesalahannya.

“Aigoo… ini sakit sekali tahu? Yak! Hayoung-ah! Ayo kita gantian!” ajak J-hope, membuat Hayoung mengerutkan keningnya lagi bingung.

“Waeyo?”

“Karena aku juga sakit, berarti aku juga seorang pasien. Minggir!” jawab J-hope sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti menyuruh Hayoung untuk menyingkir dari kasur itu.

“Andwae! Kau tidak boleh menggunakan alasan itu. Aku masih seorang pasien dirumah sakit ini. Kalau mau, carilah rumah sakit lain.” Ujar Hayoung sambil merentangkan tangannya, melarang J-hope untuk berada dikasurnya.

“Shiroe! Aku tidak mau dirumah sakit lain. Aku ingin menemanimu disini saja.”

“Aku yang tidak mau!” tolak Hayoung mentah-mentah.

“Lalu kau mau ditemani oleh siapa? Sehun?”

“Ani.”

“Heii, kau terlalu gengsi Hayoung-ah.” Goda J-hope, membuat Hayoung berdecak sebal.

“Lupakan saja.”

“Oh iya. Sehun dimana?”

“Molla. Tadi Namjoo menyuruhnya keluar karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku. Tapi ketika Namjoo sudah selesai, dia belum juga kembali.” Jelas Hayoung tanpa beban.

“Mungkin dia sedang membelikanmu makanan.” Tebak J-hope asal.

“Kau lupa? Seorang pasien tidak boleh memakan makanan yang sembarangan.” Tegur Hayoung.

“Kau benar.”

“Tapi makanan rumah sakit hambar dan tidak enak. Aku tidak menyukainya.” Ujar Hayoung kesal mengingat tadi pagi, dirinya harus kembali memakan makanan rumah sakit yang tidak ada rasa itu. Menurutnya lebih baik memakan masakan pembantunya yang berada dirumahnya daripada yang dirumah sakit. Tapi ia merindukan masakan eommanya.

“Makanya cepatlah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini.” Ujar J-hope menasehati Hayoung, membuat Hayoung memikirkan sesuatu.

“Eum… aku akan mempertimbangkan hal itu.” ujar Hayoung ragu.

“Wae?”

“Hanya… lupakan sajalah.” Jawab Hayoung ragu, membuat J-hope mengerutkan keningnya bingung dengan kalimat Hayoung.

Kriiet…

Tidak lama kemudian, terdengar sebuah suara pintu kamar rawat Hayoung yang bergeser, menandakan ada seseorang yang membuka pintu itu dan akan memasuki kamar rawat Hayoung. Membuat perhatian Hayoung dan J-hope teralihkan ke arah pintu itu  yang menampilkan seorang namja putih susu yang tinggi dengan sebuah tas kertas disalah satu tangannya, dibalik pintu itu.

“Hoseok? Sejak kapan kau disini?” tanya namja itu cukup terkejut dengan keberadaan J-hope dikamar rawat Hayoung karena terakhir kali yang ia lihat dikamar rawat Hayoung adalah Namjoo, teman barunya Hayoung.

“Annyeong, Sehun-ah. Aku disini sejak beberapa menit yang lalu.” Jawab J-hope santai kepada namja itu – Sehun yang mulai melangkahkan kakinya mendekati mereka. “Kau darimana?”

“Aku? Aku baru saja dari rumah untuk mengembalikan dan mengambil lagi beberapa helai baju.” Jawab Sehun sambil memamerkan tas kertas yang berada digenggamannya.

“Apa kau akan menginap disini?” tanya hayoung heran.

“Iya. Memangnya kenapa? Kau tidak suka?”

“Molla. Terserahmu sajalah.” Jawab Hayoung acuh, membuat J-hope memberikan tatapan tajam kepada Hayoung seperti sedang menegur yeoja itu namun tidak terlalu digubris oleh Hayoung.

“Aku sudah selesai menjenguk. Aku pulang dulu ya.” Ujar J-hope tiba-tiba sambil beranjak berdiri dari duduknya, membuat perhatian Hayoung dan Sehun teralihkan.

“Kenapa cepat sekali?” tanya Hayoung heran.

“Aku sudah cukup lama berada disini.”

“Tidak bisakah kau berada disini lebih lama lagi?” tanya Hayoung seperti tidak rela apabila J-hope harus pergi dari ruangan ini dan meninggalkan dirinya berdua dengan Sehun.

“Aku harus mengerjakan tugas sekolahku.” Jawab J-hope asal.

“Sejak kapan kau menjadi perduli dengan tugas sekolah?”

“Haishh, anak ini.” Gumam J-hope kesal sambil mencibir pelan. “Sudahlah, aku harus kembali pulang. Sampai jumpa, Hayoung-ah! Cepat sembuh ya!” ujar J-hope sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar rawat Hayoung dan keluar dari ruangan itu.

“Iya.”

Kini hanya tinggal Hayoung dan Sehun yang berada didalam ruangan itu dengan sebuah keheningan diantara mereka, membiarkan diri mereka tenggelam dalam pikiran sendiri dan menjadikan mereka lebih canggung.

“Ini sudah siang. Apa kau sudah makan?” tanya Sehun memecah keheningan nan canggung diantara mereka.

“Belum.” Jawab Hayoung datar nan singkat.

“Apa suster belum mengantarkan makananmu?”

Tok! Tok! Tok!

Belum sempat Hayoung menjawab pertanyaan Sehun, seseorang mengetuk pintu kamar rawat Hayoung membuat mereka mengalihkan perhatian mereka dan Sehun yang melangkahkan kakinya mendekati pintu itu untuk membukanya.

“Annyeong haseyo.” Sapa seorang yeoja mengenakan seragam rumah sakit dengan sebuah troli berisi beberapa piring dengan makanan bergizi dimasing-masing piringnya.

“Annyeong.” Sapa Sehun balik kepada yeoja yang notabenenya adalah salah seorang suster dirumah sakit ini.

“Ini adalah makan siang pasien Oh Hayoung.” Ujar suster itu sambil mengambil salah satu piring dari troli yang dibawanya.

“Ooh. Biar aku saja yang memberikannya. Anda bisa pergi.” Balas Sehun sambil mengulurkan tangannya kepada suster itu, meminta makan siang untuk Hayoung.

“Baiklah.” Suster itu pun menyerahkan piring yang berada ditangannya kepada Sehun. “Setelah memakan ini, pasien Oh Hayoung tidak boleh lupa memakan vitamin yang telah diberikan oleh dokter.” Ujar suster itu mengingatkan Sehun.

“Ne, kamsahamnida atas informasinya.”

“Saya pamit dulu.” Sang suster pun melangkah pergi dari depan kamar rawat Hayoung dengan troli yang ia bawa tadi, setelah pamit dengan Sehun. Sehun pun juga malangkah kembali memasuki kamar rawat dongsaengnya dengan makanan yang berada ditangannya untuk Hayoung.

“Ini! Makanlah!” suruh Sehun sambil meletakkan makan siang Hayoung diatas meja kasur yang sudah ia persiapkan lebih dulu diatas kaki Hayoung. Sementara Hayoung hanya memandang malas makanan itu tanpa ada minat untuk memakannya.

“Aku tidak mau!” tolak Hayoung mentah-mentahan.

“Waeyo?”

“Rasanya tidak enak. Aku tidak suka.”

“Kau baru memakannya sekali tadi pagi, itupun cuma sedikit. Masa sudah tidak menyukainya sih?”

“Aku sudah pernah mencobanya dulu.” Jawab Hayoung mengingatkan Sehun bahwa dulu Hayoung juga pernah masuk rumah sakit yang mengharuskan dirinya untuk memakan makanan rumah sakit yang hambar.

“Itukan dulu. Makanlah, kau harus sembuh.” Ujar Sehun masih berusaha membujuk Hayoung dengan sabar.

“Aku tetap tidak mau!” tolak Hayoung lagi, membuat Sehun menggeram didalam hati.

“Makan ini dan minum vitaminmu. Atau aku akan menciummu.” Kata Sehun memberikan dua pilihan kepada Hayoung, membuat Hayoung membulatkan matanya terkejut dan mendengus sebal karena tidak ada satupun dari pilihan itu yang ia sukai.

“Mworagu?”

“Pilih salah satu.” Ucap Sehun santai, membuat Hayoung berdecak kesal dan mau tidak mau harus memakan makanan rumah sakit itu karena Hayoung tidak mau dicium oleh Sehun.

“Baiklah. Aku akan makan.” Ujar Hayoung malas sambil beranjak mengambil sumpit dan sendok yang telah disediakan untuk memakan makanan itu.

“Itu baru dongsaengku. Harus habis ya makanannya.” Pesan Sehun dengan senyuman kemenangan yang tercetak diwajah tirusnya. Sementara Hayoung hanya lanjut makan dengan berbagai makian yang ia tujukan kepada oppanya didalam hatinya.

“Kau tidak makan?” tanya Hayoung sambil terus memakan makanannya, begitu menyadari bahwa Sehun hanya memperhatikannya makan.

“Ani, aku akan makan nanti. Kau saja yang makan dulu.” Jawab Sehun lembut.

“Baiklah.”

Beberapa menit kemudian, Hayoung benar-benar menghabiskan makan siangnya yang agak hambar itu. Melihat hal itu, senyuman Sehun semakin mengembang. Sehun pun memberikan Hayoung vitaminnya, Hayoung menerima vitamin itu dengan baik dan meminumnya sesuai dengan perintah Sehun tadi.

“Sekarang istirahatlah.” Suruh Sehun setelah membereskan semua perlengkapan makan siang Hayoung.

“Ne.” Jawab Hayoung sambil beranjak membaringkan tubuhnya diatas kasurnya yang cukup empuk itu dan menutup matanya.

“Hayoung-ah, apa kau benar-benar ingin eomma kembali?” tanya Sehun pelan, sangat pelan. Setelah mereka terdiam cukup lama dan Sehun yakin bahwa Hayoung sudah tidur, membuat Sehun pikir bahwa Hayoung tidak akan mendengarkan pertanyaannya. Tapi ternyata tidak, Hayoung belum tertidur, ia hanya menutup matanya dan mengelabui Sehun.

Iya. Aku sangat ingin ia kembali. Tapi bisakah?

***

Diatap sekolah yang sepi itu, seorang namja tengah duduk disalah satu bangku yang telah disediakan disana sambil menikmati semilir angin yang berhembus dan menerpa tubuhnya. Manic mata namja itu hanya memandang kosong pemandangan taman bunga yang indah dan langit biru dengan awan-awan putih yang bertebaran yang berada dihadapannya. Sampai akhirnya, suara pintu yang bergeser mengalihkan perhatian namja itu dan menyadarkan dirinya dari alam bawah sadarnya. Sepasang kaki melangkah masuk keatap sekolah itu dan terus melangkah ke arah namja itu.

“Annyeong Sehun-ah.” Sapa pemilik sepasang kaki itu kepada namja yang tengah duduk itu – Sehun.

“Akhirnya kau datang juga, Luhan hyung. Duduklah.” Ujar Sehun sambil menggeser duduknya dan mempersilahkan orang itu – Luhan duduk disampingnya. Luhan pun segera mendudukkan dirinya disamping Sehun.

“Bagaimana kabar Hayoung?” Tanya Luhan berbasa-basi terlebih dahulu.

“Baik, dia masih harus meminum vitaminnya tapi dia tidak menyukai makanan rumah sakit. Aku harus membujuknya terlebih dahulu, baru dia mau memakannya.” Jelas Sehun, sementara Luhan hanya terkekeh mendengarnya.

“Hal itu wajar. Bukankah dulu Hayoung juga pernah masuk rumah sakit?”

“Iya.”

“Oh iya, kenapa kau memanggilku kemari?” Tanya Luhan lagi, kali ini to the point.

“Hyung, ajari aku cara membuat sebuah surat.” Pinta Sehun, membuat Luhan mengerutkan keningnya.

“Surat?”

“Iya.”

“Surat apa? Surat cinta untuk Nara?” goda Luhan bersama seringaian jahilnya.

“Hyung, jangan bercanda. Dia sudah mempunyai pacar.” Ujar Sehun kesal. Bagaimana mungkin disaat-saat seperti ini, hyungnya itu mengungkit soal Nara yang jelas-jelas sudah mempunyai seorang pacar.

“Hehe, mian Sehun-ah. Aku lupa. Jangan terbawa perasaan ya.” Canda Luhan diiringi dengan kekehan pelannya.

“Jangan bercanda.”

“Arasseo. Memangnya kau ingin membuat surat apa hah?” Tanya Luhan yang kini berusaha untuk lebih serius.

“Surat …”

“Mwo? Yang benar saja Sehun-ah.” Tegur Luhan setelah Sehun mengucapkan jenis surat yang ingin dibuatnya (tapi sengaja author sensorin dulu).

“Aku serius.” Balas Sehun datar.

“Memangnya untuk apa?” Tanya Luhan meminta alasan Sehun.

“Untuk mengembalikan Hayoung yang dulu. Aku pikir ini adalah satu-satunya cara.”

“Apakah tidak ada cara lain? Aku rasa itu cukup mainstream.”

“Apa kau ada ide lain?” Tanya Sehun balik, membuat Luhan tidak dapat berkutik.

“Ani. Baiklah, aku akan membantumu dan mendukungmu.” Ujar Luhan sambil menepuk-nepuk pundak Sehun memberi dukungan dan kekuatan kepada namja itu.

***

Hari demi hari berlalu dan kini didalam sebuah gedung yang menjulang tinggi, dimana orang-orang berlalu lalang kesana kemari dan ada juga yang hanya duduk dibangku mereka dengan mata yang terfokus ke layar computer sementara jari-jari mereka bermain-main diatas keybord untuk memenuhi pekerjaan mereka, termasuk seorang wanita paruh baya yang masih betah untuk tetap duduk dibangkunya dengan beberapa file yang menumpuk disampingnya.

“Oh Eunjung. Apa yang kau lakukan disini?”  Tanya seorang wanita yang baru saja berpapasan dengan wanita itu – Eunjung.

“Tentu saja bekerja. Memangnya apa lagi?” Tanya Eunjung balik tanpa mengalihkan perhatiannya dari depan computer dan terus mengerjakan pekerjaannya.

“Ani, bukankah kau sudah mengundurkan diri?” Tanya wanita itu memastikan, membuat Eunjung menghentikan pekerjaannya sejenak begitu mendengar pertanyaan wanita itu.

“Mwo? Mengundurkan diri?”

“Iya.”

“Kapan aku memberikan surat pengunduran diri?” Tanya Eunjung yang merasa aneh akan hal itu, karena tidak mungkin ia mengundurkan diri disaat pekerjaannya semakin menumpuk.

“Molla. Sekarang surat pengunduran dirimu sedang diproses.” Jawab wanita itu sambil mengendikkan bahunya.

“Ini tidak bisa terjadi. Aku harus membatalkannya.” Ujar Eunjung geram sambil beranjak dari bangkunya setelah menyimpan pekerjaannya terlebih dahulu. “Kira-kira siapa yang memberikannya?” gumam Eunjung geram.

“Oh iya, kalau tidak salah. Tadi seorang namja yang memberikan surat itu atas namamu. Pantas saja kau tidak tahu.”

“Seorang namja?”

“Iya. Tapi tadi namja itu bilang kau yang menyuruhnya untuk menyerahkan surat pengunduran diri itu. Kau tidak ingat?”

“Ani. Aku tidak pernah merasa menyuruh seseorang untuk melakukan hal itu. Bahkan sekarang pekerjaanku tengah menumpuk, bagaimana mungkin aku meninggalkannya.”

“Aneh.”

“Seperti apa rupa namja itu?”

“Namja itu tinggi dan cukup tampan untuk kalangan remaja. Dia memiliki rahang yang tegas, wajah yang tirus, hidung yang mancung, tatapan mata yang selalu tajam, dan kulit yang putih, seputih susu. Aku benar-benar iri dengan kulit putihnya, bagaimana dia mendapatkannya. Oh iya, aku rasa namja itu sedikit mirip denganmu.” Jelas wanita itu menurut penglihatannya. Sementara Eunjung terperangah dengan kalimat terakhir wanita itu dan hanya satu nama yang berada dibenaknya.

***

Sepasang kaki mengenakan high heels hitam melangkah dengan cepat namun tidak berlari dilorong rumah sakit itu, diantara beberapa pasang kaki lainnya yang juga berlalu lalang disana. Namun lama kelamaan langkah kaki itu melambat, sampai akhirnya berhenti didepan sebuah pintu kamar rawat seseorang. Sang pemilik sepasang kaki itu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan terlebih dahulu sebelum membuka pintu tersebut dan melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan yang berisi seorang yeoja yang tengah tertidur pulas diranjang rumah sakit dengan seorang namja yang duduk dikursi disampingnya. Wanita paruh baya sang pemilik sepasang kaki itu lanjut melangkahkan kakinya mendekati namja itu.

“Sehun-ah.” Panggil wanita paruh baya itu kepada si namja – Sehun.

“Iya, eomma.” Balas Sehun kepada wanita yang notabenenya adalah eommanya.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Ujar eomma Sehun.

“Apa itu?”

“Tapi tidak disini. Bisakah kita keluar?”

“Baiklah.”

Mereka pun melangkahkan kaki mereka keluar dari kamar rawat itu, meninggalkan Hayoung yang masih tertidur lelap sendirian didalamnya.

“Sehun-ah, apa yang kau lakukan dikantor eomma?” tanya eomma Sehun to the point begitu mereka sudah keluar dari kamar rawat Hayoung.

“Apa maksud eomma? Aku tidak mengerti.”

“Apa kau yang memberikan surat pengunduran diri atas nama eomma?” tanya eomma Sehun lagi dengan lebih spesifik.

“Aku sudah ketahuan.” Ujar Sehun sinis.

“Jadi itu benar-benar kau?” tanya eomma Sehun tidak percaya.

“Lalu siapa lagi?”

“Kenapa kau melakukannya? Eomma bahkan tidak pernah menyuruhmu melakukan itu. Pekerjaan itu sangat penting bagi eomma, pekerjaan itu masih menumpuk dan eomma harus segera menyelesaikannya. Kenapa kau malah melakukannya?” tanya eomma Sehun geram dengan nada yang meninggi.

“Eomma bertanya kepadaku kenapa aku melakukannya?” tanya Sehun memastikan dengan nada yang sinis.

“Iya. Cepat jawab!”

“Jawabannya eomma harus mencarinya sendiri.”

“Mwo?”

“Ca-ri sen-di-ri.”

“Kenapa tidak langsung kau jawab saja? Apakah sulit hanya mengucapkan beberapa kata yang akan menjawab pertanyaan sederhana eomma?”

“Eomma bukan anak tk yang bahkan tidak tahu apa jawaban dari satu tambah satu. Eomma sudah dewasa, eomma pasti tahu apa jawabannya. Apakah eomma tidak punya akal?” tanya Sehun pedas, menyulut emosi eommanya karena Sehun sudah mengucapkan kata-kata yang kasar kepada eommanya sendiri.

PLAK!

Sebuah tamparan akhirnya mendarat mulus dipipi tirus Sehun, meninggalkan sebuah bercak merah disana. Membuat hati Sehun mencelos, Sehun tidak pernah mengira akan mendapat hal ini dari eommanya, begitu juga dengan eomma Sehun yang menyesal didetik berikutnya karena telah menampar darah dagingnya.

“Ss-Sehun-ah, eomma mianhee. Eomma tidak sengaja.” Jelas eomma Sehun terbata-bata, melihat bercak merah yang ia tinggalkan dipipi anaknya.

“Geure, pekerjaan itu bahkan lebih penting daripada kami.” Gumam Sehun dengan helaan sinisnya.

“Ania. Ini tidak seperti itu. Eomma jinja mianhee… eomma tidak sengaja.” Kata eomma Sehun sambil mengulurkan tangannya untuk meraih pipi Sehun.

“Lepaskan! Jangan sentuh aku! Eomma bahkan tidak menyayangi kami lagi!” bentak Sehun sambil menepis kasar tangan eommanya dan membalikkan tubuhnya, mengabaikan eommanya yang mulai menitikkan air mata penyesalan.

“Ania. Sehun-ah. Eomma jinja mianhee…” ujar eomma Sehun menyesal sambil mengikuti langkah Sehun.

“Rawat saja pekerjaan eomma itu!” bentak Sehun lagi sebelum membanting kasar pintu kamar rawat Hayoung.

BLAM!!

Eomma Sehun terkejut. Tentu saja. Ia juga tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Dengan air mata yang mulai bercucuran, eomma Sehun mengetuk-ngetuk pintu itu sambil memanggil-manggil nama anaknya, berharap Sehun akan mendengarnya dan membuka pintu itu membiarkan dirinya meminta maaf lagi dan lagi kepadanya.

“Sehun-ah. Sehun-ah. Buka pintunya. Jebal.” Gumam eomma Sehun sambil terus mengetuk-ngetuk pintu itu. Sementara dibalik pintu itu, Sehun hanya mendesah berat memikirkan apakah ia akan meneruskan hal ini atau tidak. Sehun hanya tidak bisa menerima tamparan eommanya yang telah merobek hatinya.

“Sehun-ah. Hiks… Tolong buka pintunya. Hiks… Jebal. Eomma tidak sengaja tadi. Hiks… Eomma jinja mianhee.”

Drrtt… drrtt…

Tiba-tiba eomma Sehun merasakan handphonenya bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Eomma Sehun pun merogoh sakunya dan mengambil benda persegi panjang tipis dari sana. Lalu membuka sebuah pesan yang ternyata dari Sehun.

From: My Sehuniie

Berhentilah! Eomma bisa membangunkan Hayoung.

Pulanglah! Aku akan menjaga Hayoung lagi malam ini.

“Ani! Eomma tidak akan pulang! Eomma akan berada disini sampai kau akan memaafkan eomma!” seru eomma Sehun pantang menyerah masih sambil terisak.

From: My Sehuniie

Pulang dan istirahatlah! Atau aku akan membenci eomma selamanya.

Eomma Sehun hanya menghela nafas berat membaca satu lagi pesan dari Sehun itu. Ia tidak mau pulang, walaupun tubuh serasa remuk karena sehabis bekerja tadi. Tapi ia tidak mau apabila harus semakin dibenci oleh Sehun. Eomma Sehun mengacak-acak rambutnya gusar, bingung dengan apa yang harus ia pilih.

“Baiklah, jika itu maumu. Eomma akan pulang. Tapi eomma akan kembali dan akan meminta maaf lagi besok sampai kau akan memaafkan eomma.” Kata wanita itu tegas. Lalu melangkahkan kakinya dengan setengah hati menjauhi pintu kamar rawat itu.

Sementara dibalik pintu itu, Sehun menatap nanar punggung eommanya yang semakin menjauh. Padahal sebenarnya, ia tidak rela kalau eommanya harus pergi. Namun eommanya harus istirahat dengan baik. Sehun tahu, eommanya hanya kelelahan dan terbawa emosi tadi. Tapi eommanya juga harus memikirkan jawaban kenapa dirinya menyerahkan surat pengunduran diri yang berhasil dibatalkan oleh eommanya itu.

“Nado mianhee, eomma.”

***

Dipagi yang cerah itu, matahari bersinar terang menerangi permukaan bumi dibagian Korea dan sekitarnya. Seorang yeoja dengan pakaian serba hitamnya tengah berdiri didepan sebuah makam. Yeoja itu meletakkan sebuket bunga yang berada digenggamannya dan sebuah kotak yang telah dibungkus rapi dengan kertas kado didepan makam itu.

“Annyeong. Hyemi-ah.”

“Sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Sudah lama sekali, bukan? Tapi sayangnya kita tidak dapat bertatap muka karena kau telah pergi duluan. Karena diriku. Mianhee.”

“Padahal aku merindukanmu. Dan ingin melihat bagaimana dirimu dan diriku yang semakin dewasa.”

“Saengil Chukkae, uri Hyemi. Dongsaeng kesayangan eonni.”

***

Sementara ditempat lain, Hayoung mulai mengerjapkan matanya pelan karena merasa terganggu dengan sinar matahari yang memasuki kamar rawatnya lewat jandela dengan gorden bercorak yang sudah tersingkap. Sampai akhirnya, Hayoung pun membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Namun bola matanya sudah menangkap punggung Sehun yang tengah mengemasi barang-barang mereka.

“Sehun. Apa yang kau lakukan?”

“Hanya mengemas barang.”

“Apakah aku sudah boleh pulang?”

Sehun membalikkan tubuhnya menghadap Hayoung. Dengan tangannya yang menggenggam sebuah tas yang cukup besar, Sehun melangkahkan kakinya mendekati Hayoung yang duduk diranjang rumah sakit. “Iya.”

“Baguslah.” Gumam Hayoung datar tanpa terbesit nada gembira didalamnya. Apaan ini? Seharusnya dirinya senang akan keluar dari rumah sakit ini dan tidak akan berhadapan lagi dengan makanan hambar itu.

“Ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa kau tidak terlihat senang?” Tanya Sehun setelah memperhatikan raut wajah Hayoung yang biasa saja.

“Entahlah. Sebenarnya aku senang bisa keluar dari rumah sakit ini. tapi disatu sisi, aku tidak ingin pulang kerumah.”

“Waeyo?”

“Rumah terasa dingin. Tidak terlalu hangat, seperti disini.”

“Kau berpikir seperti itu? Sebenarnya aku juga berpikiran sama sepertimu.” Ujar Sehun, membuat Hayoung cukup terkejut dengan pemikiran mereka yang sama. “Bagaimana kalau kita tidak perlu pulang kerumah? Bagaimana kalau kita pulang ketempat yang lain saja?”

“Apa maksudmu?”

“Kita tidak perlu pulang kerumah. Kita akan menginap ditempat yang lain.”

“Arasseo.” Ucap Hayoung menyetujui usulan oppanya. “Tapi, ayo kita pergi kesuatu tempat terlebih dahulu.”

“Kemana?”

“Hyemi oenni. Bukankah sekarang dia berulang tahun?”

***

Kini didepan makamnya Hyemi, Sehun dan Hayoung sudah dikejutkan dengan sebuket bunga dan sebuah kado yang tergeletak rapi disana, sama seperti kedua benda yang berada dalam tas kertas yang tengah mereka jinjing saat ini. Berarti sudah ada orang lain yang mengunjungi makam ini sebelum mereka. Tapi kenapa pagi-pagi sekali? Bahkan ini baru pukul 09.00 KST, dimana orang-orang masih sibuk dengan pekerjaan mereka dipagi minggu.

“Sehun, ini dari siapa?” Tanya Hayoung yang hanya melongo melihat kedua benda itu,

“Molla. Mungkin dari teman Hyemi noona.” Jawab Sehun asal, sementara Hayoung hanya meresponnya dengan ber-oh ria.

Mereka pun lanjut meletakkan sebuket bunga dan sebuah kado yang mereka bawa didepan makam Hyemi. Lalu mereka melakukan sujud hormat didepan makam itu dan berlutut didepannya.

“Oenni, bagaimana kabarmu? Jangan khawatir. Kami baik-baik saja disini. Kami juga merindukanmu.”

“Oenni, komawo atas nasehatmu waktu itu. Aku berjanji akan berubah. Namun sampai saatnya tiba saja, sekarang sepertinya aku masih belum mau berubah.”

“Saengil Chukkaeyo, Hyemi oenni.”

“Sayangnya, kau tidak bisa memakan sup rumput laut dihari ulang tahunmu ini. akhirnya, kami yang menggantikanmu makan sup rumput laut. Tapi kami membelinya disebuah toko, bukan buatan eomma. Eomma semakin sibuk akhir-akhir ini.”

Sehun hanya diam, membiarkan adiknya mengoceh dengan air mata yang mulai jatuh kepipi yeoja itu. Sementara dirinya hanya mengoceh didalam hati.

Saengil chukkae, noona. Aku harap, noona baik-baik saja disana. Kami juga baik-baik saja disini.

Noona, komawo karena telah membantuku membangunkan Hayoung. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik-baik. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi. Tidak akan pernah.

***

Sementara itu dilorong rumah sakit yang cukup ramai itu, seorang wanita paruh baya melangkahkan kakinya dengan cepat disana dengan seorang pria paruh baya dibelakangnya. “Pelan-pelan, Eunjung-ah.” Ujar pria paruh baya itu sambil terus mengikuti langkah istrinya.

“Ania. Tidak bisa. Kita harus cepat.” Jawab wanita itu gusar. “Yak! Perbesar lagi langkahmu itu! Dasar bapak tua!”

“Aigoo, wanita ini.” Gumam pria itu kesal sambil memperbesar langkah kakinya seperti yang disuruh oleh istrinya.

Sampai akhirnya, mereka berhasil memasuki sebuah kamar rawat. Namun hati wanita paruh baya itu serasa copot begitu melihat kamar itu sudah tertata dengan rapi tanpa ada satupun manusia didalamnya. Ya, kamar itu sudah kosong dan anak-anaknya sudah pergi entah kemana.

“Hh-Hayoung-ah… Ss-Sehun-ah…” gumam wanita itu terbata-bata dengan mata yang tengah menahan tangisan yang ingin keluar dari sana. Dirinya merasa tidak kuat dengan apa yang telah terjadi. Dan kakinya yang juga merasa tidak kuat lagi, membuatnya terduduk begitu saja dilantai kamar rawat itu. Sementara sang suami yang juga merasakan hal yang sama, hanya bisa mengelus-elus pundak wanita itu, berusaha menenangkan wanita itu dan memberinya kekuatan.

“Kalian… dimana?”

***

“Sehun, ini rumah siapa?” Tanya Hayoung heran, disaat mereka kini sudah sampai didepan sebuah pintu kayu rumah seseorang sepulang dari makam Oh Hyemi.

“Temanku.” Jawab Sehun singkat.

“Kenapa harus kerumah temanmu? Kenapa tidak kerumah Luhan saja?”

“Aku tidak mau berurusan dengan paman dan bibi.”

“Tapi temanmu laki-laki. Sementara aku perempuan.”

“Tenang saja. Dia memiliki seorang noona kok.” Ujar Sehun diiringi dengan kekehan pelannya.

“Baiklah.”

Tok! Tok! Tok!

Sehun pun akhirnya mengetuk pintu kayu bercat maroon itu. Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka menampilkan seorang namja yang lebih tinggi dari Sehun dengan pakaian rumahannya. “Sehun-ah!” seru namja itu riang.

“Annyeong, Chanyeol hyung.”

“Annyeong haseyo.” Sapa Hayoung sambil sedikit membungkukkan kepalanya.

“Annyeong, Hayoung-ssi. Ayo masuk kedalam dulu.” Ujar namja itu – Chanyeol, mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumahnya.

“Ne.” ucap mereka berdua serempak sambil melangkahkan kaki mereka memasuki rumah minimalis milik keluarga Park itu.

“Silahkan duduk, Sehun-ah, Hayoung-ssi.”

“Iya.”

Mereka berdua pun duduk disebuah sofa yang ada dirumah itu, diikuti Chanyeol yang duduk diseberang mereka. “Bagaimana kabar kalian?” Tanya Chanyeol berbasa basi terlebih dahulu.

“Kami baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” Tanya Sehun balik.

“Aku selalu baik-baik saja.”

“Chorong noona dimana?”

“Dia sedang memasak didapur.”

“Apakah Hayoung-ssi baru saja keluar dari rumah sakit?” Tanya Chanyeol kepada Hayoung yang sudah bersama dengan Sehun. Padahal dari yang terakhir ia lihat, yeoja itu masih tertidur lemah diranjang rumah sakit.

“Ne.”

“Chukkaeyo.”

“Kamsahamnida.”

“Apa yang membuat kalian datang kemari?” Tanya Chanyeol kali ini to the point.

“Chanyeol hyung, bisakah kami menginap disini sementara?” pinta Sehun, membuat Chanyeol tentu saja terkejut.

“Mwo?”

“Jebal. Bukankah orang tua kalian sedang pergi ke Inggris? Bisakah kami menginap disini? Sebentar saja.” Pinta Sehun lagi.

“Aku akan bertanya kepada Chorong noona dulu. Kau tahu kan Sehun-ah, kalau sedikit saja aku membuatnya marah, tulangku bisa saja patah dan masuk kerumah sakit karena hapkido-nya.”

“Ara.”

“Tunggu disini dulu ya.” Ucap Chanyeol sambil beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah dapur yang berada dibagian belakang rumahnya. Meninggalkan Sehun dan Hayoung yang masih duduk manis disofa ruang tamunya.

“Sehun, kau yakin?” Tanya Hayoung ragu.

“Iya. Tidak apa-apa kan?”

“Arasseo.”

Tidak lama kemudian, Chanyeol kembali kehadapan mereka dengan senyuman sumringahnya. “Dia memperbolehkannya, begitu juga denganku. Sehun bisa tidur dikamarku, sementara Hayoung bisa tidur bersama dengan Chorong noona.”

“Komawo hyung.”

“Choenmane. Kajja, kutunjukkan kamar kalian.”

Beberapa menit kemudian, kini Sehun dan Chanyeol tengah berada dikamar Chanyeol, setelah Chanyeol menunjukkan kepada Hayoung kamar yang harus ditempati yeoja itu.

“Sehun-ah, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Tanya Chanyeol yang sebenarnya sedari tadi merasa aneh dengan Sehun yang ingin menginap dirumahnya. Sementara Sehun hanya menghentikan kegiatan membereskan barang-barangnya, digantikan dengan tatapan bingung yang ia lemparkan kepada Chanyeol.

“Hah?”

“Kau pasti kabur dari rumahkan?” Tanya Chanyeol tepat sasaran.

“Iya.”

“Apa Hayoung juga tahu kalau kalian kabur dari rumah?”

“Bahkan dialah yang memintanya. Dia bilang dia tidak ingin pulang kerumah.”

“Apa ada alasan yang lain?” Tanya Chanyeol lagi yang belum merasa puas dengan penjelasan Sehun, membuat Sehun cukup terkejut.

“Hah?”

“Pasti ada sesuatu yang lain yang mengganjal dihatimu kan? Katakan sajalah kepadaku.”

“Tadi malam, eomma menamparku hanya karena aku menyerahkan surat pengunduran diri atas namanya.” Jelas Sehun, sementara Chanyeol yang mendengar itu merasa kasihan dengan kondisi keluarga temannya itu.

“Kau pasti merasa sakit.”

“Iya.”

“Apa Hayoung tahu tentang ini?” tanya Chanyeol ragu.

“Tidak.”

“Kau tidak akan memberitahukan ini kepadanya?”

“Tidak akan. Aku tidak mau Hayoung semakin membenci eommanya karena aku.” Jelas Sehun, membuat Chanyeol menarik sebuah senyuman simpul. Anak ini benar-benar oppa yang baik.

“Bagaimana dengan Luhan?”

“Aku sudah memberitahukan hal ini kepadanya, dan dia hanya akan mendukungku.”

“Aku juga akan memberikan dukungan kepadamu. Tinggallah disini selama yang kau mau.”

“Komawo hyung.”

“Tapi kau harus segera menyelesaikan masalah ini. Kau tidak boleh terlalu lama berlari dari masalah, arasseo?”

“Ne, hyung.”

***

Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik disebuah garasi milik sebuah rumah minimalis, sepasang kaki yang dibalut dengan high heels hitam itu keluar dari pintu mobil bercat putih yang telah dibuka itu terlebih dahulu itu. Lalu sang pemilik kaki pun menutup pintu mobil itu setelah dirinya keluar dari mobil sport-nya.

Yeoja itu melangkahkan kakinya menuju pintu rumah minimalis yang berada dihadapannya itu dan membukanya, menampilkan isi dalam rumahnya yang gelap tanpa ada satupun lampu yang meneranginya, membuat yeoja itu keheranan.

“Eomma! Appa! Jiyeon-ah!” seru yeoja itu memanggil seluruh keluarganya yang menghuni rumah itu sambil terus melangkahkan kakinya menelusuri rumahnya yang tidak terlalu besar itu. namun tidak ada satupun respon dari mereka, membuat yeoja itu semakin keheranan. Akhirnya yeoja itupun berinisiatif untuk menghidupkan beberapa lampu yang akan menerangi rumahnya dan membuatnya lebih hidup.

Cklek!

Akhirnya lampu dinyalakan membuat rumah itu cukup terang dan menampakkan seisi rumah yang cukup ramai dengan aksesoris ulang tahun, seiring dengan beberapa orang yang keluar dari suatu tempat yang menjadi tempat persembunyian mereka tadi dengan sebuah kue ulang tahun ditangan mereka sambil menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama untuk yeoja itu.

“Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae hamnida. Saranghaneun uri Hani. Saengil chukkae hamnida.”

“Apaan ini? Kalian mengejutkanku.” Ujar yeoja itu – Hani merasa terharu dengan acara ulang tahun kecil yang telah disiapkan oleh keluarganya.

“Hehe, mian oenni. Tapi, saengil chukkaeyo!” seru seorang yeoja yang memegang kue ulang tahun itu.

“Hembus lilinnya dan buatlah sebuah permintaan.” Suruh seorang wanita paruh baya yang notabenenya adalah sang eomma dikeluarga itu.

“Baiklah, eomma.” Ucap Hani. Hani pun menangkupkan kedua tangannya dan menutup matanya sambil mengucapkan permintaannya kepada Tuhannya didalam hati. Setelah selesai mengucapkannya, Hani pun kembali membuka matanya.

“Oenni, apa harapanmu?”

“Rahasia.”

“Oenni…”

“Sudahlah Jiyeon-ah. Sekarang ucapkan do’a-mu untuk oennimu kedepannya.” Suruh seorang pria paruh baya yang notabenenya adalah appa mereka.

“Baiklah. Aku ingin oenni semakin sukses dan mendapatkan apa yang oenni inginkan.” Pinta yeoja itu – Jiyeon. Sementara Hani hanya menatap Jiyeon dengan tatapan yang sulit diartikan.

Aku juga ingin eonni menjadi semakin hangat kepadaku dan kita akan menjadi saudara yang harmonis. Pinta Jiyeon lagi didalam hatinya.

“Sekarang, ayo potong kuenya, Hani-ah.” Ajak eomma mereka sambil memberikan sebuah pisau plastik kepada Hani dan membiarkan Hani memotong kue itu.

Hani pun mulai menempelkan pisau yang diberikan oleh eommanya ke kue ulang tahun dengan tulisan ‘Happy Birthday, Park Hani’ yang berada diatas cream putih kue itu, lalu Hani mulai memotong kue itu dan membaginya menjadi beberapa bagian.

“Oenni, suap aku!” seru Jiyeon riang. Hani pun mengambil sebuah sendok, lalu memotong salah satu bagian dari kue itu dan menyuapinya ke Jiyeon. “Hmm… mashita!”

“Eomma juga.” Gumam Hani sambil memotong lagi kue itu dengan sendok yang masih berada dalam genggamannya dan menyuapinya ke eommanya. “Appa juga.” Gumam Hani lagi sambil melakukan hal yang sama kepada appanya.

“Oenni! Ini hadiah dariku!” ujar Jiyeon riang sambil memberikan sebuah kotak yang telah dibungkus rapi dengan kertas kado ungun dan pita pink yang mengikatnya kepada oenninya.

“Komawo.” Gumam Hani sambil menerima hadiah itu dengan baik.

“Ayo kita sarapan bersama! Eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”

“Baiklah, tapi aku akan meletakkan hadiah ini kekamarku terlebih dahulu.”

“Arasseo. Jangan lama-lama ya.” Pesan appa mereka.

“Geure, perut appamu ini sudah meronta-ronta sejak tadi.” Ledek eomma mereka disertai kekehan jahilnya begitu juga dengan Jiyeon dan Hani. “Cepat ya.”

“Ne.”

Hani pun melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kamar bernuansa ungu yang merupakan warna kesukaannya, lalu menutup pintu kamar itu asal membuat sebuah celah dipintu itu karena tidak tertutup dengan baik. Namun bukannya menyimpannya disebuah tempat yang baik, Hani malah meletakkannya didalam tong sampah. Tanpa Hani sadari, Jiyeon melihat hal itu dibalik celah pintu kamarnya.

“Oh Hayoung, kau harus bayar untuk ini.” Gumam Jiyeon geram, lalu membalikkan tubuhnya dan menjauh dari sana bersama dengan hatinya yang terasa sakit.

Tbc

 

Annyeong haseyo, akhirnya aku update juga. maaf telah membuat kalian lama menunggu. Karena ada beberapa hal yang harus kusiapkan.

Didalam chapter ini, aku akhirnya membangunkan Hayoung dan memasukkan tokoh baru yang mungkin akan menjadi klimaks di ff ini.

Mungkin ini tidak terlalu sopan, tapi… vote and comment juseyo…

Kamsahamnida!!

Dan mungkin setelah ini, aku akan menjadi hiatus selama sekitar dua bulan karena aku harus menghadapi ujian maha penting yang mempengaruhi kelulusanku dan hidupku. Jadi sekali lagi aku minta maaf karena telah membuat kalian menunggu lebih lama. Jeosong hamnida, jeongmal jeosong hamnida. L

Tetap dukung aku ya chingudeul!

Kamsahamnida!!!

120428-A-PINK-Hayoung-and-Namjoo-s-Selca-in-Uniform-a-pink-EC-97-90-EC-9D-B4-ED-95-91-ED-81-AC-31627293-360-480

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Some Body (chapter 7)”

  1. Jung author yg cantikk??
    Kpan nii di pos lg chap 9 nyaa..
    Saking pnasaran,Uda kbawa mimpi ajja mrekanyaa..
    Eunji’nya masukn cast lg donk thor,ntar jadi’n couplenya sapa gitu,chanyeol da ya thor..
    Jeball nee,jgn lama” ng’pos nya jung author…

  2. hani temennya hyemi ya dlu?
    knp jiyeon nyalahin hayoung sih,, makin rumit ceritanya….
    tp syukurlah hayoung dan sehun sudah sdkit baik hubungannya…
    moga hayoung bisa cpet maafin sehun.

  3. Pertanyaan aku sama kyak comment sebelum nya !
    Dan ” WHY ” besar sudah terpampang jelas di jidat ku ini O.O

    sehun-hayoung juga udah mulai berubah ^^
    makin seru deh cerita nya ^^

    tp kenapa nunggu dua bulan buat chapter selanjutnya ???
    Itu terlalu lamaaa >.<
    sungguh terlaluuuu

    semangat buat author nya.. Biar cepet update nyaa kkkk~
    fighting ^^

    1. hehehe… saya sengaja.
      dua bulan, sebenarnya juga cukup lama untukku. tapi mau bagaimana lagi, aku harus siap untuk ujian kelulusan yang akan menentukan kehidupanku selanjutnya. apakah aku akan pergi dari sekolah itu dengan senyuman bangga atau tidak? tapi semoga aku akan lulus dengan nilai yang membanggakan.
      belum lagi test masuk sma yang harus kuhadapi tepat beberapa hari setelah ujian kelulusan itu.
      jadi, mohon do’a-nya ya.

    1. kenapa hayoung disalahin jiyeon?
      saya akan menceritakan hal itu di chapter selanjutnya. jadi tolong ditunggu.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s