Dating After Marriage [Chapter 4] – Yeouido Park

Dating After Marriage Poster

Dating After Marriage [Chapter 4] – Yeouido Park

A chaptered story by nokaav3896 ׀ Starring [EXO’s] Sehun and [Red Velvet’s] Irene ׀ It’s a marriage life and labeled as PG17 ׀ OCs and plot are mine. Members belong to you!

Previous Chapter: [1][2][3

©nokaav3896 – 2016

“Hari sebelum kita pergi ke Coex Aqua,” Sehun berujar dengan tenang, tangannya menggenggam Irene dengan lembut, “aku pergi ke kantor hari itu untuk bertemu dengan klien dari Jepang yang mau mengadakan program handphone gratis untuk siswa. Kim Junmyeon–“

“–pemilik sekaligus direktur yayasan Empire School.” Irene menyelesaikan penjelasan Sehun sembari mengulas senyum pahit. “Kerjasamanya…deal?”

“Belum diputuskan,” Sehun menjawab tak bersemangat, dia paham Irene pasti sakit hati, “tapi kurasa akan deal karena Oh Rion berusaha keras untuk ini dan Ostech Corporation memang yang terbaik di Korea Selatan. Kami tengah menguasai pasar smartphone selama dua tahun belakangan. Tapi kalau kamu keberatan soal perusahaan bekerjasama dengan–“

“Tidak.” Irene menggeleng cepat, tangan kanannya yang bebas dari genggaman Sehun balas mencengkeram pergelangan lelaki itu dengan erat. “Aku tidak keberatan, lanjutkan saja kerjasama dengan Empire karena kurasa memang akan menguntungkan. Bukannya kamu ingin mengajakku keliling Korea Selatan? Kamu harus punya banyak uang untuk itu.”

Sehun tertawa pelan mendengar ujaran Irene tentang berkeliling Korea Selatan. Dia sudah mapan, tanpa menerima kerjasama dengan Empire pun sebenarnya bisa mengajak Irene keliling Eropa sampai pingsan. “Nanti kalau kerjasamanya berhasil, bukan hanya Korea dan dunia, Sayang. Bulan madu di Planet Mars juga aku mampu.”

“Dasar orang kaya sombong,” cibir Irene pelan sebelum merangsek ke dalam pelukan Sehun. “Omong-omong, sepertinya sekarang sudah lima puluh persen.”

“Apanya?” Sehun bertanya sembari mengusap rambut Irene dengan lembut, mengeratkan pelukannya.

“Cinta,” Irene menjawab lirih, “cintaku padamu sudah lima puluh persen sih kelihatannya.”

“Bahkan setelah mendengar kembali keberadaan Kim Junmyeon?”

“Ya.”

.

.

“Ini weekend,” adalah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Sehun begitu membuka mata dan menemukan Irene sudah duduk di kursi rias sembari memoles bibir dengan lipstick merah muda, “mau kemana?”

“Ada janji dengan Suzy sebentar,” Irene melirik Sehun melalui cermin di hadapannya. Senyum simpul terulas di sudut bibirnya kala melihat suaminya justru menarik selimut semakin tinggi, “nanti aku pulang sebelum jam dua belas. Mau titip sesuatu?”

“Aku sarapan apa?”

“Hmm.” Irene menggumam sembari mengetukkan telunjuk kanan di dagu. Perempuan itu bangkit dari kursi rias dan menyambar tas tangan berwarna peach yang sudah siap pakai di ujung tempat tidur. “Roti ya?”

“Lagi?”

Kok lagi? Memangnya kapan terakhir kamu sarapan roti?”

“Astaga,” Sehun mendesah pelan, semakin menenggelamkan kepalanya dalam gulungan selimut. Meski begitu Irene bisa mendengar suaranya yang samar-samar menjawab, “kemarin pagi.”

“Aku bercanda.” Irene menghampiri Sehun dan menyibakkan kembali selimut putih yang menutupi tubuh suaminya–mengecup sekilas bibir Sehun sebelum mengerling dan berkata pelan, “bangun dan lihat saja sendiri. Aku pergi. Bye!

.

.

Nyatanya, bukan Suzy yang ditemui Irene, melainkan–

“Junmyeon.”

–Kim Junmyeon, pemilik yayasan Empire sekaligus direktur utama Empire School Jepang sekaligus mantan tunangan yang kini berdiri di hadapan Irene. Mengenakan setelan berwarna krem dan handphone keluaran terbaru yang tergeletak begitu saja di atas meja–Kim Junmyeon terlihat mahal.

“Irene,” Junmyeon tersenyum, “duduklah.”

“Terima kasih.” Irene mendudukkan tubuhnya di hadapan Junmyeon sembari memasang senyum manis. Tak ingin kelihatan lemah di hadapan lelaki yang pernah mencampakkannya–tentu saja.

“Tak bersama Tuan Oh?”

“Dia masih tidur,” Irene menjawab santai, mengulurkan tangannya untuk mengambil hot chocolate–salah satu minuman kesukaannya yang telah dipesankan Junmyeon–masih tersenyum. “Apa yang ingin kaubicarakan? Aku harus pulang sebelum pukul dua belas.”

“Lebih muda darimu, kurasa.”

“Lebih dewasa darimu–faktanya.”

Junmyeon tersenyum mendengar jawaban Irene yang dirasa cukup telak. Tangannya terulur mengambil satu cangkir teh hijau untuk membasahi kerongkongan–suaranya terasa tercekat, omong-omong.

“Aku sudah berpisah dengan Sola.”

Sebenarnya, Irene cukup terkejut mendengar pernyataan yang satu ini. Fakta bahwa Kim Junmyeon dan Myoui Sola berpisah benar-benar diluar dugaannya.

“Turut berduka cita?”

Junmyeon tertawa, mengusap sudut bibirnya dengan sapu tangan biru muda yang semula tersimpan di balik setelannya. “Aku berpisah dengan Sola tapi aku mendapat hak asuh Hyunwoo.”

“Urusannya denganku?”

“Aku membutuhkan ibu untuk Hyunwoo,” Junmyeon mencondongkan tubuhnya, membuat Irene bergidik dan mundur–bersandar pada kursi empuk milik kedai kopi mewah ini, “aku tak pernah mencintai perempuan selain Irene Bae.”

“Hebat,” Irene tersenyum sebelum membuka botol air mineral di hadapannya dan menuangkan isinya tepat ke atas kepala Junmyeon, “benar-benar tak punya hati. Aku sudah menikah sekarang. Kalaupun belum, kaupikir aku sebodoh itu untuk menjadi ibu dari anakmu dan perempuan itu?”

“Kau juga masih mencintaiku, Irene.”

“Percaya diri sekali.”

“Kau datang hari ini meskipun aku hanya mengirimkan undangan melalui pesan singkat,” Junmyeon menjawab santai. Seolah guyuran air barusan benar-benar bukan masalah besar bagi seorang pemilik yayasan besar sekelas Empire, “apalagi alasannya kalau bukan merindukanku?”

“Alasanku?”

“Ya.”

“Mengingatkan padamu untuk tidak mengganggu kehidupan baruku, termasuk Oh Sehun.” Irene menjawab dengan tegas. “Aku tahu, kerjasama Empire dengan Ostech adalah ulahmu. Kau sengaja.”

“Masih cerdas seperti dulu,” komentar Junmyeon pelan. “Tapi, kau benar-benar mencintai lelaki itu?”

“Setidaknya dia lebih baik daripadamu.”

“Ha,” Junmyeon tertawa pelan, “pertanyaan dan jawaban tak selaras, Nona Bae. Aku bukan bertanya siapa yang lebih baik diantara kami. Aku bertanya apa kau benar-benar mencintai Tuan Oh?”

Irene terdiam namun matanya menatap Junmyeon dengan kesal. Entah kenapa lelaki ini terdengar menyebalkan. Padahal dulu Irene benar-benar menyukai segala tentangnya.

“Ragu?”

“Tidak pernah,” jawab Irene mantap. “Aku benar-benar mencintai suamiku dan kumohon jangan ganggu dia. Aku pergi dulu. Kuharap kita tidak akan bertemu lagi. Selamat siang.”

Dengan satu langkah mantap, Irene meninggalkan Junmyeon sendiri; kembali ke apartemen untuk menemui Sehun yang sudah pasti tengah terkejut lantaran satu  porsi beef steak medium menyapa paginya.

.

.

“Aku pulang.”

Irene meletakkan flat shoes merah muda yang senada dengan warna lipstick-nya di rak sepatu tepat saat Sehun muncul dari ruang tengah sembari tersenyum. Lelaki itu sudah rapi mengenakan kemeja putih polos dan celana jeans hitam yang langsung menjadi bahan tertawaan Irene.

“Mirip mahasiswa magang.”

“Kurang ajar,” Sehun tertawa pelan sebelum menghampiri Irene dan mencondongkan tubuhnya, “aku benar-benar tak menyangka kalimat sejahat itu bisa lolos dari bibir yang manis ini.”

“Tak sejahat itu kurasa,” Irene mengabaikan Sehun dan berjalan lurus menuju ruang tengah. “Lagipula, siapa yang bilang bibirku manis? Kamu baru mencobanya dua atau tiga kali.”

What?

“Lupakan,” Irene mengibaskan tangannya sebelum meletakkan tasnya di sofa depan tv dan melangkah menuju kulkas untuk mengambil air dengan Sehun di belakangnya. “Aku sedang dalam mood yang aneh hari ini. Bicaraku melantur.”

“Rene,” Sehun membalikkan tubuh Irene menjadi menghadapnya, perempuan itu balas menatapnya dengan pipi memerah, “coba ulangi yang tadi.”

“Yang tadi apa?”

“Ini,” Sehun menggunakan ibu jari kanannya untuk mengusap bibir Irene dengan lembut, “berapa kali aku mencobanya katamu?”

“Hmm,” Irene mendongak seolah-olah tengah menghitung dalam awang-awang, “dua atau tiga? Aku sudah lupa.”

“Padahal kita sudah nyaris seminggu menikah,” ujar Sehun pelan. Suaranya, entah kenapa terdengar berbeda di telinga Irene, “seharusnya hari ini sudah yang keenam, itu minimal, kalau aku menciummu satu kali sehari.”

“Hmm,” Irene mengangguk, “lalu?”

Sehun mendorong mundur Irene sampai bagian belakang tubuh perempuan itu menabrak mini bar apartemen. Sedetik kemudian, bibirnya mencapai bibir Irene dan mengecupnya dengan lembut.

Entah kapan tepatnya Irene melompat –atau Sehun yang mengangkatnya– ke atas mini bar. Tangan perempuan itu mengalungi leher Sehun sementara tangan Sehun melingkari pinggang Irene–saling menarik seolah tak pernah ingin melepaskan.

“Sehun,” Irene memundurkan tubuhnya–mengakhiri ciuman mereka. Membuka mata dan mendapati Sehun yang masih memejamkan mata dengan napas terengah dan menahan berat tubuhnya dengan bertumpu pada mini bar yang melewati kanan-kiri tubuh Irene. “Kamu…oke?”

“Hmm,” Sehun mengangguk, “aku…maaf.”

“Bukan,” Irene mengangkat tangannya untuk menyibakkan rambut Sehun yang berantakan sekaligus menghapus keringat yang mulai membasahi dahi lelaki tampan itu, “aku yang seharusnya minta maaf. Aku…seharusnya tahu ini berat untukmu.”

“Aku baik-baik saja.” Sehun mendongak, membuka matanya dan menatap Irene sembari tersenyum, “masih banyak waktu. Aku masih bisa menunggumu untuk seratus persen jatuh cinta padaku.”

“Tapi, sekarangpun aku–“

“Nanti,” Sehun memotong cepat sebelum mendaratkan sebuah kecupan singkat, “untuk sekarang, yang ini sudah lebih dari cukup. Oke?”

“Kamu bisa bilang padaku kapan saja, Sehun-ah. Hari ini sudah lebih dari lima puluh persen dan yang lebih penting lagi–aku istrimu sekarang.

“Aku tahu tapi aku mau menunggu sampai seratus persen,” Sehun tersenyum. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut Irene yang menutupi wajahnya. “Omong-omong, sarapannya enak.”

Irene tertawa pelan. “Terima kasih. Aku berusaha keras untuk itu.”

“Karenanya, aku punya hadiah untukmu.”

“Apa?” Tanya Irene bersemangat sampai-sampai ia sendiri tak sadar sudah melompat dari mini bar dan menabrak tubuh Sehun pelan. “Ups, sorry.

Sehun tersenyum, “Yeouido Park di awal musim semi kedengarannya bagus ‘kan?”

“Tentu saja!” Irene bersorak kegirangan sembari melompat, nyaris tak ada bedanya dengan siswa taman kanak-kanak kecuali tingginya, “Kapan?”

“Nanti ya, minggu kedua bulan April.”

“Itu sekitar ulang tahunmu, Sehun.”

“Memang.”

“Ya itu namanya hadiah untukmu, bukan untukku.”

“Memang.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan sembari menunggu minggu kedua bulan April? Ini masih bulan Maret akhir.”

“Ini.”

Sehun menunduk dan mencium bibir Irene dengan lembut–lagi.

.

.

Untunglah hidup dengan Oh Sehun belum pernah terasa membosankan bagi Irene. Dua minggu berlalu begitu saja. Meski laki-laki itu memutuskan untuk kembali sibuk di kantor, Irene tak pernah kesepian lantaran panggilan video dari Sehun masuk nyaris setiap dua jam sekali. Dua kali Irene menghabiskan waktu dengan Suzy–mendengarkan cerita sang adik tentang Byun Baekhyun dan menemani Bae Soobin makan siang sembari meminta saran soal Kim Junmyeon (hanya Soobin yang tahu Junmyeon kembali dan meminta Irene menjadi ibu dari anaknya dengan Myoui Sola). Omong-omong soal Kim Junmyeon, kerjasamanya dengan perusahaan Sehun akhirnya menemui kata sepakat. Ostech Corporation menerima tawaran untuk menjadi partner Empire dalam pengadaan handphone untuk siswa. Irene tahu Junmyeon memang tidak akan menyerah. Meski tak lagi menghubungi Irene, perempuan itu paham bahwa kerjasama dengan perusahaan Sehun merupakan salah satu usahanya merusak hubungan Irene dan Sehun–dan Irene tengah berusaha menggagalkan rencana Junmyeon dengan semakin intens bersama Sehun.

Perempuan itu semakin terbiasa dengan ciuman Sehun yang kadang terlalu mendadak. Terbiasa meringkuk dalam pelukan Sehun dan kemudian mendaratkan morning kiss tepat setelah membuka mata di pagi hari. Intinya–Irene sudah berusaha keras menghapus jarak dengan Sehun. Namun untuk yang satu itu, Sehun selalu menolaknya dengan lembut.

.

.

“Selamat ulang tahun!”

Irene berteriak kegirangan tepat saat Sehun memasuki kamar dan menyalakan lampu. Meski terlihat lelah lantaran ini memang sudah lewat tengah malam, Sehun berjalan mendekat sembari tersenyum–dan bukannya meniup lilin, laki-laki itu malah mengacak rambut Irene dengan sayang.

“Bertahan selarut ini demi memberiku kejutan ulang tahun?”

“Belum mengantuk.”

“Pembohong,” Sehun mencibir, “matamu sudah merah. Aku ‘kan sudah bilang jangan pernah tunggu aku pulang.”

Oke, oke, kalau begitu cepat buat harapan dan tiup lilinnya baru aku bisa tidur.”

Okay.” Sehun memejamkan matanya, mulai menyusun doa dan harapan dalam hati. Delapan detik kemudian, semua lilin di atas kue ulang tahunnya padam dalam sekali tiup. “Semoga benar-benar dikabulkan.”

“Kamu minta apa?”

“Rahasia.” Sehun menjulurkan lidahnya. “Kembalikan kuenya ke dalam kulkas, dan ayo tidur. Aku sudah lelah, perayaannya dilanjut besok pagi, okay?

“Memang sudah selesai,” Irene tertawa pelan sembari berjalan keluar kamar, “aku sengaja tak menyiapkan apapun untukmu. Sudah paham kok. Yang penting kita jadi ke Yeouido Park besok pagi.”

“Tentu saja, Sayang.”

.

.

Yeouido Park merupakan taman kota super luas yang ditata dengan cantik dimana banyak pasangan-pasangan manis yang menghabiskan waktu berdua di tempat ini (yang sesekali membuat Irene cemberut karena iri). Meski begitu, masih banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan disini, seperti; menyewa sepeda, sepatu roda, bermain basket, dan lain-lain. Kalau beruntung, disini ada cherry blossom festival yang biasanya dimulai sekitar pukul 18.00.

“Festivalnya masih lama,” ujar Irene sembari menikmati jalanan panjang dengan cherry blossom di kanan dan kiri, “tapi tempat ini benar-benar indah, Sehun.”

“Kamu baru sekali kemari?”

“Bukan,” Irene menggeleng, mengeratkan pegangannya pada lengan kanan Sehun, “pernah kemari sekali waktu dengan rekan bisnismu.”

Sehun tertawa pelan. “Kim Junmyeon?”

Yeah.

“Apa yang kalian lakukan disini?”

“Hmmm,” Irene mengerutkan dahinya, mencoba memanggil kembali memori lama yang sudah nyaris tenggelam, “kurasa hanya duduk-duduk dan mengobrol. Dia terlalu kaya dan pemalas untuk sekedar mengayuh sepeda, tak pandai bermain sepatu roda, tak berminat pada bola basket kelihatannya.”

“Kurasa Kim Junmyeon matching denganku,” ujar Sehun geli, “aku juga malas kalau kamu minta mengayuh sepeda, tak pandai sepatu roda dan tak lagi berminat pada bola basket setelah Lu pergi.”

“Lu?”

“Ya,” Sehun mengangguk, “Lu Han. Temanku dari kecil, pulang ke negara asalnya sekitar lima tahun lalu. Tak pernah menyentuh bola basket sejak saat itu.”

“Kamu pasti sangat menyukainya,” ujar Irene dengan lembut. Tangannya otomatis mengusap lengan Sehun. “Dia…cantik?”

Sehun mengernyit, menoleh sebentar untuk memastikan Irene serius dengan pertanyaannya. Namun perempuan itu memang tak kelihatan sedang bercanda.

“Hmmm…ya.”

“Jangan bilang dia cinta pertamamu?” Irene menodong Sehun dengan telunjuk kanannya yang mungil–sontak membuat Sehun tertawa keras.

“Rene, dia laki-laki.”

“Astaga,” Irene melepaskan tangannya dari lengan Sehun dan memukulnya pelan, “kamu bilang dia cantik, Sehun.”

“Dia laki-laki, tapi dia memang cantik.”

“Ada?”

“Apa?”

“Laki-laki cantik.”

“Ya itu, Lu Han.” Sehun berhenti, berjongkok untuk mengambil cherry blossom yang baru saja jatuh di hadapannya untuk kemudian disematkan pada rambut Irene. “Tapi kamu lebih cantik.”

“Astaga, jangan bercanda.” Irene menepis tangan Sehun dan berjalan mendahului lelaki itu. “Aku perempuan, aku memang harus cantik.”

“Kamu istriku, kamu memang harus cantik.”

Irene tertawa dengan kedua telapak tangan menutupi pipinya yang mulai memerah. Belakangan, dia memang semakin mudah tersipu kala Sehun menggodanya.

Cherry blossom-nya cantik,” Irene berujar tak jelas, Sehun yang berada di belakangnya hanya mengulas senyum geli. Paham perempuan di depan yang menyandang status sebagai istrinya tengah salah tingkah.

Sehun mempercepat langkahnya, berjalan di samping Irene dan berbisik, “sama sepertimu.”

“Berhenti menggodaku, Sehun!”

“Aku tidak menggoda,” Sehun menyangkal, “aku membicarakan kenyataan.”

“Berhen–“

Irene tak melanjutkan kalimatnya. Lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu karena mendapati sosok Kim Junmyeon yang tengah menggendong seorang balita di hadapannya.

“Oh Sehun-ssi? Suatu kebetulan bertemu disini.”

Tbc.

Haloooo, hueheheh 😀

Lama banget ini updatenya dan aku kok merasa ada penurunan kualitas tulisan ya wakaka 😀 Mau curhat aja, habisnya belakangan ini keseringan bikin tulisan bernada kritikan buat organisasi kampus, jadinya feel tulisan fiksinya agak menghilang entah kemana. Huhuhu.

Tapi aku berharap teman-teman masih enjoy baca ini sih sembari aku mengumpulkan kembali diksi-diksi bernada fiksi dan bukannya diksi-diksi untuk orasi 😀

Okaay, as usual! Kritik, saran, dan kesan ditunggu di kolom komentar yaa! ❤

Untuk next chapter masih rahasia mau dimana :p

See you as soon as possible! :3

48 tanggapan untuk “Dating After Marriage [Chapter 4] – Yeouido Park”

  1. Si suho udah bosan hidup ya? Udah tau irene punya suami,masih aja usaha buat ngerebut irene,,gak waras deh/maafkan diriku holkay/ ..
    Gak tega bgt kalo sampe konfliknya panjang huwa,,soalnya couple ini tuh manis bgt…

  2. Mana chap 6 nya thor , udah mau jamuran nh nunggu karena udah gak sbar gra ceritanya menarik bngt, bkin penasaran mulu .

  3. Aaaaahhh so sweet pengen jadi irenne nya 😂😂 doctor tolong akuu sehun trs menggoda kak di next ya pas liat ff ini lanjut seneng bgtt

  4. wuw mereka makin so sweet aj..jadi makin penasaran…apalagi tadi mereka ketemu junmyeon.trs ko junmyeon jahat si dy ko egois smpe” punya rencana mau ngerusak hub irene & sehun.
    NEXT THOR

  5. Kok lama kli update nya author….😔 sanking pensarannya ama kelanjutan ceritanya…. tapi, suka banget lho sma ff satu ne, semog next chapter nya jgn lma lgi y author😀😀😀

  6. benar benar ff yang bagus, ah shipper baruku xD
    entah kenapa setiap membacanya aku selalu tersenyum sendiri author-nim x((

  7. Halloooooo aku pembaca baru, bacanya ngebut, jadi baru ninggalin jejak hehehe. Aku suka sama semuanyaaaaaa!!! Pasangan yg manis yg sukses bikin baper degdegan gajelas hahahahahah.
    Dan satu lagiiii itu junmyeon kenapa nongooollll??? Reseeeeeee! Tapi yah dapet banget dibikin tbc disitu hehehe.
    Ah iya. Aku setuju emang penulisannya rada menurun. Aku suka yg chapter 1. Itu dapet banget. Pas udah chapter 2 langsung turun drastis hehehe. Tapi aku tetep suka kookkk. Karena mereka terlalu manis hihihi.

    Ditunggu kelanjutannya yaaaaaa~~

  8. Konfliknya semakin greget ih itu Junmyeon-nya nyebelin-,-
    Dia bisa aja datang ke Yeouido juga._. Padahal lagi manis-manisan/? gitu…
    Pokoknya Irene jangan sampai lepas dari Sehun ya hahaha

    Aku masih menikmati fanfiksi mu kak:3
    Ditunggu ya kelanjutannya^o^

  9. Itu junmyeon ya emang, pengacau-_- AAAA AKHIRNYA HUAHAHAHA feelnya masih dapet kok eonnn, cuma kesel aja pas scene irene junmyeon gituu-_- lanjut ya eonnnn kalo mau pindah pindah wp/blog kasih tau yaa😂

    1. Uri leadernim sedang butuh hiburan jadinya gangguin istrinya maknae hahaha 😀 Engga mau pindah-pindah wp kok tapi kalo mau visit personal wp juga silahkan loh nokaviapermata.wordpress.com hahaha
      makasih yaaa kpopers_ udah mampir :3

  10. Izin baca ya kak author. 🙂 cz’ nemunya lngsng chap4 ya komen prtma dsni. hehe 😀
    Yg awal2 ntar aku juga komen dehh. makasih kakak. Fighting

  11. KYAAAAAA KENAPA BARU MUNCUUL WKWK :v bahasanya ringan dan masih gurih dibaca seperti sebelumnya ko menurutku, satusatunya yg ga enak disini cuma keberadaan junmyeon wkwkwk :v momen hunrene nya selalu aja bikin dagdigdug ugh!!!!!<3 Aku tungguin sampe akhir deh pasti. Btw, aku yg sebelum sebelumnya komen atas nama hunreneshipper kkkk fighting!

    1. Kyaaa ada banyak kerjaan di real-life soalnya :p Wii makasih yaaa udah mau nungguin sampe akhir dan iyaa aku inget emang ada yang komen pake hunreneshipper hahaha makasih yaa udah mampir :3

  12. Uuuhh makin romantis ajah ini couple ^^

    tuh kan lg romantis”an malah ada yg ganggu -_-
    junmyeon pasti sengaja tuh :v

  13. Lamaaaa banget thorr nunggu chap ini,,, semoga chapter kelanjutany lebih cepet d update ya thor,,, hihihi
    Ceritanya makin so sweet aja sehun sm irene,, n itu si jumyeon k laut aja sonoh wkwkwk

    1. Aaa iya maaf yaa bikin nunggu lama hehe aku ada kerjaan yang minta perhatian juga soalnya tapi diusahain updatenya cepet deh makasih yaa Kimora udah nungguin dan mampir :3

  14. Ff yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sebenarnya aku tiap hari ngecheck ff kakak udah keluar apa belum. Dan akhirnya.. 🙂 Oh ya kak apa nanti Irenenya balik ke Junmyeon? Penasaran bgt nih.. Lanjut dong kak 🙂 HunRene momentnya ukhh.. Bikin ngiri :v
    Fighting!

    1. Wii terharu ada yang nungguin sampe ngecek tiap hari hihihi buat Irene balik sama junmyeon atau enggaknya ya masih rahasia dong :p nanti ngga surprise hahaha 😀 ditunggu aja yaa dan makasih Rin udah mampir ❤

  15. enak banget si jumyeon, giliran iren udah dibuang, tiba-tiba dateng seenak jidatnya minta iren jd ibu buat anaknya.
    lebih sweet si sehun kemana-mana…. hahahah

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s