[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 9)

draft.jpg

Tittle: DRAFT
Author: nakashinine
Length: Chapter | Genre: School life, Friendship, Romance | Rating: T
Main cast: Oh Sehun // Kim Kai // Bae Irene // Kang Seulgi
With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak nakashinine yang rada geser. But, #Konsep prolog terinspirasi dari beberapa novel romance Indonesia. #Beberapa plot juga terinspirasi dari potongan-potongan drama school korea yang mengudara ditahun 2015.
Posted in [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

 

List: [Prolog – Chapter 8]

-9-

Kurang dari 3 minggu ini Irene dan Kai harus bekerja keras demi mendapat nilai UAS yang mencukupi. Sudah hampir setengah semester ini Sehun terus mengajari mereka berdua tanpa memberi libur. Sabtu dan Minggu siang Irene dan Kai pasti sudah nongkrong di café tempat Sehun bekerja, mengerjakan selembaran soal-soal buatan Sehun, selagi sang pembuat sibuk bekerja.

Entah kenapa, meskipun banyak sekali pertanyaan muncul pada diri Sehun, tapi dia tetap ingin memberi yang terbaik untuk Kai dan Irene. Meski sering sekali kedua temannya itu begitu merepotkan akibat keluhan-keluhan mereka soal belajar dan hal-hal mengganggu lainnya. Terkadang, ketika mood Sehun sedang buruk, rasanya ia sungguhan ingin menendang kedua orang itu ke sungai Han. Tapi predikat ‘teman’ selalu menyadarkannya. Semua keterlanjuran ini tak bisa ia tinggalkan begitu saja tanpa jejak. Irene pernah berjanji, sesudah UAS nanti, ia dan Kai tidak akan menjadikannya lagi sebagai guru privat. Cukup belajar bersama seperti biasa saja. Dan Sehun menyetujuinya. Ia merasa harus menyelesaikannya dengan segera.

Malam itu akhirnya Sehun bisa sedikit bersantai, dengan menyeruput secangkir kopi sambil memandangi kota Seoul dari balik jendela besar apartemennya.

“Huwaaa daebak.” Puji Irene yang baru saja berdiri di samping Sehun. “Inilah salah satu alasan kenapa aku senang sekali berada di apartemenmu. Dari sini aku bisa melihat kota Seoul yang indah sekali pada malam hari.”

“Kau berlebihan.” Ejek Sehun pelan sambil melirik Irene sebentar. Entah sejak kapan, sesuatu dalam diri Sehun terus menerus menerima keberadaan Irene tanpa jeda. Dirinya nyaris menjadi orang yang paling mengenali Irene, bahkan lebih dari Kai. Meski cewek sinting itu sungguh merepotkan bukan main. Tapi dirinya tidak merasa harus mendepak Irene dari kehidupannya dan meminta Kai untuk berhenti berteman dengan Irene. Tidak, setidaknya untuk saat ini.

Tinggal bersama seperti itu bukanlah hal yang seharusnya. Seperti yang pernah Irene ceritakan padanya waktu itu, tentang Kepala Sekolah yang mencurigai kedekatan mereka dan mewanti-wanti Irene agar tidak menginap bersamanya. Tapi entah kenapa, setiap gadis itu pulang untuk urusan penting dan tidak menginap, rasanya Sehun merasa ada sesuatu yang tadinya terisi jadi kosong kembali. Namun dirinya sadar, ini tidak bisa terus dibiarkan sampai seseorang mengetahuinya. Suatu hari nanti, Irene harus berhenti tinggal di sana sebelum rahasia itu terbongkar. Untuk saat ini, mungkin tidak masalah bila membiarkan semua itu berjalan seperti biasanya.

Sehun menoleh lagi dan menatap Irene yang tengah tersenyum manis memandangi kota Seoul, “Irene.” Panggilnya.

“Hmm.” Jawab Irene tanpa menoleh.

“Apakah kau tidak pernah merasa khawatir tinggal berdua bersama laki-laki seperti ini?” Tanya Sehun akhirnya. Irene menoleh, setelah menatap Sehun beberapa saat, ia tertawa geli.

“Jadi selama ini kau ini laki-laki? Kupikir kau hanya semacam spesies makhluk asing yang mirip dengan manusia.” Ledeknya sambil menahan tawa.

“Itu tidak lucu.” Sehun kembali menatap ke luar jendela sembari menyeruput kembali isi cangkir di tangannya.

Irene tersenyum melihat lak-laki di sampingnya itu. Dia menghela nafas dan kembali melihat ke depan.

“Sebenarnya, aku merasa sedikit khawatir. Aku takut Ayahku diam-diam memataiku dan akhirnya tau kalau ternyata selama ini aku selalu menginap di rumah teman laki-lakiku. Jika dia sampai tau, aku pasti langsung dibunuh detik itu juga.” Irene terkekeh pelan. “Tapi selama kita bertiga bisa menjaga rahasia ini dengan baik, aku tidak akan khawatir.”

“Bukan itu maksudku. Kalau mengenai ketauan atau tidaknya, aku juga merasakan hal yang sama.” Sahut Sehun.

Irene lantas menoleh lagi dan menemukan mata Sehun yang sedang memandang dirinya lekat. Beberapa detik berlalu mereka hanya saling menatap. “Lalu apa?” Tanya Irene memastikan. Pertanyaannya menyadarkan akal Sehun yang sempat beku, kemudian dia menghela nafas pelan dan memalingkan pandangan –lagi.

“Maksudku… Tinggal bersama laki-laki. Apakah kau tidak mengkhawatirkan sesuatu?”

Irene tertawa pelan mendengarnya.

“Apa yang harus aku khawatirkan? Jujur saja, aku merasa lebih aman dan nyaman di sini ketimbang di rumahku sendiri. Dan aku 10x lipat lebih percaya padamu daripada kakak tiriku.” Jawab Irene, Sehun bisa melihat senyum Irene yang terus mengembang lewat ujung matanya.

“Kau terlalu datar untuk seukuran manusia biasa, Oh Sehun. Tapi kau adalah teman yang baik. Mau mendengar sedikit ceritaku?”

Sehun kembali menatap Irene yang kini tengah memasang senyum lebar kearahnya.

“Jika membosankan, belikan aku hanwoo.” Guraunya, yang berhasil mengundang pukulan ringan dari Irene. Kemudian perempuan itu menarik nafas dan kembali menatap kota Seoul yang gemerlap bagai bintang.

“Aku belum pernah cerita, kan? Kenapa aku pintar sekali dalam bahasa Inggris dan selalu mendapat nilai sempurna.”

Sehun mengangguk pelan, “Jadi ini tentang keahlianmu dalam bahasa?”

“Dengarkan saja, atau aku lempar kau ke sungai Han.” Gadis itu melempar tatapan ancaman yang lucu untuk Sehun. “Ibuku meninggal saat aku masih kelas 3 SD. Ayah begitu frustasi dan tidak tau harus melakukan apa tanpa Ibu. Akhirnya, kakak dari ayahku alias pamanku, meminta kami untuk tinggal bersamanya di Amerika. Ayah belajar banyak sekali ilmu bisnis di sana, dan aku pun terpaksa harus sekolah disana. Sampai 4 tahun lamanya, aku dan ayah kembali ke Korea saat aku usia kelas 2 SMP. Itulah kenapa aku bisa bahasa Inggris. Aku adalah anak yang cukup pintar, asal kau tau.” Irene melirik Sehun dengan tatapan sombong lalu tersenyum gemas.

Namun Sehun memandangi Irene cemas, takut-takut kisahnya akan semakin menyedihkan dan membuat Irene menangis atau semacamnya. Tapi gadis itu masih bernada biasa seperti sebelumnya.

“Paman menyerahkan perusahaan miliknya yang di Korea untuk dikelola ayah. Sejak saat itu ayah sangat sibuk dan tidak memperhatikan pertumbuhanku yang kehilangan sosok Ibu. Seperti yang kau tau, ayahku adalah orang penting dalam dunia bisnis saat ini. Aku selalu merasa kesepian. Makanya, sebelum aku berteman dengan kalian, aku selalu membuat masalah agar semua orang memperhatikanku. Tapi ternyata itu membuatku tidak punya teman dan dijauhi banyak orang. Itu juga sebabnya kenapa Ayah tidak pernah membahas bagaimana dan seperti apa putrinya di depan media. Aku tidak diakui oleh siapapun, bahkan oleh ayah kandungku sendiri.” Kali ini Irene tersenyum getir, ia menghela nafas lagi sebelum melanjutkan.

“Sampai akhirnya aku berteman dengan kalian, orang-orang yang sebenarnya dituduh sombong dan sok keren. Banyak juga yang bilang kehidupan kelian berdua sangat sempurna. Tapi ternyata tidak seperti itu. Dari luar mungkin kalian seperti penghuni dunia asing yang tersesat di bumi. Padahal kalian sama seperti orang banyak. Hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk hidup kalian, mencoba berteman dan bergaul dengan baik seperti kebanyakan orang. Dan menjadi teman kalian adalah hal yang paling membuatku bahagia. Kalian berdua mengakuiku tanpa melihat aku seperti apa.”

“Dan itu alasannya kenapa kau begitu menaruh banyak kepercayaan pada kami?” Tanya Sehun memastikan. Irene hanya mengangguk mantap sebagai jawaban. Sehun tidak menyangka, sungguh tidak menyangka. Irene menganggap pertemanan sederhana mereka ini sangat berarti. Lalu bagaimana dengan dirinya? Kenapa Sehun bahkan masih tidak bisa menemukan jawaban kenapa dia menerima Irene sebagai temannya sampai sedekat ini.

“Terima kasih karna sudah menjadi temanku.” Gadis itu tersenyum lebar sambil mengacungkan kelingkingnya. Tapi Sehun hanya menatapnya datar. Irene yang gemas lantas menarik kelingking Sehun dengan paksa dan menyematkannya di kelingking miliknya. Kemudian kembali sama-sama memandang keluar jendela.

“Kau mau tau salah satu rahasiaku?” Tanya Sehun tiba-tiba.

“Apa itu?” Irene menoleh penasaran.

“Tanggal yang aku pakai untuk password apartemen ini.”

“4 Januari 2011, kan?”

“Terbalik, bodoh. Harusnya 1 April 2011.”

Omo.” Irene tertawa, malu.

“Itu tanggal dimana terjadinya peristiwa pesawat yang ditumpangi orang tuaku jatuh di lautan.”

Suasana lenyap seketika. Irene menoleh pada Sehun dan menatapnya dengan wajah kasihan. Namun entah apa yang dirasakan lelaki itu, ia hanya terlihat santai dengan secangkir kopi yang tengah diminumnya, sambil terus memandang lurus.

“Kenapa kau mengatakannya padaku?” Tanya Irene pelan. Suasana jadi agak sendu, membuatnya sedikit tidak nyaman.

“Alasan yang sama seperti alasan kenapa kau menceritakan semua kisah sedihmu itu padaku.” Jawab Sehun, kemudian ia menatap Irene. Kali ini tatapan teduh Sehun berubah jadi redup. Dan entah kenapa, itu membuat Irene terhenyak.

Tanpa disadari, kini tangan lembut Irene sudah mendarat dipipi mulus Sehun, “Luka mentalmu cukup parah, ya. Kapan aku bisa melihatmu benar-benar tersenyum, Oh Sehun?”

Sehun sedikit tersentak ketika jari Irene sedikit mengelus pipinya lembut. Namun ia tak bisa menggerakkan tubuhnya untuk sekedar menghindar atau melepaskan tangan Irene. Sesuatu yang hangat seakan menjalar dari sana, menyentuh hatinya yang selama ini beku dan tak bisa mencair.

xxx

 

Untuk mengurangi rasa curiga ayah Irene, terutama kepala sekolah. Sehun memutuskan untuk menyuruh Irene pulang kerumah selama UAS berlangsung. Dan itu cukup membuat Irene malah semakin khawatir dengan nilai-nilainya. Ini pertama kalinya, gadis itu sangat memperhatikan hari-hari ujian. Uts lalu, juga ujian-ujian semester sebelumnya, Irene menjalankannya seperti hari-hari biasa. Datang dengan santai, mengerjakan soal sebisanya. Kemudian tidur setelah pulang sekolah.

Pagi-pagi, 10 menit sebelum bel masuk berbunyi. Irene sudah duduk dikursinya sambil membaca beberapa materi penting yang akan diujiankan hari ini. Kai yang baru datang, kemudian mentertawakannya.

“Kau benar-benar khawatir akan di usir dari sekolah ini, ya?” Ledeknya gemas.

“Diam kau. Lihat saja nanti, peringkatku akan naik di atas peringkatmu.” Irene menjulurkan lidahnya kemudian kembali memfokuskan diri pada buku paket, juga catatannya.

Seisi kelas pagi itu pun dibuat keheranan bukan main. Mereka pikir Sehun dan Kai yang akan terjerumus kedalam kehidupan pecicilan Irene, tapi ternyata gadis itu malah ketularan Sehun; serius dalam ujian.

“Oh Sehuuun.” Seusai ujian di hari pertama, Irene merengek pada Sehun karna ada setengah dari semua soal hari ini kesulitan ia jawab. Sehun hanya menatap Irene –datar. “Ayah akan mengusirkuuu.”

“Ya ampun. Kau pikir UAS hanya satu hari? Ini baru hari pertama, Irene. Besok-besok kau pasti bisa lebih baik lagi.” Jawab Sehun mencoba menenangkan. Kai yang ada di samping Irene menepuk-nepuk kepala gadis itu dua kali.

“Makanya jangan terlalu semangat.” Ucapnya kemudian tertawa ringan.

Di hari-hari berikutnya, Irene semakin merasa lebih tenang karna bisa menjawab soal dengan cukup baik. Setidaknya, dia yakin akan naik peringkat kali ini. Belum pernah, Irene merasa harus bekerja keras untuk ujiannya. Kali ini memang berbeda, Irene harus melakukannya karna suatu alasan. Dan ia berhasil melewatinya sampai hari terakhir.

Semester 1 ini tersudahi dengan nilai Irene yang meningkat cukup pesat. Peringkatnya masuk ke 30 besar sesuai tergetnya. Dia bahkan bisa menyusul Kai yang hanya bisa naik beberapa peringkat saja. Dan jangan tanyakan lagi soal Sehun, dia rajanya. Seisi sekolah bosan dan tidak akan pernah penasaran lagi siapa yang akan meraih peringkat pertama.

Krystal yang baru saja menghampiri papan pengumuman nilai menekuk wajahnya saat melihat peringkat miliknya turun 2 tingkat jadi ke-11. Setelahnya dia menganga ketika tau Irene berhasil meningkat tajam.

Ya Bae Irene! Bagaimana bisa kau melakukannya?” Serunya tak menyangka. Pasalnya, peningkatan Irene naik hanya berjarak setengah semester saja.

“Yang pasti, ini sama sekali bukanlah karna ‘bantuan’ ayahku yang kaya raya itu.” Jawab Irene dengan nada menyindir, ada maksud lain dari caranya menjawab. Ia melirik Kim Junmyeon yang tengah berdiri menatap urutan peringkat. Lelaki itu pun sama seperti Sehun, selalu setia di posisinya; ke-2. Gadis itu tersenyum kecut ketika Junmyeon hanya menatapnya ketus dan pergi dari sana. Namun dibalik punggungnya, tanpa Irene ketahui, lelaki itu justru sama-sama tersenyum kecut.

“Yeay!! Oh Sehun, Kim Kai, ayo bermain selama liburan penuh. Aku ingin kesini, kesana, kesini, kesana, bla bla bla…” Saking girangnya, teriakannya itu membuat semua orang di sekitar mereka bertiga menoleh dan memandangi Irene dengan tatapan sinis, juga iri, tentunya.

“Kau mau ikut, Krystal?” Seru Irene semangat dengan mata berbinar. Namun gadis itu hanya memutar bola matanya.

“Tidak, terima kasih.” Krystal melambaikan tangannya, tidak tertarik. “Kau lupa, atau bagaimana? Minggu depan, kan, kita kompetisi dance babak pertama.” Lanjut gadis itu.

“Kau benar.” Seketika Irene diam beberapa detik, kemudian kembali berseru girang. “Biar sajalah. Kan waktu liburannya luamayan panjang.”

Krystal memutar bola matanya lagi kemudian berlalu dari hadapan ketiganya.

Setelah itu desas-desus pun mulai terdengar di sekitar mereka,

“Bagaimana bisa?”

“Kenapa mereka dekat sekali?”

“Liburan bersama? Omo kenapa Irene sunbae bisa melakukannya?”

Dan bisikan-bisikan lainnya. Kai kemudian mendadak ikut berseru antusias, mulai merencanakan ini itu bersama Irene. Sengaja melakukannya, agar telinganya tidak lagi mendengar perkataan siswa-siswa lain. Saking asiknya, sampai-sampai lupa tidak menanyakan pendapat Sehun yang kini mengikuti mereka di belakang tanpa suara.

“Terserah saja.” Gumamnya.

xxx

 

“Satu, dua, tiga, satu, dua, tiga, satu –“

H-2 akhirnya datang. Kompetisi dance sudah didepan mata. Hari ini, sesuai dengan yang sudah dijadwalkan Changmin-ssaem. Kai dan kawan-kawan harus memantapkan hasil latihan. Mengulang-ngulangnya sampai benar-benar sempurna tanpa kesalahan terselip sedikitpun. Dan butuh kerja keras untuk itu.

Changmin terus menyerukan suara-suara berisik untuk menyemangati dan mengobarkan api-api semangat dari dalam diri anggotanya masing-masing. Dan Irene menjadi satu-satunya yang terus mengikuti seruan berisik pelatihnya itu dengan penuh semangat.

Lagi-lagi, Sehun ingin tertawa, jika ia bisa. Sedangkan Seulgi dan Kai sudah tertawa ringan setiap Irene berseru lucu.

“Hentikan itu, ssaaaaem.” Teriak Krystal gemas, tanpa menghentikan gerakannya.

Beberapa saat kemudian, selesai. Semua tumbang, termasuk sang pelatih. Pria itu menepuk tangannya pelan, “Kerja bagus, anak-anak.”

Kini Sehun menelentangkan tubuhnya di lantai sambil menutup kedua matanya lalu mengatur nafas. Tiba-tiba Kai bergabung dengan meletakkan kepalanya di atas lengan kanan Sehun. Dan tak lama kemudian, Irene mendekat dan malakukan hal yang sama, tidur di atas lengan kiri Sehun.

Ya…” Sahut Sehun dengan suara kelelahan, “Menjauh dariku.” Lanjutnya dengan lemas, masih dengan mata tertutup.

“Sekali ini saja, Oh Sehun.” Balas Kai santai.

Krystal meneguk sisa air es miliknya sampai habis, lalu ia menghampiri 3 sekawan itu sambil tersenyum jahil, “Apa aku harus melakukannya juga di atas kakimu?”

“Jangan becanda. “ Balas Sehun pelan.

Irene yang masih menutup matanya tertawa keras, “Ayo, ssaem, Seulgi. Anggap saja kasur sendiri.”

“Itu tidak lucu dasar sinting.”

Meski begitu, semua orang yang ada diruangan itu kemudian tertawa geli –kecuali Sehun. Hatinya menghangat, ingin ikut tertawa. Tapi sekali lagi, sungguh ia masih tak bisa melakukannya.

xxx

 

Rasa cemas dan gugup kini menyelimuti tim kompetisi di belakang panggung itu, kecuali Kai, Sehun, dan Changmin-ssaem. Sehabis ini adalah giliran mereka. Pelatihnya itu tak henti-henti memberi semangat dan menenangkan tiga anggota perempuannya. Namun Irene yang duduk di samping Sehun sejak tadi masih menggigiti jempolnya gugup. Krystal sudah tak terhitung lagi berapa kali dia mengulang menyanyikan lagu yang sama untuk mengusir rasa gugup. Dan Seulgi sedari tadi berdiri dengan cemas didekat jendela. Sesekali ia mondar-mandir kemudian kembali diam. Kai memperhatikan itu dengan seksama, kemudian tersenyum kecil.

Lelaki itu berjalan menghampiri Seulgi yang sedang mondar-mandir tak jelas, dengan satu gerakan Kai menjulurkan kakinya didekat gadis itu. Dan itu berhasil membuat kaki Seulgi menabraknya lalu tersandung. Namun sesuai rencana, Kai menahan tubuh Seulgi yang hampir jatuh karna ulah nakalnya.

Seulgi mengangkat wajah, dan mendapati Kai tengah tersenyum kearahnya dengan jarak yang dekat. Matanya sedikit membulat karna tak mengerti maksud sunbaenya itu.

“Kau sangat gugup?” Tanya Kai masih tersenyum. Gadis itu hanya mengangguk pelan, terlalu terkejut untuk menjawab.

“Ekhem.” Tiba-tiba Krystal berdehem keras. Menyadarkan Kai dan Seulgi yang mematung dalam posisi itu. Keduanya menoleh, baru menyadari saat ini semua orang tengah memandang mereka dengan ekspresi lurus. Kecuali pelatihnya, pria itu terkekeh pelan melihat tingkah Kai. Ia tau semuanya, tentu saja. Tentang hubungan setiap masing-masing anak didiknya.

Kedua orang itu segera membetulkan posisi mereka dengan awkward. Namun Kai masih tersenyum ringan. Membuat Seulgi sedikit salah tingkah.

“Bisa-bisanya, melakukan hal macam itu di situasi seperti ini.” Irene menggelengkan kepalanya pelan, pura-pura mengomel padahal ia sedang meledek dan berusaha menahan tawa.

“Tau, nih.” Sahut Krystal sebal. Ia cemburu? Sedikit. Itu alasannya kenapa dia menjadi orang pertama yang berdehem barusan. Namun akhir-akhir ini, perasaannya pada Kai entah kenapa sedikit menurun. Terbukti, moodnya tetap baik-baik saja setiap ia melihat interaksi yang mulai menghangat antara Kai dan Seulgi. Dia hanya merasa sebal, tak lebih.

Tiba akhirnya giliran penampilan mereka. Dengan segala semangat yang sudah dikumpulkan bersama-sama dengan Changmin­-ssaem. Kelimanya bergerak dengan enerjik dan mengeluarkan semua kemampuan yang mereka punya. Di antara mereka, Kai menjadi yang paling bersinar di atas panggung. Namun semua terlihat membanggakan di mata sang pelatih. Ia berharap ini bukanlah kerja keras pertama dan terakhir mereka. Changmin harap mereka akan terus mendapat kesempatan untuk terus bekerja keras sampai akhir kompetisi.

xxx

 

Dari hampir seratus tim peserta dance dari berbagai SMA telah berkompetisi bersama mereka kemarin. Rasanya menakjubkan bisa melakukan hal yang disukai di depan banyak orang. Begitu kata Irene. Itu bukan tentang bagaimana mereka harus menang, atau apapun. Itu tentang bagaimana mereka menunjukkan seberapa besar mereka mencintai dance dan ingin selalu terlibat didalamnya. Menang atau kalah, itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah, kebahagiaan yang terdapat didalamnya.

Saat ini Irene sudah menunggu Sehun di sofa apartemen. Semalam, dia bersama kedua sahabatnya itu bermain bersama di sana. Hanya sekedar bermain permainan rumahan seperti anak-anak. Mengobrol dan tertawa hingga larut malam. Kemudian Kai yang dijemput supir sang ayah akhirnya pulang setelah itu. Sedangkan dirinya, apalagi? Menginap, tentu saja. Irene dan sofa Sehun kini sudah seperti saudara yang tak bisa terpisahkan. Meski hanya sofa, namun Irene nyaman sekali tidur disana. Asalkan itu tidak dirumahnya sendiri, dia bilang.

“Memangnya, kita mau kemana hari ini?” Tanya Sehun yang baru saja keluar dari kamarnya sambil melipat lengan kemejanya sampai siku. Irene menoleh ke arah Sehun, hidungnya mulai mencium harum parfum Sehun yang menyerbak di dalam apartemen. Wangi khas Sehun, wangi yang entah kenapa, selalu Irene sukai setiap lelaki itu selesai berdandan rapi, atau hanya sekedar bersiap-siap pergi ke sekolah.

“Entahlah. Kita lihat saja nanti.” Jawab Irene, gadis itu kemudian menopang dagunya dengan kedua tangan sembari terus menatap Sehun dengan ekspresi polosnya. Namun Sehun hanya melirik Irene tanpa memberi respon apapun. Itu hal yang biasa baginya. Iya, ditatap aneh oleh Irene, itu sudah bukan hal yang aneh lagi. Lelaki itu lalu meraih sneakersnya dari rak sepatu.

“Kau mau kutinggal?” Guraunya, lalu membuka pintu apartemen. Irene lantas berlari kecil, membuat kunciran rambutnya bergoyang kesana kemari.

Kini Irene, Sehun dan Kai sudah berkumpul di halte bus dekat sekolah. Alasan kenapa mereka bertemu disana adalah karna itu posisi tengah-tengah di antara rumah Kai dan tempat tinggal Sehun. Mereka bertiga saling berpandangan bingung, padahal sebelumnya Irene dan Kai sudah membicarakan banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tapi sekarang mereka malah tidak tau harus memilih pergi kemana.

“Rekomendasimu apa, Sehun?” Tanya Irene gemas.

“Membaca buku di rumah.” Jawab lelaki itu santai.

“As.. tagaa.” Gadis itu memutar bola matanya, tak habis pikir. Libur-libur begini bahkan isi kepala Sehun masih terisi dengan buku dan buku.

“Hmmm.” Kai tampak berpikir sambil menoleh ke sekitar halte. Matanya tiba-tiba menemukan Seulgi tengah berjalan di antara toko-toko makanan kecil sambil membawa beberapa kantung. Laki-laki itu tersenyum girang.

“Itu Seulgi.”

Irene dan Sehun menoleh cepat ke arah dimana Kai menunjuk. Seketika itu juga, Irene segera menyeret kedua temannya menyusul Seulgi.

“Seulgi-ah!” Panggil Irene sambil berlari kecil ke arah juniornya.

Yang dipanggil menoleh dan mengangkat kedua alisnya ketika melihat ketiga sunbae itu sudah berdiri tepat disampingnya.

“Hai.” Irene menyapanya sembari tersenyum lebar. “Kau mau kemana?” tanya gadis itu penasaran.

“Ng… Panti asuhan.” Jawab Seulgi.

Ternyata dugaan Kai benar, gadis itu akan pergi lagi ke panti asuhan yang pernah mereka kunjungi bersama. Ia tersenyum dan tak berkomentar apapun saat Seulgi menjelaskan untuk apa ia pergi kesana.

“Kami boleh ikut?” Tanya Irene antusias. “Boleh, yaaa?”

“Oh. Tentu saja, anak-anak pasti akan senang.”

Sesampainya di panti asuhan, mereka disambut hangat oleh semua anak-anak disana. Irene tersenyum bahagia sekali melihat anak-anak itu menyapanya dengan amat ramah.

“Kai oppa, kau datang lagi!” Seorang anak kecil yang waktu itu, menghampiri Kai dengan semangat, ia menghambur ke pelukan Kai sebagai sapaan paling hangat.

Kedua sahabatnya terkejut melihat pemandangan itu, pasalnya Kai tidak pernah menceritakan apapun tentang ini. “Bagaimana bisa –“ Irene menatap Kai dan Seulgi bergantian.

“Jangan-jangan ini alasan kenapa kau sering absen dari belajar bersama kami?” Tebak Sehun cepat.

“Tidak, waktu itu hanya kebetulan. Aku tidak sengaja bertemu dengan Seulgi dan –“

“Kau pintar sekali memanfaatkan kesempatan.” Ledek Irene gemas kemudian tertawa kecil. Sedangkan Seulgi yang sibuk dengan anak-anak asuhannya, diam-diam tersenyum.

Benar seperti apa yang Seulgi bilang. Semua anak-anak disana sangat senang dengan kedatangan ‘teman baru’ mereka. Meskipun mereka berhadapan dengan seorang Sehun yang tak berekspresi, namun tak disangka, Sehun cepat akrab dengan anak-anak. Lelaki itu bersikap hangat dan menjawab setiap pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan untuknya. Sehun ingin tersenyum sebahagia mungkin, jika ia bisa.

“Kalian terlihat bagus bersama.” Tiba-tiba seorang anak mengatakan itu di depan Sehun dan Irene yang sedang mengobrol bersama beberapa anak lainnya. Mereka berdua terkejut, lalu menatap anak itu dengan seksama.

“Kami memang teman yang klop, benar kan?” Balas Irene riang. Anak itu menggelengkan kepala dengan jenaka.

“Maksudku, kalian seperti pangeran dan putri yang bersama di dalam buku dongengku. Oppa Sehun yang tampan, dengan eonnie Irene yang sangat cantik. Kalian cocok.” Ucapnya dengan nada menyenangkan, seakan-akan anak itu tengah menjadi seorang pendongeng.

Sehun dan Irene diam, mereka saling bertatapan beberapa detik kemudian memandangi anak itu lagi. Lelaki itu bertanya-tanya dalam hati, “Astaga, apa maksudnya? Ya Tuhan, dia masih terlalu kecil untuk menilai kami seperti itu.”

Irene lalu mendekati anak itu, ia mencubit pipinya pelan dan gemas. “Kau lucu sekali, sih. Apa kau bercita-cita menjadi pendongeng?” Tanya Irene, mengalihkan pembicaraan. Ia bersumpah, tak ingin membahas hal menggelikan seperti itu. Sungguh mengganggu, pikirnya.

xxx

 

Kai dan Seulgi berjalan bersampingan di taman belakang panti asuhan, menyusuri jalan setapak sembari memandangi kebun-kebun bunga yang cantik. Hari ini sangat menyenangkan, menurut Seulgi. Dia bahagia melihat anak-anak panti asuhan itu bermain dengan asik bersama mereka sejak tadi, sampai-sampai hampir lupa waktu. Sampai seisi bangunan sederhana itu penuh kegaduhan yang membahagiakan.

“Seulgi,” Panggil Kai. Perempuan itu menoleh beberapa detik ke arah Kai, lalu kembali menatap pemandangan kebun belakang.

“Maaf, ya.”

“Maaf? Untuk apa?”

“Apa aku terlalu banyak bersikap tidak nyaman didekatmu selama ini?”

Seulgi terkekeh, “Iya, itu sangat mengganggu, sunbae.” Guraunya, meski memang nyatanya begitu.

“Ah…” Kai menggaruk kepalanya, “Kau tau alasannya.”

“Itu tidak bisa dijadikan alasan. Jika kau memang ingin berteman denganku, anggap aku temanmu, bukan calon pacarmu.” Jawabnya tanpa merasa bersalah. Kai hampir tersedak ludahnya sendiri, ia merasa malu karna itulah yang selama ini ia lakukan. Namun kalimat Seulgi cukup membuat seisi dadanya terhenyak. Ada yang tersirat dari isi perkataan Seulgi. Jelas, apalagi? –Seulgi hanya menganggapnya teman atau sunbae, dan bukannya orang yang ingin menjadikan gadis itu kekasihnya. Ugh, Kai merasa bodoh sekali.

“Aku senang, bisa melihat sisi lainmu.” Ucap Kai tiba-tiba.

“Sisi lainku sebelah mana?” Gadis itu terkekeh lagi.

“Sisi bahagiamu. Seulgi yang senang tersenyum hangat dan tertawa pelan. Kadang, aku bosan melihat sisi kerenmu terus.” Kai tersenyum sambil melirik Seulgi.

Gadis itu kini tertawa lebar, “Sisi keren? Sebelah mana lagi, itu?”

“Sebelah sini, sini, sini.” Kai bergurau ria dengan mencolek kepala Seulgi, pundak Seulgi, lengan Seulgi, kemudian keduanya tertawa renyah.

“Seulgi yang selalu terlihat keren saat ngedance, maksudku.” Lanjut Kai tanpa bergurau lagi.

Seulgi kemudian tersenyum, “Terima kasih, sunbae.”

xxxx

T-B-C

Kecepetan gak sih alurnya? Dari uas, latihan, kompetisi, sampe liburan disatuin di satu chapter. Gak kalem banget, kan, gaje deh huahahahah. Jadi kusudahi saja sampai disini, sebelum semakin absurd. WKWK. DON’T BE KAMENSIDERS 😛

34 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Draft (Chapter 9)”

  1. untuk UAS emang harus dicepetin krna itu akan sama mnurut gue, belajar.
    dan utuk kmpetisi gue rasa itu perlu sdikit panjang, emb lu tau hal2 seperti itu bisa ngasih sedikit bumbu lain, tapi itu mnurut gue.
    ah gue suka waktu hunrene ngobrol, pakek pegang2 pipi segala 🙂
    semangat thor, fighting!

  2. Iya aga kecepetan ini menurut ku hehe tapi gpp ada momenta yang di paskan untuk lebih fokus dan itu aku suka, pasti yang ngambil fotonmereka sehun dan irene itu suho aaa cukup kejam pleas jangan jadi masalah besar donggg dan gak berharap juga irene di marahin papanya kan sedih banget udah gak di perhatiin masih di hukum juga. Semngat ya untuk menulis cerita lanjutannya!! Thank you!!

  3. Engga thor engga kecepetan kok malah aku suka sehun-irene kai-seulgi jadi makin kentara deketnya wkwkwk. Bagus thor!

  4. Ntah knpa aku ngeliat sehun sma sehun itu kya pemain drama naughty kiss yg versi jepang. Irene kocak pecicilan gapinter kya yg cewe, sehun datar abieess tapi hatinya beh engga..sm kya yg cowonya hahaha , suka banget suka bangeeeeettt sehun irene nyaaaaa

  5. Makin kesini sehun-irene makin bikin geregetaannnnnn. Tapi makin kesini juga makin takut kalo bakalan ketauan dan mereka dipisahin :’
    Ditunggu next chaptnyaaaah author-nim

  6. baca prolognya ko sedih bgt yah 😥 mereka udh uas berarti bentar lagi irene pergi dong !! aku rasa irene pergi gara gara ada yg laporin dia ke ayahnya kali dia tinggal sm sehun hahaha :v
    pendapat ku sih :v

    chap 10 nya cepetan 😥 udh gak sabar

  7. Yaaaahh… Rasa2nya koq br baca bentar udh selesai siiihhh…
    Kurang panjang chinguyaaa..
    Hunrene moment jg sdikit bgt.
    Ini msh blum ada badai menerpa kan ya? Mengingat chap kmren ada org yg berniat jahat? Next chap cepetan yaaa..

    1. Iyaaa wkwk sengaja aku cepetin biar segera masuk ke dalam badai wkwk (padahal mah emang mentok) kekekekk tunggu aja ya hihi thanks ^^

  8. agak kcepetan tp semuanya masih nyambung dan bagus koq kak…
    gk ngebosenin ceritanya,,
    aq masih nunggu moment” manis antara irene dan sehun…
    dtunggu ya next chapternya 🙂

  9. Next thor~,Mulai ada perasaan yang…ehem….antara sehun dan irene yaa,hahahaha aku jadi senyum2 sendiri bagus deh,i love it! Cepet yaa chapter selanjutnya!! Fighting thor ^^

  10. Rada kecepetan sih thor, momentnya juga kurang, tapi noprob lah, alurnya msh nymbung. Wordsnya juga kyknya krg pnjg (?) Apa mnurutku aja krn bagiannya smua distuin(?) Lnjut deh thor 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s