[EXOFFI FREELANCE] Goodbye, Gwanghwamun (2/2)

unnamed

Title                       : Goodbye, Gwanghwamun (2/2)

Author                    : YoMollayo

Length                    : Two Shots

Genre                     : Romance, Song Fic

Rating                     : General

Cast                       : Park Chanyeol (EXO), Cha Eunsung (OC)

Disclaimer               : All of the stories belong to God but written by me.

 

Author Pov

 

Suatu hari di bulan Oktober tahun 2011

 

난 모르겠어 세상 살아가는 게 (I don’t know if living in this world)

늘 다른 누굴 찾는 일 인지 (Is just about always looking for another person)

 

“Cha Eunsung kau dimana?” Chanyeol menelfon seseorang yang sudah di tunggunya di depan toko buku Kyobo sejak 15menit yang lalu.

“Subae mianhae. Kau sudah menunggu lama? Aku masih menunggu pesanan di SBucks Coffee yang ada di dekat stasiun.” balas Eunsung diseberang.

“Apa yang kau lakukan disana?” tanya Chanyeol.

“Ah aku mau membelikan sunbae Frappucino Latte. Hari ini perayaan ke 10tahun kedai kopi ini, mereka memberikan penawaran beli satu gratis satu. Aku tidak menyangka antriannya akan sebanyak ini.” balas Eunsung lagi.

“Baiklah, kau tunggu saja di depan kedai tersebut. Aku akan kesana.” balas Chanyeol.

“Ne sunbae.”

Chanyeol segera memasukkan handphone nya kembali kedalam kantung celananya.

“Kenapa dia tidak mengatakan sejak awal. Aku hampir membeku disini.” Chanyeol mengeluh sambil berjalan keluar dari stasiun subway menuju kedai kopi yang dikatakan hoobaenya.

 

커피 향 가득한 이 길 찾아오며 (As I came to this street, filled with the aroma of coffee)

그제야 조금 웃었던 나야 (That was when I finally smiled)

 

“Sunbae!” teriak seorang yeoja sambil melambaikan tangan kanannya.

Chanyeol segera berjalan mendekati yeoja tersebut. Namja ini terdiam melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya.

“Ini untukmu sunbae.” Eunsung tersenyum sambil memberikan satu gelas ukuran medium Frappucino Latte pada Chanyeol.

“Gomawo.” balas Chanyeol gugup.

“Enak kan?” balas Eunsung dengan senyum kudanya.

Jantung namja ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Senyum manis Eunsung berhasil membuatnya tidak bisa menatap kearah lain. Apa yang salah dengan ini?

“Kau kenapa berpakaian seperti ini?” tanya Chanyeol berusaha sadar dari pikirannya.

“Na?” Eunsung terdiam berusaha merangkai kata.

Hari ini gaya pakainnya benar-benar berbeda. Biasanya Eunsung hanya memakai sweater musim gugur, celana jeans panjang dan mantel panjang juga sepatu sneakers. Hari ini dia berubah menjadi seorang yeoja yang sangat manis. Eunsung memakai dress berwarna merah muda 5cm di atas lutut dengan cardigan berwarna putih dan flat shoes berwarna hitam dengan hiasan pita kecil di atasnya.

“Ahaha, Mia bilang jika hari ini sangat cerah karena itu dia memaksaku untuk memakai ini.” balas Eunsung terkekeh gugup.

“Apakan aneh?” tanya Eunsung cemas.

Jantung Eunsung mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa hanya menunggu jawaban sunbae nya terasa seperti menunggu nilai ujian akhir kelas?

“Ani. Neo, jjinja yeopo.” balas Chanyeol tanpa ragu.

Eunsung terdiam, saat itu juga sepertinya jantungnya berhenti berdetak. Seyum manis mulai mengembang di bibirnya. Andai saja jalan di Gwanghwamun ini tidak ada orang, yeoja mungil ini akan berteriak dan melompat kegirangan.

Eunsung dan Chanyeol saling menatap satu sama lain. Sunbae-hoobae ini tidak tahu harus berkata apa. Mereka membiarkan debaran jantung itu berdebar semakin cepat tanpa menyuruhnya untuk berhenti. Mereka menikmatinya.

Duk

Seorang yeoja yang baru saja keluar dari depan pintu kedai kopi ini secara tidak sengaja menabrak Eunsung. Tubuh yeoja mungil jatuh kedalam pelukan namja tinggi di hadapannya.

Satu, dua, tiga detik berlalu….

“Jeo jeosonghamnida jeongmal jeosonghaeyeo. Aku terburu-buru.” yeoja yang baru keluar dari kedai kopi tersebut mengeluarkan suaranya lalu membungkukkan badannya.

Eunsung dan Chanyeol dengan cepat melepas pelukan tersebut.

“Gwenchana.” Balas Eunsung kikuk. Yeoja yang terburu-buru ini segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Neo gwenchana?” Chanyeol memulai pembicaraan meskipun saat ini jantungnya belum berdetak normal.

“Ne.” balas Eunsung kikuk.

“Ah sayang sekali Frappucino mu jatuh.” Chanyeol melihat ke minuman yang sudah tumpah di atas jalan Gwanghwamun ini. Eunsung juga mengarahkan matanya ke minuman itu.

“Kau mau aku belikan yang baru?” tanya Chanyeol.

“Aniyo, tidak usah oppa ani sunbae, lihat antriannya hehehe.” balas Eunsung kikuk.

“Ayo kita segera ke stasiun dan melanjutkan perjalanan. Hari ini kita akan ke Namsan Tower bukan?” Eunsung memastikan.

“Eo. Kau tidak ingin makan di Pomodoro dulu?”

“Ah ne. Kau benar, kajja sunbae.” Eunsung tersenyum gembira mengingat nama restoran tersebut. Yeoja ini segera menarik lengan sunbae nya menuju restoran tersebut.

Kali ini Chanyeol tidak mengomel saat Eunsung menarik paksa lengannya. Dia membiarkannya.

 

처음이었어 그토록 날 떨리게 한 (It was the first time that someone made me that nervous)

사람은 너뿐이잖아 (You were the only one)

 

*****

 

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another. They will fall for each other… maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late or maybe forever…

Sepertinya pepatah tersebut berlaku kepada seorang sunbae dan hoobae yang sama-sama menyukai wisata.

Tidak dapat menahan semua perasaan yang membanjiri hati nya. Di bulan November 2011, namja bertubuh tinggi ini menyatakan perasaannya pada seseorang yang selalu ditemaninya mengelilingi kota Seoul. Yeoja tersebut tanpa ragu menerima perasaan Chanyeol.

Hubungan Chanyeol dan Eunsung berjalan dengan baik. Keduanya saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Mereka saling mendukung satu sama lain dalam studinya. Walaupun mereka tidak bisa bertemu setiap hari karena aktifitas akademik yang mereka lakukan, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka. Percaya satu sama lain merupakan hal yang memperkuat hubungan dua orang ini.

Tahun ini Eunsung dan Chanyeol sama sama berada dalam masa-masa tersibuk yang pernah mereka alami seumur hidup mereka. Eunsung berada di tahun akhir kuliahnya. Selama satu tahun ini, yeoja mungil ini akan menghabiskan waktunya untuk magang di salah satu perusahaan Public Relation dan melakukan penelitian lalu menuliskannya dalam bentuk sripsi agar bisa lulus dari Hongik University.

Lain hal nya dengan Chanyeol. Tidak puas hanya lulus strata satu dengan nilai Cum Laude. Tahun lalu, namja ini mengambil Program Profesi Arsitektur selama 1 tahun demi mengejar cita-citanya menjadi seorang arsitek. Setelah lulus dan mendapat sertifikat, Chanyeol melamar pada salah satu perusaan arsitektur terbaik di Korea bahkan Asia. Chanyeol menangis hebat, menumpahkan semua rasa lelahnya saat dirinya dinyatakan menjadi salah satu bagian dalam tim di perusahaan arsitektur yang didambakannya selama ini. Tidak cukup hanya menjadi anggota tim, Chanyeol selalu berusaha memberikan kemampuan yang terbaik yang dia miliki. Namja ini merasa sangat bahagia saat atasan dan rekan kerja memuji ide dan kreativitas yang dimilikinya begitu juga dengan senyum puas client yang meminta bantuannya. Perkerjaan barunya membuatnya benar-benar sulit mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri, keluarga, juga yeoja yang dicintainya.

 

*****

 

Musim Semi, Maret 2015

“Oppa, angkatlah. Jebal.” Eunsung menunggu seseorang diseberang sana menjawab telefonnya dengan perasaan tidak tenang.

Berkali-kali yeoja ini mengulangi tetapi tidak mendapat respon dari seseorang disana. Tidak mau berpikiran buruk, yeoja mungil ini segera mengirim sebuah pesan teks untuk namjachingunya.

To: YeolChanPark

‘Oppa, aku tau kau sangat sibuk. Hari ini terjadi sesuatu yang sangat buruk padaku. Datanglah ke Pomodoro setelah pekerjaan mu selesai, aku menunggumu.’

Eunsung menatap keluar jendela. Sejak tadi pikiran yeoja ini melalu lalang kemana-mana. Spaghetti yang dia pesan, dibiarkannya mendingin begitu juga dengan orange Juice yang semakin menghitam. Dia tetap menunggu kedatangan seseorang.

“Jeosonghamnida nona, restoran kami sebentar lagi akan tutup.” seorang pelayan ramah menegur Eunsung. Eunsung melirik jam dinding yang ada di restoran ini, waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 pm.

“Ah keurokuna. Kalau begitu aku minta billnya.” balas Eunsung tidak bersemangat.

Pelayan restoran tersebut segera memberikan bill. Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, Eunsung segera pergi meninggalkan restoran tersebut dengan taksi menuju dorm yang terletak dekat universitasnya.

Eunsung menutup pintu kamar dorm nya. Yeoja ini menjatuhkan tubuhnya di kasur empuknya sambil menumpahkan seluruh kesedihannya. Hari ini benar-benar hari yang sial untuknya. Yeoja ini kehilangan data risetnya, data yang sudah susah panyah dia kumpulkan selama tiga bulan hilang begitu saja akibat kelalaiannya di tambah teguran keras yang diterima dari dosen pembimbinya jika dia tidak bisa menyerahkan skripsi sampai batas waktu yang ditentukan maka yeoja ini dinyatakan tidak lulus.

Dada Eunsung terasa sangat sesak. Yeoja ini benar-benar membutuhkan seseorang untuk menemaninya saat ini. Dia tidak bisa mengatakan ini pada orangtua nya yang berada jauh di Busan, dia juga tidak bisa mengatakan pada Mia karena sahabatnya juga sedang sangat sibuk melakukan penelitian dan magang, satu-satu nya yang bisa dia harapkan saat itu adalah Chanyeol.

Eunsung tidak mengharapkan Chanyeol untuk membantunya menyesaikan semua ini. Yeoja ini tahu jika dia harus berusaha keras memperbaiki kesalahannya, menangis dan menyesal tidak akan memperbaiki keadaan. Tetapi untuk saat ini, dia butuh Chanyeol untuk merangkulnya dan tempatnya menumpahkan segala perasaannya. Hanya itu saja, dia tidak mengharapkan lebih.

Perlahan-lahan Eunsung menutup matanya. Hari ini dia sangat lelah.

 

*****

 

Seorang namja perlahan-lahan membuka matanya, berusaha sekuat tenaga mengumpulkan seluruh kesadarannya. Dia menatap ke luar jendela kamarnya yang terbuka, angin musim semi berhembus cukup kuat dari sana. Namja ini merasa kedinginan lalu segera menggeser jendela yang berada tepat di depannya. Namja ini bersyukur karena sepetinya tidak ada hujan, jika hujan datang pasti sketsa di meja kerjanya saat ini sudah basah.

“Aku pasti tertidur.” Namja ini menguap sambil meneguk kopi buatannya sebelum dia tertidur. Kopi ini sudah sangat dingin seingatnya dia membuat kopi ini pukul 12siang tadi.

Chanyeol bangkit dari kursi belajar yang sering dia jadikan sebagai pengganti tempat tidur. Dia melakukan streaching ringat untuk tubuh lelahnya. Matanya sedikit terbelalak melihat jam dindingnya menunjukkan pukul 10.30 pm.

Chanyeol mengambil handphone yang terletak tepat di atas tempat tidurnya. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat membaca pesan dari yeojachingunya, pikirannya semakin kacau saat membaca jam pesan tersebut dikirim, 02.24 pm.

Tanpa berpikir panjang Chanyeol segera berlari menuruni tangga rumahnya lalu melajukan mobilnya secepat yang dia bisa ke dorm Universitas Hongik, dia tahu Pomodoro sudah tutup. Sepanjang perjalanan dia menelfon seseorang disana tetapi tidak ada jawaban, hal itu membuat namja ini semakin gundah.

“Wae? Mianhae. Jeongmal.” Chanyeol tidak berhenti mengucapkan 3 kata tersenyum.

Chanyeol menghentikan mobil hitamnya tepat di depan gerbang dorm Universitas Hongik, dia segera mencabut kunci mobil dan berteriak memanggil security yang menjaga gerbang tersebut.

“Maaf tuan, tamu dilarang untuk datang di atas jam 10malam.” balas seorang security tanpa membukakan gerbang besar tersebut.

“Aku mohon. Ada sesuatu yang harus kusampaikan.” balas Chanyeol frustasi.

“Saya tidak bisa mengizinkan anda masuk. Anda bisa menelfon orang yang ingin anda temui untuk datang kesini.” Balas security ini dengan wibawanya.

Chanyeol menghembuskan nafasnya berat. Berkali-kali dia mencoba menghubungi tetapi hasilnya nihil.

15 menit berlalu, security tersebut bosan menunggu. Dia kembali masuk ke dalam pos penjaga.

“Sial!” cibir Chanyeol.

Namja ini melangkahkan kakinya berat kedalam mobilnya. Dia mengirimkan sebuah pesan suara untuk yeojachingunya.

“Eunsungie, oppa jeongmal mianhae. Aku baru membaca pesanmu karena semalaman aku tidak tidur untuk mengerjakan sketsa. Aku sudah berusaha mencoba masuk tapi security tidak mengizinkanku. Aku harap sekarang kau baik-baik saja. Nan jeongmal mianhae.”

 

****

 

Musim Panas, Juni 2015

Eunsung berlari meninggalkan semua tugas akhir kuliah yang sedang dia kerjakan menuju gerbang dorm nya begitu mendapat panggilan dari seseorang disana. Dari depan gerbang ini dia segera menghentikan sebuah taksi yang melintas dan memaksa supir taksi tersebut untuk melesat secepat mungkin menuju Asan Medical Center.

Di dalam rumah sakit Eunsung kembali berlari mencari sebuah kamar. Beberapa suster dan pegawai rumah sakit sudah menghimbaunya untuk tenang dan tidak berlarian tetapi hal tersebut tidak dihiraukannya.

Eunsung berusaha mengatur nafasnya begitu sampai di dalam ruangan yang dituju.

“Eunsung-ah gwenchana?” tanya seorang namja sambil memegang pundak Eunsung.

“Eo. Wae geure? Apa yang terjadi padanya?” tanya Eunsung cepat.

“Orang yang menyelamatkannya bilang jika dia menyetir mobil dalam keadaan mabuk, bau soju sangat menyengat dipakainnya.” namja ini membuka mulutnya.

“Beruntung tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Dokter bilang benturan di kepalanya cukup kuat jadi dia periu beristirahat penuh disini untuk mengembalikan kondisinya.” lanjut namja ini.

Eunsung terdiam. Yeoja ini bisa sedikit bernafas lega mendengar kata-kata yang di ucapkan sahabat namjachingu nya.

“Baekhyun oppa, apa terjadi sesuatu? Tidak biasanya Chanyeol oppa minum soju.” Eunsung menatap Baekhyun penuh tanda tanya.

Baekhyun menatap Eunsung lalu menghembuskan nafasnya berat.

“Sepertinya Chanyeol tidak menceritakan ini padamu.” Baekhyun menatap yeojachingu sahabatnya ragu-ragu.

“Saat ini tim kami sedang mengerjakan sebuah project. Dalam project kali ini, Sajangnim mempercayakan Chanyeol sebagai ketua tim merancang bangunan tersebut karena melihat prestasi yang dilakukannya selama setahun ini. Aku tidak tahu selama ini Chanyeol merasa senang atau tertekan, biar bagaimanapun tugas itu sangat berat dan pasti dia mendapat banyak tekanan dari arsitek senior yang tidak menyukainya.”

Eunsung terdiam, tidak bisa mengatakan apapun. Tubuhnya bergetar. Yeoja ini berusaha menahan tangisnya.

‘Kenapa kau memendamnya seorang diri? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku? Sebenarnya, aku ini apa untukmu Park Chanyeol?’ batin Eunsung.

“Eunsung-ah gwenchana? Kau pucat sekali. Pasti kau sangat lelah mengerjakan tugas akhir.” Baekhyun terkejut melihat Eunsung.

“Kau pulanglah, aku yang akan menjaga Chanyeol malam ini. Aboji, Eommoni dan Yoora noona sedang dalam perjalanan kesini.” lanjut Baekhyun meyakinkan Eunsung.

“Nan gwenchana Baekhyunie. Aku, ingin menemaninya.” balas Eunsung tersenyum lemah.

 

*****

 

3 minggu berlalu sejak Chanyeol sembuh dari kecelakaan yang dialaminya. Semua kembali normal. Chanyeol dan Eunsung kembali pada kesibukan masing-masing, mereka kembali pada diri masing-masing.

“Ada apa Eunsungie?” Chanyeol duduk di depan Eunsung yang sudah menunggu kedatangan namjachingunya sejak 15menit lalu di dalam SBucks Coffee yang ada di Gwanghwamun.

“Oppa kau datang.” Eunsung tersenyum kecil.

“Mianhae aku terlambat. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku dulu.” balas Chanyeol tenang.

“Oppa…” panggil Eunsung ragu-ragu. Sejak tadi debaran jantung yeoja ini tidak bisa berdetak normal.

“Mianhae karena selama ini aku menyusahkanmu.” lanjut Eunsung.

“Ne?” Chanyeol menatap Eunsung bingung.

“Oppa aku… aku…. Aku selama ini merasa hanya seorang diri. Aku memiliki namjachingu tapi aku merasa bukan siapapun untuknya. Aku selalu berharap oppa selalu ada disampingku saat aku membutuhkanmu, aku juga selalu berharap oppa memperlakukan hal yang sama padaku tetapi yang terjadi sangat berbeda. Aku berusaha melibatkanmu ke dalam duniaku tetapi kau tidak. Dan itu sangat menyakitkan untukku.” Eunsung menghembuskan nafasnya berat.

“Tidak masalah bagiku saat oppa tidak ada disampingku ketika aku kesulitan. Tidak masalah juga bagiku saat oppa tidak melibatkan aku dalam duniamu. Yang membuatku sakit adalah saat aku tau yang kuinginkan hanyalah sebuah harapan, harapan yang tidak akan pernah bisa terjadi. Harapan agar kau bisa melibatkan aku ke dalam duniamu dan kau juga terlibat dalam duniaku. Harapan itulah yang selalu menghantuiku dan membuatku selalu ingin menangis saat aku memikirkanmu. Aku ingin menghilangkan semua itu. Aku ingin berhenti mengharapkan hal tersebut dengan cara berhenti menjadi yeojachingumu.”

Chanyeol membeku mendengar kalimat terakhir yang diucapkan yeojachingunya. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak saat itu juga.

“Oppa mianhae, aku ingin hubungan kita berakhir.” Eunsung menambahkan, dia berbicara dengan pelan tetapi sangat menusuk hati Chanyeol.

“Ne?” hanya satu kata ini yang bisa Chanyeol ucapkan.

“Selama ini komunikasi yang kita lakukan juga tidak berjalan dengan baik. Mianhae, aku benar-benar tidak bisa bertahan.” tambah Eunsung.

Chanyeol dan Eunsung menatap mata satu sama lain. Keduanya berkelut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Tubuh Eunsung bergetar hebat, yeoja ini tidak percaya jika dia bisa meluapkan perasaan yang selama ini dipendamnya. Sejak dua minggu yang lalu yeoja ini terus berpikir tentang mengakhiri hubungan yang dijalaninya dengan Chanyeol, keputusan yang diambilnya sudah dia pikirkan dengan matang-matang. Ini bukanlah hal yang mudah bahkan sangat sulit untuk dijalani tetapi yeoja ini yakin jika ini adalah yang terbaik.

Perasaan dan Logika Chanyeol berperang. Dia tidak bisa menerima ini semua. Perasaannya benar-benar remuk saat ini. Disisi lain Chanyeol menyadari jika dia bukanlah namjachingu yang baik, dia tidak bisa melakukan hal yang diinginkan Eunsung. Pekerjaan merupakan prioritasnya saat ini, dia sudah berjuang sejak kecil untuk mendapatkan ini semua karena itu dia menyadari jika semua waktunya dia habiskan untuk pekerjaannya. Chanyeol tidak bisa melibatkan Eunsung dengan apa yang terjadi dalam dirinya saat ini. Namja ini tahu jika yeoja di depannya saat ini sedang berjuang keras untuk bisa lulus dari universitas, namja ini tidak mau menambahkan beban yeoja di hadapannya karena itu dia berusaha menghadapi masalahnya seorang diri.

“Oppa…” panggil Eunsung lemah menunggu jawaban namja dihadapannya. Jantungnya berdebar kencang.

“Baiklah Eunsungie, jika itu yang terbaik untukmu.” Chanyeol membuka mulutnya, membiarkan logikanya menang.

Eunsung tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan Chanyeol. Sulit sekali baginya untuk bernafas. Sepertinya bukan ini yang diinginkannya.

“Terima kasih banyak untuk segalanya. Annyeong oppa.” Eunsung segera berdiri dari tempat duduknya, membungkukkan badannya lalu segera pergi meninggalkan Chanyeol yang duduk membatu. Yeoja ini segera menghentikan taksi yang melintas di hadapannya.

Di dalam taksi, yeoja ini segera mengambil sapu tangan miliknya dan menggigitnya kuat-kuat berharap agar tidak ada suara yang keluar dari tangisnya. Air matanya mengalir deras dari kedua mata indahnya, saat ini hatinya benar-benar hancur.

Chanyeol menatap punggung Eunsung yang semakin lama menghilang dari hadapannya. Namja ini tetap diam membatu menyadari apa yang telah terjadi. Dia tidak bisa berteriak, dia tidak bisa membanting meja atau pun kursi di hadapannya. Namja ini sangat lemah, dia bukan orang yang pandai dalam mengekspresikan perasaanya. Diam dan menatap keluar dengan tatapan kosong, hanya itu yang bisa dilakukannya. Satu, dua, tiga butir air mata perlahan-lahan turun membasahi pipinya, saat ini hatinya benar-benar remuk.

누구보다 더 사랑스럽던 네가 왜 내게서 떠나갔는지 (You were more lovable than anyone else but why did you leave me?)

 

*****

13 November 2015, 03.20 pm

 

오늘 바보처럼 자리에 있는 거야 (Today, like a fool, I am standing at that spot)

비가 내리면 흠뻑 젖으며 (Getting wet in the rain)

오지 않는 너를 기다려 (Waiting for you, who won’t come)

 

Namja yang duduk termenung menatap keluar kaca besar di sebelah kirinya tersenyum karena menyadari hujan sudah mereda di bandingkan saat dia memasuki tempat ini.

“Jeosonghamnida.” Namja bertubuh tinggi ini mengangkat tangan kanannya. Pelayan yang sejak tadi menatap aneh namja ini dari jauh datang mendekatinya.

“Ne tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan ini ramah.

“Tolong berikan aku bill nya.” balas namja ini tersenyum.

“Baik tunggu sebentar tuan.” Pelayan ini membungkukkan badannya lalu segera pergi.

Beberapa menit kemudian pelayan tersebut datang memberikan bill dan sebuah sticky notes.

“Tuan, restoran kami masuk dalam nominasi restoran terbaik di Gwanghwamun karena itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan, kami berharap anda dapat menuliskan kesan atau pesan di restoran ini yang akan kami tempelkan pada dinding restoran ini. Sebenarnya hal ini berlaku mulai besok tapi sajangnim menyuruku memberikan ini pada anda. Dia bilang anda adalah salah satu pelanggan setia restoran ini.” Pelayan ini memberikan penjelasan dengan ramah.

“Ah keurokuna.” Namja ini mengangguk mengerti.

“Ngomong-ngomong, bukankah tuan sebelumnya memesan tempat untuk dua orang?” tanya pelayan ini.

“Dia tidak akan datang.” Namja ini tersenyum singkat.

Namja berambut hitam ini memberikan beberapa lembar uang, setelah selesai menuliskan sebuah pesan di sticky notes namja ini segera keluar dari restoran ini lalu masuk ke dalam mobil hitamnya.

 

나는 행복했어 (I was happy)

그 손 잡고 걷던 기억에 또 뒤돌아 봐 (At the memories of holding hands and walking together, I look back)

네가 서 있을까 봐 (In case you are standing there)

 

Yeoja yang sejak beberapa waktu lalu terdiam di depan toko Kyobo Book Store melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju pintu Exit 5 stasiun subway ini. Yeoja ini membuka payung berwarnya hitam yang diberikan Mia untuknya beberapa menit lalu. Hujan deras beberapa menit lalu sudah berubah menjadi hujan rintik-rintik.

Yeoja ini tersenyum menyusuri jalan di daerah ini. Dia menikmati pemandangan yang ada di kanan dan kiri nya. Sesekali dia menghirup dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam merasakan udara disini. Angin musim gugur berhembus cukup kuat, membuatnya harus melingkarkan syal besar dan tebal dilehernya hingga menutupi setengah bagian wajahnya.

Kedai kopi bertuliskan SBucks Coffee yang berada di seberang jalan menghentikan langkah yeoja ini. Dia kembali larut dalam pikirannya.

Tin Tin Tin Tin

Suara klakson mobil berwarna merah yang letaknya tidak jauh dari sampingnya berhasil membuat yeoja ini kembali dalam pikirannya. Yeoja mungil ini melihat jam tangannya, 03.25 pm. Yeoja ini tersenyum kecil lalu segera melanjutkan langkahnya ke tempat tujuan, dia tidak punya banyak waktu.

 

그 자리에서 매일 알아가 (At that place, I get to know)

조금씩 변해가는 내 모습은 (How I’m slowly changing everyday)

먼 훗날엔 그저 웃어줘 (In the far days ahead, just smile for me)

 

Namja bertubuh tinggi ini mengendarai mobil hitamnya dengan kecepatan pelan menuju sebuah tempat yang sangat tidak asing baginya. Namja ini mematikan penghangat yang ada di mobilnya, dia membuka sedikit kaca mobilnya membiarkan angin musim gugur memasuki mobilnya. Lampu merah di depannya membuat namja ini menghentikan mobilnya sementara. Sambil menunggu lampu lalu lintas kembali hijau, namja ini melihat ke kanan dan kiri jalanan Gwanghwamun.

Deg. Namja ini terdiam melihat sebuah kedai kopi bertuliskan SBucks Coffee yang ada di seberang jalan.

Tin Tin Tin Tin

Suara klakson yang berasal dari mobil dibelakangnya berhasil membuyarkan lamunan namja ini. Namja ini tersenyum kecil lalu segera menarik kembali rem tangan mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Dia melirik jam digital yang ada dimobilnya.

‘Ah masih jam 03.25 pm’

 

*****

 

Yeoja bertubuh mungil ini menutup payungnya lalu segera masuk ke dalam restoran yang bertuliskan ‘POMODORO-Italian Spaghetti’. Pelayan restoran ini menyambutnya dengan ramah. Senyum yeoja ini semakin mengembang melihat keseliling testoran ini.

“Makan disini atau dibawa pulang?” tanya seorang pelayan ramah.

“Makan disini, untuk dua orang.” balas yeoja ini tersenyum.

Pelayan tersebut mengangguk lalu mengarahkan yeoja ini untuk duduk di meja yang dikhususkan untuk dua orang. Setelah yeoja ini duduk di tempatnya, pelayan tersebut langsung memberikan menu makanan yang tersedia. Yeoja ini segera memesan menu yang sudah sangat familiar baginya. Beberapa menit kemudian pesannya datang.

“Satu spaghetti Spaghetti ca Carni Capuliata dan Orange Juice. Selamat menikmati.” pelayan ini membungkukkan badannya lalu meninggalkan yeoja ini sendiri.

Yeoja ini tersenyum melihat makanan dan minuman di hadapannya lalu memperhatikan sekelilingnya.

‘Tempat ini tidak berubah.’ batinnya mengingat terakhir kali dia ketempat ini.

Yeoja ini menatap ke kaca besar yang terletak disebelah kanannya, membiarkan dirinya kembali larut dalam pikirannya.

 

난 행복해 (I am happy)

오늘 여긴 그 때처럼 아름다우니 (Because today, this place is just as beautiful as back then)

 

Namja bertubuh tinggi ini memarkirkan mobilnya lalu segera keluar sambil berlari masuk ke dalam stasiun subway agar tubuhnya tidak basah akibat rintik-rintik hujan. Begitu masuk stasiun ini, namja ini menatap keseliling melihat ke kanan dan kiri membandingkan apa yang di lihatnya saat ini dengan apa yang dilihatnya saat terakhir kesini.

‘Tidak ada yang berubah.’ batinnya.

Senyum menawan semakin mengembang di wajah tampan namja bertubuh tinggi ini begitu melihat sebuah papan petunjuk besar yang tertulis ‘Kyobo Book Store’. Dengan langkah santai, namja ini melangkahkan kakinya ke depan toko buku tersebut. Namja ini tidak masuk ke dalam toko buku itu, dia memilih untuk duduk di kursi panjang berwarna coklat tua yang ada tepat di depan toko buku ini.

Namja ini menatap langit-langit stasiun ini lalu memejamkan matanya, dia membiarkan hatinya menang melawan logikanya.

 

괜히 바보처럼 이 자리에 서 있는 거야 (For no reason, like a fool, I’m standing at this spot)

비가 내리면 흠뻑 젖으며 (getting wet in the rain)

오지 않는 너를 기다려 (waiting for you, who won’t come)

 

*****

 

03.50 pm

Namja bertubuh tinggi ini membuka matanya, menyadari jika apa yang ditunggunya tidak akan datang. Dia tersenyum kecil untuk dirinya sendiri.

“Nan jeongmal pabo.” Namja ini terkekeh mengingat hal-hal yang dilakukannya selama kurang lebih satu jam ini.

Namja berambut hitam ini melangkahkan kakinya ringan menuju pintu Exit 5. Setelah keluar, dia berlari menuju mobil nya.

 

나는 행복했어 (I was happy)

광화문 이 길을 다시 한번 뒤돌아 봐 (I look back once again at this road in Gwanghwamun)

네가 서 있을…까 봐 (In case you are standing here)

 

Yeoja mungil yang menatap pemandangan jalan Gwanghwamun melalui kaca besar disebelah kirinya kembali sadar dari lamunannya. Yeoja ini terkekeh kecil mengingat hal-hal yang telah dilakukannya selama kurang lebih satu jam ini.

“Cha Eunsungi, neo jeongmal pabo.” yeoja ini tersenyum kecil.

Eunsung mengangkat tangan kanannya, meminta tolong agar pelayan segera memberikan bill makanan dan minuman yang dipesannya. Beberapa menit kemudian pelayan tersebut datang memberikan bill dan sebuah sticky notes.

“Nona, restoran kami masuk dalam nominasi restoran terbaik di Gwanghwamun karena itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan kami berharap anda dapat menuliskan kesan atau pesan di restoran ini, kami akan menempelkannya pada dinding restoran ini. Sebenarnya hal ini berlaku mulai besok tapi sajangnim menyuruku memberikan ini pada anda. Dia bilang anda adalah salah satu pelanggan setia restoran ini.” Pelayan ini memberikan penjelasan dengan ramah.

“Ah keurokuna.” Yeoja ini mengangguk mengerti.

“Ngomong-ngomong, Mengapa nona tidak memakan masakan kami? Dan mengapa nona sebelumnya memesan tempat untuk dua orang?” tanya pelayan ini.

“Makanan ini untuk dia, tetapi dia tidak akan datang.” Yeoja ini sedikit terkekeh.

Yeoja mungil ini memberikan beberapa lembar uang, setelah selesai menuliskan sebuah pesan di sticky notes, dia segera keluar dari restoran ini membuka payung hitamnya dan berjalan kedekat jalan raya untuk mencari taksi.

“Eonnie. Nona itu aneh sekali, dia juga meninggalkan sebuah pesan yang aneh.” seorang pelayan menepuk pundak rekan kerjanya sambil menunjuk yeoja mungil yang baru saja keluar dari restoran tempatnya bekerja.

“Bagaimana pesannya?” tanya seorang pelayan yang merasa terganggu dengan hoobae nya saat sedang bekerja.

“Ini.” pelayan junior ini menunjukkan memo yang ditulis yeoja yang di anggapnya aneh tersebut.

‘To the one I love: I hope you are always doing well, Park Chanyeol. Mianhae. –Cha Eunsung 13112015’

Pelayan senior ini membelalakkan matanya. Dia segera merebut memo tersebut dan berlari keluar restoran. Pelayan ini menghenghentikan langkahnya saat melihat yeoja yang ditunjuk hoobae nya sudah masuk ke dalam taksi dan pergi dari depan restoran ini.

“Wae eonni?” tanya pelayan junior ini bingung melihat hal yang dilakukan seniornya.

Pelayan senior ini mengeluarkan memo yang di tinggalkan seorang namja yang dilayaninya kurang lebih satu jam lalu. Dia mendekatkan memo tersebut dengan memo yang direbutnya dari juniornya.

‘To my love, Eunsungie: I believe you can achieve your dream. Mianhae. -Park Chanyeol 13112015’

Beberapa pelayan yang membaca memo tersebut membelalakkan matanya tidak percaya.

 

*****

 

Drrrtttt Drrrrttttt Drrrrttttt

Handphone namja bertubuh tinggi ini bergetar sebelum dia melesatkan mobilnya dari daerah ini. Tanpa ragu-ragu namja ini mengangkat telefon tersebut.

“Wae Baekhyunie?” tanya namja ini.

“Ya Park Chanyeol. Kau dimana?” balas seorang namja diseberang.

“Aku?”

“Cepatlah kembali ke kantor. Semua orang sudah berkumpul disini untuk merayakan pesta perpisahan dengan kita. Aku sengaja mengumpulkan mereka sore ini agar malam ini kita bisa beristirahat tenang untuk ke Macau besok. Lagipula aku masih harus mendalami bahasa Mandarin agar kita dapat bertahan disana selama 10tahun dan—”

“Ne Baekhyunie, aku segera kesana.” balas Chanyeol memotong keluhan sahabatnya. Namja ini segera melajukan mobilnya menuju kantornya.

‘Annyeong’ Chanyeol tersenyum.

 

*****

 

Drrrtttt Drrrrttttt Drrrrttttt

Ponsel yeoja bertubuh mungil ini bergetar sesaat setelah taksi yang ditumpanginya melaju di jalan Gwanghwamun ini.

“Ne eomma.” Yeoja ini mengangkat telefon.

“Eunsungie kau dimana? Kenapa kau belum pulang? Ingat besok pagi kau akan pergi ke Jepang.” Nyonya Cha di seberang merasa khawatir.

“Aku masih dalam perjalanan menuju Incheon Airport eomma. Mungkin 3 jam lagi aku sampai di Busan, tolong jemput aku. Dari sana aku akan langsung pergi ke tempat les bahasa Jepang.” Eunsung tersenyum di seberang.

“Eomma sudah bilang seharusnya kau kemarin saja ke Seoul untuk berpamitan dengan sahabatmu. Hari ini pasti kau sangat lelah. Eomma menghawatirkan keadaanmu di Jepang besok, kau kesana kan untuk bekerja selama beberapa tahun kedepan bukan untuk berlibur.” Nyonya Cha tidak berhenti berbicara, membuat Eunsung menghembuskan nafasnya berat.

“Eomma, nan gwenchana. Jangan khawatir. Aku tutup dulu ya telfonnya, ada seseorang yang harus kuhubungi. Annyeong eomma. Saranghae.” Eunsung segera menutup telfon tanpa menunggu balasan eommanya.

Eunsung menatap ke luar jalan Gwanghwamun ini.

‘Annyeong.’ Batin yeoja ini.

 

*****

 

Andai saja saat itu aku tidak egois, hari ini kita pasti berpergian ke suatu tempat untuk merayakan 4tahun hubungan kita. 13112015.

 

*****

 

THE END

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Goodbye, Gwanghwamun (2/2)”

Tinggalkan Balasan ke Cho hyedha Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s