[EXOFFI FREELANCE] Liebe

liebe

Title : Liebe
Author : Yuki Hwang
Cast :
EXO’s Kris Wu as Kristian Hobart
F(x)’s Jung Soo Jung as Krystal Bathilda
Suport cast :
Mr. Smith as pak Smith
Mr. Wolfgang Gutenberg as pak Wolfgang
Genre : AT, fantasy, mystery, angst, sci-fi, romance
Length : oneshot
Rating : T
Disclaimer : All those convertation are originally mine. All the storyline created by my wild imagination. But, the Cast just borrowed by me, they are belonging to their God, fans, agency, and family. For underage reader, please be wise to read what you read. Cause this fanfic have been adults contained. Thank you for your understand.
Summary : “Love you because its naturally chemical reaction.”

Yuki Hwang Copyrights 2016©

Hidup di zaman di mana banyak orang menemukan penemuan-penemuan baru bukanlah hal yang mudah. Orang dituntut untuk menemukan inovasi yang cerdas sehingga kelak dapat berguna bagi generasi penerusnya. Tak pelak hal seperti ini menimbulkan rasa kompenten yang tinggi antar individu. Tak sedikit orang menciptakan penemuan-penemuan baru dan berebut untuk berada di posisi pertama merebutkan mimbar juara.

Seorang pria jangkung berjalan tergesa-gesa sambil terus mengeratkan mantelnya. Butiran salju tak segan jatuh ke mantelnya. Ia semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai tujuan yang tinggal beberapa meter lagi. Pria itu masuk ke dalam salah satu rumah dari barisan rumah yang berada di jantung kota ini. Suara sepatunya saat bersentuhan dengan tanah menimbulkan suara bising yang membuat suasana terasa dikejar waktu. Setelah menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah ia mengatur napasnya sebelum masuk ke ruangan bertuliskan ‘Geheimnis’-bahasa-jerman-dari-rahasia.

“Maaf pak Smith saya terlambat!” pria berpostur tubuh gempal mengalihkan pandangan dari kertas digenggamannya menuju sumber suara.

“Tak apa, Kris,” pria yang dipanggil Kris itu langsung duduk di kursi kayu di hadapan pak Smith.

“Jadi bagaimana?” Kris menyodorkan tumpukan kertas yang ia simpan di dalam mantel sebelumnya.

“Aku yakin percobaanku berhasil kali ini,” pak Smith mangut-mangut saat membaca hasil laporan percobaan karya Kris. “Bagaimana pak?”

“Eine Zeitmaschine?” Kris menganggukkan kepalanya dengan antusias dan yakin kalau percobaan kelimanya ini akan berhasil. “Kris,” tak ada raut wajah menyenangkan dari pak Smith, guru pembimbingnya selama ini.

“Apa itu tandanya peecobaanku gagal lagi kali ini?” pak Smith memilih untuk tidak menjawabnya. Hal ini membuat Kris merasa sangat sedih dan kecewa. Ia pikir dengan menciptakan mesin waktu, ia akan berhasil kali ini.

“Kau ingat ‘kan aku mengatakan apa? Buatlah sesuatu yang cemerlang dan berguna untuk masa depan. Bukan hal seperti ini. Tak ada yang percaya dengan dongeng mesin waktu konyolmu. Jangan buat orang-orang mengatakanmu bodoh, Kris!” Kris mencoba menangkap semua saran yang dilontarkan pak Smith. Tapi ia masih tak bisa menerimanya. Karena ia pikir mesin waktu adalah hal yang cemerlang dan menakjubkan.

“Aku hanya ingin membuktikan kepada orang-orang kalau mesin waktu itu ada dan nyata,”

“Kris-”

“Pak Smith,” Kris memotong perkataan pak Smith. “Kau mengatakan untuk menggabungkan antara ilmiah dan imajinasi. Aku mencoba menggabungkannya, tetapi kau menolaknya. Apa ini tidak keterlaluan? Aku pikir tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini,” pak Smith menggelengkan kepalanya sambil berdecak tak paham dengan muridnya. Ia menatap lekat mata Kris.

“Bukan seperti ini Kris maksudku. Gabungkan imajinasimu dan ilmiah. Coba cari hal yang sedang diperlukan di era kita. Pengusir vampir atau apa saja agar vampir musnah dari dunia ini. Aku kira itu lebih nyata dan mungkin Kris,” Kris mencoba menerimanya ide pak Smith. Pak Smith kembali membaca buku-bukunya yang tebal sambil sesekali mengusap jenggot putihnya.

“Aku akan memikirkannya pak Smith,”

*

Kris keluar dari rumah pak Smith. Ia kembali berjalan menyusuri trotoar jalanan kota tua Heidelberg. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis tengah berdiri di sebelah tiang lampu. Ia tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh badan jalan menanti kedatangan seseorang. Sesekali ia mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Nona Bathilda!” seru Kris membuat gadis itu menengok mencari ke sumber suara. Kris melambaikan tangannya, si gadis pun membalasnya. “Apa kau sudah menunggu lama?” gadis itu hanya mengangguk lembut. Kris mengisyaratkan agar gadisnya menggandeng dirinya.

Namanya Krystal Bathilda. Seorang putri kedua bangsawan dari kota Baden-Württemberg. Sudah lama Kris dan Krystal berteman. Dari zaman sudah ditemukannya alat medis rontgen sampai yang sedang hangat-hangatnya yaitu mesin diesel. Jadi kurang lebih tiga belas tahun sudah mereka berteman. Sampai akhirnya Kris tak bisa membantah jika tak ada persahabatan yang murni antara dua insan berbeda kelamin.

‘Hobart!” Krystal memanggil Kris dengan nama keluarga Kris. Kris pun hanya berdehem menjawabnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh jalanan. Karena belum ada pernyataan selanjutnya, Kris mengalihkan pandangannya ke sang gadis.

“Ada apa, Krys?”

“Apa kau baru saja bertemu dengan pak Smith lagi?” Kris berpikir untuk waktu yang lama. Ia tak bisa berbohong, memang benar ia baru saja menemui pak Smith. Ini sudah yang kesekian kalinya. Kris hanya berdehem sambil menganggukkan kepalanya. “Apa kau gagal lagi, Kris?” skak matt! Krystal sepertinya bisa membaca kata hati Kris lewat raut wajahnya.

“Sebaiknya kau berhenti saja dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan,” ujar Krystal yang sebenarnya membuat Kris sangat terkejut dan kecewa. Benar, dia berjanji akan sukses akan percobaannya kali ini. Jika ia sukses ia akan segera melamar pujaan hatinya itu. Namun sepertinya menjadi penemu yang hebat bukanlah hal yang mudah.

“Aku harus bekerja apa Krys? Menjadi kuli di pasar buah? Atau memamerkan keahlianku menjadi sirkus? Atau-” Kris menggantungkan kalimatnya. “Menjadi penjual kain saja? Tidak Krys, tidak. Bidangku adalah sains, keahlianku adalah memainkan alat-alat berhubungan dengan kimia, dan sudah menjadi tugasku untuk menemukan ide-ide baru. Kau harus memahaminya, Krys,” Krystal memilih diam ketimbang harus melanjutkan perdebatan yang memungkinkan akan memperburuk keadaan.

Sampai pada akhirnya mereka sampai di tempat makan yang sudah dijanjikan. Keadaan restoran malam ini cukup ramai ternyata. Mereka pun memilih meja dekat jendela utama agar dapat melihat pemandangan badan jalan. Setelah memesan makanan, mereka kembali dalam diam, bergelut dengan pikiran masing-masing.

“Sungguh, aku merasa kecewa. Tidak ada yang mendukungku hari ini,” Krystal menatap iba prianya tersebut. “Tidak, tidak. Jangan menatapku iba seperti itu. Aku tidak perlu dikasihani,” Kris merasa sangat pasrah.

Krystal meraih tangan Kris lalu menggenggamnya. Ditatapnya lekat-lekat sepasang hazel tajam bak mata elang milik Kris. Krystal menggenggamnya dengan erat. Ia berharap dengan seperti ini dapat meringankan beban kekasihnya.

“Kau tahu? Thomas Alva Edison pun sering gagal dalam percobaannya. Aku yakin kau bisa, Hobart!” Kris kembali membangun pertahanannya. Pasokan semangat dari gadisnya benar-benar berpengaruh. Namun, ia juga masih belum tahu percobaan apa yang akan ia lakukan.

“Kau punya ide mungkin? Aku sedang butuh banyak referensi,” Krystal tampak berpikir.

“Carilah apa yang sedang dibutuhkan masyarakat kita sekarang. Hal yang sedang tren dan banyak dibicarakan mungkin? Jangan lupa tetap menggunakan prinsip ‘agar berguna bagi generasi selanjutnya’,” Kris mangut-mangut. Apa ada hal semacam itu sekarang? Tapi apa?

“Aku sudah menemukannya,” pekik Kris tiba-tiba. Senyum bahagia mengembang di wajahnya. “Terimakasih, Bathilda.”

*

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Matahari sedang berada di puncaknya. Namun tak membuat es-es mencair, udara masih terasa dingin. Orang-orang pun masih mengenakan pakaian hangat untuk melindungi diri dari musim dingin.

Krystal terduduk di bangku stasiun. Ia menunggu kereta tujuannya tiba. Ia akan pergi menuju ke suatu tempat. Dimana tempatnya sangat jauh dan hanya orang yang memiliki tujuan tertentu saja yang datang, tak terkecuali dengan Krystal.

Kereta yang ia tunggu pun tiba. Orang-orang berdesakkan masuk ke dalam kereta, begitu juga dengan Krystal langsung naik dan memilih bangku yang kosong. Sepanjang perjalanan ia menikmati pemandangan yang disuguhkan. Ia berharap dengan seperti ini saja ia bisa melupakan semuanya. Krystal harus menolak ajakan Kris hari ini untuk menghabiskan waktu bersama. Ia sedih juga harus melakukannya, tetapi ini semua ia lakukan demi masa depannya sendiri.

Perjalanan masih panjang. Krystal pun terlelap.

*

Krystal sampai di tempat tujuannya. Sesudah turun dari kereta ia memggeliatkan tubuhnya. Merenggangkan otot-otot yang dirasanya kaku. Hari sudah berganti menjadi gelap, malam sudah tiba. Ia tidur sangat nyenyak. Saking nyenyaknya tidak sadar kalau ia masih berada dalam kereta. Ia terhenyak ketika suara khas mesin lokomotif berhenti.

Krystal menyelipkan rambut yang dibiarkannya terutai di belakang telinga. Sebelum pergi ke tempat yang benar-benar menjadi tujuannya ia harus makan malam terlebih dahulu.

Krystal mengeluarkan botol dari dalam tasnya. Kemudian ia mencari toilet umum yang sekiranya cocok untuk makan malamnya sekarang. Ia melewati sebuah cermin besar sebelum menemukan toilet umum. Krystal berdiri di sana dan berkaca sebentar.

“Krystal, wajahmu sangat pucat,” gumam Krystal sambil memandangi wajahnya yang putih pucat. Ia tak mau terus tersiksa. Ia pun menyegerakan pergi ke toilet yang sudah tertangkap indra penglihatannya.

Sampai di toilet, Krystal langsung menegak habis isi dari botol yang ia bawa tadi. Cairan merah membekas di mulutnya. Untung saja Krystal segera sadar dan membersihkannya.

Ya, tebakan kalian benar. Krystal Bathilda putri kedua bangsawan. Dibalik ’embel-embel’ bangsawan, keluarganya merupakan keluarga vampir pertama yang berhasil hidup di tengah kehidupan masyarakat kota Heidelburg tanpa satu orang pun mengetahuinya. Bahkan, Kris pun tak tahu mengenai ini. Krystal sebenarnya takut kontak langsung dengan manusia, Namun, kehadiran Kris beberapa waktu silam, meyakinkan dirinya untuk bisa hidup di tengah-tengah manusia.

Krystal menegak darah terakhirnya. Minum sebotol darah setidaknya bisa mempertahankan kekebalan tubuhnya hingga satu minggu. Krystal keluar dari toilet. Ia sekarang akan menuju tempat tujuan sebenarnya.

*

Kris kembali menemui pak Smith. Entah mengapa Kris tak pernah bosan melakukannya. Pak Smith pun dengan senang hati membantu anak didiknya itu.

“Baik pak Smith. Saya kira ide anda mengenai penemuan hal yang berbau vampir adalah ide yang bagus. Aku sudah menemukan apa yang akan kubuat nanti. Aku harap kau bisa banyak membantu, pak,” ujar Kris dengan sangat antusias. Ia yakin percobaannya kali ini akan berhasil.

“Tentu akan membantumu. Namun, apa percobaan yang kali ini akan kau buat?”

“Penetral rasa darah. Bagaimana pak Smith? Apa kedengarannyaakan akan berhasil?” pak Smith mangut-mangut.

“Aku rasa itu adalah ide yang cemerlang,” Kris mengembangkan senyumnya. Ya, dia akan mengejutkan dunia dengan segera memusnahkan vampir yang tengah berkeliaran di luar sana dan mengancam nyawa banyak orang.

*

Krystal tengah menunggu kehadiran seseorang. Ia asyik mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang tengah ia tempati. Ruangan ini bergaya arsitektur Eropa klasik. Dengan lentera bercahaya remang-remang yang tergantung di ruangan berukuran 3×4 menbuat atmosfer yang tercipta sangat hangat dan cozy.

“Nona Bathilda,” Krystal mendapati pria paruh baya itu berjalan ke kursi di hadapan Krystal. “Bagaimana perkembangannya?”

“Sepertinya semua akan berjalan seperti yang kita rencanakan, pak Gutenberg,” pria bernama lengkap Wolfgang Gutenberg itu tersenyum. Krystal menyerahkan kertas laporannya.”Aku sudah menyuruh Kris untuk menyerah. Sepertinya dia akan melakukannya,” lanjut Krystal. Pak Gutenberg tampak membaca laporan Krystal dengan saksama.

“Krystal, kau perlu menambahkan jantung manusia di percobaanmu,” Krystal membelalakkan matanya.

“Apa?”

“Jantung. Kupikir kau akan dengan sangat mudah mendapatkan jantung manusia. Dengan kau menambahkan jantung manusia, bangsa vampir tidak akan mengonsumsi darah manusia lagi. Kita dapat mengontrol emosi kita,. Kita akan diterima Krys, bangsa vampir akan diterima,” Kepala Krystal terasa pening. Dengan memikirkan mengambil jantung manusia saja sudah membuatnya pusing, apalagi melakukannya? Krystal bergelut dengan pikirannya untuk beberapa saat. Mencoba menemukan solusi yang terbaik.

“Pak Gutenberg, apa kita tidak bisa menggantinya dengan jantung gorila atau simpanse? Atau primata lainnya? Mereka punya kromosom dan organ yang sama dengan manusia, aku pikir kita bisa menggantinya,” Krystal berargumen.

“Krystal. Kita tidak mengonsumsi darah primata. Kita mengonsumsi darah manusia. Lagipula energi yang diberikan dari darah primata jauh di bawah darah manusia. Begitu pula dengan organnya. Organ manusialah yang terbaik,” Krystal menyerah. Ia harus melakukannya demi bangsa vampir, bangsanya.

*

Kris sibuk berkutat di meja percobaannya. Setelah mengambil darahnya sendiri di rumah sakit, ia membawanya pulang. Setelah pertemuannya dengan pak Smith waktu itu, Kris mengunjungi perpustakaan untuk mencari referensi.

“Bila darah terdiri dari hemoglobin yang terikat oksigen, berarti oksigen harus dihilangkan,” gumamnya. Kris yang langsung menuangkan darahnya di gelas reaksi. Lalu ia menuangkan sebuah cairan khusus yang ia buat untuk melepaskan oksigen yang terikat. Senyum mengembang terus terpancar di wajah Kris. Ia bertekad dan yakin percobaannya kali ini harus berhasil.

*

Pak Smith tengah berjalan-jalan untuk mencari makan. Bekerja menjadi peneliti dan penemu gagasan baru sangat menguras tenaganya. Bagaimana pun ia juga manusia biasa yang butuh istirahat dan asupan energi. Usianya yang tak muda memaksakan dirinya untuk merasakan lelah meski berjalan beberapa meter saja dari rumahnya. Pak Smith pun memutuskan beristirahat di sebuah bangku yang terletak di pusat kota Heidelberg. Suasana kota sore ini sangat ramai. Banyak seniman jalanan bekerja di sini dari sore sampai malam hari.

Namun, pak Smith tak tertarik dengan semua suguhan kota tua ini. Ia justru tertarik pada sebuah wacana yang sengaja di tempel di sebuah papan mading. Ia membenarkan kacamatanya untuk membaca berita yang sekilas ia lihat.

‘Seorang vampir akan segera mengumumkan penemuannya.’ pak Smith sedikit terkejut mendengarnya. Tidak! Vampir itu akan mengalahkan Kris. Tidak bisa dibiarkan. Pak Smith pun memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya dan merencanakan target penyelesaian percobaan Kris.

”Tenang saja Kris. Aku akan membantumu kali ini,’

*

Kris sudah siap memberikan hasil percobaannya kepada pak Smith. Setelah berhasil mencobakan hasil percobaannya pada kelelawar pemakan darah, ia menjadi lebih yakin dan percaya diri. Orang-orang pasti kan memujinya sebagai orang yang jenius.

“Pak Smith,” pekik Kris sambil melepas topi yang ia kenakan untuk melindunginya dari butiran-butiran es.

“Kris!”raut wajah pak Smith tampak sangat khawatir. “Hah aku lega kau datang ke sini,” Kris mendudukan tubuhnya di kursi yang sudah biasa ia duduki.

“Kau tampak sangat khawatir. Apa sesuatu baru saja terjadi?” belum ada jawaban dari pak Smith.

“Bisa kubaca hasil percobaanmu dulu?”

“Tentu,” Kris terkesiap dan langsung memberikan kertas hasil percobaannya. Pak Smith membaca dengan teliti. Tak ada satu kata pun yang ia lewati. Pak Smith tampak bernapas lega. Ia menyeka peluh yang menetes di pelipisnya.

“Kris ada saingan berat yang mengancam penemuanmu. Aku berharap kau harus lebih berhati-hati saat berpergian. Aku akan segera mempublikasikan penemuanmu ini,” pak Smith menyimpan kertas laporan di lacinya. Sedangkan Kris sukses dibuat menganga.

“Aku? aku benar-benar berhasil?” pak Smith menganggukan kepalanya. Kris menahan dirinya agar tak berteriak atau bahkan sampai loncat kegirangan. Pak Smith tersenyum hangat. Ia tahu anak didiknya itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Setelah kegagalan-kegagalan yang Kris lakukan kini berbuah hasil.

“Pak Smith terimakasih. Danke,” Kris berdiri lalu membungkukan badannya dan bergerak untuk memeluk tubuh pak Smith. Pak Smith membalas pelukan hangat pria yang sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri. “Kalau begitu aku pulang dulu,”

“Kris!” panggil pak Smith setelah menatap punggung Kris sebelum ia benar-benar keluar. “Kau harus tetap waspada dengan lingkunganmu,” Kris menganggukan kepalanya lalu melambaikan tangannya.

SLAM!

Pintu tertutup. Semoga saja firasat pak Smith berkebalikan dengan kenyataan. Ya. Kris akan baik-baik saja.

*

Senyum bangga tak bisa ia lepaskan. Bahkan di sepanjang jalan ia terus tersenyum. Ia yakin orang-orang tengah menganggapnya gila sekarang. Namun tak apa. Orang-orang kelak akan mengenalnya sebagai orang yang jenius, bukan orang gila.

“Kris Hobert!” suara merdu itu tak asing lagi di telinga Kris. Tentu saja itu Krystal, kekasihnya. Ya, Krystal berjanji akan menghabiskan waktunya hari ini bersama Kris.

“Krystal Bathilda!” balas Kris. Tangannya menyambut hangat dengan mengusap-usap kepala Krystal.

“Kau tampak sangat bahagia, tuan Hobert,” Kris tergelak. Gadisnya ini suka sekali menggodanya.

“Tentu saja. Percobaanku kali ini berhasil, Krys. Aku akan segera dikenal orang. Dan mungkin saja aku akan segera melamarmu,” DEG! Tubuh Krystal terasa lemah. Tubuhnya terasa ringan. Kepalanya pun berputar-putar, peluh menetes di pelipisnya.

“Ada apa Krys?” Krystal terkesiap langsung menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Itu bagus Kris. Aku mendukungmu,” Krystal mengulas senyum palsunya.
*

Krystal terus menarik Kris menuju tempat yang jauh dari keramaian. Ia mengajak Kris ke tempat yang sepi dan sunyi. Banyak pepohonan yang sudah mati tumbuh di sana. Tentu saja, musim dinginlah yang membunuhnya.

“Kau ingat taman ini?” Kris mengedarkan pandangannya saat mereka sampai di sebuah taman. Taman yang mati.

“Tentu saja. Dulu kau dengan oenampilan culunmu bermain rerumputan yang tumbuh di sini,” ujar Kris yang membuat Krystal melemparkan tatapan tajamnya. “Tidak. Kau cantik, Krys,” mereka kembali terdiam terhanyut suasana yang tak sengaja tercipta. Tangan Krystal bergerak menggenggam tangan Kris.

“Kris aku merindukanmu. Aku rasa kau terlalu bekerja keras,” Kris menautkan kedua alisnya.

“Maksudmu?”

“Ya, aku merasa kau terlalu fokus pada percobaanmu dan seringkali lupa kalau kau punya aku,” Kris merenungkan apa yang kekasihnya itu katakan. Memang benar, dia terlalu antusias dan bersemangat untuk menjadi penemu yang terkenal dan jenius. “Kris, kau tahu? Di balik penemu-penemu hebat yang kau kagumi ada sosok yang selalu menyemangatinya dan mendukungnya,”

Kris menganggukkan kepalanya kuat, “tentu saja aku tahu. Semua keberhasilanku yang tengah aku nikmati ini juga karena kau. Aku terinspirasi dari semua saran dan perkataanmu pada makan malam waktu itu,”

“Apa?”

“Ya, terimakasih Krys. Danke,” krystal merasa terharu. Ia pun memeluk tubuh kekar Kris. Kris pun membalas pelukan sang gadis. Tangannya bergerak mengelus surai bergelombang milik Krystal.

Ada sensasi aneh yang Krystal rasakan. Ia mencium bau khas. Darah. Benar darah. Krystal mencoba sekuat tenaga untuk mengontrol emosinya. Tetapi semakin erat Kris memeluknya semakin kuat juga bau khas darah manusia menyeruak masuk ke indra penciumannya.

“Krys,” panggil Kris. Krystal hanya menggumam. “Jangan pergi. Aku sangat mencintaimu,” Kris melepaskan pelukannya. Wajahnya bergerak mendekati wajah Krystal. Kemudian bibir keduanya sudah saling menyatu. Kris melumat bibir gadisnya. Udara dingin yang berhembus membuatnya semakin berhasrat untuk masuk lebih dalam lagi. Kris meluapkan segala emosinya sekarang. Respon Krystal pun tak terlalu buruk. Krystal membalas lumatan kekasihnya itu.

Tangan Krystal mengalungkan di leher Kris. Sedangkan tangan Kris memegangi wajah Krystal. Mereka benar-benar meluapkan rasa rindu mereka di sana. Untuk beberapa saat mereka melepaskan ciuman mereka untuk mengambil napas. Bibir Kris bergerak turun ke leher Krystal. Ia mencium aroma wangi dari setiap inchi leher Krystal.

‘Kris, hentikan,’ batin Krystal berteriak. Ia menikmatinya sambil memejamkan mata. Namun, bau khas darah semakin kuat kala Kris melakukannya.

Gigi yang ia sembunyikan sejak lama pun tak bisa ia tahan lagi. Bau khas itu terus menguat. Krystal tak bisa menahannya. Padahal ia sudah meminum satu botol darah tiga hari yang lalu, semua itu cukup hingga satu minggu. Tapi hasrat, emosi, dan egonya bekerja sama mengalahkannya.

“Krystal, kau perlu menambahkan jantung manusia di percobaanmu,”

Perkataan pak Gutenberg terngiang jelas di telinganya. Mungkin ini saatnya.

SLAM!

Instingnya sangat kuat. Gigi taringnya sudah menancap di permukaan kulit Kris. Ia bisa mendengar Kris berteriak kesakitan. Perlahan Kris melepaskan tangannya dari wajah Krystal. Krystal menjadi liar. Ia tengah dipengaruhi oleh insting vampirnya. Ia terus bergejolak. Sampai semua darah Kris habis bercucuran keluar. Tubuh Kris jatuh ke tanah. Krystal tampak sangat mengerikan. Ia mirip seperti Singa yang menerkam rusa hutan. Kris sudah tak bernyawa.

‘Jantung manusia’

Dengan mudah Krystal menyobek bagian dada Kris. Ia mendapati jantung yang detaknya melemah. Ia pun mengambil dan menggenggamnya. Dilapnya darah yang berbekas di mulutnya. Ia menatap jantung di genggamannya.Sejurus kemudian Krystal tersadar.

Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Tubuhnya terjatuh begitu saja. Jantung yang ada di genggamannya pun ikut jatuh ke tanah. Likuid bening turun dengan derasnya. Hatinya berkecamuk. Bagaimana bisa ia membunuh seseorang yang ia cintai sendiri? Krystal memukuli dadanya dengan keras. Ia juga mengacak-acak rambutnya. Sebisa mungkin ia berteriak sekencang-kencangnya. Burung-burung yang tengah bertengger di pepohonanmu langsung terbang mendengar teriakan Krystal.

“Maafkan aku Kris,” ujarnya dalam tangis yang semakin menderu-deru.

“Aku menginginkan jantung manusia, bukan jantungmu Kris,” Krystal memeluk tubuh Kris yang sudah tak bernyawa. Tangannya meremas pakaian milik Kris. Darah Kris menempel di wajah Krystal. Namun Krystal membiarkannya. Ia merasa sangat marah pada dirinya sendiri sekarang. Ia berteriak lagi. Namun, tak ada orang yang akan mendengarnya.

*

Epilog :

“Jadi penetral darah itu ada? Dan vampir itu nyata?” guman seorang gadis di tengah kesunyian perpustakaan sekolah. Ia membuka kembali lembar terakhir buku legenda yang tengah dibacanya.

“Ya! Jung Soo Jung, kajja!” gadis bernama Soo Jung itu langsung menutup buku yang tengah ia baca. Ia berlari mengejar temannya tadi sambil menggenggam buku bacaannya. Mereka keluar dari perpustakaan dan langsung memasuki kelas.

“Aku dengar ada guru baru hari ini,”

“Jinjja?” tanya Soo Jung dengan nada biasa.

“Nde! Aku dengar dia masih muda dan tampan,” temannya itu menjelaskan dengan antusias. Namun tak sebanding dengan respon yang Soo Jung berikan. “Hei, lihat dia datang!”

Semua murid langsung duduk pada posisi siap. Ketua kelas memberi perintah untuk memberi salam. Kemudian para siswi mulai berbisik-bisik. Tak terkecuali teman sebangku Soo Jung.

“Lihat! Dia tampan kan?” Soo Jung hanya terpatung. Ia seperti tak asing dengan wajah guru barunya itu. Kemudian ia teringat sesuatu. Ia langsung membuka buku yang sempat ia baca tadi. Dibukanya pada lembar terakhir. Terdapat foto sejoli, seorang penemu yang legendaris dan seorang vampir wanita. Kristian Hobart dan Krystal Bathilda.

“Selamat pagi semuanya! Namaku Kris Wu, panggil saja Kris.”

FIN

a/n : hai readernim semua! FF gaje YH kembali menyapa. Maafkeun keanehan yang tercipta sepanjang membaca cerita ini. Aku buat H-1 sebelum US. Aku rela-relain buat bikin cerita dan poster selama 2 hari karena nae akan vakum dari dunia fanfic sampai UN menyapa. Doakan readernim semuaaaaaa, YH janji bakal balik bawa FF yg lebih menantang. Byeee~~

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Liebe”

  1. aku doakan lulus sekolah yak, kalau boleh setelah masa UN buatlah ff ini jadi berchapter yak dek. okay okay aku suka loh sama,epilog-nya itu kris kembali lagi dari masa lalu okay okay 🙂

  2. aku suka..aku suka…ceritanya seru jg..keren!!jempol deh!!
    ohh krystal cantik bngt ya di poster itu..aku minder bngt jd cwe..uhhh

    oh mau UN yaa..sukses ya buat ujiannya ..aku doain moga bisa nyontek..*ehh moga bisa ngerjain dgn baik n hasil nilainy memuaskan..okay?!fighting!!!ciayo!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s