[EXOFFI FREELANCE] The Story Only I Didn’t Know (Chapter 5)

Untitled-4 ncopy_resized_3

The Story Only I Didn’t Know

 

MAIN CAST         :

  • Kim Hye Mi (OC)
  • Park Chan Yeol
  • Oh Sehun
  • Kim Seohyun (OC)
  • Jung Krystal

 

SUPORT CAST      :

  • All Member Exo-K
  • Park Song Yi (OC)

 

GENRE                        : Romance, Friendship, School  Life.

AUTHOR                    : @Aichan

RATING                     : T

LEGHT                        : Chapter

DISCLAIMER                        : Hi! Ini FF murni buatan aku. Semua alur, latar, karakter ini hanya fiksi belaka yaa. Saran dan kritik aku tunggu. Maaf jika banyak typo dan ada bahasa yang aneh. Masih dalam tahap pembelajaran. Heehee.. Don’t Be Plagiat!  Happy reading.. ^^

PART 5

***

“Neon bulgongpyeonghae igijeog-in geoni? (geumanhae)

Neoui nun neoui ko neoui ib-eun. Bwado bwado gyesog yeppeul geoni

Neon bulgongpyeonghae geogikkajiman hae

Oh neon wiheom hae wiheom hae cheoncheonhi. Eommaya..”

***

HYEMI POV

 Aku tidak pernah merasa sekesal ini dalam hidupku. Bagaimana bisa mereka melakukan banyak hal, tidak, tidak, aku past bermimpi. Ini pasti bukan mereka. Pemandangan yang ada dihadaanku saat ini bukanlah hal yang ingin ku lihat. Bahkan aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi.

Aku menggelengkan kepaku pelan. Berharap aku tersadar dalam mimpi burukku ini. Aah, tidak, bahkan aku merasa mimpi burukku yang sebenarnya akan terjadi setelah ini. “Yaa, Songyi, apakah aku sedang bermimpi?” ucapku sambil menegang lengan Songyi―salah seorang teman baikku― perlahan. “Bagaimana bisa mereka?”

Aku melihat senyuman terlukis dari bibir Songyi. Tapi itu bukan senyuman untukku, pandangannya lurus ke depan. “Bukankah mereka hebat?” ucapnya dengan mata yang berbinar-binar. “Ku pikir kelas kita akan menang karena mereka. Aah, ini hebat sekali. Tidakkah kau mendengar teriakan ini, yaa, itu semua untuk penampilan kelas kita.”

Aku hanya mendengar teriakan para yeoja, bahkan Songyi juga ikut berteriak bersama mereka. Ya, lagipula tanpa mereka bernyanyi ku pikir para fans mereka juga akan meneriaki mereka. Tapi aku tidak pernah menyangka mereka akan tampil sebagus itu, aku tidak berpikir mereka bisa bernyanyi dan menari seperti itu. Bahkan mereka sebelumnya tidak pernah berlatih, aah, yang benar saja.

Aku menghela nafas panjang. Berharap semoga saja ada keberuntungan yang  berpihak padaku. Semoga aja ada suatu kesalahan yang mereka buat dan menghancurkan penampilan mereka. Ya, apakah aku ini terlalu jahat, berdoa buruk pada mereka, bahkan disana ada orang yang ku suka. Iish, ini menyebalkan. Kalau saja, tidak ada perjanjian memuakkan antara aku dan Chanyeol tentang penampilan mereka kali ini, mungkin saja aku juga sudah berteriak kegirangan bersama Songyi, tidak sefrustasi ini.

Sehun benar-benar tampak sangat keren di atas panggung sana. Poni rambutnya yang terbelah, dengan setelan kemeja biru dongker dan celana jins pendeknya itu benar-benar terlihat cocok dengannya. Aku bahkan sempat terpesona olehnya, apalagi ketika aku melihatnya menari. Dia benar-benar menawan. Namun, itu tidak berlangsung lama.

Sesaat setelah perasaanku melambung ke langit tiba-tiba saja itu langsung terhempas kembali ke bumi. Perasaanku berubah begitu melihat namja lain di samping Sehun, namja yang paling menyebalkan diantara mereka. Dia Chanyeol. Ya, penampilannya memang tidak buruk, bahkan lebih baik daripada ketika ia memakai topeng dan jubahnya sebelumnya. Dia mengganti topengnya itu dengan sebuah topi baseball yang ia kenakan kebelakang, juga kaca mata hitam dan jaket kebesaran. Aku merasa setelan pakaiannya itu aneh, tapi itu tampak cocok dengannya. Aah, kenapa aku jadi memikirkan penampilan Chanyeol, itu sama sekali tidak penting.

Hal yang penting sekarang adalah hasil dari festival ini. Ku harap ada penampilan dari kelas lain yang lebih baik dari pada kelasku―ya, harapan seperti ini lebih baik―. Tapi sayangnya, ku pikir selama aku melihat penampilan mereka, tidak ada penampilan kelas lain yang disambut semeriah ini. Rasanya harapanku itu nihil.

Penampilan mereka berakhir dengan tepuk tangan dan teriakan yang lebih heboh dari sebelumnya. Tanpa sadar, pandanganku teralihkan pada Chanyeol, ia terlihat sedang mencari sesuatu begitu lampu penonton dinyalakan. Beberapa detik kemudian, mata kita saling bertemu, aku melihat ada senyuman puas yang terlukis di bibirnya begitu melihatku, ia seolah berkata, ‘aku pasti akan menang’.

Aku mendecakkan lidah begitu melihat senyumannya. Yang benar saja dia.

“Ehm, aku merasa Chanyeol melihat ke arah kita. Apa mungkin?” aku mendengar suara lembut Songyi. Begitu aku menoleh ke arahnya, aku melihat tatapan menerawangnya ditunjukkan pada Chanyeol. “Benar. Dia melihat ke arah kita, ehm, atau ke arahmu?”

Mataku membulat begitu mendengar ucapan Songyi. Dengan sigap aku melambai-lambaikan tanganku menyiratkan ketidakmungkinan hal tersebut. Ya, meskipun kenyataannya Chanyeol memang melihat ke arahku. “Aah, itu tidak mungkin Songyi,” ucapku sambil terkekeh pelan. “Untuk apa Chanyeol melihat ke arahku? Dia pasti melihat ke arah, ehm, ya, penggemar-penggemarnya yang berada disampingku. Itu lebih masuk akal.”

Aku melihat Songyi menaikkan sebelah alisnya ke arahku. Sedetik kemudian ia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapanku. Ya, syukurlah Songyi mempercayaiku. Aku belum siap memberi tahu tentang apa yang akan terjadi padaku begitu festival ini berakhir dengan Exo yang menjadi pemenang atas penampilan mereka barusan.

Penampilan selanjutnya tidak terlalu bagus. Itu penampilan dari kelas C2. Mereka menampilkan sebuah tarian tradisional korea yang menurutku sedikit membosankan setelah aku menyaksikan penampilan Exo yang hampir mengguncangkan panggung. Bahkan aku melihat gerakan tarian mereka tidak terlalu kompak dan seringkali melakukan kesalahan. Mungkin mereka sangat gugup karena tampil setelah penampilan Exo yang memukau dan merasa mereka memiliki beban yang berat untuk penampilannya, mereka harus menampilkan yang lebih memukau atau paling tidak setara dengan Exo. Tapi yang ada justru sebaliknya.

Setelah penamanpilan kelas C2 berakhir, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Pengumuman pemenang dari festival ini, dan benar, mimpi buruk ku sesaat lagi akan menjadi nyata. Seperti dugaanku yang paling mengerikan, Exo menang dalam festival. Ini sungguh menyebalkan. Sangat menyebalkan.

***

AUTHOR POV

Suasana sekolah menjadi kian ramai. Matahari yang kian menghilang, membuat festival sekolah justru tampak lebih meriah dari pada sebelumnya. Ini karena akan ada api unggun dan pesta kembang api sebagai acara penutup dalam festival ini.

Sama halnya dengan kondisi kelas A1, pengunjung kafe kelas mulai memenuhi ruangan, bahkan sampai ada antrian diluar. Terlebih lagi ketika Exo membantu kelas dengan ikut serta menjadi pelayan kafe. Mereka terlihat seperti anggota school host club yang memamerkan senyuman mereka pada para pengunjung.

Terlihat ada seorang yeoja yang menerobos antrian paksa dan memasuki kafe sambil membawa nampan kayu berisi penuh minuman kaleng soda yang tertata rapih. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti begitu ia melihat pemandangan yang jarang dilihatnya. Ia hampir saja menjatuhkan nampannya kalau saja tidak ada yang menahan pegangannya.

“Ada apa Hyemi? Kau harusnya lebih berhati-hati,” suara itu membuyarkan pikiran Hyemi. Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil membenarkan posisi nampan ditangannya agar kembali seimbang. Ia memperlihatkan senyuman kecilnya memperhatikan seorang namja yang baru saja mencegahnya untuk tidak membuat keributan di kafe kelas dengan menumpakan minuman soda di pintu masuk. Itu pasti memalukan.

“Aah, gomawo Sehun,” ucap Hyemi sambil menunjukan senyumannya untuk kedua kalinya. “Kalau bukan karenamu mungkin aku sudah membuat diriku ini mengalami pengalaman yang cukup memalukan di festival tahun ini. Aah, aku tidak ingin menambah daftar kenangan buruk yang ku dapat karena festival ini.”

“Menambah daftar?” tanya Sehun menyelidik sambil mengerutkan keningnya.

Hyemi menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa,” ucapnya sambil berjalan menuju meja di pinggiran kelas dan meletakkan nampan berisi sodanya itu ke atas meja. Ia kemudian menoleh ke belakang memastikan kalau Sehun masih ada didekatnya. “Itu bukanlah pembicaraan yang ingin aku bahas saat ini.”

Sehun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Sedetik kemudian Hyemi menyebarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, ia memperhatikan dengan seksama untuk memahami situasi apa yang terjadi di kelasnya. Setelah itu ia melemparkan pandangannya pada Sehun. “Apa yang sedang kalian lakukan?” ucap Hyemi heran. “Maksudku yaa, untuk apa kalian menjadi pelayan?”

Sehun tersenyum mendengar pertanyaan Hyemi. “Ini bukanlah ide yang buruk kan. Kau tau, Chanyeol bilang ini akan menjadi hal yang menarik,” ucapnya sambil mendekatkan tubuhnya ke dinding dan memperhatikan temannya yang bernama Chanyeol dengan senyuman. “Ini rencananya.”

Chanyeol terlihat sedang asik mengobrol bersama sekelompok pengunjung wanita, bahkan ia terlihat duduk bersama mereka di kursi yang seharusnya ditunjukkan untuk pelanggan, bukan pelayan sepertinya. Hyemi juga memperhatikan apa yang dilihat Sehun, matanya menyipit melihat kelakuan Chanyeol yang tak jauh darinya. Kerutnya berkening.

Hyemi mendecakkan lidah sambil menggelengkan kepalanya. “Dia hanya ingin bermain bersama banyak yeoja,” ucapnya yang terlihat sedang mencibir. “Ku harap kau tidak melakukan apa yang dia lakukan saat ini, Sehun. Itu tidak pantas untukmu.”

Sehun tertawa kecil mendengar ucapan Hyemi. “Kenapa kau berpikir sampai sejauh itu?” ucap Sehun disela tawanya. “Aku tidak pandai menggoda wanita seperti yang lain. Aku sudah pernah memberi taumu sebelumnya kan, kalau aku membenci hal-hal seperti itu.”

Hyemi mengerutkan kening begitu ia mendengar penjelasan Sehun. Ia seperti sedang berusaha mengingat-ngingat. Beberapa detik kemudian, Hyemi menjentikkan jarinya, tapi pipinya juga memerah. Ia jadi mengingat suatu hal terlala jauh. “Ya, aku mengingatnya,” ucap Hyemi sambil memegangi pipinya begitu sadar kalau suhu tubuhnya meningkat secara tiba-tiba. “Ku harap kau tidak menunjukkan senyuman mengerikanmu itu lagi. Kau tau, itu tampak menakutkan.”

Sehun tersenyum manis. Senyuman yang bisa membuat yeoja tiba-tiba saja jatuh hati padanya. “Kau wanita yang menarik, Hyemi,” ucap Sehun sambil menatap lawan bicaranya itu dengan tatapan menerawang. “Sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah menduganya. Ku pikir kita akan menjadi teman baik.”

Hyemi terdiam. Ia benar-benar tidak bisa memikirkan hal lainnya selain kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Sehun tentangnya. Ia tak pernah merasa seterkejut dan sesenang ini. Belum pernah ada yang mengatakan kalau dirinya adalah wanita yang menarik selama ini. Sehun adalah orang pertama yang mengatakan itu. Tanpa sadar, Hyemi menarik ujung bibirnya dan membuat sebuah senyuman. Tapi sesaat kemudian, senyumannya menghilang, ia baru menyadari satu hal, meskipun Sehun bilang kalau Hyemi adalah gadis menarik, tapi Sehun hanya berharap kalau hubungannya dengan Hyemi menjadi sepasang teman baik. Padahal, Hyemi mengharapkan hal yang lebih dari sekedar teman baik.

“Sehun bisa kau ambilkan beberapa minuman soda kemari,” suara itu membuyarkan lamunan Hyemi. Ia menoleh ke arah sumber suara barusan. Ternyata itu suara Chanyeol. “Sebaiknya kau juga melayani pelanggan di meja ini.”

Sehun menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil dua kaleng soda yang ada dihadapannya dengan satu tangan. “Sebaiknya aku membantu mereka,” ucap Sehun lembut yang setelah itu menepuk ujung kepala Hyemi pelan. Ia juga menunjukkan cengirannya. “Sebaiknya kau bersenang-senang, Hyemi.”

Lagi-lagi Hyemi mematung karena apa yang dilakukan Sehun barusan. Ia tidak pernah membayangkan akan seterkejut ini saat rambutnya disentuh oleh seorang namja, terutama oleh Oh Sehun. Hyemi tiba-tiba menepuk pipinya pelan untuk menyadarkannya diri dari lamunannya. Setelah itu ia melihat punggung Sehun yang mulai mendekat ke arah Chanyeol dan menawarkan minuman soda yang dipegangnya itu pada Chanyeol. Terlihat Chanyeol menolaknya minuman soda itu secara halus dan justru malah melemparkan pandangannya ke arah Hyemi.

Hyemi sadar kalau tatapan Chanyeol sekarang mengarah padanya. Tatapan Chanyeol tajam dan menerawang., seolah ada yang ingin dia ketahui dalam diri Hyemi.

Hyemi mebulatkan matanya begitu pandangan Chanyeol dirasa cukup mengganggu, Hyemi seolah mengatakan dengan tatapan matanya, tentang apa yang sedang dilihat Chanyeol dari dirinya. Hyemi memang tidak suka kalau harus dipandangi oleh orang lain terlalu lama seperti ini, apalagi oleh orang yang saat ini ingin ia hindari.

‘Atap,’ Chanyeol mengatakan itu tanpa suara ke arah Hyemi.

Butuh beberapa detik untuk memahami apa yang dikatakan Chanyeol padanya. Hyemi sempat berpikir kalau itu bukanlah hal yang baik untuk mengajaknya ke atap sekolah di waktu seperti ini, matahari sebentar lagi akan tenggelam. Juga bukan perkara yang bagus untuk menemui Chanyeol ketika pengumuman juara musik festival telah diumumkan beberapa jam yang lalu. Sebisa mungkin Hyemi ingin menghindari namja itu, tapi itu bukanlah hal yang mudah. Sama seperti saat ini, bahkan ketika ia memutuskan untuk kembali membantu kafe kelas A1 dengan beranggapan kalau Exo tidak akan menyukai kafe yang membosankan seperti kelasnya ini sehingga untuk sementara waktu Hyemi bisa menghindari mereka ternyata salah besar. Dugaannya meleset. Exo malah terlihat sangat antusias dengan kegiatan kelas, bahkan hingga membantu kelas dengan menjadi pelayan seperti sekarang ini.

Benar-benar diluar dugaan Hyemi.

***

HYEMI POV

Aku berjalan gontai menaiki tangga sekolah yang kian lama terlihat menakutkan di saat seperti ini. Tidak, bukan hantu yang ku takutkan, tapi hal yang menungguku di atas sana. Ya, mimpi buruk yang akan menimpa diriku, aah, itu bukan sebuah mimpi. Tapi kenyataan pahit yang akan menimpaku sesaat lagi. Sekarang hari mulai gelap, penerangan yang ada ditempatku ku sana ini hanyalah bergantung pada lampu neon yang terlihat semakin redup saja, mungkin sudah lama tidak ada yang menggantinya.

Sebenarnya aku bisa saja kabur dari situasi ini, ya, situasi yang sebenarnya tidak ingin ku hadapi. Tapi, aku Hyemi, aku bukanlah seseorang yang akan menghianati apa yang sudah ku katakan. Harga diriku tidak serendah itu. Aku bukanlah seseorang yang akan mundur hanya karena kekalahanku. Meskipun kekalahan bukanlah hal yang ku suka.

Aku mendekatkan diriku ke pintu besi yang terletak di ujung anak tangga yang saat ini ku pijak. Aku mendorong pintu itu dengan satu gerakan. Angin menampar wajahku begitu pintu itu terbuka, rambutku bahkan juga dimainkan olehnya. Aku langsung mengepal tanganku dan meletakannya di saku jaket. Tak kusangka, berada di atap pada waktu seperti ini bisa membuat tubuhku menggigil. Untung saja aku sudah memakai jaket.

“Kau lama sekali.”

Aku menggigit bibir bawahku pelan begitu mendengar suara itu. Bahkan gaya bicara juga terlihat menyebalkan. Membuat emosiku naik secara tiba-tiba. “Sudah bagus aku datang,” ucapku dengan nada yang sama sekali tidak ramah. “Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”

Aku melihat namja dihadapanku saat ini tersenyum kecil. Dia kemudian membalikan badannya dan mulai memperhatikan jalanan sekolah dengan tatapan menerawang. Tanpa sadar aku mendekat ke arahnya, mengikuti apa yang tengah ia lakukan. Ternyata pemandangan dari atap untuk festival sekolah tahun ini tidaklah buruk, bahkan ini terlihat indah.

Aku bisa melihat halaman sekolah yang mulai dipadati banyak orang dengan sebuah api unggun yang baru saja dinyalakan. Ah, rasanya aku ingin sekali berada di antara kerumuan orang itu, menghangatkan diri diantara api anggun itu dan menari bersama layaknya di perkemahan. Itu pasti menyenangkan. Tapi, yang ku lakukan malah seperti ini, terjebak di atap dengan seorang namja yang sama sekali tidak ku pahami. Dia bisa menjadi orang yang menyenangkan dan paling menyebalkan terhadapku. Aku bahkan sempat berpikir, jangan-jangan ada dua kepribadian dalam tubuhnya itu. Aah, tapi itu hanya pikiran konyolku saja, itu pasti tidak mungkin terjadi. Dia bersikap seperti hanya karena ingin mempermainkanku saja. Dia itu, Park Chanyeol, sudah jelas alasan dia bersikap seperti itu.

Aku sekarang melihat Chanyeol menengadah. Ia seperti sedang memperhatikan langit yang telah gelap dengan sangat antusias. Padahal menurutku, itu bukanlah pemandangan yang menarik, ya, maksudku langit benar-benar terlihat gelap. Bahkan tidak ada bintang yang menghiasinya, hanya ada sebuah bulan sabit yang tampak kesepian.

Seketika aku menghela nafas panjang. “Ayolah, Chanyeol,” ucapku sambil menoleh ke arah lawan bicaraku dengan tatapan yang tak sabaran. “Aku tidak ingin melewatkan acara pesta kembang api disini. Songyi telah menungguku di taman, bahkan ia telah menyiapkanku beberapa cemilan. Jadi, kau langsung bicara ke intinya saja. Oke?”

Chanyeol mengerutkan kening begitu aku menyelesaikan ucapanku. “Sebenarnya aku mengajakmu kesini karena aku ingin mendengar sesuatu darimu,” ucapnya sambil menggaruk tengkuknya perlahan. “Apa tidak ada yang ingin kau katakan tentang penampilanku barusan?”

“Mengatakan apa?” ucapku heran. “Bukankah seharusnya kau yang lebih dulu mengatakannya. Maksudku, kau kesini karena untuk menagih janjiku waktu itu kan. Kau sudah menang Chanyeol, jadi aku akan mengabulkan permintaanmu sesuai dengan janjiku itu. Kau puas?”

“Bukan tentang itu,” ucap Chanyeol sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Aah, tidak sebenarnya aku juga akan membahas itu, tapi nanti. Aku lebih ingin mengetahui pendapatmu tentang penampilanku barusan? Bagaimana menurutmu?”

Aku menatap Chanyeol dengan pandangan menerawang. Aku pikir Chanyeol kurang sehat saat ini, menanyakan pertanyaan seperti itu, memangnya apa pentingnya pendapatku tentang penampilannya barusan. “Kau terlihat sama saja,” ucapku terus terang. Ya, sejujurnya itulah yang ku lihat darinya saat ia berada di atas panggung. Terlihat seperti Chanyeol yang biasa ku kenal, penuh kejutan. “Aku hanya akan mengatakan itu. Jadi, sekarang kita beralih ke pembahasan yang ke dua. Apa permintaanmu?”

“Kau sepertinya tidak suka berbicara lama-lama denganku ya,” ucap Chanyeol lirih. Ya, apa yang diucapkan Chanyeol memang benar, aku memang tidak begitu menyukai diriku yang menghabiskan waktu bersamanya terlalu lama. Bagiku itu mengganggu, ya, meskipun tidak selalu seperti itu sih. “Ku pikir penampilanku tadi keren. Tapi, sepertinya kau tidak menyukainya ya. Sayang sekali.”

Aku melihat perubahan ekspresi Chanyeol yang mendadak muram, aku benar-benar tidak mengerti dengannya saat ini. “Lansung saja ke inti permasalahan,” ucaku tegas. “Kau jelaskan saja permintaanmu dengan cepat sebelum aku berubah pikiran untuk melarikan diri dari perjanjian konyol kita itu.”

Aku melihat senyuman tipis terlukis dibibir Chanyeol. “Ehm, kau sepertinya sudah siap sekali untuk mengabulkan permintaanku,” ucapnya sambil terkekeh pelan. “Sebenarnya permintaanku cukup sederhana. Aku mendapat gagasan ini ketika aku berkunjung ke kelas, dan kurasa, ini akan menjadi hal yang menyenangkan.”

“Apa yang kau bicarakan?”

Aku melihat Chanyeol menatap tajam ke arahku. Tak biasanya ia menatapku dengan tatapan itu. Sedetik kemudian ekspresi seriusannya itu berubah dengan sebuah cengiran. “Ehm, hanjang, aku hanya ingin hal sederhana untuk kau kabulkan,” ucapnya penuh penekanan di akhir kalimatnya barusan. “Aku ingin kau menjadi pelayan pribadaku selama satu minggu. Bagaimana? Bukankah ini hebat? Kau tidak akan bisa menolaknya kan?”

Aku membulatkan mata begitu mendengar ucapan Chanyeol. Mulutku bahkan tanpa sadar sedikit terbuka saking terkejutnya. “Pelayan pribadi?” ucapku terbata-terbata karena efek dari keterkejutanku. “Apa alasannya?”

Lagi-lagi aku melihat Chanyeol tersenyum. Ia melontarkan kalimatnya yang ku rasa itu meliki makna yang dalam untukku. Tapi, aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkannya. Tepat saat ia bicara, sebuah kembang api melunjur cepat ke langit. Bunyinya cukup bising yang mengakibatkan suara Chanyeol tertelan begitu saja. Namun sepertinya ia tidak memperdulikan hal itu, ia malah terlihat sangat bersyukur karena perkataanya tidak didengar olehku. Ia nampak seperti orang yang salah berucap.

Setelah itu, ku pikir, kehidupaku yang tenang akan lenyap sesaat lagi karena hal ini.

***

-TBC-

Hayoo, gimana niih pendapat kalian tentang part ini? Jangan lupa tulis kritik dan saranya yaa..

Terima kasih untuk kalian semua yang telah menyempatkan waktu untuk membaca FF ku ini. See you ini next chapter..~

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Story Only I Didn’t Know (Chapter 5)”

  1. Kerenn~ thor! Semoga chapter selanjutnya dan selanjutnya lagi makin banyak adegan hyemi sama chanyeol yang bisa bikin aku senyum2 sendiri dan dia mulai punya perasaan sama chanyeol melebihi perasaannya sama sehun,dan konfliknya jangan terlalu rumit yaa. Next ya thor,jangan lama2~~ *mian aku maksa,hehehe*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s