[EXOFFI FREELANCE] 12 SHAPES OF LOVE – with Kai

m6am98w2eg79qeriva3k

12 SHAPES OF LOVE – with Kai

Author:
@hanalorenqk

Length:
One Shot

Genre:
Romance, sad

Rating:
PG-15

Casts:
Kai / Kim Kai
Im Jangmi (OC)

Disclaimer:
Anyeonghasseyeo! Terimakasih sudah singgah ke 12 Shapes of Love, sebelumnya author uda nulis cerita The Archilles, One Last Time, dan One Two Three Four. Baru-baru ini author juga lagi aktif di blog baru author, hellokpopers.wordpress.com à mampir yaahhh…
Kemarin author uda pos episode pertama 12 Shapes of Love special Luhan. Kali ini, di episode kedua ada Kai yang bakalan punya cerita cinta yang gimana ya kira-kira? Cekidot ya…

“Aku ingin menjadi pria yang bisa membuat hidupmu bahagia… walaupun itu hanya selama satu tahun… setengah tahun… satu bulan… satu hari… bahkan satu detik pun, aku ingin membuatmu merasakan cintaku yang benar-benar tulus padamu…”

AN ANGEL FROM THE HEAVEN

“Kai! Ireona! Kita sudah sampai…”

Pemuda berkulit cokelat yang tertidur di kursi sebelah pengemudi pun terbangun. Ia mengucek-ngucek matanya sambil menyadarkan dirinya yang sudah tertidur hampir tiga jam. Tak disangka, terakhir kali dia tersadar ia masih melihat pemandangan perkotaan di luar jendela tapi sekarang, pemandangan alam menyambutnya. Hamparan kebun teh tersusun rapi di sepanjang jalan membuat wajah pemuda berusia dua puluh empat tahun itu melebar senang. Beoseong, mereka telah sampai.
“Jadi ini pondok sederhana yang kau maksudkan, hyung?”
Kim Minseok, pemuda yang menyetir tadi tertawa menanggapi pertanyaan Kai. Tentu saja pondok sederhana yang ia maksudkan bukanlah pondok kumuh seperti yang mungkin terlintas di pikiran Kai. Pondok sederhana yang dimaksudkan Minseok adalah sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh taman, di sanalah Kai dan Minseok akan tinggal mulai saat ini.

“Aku tidak sabar ingin berkeliling…” gumam Kai lalu membantu Minseok menurunkan satu per satu barang bawaan mereka dan memindahkannya ke dalam rumah.
******
Kai membentangkan kedua tangannya merasakan sejuknya udara Beoseong. Hatinya terasa tenang, nyaman dan damai. Tidak ada suara kendaraan lagi, tidak ada kemacetan lagi, dan yang jelas, tidak ada club malam lagi yang bisa menggodanya untuk membuang waktunya yang berharga di sana. Kai memandang pemandangan perkebunan teh yang begitu indah dari teras lantai dua rumah barunya. Seluruh perkebunan itu adalah milik ayahnya, lebih tepatnya lagi milik Kai sekarang.
Seminggu yang lalu, ayah Kai, Kim Jungmin telah meninggal dunia. Sebagai putra kesayangan, Kai mewarisi hampir seluruh asset ayahnya yang kaya raya, termasuk puluhan hektar perkebunan teh di hadapannya saat ini. Kai memutuskan untuk mengurus perkebunan teh dan meninggalkan perusahaan keluarganya di Seoul kepada sang kakak, Kim Jung-ah. Dan inilah yang akan dilakukan Kai mulai detik ini. Mengurus perkembangan pabrik teh di Beoseong yang kemudian di operkan ke kakaknya di kota untuk dipasarkan.

“Noonaaa!!! Cepatlaah kemariii!” teriak seorang anak kecil dari tengah perkebunan teh.

Perhatian Kai kemudian teralih ke sekelompok anak-anak yang sedang bermain di tengah kebun teh miliknya. Kurang lebih enam orang anak-anak berusia enam sampai dua belas tahun sedang berlarian di sana. Sementara itu, di belakang mereka, seorang gadis sedang berusaha mengejar anak-anak itu.

“Eoh?” gumam Kai. Tiba-tiba ia diam mematung saat melihat sosok gadis yang ada di sana. Gadis berambut cokelat tua dan tergerai panjang, kulitnya putih halus, dan ia mengenakan mini dress bermotif bunga-bunga. Ia sedang tertawa riang bersama anak-anak itu. Dalam hatinya, Kai sedang memuja betapa cantiknya gadis itu. Apalagi keceriaan yang terkesan begitu tulus yang terpancar dari wajah gadis itu. Kai memang sudah bertemu dengan gadis-gadis cantik selama dua puluh empat tahun terakhir. Tapi sungguh, dia belum pernah menemukan yang cantiknya begitu mempesona seperti gadis itu.

“Kai ya… apa yang kau lakukan?” suara Minseok tiba-tiba memecahkan lamunan Kai.

“A…aniyo… hanya melihat pemandangan saja…” jawab Kai gugup.

Minseok mengeryitkan dahinya meragukan jawaban Kai. Dia sudah sangat mengenal adik sepupunya yang satu ini. Sudah pasti Kai tidak hanya melihat pemandangan. Gumamnya dalam hati.

“Haha… aku menemukan seorang malaikat…” seru Kai melirik ke perkebunan.

“Aiishh, dasar playboy! Bukankah kau sedang memikirkan pacarmu yang ada di Seoul?” goda Minseok.

“Siapa yang bilang!” protes Kai kesal. “Lagipula, hubungan kami sudah berakhir semalam. Dia mengatakan tidak akan menghubungiku lagi, ya, kurasa itu lebih baik… ”

“Ck! Kita lihat seberapa tahan dirimu di sini tanpa gadis-gadismu itu! Khaja! Lupakan malaikatmu itu, mereka sudah menyiapkan makan siang untuk kita…”

Minseok merangkul Kai dan menariknya masuk. Sementara Kai masih berusaha melirik ke arah perkebunan untuk melihat kembali gadis tadi. Ya, gadis yang ia katakan sebagai seorang malaikat. Sayangnya, gadis itu sudah tidak ada lagi di sana, begitu pula dengan anak-anak yang bersamanya.
[ Keesokan harinya… ]
“Nah, ini dia Tuan Im, mandor kepercayaan ayahmu, Kai…”

Kai menundukkan badannya memberi salam kepada seorang pria yang usianya kira-kira lima puluhan tahun, Im Jaehyung. Puluhan tahun sudah Im Jaehyung, seorang warga asli Beoseong bekerja sebagai mandor perkebunan teh milik keluarga Kai.

“Aigoo… kau sudah setampan ini, Kim Jong-in? Terakhir kali ayahmu membawamu bermain ke sini, kau masih… ya, kira-kira sebesar ini…” Tuan Im menunduk dan memperlihatkan sekecil apa dulu Kai saat ia melihatnya. Kai hanya tersenyum dan berusaha mengingat apa dia pernah bertemu dengan Tuan Im atau tidak. Dia memang pernah ke Beoseong saat berusia lima tahun. Tapi sejak saat itu, dia tak pernah lagi ke sini. Itu sudah belasan tahun yang lalu. Wajar saja jika Kai lupa dengan Tuan Im.

“Ahh, aku akan memperkenalkanmu dengan putriku yang juga bekerja di perkebunan teh ini…” seru Tuan Im. “Jangmi-ya…”

“Ne…” jawab seseorang dari dalam rumah Tuan Im.

Seorang gadis muda pun keluar dari rumah Tuan Im. Kai tercengang melihat sosok putri Tuan Im. Kai pernah melihatnya. Ya, tepatnya kemarin. Dia adalah gadis yang bermain bersama anak-anak di kebun teh depan rumah baru Kai.

“Jangmi-ya… ayah ingin memperkenalkanmu pada putra kesayangan Tuan Kim, Kim Kai… dan juga keponakan Tuan Kim, Kim Minseok…”

“Anyeonghasseyo… joneun Im Jangmi-imnida…” sapa Jangmi dengan lembut kepada Kai dan Minseok.

“Woah, yeppodda…” puji Minseok. Ia kemudian melirik ke Kai yang terdiam menatap Jangmi. “Ckck, sampai-sampai sepupuku yang satu ini tak mengedipkan matanya…”

Jangmi tersenyum melihat Kai yang diam menatapnya. Kai pun mengulurkan tangannya, “Aku Kim Jong-in, tapi orang biasa memanggilku Kai…”

“Pangapsimnida, Kai-ssi…” sapa Jangmi menyalami Kai.

“Apa yang kau kerjakan di perkebunan ini?”

“Eung… banyak…” jawab Jangmi lembut. Ia dan Kai sedang berjalan di sekitar perkebunan sementara Minseok dan Tuan Im membicarakan bisnis di dalam rumah. “Aku membantu appa mengecek kesehatan daun-daun teh yang ada di sini…”

“Semuanya?”

“Eung…”

Kai menggaruk kepalanya saat obrolan mereka tiba-tiba menjadi hening. Entah kenapa Kai merasa sangat gugup di hadapan Jangmi. Kecantikannya, kelembutannya, serta semua aura yang terpancar dari Jangmi sepertinya sudah membuat Kai lupa segalanya. Ia bahkan lebih memilih mengobrol dengan Jangmi daripada mendengarkan proyek yang akan ia kerjakan bersama dengan Minseok dan Tuan Im.

“Apa ini pertama kalinya kau datang ke Beoseong?”

“Aniyeo. Aku pernah datang ke sini bersama ayahku saat aku berusia lima tahun. Setelah itu, aku tak pernah lagi ke sini…”

“Ahh, jadi kau pasti belum pernah datang ke danau yang ada di sini kan?”

“Danau?”

“Aku akan membawamu ke sana…” Jangmi tiba-tiba menarik tangan Kai, membuat aliran darah Kai berdesir cepat karena bersentuhan lagi dengan gadis itu. Menyadari Kai yang kaget Jangmi pun segera melepaskan tangannya dengan canggung. “Ah, maafkan aku…”

“Gwaencanhaa…” gumam Kai gugup. Ia pun mengikuti Jangmi menuju ke danau yang akan diperkenalkan Jangmi kepadanya.
******

“Tadaa… inilah danau kebanggaan Beoseong…”

Kai lagi-lagi dipukaukan oleh pemandangan yang tak bisa ia lihat di perkotaan selama ini. Di hadapannya, sebuah danau luas dengan airnya yang putih jernih. Di sekitarnya, hamparan padang rumput hijau di mana tampak beberapa anak-anak sedang asyik bermain di sana. Pemandangan yang membuat Kai menganga lebar karena terpukau. Sungguh, Kai tidak menyesal jika harus menghabiskan masa tuanya di tempat yang indah seperti ini.

“Noonaaa!!” teriak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang berlari menghampiri Jangmi dan Kai.

“Eoh? Joon-ah!!!” panggil Jangmi melambaikan tangannya.

“Noona, kau harus ikut bersama kami. Kami menemukan seekor hewan peliharaan baru yang sangat lucu… khaja!” anak bernama Joon itu pun segera menarik Jangmi pergi. Sementara Kai tetap mengikutinya dari belakang.

“Omo!” seru Jangmi saat menemukan seekor hewan lucu yang sedang dikelilingi teman-teman kecilnya. “Kyeoyeo wo…”

Jangmi pun menggendong seekor kelinci putih yang ditemukan mereka. Ia menunjukkannya ke Kai dan Kai mengulurkan tangannya membelai kepala kelinci lucu itu.

“Noona, siapa ajjussi ini?” bisik seorang anak perempuan.

“Ahh, aku lupa. Dia Kai, teman baruku,” jawab Jangmi memperkenalkan Kai secara singkat. Kai membungkukkan badannya dan tersenyum ke salah satu anak yang tubuhnya paling kecil, lalu membelai kepalanya. Kai ssi, mereka adalah teman-temanku di sini. Dia Park Joon, yang paling tua, dan Hong Minah, yang paling muda,”

“Anyeong…” tegur Kai sambil mencubit pipi Minah.

“Lalu dia Nam Bora, Go Hara, Kim Myungsoo, dan Lee Gwangsoo…”

“Dia tampan…” bisik salah satu di antara mereka. Kai dan Jangmi yang mendengarnya hanya tertawa.

“Apa ajjussi bisa bermain petak umpet?” tanya Hong Minah yang menggandeng tangan Jangmi.

Kai mengangguk, “Eung…”

“Apa ajjussi mau bermain bersama kami?” tanyanya lagi.

Kai melirik Jangmi. “Kau harus menyelesaikan urusanmu dengan appa kan?” tanya Jangmi.

“Tidak masalah. Aku punya hyung yang bisa kuandalkan…” jawab Kai santai. “Nah, jadi… sekarang siapa yang akan menjaga benteng?”

“Jangmi noonnaaa!!!” teriak Kim Myungsoo mengagetkan Jangmi. Minah yang menggandeng Jangmi pun melepaskan tangannya dari Jangmi dan menarik Kai pergi. Anak-anak itu bubar untuk mulai mencari tempat persembunyian, begitu pula dengan Kai yang tampak sangat senang dengan teman-teman barunya.

“Yaa!! Ini tidak adil…” teriak Jangmi kesal.

Sejak saat itu, hubungan antara Kai dan Jangmi pun semakin dekat. Di luar pekerjaan menyangkut perkebunan teh milik keluarga Kai, keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Tak jarang pula Kai bermain bersama dengan anak-anak yang tinggal di sekitar kebun teh tersebut. Dia tak peduli dengan Minseok yang sering mengatai masa kecilnya kurang bahagia tapi baginya, yang terpenting adalah dia bisa melihat Jangmi. Ya, Kai memang telah jatuh cinta pada Jangmi sejak pandangan pertama.
********

“Ya, aku sudah mengeceknya. Kau benar, beberapa yang ada di sini memang kurang subur…” kata Kai saat ia menelepon seseorang.

“Aku akan memesan pupuk tambahan ke kantor pusat. Kau cepatlah pulang. Sepertinya akan hujan…”

Kai pun mematikan telepon dari Minseok. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit yang mulai gelap. Kai harus segera pulang ke rumahnya sebelum hujan turun. Sayangnya, begitu ia mulai melangkah keluar dari perkebunan, ia merasakan tetes-tetes air membasahi bajunya.

“Aiisshh, chegiral!” seru Kai kesal berusaha menutupi kepalanya dengan tangannya. Namun, langkah Kai tiba-tiba berhenti saat ia melihat seseorang berdiri dari jauh. Seseorang sedang tersenyum ke arahnya sambil membawa payung. Im Jangmi.
.
.
.
.

“Aiishh, jinjja! Hujannya benar-benar menyebalkan!” gerutu Kai saat mereka berteduh di sebuah pondok kecil yang ada di tengah kebun teh. Rumah Kai letaknya cukup jauh, sementara hujan semakin lebat. Payung yang dibawa Jangmi tidak cukup besar untuk mereka berdua sehingga keduanya memutuskan untuk berteduh.

“Resiko tinggal di Beoseong…” gumam Jangmi. “Di sini memang sering hujan…”

“Apa kau tidak kedinginan? Bajumu basah…”

“Na gwaencanha…”

Kai membuka cardigan yang ia kenakan dan menutupi tubuh Jangmi yang terlihat mulai menggigil. Untuk pertama kalinya, Kai sedekat ini dengan Jangmi. Kai terdiam kembali karena wajah Jangmi yang membuat hatinya bergetar. Ia menatap ke bibir tipis Jangmi yang selama ini selalu dihiasi dengan senyuman termanis yang pernah ditemui Kai. Perlahan, Kai mulai mengangkat tangannya membelai pipi halus Jangmi. Kepalanya mendekat ke wajah Jangmi. Menyadari dengan apa yang akan dilakukan Kai padanya, Jangmi memejamkan matanya dan kemudian, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

“Eoh?” Jangmi tiba-tiba melepaskan ciuman Kai saat menyadari sesuatu.

Kai membelalakkan matanya melihat apa yang dilihatnya. Cairan berwarna merah mengotori hidung Jangmi dan juga hidungnya. Jangmi segera menutupi hidungnya dengan kedua tangannya. Ia sungguh panik dengan mimisan yang tiba-tiba terjadi padanya.

“Jangmi-ya… neo gwaencanha, eoh?” tanya Kai panik.

Jangmi menggeleng cepat karena kepanikan yang ia rasakan. “A…aku harus pergi…” kata Jangmi lalu keluar dari pondok itu meninggalkan Kai sendirian.

“Im Jangmi!” teriak Kai yang ingin mengejar Jangmi namun sesuatu menghentikan langkahnya. Ia meraba hidung dan bibirnya yang terkena darah mimisan Jangmi saat mereka berciuman tadi. Kenapa Jangmi tiba-tiba mimisan? Itulah pertanyaan yang terlintas di kepala Kai, yang membuatnya begitu khawatir.
*******
Kai menarik nafas kecewa saat ia lagi-lagi gagal menemui Jangmi. Sudah beberapa hari ini sejak kejadian saat itu, Kai tak pernah lagi bertemu Jangmi. Hampir setiap hari Kai mendatangi rumah serta tempat-tempat yang biasa dikunjungi Jangmi, tapi gadis itu seakan-akan menghilang entah ke mana.
Hingga pada suatu hari …
“Mworagu? Hyung bilang Tuan Im mengundurkan diri menjadi mandor di perusahaan kita?” seru Kai dengan suara yang memecahkan keheningan rumah mereka.

“Aku tidak tahu apa alasannya. Dia tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan kalau dia harus melakukan sesuatu yang lebih penting daripada mengurus perkebunan,”

“Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?”

“Mollaso. Kurasa dia akan menemuimu juga… “

Kai terdiam. Ini terasa aneh. Jangmi menghilang. Dan tiba-tiba Tuan Im, ayahnya mengundurkan diri dari perusahaan mereka. Apa mereka sengaja ingin menghindar dari Kai? Pikiran negative ini tiba-tiba muncul di pikiran Kai.

“Apa kau belum menemukan Jangmi?”

Kai menggeleng. “Kurasa kenapa Tuan Im mengundurkan diri ada kaitannya dengan Jangmi…”

“Aku harap hal ini tidak memutuskan semangatmu mengurus perkebunan ini. Aku tahu kau sudah jatuh cinta pada gadis itu, tapi bukankah kau memang mudah jatuh cinta dan mudah melupakannya juga?”

“…”

“Dua puluh menit lagi mandor pengganti Tuan Im akan datang. Bersiaplah… kita harus menjelaskan proyek kita dari awal lagi… ”
*******
Mandor yang menggantikan Tuan Im adalah seorang pemuda yang cukup mudah. Ia bernama Park Shindong, usianya empat puluh tahun dan dia adalah lulusan pertanian Cambridge. Kai saja sempat heran bagaimana Minseok menemukan orang sehebat dan secepat ini. dan ternyata, Park Shindong masih memiliki hubungan darah dengan Tuan Im. Tuan Im sendiri yang mengusulkan agar adik iparnya itu yang menggantikannya.

“Aku sudah pernah mengurus perkebunan teh yang ada di Indonesia, ahh… aku lupa nama wilayahnya tapi perkebunan di sana cukup subur dan terkenal…”

“Ya, kami harap kau bisa bekerja sebaik Tuan Im…” kata Minseok.

“Ng, Tuan Park, apa kau tahu apa yang membuat Tuan Im tiba-tiba ingin berhenti bekerja?” tanya Kai.

“Dia tidak memberitahu kalian?”

Minseok dan Kai mengangguk kompak.

“Ck, putrinya sedang sakit keras…”

“Mwo?”

“Kanker otak. Ya, putrinya terkena kanker otak dan sudah memasuki stadium terakhir. Kurasa kakak iparku itu hanya ingin menghabiskan waktu bersama putrinya itu…”

Deg!

Kai terbelalak kaget dengan apa yang didengarnya saat ini. Putrinya? Apa dia Im Jangmi? Tentu saja. Putri satu-satunya Tuan Im hanya Im Jangmi kan?
*******

Kai terdiam menatap sekelompok anak-anak yang sedang bermain di sekitar perkebunan teh. Pemandangannya yang sama seperti saat pertama kali Kai tiba di sini. Dan, yang membuat Kai semakin mematung adalah seorang gadis yang sedang tertawa bahagia di sana.

Dia Im Jangmi. Ya, dia memang sudah kembali menunjukkan dirinya sejak Kai berhenti mencarinya. Kai begitu merindukan gadis itu. Tapi entah kenapa Kai hanya bisa diam dan melihatnya dari jauh. Apalagi saat Kai kembali mengingat tentang kondisi Jangmi yang sesungguhnya saat ini.

“Noo…noona?” teriak Park Joon dari sana.

Kai menoleh dan melihat Jangmi sudah tidak berada lagi di sana. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan anak-anak itu yang membuat Kai akhirnya beranjak dari tempat ia berdiri.
“Kau sudah tahu kondisi Jangmi seperti apa?”

“Ne…” jawab Kai gugup.

Kai sedang berada di ruang tamu rumah Jangmi saat ini. Beberapa waktu yang lalu, Kai menemukan Jangmi jatuh pingsan di perkebunan.

“Inilah alasan kenapa aku ingin berhenti bekerja. Aku hanya ingin menemani putriku satu-satunya melewati masa sulitnya karena sakit…”

“Kenapa kau tak membawanya ke Seoul? Rumah sakit saat ini sudah sangat canggih kan? Mereka pasti bisa menyembuhkan Jangmi dan…”

“Dokter sudah memvonis usia Jangmi, Kai aa. Dia hanya memiliki sisa usia selama kurang lebih satu tahun…”

“Ne?” Kai tercengang mendengar perkataan Tuan Im. Tuan Im sendiri mulai terbawa perasaan dan matanya berkaca-kaca karena sedih.

“Aku tidak tahu kenapa penyakit mematikan ini harus dialami Jangmi…” keluh Tuan Im sambil menangis. “Dia adalah seorang gadis yang baik, dia tidak pernah menyakiti siapapun… tapi, kenapa Tuhan memberikannya kepadaku jika dia akan diambil kembali dariku…”

Kai bisa merasakan matanya mulai basah mendengar keluhan dari Tuan Im. Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakannya. Gadis sebaik Jangmi tidak seharusnya menderita karena penyakit mematikan yang akan merenggut nyawanya.
“Kau bisa pulang sekarang, Kim Kai…” seru Jangmi saat Kai baru masuk ke dalam kamarnya.

“Aku masih ingin mengobrol denganmu…”

“Aku tidak mau…” bentak Jangmi pelan lalu membalikkan badannya membelakangi Kai.

“Tidak ada alasan kau tidak mau mengobrol denganku kan?”

Jangmi terdiam. Dia merasakan seseorang menduduki tempat tidurnya. Sepertinya kali ini dia tidak bisa lagi menghindar dari Kai.

“Jangan buang-buang waktumu hanya untuk bersama dengan gadis yang sebentar lagi akan meninggalkanmu…” kata Jangmi pelan. Nadanya terdengar lirih. Dia pasti sedang menangis sekarang.

“Haha… kau tahu, aku sudah sering membuang-buang waktuku. Jadi membuang-buang waktu adalah salah satu hobbyku sekarang…”

“Aku tahu kau hanya sedang menunjukkan rasa kasihanmu padaku …”

“Aku adalah tipe orang yang tidak mudah kasihan pada orang lain. Tapi aku adalah tipe orang yang berbicara apa adanya… “ elak Kai dengan yakin, membuat Jangmi terdiam.

“Jangmi-ya… izinkan aku untuk menjadi temanmu… kali ini saja…”

Jangmi memejamkan matanya, dan di saat itulah butiran air matanya kembali menetes. Beberapa saat kemudian, Kai bisa melihat Jangmi yang menggerakkan kepalanya, mengangguk sebagai tanda, jika mulai detik ini mereka kembali berteman.
[ Tiga bulan kemudian… ]
“Woaa… kalian membesarkannya dengan sangat baik, eoh?” seru Jangmi saat ia melihat kembali kelinci yang ditemukan oleh anak-anak beberapa bulan yang lalu.

“Eung, Kai ajjussi membantu kami merawatnya…” seru Minah.

“Ahh, ngomong-ngomong di mana Kai ajjussi?” tanya Jangmi. Kai yang mengantarnya ke sini tapi kenapa pemuda itu tiba-tiba menghilang.

“Di sanaa!!” teriak Minah.

Jangmi berbalik. Kai sedang berjalan menghampirinya sambil membawa sekelompok anak-anak yang membawa balon warna-warni. Di belakang tangannya, Kai seperti menyembunyikan sesuatu yang ia siapkan untuk Jangmi.

“Mwoya?” gumam Jangmi bingung.

Kai tersenyum kepadanya dan meraih tangan Jangmi dengan lembut. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ia sembunyikan dan meletakkannya di atas tangan Jangmi. Jangmi membuka kotak itu, dan ia terkejut saat mengetahui isinya adalah sebuah cincin.

“Menikahlah denganku, Jangmi-ya…”

Deg!

Jangmi begitu tak percaya dengan perkataan Kai barusan. Ia menatap wajah Kai yang terlihat sangat serius. Ia juga melirik ke anak-anak yang datang membawakan balon warna-warni seakan-akan mendukung aksi lamaran Kai saat ini.

“Kai ya…” panggil Jangmi dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku tidak peduli bagaimana kondisimu saat ini, Jangmi-ya. Yang kutahu, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu”

“…”

“Aku ingin menjadi pria yang bisa membuat hidupmu bahagia… walaupun itu hanya selama satu tahun… setengah tahun… satu bulan… bahkan… satu hari pun, aku ingin membuatmu merasakan cintaku yang benar-benar tulus padamu…”

Jangmi memandang wajah Kai dengan airmata yang mengalir membasahi pipinya yang pucat. Jangmi bisa melihat dengan jelas setulus apa pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Kai adalah pemuda pertama yang hadir mengisi kehidupan Jangmi, sekaligus cinta pertama yang pernah Jangmi rasakan.

“Kau ingin membuatku bahagia… tapi apa kau sadar, kau bisa menjadi satu-satunya orang yang tidak bahagia karena… suatu saat aku akan meninggalkanmu…”

“Cinta senang melihat orang yang dicintai bahagia, Jangmi-ya… aku bahagia jika kau bahagia. Itulah cinta yang sesungguhnya… “

“…”

“Menikahlah denganku,” Kai menggenggam tangan Jangmi erat. “Dan kita akan hidup bersama… kita akan memiliki anak yang memanggilmu eomma dan memanggilku appa… kau akan memakaikanku dasi di saat aku akan berangkat bekerja… kita akan mengurus kebun teh ini dan… apa kau mau aku menunjukkan list hal-hal yang ingin aku lakukan bersamamu?”

Jangmi tersenyum. Ia menunduk dan menarik nafas panjang. Lalu kembali menatap wajah tampan Kai. Jangmi pun menganggukkan kepalanya. Terdengar teriakan anak-anak yang terlihat senang dengan jawaban Jangmi. Kai pun menarik Jangmi ke pelukannya. Sungguh saat ini, hatinya benar-benar bahagia.

Lantunan piano mengiringi langkah Im Jangmi memasuki gereja kecil yang ada di Beoseong. Balutan gaun pengantin berwarna serba putih membuatnya tampil seperti layaknya seorang bidadari yang baru turun dari surga. Benar, bagi Kai, Jangmi memang sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan ke dunia untuknya. Yang hari ini, akan menjadi milik Kai seutuhnya.

Kai berbalik menyambut pengantinnya yang hampir tiba ke meja pemberkatan. Tuan Im terlihat yang paling bahagia berada di sisi putrinya. Sampai akhirnya, ia membawa putri kesayangannya itu ke hadapan pemuda yang berjanji akan membahagiakannya.

“Aku percaya kau akan membahagiakan putriku, Kim Jong-in…”

Kai menundukkan badannya ke Tuan Im, lalu menatap ke Jangmi yang tersenyum padanya. Ia benar-benar cantik saat ini. Sekalipun kondisi kesehatan Jangmi yang semakin menurun. Membuat gadis itu tampak semakin kurus dan pucat. Tapi bagi Kai, Jangmi tetap wanita tercantik yang pernah ada.

Di sisi lain, tak banyak orang yang hadir di pemberkatan nikah Jangmi dan Kai. Kim Minseok berdiri di barisan terdepan, dan dengan mata yang berkaca-kaca ia menyaksikan pernikahan sepupunya itu. Di belakangnya, anak-anak juga tampak senang melihat noona dan ajjussi kesayangan mereka telah bersatu.

“Kau sangat cantik hari ini, Jangmi-ya…” puji Kai lembut.

Jangmi tersenyum. Namun tiba-tiba ia memegang kepalanya, yang membuat Kai dan juga Tuan Im berubah khawatir.

“Kau tidak apa-apa?”

Jangmi menggeleng. Sekalipun sesungguhnya sakit di kepalanya terus menusuk dan membuatnya ingin menangis. Tapi hari ini adalah pernikahannya. Dia tidak ingin merusak moment bahagianya. Tak lama kemudian, pendeta pun meresmikan pernikahan Im Jangmi dan Kim Kai.
******

[ Satu tahun kemudian… ]
“Tada… kita berada di danau! Tepat seperti keinginanmu, Jangmi-ya…”

Kai memeluk wanita yang duduk lemas di atas kursi roda. Wanita yang telah kehilangan seluruh tenaganya karena direnggut penyakit mematikan yang telah dideritanya selama dua tahun terakhir. Jangmi saat ini bukanlah Im Jangmi yang cantik dan lincah seperti pertama kali Kai bertemu dengannya. Siapa saja yang melihat kondisi Jangmi saat ini, pasti akan sangat prihatin pada wanita itu. Tubuh Jangmi mengurus, rambut indahnya merontok habis dan tak menyisakan apapun di atas kepalanya. Wajah Jangmi pucat pasi, bibirnya mengering. Namun kondisinya itu tak menghilangkan sedikitpun keinginannya untuk bertahan hidup.

“Apa kau bahagia?” tanya Kai mengeluarkan senyumannya.

Jangmi mengangguk pelan. “Gomawo-yo…” kata Jangmi terbata-bata.

Kai mengecup dahi istrinya itu dengan lembut. Lalu duduk di sebelah kursi roda Jangmi dan keduanya pun menikmati pemandangan danau yang sangat dirindukan Jangmi. Akhir-akhir ini Jangmi hanya menghabiskan waktunya di atas tempat tidur karena kondisinya yang semakin lemah. Tapi kali ini, dia mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk mendatangi tempat kesukaannya sejak kecil. Di sini juga, kenangannya bersama dengan Kai satu per satu terbentuk.

“Jong… in…”

“Eoh?”

Jangmi menaikkan tangannya pelan dan segera Kai meraih tangan Jangmi. Jangmi menggenggam tangan Kai lalu membelai wajahnya. “Kau pernah bilang kalau aku adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukmu…” seru Jangmi sekuat tenaganya. “Itu salah. Bukan aku malaikatnya, tapi kau, Kai ya…”

“Sayang…” panggil Kai.

“Aku sangat bersyukur Tuhan mempertemukan kita,” potong Jangmi. “Aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan satu malaikatnya untuk membuatku bahagia, menemaniku menghabisi sisa usiaku yang singkat ini. Kau telah memenuhi janjimu, Kai aa… kau sungguh telah membuatku bahagia…”

Kai tersenyum. Setetes airmata mulai turun membasahi pipinya. Ia menarik nafas panjang berusaha untuk menahan rasa sesak di dadanya.

“Dan kau harus memenuhi satu janjimu lagi…” tambah Jangmi. “Jika aku pergi…”

“Hajima! Jangan mengucapkan hal yang sungguh tidak ingin aku dengar…”

Jangmi tersenyum, “Jika aku pergi, kau harus memenuhi janjimu untuk terus hidup bahagia, eoh? Kau boleh mencari wanita lain yang bisa menemani masa tuamu… kau bisa…”

“Hajima… kaulah yang akan menemani masa tuaku, Jangmi-ya…” kata Kai dengan lirih. Tangisannya mulai terpecah. Jangmi menggerakkan jarinya menyeka airmata pemuda yang ia cintai.

“Aku sangat ingin… tapi sayangnya aku tidak bisa…”

Selanjutnya, hanya terdengar isak tangis Kai.

“Kai ya… ada banyak hal yang belum kita lakukan,” keluh Jangmi. “Kau bilang kau ingin aku melahirkan seorang putri untukmu, kau ingin aku memakaikan dasimu saat kau akan berangkat bekerja, kau ingin aku, ahh… ada banyak sekali keinginanmu yang belum bisa aku penuhi… mianhae…”

Jangmi menengadahkan kepalanya ke atas. Ia menatap langit biru yang begitu indah. Ia memejamkan matanya, lalu tersenyum. Ia pun meraih tangan Kai lagi dan menggenggamnya erat. “Aku mencintaimu, Kai…”

Kai terus menangis di hadapan Jangmi yang tersenyum kepadanya. Jangmi menengadahkan kepalanya ke langit lagi. Lalu ia memejamkan matanya. Dan di saat itulah Kai merasakan genggaman tangan Jangmi melemas.

“Jangmi… jangmi-ya!” teriak Kai panik sambil terus mengguncang-guncangkan tubuh Jangmi. “Khajimaaaaaa!!!!!!” Kai menangis histeris. Berharap jika Jangmi hanya tertidur saja. Kai selalu takut jika hal seperti ini terjadi. Jangmi tertidur, dan tak bangun lagi. Itulah yang selalu dicemaskan Kai hampir di setiap ia bangun tidur. Namun, ternyata saat inilah, saat terakhir Im Jangmi. Jangmi telah menghembuskan nafas terakhirnya, tepat di saat ia tersenyum bahagia.

.
.
.
.
.
.
[ Enam tahun kemudian… ]
“Appa akan membawaku ke mana?”

“Appa ingin memperkenalkanmu pada seseorang…”

Kai menggandeng tangan seorang gadis kecil menuju ke sebuah taman yang ada di Beoseong. Sekalipun ia tahu kalau putri kecilnya itu pasti kelelahan setelah perjalanan panjang dari Seoul ke Beoseong. Tapi, sepertinya Kai sudah tidak sabar memperkenalkan putrinya pada seseorang.

Selama enam tahun terakhir Kai telah melanjutkan kehidupannya tanpa seorang Im Jangmi di sisinya. Ia berusaha memenuhi janjinya untuk terus hidup bahagia sekalipun itu sangat sulit. Menjalani hidup tanpa kehadiran seseorang yang kau cintai, bukankah itu sangat sukar?

Setelah meninggalnya Jangmi, Kai melanjutkan pekerjaannya di Beoseong namun tiga bulan kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Seoul. Ada banyak kenangan di sana yang bisa membunuh semangat Kai kapan saja. Minseok juga menyarankan agar Kai kembali ke kota. Biar dirinya yang mengurus perkebunan teh di Beoseong.

Lalu siapa gadis kecil yang dibawanya saat ini?

Dia adalah putri yang diangkat Kai. Tak sedikitpun Kai berniat untuk mencari pengganti Jangmi dan menikah lagi. Jangmi adalah cinta terakhirnya. Tapi, suatu hari saat Kai menemani salah satu kerabatnya mengunjungi panti sosial, Kai kembali jatuh cinta. Ya, dia jatuh cinta pada seorang bayi perempuan mungil yang berusia enam bulan. Kai pun mengangkat bayi itu menjadi putrinya, dan berhasil membesarkannya sendirian sampai bayi itu telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil cantik saat ini.

“Eoh? Bukankan ini pemakaman?” tanya gadis kecil itu dengan polos. Mereka berhenti di sebuah makam yang terlihat paling terawat di sana. “Woa… appa! Namanya sama seperti milikku…” teriak gadis kecil itu riang.

“Eung. Appa memberimu nama yang sama dengannya, karena appa begitu mencintaimu sama seperti appa mencintai dia,”

Kai berlutut dan meletakkan seikat bunga yang ia bawa ke atas makam Im Jangmi.

“Siapa dia, Appa?”

“Dia ibumu… seorang malaikat…”

“Ibuku seorang malaikat?”

“Eung, malaikat yang begitu appa cintai…”

Gadis kecil itu terdiam. Lalu membantu Kai membersihkan beberapa daun-daun kering yang mengotori makam Jangmi.

“Kau harus tumbuh seperti ibumu, eoh? Menjadi seorang wanita yang cantik, baik, lembut, dan selalu tersenyum… seperti seorang malaikat… ”

“Ne!” seru gadis itu dengan semangat.

“Sekarang, kita pulang, eoh? Paman Minseok pasti sudah tidak sabar bertemu denganmu, Jangmi-ya…”

Kai pun berdiri dan menggandeng pergi gadis kecil yang ia beri nama Kim Jangmi, malaikat kecilnya.
THE END

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] 12 SHAPES OF LOVE – with Kai”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s