Unfair (Chapter 3)

1

Jo Liyeol’s present

[https://joliyeol27.wordpress.com/]

©2016

.

Unfair

.

Casts: Kim Jongin | Do Kyungsoo | Pairing; KaiSoo

Other: Park Chanyeol | Byun Baekhyun | Oh Sehun | Huang Zi Tao | Kim Jongdae | Zhang Yi Xing

Genre: Drama, Romance, Family, School-life, Friend-ship, little bit hurt

Length: Chartered

Rate: T+ (for multiple languages)

Warning! : GS! (Only Kyungsoo), Bullying, Typo, AU, OOC (Maybe?)

Disclaimer : Tokoh milik Tuhan, orang tua dan Agensi mereka. Tapi cerita, plot, dan Chanyeol real milik Liyeol! =3=

.

.

Summary

Tak ada satu siswa pun yang mau bergaul dengan anak ter-bully satu sekolah. Terlebih anak-anak dari golongan kasta atas yang bernotabene siswa populer di sekolahnya, sekaligus biang dari adanya pem-bully-an yang terjadi. Tapi bagaimana jadinya jika siswa kasta atas nomor satu, mendapat hadiah ‘saudara tiri’ siswa terbully yang di anggap paling hina?

.

.

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!

DLDR! RnR!

Previous Chap : [1] [2]


What If


Seorang siswi dengan pakaian berantakan, serta rambut panjangnya yang berlumuran nasi dan sup (bahkan ada saus yang terlihat cantik tertata bak mahkota di puncak kepalanya. Seragam atas berwarna putihnya kusut dan kotor dengan berbagai noda terlukis di sana, sedangkan seragam bawahnya terlihat tak kalah rusak) tengah berdiri di ujung lorong yang terlihat sepi.

Hembusan angin menerpa wajah cantiknya yang selalu tenang. Bahkan dalam keadaan kelewat hancur seperti ini sama sekali tak sedikit pun melunturkan kecantikkan alaminya.

“Kyungsoo,” seseorang memanggil namanya, siswi itu menoleh kemudian tersenyum kala uluran tangan terarah kepadanya.

Mengulurkan sesaset sampo.

Kyungsoo. Siswi berusia delapan belas itu menerimanya.

“Bersihkan dirimu, pakai kamar mandi guru agar tidak ada yang melihat. Dan ini,” orang itu sengaja menggantungkan kalimat ketika mengangkat tangan kirinya, menyerahkan sebuah paper bag kearah Kyungsoo, “Seragammu.”

Kyungsoo kembali menerima pemberian orang itu, “Gomawo,” ucapnya dan kini sebuah sesenyuman terpasang di wajahnya; menambah kesan cantik di sana. Jeda beberapa detik sebelum ia kembali berujar, “Oppa.”

(o)

Jam menunjukkan pukul 07:43 KST.

Menandakan kurang dari 15 menit bel jam pelajaran pertama akan segera berbunyi.

Banyak siswa yang memilih menghabiskan waktu di luar kelas, namun beberapa lebih memilih berada di dalam.

Seperti halnya keempat siswa berprestasi nan tampan ini. Entah apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya hal itu benar-benar tidak menarik, terlihat jelas dari tanggapan malas dan seadanya dari masing-masing pemilik kepala. Ketika bunyi ‘buk’ terdengar, seketika keempatnya mengalihkan perhatian. Dan mereka dapati, seorang siswa berkulit tan duduk sembari menelungkupkan kepalanya yang mengarah ke jendela di atas lipatan tangan yang berada di atas tas miliknya.

Pemandangan yang berhasil membuat keempat siswa tadi saling pandang dengan alis berkerut, melempar tatapan bertanya dalam diam dengan mata masing-masing.

Hingga salah seorang dari mereka (siswa bertubuh paling pendek) memilih bangkit dan berjalan mendekati siswa berkulit tan itu, lalu duduk di salah satu kursi tak jauh darinya.

“Kai, kau kenapa?” tanya sang siswa bertubuh paling pendek.

Sang pemilik nama tak menjawab, mengalihkan pandang pun tidak. Membuat keempat siswa di sana semakin heran dibuatnya.

Kini tiga sisanya ikut mendekati siswa berkulit tan tadi, duduk di kursi-kursi kosong yang berjarak tak jauh -kursi yang memang menjadi tempat duduk mereka di kelas ini.

“Kai, you’re ok?” pertanyaan itu terlontar dari siswa berwajah datar yang duduk tepat di hadapan siswa berkulit tan tadi.

Kembali tak ada tanggapan.

“Apa dia mati?” pertanyaan yang keluar dari celah bibir siswa yang paling tinggi di antar mereka itu pun sukses membuahkan satu lemparan sayang sebuah tas ke arah kepalanya. Membuat siswa itu meringis -Dia tengah berdiri di celah jarak satu meter antara dua meja.

“Enyah kau, sial,” geram yang paling pendek menatap siswa yang paling tinggi.

“Sakit, Baek- !” pekik siswa tinggi itu tertahan.

“Ya! Berisik!” sang siswa berkulit tan akhirnya membuka suara, pekikannya berhasil membuat keempat siswa tadi menoleh, menatapnya dengan kening yang kembali berkerut.

Sang pemilik suara mendongak, menatap tajam satu persatu sahabatnya.

Hei Bajingan, kau ini sebenarnya kenapa, hah?” siswa bermata tajam yang duduk di depan siswa terpendek tadi angkat suara.

Jongin. Siswa berkulit tan itu mendengus kesal sembari mengalihkan pandangan, “Aku butuh hiburan,” gumamnya, membuat keempat sahabatnya untuk kesekian kali kembali mengkerutkan dahi.

“Mau ke club?” pertanyaan yang terlontar dari siswa yang duduk di hadapan Jongin memancing perhatian ketiga pasang mata yang sedari tadi masih fokus menatapnya.

“Kita masih di bawah umur, Oh Sehun,” siswa yang paling pendek menanggapi.

Yang bernama Oh Sehun mengangkat bahunya acuh, “Siapa peduli? salah satu sahabat kita bahkan pewaris sebuah club ternama, Baek,” ucapnya sembari melirik siswa yang tengah berdiri di sebelah mejanya -siswa yang paling tinggi.

Yang merasa terpanggil menggerlingkan bola matanya malas, kemudian terhenti ketika irisnya fokus menatap pada Jongin, “Mau ke club, Kai?” melontarkan pertanyaan Sehun yang ia ulang.

Jongin menggeleng, ‘Tidak, Eomma akan mencoretku dari daftar keluarga jika berani menginjakkan kaki ke tempat itu,’ –Batinnya. Membuat keempat sahabatnya menatap bingung karena kembali tak ada tanggapan suara.

“Lalu apa maumu?” yang bermata tajam kembali membuka suaranya dingin, bertanya.

Jongin terlihat berpikir, sunyi untuk beberapa menit, hingga ia menarik satu sudut bibirnya keatas, lalu menjawab, “Let’s play around time off later.”

Membuat keempat sahabatnya tertegun sesaat, kesunyian mendera seketika sebelum senyum penuh arti terukir di wajah tampan masing-masing pemilik.

(o)

Jam istirahat telah memasuki waktunya beberapa menit lalu. Lapangan terlihat sangat ramai seperti biasa, namun kini lebih ramai ketika beberapa siswa menginformasikan bahwa,

‘EXO group akhirnya berulah lagi.’

Sudah hampir satu tahun para penghuni sekolah ini tak mendengar aksi keberutalan lima sekawan siswa golongan teratas dari golongan siswa kasta atas (tampan) itu. Terlebih, kini mereka melakukannya di lapangan. Benar-benar sesuatu yang wajib ditonton.

Jangan tanyakan kemana para guru yang ada sekarang, jelas mereka ada di ruangannya. Melihat apa yang kelima siswa itu lakukan di tengah-tengah ramainya siswa yang menonton.

Hanya melihat?

Ya, mereka hanya melihat dari atas sana dengan berpura-pura tak terjadi apapun. Bukannya tidak tegas dalam mengambil keputusan untuk kejadian semacam ini, tapi kalau sudah EXO group yang melakukannya mereka bisa apa?

Jika mereka berani turut campur, silahkan saja ucapkan selamat tinggal pada pekerjaan utama mereka ini.

Alasannya?

Simple, karena salah seorang dari kelima siswa brutal itu adalah pemilik donasi terbesar yayasan sekolah. Dia, Huang Zi Tao.

“Kai, kau yakin mau melakukannya di sini? ini bukan gaya kita,” bisik Chanyeol tepat di telinga Jongin, siswa bertubuh paling tinggi itu sedikit risih dengan tatapan iba yang ditangkapnya untuk seorang siswa yang berada di hadapan mereka.

“Berisik kau, Park. Jangan membuat mood-nya semakin buruk karenamu,” ucap Sehun yang berdiri tepat di sebelah Chanyeol.

Chanyeol menghela napas mendengar ucapan Sehun, kemudian menggedikan bahu acuh, “Terserah.”

Untuk beberapa menit ketiganya diam di tempat, hanya menyaksikan bagaimana dua sisanya berdiri 10 meter dari mereka tengah asyik mencoret-coret wajah seorang siswa usai menghajarnya habis-habisan.

Seragam atasan putih siswa itu tak terdeteksi lagi warna aslinya, almamater biru tua dan dasi berwarna senada terlepas dan tergeletak tak jauh dari siswa itu; terlihat seakan pakaian bekas yang tergeletak di jalan raya dan terlindas beberapa kendaraan yang melintas, seragam bawah siswa itu yang senada dengan warna almamater dan dasinya terlihat tak layak pakai lagi dengan robek di beberapa bagiannya. Serta wajah siswa itu yang kini di penuhi luka lebam dan warna-warni tinta, juga jangan lupakan dengan bercak darah yang tercecer menimpa lebam dan memar wajahnya, beberapa tetesan darah juga tercecer ke pakaian dan aspal lapangan.

Woah! Keyopta!” pekik Baekhyun sembari mengangkat kedua tangannya yang memegang spidol permanent.

“Kurang Baek, kurang,” suara Tao yang kini terdengar, siswa berkebangsaan Cina itu kini berbalik menghadapkan tubuhnya kearah ketiga sahabatnya yang masih berdiri memandang acuh kearah mereka, “Park, coba cari ada benda bagus apa lagi yang ada di tasnya!” teriaknya ke arah Chanyeol.

Chanyeol mendelik, kemudian menatap tas yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Chanyeol mengambilnya, dengan gesture tak sabar ia mengacak isi tas yang memang telah tak terseleting itu dengan satu tangan, tangan lainnya ia gunakan untuk menjinjing tas tersebut di hadapan wajahnya. Merasa tak dapat menemukan benda bagus apapun dengan posisi seperti ini Chanyeol membalikkan tas itu lalu mengguncangkannya dengan keras hingga segala isi di dalamnya terhempas ke aspal lapangan.

“Ah! apa ini?” alis Chanyeol mengernyit kala irisnya menangkap sesuatu seperti kartu nama terjatuh paling terakhir dari tas yang ia guncang. Chanyeol menunduk, mengambil benda itu kemudian kembali berdiri tegak. Dibacanya dengan seksama setiap baris tulisan yang tertera dalam benda itu.

Hatsune Miku? 12-11-10-09?

Member card?

Pmft– Ahahaha!” seketika tawa Chanyeol meledak membuat seluruh siswa yang tengah mengerubungi mereka menatap heran tak terkecuali keempat siswa yang bernotabene sahabatnya, “Ya! Jongdae-ah! Kau otaku?”

Pekikan Chanyeol tersebut sontak membuat keempat sahabatnya mengernyit dan detik berikutnya menatap siswa tak berdaya di hadapan Baekhyun dan Tao bersamaan.

“Otaku? Maksudmu pencinta manga dan sejenisnya?” suara Jongin akhirnya terdengar untuk sebuah pertanyaan.

Yehet … ” jawab Chanyeol sembari mengangguk dan medelik ke arah Sehun, meledek.

“Bangsat,” cibir Sehun menyadari aksi Chanyeol. Dan hanya di balas kekehan geli oleh sang pelaku.

Tak memperdulikan argumen kedua sahabatnya, kini senyum merekah terukir dalam hati siswa tan itu, “The game will start.”

Ucapan pelan Jongin tersebut sontak saja membuat Sehun dan Chanyeol yang berdiri di dekatnya mendelik tak percaya.

“Baru di mulai? dia sudah sekarat seperti itu dan kau bilang ini baru dimulai?” tanggap Sehun tak percaya, “Kau mau membuatnya mati?”

Jongin diam tak menghiraukan pertanyaan Sehun, Chanyeol yang menjawab, “Ayolah, Oh. Biarkan saja, jangan membuat mood-nya semakin buruk karenamu,” bisik Chanyeol setengah terkekeh tepat di sisi telinga Sehun, membalikan pernyataan siswa yang dijuluki ice prince itu setelah melewati masa terkejutnya akan ungkapan Jongin.

Kesal, Sehun membuang pandangan acuh, “Terserah,” balasnya.

Setelahnya, jam istirahat pertama hari ini dipenuhi oleh rasa iba dari sedikit para siswa dan siswi yang mempunyai hati. Namun sebagian besarnya, terutama para golongan kasta atas yang telah lama tak melihat aksi bringas EXO group mengulum senyum bahkan tak jarang dari mereka yang tertawa keras melihat seorang siswa bernama Jongdae tadi diperlakukan layaknya anjing oleh kelima siswa teratas itu.

Mereka menyuruhnya memakai busana Sailormoon yang Baekhyun ambil dari ruang klub drama, kemudian menyuruh siswa bermarga Kim itu berlagak menirukan gaya sang tokoh fiksi. Melompat, menunduk, berputar, bahkan meringkuk dan bersujud. Memperlakukan siswa itu tanpa ada belas kasih.

Yang empat dari lima siswa itu pikirkan saat ini hanyalah; melakukan apapun yang mereka bisa agar salah seorang sahabat mereka menghilangkan rasa stres-nya dan dapat kembali tersenyum.

Di sisi lain.

Seorang siswi tengah berdiri di belakang pembatas atap sekolah, melihat dari awal dengan ekspresi datar dan tatapan kosongnya kekejaman apa saja yang telah menimpa seorang siswa yang ia kenal.

Dengan garis wajah yang tak berubah, siswi ini membalikan tubuh, beringsut duduk dengan meluruskan kedua kakinya lalu menyandarkan punggung pada tembok pembatas atap. Memejamkan mata, menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya.

“Sudah kubilang Jongdae-ya, sebaiknya kau pindah sekolah.”


 

Jam istirahat kedua. Pukul dua belas lewat lima menit tepat.

Kantin yang biasanya ramai terlihat sangat riuh kali ini.

Aksi keberutalan EXO group di jam istirahat pertama belum selesai. Jelas, mereka EXO group -semua penghuni sekolah tau bagaimana gilanya kelima siswa tampan itu. Seseorang telah membangunkan setan kecil dari dalam diri salah satu dari kelimanya; setan kecil yang akan membesar hingga tak dapat dikendalikan, dan lebih parahnya, satu setan kecil itu dapat memicu empat setan kecil lainnya untuk ikut membesar dan memberontak tak terkendali.

Rasakan saja akibatnya.

Setelah memporak-porandakan seorang siswa bernama Kim Jongdae di jam istirahat pertama. Kini kelimanya mencari mangsa baru. Tak tanggung-tanggung, disaat seperti ini bisa saja mereka mencari mangsa dari sesama golongan kasta atas. Siapa peduli? dan siapa yang berani melawan? tak ada batas kasta bagi kelimanya jika sudah kalap seperti ini.

Inilah yang ditakutkan para penghuni sekolah jika EXO group sudah kelewat sinting.

Boleh saja wajah mereka tampan, karisma berlebih, otak cerdas; di masing-masing keahlian, serta bersikap layaknya segerombolan pangeran dari negri dongeng -untuk golongan mereka tersendiri tentunya.

Tapi jika sudah seperti ini, jangankan terlihat seperti pangeran, mereka masih berbaik hati memperlakukan sekeliling seperti manusia saja sudah syukur.

Namun ngomong-ngomong syukur, bersyukurlah seluruh para kasta atas untuk saat ini. Bersyukur dan bersujudlah atas nama Tuhan.

Karena kelima pesikopat tampan itu sedang dalam mood membully yang lemah.

“Ya! Ya! Yi Zing-ah, lakukan yang benar,” suara santai Baekhyun terdengar ketika ia sedikit menggerak-gerakkan kaki kanan yang menumpuk di atas kaki kirinya. Siswa delapan belas tahun itu tengah duduk di ujung kursi panjang kantin yang biasa menjadi tempatnya dan empat lainnya menghabiskan makan siang. Tepat di samping kirinya terdapat meja persegi panjang empat kaki, yang ia gunakan untuk meletakan tangan kiri yang tengah menopang kepalanya. Kepalanya tegak dalam tangkupan sebelah tangannya, namun tatapan penuh rasa jijik ia arahkan turun menatap seorang siswa bertubuh kurus yang tengah berpose seperti babi tepat di hadapan kakinya.

Chanyeol duduk tepat di seberang tempat duduk Baekhyun, memposisikan diri persis seperti siswa mungil itu. Menjadikan keduanya seperti pantulan cermin di kedua sisi berbeda.

Tao berdiri arogan tepat di belakang siswa yang tengah meringkuk tadi.

Sedangkan Sehun dan Kai duduk tenang sembari menikmati hidangan makan siang masing-masing tanpa menghiraukan ketiga sahabatnya yang tengah melakukan atraksi betapa menurutnya anjing laut manis di hadapan seluruh siswa yang menonton hampir memenuhi kantin. Kai di sebelah Baekhyun yang membelakanginya, dan Sehun di sebelah Chanyeol -posisinya sama dengan Baekhyun.

“Yang benar Yi Xing-ah, tepuk tangan seperti anjing laut yang manis, apa kau tidak pernah datang ke kebun binatang?” cetus Baekhyun yang mulai jengah.

Untuk kesekian kalinya, siswa bernama lengkap Zhang Yi Xing itu bertepuk tangan seperti yang Baekhyun suruh; anjing laut. Mengundang desisan tawa dari para siswa yang tengah menonton atraksinya.

Jelas anak-anak itu harus menahan tawa, demo Yi Xing untuk pertunjukkannya benar-benar persis seperti hewan yang ia tirukan.

Namun bukan Baekhyun namanya jika bisa puas begitu saja, siswa mungil itu mendengus sebal kemudian menoleh ke arah Sehun yang tengah mengunyah makan siangnya dengan damai. Tanpa meminta izin dari sang pemilik Baekhyun mengambil sebatang stik kentang dari piring Sehun.

“Makan ini,” Baekhyun melempar stik kentang itu dangan santai hingga mendarat di lantai kantin.

Siswa yang disuruh (dengan kurang ajar) terhenyak akan perintah Baekhyun.

Bukan masalah kentangnya, tapi cara memberinya, terlebih kentang itu telah tergeletak di lantai kantin yang terdapat jejak tipis telapak sepatu para siswa.

Dengan tangan bergetar, Yi Xing meraih kentang yang telah tergeletak kotor dibawah wajahnya. Namun pergerakkannya terhenti ketika suara Baekhyun kembali terdengar.

“Tidak, tidak. Anjing laut yang manis tidak makan dengan tangannya,”

Yi Xing mendongak perlahan, tak mengerti sama sekali arah perkataan Baekhyun.

Kembali dalam posisi awalnya Baekhyun tersenyum manis; senyum semanis iblis. Kemudian mengangkat tangan kanan untuk mengendikkan telunjuk satu kali membuat siswa di bawahnya semakin tak mengerti.

“Makan dengan kepalamu bodoh!” suara tegas Tao mengintrupsi segalanya, terutama dikarenakan anak dari pemilik donasi terbesar sekolah itu mengatakannya sembari mendorong lembut kepala Yi Xing kebawah untuk mencapai kentangnya dengan kaki terbalut sepatu ber-label Puma. Tidak sampai menyentuh kentangnya, Tao mendorong kepala Yi Zing hanya sampai beberapa senti sebelum bibirnya benar-benar menyentuh makanan tak layak konsumsi itu.

Ada beberapa menit jeda sebelum suara salah satu dari kelima siswa berprestasi (bangsat) itu kembali terdengar, “Makan, Yi Xing-ah,” desak Baekhyun tak sabaran.

Tak ingin telapak sepatu Tao kembali mendarat di tempurung belakang kepalanya lagi, Yi Xing menelan bulat-bulat harga dirinya. Ia memejamkan amata rapat, menghirup udara sasaat sebelum menggingit bibir bawah menahan amarah bercampur sedih.

“Cepat,” kali ini kaki Chanyeol yang berinteraksi; dengan posisinya yang berada di dekat kepala Yi Xing, sangat mudah baginya menginjak atau menendang kepala siswa malang tersebut.

Injakkan kaki Chanyeol di tempurung belakangnya sontak membuat Yi Zing terjelembab ke bawah, bibirnya yang tadi setengah terbuka untuk menyantap ragu makanan di hadapannya, seketika memasukkan kentang kotor itu tanpa aba-aba kedalam mulutnya. Ia memejamkan mata rapat kala merasakan minyak bercampur rasa basa lantai basah, kentang itu masih terasa lembut dan gurih kalau saja deburan pasir halus tak ikut menimpa sensasi nikmatnya.

Runtuh sudah harga dirinya.

“Kai,” suara Sehun terdengar pelan, hingga hanya sang pemilik nama lah yang dapat mendengarnya.

Jongin mendongak mengalihkan perhatian penuhnya dari lime juice yang tengah ia tenguk perlahan dari sedotan, “Eung?”

“Kau yakin masih belum puas?” tanya Sehun bertahan pada nada yang sama, Jongin menggeleng pelan dalam sedotan ditegukan ke tiganya sebagai tanda jawaban belum. Sehun menghela napas malas, kemudian melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit, lalu kembali mendongak menatap Jongin yang masih pada lime juice-nya, “Lanjutkan pulang sekolah saja, lima belas menit lagi masuk.”

Jongin melepas bibirnya dari ujung sedotan sembari menggerling bola mata malas, “Persetan,” gumamnya tidak terlalu pelan, sengaja agar dapat didengar Sehun. “Kita memiliki Tao, Tuan Oh,” lanjutnya sembari memfokuskan pandang pada manik datar sahabatnya, “Apa yang kau kuatirkan, hah?”

Sehun mencebik pelan, membalas tatapan dalam Jongin dengan tatapan datar membekukan khas-nya, “Tak ada yang kukuatirkan kalau soal itu, bodoh,” ada jeda sebelum ia kembali membuka suara, “Tapi apa kau mau jamin soal absenku? ingat sekolah kita memakai absen elektrik Tuan Kim? dan ingat juga tentang presdir Oh yang tak akan segan-segan memenggal kepalaku jika ketahuan membolos hanya untuk berurusan dengan sampah seperti mereka?” tanyanya tenang namun tajam.

Kini giliran Kai yang mancebik, “Oh ayolah, masih limabelas menit lagi,” kembali menggerlingkan mata malas, “Lagi pula siapa yang mempunyai usul untuk membolos, Tuan muda Oh? kau juga tidak ingat dengan latar belakangku?” desis Jongin tak kalah tajam, “Aku tidak akan sudi melihat wajah kecewa ibuku hanya untuk sebuah absen dan barisan kotoran.”

Mendengarnya, Sehun tersenyum miring, “Aktingmu sebagai anak baik-baik saat di rumah bagus sekali Kim bangsat Jongin, muka tembok.”

Kembali mencebik, ikut tersenyum miring, Jongin membalas, “Setidaknya aku bisa membuat ibuku bahagia. Tidak sepertimu yang selalu melawan orang tua. Pemberontak sialan. Tuan muda, Oh keparat Sehun.”

Bukannya marah atau sama-sama merasa tersindir. Setelah Jongin menyelesaikan ucapannya, keduanya terkekeh pelan bersama -bahkan terlalu pelan untuk disadari tiga temannya yang masih asik dalam dunia mereka menyiksa Yi Xing.

Pergerakan tangan Baekhyun yang tengah berusaha memasukkan kecap asin botolan ke dalam mulut Yi Xing terhenti seketika, membuat Tao dan Chanyeol yang memegangi Yi Xing agar tidak memberontak mengernyit bingung.

“Kenapa Baek?” tanya Chanyeol.

“Lepaskan dia,” ucap Baekhyun tiba-tiba dengan tatapan menerawang ke belakang punggung Chanyeol dan Tao.

“”Hah?”” Chanyeol dan Tao mengeluarkan suara dengan kernyitan dahi bersamaan.

Bukannya menjawab, Baekhyun kini membalikkan tubuh ke arah Jongin, “Kai, siapa saja ‘kan? yang penting siswa golongan bawah?”

Sang pemilik nama yang masih terkekeh bersama Sehun seketika diam dan mendongak menatap wajah sahabat mungilnya yang jelas terukir senyum manis penuh arti di sana.

Jongin mengangkat kedua alis acuh sebagai tanda persetujuan ya.

Setelah mendapat persetujuan itu, Baekhyun kembali menghadap Tao dan Chanyeol yang masih memegangi Yi Xing.

“Tao, manusia buruk rupa. Dan Chanyeol, makhluk idiot. Sudah kubilang ‘kan lepaskan dia?” cebiknya ke arah dua sahabatnya bergantian, dan dibalas gerlingan serta desisan kesal dengan mengingut sertakan kata cebol, sial, dan sisanya sumpah serapah. Tak menghiraukan kedua sahabatnya yang mendesis sebal Baekhyun malah bertepuk tangan setelah Yi Xing benar-benar terlepas dari kungkungan neraka mereka berlima; menunduk, dan pergi entah kemana, “Yang ini akan lebih menarik!” serunya yakin dengan pandangan masih menerawang ke belakang Chanyeol dan Tao.

Tanpa mengindahkan sekelilingnya, siswa bermarga Byun ini berjalan santai membelah kerumunan yang berada di belakang Tao dan Chanyeol.

Tak jauh, ia menghentikan langkahnya.

Tepat di sisi seorang siswi yang tengah berdiri berhadapan dengan berisan panjang counter kantin.

Chanyeol yang sedari tadi mengikuti pergerakan Baekhyun tiba-tiba mendesah malas sembari membuang pandang kesal, “Astagaa… tidak perempuan, Baek,” gumamnya ditengah desahan malasnya.

Lain Chanyeol, lain pula Tao. Siswa berdarah turunan China itu tersenyum miring mendapati dimana akhir jejakan Baekhyun, “Tidak, benar kata di cebol itu. Ini akan lebih menarik, Park.”

Mendelik tak suka kearah Tao, Chanyeol berujar malas, “Terserah kalian kalau begitu, aku tidak ikutan,” Chanyeol beringsut menjauh; mendekati Jongin dan Sehun, sebelum langkahnya terhenti.

“Tidak asik,” cibir Tao.

Chanyeol menggerling bola mata malas, “Terserah apa katamu,” balasnya melanjutkan langkah.

Tao kembali mencibir, “Tiang idiot.”

Tak mau kalah, Chanyeol membalas dalam langkahnya, “Panda buruk rupa.”

“Keparat.”

“Setan.”

Dan adu sindir dengan cibiran itu terhenti ketika Tao lebih memilih diam (tak membalas) dan mendekati Baekhyun.

“Kenapa kau kemari?” tanya Sehun malas ketika mendapati Chanyeol duduk di sebelahnya.

“Dua anak sial itu, perempuan, menyebalkan, bukan aku, tapi mereka yang tidak asik, kenapa perempuan? laki-laki kan banyak,” jawab Chanyeol tanpa menatap sang lawan bicara, namun tangannya terjulur mengambil makanan yang masih ada di piring Sehun lalu memasukkan ke mulutnya; setelah selesai bicara.

Sedangkan Sehun selaku ‘yang pertanyaannya di jawab’ hanya memasang flat face.

“Idiotnya kumat lagi,” ucap Jongin yang sedari tadi menunduk menikmati tteokbokki-nya.

Kesal, Sehun menepak belakang kepala Chanyeol cukup kencang, “Kalau bicara yang jelas.”

Chanyeol meringis sembari memegangi belakang kepalanya, “Apa-apaan?” tanyanya tak terima.

“Yang jelas, Park. Yang jelas,” tekan Sehun bersiap menepak satu kali lagi kepala Chanyeol.

Merengut, kemudian kembali mengambil makanan yang ada di piring Sehun lalu melahapnya, “Dua sahabatmu yang tidak ada di sini sudah benar-benar gila, tidak puas dengan laki-laki mereka mencari mangsa perempuan,” ucapnya sembari menarik gelas jus Sehun yang tersisa setengah, menyedotnya, kemudian kembali berujar, “Ada banyak laki-laki golongan bawah, kenapa harus perempuan? tidak asik, kan kasihan.”

Kini Sehun mengerti arti di balik racauan tak jelas sebelumnya sahabatnya yang di juluki the idiot itu, ia menoleh (membalikkan tubuh dalam duduknya) dan mendapati kini seluruh perhatian para siswa yang tadi menonton ke arahnya kini menghadap tiga sosok manusia tak jauh di belakang sana.

Kembali menghadapkan tubuh ke posisi semula, ia menarik piring tteokbokki siswa di hadapannya yang sontak membuat siswa itu mendongak tak suka.

“Apa lagi?” ketus siswa itu.

“Kau tidak bilang pada mereka untuk tidak mengacaukan perempuan?” tanya balik Sehun dengan dahi berkerut samar.

“Tidak,” jawab Jongin sembari berusaha menarik kembali piring tteokbokki-nya.

Sehun tak membiarkan piring itu seinci pun kembali mendekati Jongin, “Kai, kau gila? kita laki-laki, tidakah kau malu menghajar perempuan?”

Mendengar ceramahan sang sahabat, Jongin mendongak, “Kau lihat aku tengah menghajar perempuan?” tanyanya dengan sorot mata tajam, memberi jeda sebelum ia kembali melanjutkan, “Kau pernah lihat aku menghajar perempuan? atau kau ingat aku pernah menghajar perempuan?” tanyanya penuh kesal, “Sekarang. Kembalikan. Tteokbokki-ku. Tuan muda Oh. Kalau kau mau pesan saja sendiri,” tekannya.

Sembari melepaskan piring milik Jongin; yang disambut antusias oleh pemiliknya, Sehun menghela napas berat, “Bukan itu maksudku brengsek.”

“Lalu?” tanya Jongin acuh sembari melahap tteokbokki-nya.

“Kau yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini-” jawab Sehun tertahan.

“Aku tidak menyuruh mereka, kau, Chanyeol, atau siapapun. Ingat?”

Sehun memutar bola mata malas mendengar selaan Jongin, “Terserah, intinya kami seperti ini karenamu. Jadi setidaknya batasi mereka.”

Jongin mendelik, meletakkan sumpitnya di sisi piring kemudian membalas tatapan Sehun dengan senyum tipis, “Sekali-kali, menghajar perempuan tak ada salahnya ‘kan?”

Entahlah, dirinya sendiri juga tak yakin akan hal ini. Tapi yang jelas kalimat itu meluncur sendiri dari bibirnya ketika sesosok bayangan Kyungsoo melintas di dalam alam bawah sadarnya; sesaat ketika Sehun bertanya.

Mendengar penuturan Jongin, Sehun terhenyak, Chanyeol yang sedari tadi mencoba diam (mendengarkan) tak mau ikut campur perdebatan kedua sahabatnya juga seketika terperangah akan kata-kata yang baru saja meluncur bebas dari bibir sahabatnya.

Tidak-tidak, ini bukan kau. Ya Tuhan, ada apa dengan anak ini? -fikir Sehun.

Astaga… apa otaknya sudah terkontaminasi sianida? -fikir Chanyeol.

“Kai, kau serius?” tanya Sehun dengan tatapan tak percaya yang ia arahkan ke Jongin. Menelisik dalam kedua manik hitam sahabat tan-nya itu. Mencari sebuah jawaban dari setiap perkataan yang baru saja ia keluarkan.

Ini bukan Jongin, jika Tao dan Baekhyun mendengar ucapan yang ia keluarkan tadi pun dapat Sehun pastikan kedua sahabatnya juga akan melakukan tindakkan yang sama.

Jongin kejam -semua penghuni sekolah tau; bahkan dia ada diperingkat pertama. Tapi di balik kekejaman Jongin, dia sangat dikenal sebagai pecinta kelembutan, dan tak akan pernah berani menyentuh ketenangan sosok perempuan terlebih yang telah bernotabene sebagai seorang ibu -dan semua penghuni sekolah pun tau akan hal ini, terutama keempat sahabatnya.

Sesuatu yang di luar akal sehat pasti telah mengubahnya -fikir Sehun kembali melayang.

Sudah kuingatkan ‘kan jangan terlalu banyak minum kopi? -dan abaikan fikiran melayang Chanyeol ini.

“Kai,” tegur Sehun setelah sekian detik tak mendapati jawaban.

“Tidak,” jawab Jongin kosong.

Dahi Sehun kembali berkerut samar, “Apa?”

“A-aku tidak serius,” jawabnya berusaha senormal mungkin kemudian terkekeh, yang sialnya malah benar-benar terlihat tak normal di sepasang mata milik kedua sahabatnya. Setelahnya Jongin menghela napas berat, lalu meninggalkan tatapan tak mengerti kedua sahabatnya untuk kembali melahap makan siangnya, “Sudahlah biarkan, nanti juga mereka berdua berhenti sendiri.”

“Kau aneh Kai,” cetus Chanyeol tiba-tiba.

“Tak lebih aneh darimu, Park,” balas Jongin ketus tanpa menatap balik sang lawan bicara.

“Dasar,” sulut Chanyeol kesal, kemudian ia menoleh kearah Sehun, “Hun-iesaranghae,” ucapnya sembari meletakkan dagu di bahu kiri Sehun serta memeluk manja lengan kiri siswa bermarga Oh itu.

“Park, kau tidak lihat aku memegang garpu?” balas Sehun sembari mendelik tajam, dan hanya di balas cengiran tak berdosa serta terbebasnya kungkungan tubuhnya dari siswa bermarga Park itu.

“Ah! sial, aku lapar,” racau Chanyeol sembari (kembali) mengambil makanan di piring Sehun.

Hey! pesan makananmu sendiri,” kesal Sehun.

“Tidak ah, malas, dan bertambah malas lagi melihat mereka bertiga menghalangi counter bulgogi– Ah! sial, sial, kenapa harus tepat di depan counter bulgogi?” racauan Chanyeol semakin tak jelas keluar dari celah bibirnya.

“Ini,” semangkuk kecil daging bulgogi terdorong dan berhenti tepat di hadapan Chanyeol, “Makan, aku belum menyentuhnya. Jadi makan dan diamlah,” ucap Jongin yang masih menunduk menggunyah tteokbokki-nya.

Yeah Kai, you’re the best!” sorak Chanyeol girang.

Mendengar seruan itu Jongin tersenyum kecil, selang beberapa detik ia berujar menyuarakan pertanyaan; entah kenapa rasanya ia ingin sekali bertanya meskipun biasanya ia sama sekali tak memperdulikan (tak mau peduli) akan apa? siapa? dan kenapa? untuk soal-soal seperti ini.

“Memang siapa yang sedang dimangsa dua bajingan itu?” tanyanya acuh-tak acuh yang masih menunduk mengunyah makanannya.

“Do Kyungsoo,” balas Chanyeol cepat yang asik menikmati bulogi pemberiannya.

Jleb!

Pergerakan rahang Jongin terhenti, sumpit yang tengah menjepit sebuah tteokbokki di piringnya juga terhenti, bahkan waktu serta helaan angin pun serasa ikut terhenti.

Tidak

Tidak nama itu …

Tidak marga itu …

Tidak sosok itu …

Tidak Do Kyungsoo …

Tidak …

Tidak saudara tirinya …

Setelah segalanya ia rasa telah kembali bergerak dengan normal; sontak Jongin mendongak, menatap syok pemandangan tiga orang siswa di tengah-tengah ratusan siswa yang menonton.

Kembali terhanti. Segalanya.

Udara berhenti berhembus.

Jam berhenti berdentang.

Seluruh pergerakan berhenti beraktivitas.

Bahkan…

Jantungnya berhenti berdetak.

Dapat ia lihat dengan jelas, tak terlalu jauh dari tempatnya duduk saat ini. Kyungsoo dengan wajah setenang dermaganya tengah berdiri di antara Tao dan Baekhyun, dipermainkan habis-habiskan oleh kedua bersahabat itu; helaian panjangnya diselipi nori-nori kecil serta tersiram kuah jjigae, dan kecap asin yang sedari tadi dibawa-bawa Baekhyun. Seragam atasan putih beserta almamaternya berlumuran minyak wijen, saus tteokbokki, serta lelehan kecap asin dari puncak rambutnya.

Tidak. Tidak. Tidak.

Dengan nafas tercekat serta bola matanya yang bergerak gelisah Jongin menunduk; pelan, juga ragu, Tidak. Biarkan dia Jongin, biarkan,’ –batinnya, ‘Biarkan dia, ok? dia itu benalu. Perusak hidupmu! pengacau segalanga! sampah!’ -tekannya pada diri sendiri.

“Bagus kalau begitu, kalian bisa menjadi teman akrab di sekolah bukan? -“

Seketika Jongin mebelalakan matanya, perang batin; dirinya, amarahnya, egongya, dengan sebaris perkataan sang ibu (prioritasnya).

Sehun menghela napas halus, “Aku terkadang kasihan dengan anak itu, ‘mangsa empuk bahan bully-an‘ julukan yang jahat. Padahal dia pintar, dan kalau dilihat-lihat juga… er cantik?” entah pertanyaan atau pernyataan yang di akhiri tanda tanya, Sehun juga tidak yakin.

“Pacari saja kalau bagitu,” cibir Chanyeol yang masih memakan bulgogi-nya, “Setelahnya kau kehilangan popularitasmu. Dan berakhir sial sepertinya.”

“- Jongin-ie kau harus menjaga baik saudaramu, ok?”

Seakan angan ataupun bayangan yang hanya melintas, Jongin sama sekali tak menghiraukan percakapan kecil kedua sahabatnya tersebut. Otaknya terlalu penuh akan perkataan sang ibu saat pertama kali dirinya dengan Kyungsoo dipertemukan.

‘Jalang sialan!’ -batinnya kalah, amarahnya kalah, egongya kalah, dirinya kalah. Selalu seperti ini jika sudah menyangkut pautkan urusan dengan sang ibu. Pertahanan sekeras batunya hanya dalam hitungan detik dapat meleleh seperti margarin yang dihangatkan.

Jongin bangkit dari kursinya; membuat Sehun dan Chanyeol yang tengah bardebat masalah kasta terdiam dan mendongak seketika. Tak menghiraukan keadaan sekitar, Jongin berjalan dengan langkah besar ketengah gerombolan dekat barisan counter kantin, dan berhenti tepat di dekat counter yang menyediakan masakan bulgogi.

Dengan telapak tangan besarnya ia menggenggam pergelangan mungil Baekhyun yang siap menumpahkan semangkuk nasi di puncak kepala Kyungsoo; membuat pergerakan namja mungil itu terhenti seketika.

Dan jangan tanya bagaimana keadaan sekitar mereka saat mendapati seorang Kim Jongin yang lebih popular dipanggil Kai itu berdiri dengan tatapan tajam serta tangannya yang menghentikan aksi layak tonon kedua sahabatnya. Serta jangan lupakan dadanya yang naik-turun (kentara) menahan emosi.

“Kai?” gumam Tao dengan kernyitan halus di dahinya. Dibalas Jongin dengan tatapan tajam yang siap membelah apapun di hadapannya.

“Kai, sakit!” pekikan Baekhyun mengintrupsi -diiringi usahanya untuk melepaskan diri.

Sontak Jongin melepaskan genggamannya, meredakan sulut tajam di matanya, serta mengontrol debaran emosi di dadanya.

Kini ia tampak normal -dari luar. Siapa yang tau dalamnya?

Dan kini siswa bermarga Kim itu menunduk, “Tidak,” ucapnya kosong; mengundang denyut tanya di kepala masing-masing orang di sekitarnya.

“Kai-” panggil Tao tertahan yang tangannya kini telah berada di bahu kanan Jongin.

Jongin mendongak cepat, “Tidak, tidak perempuan,” -tidak dia, tidak titipan ibuku, tidak jalang sialan yang telah menyusahkan hidupku, tidak!’– “Hentikan.”

Dan seketika helaan napas Tao terdengar diiringi kerutan di dahinya yang menghilang, “Oh,” balasnya, “Baiklah-baiklah aku mengerti, Kim anggel Jongin,” lanjutnya sembari menepuk sekali pundak Jongin, kemudian beralih menepuk bahu Baekhyun yang masih mengusap-usap pergelangan tangannya, “Taruh mangkuk nasi itu, kita hentikan sampai di sini Baek,” ucapnya sembari melirik mangkuk di tangan yang tengah dielus Baekhyun, mendekat, kemudian berbisik, “Kurasa kesadarannya sudah pulih,” lalu beranjak dari sana; menghampiri Sehun dan Chanyeol yang menatap kerumunan itu beserta ketiga sahabatnya tidak merngerti (terutama kepada Jongin).

Baekhyun mengangguk paham, menatap Jongin sebentar untuk berucap, “Kai, satu kotak pizza untuk menyembuhkan pergelangan tanganku,” kemudian ia mengikuti jejak Tao, berhenti sejenak untuk meletakkan mangkuk nasi yang ia pegang di sebuah meja kosong, kemudian melanjutkan langkah mendekati ketiga sahabatnya.

Sekepergiannya Baekhyun dari sana, perlahan kerumunan yang tadi mengerumungi mereka hilang (karena tatapan tajam Jongin yang kembali menghiasi matanya dan memberi pengarahan untuk mereka semua agar kembali ke tempat masing-masing). Hingga akhirnya benar-benar kosong menyisakan Jongin yang berdiri di hadapan Kyungsoo yang sedari tadi masih menunduk.

Jongin menoleh, melangkah untuk mendekat ke arah telinga Kyungsoo lalu berbisik pelan, “Kau berhutang satu nyawa padaku, Jalang sialan,” semakin mendekat, Jongin kembali berbisik pelan, “Dengarkan dan catat baik-baik; suatu saat nanti aku akan menagihnya, kapanpun, bahkan di hari terakhirmu bernapas sekalipun.”

Kemudian Jongin kembali berdiri tegak, berbalik dengan angkuh kemudian berjalan mendekati para sahabatnya -meninggalkan Kyungsoo yang masih bertahan di tempat dengan kepala menunduk.

Sembari menekankan pada diri sendiri, ‘Benar, ya, ini sudah benar. Aku telah melakukan apa yang ibu minta.’

Terus menekankan pada dirinya sendiri tanpa menghiraukan hati kecilnya yang terus meraung akan jawaban tanda tanya besar.

Ini, benar… ‘kan?

(o)

“Jongdae, pindah dari sekolah ini.”

Sang pemilik nama mendongak, kemudian tersenyum kearah seorang siswi yang tengah berdiri di hadapannya.

“Tidak, Kyungsoo-ah,” sahutnya tenang dan kembali menyandar nyaman pada tembok di belakang kepalanya, serta kembali memejamkan mata, “Aku sudah pernah menjawabnya ‘kan?”

“Kenapa?”

“Karena kau tidak pindah,” jawabnya tanpa membuka mata, “Jadi aku masih mempunyai teman di sini, mengerti?”

“Tidak, kau tidak mengerti Jongdae-ah. Kita berbeda,” tanggap siswi di hadapannya.

Siswa itu membuka kelopak matanya perlahan, kemudian mendongak menatap wajah siswi yang berdiri di hadapannya, “Berbeda?” kemudian tersenyum kecil, “Maksudmu, karena aku sang mangsa bully-an, dan kau mangsa utama bahan bully-an, begitu?”

“Tidak, bukan itu,” balas sang siswi membuat dahi siswa yang tengah duduk bersandar pada tembok di belakangnya serta kedua kaki lurus ke depan mengerutkan dahi bingung, “Tapi anggap saja seperti itu.”

Siswa di bawahnya terkekeh kecil di buatnya, kemudian kembali menutup mata, “Jangan bercanda Kyungsoo-ah. Kau, aku, Yi Zing, dan siswa golongan terbawah dari golongan siswa kasta bawah semuanya sama.”

“Tidak Jongdae, kau tidak mengerti- sungguh,” kini nada bicara siswi itu terdengar seperti memohon, “Kau, Yi Zing, dan semua siswa golongan terbawah dari golongan siswa kasta bawah semuanya berbeda denganku.”

Seketika siswa itu membuka kelopak matanya cepat, “Tunggu- jangan bilang kau-” ucapnya tertahan, “Kau memiliki hubungan dengan siswa kasta atas?” tanyanya menelisik dengan nada yang lebih rendah.

“Ya.” jawab siswi itu pelan dengan mata memerah.

“Bercanda?”

“Tidak.” jawabnya kembali yang kini dengan pandangan menerawang, “Bahkan ada dua.”

 

 

To Be Contiuned


Holla =w= Maaf buat yang emang ga suka/ga srek sama FF ini. Kemaren kan Liyeol udah bilang kalo ga suka ya jangan dibaca :v Dan di Ch 1 juga kan Liyeol udah bilang kalo di poster Dyo Liyeol ganti jadi cewe beneran =3= Matanya ditutupin ya karena dia bukan dyo :v

” Maaf untuk Typo, EYD yang terabaikan, dan penggunaan tanda baca yang salah.

Khilaf, semua manusia tidak ada yang sempurna. ”

-Jo Liyeol


Review Juseyooo!

.

.

Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v

9 tanggapan untuk “Unfair (Chapter 3)”

  1. Dua? Siapa dua? Apa mungkin….??? Oh Sehun (?) Molla -_-
    Daebak ceritanya! 😀 alurnya nyambung kakak author 😉 trs trs feelnya dpt, ceritanya juga panjg 😉 untuk next chap mungkin sarannya di tmbh adegan yg lbh greget ya thor 😉 dududu makin penasaran sm lanjutannya -_- ngepost nya jgn lama2 ya kak author 😉 :* 😀 fighting!!!

    1. Siapa hayoooo~ =w= Wkwkw .. berarti ini masih kurang gereget yaaaa? :v Ok, ok nanti di usahain biar lebih gereget lagi dah =3= Di tunggu aja yaaaa … (ngepost ini sesuai jadwal jaga soalnya) 😉 Makasih udah nyempetin review

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s