FATA CRUENTA [Episode 1] – by GECEE

fata-cruenta - poster 1

 

GECEE proudly present

 

F A T A    C R U E N T A

 

Starring :

EXO’s Chanyeol
Kim Yoojung

 

Ide cerita punya Gecee, tapi semua castnya bukan punya Gecee. Mereka adalah kepunyaan Tuhan YME, keluarga mereka, dan agensi mereka. Ini hanyalah sebuah karya fiksi, jika ada kesamaan nama, kejadian atau tempat, itu Gecee buat tanpa maksud apapun. Menyalin / mengambil cerita ini tanpa izin sangat dilarang.

Previously on FATA CRUENTA:
[TEASER]

This awesome poster was made by HRa @ Poster Channel

“Dikabarkan, satu lagi gadis yang dikabarkan hilang. Gadis bermarga Lee ini berusia dua puluh tiga tahun. Ciri-ciri: berambut hitam kecoklatan pendek sebahu, tidak mempunyai lipatan mata, dan memiliki tahi lalat di bagian pipi. Terakhir meninggalkan rumah kemarin malam pada pukul sembilan dengan mengenakan gaun pendek hitam. Bila yangmenemukan, dapat menghubungi…..”

KLIK!

Kim Yoojung memencet tombol off dari remote televisinya. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu mendengus. Entah mengapa dua bulan terakhir ini berita di televisi berisi tentang berita gadis yang hilang. Meskipun nilai matematikanya tidak terlalu baik, tetapi Yoojung dapat merata-rata setidaknya dua gadis hilang setiap minggunya.

“Yoojung-ah! Kenapa dimatikan? Aku mau mendengar beritanya!” Shin Rahee, sahabat sekaligus teman satu apartment Yoojung, berteriak dari kamarnya. “Cepat nyalakan lagi, setelah ini aku akan keluar dan menonton TV! Cepat!”

“Ya! Yang tadi itu hanya berita tentang gadis hilang. Memangnya apa yang kau harapkan? Kabar bahwa semua gadis hilang itu akhirnya ditemukan dengan keadaan kepala terpisah dari badan, hah? Aigoo…” Yoojung menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir kepada Rahee yang suka sekali segala sesuatu yang berbau psyco, baik itu film, novel, bahkan sebuah fanfiction. Rahee dan Yoojung adalah sesama penggemar Byun Baekhyun, seorang idol tenar yang namanya sudah dikenal sampai ke luar negeri. Keduanya suka membaca fanfiction tentang Baekhyun, tetapi entah mengapa Rahee lebih memilih fanfiction yang menceritakan bahwa Baekhyun adalah seorang psikopat kelas kakap. Yoojung tidak bisa membayangkan Baekhyun yang memiliki wajah imut itu ternyata adalah seorang psikopat.

                Rahee keluar dari kamarnya sambil menggosok rambut dengan handuk. “Kau mau pergi kuliah sekarang, Yoojung-ah?” Gadis berambut hitam panjang itu melemparkan pantat ke sofa hitam apartment mereka. Melihat Yoojung yang sudah rapi dengan kemeja kotak-kotak, celana jeans model pensil dan sepatu converse, senyum jahil Rahee mengembang. “Hati-hati di jalan, nona Kim. Siapa tahu korban gadis hilang selanjutnya adalah dirimu. Kau akan diculik… lalu kau akan disekap dalam sebuah ruangan, lalu psikopat itu akan memisahkan kepalamu dari – “

Kata-kata Rahee terpotong begitu Yoojung melemparkan bantal sofa ke wajahnya. Yoojung menatapnya dengan tatapan diam-atau-akan-kubunuh-kau, tetapi Rahee malah tertawa terbahak-bahak. “Sudah-sudah, berangkat sana! Jangan lupa belanja bahan makan malam sebelum kau kembali ke sini!”

Yoojung menyelempangkan tas di bahu kanannya. Rambutnya bergelombangnya ia gerai ke belakang. “Kau sendiri ada kuliah jam berapa, Rahee-ya?”

Rahee menggelengkan kepala dan bibirnya meyunggingkan senyum senang. “Hari ini libur! Professor Oh membatalkan kelas hari ini karena anaknya masuk rumah sakit. Yehet! Setidaknya hari ini aku bisa bersantai-santai!”

Yoojung mendengus. “Kalau begitu kenapa bukan kau saja yang belanja bahan makan malam? Arasseo… aku akan belanja. Tetapi kau yang masak, oke? Dan tolong lakukan sesuatu yang lebih produktif selain hanya bermalas-malasan. Lihat kamarmu yang sudah seperti kandang sapi itu!”

Sebelum Yoojung yang menyukai kebersihan itu mengomel lebih jauh, Rahee cepat-cepat mendorong sahabatnya ke pintu keluar. “Ne, eomma. Sekarang pergilah, atau kau akan terlambat.”

“Ingat, bereskan kamarmu!”

“Arasseo. Pergilah, Yoojung-ah…”

***

Professor Jung sialan…. Batin Yoojung. Gadis itu mendengus kesal. Tangannya mencengkram setir motor dengan kencang. Bagaimana tidak? Yoojung sudah menyempatkan diri untuk pergi ke kampus. Setibanya di kampus, ia diberitahu dosen arsitekturnya tersebut belum datang karena terjebak macet, padahal menurut jadwal kelas sudah harus dimulai. Baiklah, menunggu setengah jam mungkin masih bisa ditolerir. Namun setelah menunggu hampir empat puluh lima menit, dikabarkan Professor Jung membatalkan kelas hari ini karena mobilnya mendadak mogok. Jadwal kelas hari ini dipindahkan ke akhir pekan. Padahal, Yoojung sudah punya janji dengan orang lain di akhir pekan.

Terlalu sibuk dengan kekesalannya pada Professor Jung membuat Yoojung tidak lagi berkonsentrasi dalam mengendarai motornya. Gadis itu tidak lagi melihat ke arah mana ia menyetir. Saat kembali sadar, ia sudah hampir menabrak seorang lelaki yang sedang menyebrang jalan. Yoojung cepat-cepat mengerem motornya.

“AWAS!!!”

BRUKK! TIIINN!!!! TIIIINNNN!!!!

Terlambat. Lelaki kaos lengan panjang berwarna putih itu memang tidak tertabrak, tetapi sedikit terserempet motor Yoojung. Bungkusan dalam genggaman tangannya terlepas begitu saja. Sementara Yoojung sendiri terjatuh dari motornya.

Suasana seketika riuh. Banyak warga sekitar yang berdatangan, bahkan beberapa pengendara sengaja turun untuk membantu. Mereka menepikan motor Yoojung, lalu membantu memapah kedua korban ke pinggir. Beberapa juga membantu mengumpulkan barang-barang yang mungkin ikut berjatuhan.

“Aku tidak apa-apa…” ujar Yoojung pada dua ahjusshi yang memapahnya, walau sebenarnya lututnya terasa sakit, mungkin karena terbentur aspal. Namun Yoojung merasa bahwa ia perlu bertanggung jawab atas kekacauan yang telah ia buat. Lagipula, ia yakin rasa sakit pada lututnya itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan luka pada lelaki yang ia serempet itu.

Dengan tertatih-tatih Yoojung berusaha menghampiri lelaki yang sedang duduk di kursi plastik dan dikelilingi oleh beberapa ahjumma. Para ahjumma itu sibuk bertanya-tanya serta memberi saran ‘kau sebaiknya begini..’ ‘lebih baik begitu…’ ‘perlu dibawa ke rumah sakit?’, namun yang Yoojung lihat lelaki itu hanya diam saja. Seorang ahjumma memberikan botol yang Yoojung tebak adalah obat merah, dan Yoojung bisa menyimpulkan bahwa salah satu bagian tubuh lelaki itu terluka.

“Ahjusshi, gwaenchanayo?” tanya Yoojung lirih pada lelaki berkulit putih itu. Aish…. Yoojung merutuki dirinya yang tidak hati-hati. Bagaimana kalau lelaki ini meminta ganti rugi? Berapa biaya yang harus ia keluarkan?

Setelah melilit telapak tangannya dengan perban – dengan dibantu oleh satu ahjumma, lelaki itu menoleh sejenak pada Yoojung. Tatapannya terasa begitu dingin dan menusuk, membuat hati Yoojung mendadak menciut. Habislah aku, batinnya. Lelaki ini pasti akan meminta ganti rugi yang tidak sedikit. Yoojung memejamkan mata. Sepertinya keinginannya untuk membeli tas tangan pesta yang baru harus ia tunda sampai bulan depan.

Namun di luar dugaannya, lelaki itu bangkit berdiri, dan berjalan meninggalkan para ahjumma yang mengerumuninya, juga Yoojung yang kebingungan. Lelaki itu hanya berjalan ke sebuah meja dimana barang-barang belanjaannya yang tadi sempat berhamburan terletak. Yoojung berinisiatif untuk mengikuti lelaki itu. Seorang gadis memberikan sebuah kresek hitam pada lelaki itu – mungkin ia sudah memintanya sebelumnya. Yoojung mengamati kegiatan lelaki itu memasukkan barang-barangnya ke dalam kresek. Lima buah cutter, satu kotak sarung tangan karet, satu kotak masker rumah sakit, tiga ikat tali tambang plastik, dan satu kotak silet. Setelah selesai, lelaki itu membungkuk sejenak pada kerumunan yang masih tersisa, lalu pergi begitu saja.

Yoojung memiringkan kepalanya, berusaha mengira untuk apa lelaki itu membeli barang-barang seperti itu, apalagi dalam jumlah banyak hingga satu kotak. Yoojung ingin bertanya, tetapi lelaki itu sudah terlanjur pergi jauh. Sebenarnya Yoojung bisa saja menyusulnya dengan motornya, tetapi kondisi lututnya yang masih terasa perih tidak memungkinkan. Lagipula, tidak sopan bila kita bertanya akan sesuatu yang sama sekali bukan urusan kita. Jadi, pada akhirnya Yoojung hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa barang-barang tersebut akan digunakan untuk berkebun.

Tadinya Yoojung hendak rehat sejenak di café yang ada di seberang jalan, namun ia teringat bahwa Rahee menyuruhnya untuk berbelanja bahan makan malam. Sialan, gerutu Yoojung. Baiklah, mungkin hari ini ia kurang beruntung. Kita lihat saja apakah kaki ini bisa diajak bekerja sama atau tidak, ujar Yoojung dalam hati. Satu langkah…. Dua langkah… Tiga langkah… Empat langkah.. Lima… dan mendadak rasa sakit yang menggigit itu mendatangi lututnya lagi. Yoojung akhirnya hanya bisa duduk di kursi plastik terdekat. Ia menghembuskan poninya, kesal.

Dirogohnya ponsel dari tas selempangnya. Ia hendak menelepon teman satu apartementnya itu. Enak saja, sementara ia di sini berjuang melawan rasa sakit yang makin menjadi-jadi – oh, Yoojung sangat berharap tidak ada hal berbahaya yang terjadi pada kakinya – Rahee malah ongkang-ongkang kaki di apartment. Tidak adil!

“Ya! Rahee-ya! Bisakah kau saja yang berbelanja bahan makan malam? Aku baru saja mengalami kecelakaan. Tidak, tidak, ini tidak separah yang kau pikirkan. Apa? Cerita? Nanti saja di rumah. Aku baik-baik saja, hanya kakiku terasa sakit bila berjalan. Jadi, bisakah kau pergi berbelanja? Ya? Oh, oke. Terima kasih, Shin Rahee.”

***

Park Chanyeol membuka kunci pintu ruang bawah tanahnya. Pintu itu mengeluarkan bunyi berdecit seraya Chanyeol mendorongnya perlahan. Hawa dingin menyergapnya. Chanyeol selalu suka akan hawa ruang bawah tanah ini, dingin, gelap, dan suasana yang akan membuat bulu kuduk merinding.

Lelaki itu menyibakkan tirai berwarna abu-abu yang menutupi sebuah ruangan kecil. Begitu dibuka, tampaklah tiga buah meja panjang dengan tiga sosok gadis – lebih tepatnya mayat tiga orang gadis – terbaring di atasnya. Tiga sosok gadis itu sudah terbujur kaku. Masing-masing dari mereka mengenakan sebuah gaun putih polos selutut. Rambut gadis-gadis itu tergerai ke bawah. Meski sudah tidak lagi bernapas, tetapi kulit ketiga gadis itu masih terlihat putih pucat dan kencang, mungkin karena efek formalin yang Chanyeol suntikkan pada mereka.

Chanyeol membelai pipi salah satu gadis. Pipi itu terasa dingin di jemarinya. Lelaki itu juga mengusap poni gadis itu, mendekatkan wajahnya, hendak mengajak gadis itu berbicara seolah-olah itu hanyalah seorang gadis hidup yang sedang tertidur.

“Mengapa kau melakukan tindakan bodoh ini, sayang?” tanya Chanyeol lirih sambil tetap membelai poni sang gadis. “Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarkan untuk tidak sembarangan bertemu dengan orang asing?”

Tidak ada jawaban. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara dari mesin pengatur sirkulasi udara yang dipasang agar udara di ruangan ini tidak menjadi lembab.

Chanyeol menggamit tangan gadis itu, tangan pucat yang akan terkulai bila Chanyeol melepaskan genggamannya, tangan dengan ukiran ‘Park. Chan. Yeol’ yang dibuat dengan silet pada bagian lengan bawahnya, dan sekarang ukiran itu sudah mulai mongering. Mungkin Chanyeol harus mengukirnya ulang.

“Jawab aku…” ujar Chanyeol.

Hening.

“Kau tahu untuk apa aplikasi Let’s Meet dibuat, sayang?” desis lelaki itu. Bibirnya kemudian menyunggingkan sebuah senyum sinis. “Well, I guess let’s meet then.”

Hal yang namja berkulit putih itu lakukan selanjutnya adalah mengambil sebuah cutter bersih, dan kemudian mulai membuat goresan pada lengan kiri gadis itu yang masih polos, belum terkena luka apapun.

***

Kim Yoojung mengobrak-abrik lemari bukunya. Dalam sekejap kamarnya yang berukuran tidak terlalu besar itu terlihat berantakan dengan buku-buku arsitektur yang berserakan di lantai. Lemari bukunya menjadi kosong, sebab semua bukunya telah berpindah tempat ke lantai kamar, tetapi Yoojung tidak kunjung menemukan buku yang ia cari.

Merasa belum cukup, gadis berlesung pipi itu mulai membongkar meja belajarnya, mencoba mencari diktat kuliahnya yang terbaru di tumpukan buku=buku tebalnya. Ia juga mencari di deretan buku yang ia beri pengganjal bergambar sapi, tetapi hasilnya nihil. Diktat arsitektur terbaru yang – kalau tidak salah – sampulnya berwarna hijau itu hilang entah kenapa.

Frustrasi, Yoojung hanya bisa terduduk di pinggir tempat tidur. Ia tidak peduli bila ia meletakkan kaki di atas buku-buku yang tergeletak begitu saja di lantai. Gadis itu mengacak-acak rambutnya, kesal akan dirinya sendiri yang teledor dalam meletakkan barang. Otaknya mencoba mengingat-ingat dimana terakhir ia meletakkan diktat kuliahnya, karena seingatnya diktat itu belum lama ia dapatkan. Sayangnya, ia tidak dapat mengingat apa-apa. Hal itu makin membuatnya jengkel.

“Aish… Michigetto!” teriaknya.

Yoojung yang merasa berlama-lama di dalam kamar hanya membuatnya makin kesal, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangannya. “Ya, Rahee-ya! Lihat buku diktat arsitekturku tidak? Warnanya hijau muda, ada gambar gedung rumah sakit di sampul depannya?!” Yoojung berteriak sambil tangannya sibuk mengobrak-abrik bantal sofa ruang tengah, siapa tahu diktatnya terselip di sana.

Rahee yang ditanya tidak menjawab. Ia malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Sesekali tawa kecil terdengar dari mulut yeoja berambut cokelat dengan highlight hijau itu.

“Ya, Rahee-ya! Kau dengar tidak?” Yoojung melipat tangan di depan dada.

Rahee masih asyik dengan ponselnya.

“Rahee-ya!”

Kali ini jemari Rahee sibuk mengetik di layar ponsel.

“Shin Rahee!” teriak Yoojung. Bersamaan dengan itu, sebuah bantal melayang dan BUK! Tepat mengenai wajah Rahee yang putih itu. Barulah kali ini Rahee menoleh, hanya untuk mendapati Yoojung sedang menatapnya dengan wajah tertekuk dan tangan yang terlipat di depan dada.

“Oh, Yoojung-ah. Wae geurae?” tanya Rahee seolah tidak ada yang terjadi.

Pertanyaan Rahee barusan berhasil menambah minyak pada hati Yoojung yang sudah terbakar api amarah. “Ya, Shin Rahee! Kau ini tuli atau bodoh?! Apa kau tidak bisa mendengar sejak tadi aku memanggilmu, eoh?! Aigoo… gadgetmu memang lebih penting daripadaku, bukan? Aku sudah seperti orang gila yang membongkar loker bukuku sendiri demi mencari diktatku, dan sekarang kau malah asyik dengan ponsel seperti ini?”

“Yoojung-ah, mengapa kau jadi marah padaku? Memangnya aku mengambil diktatmu?”

Yoojung mengibaskan sebelah tangannya. “Dwasseo. Sekarang katakan saja padaku, kau melihatnya, tidak?”

“Diktat kuliahmu?” Rahee mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke dagu, tanda berpikir. “Rasanya aku lihat. Sampulnya berwarna hijau kan?”

Seketika wajah Yoojung berubah cerah. “Ya! Ya!”

“Di halaman depannya ada gambar gedung rumah sakit, kan?”

Yoojung mengangguk kencang.

“Aku melihatnya…. Kemarin. Di meja ruang makan. Setelah itu aku menaruhnya di meja belajar kamarmu. Memangnya tidak ada di sana?”

Ekspresi wajah Yoojung kembali lagi kesal. “Aish… mengesalkan sekali.” Yoojung melemparkan pantatnya ke sofa. “Biarlah, nanti juga pasti ketemu.” Yoojung menoleh, hanya untuk mendapati Rahee yang kembali mengetik di ponselnya. “Kau sedang apa sih?” tanyanya sambil merebut ponsel dengan flip cover ungu itu.

“Eyy…. Aku sedang chatting dengan seseorang…” Rahee mengambil ponselnya kembali.

“Nugu? Kang Youngdo?” Yoojung menyebut nama kekasih Rahee yang setahun lebih muda darinya, tetapi gadis itu menggeleng.

Yoojung penasaran. Ia melongokkan kepalanya berusaha mengintip isi ponsel Rahee. “Kalau begitu siapa?” tanyanya penasaran.

“Entahlah..” Rahee memencet sebuah tombol di bagian sisi kiri ponselnya, dan seketika layarnya menghitam. Gadis itu mengangkat bahu. “Seseorang yang kutemukan di SNS. Aku tidak tahu siapa nama aslinya, yang kutahu ia menggunakan id Moonlight.”

Yoojung geleng-geleng kepala. “Sejak kapan kau jadi senang berkenalan dengan orang asing? Memangnya Kang Youngdo itu belum cukup untukmu?”

“Keuge anira….” Rahee cengengesan. “Bocah itu tidak akan tahu. Lagipula aku tidak berencana selingkuh, kok! Selain itu, aplikasi ini cukup bagus untuk menambah kenalanmu, Yoojung-ah! Coba, mana ponselmu?”

“Ponselku?” Yoojung merogoh kantong celananya, memberikan ponsel yang dibungkus hardcover berwarna hitam itu pada Rahee. Bisa dikatakan untuk pertama kalinya Yoojung membiarkan sahabatnya itu mengotak-atik ponselnya.

“Apa yang kau lakukan?” Yoojung mencoba melongok lagi, tetapi Rahee menghalangi pandangannya.

“Sudah, percayakan saja padaku. Kau masak saja makan malam!” ujar Rahee.

Yoojung menggerutu, tetapi tak urung juga ia langkahkan kakinya menuju dapur apartment mereka. Malam ini ia akan memasak spageti kimchi sebagai menu makan malam. Spageti kimchi buatan Yoojung adalah makanan favorit Rahee.

“Yoojung-ah!” teriak Rahee dari ruang tengah ketika Yoojung sedang mengaduk spageti yang ia rebus.

“Hmm?”

“Apa emailmu?”

Yoojung menyebutkan alamat emailnya. “Memangnya untuk apa?”

Rahee tidak menjawab. Yoojung hanya geleng-geleng kepala dan membiarkan sahabatnya itu asyik dengan ponselnya.

Beberapa saat kemudian Rahee menghampiri Yoojung di dapur. “Nah, Yoojung-ah! Aku sudah mendaftarkanmu di aplikasi Let’s Meet! Ini id mu, ini passwordmu. Kau bisa mulai mencari teman dengan menekan bagian ini.” Rahee menekan tombol yang ia tunjuk, lalu jemarinya dengan cepat menekan tombol Add dari semua profil Friend suggestion.

Yoojung kembali sibuk dengan spagetinya, memastikan agar rasanya enak karena lidah Rahee cukup sensitif dengan rasa. Rahee bisa mengomel sampai hampir setengah jam hanya gara-gara masakan yang Yoojung masak kurang asin, dan itu bukanlah sesuatu yang enak didengar.

“Wah, Yoojung-ah! Lihat! Ada yang mengajakmu chat!” seru Rahee heboh. Ia menunjuk-nunjuk ponsel Yoojung.

Seseorang dengan id Overdozed. Foto profilnya hanya hitam pekat. “Annyeonghaseyo, agasshi…” demikian isi pesannya.

Yoojung jadi bingung sendiri apa yang harus ia balas, terlebih ini adalah chat dengan orang yang baru ia kenal. Bagaimana ia harus berkata-kata? Apakah orang ini lebih tua atau lebih muda? Yoojung takut kalau jawabannya ternyata menyinggung perasaan orang itu.

Jemari Yoojung mulai mengetik. “Permisi, apakah anda seorang laki-laki atau perempuan?

Gadis itu menekan tombol send. Barulah beberapa saat kemudian Yoojung seolah tersadar bahwa pertanyaan itu mungkin pertanyaan paling tidak sopan yang pernah ia lontarkan. Buru-buru ia mencoba untuk menghapus pesan itu. Terlambat. Pesan itu sudah terlanjur terkirim.

“Aish…. Eotteohge…” gerutu Yoojung. Gadis itu teringat akan masakannya, dan ia mematikan kompor sejenak sebelum kembali mengecek ponselnya. Oh, orang itu sudah menjawab.

Laki-laki.”

Sudut-sudut bibir Yoojung terangkat sedikit. Ia segera menunjukkan percakapan singkatnya itu pada Rahee. “Rahee-ya, lihat! Teman chat baruku ada seorang namja.”

Wajah Rahee seketika terlihat cerah. “Wah, baguslah! Benar kan kubilang, kau bisa menambah teman dengan aplikasi ini! Kudoakan agar kau cepat mendapat pacar melalui Let’s Meet, ya…” ujarnya diakhiri dengan tawa.

***

Mungkin ini adalah tindakan terbodoh dan paling tidak masuk akal yang pernah Yoojung lakukan seumur hidupnya. Oh, ayolah. Masih jelas dalam ingatannya ketika ia hampir diculik di sebuah pusat perbelanjaan saat berusia tujuh tahun. Saat itu Yoojung terpisah dari orangtuanya karena terlalu asyik melihat boneka Barbie. Begitu menyadari bahwa orang tuanya tidak ada, Yoojung mulai berjalan menerobos keramaian. Saat itulah seorang ahjusshi datang dan menawarkan permen padanya. Untung saja Yoojung tidak menyukai permen sehingga ia menghindari dari ahjusshi itu dan bertemu dengan orangtuanya yang berada tidak jauh dari tempat itu.

Tetapi sekarang? Sudah hampir seminggu Yoojung berkomunikasi dengan namja ber-id Overdozed melalui aplikasi Let’s Meet. Mereka memang tidak bercakap-cakap setiap saat, biasanya percakapan mereka akan dimulai saat malam hari ketika tugas kuliah Yoojung telah selesai dan ia siap untuk tidur. Overdozed-ssi – demikian Yoojung menjulukinya – memang bukanlah orang yang senang bercerita, tetapi responnya akan cerita-cerita Yoojung membuat gadis itu beranggapan bahwa ia adalah seseorang yang berkharisma. Menyenangkan untuk berbagi cerita.

Akhir pekan ini, namja itu mengajaknya untuk bertemu pertama kali. Kebetulan malam ini juga Rahee akan pulang malam karena akan berkencan dengan kekasihnya. Sepulang mengikuti kelas pengganti professor Jung di siang hari, gadis itu cepat-cepat pulang ke apartmentnya untuk bersiap-siap. Untuk beberapa saat Yoojung merasa bingung pakaian apa yang harus ia kenakan, apakah ia harus menggunakan mini dress atau sekedar celana panjang dan kaos? Bagaimana penampilan namja yang akan ia temui, dan kemana ia akan membawanya? Haruskah Yoojung mengenakan pakaian formal atau non formal?

Akhirnya Yoojung pergi dengan menggunakan kemeja kotak-kotak yang dipadu dengan celana jeans ketat serta sepatu converse putih. Yoojung meninggalkan apartmentnya dan menunggu di halte yang ada di ujung jalan. Yoojung pernah memberitahu di apartment mana ia tinggal dan mereka sepakat untuk bertemu di halte itu.

Jam setengah delapan, belum ada tanda-tanda orang yang akan menjemputnya. Sejak tadi hanya bis kota yang berulang kali mampir ke halte, lalu pergi lagi. Padahal mereka sudah berjanji untuk bertemu di halte ini pukul tujuh lebih lima belas menit. Sekarang sudah lewat lima belas menit. Kemana namja itu? Yoojung pun memutuskan untuk kembali menghubungi Overdozed-ssi.

Overdozed-ssi, anda ada dimana? Saya sudah menunggu di sini.”

Tidak ada jawaban. Yoojung meremas ponselnya dengan kesal. Udara malam yang dingin menusuk pori-pori kulitnya. Sebersit rasa menyesal menghampirinya karena tidak membawa mantel di malam hari seperti ini.

Sepuluh menit kemudian ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Overdozed. “Aku sudah hampir sampai. Aku menggunakan mobil warna hitam.” Yoojung bangkit berdiri. Kepalanya celengak-celinguk mencari mobil hitam. Ya ampun… mobil hitam itu kan banyak sekali, gerutu gadis itu. Tak lama sebuah mobil hitam menepi di dekat halte. Klakson mobil itu berbunyi dua kali, demikian juga lampu depannya yang berkedip dua kali. Yoojung tahu bahwa itu adalah Overdozed-ssi. Gadis itu pun berjalan menghampirinya.

Dengan isyarat tangan yang dijulurkan keluar, namja dalam mobil itu menyuruh Yoojung untuk masuk. Yoojung mengambil tempat duduk di samping pengemudi.

“Annyeonghaseyo, Kim Yoojung-ssi…”

Yoojung masih sibuk menggeser-geser posisi duduknya agar terasa nyaman. Bagaimana pun ini adalah mobil yang pertama kali ia masuki, dan entah mengapa ia merasa canggung. “Ne, annyeonghaseyo, Overdozed-ssi…” Yoojung mengangkat kepalanya, menatap wajah namja itu, yang entah mengapa terlihat familiar di matanya.

“Oh, kita pernah bertemu sebelumnya, kan?”

TO BE CONTINUED

 

PREVIEW EPISODE 2

“Bukankah menjadi orang yang misterius itu menyenangkan?”

***

“Hajima oppa… Kumohon jangan lakukan itu..”

***

“Kalau kau butuh bantuan, hubungi saja aku.”

***

“Hari ini kau sibuk? Mau melanjutkan kencan kita yang tertunda?”

***

“Pergi, cepat pergi! Cepat pergi sebelum aku menghabisimu!”

A/N
Panjang? Banget.
Geje? Sangat.
Udah nggak tahu harus komentar apa lagi hwhwhw
Terima kasih untuk kalian yang sudah bersabar menunggu update proyek ku yang antah berantah ini…
Don’t forget to RCL 😀

© 2016 GECEE’S STORY
(
http://gcchristina.wordpress.com/
)

 

31 tanggapan untuk “FATA CRUENTA [Episode 1] – by GECEE”

  1. Hai kak!
    Entahlah setelah sekian lama liat ini ff muncul di TL baru sekarang aku tertariknya /PLAK/
    Aku suka bahasanya, tipe tipe kak Gecee banget deh. Tapi kalo aku boleh koreksi dikit–duikit doang kok-, kata kata asingnya masih belum di italic ya? Hehe
    Itu doang sih menurutku yang butuh perbaikan 😀
    Tapi… Tunggu tunggu… Sepertinya aku familiar sama aplikasi Let’s Meet ini, di film mana yak? Filmnya Luhan itu bukan sih–apa seh be?–. Pokoknya itu lah…
    Keep writing ya, kak!!! SEMANGATTTT!!!

    Kecup sayang dari Bebe as Kesayangannya si Item dan juga Papa Sehun–Papa Seungcheol juga deng 💕

    1. wahahaa.. aku malah gatau aplikasi tinder tuh kayak apa hehehe.. let’s meet ini terinspirasi dari 1 film yang kutonton…
      terima kasih sudah komen 🙂

  2. Wahh seru, pas baca awal-awal aku jadi inget film fatal frame jdi aku kira bakalan kyk gtu tapi ternyata nggk hehehe.. bagus bgt

  3. uwahhh pasti keren nih ceritanya 😀
    itu yang punya id overdozed …. mmm.. Chanyeol kah? .-.
    oh god! disini dia jadi orang jahat ya :/ leh ugha lah leh ugha /gkk 😀

    buruan Next kak!! Hwaiting!!

  4. Waahh bhya akan dtgggg, gara2 c Rahee ni ,, yoojung bkln kencan ama org yg salah,, aduh gmna ya nnti yoojung jd korban slnjutny gk ya???

    1. Iya… harusnya hati2 ya rahee jangan asal2 daftar gituan… yoojung juga harusnya jangan asal kenal2an sama orang asing…
      ahahaha…. ditunggu saja kelanjutannya…
      makasih udah baca dan komen 🙂

  5. Penasaraaaaan…. kenapa Chanyeol bisa jadi psyco begitu 😨
    Next next next aku bakalan nungguin banget nih update-an nya. Fighting eon !!😉

    1. heeh… aku juga gatau kenapa chanyeol begitu….
      ditunggu aja kelanjutannya yaa..
      makasih udah baca dan komen 🙂

  6. Wihh,hihi.. Makin penasaran sama kelanjutannya^^ panjang? Ih justru seneng banget,jdi puas gtu kkkkk,, gaje? Gak ah,keren tau😁ditunggu chapter 2nya ya💪

    1. oh.. baguslah.. aku pikir terlalu panjang hehehee takutnya jadi pada males baca…
      soalnya aku bisa dibilang baru pertama kali bikin genre ginian…
      oke2.. ditunggu saja ya..
      makasih udah baca dan komen 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s