[EXOFFI FREELANCE] SKYREACH (Chapter 4a – Angel Without Wings)

skyreach_resized_1

SKYREACH (Chapter 4a – Angel Without Wings)

Main Cast                    :

  • Kim Eunbi (OC)
  • Oh Sehun
  • Byun Baekhyun
  • Jang Nana
  • Do Kyungsoo

Other Cast                   :

  • Jung Hyena
  • Song Jihyun

Genre              : Mystery, Romance

Author             : Aichan

Length             : Chapter

Rating             : T

Disclaimer       : FF ini murni hasil karya imajinasiku. Semua yang ada di FF ini hanya fiksi belaka. Maaf jika banyak typo. Jangan lupa kritik dan sarannya. Don’t be plagiat. Happy Reading.. ^^

***

PART 4A

 

SEHUN POV

Keadaan kelasku benar-benar kacau sekarang. Ini merupakan hal yang langka, bahkan untuk orang sepertiku yang baru berada dikelas ini beberapa bulan saja. Aku tidak pernah membayangkan akan ada kekacauan di kelasku. Mengingat kelas 2A adalah kelas yang hampir semua muridnya bersikap sangat acuh tentang kegiatan bersosialisasi di sekolah selain untuk kepentingan pembelajaran. Tapi untuk hari ini, mereka semua mengesampingkan hal itu.

Semua ini tampak janggal bagiku, hampir semua teman kelasku sibuk dengan pembicaraan mereka meskipun bel masuk telah dibunyikan. Mereka juga mempersilahkan murid kelas lain berkunjung ke kelas kami dan menciptakan keributan yang lebih besar dari sebelumnya. Ini jelas bukan hal yang biasa terjadi.

Kurang lebih aku mengetahui dalang dari keributan di kelasku. Ya, ini semua akibat dua orang yeoja yang menerobos kesunyian kelasku dan menciptakan kekacauan itu. Lalu yang lebih mengagetkanku lagi, aku mengenal salah satu dari kedua gadis itu.

Dia Kim Eunbi.

Aku tidak begitu mengerti maksud kedatangannya ke kelas ini. Tapi kondisinya benar-benar sangat kacau, sama dengan kondisi kelasku saat ini. Matanya bengkak dan merah, juga dikelilingi lingkaran hitam. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?

Semalaman aku tidak bisa menghubunginya, bahkan pesanku saja diabaikannya. Lalu sekarang, dia muncul di kelasku dengan kondisi yang seburuk ini. Apa-apaan dia!

Gadis lain yang datang bersama Eunbi ―Jangan bertanya siapa namanya, aku tidak mengenalnya― mendekat ke arahku. Tidak, lebih tepatnya ke arah Kyungsoo. Seseorang yang duduk didepanku. Jika disuruh untuk mendeskripsikan orang seperti apa Kyungsoo itu, aku tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut. Aku tidak dekat dengannya, lagipula dia bukan orang yang ingin ku dekati. Kami terlalu berbeda.

Eunbi mengikutinya temannya dari belakang. Mata kita sempat bertemu, tapi dia mengabaikanku. Yang benar saja, ada apa dengannya?

“Kau! Ini semua karena kau!” gadis itu berteriak. Ya, gadis yang datang bersama Eunbi, ia berteriak cukup kencang pada Kyungsoo. Aku bahkan sampai menutup telingaku saking terkejutnya. “Jihyun bunuh diri karenamu. Dasar pria jahat, bisa-bisanya kau melakukan itu pada Jihyun ku. Kau pembunuh!”

Semua orang yang mendengar ucapan gadis itu langsung membulatkan matanya. Akupun juga demikian, bagaimana tidak, ini benar-benar sangat mengejutkan. Bisikan-bisikan kecil juga mulai terdengar. Ini benar-benar berita terbaru yang tak pernah kubayangkan, seorang yeoja yang bunuh diri dan itu semua karena ulah teman sekelasku―Ya, mekipun itu hanya opini saja, tapi ini sangat mengejutkan―. Lalu, apa hubungannya ini semua dengan Eunbi? Aku masih belum mengerti dengan situasi ini. Sama sekali tidak.

Aku melihat wajah Kyungsoo memerah karena ucapan gadis itu. Ia berdiri dari posisi duduknya dan memandang tajam lawan bicaranya itu. “Apa kau sudah gila?” ucapnya tak ramah. “Kau menyebutku sebagai pembunuh? Yang benar saja, aku tidak pernah membunuh siapapun dan aku juga tidak mengenal gadis bernama Jihyun yang kau sebutkan tadi. Penyebab bunuh diri? Jangan mengada-ngada.”

Gadis itu menghela nafas panjang. “Kau memang tidak langsung membunuhnya. Tapi kau membunuhnya tanpa disadari semua orang. Bagaimana bisa kau membuatnya melakukan bunuh diri dengan cara sekejam itu. Aah, meminum morfin, Jihyun pasti sangat menderita,” ucapnya yang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Seperti mencoba menghapus kenangan buruk yang ada dipikirannya. “Kau tidak akan pernah ku maafkan!”

Kyungsoo menyipitkan matanya. Ia seperti sedang mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan padanya. “Sudah ku bilang aku tidak mengenal Jihyun,” ucapnya yang meninggikan suaranya. “Bagaimana bisa,”

“Ini,” ucap Eunbi memotong. Dia dari tadi hanya diam dan baru bicara sekarang. Ia mengeluarkan sebuah amplop merah hati dengan pita berwarna pink dibagian atas sebagai pemanisnya. Ku yakin amplop itu tidak kosong. “Ini surat yang Jihyun berikan padamu. Tepatnya dua hari yang lalu, jam dua siang saat bel istirahat di atap sekolah. Apa kau sekarang mengenalnya?”

Lagi-lagi Kyungsoo menyipitkan sebelah matanya. Ia memperhatikan amplop itu dengan teliti lalu kemudian memandang Eunbi. “Jadi gadis itu? Gadis dengan kaca mata tebalnya?”

Eunbi menganggukkan kepalanya.

“Karena kau menolaknya, Jihyun kami, Jihyun sampai,” ucap teman Eunbi geram. “Kau telah membunuhnya.”

“Hyena, gemanhae,” ucap Eunbi pelan namun penuh penekanan sambil menahan lengan Hyena―gadis yang berada disampingnya― yang ingin menampar Kyungsoo.

“Eunbi, kenapa kau menghentikanku? Huh? Dia yang telah membunuh Jihyun. Aku harus membalasnya, dia harus merasakan setidaknya sedikit rasa sakit dari banyaknya luka yang Jihyun alami,” ucap Hyena. “Aku yakin dia telah berkata buruk pada Jihyun. Kalau tidak, bagaimana mungkin Jihyun melakukan itu. Aku seharusnya lebih memaksa Jihyun untuk tidak bicara dan kemudian ia tidak akan bunuh diri seperti ini.”

Kyungsoo memandang Hyena dengan tatapan menerawang. “Aku turut berduka cita atas meninggalnya temanmu itu, siapa namanya tadi, aah, Jihyun. Ya, aku turut berduka cita atasnya,” ucapnya. “Tapi, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kematian temanmu itu. Kalian jangan menyalahkanku atas tindakan bodohnya itu, dia mati bukan karena aku. Aku tidak bisa membohonginya, bagaimana mungkin aku bisa menerima cinta dari gadis kampungan seperti dia. Aah, satu lagi, dia juga sedikit bodoh, bagaimana mungkin dia bunuh diri hanya karena cintanya itu ditolak. Ini konyol.”

Eunbi dan Hyena memandang Kyungsoo dengan tajam.

“Mungkin saja dia tidak bunuh diri. Tapi karena overdosis dari obat-obatan,” ucap Kyungsoo sambil memiringkan kepalanya. “Kau bilang sesuatu tentang morfin kan, mungkin saja ia terlalu,”

Sebuah tamparan menghentikan ucapan Kyungsoo. Tanpa sadar, Kyungsoo memegang pipinya yang mulai memerah.

“Iissh, apa yang kau lakukan?” ucap Kyungsoo memandang dingin ke arah Eunbi. Ya, dialah yang baru saja menampar Kyungsoo. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan melakukan itu. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini bahkan sampai menampar seseorang. Aku jadi teringat, saat aku melukai lengannya dulu, dia bahkan tidak semenyeramkan saat ini. Itu pasti menyakitkan.

Eunbi menghela nafas panjang. Ia seakan akan sedang mengatur emosinya. “Jihyun bilang padaku kalau kau pria yang baik,” ucapnya yang kurasa ia mulai tenang. “Dia bilang, dia telah jatuh cinta pada malaikat tanpa sayap. Dia benar-benar sangat menyukaimu. Aku bahkan tidak ingin mempercayai kalau Jihyun bunuh diri karena hal ini. Dia tidak selemah itu. Tapi, mendengar ucapanmu, mendengar kau berkata seperti itu tentang Jihyun, itu membuat hatiku sakit. Maaf karena telah menamparmu.”

“Eunbi!” Hyena berteriak memanggil nama orang yang ada disampingnya itu. Ia seakan tak percaya kalau ia baru saja mendengar kata maaf dari orang yang tidak seharusnya berbuat demikian. Ia seakan tidak ingin mendengar kata maaf dari mulut Eunbi. “Ia pantas mendapatkan itu. Kau tidak perlu minta maaf padanya, dia yang seharusnya minta maaf. Tidak, bahkan maaf saja tidak perlu, dia yang telah menyebabkan Jihyun bunuh diri.”

Eunbi tidak menanggapi ucapan Hyena. Ia memandang Kyungsoo dengan tatapan tegasnya. “Sebaiknya kau tidak berkata buruk tentang Jihyun. Bahkan yang ia katakan padaku tentangmu adalah hal yang baik, ia selalu memujimu. Ingatlah, kalau Jihyun adalah orang yang menyukaimu bahkan disaat terakhirnya. Kau tidak pantas berkata seperti itu tentangnya,” ucapnya. “Aku benci mengakui hal ini, tapi Jihyun, dia meninggal karena bunuh diri. Dia tidak menggunakan obat-obatan seperti yang kau pikirkan. Morfin yang ada diminumannya kemarin, merupakan kali pertama dan terakhir untuknya, dan itu menyebabkan hal buruk terjadi padanya. Dia bukan seorang pengguna. Jihyun tidak seburuk itu.”

Eunbi mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Tidak, itu bukan senyuman yang sering ku lihat darinya. Dia benar-benar terlihat rapuh, sangat rapuh.

Semua mata memandang ke arah Eunbi. Aku tau satu hal tentang Eunbi, kalau ia tidak suka menjadi pusat perhatian, bahkan ketika ia sedang bersamaku. Tapi untuk kali ini, ia tidak berkomentar. Ia sama sekali tidak peduli dengan situasi yang ia alami saat ini. Sungguh berbeda dengan Eunbi yang aku kenal. Aku benar-benar tidak menyukai keadaan Eunbi yang seperti ini.

***

AUTHOR POV

Suara hentakan piring menggema dari meja terdepan sebuah kantin. Hampir semua orang yang mendengar suara itu tidak terlalu memperdulikannya, seolah hal seperti ini sudah sering terjadi. Dua namja yang menempati meja itu hanya melirik malas ke arah pelaku sumber suara berisik tersebut. Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing.

“Biarkan aku bergabung,” ucap seorang yeoja begitu ia menjatuhkan diri dikursi kantin meja terdepan. Dia yeoja yang membuat suara berisik barusan.

“Tak biasanya kau makan makanan kantin Nana? Bukankah biasanya kau selalu membawa bekalmu sendiri?” ucap seorang namja dengan mulut penuh nasi sambil menyuap beberapa potong daging dari piringnya. “Dimana Eunbi?”

Nana menghela nafas panjang begitu nama temannya itu dipanggil. Seolah ada beban berat yang mendiami punggunggnya. “Aku tidak tau, Baekhyun” ucapnya lemah. “Eunbi akhir-akhir ini bertingkah aneh. Aku jadi merasa kesepian. Dua hari ini dia sama sekali tidak mengajakku bicara kecuali aku yang memulainya. Dia seperti memikirkan banyak hal. Semenjak Jihyun meninggal dia jadi aneh, terlebih lagi saat ia melakukan keributan dikelas 2A kemarin, dia sama sekali tidak kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran terakhir. Tadi pagi saat aku tanyakan tentang apa yang terjadi kemarin, Eunbi tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan berlalu pergi. Aku benar-benar menghawatirkannya. Apa Eunbi berbicara padamu, Sehun?”

Sehun tidak segera menjawab pertanyaan Nana. Ia sedang memikirkan beberapa hal. “Ia mengabaikanku,” ucapnya yang terlihat frustasi. “Semua panggilan dan pesanku tidak ada yang ditanggapi. Bahkan ketika aku berkunjung ke rumahnya, ia seolah-olah,” Sehun tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya begitu terlintas sebuah gambaran ekspresi Eunbi saat ia menemuinya kemarin. Terasa menyakitkan untuknya.

“Kau berkunjung ke rumah Eunbi?” tanya Baekhyun penasaran.

“Rumah kami bersebelahan. Itu sebabnya,” ucap Sehun menanggapi.

“Apa yang dilakukan Eunbi? Apa dia mengusirmu?” kali ini Nana yang bertanya.

Sehun menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Eunbi tidak mungkin mengusirku. Hanya saja dia seperti orang asing bagiku. Ia sama sekali tidak bicara padaku dan tidur lebih awal. Alhasil, aku menghabiskan waktuku bermain video game dengan Suho hyung,” ucapnya. “Dia kakak Eunbi. Bahkan ia juga merasakan perubahan sikap Eunbi belakangan ini. Ia sempat bertanya padaku, tapi aku tidak bisa menjawabnya. Aku terlalu bingung untuk menjelaskannya, ini juga membingungkan untukku.”

“Ehm, kalau dipikirkan kembali, aku sepertinya mengerti bagaimana perasaan Eunbi saat ini,” ucap Baekhyun yang kemudian meminum habis airnya dengan sekali teguk. “Bukankah ini hampir sama seperti kasusku sebelumnya. Kasus perfect pencil? Benar kan?”

Nana memukul pelan kepala Baekhyun dengan sendoknya. “Jelas saja ini berbeda,” ucapnya tak ramah. “Lagipula, aku benar-benar ingin melupakan kasus itu. Tidak seharusnya kau membahasnya kembali.”

Nana sebenarnya tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Ia tidak ingin melupakan kasus itu. Saat-saat dimana ia bisa merasakan pelukan hangat dari seorang Byun Baekhyun untuk pertama kalinya. Namun, semakin ia mengingatnya, wajahnya mungkin akan memerah dengan sendirinya.

“Ini tidak jauh berbeda Nana,” ucap Baekhyun sebal sambil memegangi kepalanya yang menjadi sasaran pukulun temannya itu barusan. “Dilihat dari sudut pandangku, Kyungsoo itu sama sepertiku, dituduh oleh para gadis melakukan kesalahan yang belum tentu kami melakukannya. Tapi, dia jauh lebih beruntung daripada aku. Tidak ada orang yang mempercayai kalau Kyungsoo patut disalahkan atas kematian Jihyun. Rumor yang tersebar malah sebaliknya, Jihyun diberi stempel bodoh karena bunuh diri dengan alasan konyol. Bahkan setelah kematiannya, ku pikir itu adalah hal jahat berbicara buruk tentangnya.”

“Kupikir itu juga yang membuat Eunbi bersikap aneh,” ucap Nana yang terlihat murung. “Aku takut dia merasa bersalah karena rumor itu. Aku takut dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlibat pada situasi dimana ia menuduh Kyungsoo kemarin. Aah, tidak, ku pikir Eunbi tidak berpikiran seperti itu. Maksudku saat ia menemani Hyena kemarin.”

Baekhyun mendecakkan lidahnya. “Eunbi seharusnya menghawatirkan dirinya sendiri. Semua orang juga membicarakannya. Gadis setan yang berani menampar malaikat, apa-apaan julukan itu. Kyungsoo sama sekali tidak pantas dengan julukan malaikat, yang benar saja, malaikat tanpa sayap, harusnya menjadi julukanku, bukannya Kyungsoo. Namja pendek seperti dia tidak pantas menjadi malaikat,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Kalau gadis setan sih memang cocok untuk Eunbi.”

Untuk kedua kalinya, Nana memukul Baekhyun dengan sendok. Kali ini pukulannya cukup keras, bahkan Baekhyun sampai meringis kesakitan. “Aiih, aku hanya bercanda. Kenapa kau selalu memukulku?” ucap Baekhyun yang meninggikan suaranya.

“Leluconmu tidak lucu, Byun Baekhyun,” ucap Nana penuh penekanan.

“Memangnya apa yang membuat Kyungsoo disebut sebagai malaikat?” tanya Sehun menengahi perdebatan antara Baekhyun dan Nana. “Aku juga mendengar itu dari Eunbi kemarin. Ia bilang Jihyun juga menyebut Kyungsoo sebagai malaikat tanpa sayap? Apa maksudnya?”

Baekhyun berdeham pelan begitu mendengar pertanyaan Sehun. “Aah, itu hanya julukan kekanak-kanakan yang dibuat kalangan gadis kurang kerjaan di sekolah ini untuk Kyungsoo. Sama sepertiku, aku juga dijuluki berandalah manis oleh mereka,” ucapnya. “Kau juga mendapat julukan, kalau tidak salah, ehm, sepertinya, snow prince. Ya, pangeran salju julukanmu, Sehun.”

“Pangeran salju? Aku baru mendengarnya?” ucap Sehun sambil memiringkan kepalanya. “Siapa yang membuat julukan seperti itu?”

“Aku tidak tau. Lagipula julukan seperti itu tidaklah penting. Mereka hanya membuat julukan berdasarkan apa yang mereka lihat, tapi sebenarnya mereka tidak tau apa-apa. Aah, itu sangat menyedihkan,” ucap Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.

“Memang apa yang mereka lihat dari Kyungsoo?” tanya Sehun lagi. “Aku memang sekelas dengannya, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Pasti ada alasan kenapa dia di juluki seperti itu kan?”

Baekhyun dan Nana saling berpandangan. Sesaat kemudian Baekhyun kembali mengamati Sehun dan mengangkat bahu. “Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita,” ucap Baekhyun terus terang.

Mendengar jawaban Baekhyun, Sehun langsung melempar pandang pada Nana. Satu-satunya wanita yang ada dihadapannya saat ini. Baekhyunpun juga demikian.

Merasa dipandangi oleh kedua orang namja dengan tatapa menerawang, membuat Nana hanya bisa membuang nafas panjang. “Baiklah, menurut pandanganku, mungkin saja Kyungsoo disebut malaikat karena sifatnya,” ucap Eunbi. “Hey, tapi apakah ini penting?”

“Lanjutkan,” ucap Sehun tegas.

Eunbi mendesah kesal. “Ini berdasarkan rumor yang ku dengar. Ya, aku dan Eunbi sering sekali mendengar kalangan yeoja membicarakan siswa lain di tempat-tempat tertentu, seperti kamar mandi, kantin, taman atau tempat lainnya. Lalu Kyungsoo, merupakan hal yang sering dibicarakan oleh mereka. Ya, kalian tau, keluarga Kyungsoo merupakan keluarga yang sering sekali membagi penghasilan mereka pada orang-orang yang membutuhkan. Setiap bulan, bisa dikatakan, ayah Kyungsoo selalu menyumbangkan dana untuk 20 panti di korea selatan dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Ehm, ku pikir, ayah Kyungsoo juga merupakan donator tetap di sekolah ini. Jadi wajar saja jika Kyungsoo terkadang mendapat perlakuan istimewa dari sekolah,” ucap Eunbi menjelaskan. “Tapi selain itu, sikap Kyungsoo juga sangat sopan dan ramah pada teman-temannya, tapi itu tidak berlaku pada wanita, sikapnya bisa berubah menjadi sangat dingin jika ia berhadapan dengan salah satu kaum hawa. Tapi, itu lantas tidak membuatnya dijauhi para wanita, justru banyak yang beranggapan kalau sikapnya yang seperti itu keren. Itu tandanya dia bukan namja murahan, siapa yang bisa membuat Kyungsoo jatuh hati, pasti wanita yang hebat. Ya, itu yang kudengar. Lagipula dia juga pemegang peringkat pertama sekolah selama berturut-turut dari kelas satu. Suaranya juga sangat indah dan penampilannya juga lumayan. Itu sebabnya, banyak wanita yang menyukainya.”

“Meskipun dia pendek?” tanya Baekhyun.

“Yaa!” ucap Eunbi meninggikan suaranya. “Pendek tidak masalah selama ia memiliki citra yang bagus. Tidak sepertimu. Lagipula, kau juga bukan namja yang tinggi Baekhyun?”

Baekhyun menyipitkan matanya. “Setidaknya aku lebih tinggi darinya beberapa senti,” ucapnya percaya diri. Ya, meskipun hanya sedikit kepercayaan diri yang dimilikinya untuk masalah tinggi badan.

“Lihat siapa yang bicara,” ucap Eunbi sambil mendecakkan lidahnya. “Tinggi kalian sama.”

Baru Baekhyun ingin mengomentari ucapan Nana, Sehun sudah mengangkat tangannya. Ia hampir saja lupa, kalau daritadi Sehun sedang memikirkan sesuatu yang mungkin tidak ada dalam pikirannya saat ini. Bukan hal yang baik untuk berdebat dengan Nana di saat seperti ini. “Ehm, apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan lagi Sehun?” ucap Baekhyun sambil menunjukkan senyumannya. “Aku akan menjawabnya selama aku mengetahuinya.”

Sehun memegang dagunya, ia nampak sedikit berpikir. “Ku pikir ini hal yang sangat penting, dan seharusnya aku tanyakan ini dari awal,” ucapnya sambil memandang ke arah Baekhyun dan Nana bergantian. “Sebenarnya apa hubungan Jihyun dan Eunbi? Juga dengan Hyena? Kalian berdua juga mengenal Jihyun kan, meskipun ku tau kalian berbeda kelas dengannya. Tapi, kalian tidak terlihat sangat kacau seperti Eunbi. Apa Eunbi sangat dekat dengan Jihyun?”

Nana tersenyum kecil mendengar pertanyaan Sehun. Namun ada perasaan kekecewaan yang terselimuti di wajahnya. “Kali ini biarkan aku yang menjawabnya,” ucapnya. “Ehm, ini berdasarkan apa yang ku ketahui. Ya, kau tau Sehun, Jihyun adalah teman pertama yang dimiliki Eunbi di sekolah ini. Jadi tentu saja dia sangat berarti bagi Eunbi. Biar kuceritakan sedikit padamu, pada awal semester, Eunbi mengalami masa-masa yang sulit, dan menurutku Jihyun lah yang menemaninya di masa-masa sulitnya itu. Eunbi pernah mengalami masalah dengan bully.”

Bully? Apa maksudmu?” Sehun sangat terkejut mendengar penjelas Nana. Ia sama sekali tidak tau apa yang terjadi dengan Eunbi selama ia pergi. Ia nampak seperti orang bodoh yang percaya sangat mengenal Eunbi tapi sebenarnya ia tidak tau apa-apa tentangnya. Tentang Eunbi selama ia tidak ada disampingnya.

“Ini merupakan pembahasan yang sensitive, aku mengerti jika Eunbi belum menceritakan hal ini padamu. Itu terlalu menyakitkan.,” ucap Eunbi meyakinkah begitu melihat perubahan ekspresi Sehun. “Ya, dunia yeoja memang rumit. Ku pikir, hanya karena namja, Eunbi sampai diperlakukakn kejam seperti itu. Tahun lalu, ada seorang sunbae dari kelas 3C yang menyukai Eunbi, ya, menurutku dia namja yang keren. Tinggi, jago olahraga, pewaris tunggal perusahaan ayahnya dan pintar bermain piano, ahh, tapi tenang saja, aku tidak menyukainya. Aku tidak suka namja tinggi. Lagipula, Eunbi juga berpendapat sama denganku. Dia juga tidak menyukai namja itu. Lalu disitulah, kejadian buruk menimpanya.”

“Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Sehun penasaran. Meskipun hatinya perih mendengar penjelasan Nana, ia tidak mungkin berhenti disini. Ia harus mengetahui apa yang tidak diketahuinya tentang Eunbi. Harus.

“Ehm, kalangan wanita yang menyukai sunbae itu spontan langsung membenci Eunbi. Mereka berpikir kalau Eunbi itu terlalu sombong bahkan sampai menolak cinta dari sunbae itu dikeramaian banyak orang. Kebanyakan dari mereka adalah siswa kelas tiga, dan setelah itu, ya, Eunbi mengalami masa-masa yang sulit,” ucap Nana muram. “Terkadang aku ingin sekali memutar kembali waktu. Seandainya saja aku lebih dulu mengenal Eunbi, seandainya saja aku tidak pura-pura buta tentang hal ini, pasti Eunbi tidak akan terlalu semenderita itu.”

“Ya, tidak ada yang bisa disalahkan akan hal ini, Nana,” ucap Baekhyun mencoba menyemangati Nana yang terlihat ingin menangis. “Pikirkanlah saat ini, ku pikir, Eunbi terlihat sangat bahagia bersamamu. Kau bisa melindungi Eunbi dari saat ini, benar kan?”

Nana menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Baekhyun. Ya, masa lalu tidak akan pernah bisa berubah. Dan untuk saat ini, Eunbi tidak akan pernah diganggu oleh siapapun lagi, semua senior-senior pengganggu itu sudah menghilang. Lagipula, Nana juga akan menjadi pelindung Eunbi sama seperti Eunbi melindunginya.

Sehun membuang nafas panjang. Ia seolah-olah sedang menahan duri yang tersangkut dalam dirinya. Terlihat tersakiti. Dia merasa yang paling bersalah atas semua ini, tidak seharusnya ia meninggalkan Eunbi terlalu lama.

Jadi itu sebabnya, Eunbi tidak suka menjadi pusat perhatian, pikir Sehun.

“Lalu bagaimana dengan Hyena? Apa dia teman Eunbi juga?” pertanyaan Sehun terdengar sangat pelan. Bahkan Baekhyun dan Nana harus menunggu beberapa detik dulu untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan Sehun.

“Aah, kupikir, Eunbi baru mengenal Hyena baru-baru ini. Dia salah satu teman kelas Jihyun, murid yang kudengar paling pendiam di kelas 2E. Bahkan aku sampai terkejut dia bisa memarahi Kyungsoo kemarin, itu diluar dugaanku. Semenjak kelas dua, Eunbi dan Jihyun memang jarang terlihat bersama, Eunbi lebih sering menghabiskan waktunya denganku dan begitupun sebaliknya, Jihyun juga lebih sering menghabiskan waktunya dengan Hyena. Walaupun terkadang, Eunbi dan Jihyun sering terlihat bercanda bersama saat pelajaran olahraga, ya, kelas 2C dan 2E mengalami penggabungan saat pelajaran olahraga,” ucap Nana. “Ku pikir itu yang membuat Eunbi jadi lebih bersemangat saat pelajaran olahraga. Ya, meskipun ku tau, dia memang memiliki bakat lebih dalam bidang itu.”

Sehun melipat kedua tangannya didada. Ia tenggelam dalam pemikirannya. Beberapa detik kemudian ponselnya berdering. Ia bahkan sampai lupa mematikan dering poselnya karena sibuk memikirkan masalah Eunbi. Untung saja itu hanya bunyi pesan.

Dengan gerakan malas Sehun mengambil ponselnya dari saku celananya. Sebaiknya ia langsung saja mematikan ponselnya yang baru saja telah mengganggu pemikirannya. Namun gerakannya tertahan, ia melihat pesan dari seseorang yang dipikirkannya saat ini. Itu adalah hal yang jauh lebih penting. Sehun tidak pernah sesenang ini sebelumnya hanya karena mendapat pesan dari seorang yeoja, bahkan ibunya sekalipun, namun ini adalah situasi yang berbeda. Ia bahkan sampai berdiri dari tempatnya.

“Sehun?” tanya Baekhyun yang mulai merasakan hal aneh merambat pada temannya itu. “Apa yang terjadi?”

Sebuah senyuman terlukis di bibir tipis Sehun. “Teman-teman, bolehkah aku minta bantuan kalian?”

***

-TBC-

~Kyaa~ Gimana niih pendapat kalian tentang kasus baru di FF ini? Apa udah ada yang mulai mengerti kemana jalan kasus ini? Heehee..

Oke, oke, jangan lupa kritik dan sarannya yaa. Terima kasih untuk semua yang udah nyempetin baca FF ku ini..

See You in Next Chapter.. ~

 

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SKYREACH (Chapter 4a – Angel Without Wings)”

  1. wow….kasus pmbunuhan atau bunuh diri ya sbnernya?
    penasaran bgt bgaimana kasus ini nantinya bisa trpecahkan?
    dan itu sehun nrima sms apa ya dr eunbi smpai dia trsenyum gitu?
    penasaran bgt kak 🙂
    jd eunbi prnh ngalamin di bully jg ya dlu, pntesan di awal dia gk mau trlalu dkat dgn sehun wktu diskolah, jd ini alasannya…
    dia gk mau jd pusat perhatian, dan takut hal yg sama akan trulang lagi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s