[EXOFFI FREELANCE] RAIN: In Seoul

posterrain1

RAIN: In Seoul

by nakashinine
Cast: Byun Baekhyun // Kim Taeyeon
Length:
oneshoot | Genre: Sad-Romance | Rating: Teenager
Disclaimer: FF ini tidak ada di manapun selain di dalam otak author yang rada-rada geser©. Kalo ada kemiripin tokoh atau cerita itu bukanlah kesengajaan alias cuma kebetulan. Don’t plagiarism.

Enjoy^

 [Posted in https://nakashinaka.wordpress.com/]

List:
RAIN: Teaser | RAIN: In Seoul | RAIN: In London | RAIN: In Tokyo

 

x

-Rain in Seoul-

Kenapa?
Kenapa dunia melarang kita mengukir janji hingga nafas terakhir?
Kenapa hati kita hanya bisa merajut rasa sesingkat gerimis merajut pagi?
Aku membenci air matamu lebih dari aku membenci hujan.
Namun kau berlalu tanpa mau mengembalikan hatiku.

x

 

-Baekhyun p.o.v-

Tiga bulan sudah aku lewati dengan perasaan yang tak sedikitpun bisa kujelaskan. Seisi fakultas masih memperolokku dan menjadikanku bahan bulan-bulanan hanya karna aku –beberapa bulan yang lalu– sempat menjalin hubungan rahasia dengan asisten dosen cantik yang kini sedang mengisi mata kuliah di depan kelasku.

Jangan tanya lagi seberapa hancurnya nilai mata kuliahku yang satu ini. Semua itu hanya karna aku tak pernah bisa membiarkan pikiranku tetap fokus ke materi kuliah. Tapi, hati ini jauh lebih hancur lagi ketimbang nilai yang aku dapat.

Terkadang, aku sedikit merutuki Profesor Lee yang terlalu sibuk dan menyuruh wanita itu menggantikannya. Sejak tadi, mataku terkunci dan tak sanggup berpaling darinya. Tapi yang kutunggu-tunggu tak juga terjadi. Mata hitam yang selalu aku sukai itu, tak sesentipun melihat ke arahku. Bibir tipisnya tak sedetik pun mengukir senyum.

Dan aku tak peduli meski seluruh penghuni kelas merasakan aura tidak nyaman di antara kami. Aku tak peduli meskipun berpasang-pasang mata melirikku dengan tatapan aneh sejak tadi.

Miss?” Seseorang mengangkat tangannya di sela-sela materi. Dan mataku tetap tak berpaling.

“Simpan dulu pertanyaanmu, aku belum selesai menjelaskan.”

“Maaf, miss. Bisakah kau suruh Byun Baekhyun keluar saja? Sepertinya kau sangat tidak nyaman dengannya. Dan itu cukup menganggu kami.”

Aku terpaksa menoleh ke arah si penanya. Permintaan macam apa itu? Semengganggu itukah auraku dan Asdos Taeyeon?

“Kenapa bukan kau saja yang meninggalkan kelas?” Sahutku kesal. Laki-laki itu menoleh kebelakang dan menampakkan wajahnya dengan datar.

“Mata kuliah ini sangat penting bagiku. Lagipula, untuk apa kau masih disini jika nilaimu terus saja menurun bahkan tidak lulus? Jika kau masih ingin memandanginya, cari tempat lain saja.”

Cih.

“Kau mengajakku ber –“

“Baekhyun-ssi.” Tegur Taeyeon dengan suaranya yang tegas. Aku menolah kearahnya, dan akhirnya mata itu kini menatapku, meskipun dingin.

“Silahkan keluar. Kau mengganggu kelasku.” Tangannya mempersilahkanku untuk keluar ke arah pintu. Hn, aku tidak percaya ini. Dia benar-benar tak ingin melihatku lagi.

Terpaksa, aku mengemas ranselku dan segera meninggalkan kelas.

Aku berjalan menuju pintu keluar gedung Fakultas, namun ketika kakiku baru saja satu langkah dari pintu, hujan turun. Sial. Lagi-lagi hujan.

Aku diam di tempat itu sambil memandangi setiap percikan air yang jatuh ke tanah. Mataku berpaling ke arah lalu-lalang yang saling memayungi sok romantis. Aku berdecak. Kenapa dunia ini sangat tak berpihak padaku?

Aku membenci hujan, kenapa? Karna mantanku yang 4 tahun lebih tua dariku itu menyukai hujan. Setiap hujan turun, satu hal yang pertama kali keluar dari otakku hanya Taeyeon, sesuatu yang pertama kali kuingat hanyalah senyuman Taeyeon disetiap ia melihat hujan turun. Itu alasan yang cukup sederhana untuk membenci hujan, itu selalu mengingatkanku pada setahun lalu yang manis. Setahun lalu dimana aku mencintai Taeyeon yang mencintai hujan.

Perasaanku masih mengalir sempurna ketika musim hujan kembali datang. Setahun yang lalu, di bawah deras hujan kota Seoul, aku dan Taeyeon saling tersenyum di bawah guyuran hujan. Membasahi seluruh tubuh sambil berbagi kebahagiaan. Waktu itu dia berkata,

“Aku mencintaimu lebih dari hujan mencintaimu.”

“Dari mana kau tau hujan juga mencintaiku?”

“Aku hanya menebak. Hahahaha.”

Aku tidak bisa menghindar dari perasaan rindu yang menggerogoti setiap inci sel akalku. Beberapa bulan yang lalu semuanya kandas begitu saja karna hubungan yang sudah cape-cape kita rahasiakan akhirnya terbongkar juga. Dan saat itu, bahkan sampai detik ini, seluruh dunia tidak mau menerima hubungan kami, kecuali hujan. Mungkin benar, hujan mencintaiku. Juga mencintai Taeyeon. Tapi aku tetap tidak suka hujan. Meski begitu, tanpa berpikir panjang, aku tetap berani menembus guyuran hujan menuju kosanku yang tak jauh dari kampus.

Seluruh isi benakku selalu mengeluarkan pertanyaan yang sama; apa yang salah dari perasaan yang aku dan Taeyeon punya? Iya, mungkin salah. Karna dia Asdos dan aku hanya mahasiswa semester 5 yang nilainya semakin anjlok. Perbedaan umur antara kita menjadi masalah utama yang mengusik banyak orang.

Mereka semua tidak tau apa-apa tentang aku dan Taeyeon.

xxxx

 

Taeyeon p.o.v-

Aku berhasil mengusirnya dari kelasku. Tapi sayang sekali, tak sedikitpun aku menemukan cara bagaimana mengusir namanya dari hidupku. Beberapa bulan ini isi kepalaku hanya ada namanya. Dan aku tidak tau harus berbuat apa selain berusaha –berusaha menghapus semuanya dengan permanen. Hn, seperti aku bisa saja.

Aku masih berada di mejaku ketika matahari sudah setengahnya turun. Belum lama hujan baru berhenti. Itu alasan kenapa aku masih disini, duduk di depan komputer dengan tatapan kosong. Aku tak mau terlibat lagi dalam guyuran hujan seperti kesukaanku dulu. Tak ada setitik gerimis pun yang bisa membuatku merasa senang akhir-akhir ini. Yang kupikirkan hanyalah penyesalan kenapa aku harus mengenal Byun Baekhyun.

“Taeyeon-ssi. Kau akan pulang kapan?” Seorang staff tiba-tiba bertanya padaku dengan tatapan kasihan.

“Oh…” Aku membetulkan posisi dudukku. “S-Sebentar lagi. Kau duluan saja.”

Aku menoleh dan menelusuri setiap sudut ruangan, masih ada beberapa staff yang sedang menyelesaikan pekerjaannya dengan serius. Aku menghela nafas, lalu segera mengemas tasku.

Banyak genangan air sisa hujan yang menghiasi jalanan sore ini, akibatnya aku harus memperhatikan jalan dengan cermat dan berusaha menghindar. Dan sialnya, itu cukup mengingatkanku pada kenangan di masa lalu tentang genangan-genangan ini. Aku menggeleng kepala, kumohon Kim Taeyeon, tidak usah mengingatnya lagi.

Namun isi memoriku saat ini dipenuhi dengan semua tentang Baekhyun. Langkahku tiba-tiba terhenti, kini seisi memoriku kembali bekerja dan mengeluarkan rekaman-rekaman percakapan sederhana ketika aku, terpaksa mengakhiri semuanya.

“Kita tidak bisa melanjutkan ini.”

“Kenapa? Apa yang salah? Kenapa kita tidak berusaha bertahan saja? Mereka pasti akan lupa.”

“Aku tidak bisa Baekhyun, orang tuaku mengetahuinya dan mereka tak merestui sama sekali. Aku tidak bisa berjuang lebih lama lagi.”

“Tak adakah satupun yang menerima hubungan kita?”

Tidak ada satupun yang mau menerima kita, kecuali hujan.

Tapi aku tetap tak mau bersentuhan lagi dengan hujan.

xxxx

 

-Author p.o.v-

Baekhyun mengunci pintu kosannya dan memutuskan pergi ke minimarket setelah hujan reda. Kini selapis jaket tebal membalut tubuhnya dengan cukup hangat. Ia tak mau menghitung sudah berapa kali dia bersin. Entah karna metabolisme tubuhnya yang sedang melemah, entah karna efek stress memikirkan Taeyeon, menemui hujan sebentar saja langsung membuatnya flu dan tak berhenti mengeluarkan ingus. Alih-alih ke apotek, lelaki itu lebih memilih ke minimarket.

“Selamat Sore.” Sapa seorang kasir kala mendengar derit pintu minimarket terbuka.

Baekhyun berjalan menyusuri setiap jajaran rak untuk memilih sesuatu yang bisa membangkitkan moodnya. Namun takdir berkata lain. Tak ada satupun hal yang akan membuat mood Baekhyun sejatuh ini selain Taeyeon –yang kini ada di hadapannya.

♫ Saat hujan, kenangan jatuh dan luka menyebar
Aku melihatmu mengalir bersama hujan
Lalu aku membeku di saat yang begitu nyata, karena aku basah dengan kenangan
Lalu aku membayangkan indahnya dirimu di dalam hujan ♫
[Rain by Taeyeon]

Baekhyun dan Taeyeon membeku bersama. Lantunan sebuah lagu yang mengudara di dalam minimarket seolah-olah mewakili perasaan mereka yang tersirat. Memenuhi isi telinga dan menyelimuti mereka dalam diam.

“Apa ini hanya kebetulan?” Gumam Byun Baekhyun memecah keheningan.

Taeyeon tak menjawab –lebih tepatnya, tidak tertarik untuk menjawab. Ia menarik nafas pelan kemudian mengalihkan pandangan, menghindari mata hitam Baekhyun yang selalu menggali seisi kelopak mata miliknya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Dengan jemari lentiknya, Baekhyun meraih 2 botol minuman di sampingnya. Lalu mengangkatnya di depan wajah gadis itu, memberi isyarat bahwa Taeyeon harus ikut dengannya.

Pertemuan kebetulan itu kini berlanjut di sebuah bangku kayu panjang di sekitar minimarket, dari sana mereka berdua bisa melihat dengan jelas tingginya salah satu gedung fakultas dari Universitas mereka.

Sementara Baekhyun sudah meneguk setengah isi botolnya sejak tadi, milik Taeyeon masih tertutup rapat di dalam genggamannya. 10 menit berlalu namun Baekhyun tak kunjung mengatakan sebaris katapun.

Sampai matahari benar-benar tenggelam dan gelap menyelimuti langit Seoul, mereka masih bergelut dengan pikiran masing-masing.

“Cepatlah. Aku punya banyak pekerjaan.” Sahut Taeyeon mencoba menetralkan suaranya.

Baekhyun diam, ia sama sekali sedang tidak mencari jawaban. Sebaris pertanyaan itu mengelilingi otaknya sejak tadi, namun entah kenapa kalimatnya terus saja tertahan di ujung tenggorokan.

“Kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?”

Kalimat terkutuk itu akhirnya meluncur juga dari mulut Baekhyun. Jarak yang cukup jauh di antara posisi duduk mereka, membuat suasana canggung semakin kentara mengelilingi keduanya.

“Berhentilah menggali-gali hatiku.” Jawab Taeyeon pelan.

“Bagaimana bisa? Kau menguburnya terlalu dalam, dan aku sangat membutuhkan jawaban yang sedang kau kubur itu.”

“Untuk apa?”

“Aku hanya… Penasaran.

Kata ‘penasaran’ adalah kebiasaan Baekhyun paling buruk untuk menjawab sebuah pertanyaan.

“Kau serius?” Balas gadis itu.

“Apakah suaraku terdengar seperti lelucon?”

“Hm.”

Baekhyun menarik ujung bibirnya sedikit,  “Kau ingat, ketika aku tak sengaja membuat celanamu basah sewaktu aku sedang bermain-main dengan genangan air sehabis hujan?”

Lawan bicara Baekhyun tak menjawab.

“Itu pertemuan kita. Setelah itu, hujan tiba-tiba turun lagi tanpa disangka. Mungkin itu yang namanya takdir, Taeyeon.”

Keduanya kini diam, sama-sama menerawang ke isi memori dalam otak tentang bagaimana mereka bertemu, lalu jatuh cinta.

xxxx

<<

Taeyeon tidak pernah tau ternyata menjadi asisten dosen juga akan semelelahkan ini. Lebih tepatnya, bukan hanya sebagai asdos, namun dia diperlakukan seperti pegawai magang di dalam kantor. Dan –ugh! Seseorang bermain-main dengan genangan air, membuat celana sampai sepatunya basah dan kotor.

“Ya! Kau tidak lihat ada orang disekitarmu, hah?” Panggil Taeyeon kesal.

Lelaki itu berhenti lalu menoleh kearahnya, “Astaga asdos Taeyeon, sejak kapan kau disitu? Aaah.. Aku minta maaf.”

Gadis itu tak menjawab, matanya fokus pada kakinya yang basah dan mulai dingin.

Tiba-tiba hujan deras mengguyuri bumi sekali lagi di hari itu. Membuat Taeyeon dan Baekhyun sama-sama berlari dan berteduh di salah satu gedung fakultas.

Pria itu menatap asdos di sebelahnya dengan seksama, Taeyeon tetap terlihat begitu cantik meski ekspresinya sekusut baju-baju milik Baekhyun yang menumpuk di kos-an.

“Kenapa kau ada disini?” Sambar Taeyeon ketika melihat ke mahasiswa disampingnya.

“Berteduh, apa lagi?”

Gadis itu mendengus pelan.

“Sepertinya kau harus segera pulang, Asdos Taeyeon. Nanti kakimu bisa kedinginan dan gatal.”

“Kakiku memang sudah kedinginan, Byun-ssi.”

Diam-diam Baekhyun melepas jaketnya lalu mendekati Taeyeon. Gadis itu terkejut kala menemukan Baekhyun sedang memayungi dengan jaket lebarnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati jarak yang begitu tipis diantara mereka.

“Aku akan mengantarmu sampai naik taksi. Kebetulan kos-anku di dekat kampus.”

Entah kenapa, sebaris kalimat itu cukup membuat hati Taeyeon menghangat. Dia hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Baekhyun.

“Baekhyun-ssi.” Panggil Taeyeon ketika mereka berdua sedang menunggu taksi di depan gedung Universitas.

“Hm?”

“Sebenarnya aku sangat suka hujan.”

“Eh? Lalu?”

“Hujan-hujanan adalah hobiku.”

Kedua mata Baekhyun tiba-tiba terkunci saat ia menyelami sepasang mata di depannya. Dia tidak bisa menyangkal kecantikan Taeyeon yang sempurna. Lelaki itu terus menelusuri tatapan Taeyeon, mencari alasan kenapa gadis itu menceritakan hobinya tanpa diminta.

Sementara gadis itu tiba-tiba tertawa.

“Kau harusnya tidak usah repot-repot memayungiku. Sebenarnya, aku tidak keberatan jika harus hujan-hujanan.”

Tawa renyahnya menyadarkan lamunan Baekhyun, lalu ia segera menurunkan jaketnya.

“Astaga, harusnya kau bilang dari tadi. Kalau begitu, aku akan menemanimu hujan-hujanan sampai taksi datang.”

>> 

xxxx

 

Baekhyun menatap gadis berambut pendek yang duduk di sampingnya dengan lekat. Mata Taeyeon masih menatap lurus dengan kosong. Setiap sudut wajahnya adalah candu yang tak pernah tergantikan. Setiap lengkungan bibir manisnya adalah rindu yang tak pernah terbalaskan. Baekhyun sungguh merindukan setiap inci tentang Taeyeon, terutama senyuman itu. Senyuman yang entah kapan bisa ia lihat lagi.

“Sepertinya aku harus berhenti menjadi asdos.” Gumam Taeyeon tiba-tiba.

“Itu ide bagus.” Lelaki itu membalas dengan nada acuh seolah percakapan itu hanyalah lelucon belaka.

“Aku serius –“

“Aku juga. Dengan begitu, kau bisa kembali padaku lagi.”

Taeyeon diam, ujung bibirnya tertarik sebagian.

“Sudah kukatakan sebelumnya bahwa kembali adalah hal yang mustahil, kau ingat?”

“Aku tidak mau mengingat itu.”

“Berhenti menjadi asdos, bukan berarti aku ingin kembali.”

“Jika kau masih mencintaiku, kau pasti akan kembali –“

“Aku masih –“

Suara Taeyeon tercekat. Ia menelan ludah sebentar.

“Perasaanku masih sama, jika kau memang penasaran.”

Suasana lengang beberapa menit. Harus berapa kali lagi Taeyeon tenggelam dalam kepalsuan? Perasaan itu masih menjamur dalam hatinya, namun akal realistisnya mencegah langkahnya untuk kembali. Ada banyak realita yang harus Taeyeon jalani dan mengubur seluruh kisah dongeng cinta miliknya. Taeyeon ingin pergi –dari tanah Seoul yang dicintainya.

“Taeyeon,” Panggil Baekhyun pelan. Namun gadis itu masih tak mau menoleh.

“Kim. Taeyeon.”

“Ap –“

–hn.

Tepat ketika Taeyeon memutuskan untuk menoleh, sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya. Sekujur tubuh Taeyeon seketika membeku. Mata Baekhyun yang tertutup rapat kini sudah tak memiliki jarak didepan pandangannya. Dia merutuki saat mendapati dirinya yang tak kuasa menghindar, sewaktu sesuatu yang lembab mulai bergerak dan menelusuri bibirnya dengan perlahan. Kala tangan halus Baekhyun meraih leher Taeyeon untuk menariknya semakin mendekap, seluruh kesadaran gadis itu kembali. Ia mendorong tubuh Baekhyun, tidak harus dengan kekuatan penuh lelaki itu ikut tersadar dan melepas Taeyeon.

Keduanya saling bertatapan dengan kaku. Air mata Taeyeon tanpa alasan kini sudah mendesak pelupuk, namun ia mencegahnya dengan susah payah.

“A-aku –“ Dengan canggung, Taeyeon memalingkan matanya sambil berdiri, tanpa menunggu respon apapun ia segera melangkah meninggalkan Baekhyun.

Tidak salah lagi, laki-laki itu kini sudah merutuki dirinya yang tak bisa menahan diri. Ia masih bisa merasakan manis bibir Taeyeon membekas dipermukaan bibirnya. Persis seperti ketika perasaan mereka saling mengalir untuk pertama kalinya.

xxxx

 

<<

“Kau benar-benar mencintai hujan, ya.” Sahut Baekhyun berusaha mengalahkan suara gemuruh hujan.

Taeyeon tak menjawab, wajahnya yang begitu cerah terhiasi senyum bahagia yang lebar. Perempuan itu kini tengah merentangkan kedua tangannya sambil mengadah ke atas langit. Benar-benar menikmati setiap sentuhan hujan yang mengelus wajahnya. Membuat Baekhyun iri.

Sementara lelaki itu hanya berdiri di hadapan Taeyeon sembari mengulum senyum, ikut bahagia melihat perempuan yang telah mencuri hatinya itu bahagia.

“Taeyeon-ssi… Kau sepertinya lebih mencintai hujan ketimbang hidupmu sendiri.”

Taeyeon tertawa renyah kemudian menurunkan tangan dan kepalanya. Ia menatap Baekhyun dengan jenaka.

“Awalnya memang begitu.” Kakinya melangkah sekali seraya melempar senyum untuk Baekhyun.

“Lalu?”

“Ada sesuatu yang lain yang membuatku mulai mencintai hidupku lebih dari hujan.”

“Apa itu?” Senyum manis Baekhyun masih menghiasi wajahnya yang basah. Kakinya melakukan apa yang barusan Taeyeon lakukan –mengikis jarak diantara mereka.

“Kau, Byun Baekhyun.” Dalam guyuran hujan yang tak henti-hentinya menerpa wajah, semburat merah muda mencuat menghiasi wajah mulusnya.

“Jadi itu alasannya kenapa kau mencuri hatiku selama ini?”

“Oh tidak. Aku ketauan sudah mencuri.” Taeyeon tersenyum lebar, yang dibalas dengan kecupan singkat bibir Baekhyun. Membuat Taeyeon sedikit tersentak, juga merasakan sesuatu menggelitik perutnya di waktu yang bersamaan. Kini wajah cerah mereka tak lagi mempunyai jarak. Baekhyun meraih belakang kepala gadis itu kemudian berbisik tepat di depan wajahnya.

“Aku mencintaimu, Kim Taeyeon.”

Tanpa memberi jeda, Baekhyun kembali menautkan bibirnya bersama basahnya hujan yang mengaliri sekujur tubuh mereka.

Itu pertama kalinya Taeyeon dan Baekhyun saling mengalirkan rasa tanpa cela. Tepat di bawah hujan.

>>

xxxx

 

“Berhenti?”

Profesor Lee menautkan seluruh jemarinya didepan wajah sambil menatap Taeyeon serius. Pagi ini ketika ia berniat memanggil asisten dosen kepercayaannya untuk –seperti biasa, menggantikannya. Kebetulan Taeyeon sudah menghadap dirinya sebelum dipanggil. Dan menyampaikan pengunduran dirinya.

Ne. Aku sudah diterima di Universitas Tokyo untuk program S2. Lusa aku sudah harus pergi ke Jepang.” Jawab Taeyeon pelan.

“Kau memang muridku.” Gumam Profesor Lee tersenyum, akhirnya. Merasa bangga melihat murid kesayangannya bisa melanjutkan ke jenjang S2 di Tokyo.

“Aku juga sudah mendapatkan penggantiku, aku yakin dia bisa banyak membantumu mulai besok.” Lanjut Taeyeon.

“Baiklah, kalau begitu. Selamat menjalankan kuliah barumu di Jepang nanti.”

Taeyeon mengangguk, “Kamsahamnida.

“Terima kasih banyak atas semua bantuanmu selama ini, Taeyeon-ssi. Kau sampai mencarikan pengganti asisten dosen untukku.”

“Sama-sama. Berkat ilmu yang kudapat darimu juga, aku bisa sampai ke Jepang.”

xxxx

 

Ada yang aneh ketika mata kuliah Profesor Lee akan dimulai siang itu. Seorang pria muda masuk dengan menggandeng sebuah laptop dan map, lalu mulai berbicara di depan kelas. Baekhyun bertanya-tanya, dimana Taeyeon?

“Aku adalah asdos Profesor Lee yang baru, menggantikan Miss Taeyeon yang resign –“

Kalimat itu memutuskan pendengarannya. Baekhyun tak lagi mendenger apa yang sedang pria itu katakan. Isi otaknya kini penuh dengan pertanyaan, Resign? Memorinya kembali mengingat perkataan Taeyeon beberapa hari yang lalu, “Berhenti menjadi asdos, bukan berarti aku ingin kembali.”

Tanpa sadar, Baekhyun mengangkat tangan. “Kenapa Taeyeon-ssi­ harus resign?”

Pria itu memandangnya dengan tatapan kikuk, “Aku sudah mengatakannya tadi, dia akan kuliah S2 di Jepang.”

Tanpa basa-basi Baekhyun segera meraih tas selempangnya dan pergi dari sana. Sungguh, dia tak mempedulikan apapun lagi selain Kim Taeyeon yang akan meninggalkannya. Jelas, dia tau Taeyeon sudah meninggalkannya. Tapi kuliah ke Jepang? Baekhyun tak bisa membayangkan gadis itu benar-benar hilang dari jangkauan matanya.

Awan mendung lagi-lagi menghiasi langit siang itu. Seiring dengan langkahnya yang gamang, gemericik gerimis mulai turun dengan cepat.

Kini Baekhyun sudah seperti orang gila, berjalan dengan cepat kesana-kemari di jalan setapak antar gedung fakultas. Lelaki itu bingung harus kemana. Kantor Profesor Lee kosong –tentu saja. Baekhyun ingin menemui Taeyeon detik ini juga dan mengikat gadis itu bersama seluruh perasaan miliknya. Sungguh, apa Taeyeon benar-benar berusaha melarikan diri darinya?

Flu yang masih belum sembuh itu makin saja tak berujung akibat hujan yang lagi-lagi mengguyur Baekhyun tanpa sisa. Tangannya meraih ponsel dari saku dan menekan angka 1 di layar –nomor ponsel Taeyeon.

“Mohon maaf. Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di –“

“Argh!” Baekhyun frustasi. Tak ada satupun tempat yang melintas dalam benaknya selain rumah sewa yang selama ini Taeyeon tinggali. Dia pun segera memanggil taksi dan tanpa berpikir panjang, melesat cepat ke rumah itu. Rumah yang sudah lama sekali tak Baekhyun kunjungi. Ia berharap banyak pada tempat itu. Sangat. Hanya di sana tempat satu-satunya yang Baekhyun tau untuk mencari.

xxx

 

Taeyeon menatap seisi rumahnya dengan seksama, takut-takut ada barang yang terlewati dan lupa tak terbawa besok. Namun tiba-tiba bunyi bel mengalihkan perhatiannya, “Siapa hujan-hujan begini datang kerumahku?” bisiknya pelan.

Saat ia membuka pintu, ia menemukan Baekhyun yang basah kuyup dengan tatapan sayu kini berdiri dihadapannya. Seketika itu juga Taeyeon menyesal karna tak memastikannya terlebih dahulu lewat jendela. Tanpa memberi kesempatan, tangan gadis itu tergerak untuk segera menutup pintu dengan cepat. Kemudian menguncinya dengan rapat.

“Taeyeon. Kumohon sekali ini saja. Biarkan aku bicara padamu.” Teriak Baekhyun berusaha mengalahkan deru hujan. Namun Taeyeon tetap bersikeras tak mau membuka pintu dan memutuskan untuk duduk dibalik sana.

“Kenapa kau membuat hatiku terombang-ambing? Mana perasaanmu yang benar? Mencintaiku? Atau tidak mencintaiku?” Lelaki itu kembali meracau seiring dengan derasnya hujan.

“Aku akan menunggu disini, Kim Taeyeon. Tak peduli meski hujan terus mengguyurku sampai besok.” Teriak Baekhyun lagi. Saat ini bisa dipastikan, lelaki itu sudah mundur beberapa langkah di halaman rumah Taeyeon dan membiarkan tubuh tegapnya terus terguyur.

xxx

 

“Maafkan aku..” Satu jam kemudian, Baekhyun kembali bersuara dengan parau. Namun itu masih cukup terdengar di telinga Taeyeon. Suara itu masih mampu mengalahkan suara berisik hujan yang menderu begitu awet.

Baekhyun berdiri membeku sembari menatap sepatunya yang basah kuyup, ketika tiba-tiba telinganya mendengar suara pintu rumah Taeyeon terbuka. Mata Baekhyun naik dan menemukan gadis itu melangkah mendekatinya dengan payung di tangan.

Bola mata gadis itu tak sanggup berpaling dari bulatan hitam Baekhyun yang sempurna. Mereka diam membeku di bawah hujan.

“Kapan kau akan pergi?”

“Malam ini.” Jawab Taeyeon lalu menunduk.

“Tak bisakah kau tinggal saja dan tak pergi kemanapun lagi?”

Gadis itu hanya diam. Tangannya meremas pegangan payung dengan erat.

“Melihatmu tak ada lagi dihidupku sudah cukup membuat perasaanku hancur. Dan sekarang, kau malah akan lari dari jangkauanku –” Baekhyun menahan suaranya yang bergetar.

“Bisakah kau bertahan sebentar saja? Aku sedang berusaha mencari cara –“ Suara paraunya lagi-lagi tertahan kala Taeyeon menyenderkan kepalanya ke dada Baekhyun.

“Bisakah kau berhenti? Yang kau lakukan hanya terus mencegahku, menahanku, dan berusaha mempertahanku dalam ilusimu. Kau cuma dongeng bagiku, Baekhyun. Harus kukatakan berapa kali kalau aku tidak bisa bersamamu lagi seperti dulu?” Bisiknya serak. Kini air mata mengalir pelan membasahi wajah Taeyeon disusul dengan isakan kecil dari bibirnya.

Itu mengiris hati Baekhyun –jelas. Melihat gadis yang amat dicintainya menangis karna ulahnya. Laki-laki mana yang tidak hancur?

“Maaf, tapi aku mencintaimu Taeyeon.”

“Aku –“ Gadis itu menggantungkan kalimatnya, “Juga.”

Itu adalah balasan yang amat dirindukan Baekhyun, namun entah kenapa mendengarnya malah membuat perasaannya semakin berantakan tak berupa. Ia merasakan ada ngilu yang mulai berdenyut dalam dadanya, lalu menyiksa isi kepalanya.

Kaki Baekhyun terasa terlalu lemas untuk menahan tubuhnya. Nyeri kini memenuhi isi kepala. Tanpa hitungan menit, tubuh lelaki itu akhirnya limbung.

Bruk!

Taeyeon terkejut bukan main ketika Baekhyun kini tergeletak di bawah kakinya. Pemandangan itu cukup mengiris seisi hatinya lebih dalam lagi.

Sebuah keberuntungan saat salah satu tetangganya melintas di depan rumah dan bersedia membantu mengangkat pria ini ke dalam rumah Taeyeon. Pria yang begitu mengaduk-aduk kehidupannya akhir-akhir ini.

Wanita itu hanya memandangi Baekhyun yang basah di atas sofa miliknya. Dia tidak tau harus berbuat apa selain menyelimutinya dan mengeringkan kepala Baekhyun dengan handuk. Taeyeon hanyalah mantan asdos, bukan seorang perawat yang tau harus melakukan apa.

Hatinya sakit. Bukan hanya saat ini, namun sejak beberapa bulan yang lalu.

Tangan Taeyeon meraih dahi Baekhyun, panas. Kemudian turun meraih tangan lelaki itu, menggenggami jemari lentiknya dengan kedua tangan Taeyeon. Tatapannya tak dapat berpaling dari wajah malaikat Baekhyun saat ini, sesekali terdengar erangan pelan dari mulutnya dan memanggil nama Taeyeon dengan lemah.

 

8 P.M

Setelah merasa semua sudah siap, Taeyeon kembali menghampiri sofa lalu duduk di samping Baekhyun yang masih terbaring lemah, ia mengecup kening mantan kekasihnya itu beberapa detik setelah meletakkan selembar surat di atas meja.

“Terima kasih sudah hadir di hidupku, Byun Baekhyun. Aku tidak pernah tau, kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan. Dan kembali bukanlah hal yang tepat bagiku.” Gumamnya sangat pelan. Ia mengusap surai hitam Baekhyun lembut sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Ketika langkah pertamanya keluar dari sana, ia berharap penuh dalam hatinya bahwa semua luka dan kenangan ini tak akan mengikutinya seperti bayangan. Tak menguap lagi bersama hujan. Ada realita hidup yang lain yang harus ia jalani selanjutnya.

xxxx

 

-Baekhyun p.o.v-

Aku membuka mata dengan susah payah, kurasakan saat ini badanku kaku tak berdaya. Kepalaku masih sangat sakit, namun sesuatu menyadarkanku ketika melihat langit-langit ruangan yang asing.

Ini rumah Taeyeon. Aku segera mengangkat tubuh tanpa memperdulikan rasa ngilu yang langsung mendera. Jantungku berdentum amat kencang sewaktu melihat seisi rumah yang sudah bersih dan rapih. Rak kecil tempat koleksi buku Taeyeon kini kosong melompong tak tersisa. Semua bersih, dan itu melukaiku sampai ke dalam-dalam.

Terutama ketika menemukan secarik kertas tergeletak di meja.

“Jika bertemu denganmu adalah sebuah takdir. Maka berpisah darimu pun adalah takdir, aku percaya. Untuk terakhir kalinya aku mengatakan ini, aku tidak bisa kembali padamu seperti dulu. Aku minta maaf sudah masuk ke dalam hidupmu dan membuatmu terombang-ambing. Aku harap kau bisa segera menyembuhkan lukamu dan membiarkan aku meninggalkanmu dengan tenang. Jaga baik-baik dirimu, Byun Baekhyun. –Kim Taeyeon.”

Di waktu yang sama, gerimis mulai bergemuruh diluar sana. Namun tanpa peduli, aku menembus hujan dengan tenaga yang tersisa di kakiku. Aku melangkah gontai dan menatap jalanan yang gelap dengan kosong. Jangan tanya lagi seberapa hancurnya perasaanku sekarang. Semua seakan pecah berkepng-keping dalam benakku. Seisi kepalaku kacau dan tak mampu menemukan ide yang jernih.

Aku merasakan sesuatu yang hangat mulai menembus pelupuk mataku dan menyatu dengan air hujan yang membasahi wajah. Kemudian pecah karna sesuatu begitu mendesak seisi dadaku. Kini Taeyeon berlalu begitu saja dari hidupku, tanpa mau mengembalikan hatiku dengan utuh.

-End-

 

Yaampun ini apa astogeh? Sok sedih banget sumpah.
Aku bukan shipper sih, tapi suka aja, ngetiknya sampe baper. Wkwk silahkan tinggalkan jejak :’)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s