[Xiumin Birthday Project] Dear Ex-Boyfriend | by. L.Kyo

ab2befdb87e6397f3af5dd43d61f3712

Title: Dear Ex-Boyfriend! | Author: L.Kyo♪ [ @ireneagatha ] | Cast: Yoo Jisoo (OC/YOU), Kim Minseok (EXO) | Genre: Sad, Au!Life | Rating: PG-15 | Lenght: Vignette | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

Summary: Sama-sama menunggu, sama-sama berharap. Seolah hanya menjadi jalan ditempat.

H A P P Y R E A D I N G
.
.

“Dia cantik, kan?” Jimin menunjukkan foto pada Jisoo. Demi apa dada Jisoo sudah bergemuruh. Gadis itu cantik dan lebih menyebalkan lagi, nama gadis itu sama dengan dirinya. “Bukankah kalian terlihat mirip?” Jimin menyandingkan ponselnya pada muka Jisoo.

 

“Tidak. Kami tidak sama. Dan hentikan kau memojokkanku dengan Minseok”. Jisoo beranjak dari duduknya dan kembali menyibukkan dengan berkas-berkas pekerjaanya. “Kenapa kalian tidak berpacaran lagi? Kalian sering bertemu dan aku bisa melihat Minseok masih ada perasaan denganmu”. Kata Jimin hanyalah sebuah angin lalu bagi Jisoo.

 

Jisoo memang masih mengharapkan itu tapi melihat cerita Minseok saat sebelum ia masuk ditempat ini, ia seakan sudah pesimis. Ia ingin menangis sebenarnya. Tapi untuk apa? Mungkin memang benar kata orang, dirinya terlalu mementingkan ego dan sama sekali tak ada niat untuk memulai suatu awalan baru. “Buat apa? Kau bilang Minseok pernah menyukai seseorang, kan? Ditempat ini?”

 

Dan satu tepukan keras mengenai pundak Jisoo. “Sudah kukatakan Minseok menyerah karena gadis itu sudah mempunyai orang lain. Ayolah, sekarang giliranmu yang memulai Jisoo-ya! Bahkan Minseok mengatakan padaku, dia menunggu kau memulainya. Bukankah itu tak adil jika selama ini yang selalu yang memulai adalah Minseok? Ayo buang egomu!”

 

Jisoo terdiam, mendengarkan tiap kata Jimin yang sudah dipastikan 100% benar. “Tapi bukankah itu hal memalukan jika seorang wanita yang memulai duluan?” Benar. Satu hal yang mungkin tak bisa dilakukan Yoo Jisoo adalah memulai awalan yang sepertinya bukan ahlinya.

 

Yoo Jisoo adalah gadis yang mempunyai harga diri tinggi, ego kuat dan seorang yang dingin. Akan sulit jika seseorang tak memulai obrolan dengannya, bahkan Jisoo akan terus berdiam diri jika seseorang itu tak memberikan pertanyaan padanya. “Sekarang bukan saatnya wanita menunggu Yoo! Aku bersedia mengajarimu!”

 

Dan lebih menyebalkan, Jimin mengambil ponsel Jisoo sepihak dan mulai mencari sesuatu. Jisoo terdiam. Karena Jimin tak akan menemukan kontak Minseok disana. “Aku tidak mempunyak kontaknya Jimin-ah!Jadi hentikan rencana gilamu”. Jisoo mengambil ponselnya dan memasukkan kedalam saku, kembali fokus dengan pekerjaannya.

 

“Sebenarnya ada masalah apa dengan hubungan kalian? Kalian sudah menjalankan satu tahun dan itu tak singkat. Bahkan semua orang setuju kau harus kembali padanya”. Jimin berceloteh panjang, bahkan Jisoo bisa mengontrol amarahnya. Tapi ia mencoba menfokuskan berkasnya walaupun ia masih mendengarkan seksama penjelasan Jimin.

 

“Kau mendengarkanku?” Dan pertanyaan terakhir Jimin membuat Jisoo meletakkan bolpoinnya. “Bahkan aku tidak tahu ia sedang dekat dengan siapa? Aku tak ingin mengambil risiko yang bahkan aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya pada dirinya. Sudahlah, sebaiknya kita hentikan membahas hal bodoh ini. Sungguh aku lelah. Biarkan aku bekerja dengan tenang”. Jisoo beranjak, menuju meja lain dimana ia berusaha menjauh dari Jimin.

 

“Selamat pagi Park Jimin!” Dan suara sapaan itu membuat Jisoo menghentikan menulisnya. Ia tak berani mendongak, bahkan ia malah terfokus pada tulisan dihadapannya. “Oh? Minseok-ah! Kemarilah!” Jimin menganyunkan tangannya, bahkan Jisoo ingin sekali melemparkan berkasnya untuk tak membawa Minseok diruangannya.

 

Jimin tahu, bahwa Minseok dan Jisoo setidaknya mengatakan hal kecil. “Ada apa kau lewat sini? Kau tidak memakai seragam?” Jimin menelusuri postur tubuh Minseok seksama. “Tidak. Aku baru saja memberikan laporanku pada Direktur. Kau bersama siapa pagi ini?” Dan demi Tuhan, Jisoo ingin mengutuk Jimin. Demi apa, jantungnya berdegup kencang.

 

Rasanya ia tak mau tahu bahwa ia masih ada rasa suka pada Minseok. “Jisoo-ya! Kau tak ingin menyapanya?” Dan sialan, Jisoo ingin mengumpat tapi Jisoo harus profesional kali ini. Ini adalah tempat kerja dan status kali ini adalah bukan mantan kekasih melainkan sesama karyawan.

 

Jisoo beranjak dan mendekat pada Jimin, dan membungkukkan badan memberikan salam. “Selamat pagi Minseok-ssi!” Jisoo memberikan senyuman termanis, bahkan ia meleleh, pria itu memberikan timbalan balik sepadan untuknya. “Selamat pagi. Bagaimana? Kau senang bekerja disini?” Dan untuk pertama kalinya Jisoo mendengarkan suara Minseok sekian lama setelah putus.

 

“Menyenangkan! A … aku harus melanjutkan laporanku!” Jisoo ingin berlari rasanya, bahkan ia masih tak berani menatap mata Minseok lama. Namun bukan Jimin jika gadis itu menariknya. “Kau mau kemana? Kau tidak tahu mantan kekasihmu sedang mengunjungimu hari ini? Bahkan aku tidak tahu kenapa dia lewat diruangan kita dan bahkan kenapa ia tak langsung pulang, dan lihatlah … “

 

Jisoo mencubit lengan Jimin bahkan berhasil menutup mulut Jimin rapat. “Hentikan, apa yang kau katakan? Kita sekarang masih jam bekerja. Maaf membuatmu tak nyaman!” Jisoo kembali membungkuk, bahkan Jisoo bisa melihat ada rasa kecewa dibalik wajah Minseok. Tidak, Jisoo tak bermaksud tak mengakui bahwa mereka punya hubungan sebelumnya.

 

Gadis itu hanya tidak nyaman, sedikit tak nyaman membahas hal pribadinya yang bahkan sudah menjadi buah bibir. Siapa yang tak kenal Kim Minseok. Karyawan paling populer dan bertalenta ini? Bahkan sehari saat Jisoo bekerja, entah dari kabar mana, semua orang tahu bahwa karyawan baru bernama Yoo Jisoo adalah mantan kekasih Kim Minseok. Ia ingin hidup tenang saat menata kehidupan masa depan yang baru, tanpa mengenang masa lalu. Tapi takdir tak akan pernah meninggalkanya semudah itu. Akhirmya, seberusahanya Jisoo pergi, pria itu selalu menghantuinya.

 

 

***

 

 

Jisoo menenteng tas nya menuju parkir dengan malas. Karena kejadian tadi pagi membuatnya tak berhenti untuk membayangkan. Untuk kesekian lama, akhirnya ia bertemu Minseok. Tak ada berubah dalam dirinya, tetap menjadi lelaki bersahaja dan ramah. Rasanya Jisoo ingin merutuk dalam hatinya, seharusnya ia tidak menghindar seperti itu.

 

Status didalam pekerjaan hanya sebatas mitra kerja bukan mantan kekasih, tapi karena jika ada Jimin, semua prinsipnya seakan hancur, tameng ia bangun seolah menjadi meleleh. Menatap Minseok pun tak berani apalagi mengajak bicara. Jisoo sampai pada mobilnya dan tak ada niatan untuk membuka.

 

Gadis itu justru menyenderkan kepalanya pasrah. Jika saja Minseok menganggap tak profesional, itu terserah. Jisoo tak peduli. Jika saja tak ada setitik perasaan Jisoo pada Minseok sampai saat ini, mungkin ia tak akan pernah segugup itu. Jisoo memejamkan matanya, merasakan dinginnya dinding mobil hitamnya.

 

“Dingin”. Jisoo tersenyum, merasakan dingin ditengah hawa panas melanda Seoul. “Kau tidak pulang?” Suara yang tak asing membuat Jisoo segera membuka matanya lebar. Demi dewi fortuna, Minseok sudah menatapnya dekat, tak jauh dari spion mobilnya. “Ha … halo!” Tanpa babibu, Jisoo segera memberikan salam hormat. Jisoo ingin merutuk dirinya sendiri, seharusnya ia tak melakukan salam sehormat itu.

 

Baiklah, jika dalam pekerjaan dia adalah seorang honbae, memang sudah seharusnya ia memberikan salam seperti itu. Tapi ini adalah tempat parkir, tak ada karyawan lain lewat di areanya. Jisoo menegakkan tubuhnya sedikit malu. Oke, ia terlihat bodoh sore ini. Bahkan kejadian ini sama seperti saat bertemu dengan Minseok untuk pertama kali, saat Jisoo masuk semester awal perkuliahan.

 

Seakan kejadian ini terulang. “Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu!” Bukannya Minseok pergi, lelaki itu menenteng jaketnya malas dan menatap Jisoo intens. “Ma … maaf. Baiklah. A … aku harus cepat pulang!” Demi Tuhan, seberusahanya Jisoo untuk membuatnya tenang, pada akhirnya ia tak bisa. Bahkan kakinya tak sabar untuk masuk dan pergi dari area itu. Menjauhi Minseok yang bahkan tak ada maksud untuk mengabaikannya.

 

“Kau masih sama seperti itu!” Minseok menegakkan tubuhnya dan menahan pintu mobil Jisoo yang hampir saja terbuka. Dan satu pertanyaan besar Jisoo muncul diotaknya. Ia akui, ia tak punya sifat peka sedikitpun, entah ia bodoh atau memang sama sekali tak ada pengalaman untuk berkencan.Tapi sebelum ia menyadari akan perasaan yang bisa timbul, ia harus ingat perkataan Jimin pagi tadi.

 

Gadis yang punya nama sama sepertinya, gadis yang pernah berhasil mengguncang dada Minseok kala itu. Bisa saja Minseok masih mencintai gadis itu walaupun gadis yang disukai Minseok mempunyai kekasih. Bisa saja, yang ia tahu Minseok sosok baik pada siapapun, bahkan ia tak tahu itu peduli karena sebagai teman ataupun perasaan berlebih.

 

“Apa kabar? Bagaimana? Kau sudah menemukan gadis yang sesuai denganmu? Jika iya, bagus! Aku akan mengucapkan selamat padamu. Dan aku harus pulang. Sampai jumpa Minseok-ssi!” Jisoo membuka pintu mobilnya dan segera menyalakannya. Ia tahu, tak seharusnya ia menanyakan hal lancang seperti itu. Bukan karena ia sudah tak punya perasaan, melainkan ia ingin menutupi segala kegugupannya.

 

Bahkan ia tak peduli Minseok sedang menyukai seseorang atau tidak, bahkan perkataan Jimin pagi tadi membuatnya semakin pesimis untuk kembali. Tak ada niatan untuk mendengarkan Minseok, bagi Jisoo itu tidak penting. Tak ad hubungan diantara mereka dan tak ada hal yang perlu mereka jelaskan. Rasanya ia ingin membuang masa lalu itu, masa lalu dengan kesalahan bodohnya.

 

Mencari pendamping lain dan mengubah sifat buruknya itu. Tapi dunia seakan tak mengijinkannya untuk menjauh. Minseok menatap mobil Jisoo yan sudah berlalu. Tak ada niatan sedikitpun untuk menghalang. “Bahkan dulu sampai sekarang, kau masih sama sekali tak mau mengakui itu Yoo Jisoo!” Minseok ingat, ia yang mencoba memancing untuk memutuskan hubungan.

 

Bahkan lelaki itu tak menyangka, tak ada pembelaan dalam diri Jisoo. Gadis itu justru menyetujuinya tanpa berpikir sedikitpun. Tak ada ekspresi kaget maupun kecewa, yang lelaki itu dapatkan hanyalah sebuah tatapan sinis dan dingin. Bahkan ia ingin menyerah, namun nama Jisoo masih teriang ditelinganya. Mencoba menyukai wanita lain, itu pun punya nama yang sama seperti Yoo Jisoo.

 

“Harus berapa lama lagi aku harus menunggumu datang padaku?” Minseok tertawa, bahkan rasanya ia ingin menendang mobil yang berada disisinya. Akankah ia harus menyerah, bahkan ia sudah banyak memberikan syarat bahwa ia masih menyukai Jisoo. Bahkan saat bertemu pun, gadis itu terdiam dan memilih menjauh.

 

Jisoo menyetir mobilnya dengan sedikit bergetar, bahkan airmatanya mengalir sempurna melewati pipi. Ia hanya tak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya gugup dan tak tahu apa yang haus dikatakan. Bukan karena ia membencinya tapi suatu keadaan yang sama sekali ia tak siap. Ia menyesal, bahkan selama setahun ini kebodohannya masih sama. Tak ada perubahan, haruskan gadis itu menyerah? Entahlah, jika memang keberanian timbul dalam dirinya. Mungkin, mereka bisa kembali. Mungkin saja.

 

Kenangan lama akan berubah menjadi kenangan masa depan jika salah satu dari mereka memulainya. Sama-sama menunggu, sama-sama berharap. Seolah hanya menjadi jalan ditempat. Dalam waktu dekat ataupun nanti, semua akan terjawab.

 

-FIN-

#HappyXiuminDay . Walaupun telat gapapa kan yah? Oh ya, kalian baca genre diatas? Au!Life? Sebenernya ini kisah pribadiku loh.. Hikkseu. Gagal mup on. AH abaikan~ Malu ih malu. UDah ah, beri like dan komentar kalian yah^^ See you

L.Kyo

6 tanggapan untuk “[Xiumin Birthday Project] Dear Ex-Boyfriend | by. L.Kyo”

  1. ayo move one kak ^^ /plak *nggaksemudahituwoyy :3
    aku mendukung kakak 😀
    rada sedih baca ff nya ini, disatu sisi kasian sama Jisoo dan rada kesal juga, diajakin putus langsung setuju gitu ya.. nanya dulu gitu kan, alasannya kenapa .-. :3

    1. duh, gimana caranya mup onn.. iya nih jisoo sudah lelah gegara sibuk ga bisa napas gegara semester akir kala itu /? dipancing pancing putus iya iya ajah.. jisoo saat itu males tanya, mau konsen kuliah katanya. nah lo? waaks..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s