Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 15 ― END]

tfam

 

Akhirnya, cerita mereka berdua menemui akhir. Apakah akhirnya adalah akhir bahagia atau akhir yang sedih? Tapi satu yang pasti, ini hanya permulaan untuk kisah-kisah mereka yang lain…

Len K present…

Tempus Fugit, Amor Manet

Rate: T, PG-15

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, a bit humor

Chanyeol EXO, Cha Iseul (OC), Minho SHINee, Kai-Sehun-Chen-Lay EXO dan beberapa idol/actor dan OC sebagai support cast

Warning: AU, Semi-canon, OOC (maybe), typo, humor garing, rush

Poster by Aqueera at https://posterdesigner.wordpress.com

A/N                        : Disini Chanyeol dan Iseul beda sekolah. Hope you don’t get confuse.

Previous chapters : [00] | [01] | [02] | [03] | [04] | [05] | [5.5] | [06] | [07] | [08] | [09] | [10] | [11] | [12] | [13] | [14]

.

| Chapter 15 |

.

                Tengah hari yang tenang pada pergantian musim dari gugur ke dingin. Tapi suasana sibuk masih saja sama di Korea University Medical Center. Chisoo yang masih berstatus sebagai dokter magang disana juga mulai terbiasa dengan kesibukannya. Kesibukan yang padat tapi tidak cukup kuat untuk mengalihkan pikiran Chisoo dari adiknya yang beberapa waktu lalu telah meninggal.

“Chisoo, Jinyoung sonsaengnim menyuruhmu untuk ke ruangannya setelah kau menyelesaikan laporanmu hari ini.” Seorang perawat yang berpapasan dengan Chisoo mengingatkan.

Chisoo tersenyum sekilas. “Baiklah. Aku juga hampir selesai dengan laporanku.” Chisoo menggoyang-goyangkan laporan di tangan kirinya.

“Baguslah kalau begitu,” balas si perawat tadi. “Oh ya, ada seseorang yang mencarimu. Dia memaksa untuk bisa bertemu denganmu hari ini.”

Rasa penasaran menyeruak dalam diri Chisoo. “Seseorang? Siapa?”

“Aku juga tidak tahu. Saat kutanya siapa, dia tidak mau menjawab. Dia hanya berkata bahwa ada hal penting yang ingin ia sampaikan padamu. Dan dia memaksa.”

“Hal… penting?” pikiran Chisoo kembali bercabang. Sebagian berpikir soal laporannya, apa yang akan dikatakan Jinyoung sonsaengnim padanya nanti, siapa orang yang ingin bertemu dengannya―apakah seseorang yang ia kenal atau tidak ataukah pasien, dan kira-kira hal penting apa yang ingin disampaikan oleh orang itu.

Perawat tadi tertawa pelan. “Jangan tanya hal penting apa ya… aku benar-benar clueless. Kurasa lebih baik kau segera menemuinya di taman di sayap kanan rumah sakit. Dia sudah cukup lama menunggumu lho.”

“O-oh. Oke, baiklah. Aku akan segera kesana,” kata Chisoo. “Oh, satu lagi. Tolong katakan pada Jinyoung sonsaengnim mungkin aku akan datang agak lama.”

“Tentu saja!”

Chisoo lalu memutar langkahnya menuju taman di bagian sayap kanan rumah sakit. Batinnya tidak bisa berhenti menerka-nerka kira-kira siapa yang ingin menemuinya?

Ketika Chisoo tiba di taman tersebut, yang dilihatnya hanyalah sosok pemuda bertubuh jangkung yang duduk di salah satu kursi taman. Kehadirannya di taman yang sepi itu cukup mencolok. Terlebih dengan jaket parka yang tudungnya penuh bulu menutupi kepalanya, kacamata ber-frame tebal dan penuh berwarna hitam, serta masker yang menutupi separuh wajahnya.

Bergegas Chisoo menghampiri sosok pemuda itu.

“Errr… permisi,” Chisoo buka suara. Pemuda itu menoleh padanya. “Apa kau… orang yang mencariku?” tanya Chisoo.

“Apa kau benar Cha Chisoo?” pemuda itu langsung berdiri dari duduknya dan justru balik bertanya.

“Hah?” Chisoo ber-hah tanpa sadar. “Y-ya, tentu saja. Aku benar-benar Cha Chisoo. Ini, lihat.” Chisoo menunjukkan id card miliknya. “Foto yang ada di kartu identitas ini sama dengan wajahku. Dan kau tentu bisa membaca hangeul maupun alfabet yang tertera di bawahnya, Cha Chisoo.”

Pemuda itu nampak mencermati id card Chisoo. “Ah, kau benar. Maaf jika aku terkesan begitu lancang.”

Chisoo tertawa. “Hahaha, tidak apa-apa.” Tawa Chisoo memberi rasa familiar bagi pemuda itu. “Jadi… siapa kau dan apa yang bisa kubantu?”

Pemuda itu terlihat menolah-nolehkan kepalanya ke sekitar. Seakan memastikan bahwa tidak ada orang lain selain dia dan Chisoo di sana. Lalu setelah dirasa aman, pemuda itu menurunkan tudung jaketnya kemudian maskernya.

Dan kala melihat wajah pemuda di hadapannya, mulut Chisoo menganga tanpa ia perintah. Chisoo tidak mungkin tidak tahu siapa pemuda di hadapannya sekarang.

 


 

 

Tempus Fugit, Amor Manet

Standard disclaimer applied. Storyline © Nuevelavhasta

Chapter 15 What Stay Behind and Won’t Fade

 


 

 

“Jadi… siapa kau dan apa yang bisa kubantu?” tanya Chisoo ramah.

Pemuda itu terlihat menolah-nolehkan kepalanya ke sekitar. Seakan memastikan bahwa tidak ada orang lain selain dia dan Chisoo di sana. Lalu setelah dirasa aman, pemuda itu menurunkan tudung jaketnya kemudian maskernya.

Dan kala melihat wajah pemuda di hadapannya, mulut Chisoo menganga tanpa ia perintah. Chisoo tidak mungkin tidak tahu siapa pemuda di hadapannya sekarang.

Siapa yang tidak mengenal salah satu personil band yang sedang naik daun saat ini, digandrungi oleh banyak orang―terutama para wanita, dan menjadi the hottest rookie tahun ini? Ditambah, Chisoo tidak mungkin tidak tahu siapa pemuda itu karena teman magangnya, Jiwon, merupakan fans berat dari band tersebut dan tidak berhenti mengoceh soal band favoritnya itu?

“Senang bertemu denganmu. Aku Park Chanyeol, teman Cha Iseul.” Tanpa diminta, pemuda itu sudah memperkenalkan diri.

Belum sembuh dari keterkejutannya karena dirinya mendapat tamu seorang bintang muda yang tengah naik daun, kini Chisoo kembali dikejutkan oleh hal lain. Pemuda itu―Chanyeol―mengaku sebagai teman adiknya. Chisoo tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar. Adiknya… memiliki teman seorang artis terkenal? Chisoo hampir tahu semua teman-teman adiknya yang didominasi oleh atlet. Tapi Chanyeol adalah pengecualian.

“Y-ya, aku… Cha Chisoo. Kakaknya Iseul.” Chisoo memperkenalkan dirinya meski dia tahu Chanyeol sudah tahu siapa dia. “E-errr… aku bertanya-tanya. Kira-kira ada urusan apa seorang bintang rookie terpanas tahun ini denganku?”

Chanyeol tertawa pelan karenanya. “Aku datang kemari sebagai teman Iseul. Bukan sebagai bintang rookie.”

“O-oh. Jadi?”

Raut wajah Chanyeol berubah sendu. “Sebelumnya aku minta maaf tidak bisa datang ke acara pemakaman Iseul. Saat itu aku juga tengah dirawat di rumah sakit.”

“Ah, itu bukan masalah. Aku bisa memaklumi itu. Tidak mungkin ‘kan, kau kabur dari rumah sakit?” Chisoo melontarkan lelucon yang sama sekali tidak lucu.

“Ya,” lirih Chanyeol singkat. “Dan… seperti yang kukatakan tadi, aku datang sebagai teman Iseul.” Chanyeol memberi jeda dalam ucapannya. “Iseul… selalu menganggap band favoritnya, Coldplay, adalah yang terbaik dan selalu meremehkan band-ku. Tapi aku masih bisa mengingat apa yang ia katakan pada hari itu. Dia bilang… dia ingin melihat band-ku debut. Dia ingin melihat penampilanku di atas panggung. Biasanya aku akan menganggap ucapannya sebagai angin lalu. Tapi saat ia mengatakan itu padaku, dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Tapi sayangnya Iseul sudah harus pergi sebelum ia melihat penampilanku atau debut band-ku…”

Eo.” Ucapan Chanyeol membawa kenangan sedih di benak Chisoo.

“Maka dari itu, aku ingin meminta sesuatu darimu.”

“Apa itu?”

Chanyeol tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sesuatu dari jaket parka-nya dan menyerahkannya pada Chisoo.

“Ini…” Chisoo kebingungan menerima sesuatu itu dari Chanyeol.

“Itu album debutku. Lebih tepatnya mini album.” Chanyeol tersenyum. “Mungkin ini terdengar konyol dan memaksa, tapi aku ingin kau melakukan sesuatu terhadap dua mini album ini.”

Mwoya?”

“Iseul mungkin tidak bisa melihat debut band-ku, tapi aku ingin ia bisa mendengarkan lagu-lagu kami. Maka dari itu, aku minta padamu untuk memutarkan mini album ini di kamar Iseul. Aku tidak akan memberi hari apa atau jam berapa kau harus memutarnya. Cukup putarkan saja ketika kau sempat. Lalu untuk mini album satunya lagi… aku ingin kau menyimpannya di makam Iseul bersama abunya. Anggap saja kenang-kenangan dariku. Apa… kau keberatan?”

Chisoo menggeleng. “Tidak. Sama sekali tidak. Justru aku akan melakukannya dengan senang hati.” Senyum ramah mengakhiri ucapan Chisoo.

“Terima kasih banyak.” Chanyeol tersenyum lebar.

“Bukan masalah.”

“Kalau begitu aku harus pergi sekarang sebelum manajerku membunuhku.”

Chisoo tertawa pelan mendengar kalimat Chanyeol. “Sepertinya kau punya manajer yang menakutkan ya?” guraunya.

“Yah, begitulah. Manajerku itu sama menakutkannya dengan kakak perempuanku,” cerocos Chanyeol. “Oke, kalau begitu aku pergi dulu. Maaf sudah menyita waktumu dan merepotkanmu. Juga senang bertemu denganmu. Kuharap kita bisa lebih saling mengenal, atau mungkin bertemu lagi dan membicarakan Iseul. Ah, kuharap Iseul tidak marah padaku atau kita berdua karena kita berdua membicarakan dia, hahaha.” Chisoo ikut tertawa karena penuturan Chanyeol. “Dah! Sampai bertemu lagi!” Chanyeol melambaikan tangannya sambil berlalu.

“Kepribadian yang cerah seperti musim panas, eh?” gumam Chisoo sebelum kembali masuk ke rumah sakit.

 

***

 

“Haaahhh…” desah kecewa Seungho teredam oleh riuh-rendah siswa-siswa lainnya yang lalu lalang di koridor yang juga jadi tempat loker. Maklum saja, sekarang sudah masuk jam istirahat.

“Hari yang berat, huh?”

Sebuah suara yang berasal tidak jauh dari Seungho menarik perhatian Seungho dari kertas yang ada di tangannya. Sumber suara itu berasal dari Minho yang tengah mengambil sepatu larinya dari loker. Baru setelah menutup lokernya, Minho melemparkan senyum pada Seungho. Dan tanpa bicara apapun, ketua klub panahan dan klub atletik-lari itu berjalan beriringan.

“Begitulah,” Seungho baru menjawab pertanyaan Minho tadi, “hasil uji cobaku tidak begitu baik, malahan turun dari hasil uji coba kemarin. Aku tidak tahan dengan hasil uji coba yang fakultatif begini. Bagaimana denganmu?”

“Yah, kalau aku sih mengalami kenaikan,” jawaban Minho membuat Seungho tersenyum kecut. “Meski belum bisa dibilang aman. Hahahaha.” Keduanya tertawa bersama.

“Setelah semua urusan di klub selesai, aku harap aku bisa lebih fokus dalam belajar.”

“Aku juga.”

Terdapat jeda sejenak sebelum akhirnya Seungho kembali buka suara. “Jadi setelah minggu-minggu menyiksa dimana kegiatan klub dan belajar harus benar-benar seimbang, musim semi tahun depan kita sudah angkat kaki dari sekolah ini dan melanjutkan ke perguruan tinggi―jika mau. Ya ampun, apa waktu tidak bisa diperlambat?”

Mendengarnya, mau tidak mau Minho tertawa kecil. “Kau benar. Apa kau sudah menentukan akan pergi ke universitas mana dan mengambil jurusan apa?”

“Aku sendiri punya beberapa pilihan untuk universitas tapi belum menentukan pilihan. Tapi untuk jurusan sendiri… mungkin bisnis manajemen? Yah, itu hanyalah pilihan teratas dari beberapa pilihan. Kalau kau sendiri?”

“Ilmu komunikasi,” jawab Minho singkat. “Nah, kalau kau sudah menyadari betul bahwa musim semi tahun depan kita akan angkat kaki dari sekolah ini, apa kau sudah membuat langkah baru dalam pendekatanmu?” Seungho menatap Minho tidak mengerti. “Astaga, maksudku Eunji! Kau tidak ingin meresmikan hubunganmu dengannya ke dalam ikatan lebih lanjut?”

Seungho menghela nafas berat. “Apanya yang meresmikan? Dia saja masih belum bisa menangkap sinyal-sinyal yang kukirimkan padanya.”

Mwo?! Jangan bilang sejak pertama kali kau memulai pendekatan padanya, hubungan kalian masih berjalan di tempat tanpa kemajuan apa-apa!”

“Memang begitu kenyataannya,” balas Seungho muram. “Ya ampun, kenapa pula aku bisa jatuh hati pada gadis yang super tidak peka dan bodoh seperti dia?”

Minho tergelak mengetahui siksaan batin yang dirasa Seungho. “Hei Bung, kalau kau menghadapi tipe gadis seperti Eunji, kau harus lebih agresif dan ekspresif. Oke, memberi kode-kode pada awalnya memang boleh-boleh saja. Tapi jangan berlebihan. Setelah itu kau harus menyatakan perasaanmu secara gamblang. Seperti yang kau bilang, Eunji itu gadis bodoh yang tidak peka. Jadi kau harus ‘menampar’nya baru dia tahu. Dan kau harus bertindak cepat sebelum dia direbut oleh orang lain.”

“Hh! Aku ragu ada laki-laki lain yang mau mendekati gadis bodoh, cuek, dan tidak peka seperti dirinya selain aku.”

“Siapa bilang? Aku tahu Jinmo anak kelas dua, yang atlet sepak bola itu, mulai menaruh perhatian pada Eunji,” ujar Minho seraya menyeringai.

“Kau serius?!”

Minho mengangguk-angguk. “Iya. Belakangan ini mereka jadi cukup dekat. Jinmo juga gencar memberi perhatian lebih pada Eunji. Tapi seperti yang kau bilang, Eunji itu bodoh, cuek, dan tidak peka. Jadi Eunji masih biasa saja menanggapi Jinmo.”

Penjelasan Minho tidak bisa membuat Seungho merasa lega sepenuhnya. Dirinya tidak terima jika ada laki-laki lain yang memberi Eunji perhatian khusus selain dirinya. Tapi Seungho juga lega karena berkat kebodohan, kecuekan, dan ketidakpekaan Eunji, gadis itu belum jatuh ke pelukan laki-laki lain. Termasuk dirinya juga sih.

“Nah, kau harus gerak cepat, Bung. Atau dia akan lepas. Sebentar lagi kau―kita―juga akan lulus bukan? Artinya kau sudah tidak disini, waktumu bersama Eunij berkurang, waktu Eunji bersama Jinmo bertambah, dan itu tidak baik. Cinta bisa tumbuh karena terbiasa.”

“Ampun deh, Minho. Jangan menambahi beban pikiranku. Untuk saat ini aku ingin fokus pada klub, uji coba-uji coba, dan ujian masuk universitas. Singkatnya, aku ingin fokus pada klub dan belajar saja,” tegas Seungho. “Yah, meski aku tidak yakin akan berhasil,” lirih Seungho dengan mirisnya di kalimat terakhir.

“Karena pada akhirnya Eunji akan mengambil seluruh fokusmu.” Gelak tawa Minho di akhir membuat kening Seungho berkernyit tidak suka.

“Oh, diamlah,” desis Seungho. “Kau sendiri bagaimana? Setelah dibuat patah hati oleh hobae kesayanganmu yang egois itu, apa hatimu sekarang sudah sembuh?”

“Egois apa maksudmu?” Minho tersenyum pedih. Setiap kenangan mengenai Iseul menyeruak di pikirannya, perasaannya jadi campur-aduk.

“Hei, jangan tersinggung Bung. Aku bicara fakta. Kau lihat sendiri, hobae tercintamu itu menyembunyikan penyakitnya dari semua orang. Dengan dalih apapun juga, aku tidak menyetujui hal itu. Rasanya seperti dia tidak mempercayai satu orangpun termasuk sahabatnya. Kemudian, dengan kejamnya dia menolakmu tanpa memberi penjelasan. Kau baru tahu alasan di balik penolakannya setelah dia koma bukan? Dan apapun alasannya, bagiku itu terlihat seperti tindakan egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Apa dia lupa jika punya sahabat, teman, dan orang yang mencintainya yang siap mendukungnya kapan saja?”

Eo, mungkin kau benar…”

“Jadi? Kau sudah move on?”

“Entahlah.”

“Hah? Tidak jelas sekali jawabanmu.”

“Ya, ya, ya. Pokoknya, semoga beruntung dengan Eunji. Aku akan pergi ke ruang klub-ku dulu. Sampai nanti!” Minho menepuk pundak Seungho singkat sebelum pergi.

Di tempatnya, langkah Seungho masih terhenti. Seungho melihat punggung Minho yang semakin menjauh seraya bergumam. “Lukanya pasti tidak akan mudah untuk sembuh.”

 

 

***

 

Buket bunga itu masih berada di tangan kanan Minho sementara tangan kirinya memegangi strap tasnya yang tersampir di bahu. Tapi bunga yang ada di dalam buket itu telah berubah. Minggu lalu adalah bunga anyelir berwarna ungu, tapi sekarang adalah bunga tulip putih.

Selain bunga, ada beberapa hal yang berbeda―maupun sama―yang terjadi. Yang berbeda contohnya waktu kedatangan Minho. Di saat libur, Minho biasa mengunjungi tempat itu di pagi hari. Tapi di hari biasa, siang, sore, dan malam bisa menjadi waktu kunjungan Minho. Yang sama dari waktu kedatangan adalah Minho tidak pernah tidak datang lebih dari dua minggu. Seringnya ia berkunjung ke tempat itu seminggu sekali. Hal yang berbeda lainnya adalah apa yang dibawa oleh Minho. Tidak melulu bunga. Bahkan terkadang Minho hanya datang dengan senyum saja.

Tapi satu hal pasti sama. Yaitu tempat yang Minho tuju. Rumah abu yang sama, lorong yang sama, belokan yang sama, dan tentunya abu orang yang sama. Juga… perasaan yang… masih sama.

Langkah Minho terhenti tepat di sebuah kotak kaca besar yang bertingkat dan terbagi dalam kotak-kotak kaca kecil. Di dalam kotak-kotak kaca kecil tersebut, terdapat abu para jenazah yang sudah dikremasi yang disimpan di dalam tembikar keramik kecil dan bertuliskan nama mereka.

Dan tentu, yang dikunjungi oleh Minho adalah tembikar keramik yang sama, bertuliskan nama seseorang yang akan selalu ada di hatinya; Cha Iseul.

“Hai, aku datang lagi.” Minho meletakkan buket bunganya di depan abu Iseul. “Kali ini aku membawakan bunga tulip. Jujur saja, aku tidak begitu tahu arti di balik setiap bunga. Jadi aku hanya mengambil yang sesuai dengan isi hatiku saja. Kau jangan marah ya?” Minho mulai bersenandika. “Jadi… waktu berlalu dengan… cukup cepat. Tanpa terasa musim semi tahun depan aku sudah akan lulus dan masuk ke universitas. Kesibukanku juga semakin meningkat. Kurasa setelah ada pergantian kepengurusan di klub lari, aku tidak akan sesibuk ini.

“Oh ya, bicara soal klub… kami benar-benar merasa kehilangan seorang atlet berbakat sepertimu. Bukan hanya klub saja sih. Tapi negeri ini juga. Tapi kau tidak usah khawatir. Rekan-rekan kita di klub selalu bisa diandalkan bukan? Dan bicara soal universitas, jujur saja aku masih bingung dengan pilihan jurusanku. Konseling dengan guru pembimbing belum banyak membantu. Yah, sementara ini sepertinya aku mau tidak mau harus fokus dengan uji coba-uji coba. Nilai-nilaiku tidak begitu bagus. Hahahahaha.

“Lalu… bicara soal hari esok, apa kau masih ingat, Iseul? Apa kau masih ingat saat dimana kita berjanji untuk mengkuti world marathon menjadi wakil Korea bersama? Mimpi konyol kita untuk berlari mengelilingi dunia bersama-sama? Ah, aku lupa. Tidak boleh berkata bahwa itu adalah mimpi konyol. Iya ‘kan? Nah, besok ketika aku berhasil menembusnya, terpaksa aku harus berlari sendiri. Atau mungkin bersama atlet lain? Entahlah. Yang pasti aku yakin pasti akan terasa berbeda. Pasti. Itu sudah pasti…”

 

***

 

“Kita kembali lagi bersama The FOO!” ucapan bersemangat si pembawa acara disambut oleh tepuk tangan meriah dari para penonton di studio. “Oke, di segmen tadi kita sudah membahas mengenai sejarah The FOO hingga ditundanya debut kalian karena kecelakaan yang menimpa Park Chanyeol-ssi, drummer The FOO. Sekarang aku ingin beralih pada pertanyaan lain. Mengenai mini album debut kalian. Kenapa kalian menamakannya F.A.I.L? Jongdae-ssi, Anda mau menjawabnya?”

Ne,” sahut Jongdae. “Sebenarnya ‘F.A.I.L’ di sini merupakan sebuah akronim dari kalimat “First Attempt In Learning”. Dan kami merasa judul ini sesuai untuk debut kami. Judul ini seperti menginterpretasikan usaha-usaha kami untuk debut yang gagal atau belum berhasil di masa lalu, serta merupakan penegasan bahwa ini hanyalah langkah awal kami, dalam bermusik dan hal-hal baru lainnya di keesokan hari.”

“Woah! Sungguh filosofi yang menarik! Siapa yang mencetuskan nama ini?”

The FOO saling pandang sejenak kemudian Jongin bercetus, “Mungkin Sehun?”

“Aku?” Sehun sendiri menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. Yang lainnya juga.

Ne. Karena Sehun berkata ia ingin nama yang mencerminkan band kami, perjalanan yang telah kami lalui, dan nama yang seperti sebuah paradoks. Kemudian produser kami, Youngjin hyung, mengusulkan nama tersebut.”

“Ahhh, seperti itu…” pembawa acara mengangguk-angguk paham. “Aku juga mendengar kisah menarik mengenai salah satu lagu dalam mini album debut kalian. Yaitu ‘Love is Here’ atau yang dalam bahasa Korea adalah ‘Sarangeun Yeogi Isseoyo’. Lagu yang memiliki lirik sedih namun berhasil dikemas dalam balutan genre swing yang memukau, sungguh berlawanan dengan kesedihan dalam liriknya. Kudengar kalian sendiri tidak menyangka jika… lagu yang ditulis mendadak oleh Chanyeol setelah ia sadar dari komanya akan meledak di pasaran. Benarkah begitu?”

“Itu saaaaaaaaangat benar. Seratus persen―tidak, seribu persen benar!” jawab Jongin di sela-sela tawa lirihnya.

“Bagaimana bisa?” si pembawa acara sama antusiasnya dengan para penonton.

Kali ini Yixing yang menjawab. “Jadi seperti yang sudah diketahui, Chanyeol sempat mengalami kecelakaan dan koma yang menyebabkan debut kami harus ditunda. Ketika kami mendapat kabar bahwa Chanyeol sudah siuman, kami bergegas mengunjunginya. Dan ketika kami tiba di sana, Chanyeol yang telah sadar sudah menulis lirik lagu tersebut di tabletnya. Saat pertama kali membaca lirik yang ia tulis, kami semua berpikir, “Ah, lagu ini akan menjadi lagu ballad atau mellow yang menyanyat hati.” Semacam itu. Tapi ternyata kami salah besar. Chanyeol justru menginginkan lagu tersebut dibalut dalam melodi ceria, ya genre swing tadi itu.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ah, itu kare―”

“Kurasa akan lebih seru jika Chanyeol tidak diperkenankan untuk menjawab.” Jongdae tertawa setan setelahnya. Dan kontan ucapan Jongdae dibalas dengan antusiasme tinggi dari semua.

“Oke, oke!” pembawa acara berusaha mengendalikan situasi. “Kalau begitu untuk pertanyaan seputar lagu ini, Chanyeol-ssi tidak diperkenankan untuk buka suara. Setuju?”

NEEEEEE!” koor para penonton yang merupakan fans The FOO dengan antusias.

Di tempatnya, Chanyeol tertunduk tertawa seraya memegangi dahinya. Dan rekan-rekannya yang lain tertawa puas.

“Chanyeol-ssi, Chanyeol-ssi, apa kau baik-baik saja?” si pembawa acara juga tertular tawa dari anak-anak The FOO yang lain.

Masih tertawa namun pelan, Chanyeol mengangguk-angguk. “Ne. Aku baik-baik saja, aku pasrah.” Jawaban dari Chanyeol membuat yang lain tergelak.

“Jadi mari kita sambung pembicaraan tadi,” komando pembawa acara. “Kenapa Chanyeol-ssi menginginkan melodi yang ceria untuk sebuah lagu yang liriknya bercerita tentang kesedihan?”

“Awalnya kami juga bingung,” kata Sehun, “kami pikir ini seperti menyajikan suatu kontradiksi. Dua sisi yang kelihatannya sangat berlawanan tetapi masih dalam satu kesatuan. Oke, kami paham. Tapi jawaban dari Chanyeol setelahnya membuat kami semakin tidak paham. Dia berkata bahwa ia seperti ingin membuat musim panas dan musim semi bersatu di lagu itu…”

“Musim panas dan semi?” beo pembawa acara.

“Ya.” Sehun mengangguk. “Untuk musim panas, kami bisa langsung paham. Pasti yang ia maksud adalah melodi riang itu. Tapi musim semi sebagai perlambangan dari kesedihan yang terkandung di tiap baris liriknya? Menurutku itu tidak masuk akal. Bukankah musim semi identik dengan suasana cerah, harapan baru, sentimentil romantisme, hal-hal seperti itu? Jika ingin menggambarkan kesedihan dalam liriknya, bukankah musim dingin, gugur, atau peralihan dari gugur ke dingin lebih cocok?”

“Oh! Kau benar!” pembawa acara sampai mengangguk-angguk antusias. “Lalu, lalu?”

“Kami berpikiran seperti yang Sehun katakan tadi,” sahut Jongin. “Dan ketika kami mengatakan, atau bertanya, mengenai hal tadi… kenapa musim semi? Justru jawaban yang kami dapatkan dari Chanyeol semakin membuat kami tidak paham!”

“Benarkah? Memang apa jawaban Chanyeol?”

“Chanyeol berkata begini, “Bukankah… embun pagi identik dengan musim semi?”. Nah, siapa yang tidak semakin bingung dengan jawaban seperti itu?” Jongin sukses menirukan mimik Chanyeol dan mengundang tawa dari satu studio.

Chanyeol juga ikut tertawa. Tapi ia lebih ke tertawa pasrah.

“Setelah Chanyeol berkata begitu, kami semua curiga telah terjadi kerusakan di otak Chanyeol dan meragukan hasil CT Scan rumah sakit yang menyatakan bahwa Chanyeol baik-baik saja. Bahkan kami berencana membenturkan kepalanya ke sesuatu yang keras. Dia pasti belum sadar atau pulih betul dari komanya!” Sahutan dari Jongdae semakin membuat tawa di studio pecah.

Pembawa acara itu berusaha mengendalikan tawanya sebelum berkata, “Aku memberikan hak prerogatifku sebagai pembawa acara di sini kepada Chanyeol-ssi. Chanyeol-ssi, apa kau bisa menjelaskan sesuatu mengenai hal ini? Karena sekarang aku juga ikut curiga telah terjadi ketidakberesan dalam kepalamu.” Tawa di studio kembali pecah.

“Ya, oke…” Chanyeol memberi jeda agar tawanya juga ikut reda. “Jadi lagu ini bercerita mengenai perpisahan. Dimana pihak yang ditinggalkan menyadari dan memahami jika perpisahan mereka ini adalah sesuatu yang sudah digariskan oleh takdir, tidak dapat mereka ubah. Jadi ia merelakannya. Ini mengingatkanku pada perginya embun pagi.”

Hening sejenak.

“Aku belum juga mengerti sepenuhnya. Tapi… ya sudahlah. Oke, itu juga kelihatan keren,” ujar si pembawa acara.

Tawa kembali memenuhi studio. Bahkan Chanyeol dan anggota The FOO yang lain juga tertawa tidak kalah keras.

“Oke semuanya, sebelum kita akhiri segmen ini mari kita saksikan penampilan dari The FOO! Dengan lagu hits mereka, Love is Here! Mari kita sambut… The FOO!”

 

***

 

Rumah abu itu kembali kedatangan tamu. Tapi kali ini tidak hanya seorang saja, melainkan dua orang. Yang satu cerewet setengah mati dan yang satu lagi terlihat pasrah saja, terlihat lebih kalem dan irit bicara tapi sekalinya bicara bisa menusuk hati hingga berdarah-darah. Ya, siapa lagi jika bukan Eunji dan Seungho?

Bagaimana bisa mereka berdua berakhir di sana? Jika ditelusuri lebih lanjut, Seungho hampir tidak punya alasan apapun untuk berkunjung ke abu Iseul. Relasinya dengan Iseul hanyalah sebatas senior-junior yang tidak punya kedekatan lebih maupun khusus. Tapi di dunia ini semua kemungkinan bahkan yang paling absurd untuk dicerna logika bisa terjadi.

Semua itu berawal dari muka masam Seungho sebagai siswa di tahun akhir yang dipusingkan oleh berbagai hal dan ajakn Eunji untuk pergi bersamanya. Pergi berdua bersama Eunji? Antusiasme Seungho memuncak dan tiba-tiba terjun bebas ketika Eunji berkata jika ia ingin pergi ke rumah abu untuk mengunjungi Iseul, sahabatnya. Tapi apa Seungho punya daya untuk menolak? Toh kemudian Seungho berpikir tidak peduli mereka akan pergi kemana, selama itu artinya bisa bersama Iseul Seungho sudah mempunyai alasan yang cukup.

Dan begitulah bagaimana kini keduanya bisa berada di sana.

“Hei, kau sudah selesai atau belum?” tegur Seungho malas. Manik matanya masih belum bisa berhenti melihat kesana-kemari.

Berada di rumah abu cukup lama membuatnya mulai berpikir mengenai kematian. Satu hal pasti yang akan dialami makhluk hidup termasuk dirinya. Dan Seungho sungguh tidak menyukai pemikiran yang satu itu. Membayangkan dirinya mati? Uh, entahlah. Seungho tidak pernah memikirkannya dan ia merasa belum siap jika harus meninggal.

Ocehan Eunji berhenti karena teguran Seungho. Ia menoleh pada seniornya yang terkenal sebagai jelmaan setan itu. “Sedikit lagi, Sunbae. Tunggu sebentar ya?” kemudian Eunji kembali pada Iseul. “Ehehehe, maaf ya, Iseul. Sepertinya kali ini aku tidak bisa berlama-lama karena tanduk Seungho sunbae sepertinya sudah mau keluar. Padahal aku masih ingin bercerita banyak tentangmu. Tapi yah, tentu saja aku tidak mau disiksa oleh setan berkedok sunbae itu. jadi… sampai jumpa di lain waktu ya?…” Eunji berhenti dengan kalimat yang menggantung.

“Hei, kau sudah selesai belum? Kenapa malah bengong begitu?” Seungho mengeliminasi jarak antara dia dan Eunji.

Tapi Eunji masih terpaku di tempatnya dengan mata melotot dan mulut setengah terbuka. “Oy, Eunji! Kau dengar tidak sih?” Seungho mulai gelisah. Pikiran-pikiran seperti bagaimana-jika-Eunji-dirasuki mulai menyusupi Seungho. “Oy! Jung Eungji!” tangan Seungho sudah mencengkram kedua pundak juniornya tersayang itu.

Su-sunbae…” lirih Eunji.

“Ya?”

Eunji tidak menjawab. Namun telunjuknya mengarah pada sesuatu yang menyembul di antara wadah abu Iseul dan foto Iseul yang memenangkan kejuaraan olimpiade. Pandangan Seungho secara otomatis mengikuti arah telunjuk Iseul. Tapi Seungho masih belum paham. Sebenarnya ada apa? Apa ada sesuatu tak kasat mata yang dilihat Eunji?

“Y-ya… apa?” alis Seungho sudah bertaut dan dahinya mengernyit tanpa sadar.

“I-itu… itu!” Eunji seperti bocah yang masih belajar bicara. Telunjuknya kini semakin menggila menunjuk-nunjuk.

“Ada apa dengan ‘itu’?” Seungho mulai kesal.

“Ituuuuu! Yang ada di antara wadah abu Iseul dan fotonya…” Seungho menemukan seusatu yang dimaksud Eunji. Namun ia masih belum paham betul apa sesuatu itu. “Itu mini album debut The FOO yang limited edition…” desis Eunji horor.

Dan Seungho merasa amat sangat menyesal sudah khawatir sebegitunya.

Sunbae! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” Eunji balas mencengkram kedua lengan seniornya itu. Sekarang mereka saling mencengkram.

“Bagaimana mungkin apanya?” tanya Seungho gusar.

Sunbae… itu mini album debut The FOO. The FOO lho, The FOO!―”

“Ya lalu kenapa?”

“Ya… ya… bagaimana mungkin ada di sana? Iseul itu tidak menyukai The FOO! Dia hanya suka Coldplay dan Red Hot Chilli Pepper. Dia tidak pernah melirik The FOO. Tapi kenapa ia punya album The FOO di makamnya? Ditambah itu album edisi khusus yang terdapat tanda tangan para member The FOO. Ini tidak adil! Aku yang fans beratnya The FOO saja tidak punya, tapi kenapa Iseul yang kuragukan ketahuannya akan The FOO punya? Kenapa?”

Emosi Seungho mulai memuncak ke ubun-ubunnya. Tanpa berkata-kata lagi, ia sudah menyeret Eunji menjauh.

Su-sunbae! Kenapa kau menyeretku pergi?” Eunji tergopoh-gopoh mengikuti langkah seniornya.

“Aku harus menyeretmu pergi sebelum kau menggila, menangis meraung-raung seraya mengais-ngais tanah karena tidak bisa memiliki album edisi khusus The FOO!” ujar Seungho dengan penegasan di setiap kalimatnya.

“Tidak bisa!” balas Eunji mengerang. “Karena sekarang aku sudah tahu faktanya, apapun yang terjadi aku tidak bisa melupakannya!”

“Lupakan kau pernah melihat album itu!”

“Tidak bisa!”

“Pasti bisa. Kau belum mencobanya ‘kan?”

“Sudah. Dan hasilnya aku tetap tidak bisa!”

“Omong kosong!”

“Darimananya?”

Rengekan Eunji makin menjadi dan Seungho semakin tidak tahan mendengarnya. Dan Seungho semakin jengah ketika melihat sudut-sudut bibir Eunji yang mulai tertarik ke bawah dan tumpukan liquid bening di mata Eunji. Langkahnya otomatis terhenti.

“Ya ampun, kenapa kau menangis?”

Eunji menggeleng sebagai jawaban.

“Kau kecewa karena tidak bisa mendapatkan album edisi khusus itu?”

Tebakan Seungho benar karena sekarang Eunji mengangguk pelan.

“Tapi kau tidak perlu sampai menangis seperti itu ‘kan?”

Su-sunbae mana mengerti soal beginian…” isak Eunji.

Diejek seperti itu membuat Seungho tidak terima. “Siapa bilang aku tidak mengerti? Kau mengejekku? Apa sih, yang tidak kumengerti dari dirimu?” lalu tiba-tiba saja tangan Seungho sudah menangkup wajah Eunji dan mengusap air mata Eunji. “Dasar payah…”

Diperlakukan seperti itu membuat Eunji tercengang tidak percaya. Sunbae yang selalu ia juluki sebagai Jelmaan Setan itu bisa berlaku selembut ini?! Neraka pasti sudah menjadi dingin!

“Berani taruhan. Mungkin aku bisa mengerti dirimu lebih dari kau mengerti dirimu.” Ucapan Seungho itu terdengar lembut namun tegas.

“U-ukh…”

“Nah, sekarang ayo pulang. Besok-besok akan kubelikan kau album edisi khusus The FOO.”

Wajah Eunji kontan berubah. “Benarkah? Sunbae tidak bohong? Sunbae janji?”

“Iya, iya. Cerewet. Sekarang ayo pulang!”

“Tapi… apa Sunbae janji mau membelikanku album edisi khusus The FOO?” Eunji kembali bertanya di langkahnya.

“Kau bisa memegang kalimatku, Jung Eunji. Aku bukan tipe pria yang hanya mengumbar janji dan tidak menepatinya.”

“Tapi kenapa?”

“Apanya?!” Seungho kembali kesal. Kenapa selain bodoh, tidak peka, juniornya yang satu ini juga cerewet minta ampun?!

“Kenapa Sunbae mau membelikanku album edisi khusus The FOO? Harganya tidak bisa dibilang murah lho. Mendapatkannya juga tidak mudah.”

“Seseorang akan rela melakukan apa saja demi orang yang disayanginya, Bodoh.”

Hah? Langkah Eunji terhenti.

“M-maksud Sunbae…” Eunji tidak menggantungkan perkataannya secara sengaja. Ia bukan orang yang teramat bodoh hingga tidak bisa menangkap fakta yang muncul secara gamblang seperti tadi. Seseorang akan rela melakukan apa saja demi orang yang disayanginya.

Menyadari dirinya yang keceplosan, Seungho buru-buru memalingkan wajahnya dan membekap mulutnya. Sial, sial, sial, SIAL! Kenapa bisa keceplosan sih?! Seungho tidak hentinya memaki dirinya sendiri dalam hati. Tanpa mempedulikan Eunji lagi, Seungho buru-buru melangkah mendahului. Juniornya tidak boleh tahu kalau wajahnya kini bersemu merah!

Sunbae! Tunggu dulu! Jelaskan maksudnya tadi apa!” Eunji yang sadar ditinggal beberapa langkah, berseru, kemudian menyusul Seungho.

“Lupakan!”

“Tidak bisa!”

“Kau belum mencobanya.”

“Sudah. Tapi tetap tidak bisa!”

“…”

Sunbae! Jangan diam saja! Jawab pertanyaanku tadi! Maksud perkataan Sunbae tadi apa? Jadi Sunbae sebenarnya sayang aku, ya?”

Aduh Eunji, jangan mengatakannya dengan enteng tanpa beban begitu dong. Muka Seungho semakin merona mendengarnya.

“Kau ini bicara apa sih?”

Sunbae itu yang bicara apa. Jelaskan maksud perkataan Sunbae tadi itu apa! Sunbae! Seungho sunbae! Beri aku kepastian dong! Sunbaeeeeeeeee!” lengkingan Eunji semakin membuat telinga Seungho yang berlalu dengan cepat panas karenanya.

 

***

 

Mendapat jatah libur meski hanya sebentar di tengah-tengah jadwal The FOO yang semakin sibuk menjelang akhir tahun bisa dibilang sebuah anugerah. Manajemen The FOO sendiri yang memberi jatah cuti pada anak-anak The FOO. Karena jadwal The FOO sendiri di tahun baru amatlah padat. Mereka harus tampil di beberapa pertunjukan dan acara-acara penghargaan karena berhasil masuk nominasi.

Anak-anak The FOO tidak pergi jauh-jauh. Mereka lebih memilih untuk pulang ke rumah keluarga masing-masing. Kecuali Yixing yang menginap di rumah Sehun. Selama libur mereka bebas melakukan apa saja asalkan tidak menimbulkan pemberitaan negatif maupun rumor di kalangan umum. Anak-anak The FOO juga sepakat untuk kembali ke dorm mereka di sore hari di hari terakhir libur mereka.

Maka dari itu, memanfaatkan waktu yang hanya sebentar ini, di hari kedua liburnya Chanyeol pergi ke sebuah rumah abu. Lengkap dengan jaket parka-nya yang berwarna hijau gelap, celana jins berwarna abu gelap, serta sepatu yang tingginya menyamai mata kakinya yang berwarna hitam dan putih. Langkahnya pelan karena dirinya sendiri baru pertama kali mengunjungi rumah abu ini. Tapi meski begitu, Chanyeol bisa menemukan makam abu yang ia cari.

Tentu saja makam abu Cha Iseul.

Terima kasih Chanyeol ucapkan pada Chisoo, kakak Iseul, yang mau membagi informasi ini.

Chanyeol berdiri di depan makam abu Iseul dan tanpa sadar tersenyum.

Di dalam kotak kaca makam abu itu Chanyeol bisa melihat banyak hal. Ada wadah abu bertuliskan nama Iseul, foto Iseul, foto Iseul dan keluarganya, foto Iseul dan teman-temannya, bunga berbagai warna yang Chanyeol tidak tahu nama-namanya, medali-medali, bahkan sepatu. Senyum Chanyeol semakin lebar saja ketika ia melihat albumnya terselip di antara ramainya barang-barang di sana.

Annyeong. Jeongmal oremaniya, Cha Iseul,” sapa Chanyeol. “Maaf ya, baru sempat mengunjungimu sekarang karena jadwalku begitu sibuk. Apa? Kalau kau bilang aku hanya membual, kau salah besar. Aku tidak sedang membual. Jadwal seorang anggota band yang menjadi rookie paling panas tahun ini tidak mungkin tidak sibuk ‘kan? Jadi yaaa beginilah aku sekarang. Jadwal super padat sampai harus tidur di van sudah jadi hal biasa.

“Ah, kalau kau masih belum paham juga biar kuberitahu. Aku ini sudah debut. Dan sayangnya aku harus debut tanpa dirimu yang bisa melihat debutku. Padahal waktu itu kau berkata sangat menginginkannya ‘kan? Melihat debutku. Dasar. Katanya sangat ingin melihat debutku, tapi nyatanya kau malah harus pergi lebih dahulu. Tapi… apa yang bisa diperbuat manusia lemah sepertiku? Melawan takdir yang sudah digariskan? Tidak mungkin ‘kan?

“Tapi aku sudah minta tolong pada kakakmu untuk memutarkan lagu-lagu dalam mini album debut-ku di kamarmu serta meletakkan satu mini album debut di makammu ini sebagai kenang-kenangan. Bagaimana? Apa kau suka? Eish, kau tahu aku tidak suka penolakan. Maaf saja ya, jika justru albumku-lah yang menghiasi makammu dan bukannya album milik Coldplay. Hahaha. Kau tidak boleh protes untuk yang satu itu. Hahahaha. Oh ya, lalu apa kau sudah mendengarkan lagu-lagu yang aku dan kawan-kawanku buat?

“Ada satu lagu yang aku buat spesial untukmu lho. Kau bisa tebak yang mana? Sebenarnya aku ingin memberi lagu itu judul ‘Iseul’, seperti namamu. Artinya embun pagi ‘kan? Tapi aku mengurungkan niat itu. Jadi aku menggantinya menjadi ‘Love is Here’. Apa kau tahu kenapa aku menggantinya dengan judul itu? Itu karena… tidak peduli berapa lama waktu telah berlalu, kau akan selalu ada di hatiku. Bagiku… rasa cintaku padamu ini akan tetap tinggal. Hha, terdengar menggelikan dan penuh gombal, eh? Tapi kumohon jangan tertawa. Kau tidak boleh menertawakan perasaan tulus seseorang padamu. Itu kejam namanya.

“Hei, tunggu. Jangan langsung percaya diri seperti itu. Ini tidak seperti aku lalu bermuram durja dan tidak bisa move on selepas kepergianmu. Yah, aku memang sempat sedih dan down pada awalnya. Tapi itu pa-da-a-wal-nya. Sekarang tidak lagi. Sekarang rasanya lebih bagaimana ya? Sekarang perasaanku lebih… hampa? Yah, semacam itulah. Hampa dan lepas. Aku sudah menerima fakta jika kau sudah pergi untuk selama-lamanya. Jadi tidak usah khawatir dan merasa bersalah begitu, aku baik-baik saja.

“Dan aku tidak akan pernah melupakan fakta jika rekor lari milik mendiang Florence siapalah-itu di tahun seribu sembilan ratus-berapalah-itu adalah kau, Iseul. Wah, wah, kalau mengingatnya aku merasa aku ini orang paling spesial di dunia, lho. Hahaha. Oh ya, aku juga sempat berkirim pesan dengan kakakmu. Dia orang yang sangat baik dan menyenangkan. Sayang ya, kau belum sempat bertemu kakakku. Ah, kalau begitu di lain waktu akan kubawakan tanda tangan kakakku. Bagaimana? Kau suka?

“Nah, kalau begitu aku pulang dulu ya? Aku cuma mendapat jatah libur tiga hari sebelum kembali disibukkan dengan jadwal super padat di akhir tahun dan tahun baru. Sampai jumpa, Iseul…”

 

If you ask me when

I don’t know

If you ask me how

I don’t know

If you ask me why

I don’t know

 

All I know is I already in love with you

Suddenly don’t wanna lose you

Suddenly I want you to always by my side

Even if we sat side by side in silence

We’d still understand each other

 

Every moment with you is the happiest time of my life

I feel reborn

Everything feels brand new

Together we walk with our hands held

Spent our time together with no worries

 

And before I knew it, you already gone

Just like the morning dew, you disappear in a glance

But this is odd

When I don’t feel sad or empty

If that’s what the fate had decided, I won’t hinder you

 

Yeah, it’s a bit lonely without you

But I’ll be okay

Love is still here no matter what

Time flies, but love will stays

 

Love is Here (사랑은 여기 있어여 ) The FOO

 

Tempus Fugit, Amor Manet END

 

A/N        :

ASTAGA! INI BENERAN END! E-N-D! ;A; /tebar convetti/ tari hula-hula/ eureureong-an bareng ekso/

Akhirnya setelah apdet karet yang menyiksa, readers sekalian tidak harus mengalaminya lagi XD Haduhhhhh, too much feels on my kokoro nih sampe nggak tahu harus nulis apa di A/N ini ;A; Rasanya tuh ya, lwegwhaaaaaaaaaaaa bet fanfik ini udah kelar. Kini saatnya fokus dan menyelesaikan fiksi-fiksi lain!

Terima kasih buat kalian, readers yang sudah mau menampakkan diri di fanfik ini:

Dela Ayu, I18hee, kartikaw2046, hamidahlubis, airlyaeri297, cherra24, Nadyaaaa04, Azzahlia, mu86, kimth951230, mappleaf, wulanretno379, parkdelight, WHIRLWINDS, giraffehappiness, salmaamran, fifah, Eufroshines, Alfina, rizka, Mirai, Miranda, summerie, karinatasyamulya49, violethas2, natadecocoo, retno wulan, fatiha, ivarlin99, dindaelf98, CollinsKimm, hanseoji, hckryeon, leechan, Retno Triwulan, byunbek, dinanurdianah, putri nahdia, zulaipatnam, cherliee22, deagoldea, someone, Putri Safira, nailychi, Marsmallows, Kenken’s, traddel, kimjr, yoonhee park, zay cardova, SHINERSB, namminraa, PNhd_RV, 96looney, sehunnie, Song Vena, yui, bi974, Acu, ichiez171, AfayZhen, kenssi, takoparfait, MaeriL86, rahmaniy, tyazputri, sheyu

Juga buat kamuuu iya kamuuuuu yang baca fic ini dan/atau silent readers. Tanpa kalian semua, apalah Len ini.

Jadi beginilah akhirnya. Iseul sudah meninggal dan Chanyeol melanjutkan hidupnya /tsah/, Minho masih belum bisa move-on, dan Seungho–Eunji juga belum jelas nasibnya. Kalo ada yang tanya kenapa Len bikin begitu, jawabnya no particular reason. Takutnya kalo misal Len ganti, kayak tetiba Iseul muncul lagi sebagai reinkarnasi di tubuhnya orang lain, Len rasa itu konyol. Yang ada cuma manjang-manjangin fiksi ini dan boring. Terus kalo misal Minho udah bisa move-onHELL! JANGAN KIRA MOVE-ON ITU GAMPANG! Flashback dikit aja udah baper XD Terus soal Seungho–Eunji. Kalo mereka udah jadian (dengan gampangnya) kayaknya nggak seru dan apa-banget. Yaaa soalnya kita tahu kan kalo di sini Eunji itu nggak pekanya ngalahin nggak pekanya gebetanmu XD

Buat lirik lagu The FOO di akhir itu… percayalah, itu bukan lirik siapa-siapa. Len aja yang sok-sokan nulis lirik buat dimasukin ke fanfiksi ini XD Iya tahu, liriknya jelek, gaje, Len tahu kok…

Jadi gimana pendapat kalian soal chap terakhir ini juga fanfiksi ini secara keseluruhan? Len udah siap kalo ada yang nggak terima sama ending-nya. Apa kalian ngerasain perasaan hampa kayak yang dirasa Chanyeol atau Minho? Wkwkwkwk. Keluarin semua uneg-uneg kalian di kolom komentar. KELUARIN! Nggak usah dipendem-pendem. Nggak cukup apa kamu mendem perasaan ke dia? Makanya, keluarin uneg-uneg soal fanfiksi ini! Mau pendek mau panjang, teserah. Yang penting keluarin aja biar lega di hati.

Kalau gitu, Len―Si Tjakep Jembatan Ampera pamit duluan. Jangan lupa baca fiksi-fiksi Len yang lainnya. Adios!

44 tanggapan untuk “Tempus Fugit, Amor Manet [Chapter 15 ― END]”

  1. Yg udah brhsl dbut & jd d’hottest rookie, ke mana2 pk pnyamaran ya 😏
    민호 야.. 파이팅!!
    Ah, semua scence di ff ni bner2 ter-visualisasikan dg jlas, ky bnrn, ky lg mantengin dvd drakor. Itu lirik lagu Love is here kirain pny artis siapa gt, trnyt bnrn/pure karya Len, 대박! 짱! pk bgt 👍
    Yah, ga da scene 4 sohib’ny 찬열 pas lg libur ya 😟 pnasaran 세훈 ngapain aja, trus Lay nginep jg di rmh’ny.
    Len itu in reality nickname’ny dr klrg/tmn2 kamu, ‘Len’ jg kah?
    Yuk tbar convetti 🎉🎊 으르렁an sm Exo formasi lngkp 😍 tp ga pk ldakin elpiji ya 😋 bahaya, ㅋㅋㅋㅋㅋ
    1st, I’m so~ happy bs nmuin wp exoffi ini, bs nmuin kamu, ia kamu, si author genius yg dah bnyk menghasilkan great works yg sngt menghibur, so~ proud & thankful 😘
    I’ll always support you Len & enjoy you other great works here too..

    1. GOSH, BIG THANKS FOR YOU KAK! Bikos udah baca semua epep ane T_T /big hug/
      And thank you so much for the support, comments, and compliments T_T
      Actually, I’m the kind of person who has a lot of nicknames or alias XD Dan Len adalah salah satunya. Tapi ane jamin kalo Len itu nama asli ane

  2. IYA SIAPA YANG BILANG MUP ON KAGAK GAMPANG SINI MAJU/dateng-dateng bahas mup on/ buang aja nida/ buang ke pelukan Sehun/
    Minho beneran butuh waktu lama buat lupain iseul ya keknya. Soalnya dia terlanjur tau kalok iseul nolak dia gegara sakit, itu tuh rasanya kek digantung secara gak langsung, karna iseul sendiri emang suka kan ama minho (sebelum sama chan tentu :v eh bentar aku jadi sangsi si iseul lebih suka sama siapa. chanyeol apa minho? .-.)
    Terus eunji seungho makin unyu aja dan NAH GITU DONG SEUNGHO LANGSUNG TO THE POINT GAUSA KODE2AN KAGAK MEMPAN SAMA CEWE CEM EUNJI yang katanya bodoh dan tidak peka :v
    Btw CIYE IDE JUDUL MINI ALBUM DARI PACAR GUE CIYE TUMBEN PINTER MAS :v aku suka analoginya, musim panas musim semi dan rasanya gitu deh. Suka benget kek interview beneran wkwk
    Dan pada akhirnya chan nemuin iseul di pemakaman :’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’) kayak semacam speechless tapi pengen treak gak kuat dan mau nangis. Mana dia ngobrol panjang tentang perasaanya, mana ini kenapa track list yang aku denger muter lagu sad, mana ini aku ngetiknya malem/lha terus? Chanyeol gitu yha, aku jadi terharu sendiri rasanya, mana dia udah cinta ama iseul, yang sabar ya mas, mari mup on sama-sama. Terus liriknya 😦 gabisa gaknyesek anjir emang kenapa harus jadi baper baperan gini omaygat dan INI KENAPA LAGU YANG KUDENGERIN SAD MULU/salahin aja semua nid, salahin/
    Dan di a/n sempet melongo sebentar dan ngebatin ‘wah ada aku’ tapi setelah kuselidiki rupanya……………………………………………………………….. (len, tebak, apa yang salah? Tebak coba tebak tebak tebak tebak harus tebak)
    AKHIRNYA END DAN AKHIRNYA AKU SELESE BACA DAN AKHIRNYA MEREKA MENCOBA MUP ON DAN GAK JALAN DITEMPAT AJA WALAU ISEUL MENINGGAL/okesip
    Suka banget, gimana len ngegambarin cinta-cintaan yang gak terlalu berlebihan tapi diam diam manis, gimana len ngejelasin interansi edan the foo (dan ngebuat aku nahan treak pas ada sehun/gak ada hubungannya/), bisa mulus aja gitu. Gak melulu fokus sama cinta, tapi menyeluruh juga. Terus adegan yang ditampilin tuh runtut, gak terkesan buru buru, jadi bayanginnya gampang (aku perlu belajar bikin yang begini detilnya). Walau sempet kesel karna chanyeol iseul gak ketemu-ketemu tapi semuanya terbayar begitu momen mereka ada. Sampe konyol, sedih, marah, sayang, ah gitu deh pokoknya nyes banget bikin mikir ‘bisa bisanya chanyeol sama iseul begini ya’. Suka banget idenya mereka kenalan di alam yang beda. Konyol banget mereka, aku sukaaaaak. TFAM tuuu pas banget, ceritanya merata (kek yang aku bilang tadi, gak melulu fokus ke cinta2an). Dan sumpah aku suka banget sama cowok2 petakilan anggota the foo! Mereka tu… kek ngegambarin gimana sih persahabatan yang emang bener bener sahabat. Walau sempet cek cok, walau sempet gini gitu, tapi pada akhirnya mereka tetep kocak. Aku jadi bayangin anak ekso pada begitu semua. Edan lah ngakak aku. DAN ANJIR TERNYATA INI BANYEK BANGET KOMENNYA OMAYGAT
    Yaudah dipersingkat aja, SELAMAT BUAT LEN YHA ❤ ❤ ❤ udah berhasil ngerampungin fic super keren ini. Ditunggu karya kece lainnya hoho aku selalu seneng baca cerita yang udah end, artinya yang nulis itu konsisten dan bisa nyelesein apa yang udah dia mulai/apasih nid/ Okesip ini gak ada singkat2nya. Yaudah len, makasih banget udah bikin cerita keren ini OMAYGAT KAPAN AKU SELESE NGOMONG? Udah, ini beneran udah. Moga makin kece kedepannya. SEMANGAT
    Btw……. DARI AWAL AKU SUKA BANGET JUDULNYA!
    TEMPUS FUGIT AMOR MANET love pokoknya. Sekian.

    1. gatau len, yang penting kan ngirit kuota wkwk kita buka ff, matiin wifi, baca, komennya nunggu wifi lagi. ini cara hidup orang gratisan/dibuang

    2. Welkam tu de las part, Nid! /tebar konvetti/
      Susah-gampangnya mupon itu tergantung orangnya :”)
      Iseul lebih ke Chan ato Minho? Well, sebenernya ane sendiri juga bingung XD /LAH?/ Ini gimana yaaaa? Gini aja, jadi Iseul itu suka ama Minho tapi yaa begitulah cerita mereka berdua. Terus pas ketemu PCY, perlahan-lahan Iseul juga suka. Bisa dibilang PCY is Iseul’s future and Minho is her past. Cuma ya ituuuu Iseul belum bisa ngilangin Minho dan perasaannya ke Minho sepenuhnya /mbulet gila sumvah/ XD Yaaa pasti lah pernah, entah itu lu atau orang laen, yang masih punya satu ruang kecil buat seseorang dari masa lalu mereka :”)
      Astagaaaa … pujianmu membuat Len tersapu(?) XD TAENGSEUUUU NIDDDDD!!
      Ahhhh, apalah Len ini, cuma kentang yang kemampuan nulisnya masih belum ada apa-apanya ama writer laen :”) /keinget epep Kopi Hitam yang diksinya bikin ane bilang “kamvret” berkali-kali/ XD
      Makasih udah mau setia ama nih fik, udah mau setia ama Len /WOIII/ MAKASIH

    3. susah gampang mup on juga tergantung rasa sayangnya len :’) (INI KENAPA BAPER2AN WOY)
      len sumvah sengaja ya bikin aku baper? ngaku gak!/dibuang tapi bener sih, sadar gak sadar kita tetep punya ruang buat sosok masa lalu UHUK
      /sapu len/ udah dibilangin jugak, yang nulis kopi hitam itu sehun langsung aku cuma urunan ngepost wkwk aku juga masih ecek-ecek tauk len
      iya sama sama len, aku ini emang tipikal orang yang setia kok kalok disetiain/nid…

  3. haahh selesai sudah epep ini, bakalan miss banget sama kelakuan chanyeol-iseul selama jadi arwah 😦
    bikin sequel kah? atau epep lain tapi cast nya mereka berdua gitu?
    tapi ini nggak bisa dibilang happy atau sad ending juga sih. Tapi gapapa aku suka endingnya Len 😀
    ditunggu apapun selanjutnya tentang mereka 😉

    1. Halo byunbek, makasih udah mau setia sama epep ini meski apdet karet XD
      Sekuel? Entahlah… Len nggak berani jawab ada atau nggak ada. Epep lain tapi pake mereka berdua? Sama, Len nggak bakal bilang bakal ada atau nggak ada, hehehe.
      .
      Woah, glad to know that you like the ending!
      .
      Yosh, kalo berkenan mari mampir di fanfiksi-fanfiksi Len yang lain dimari 🙂

    1. Hola Leni, makasih udah mau baca sampe akhir dan bertahan dengan apdet karetnya Len XD
      Makasih juga udah dibilang keren, muehehehe
      Yah begitulah hidup, ada kehidupan ada kematian :3

  4. wahhhh.. beneran udah END..
    dan fanfic ini sukses bikin aku nangis.. kenapa momentnya pas banget sama temen aku yg baru meninggal?? kan jd baperr..
    aku suka kok endingnya.. keliatan natural dan gk maksa.. hehehehe
    walaupun chanyeol gk sama iseul.. tp nyesek jg bacanya… soalnya pinginnya mereka bersatu/ eeeaaaaa
    gk tau mau ngomong gimana lagi.. pokoknya semangat terus buat len yaa.. aku tunggu next fanficnya..
    apakah ini ada side story atau sequel kah???
    ngomong – ngomong sebenarnya aki udh baca dari kemarin .. tp berhubung kemarin internet error dan gk bisa buat coment jd baru bisa coment sekarang.. hehee
    #luuvvv luuuvvv

    1. Hola Fifah, makasih udah mau belai-belain komen dan setia menampakkan diri di fiksi ini /bow/
      .
      Turut berduka buat temenmu yg meninggal :”)
      Dan seneng deh kamu suka endingnya meski nggak sesuai ekspektasi
      .
      Side story atau sekuel? Len nggak mau ngasih kepastian XD
      Kalo berkenan mari mampir ke fiksi-fiksi Len yg lain dimari 😉

  5. Kak, kok keren sih ? Ngejleb gitu.. Ahh suka sukaaa.. Apalagi sama karakternya chanyeol dan iseul disini.. Keren. Salut deh sama kak len. Daebak!!

    1. Oh ya? Iyakah? Kamu serius? Kamu nggak bohong nggak? Jangan ada dusta di antara kita, oke? /WOI/ XD
      Doh, makasih, makasih udah mau baca, dikata keren, makasih banget /bow/

  6. woaa… lama gak main ke sini.. tiba2 udah tamat aja..
    endingnya…. endingnya mengingatku sama drama 49 days..
    tidak berakhir sedih, tapi jga tdk berakhir bahagia.. uggh..
    sejujurnya sebagian dri driku tdk suka ending seperti ini tapi sebagian lagi bilang “ayolah yui, bukankah endingnya memang harus seperti itu?”
    dan lagi terserah authornya dong ending seperti apa..
    hahaha
    dan untuk lirik lagu the FOO love is here.. kau bercanda? serius ku pikir itu betul2 sebuah penggalan lagu. aku bahkan berpikir untuk search di mbah gugel.. tau nya… hahaha
    thanks Len udah buat fict ini ending..

    1. Hola, Yui! Seberapa lama nggak mampir? Lamaan mana sama apdet karetnya Len? XD
      .
      Wks, nggak sedih nggak bahagia juga ya? Jadi apa nih? Nggantung? XD
      Well, sedikit-banyak 49 Days mempengaruhi juga sih /tengok ke chap dimana malaikat maut Jung Il-woo nongol/
      .
      XD Hadoh, kamu bikin Len tersungging atas pujian buat lirik lagunya. But thanks anyway 😉
      .
      Sama-sama. Makasih juga udah mau baca fanfik ini. Kalau berkenan, sok atuh mangga mampir ke fanfik-fanfik Len yang lain 😉

  7. aasiiiiiiikkk!!!!!!!! ada di ucapan terima kasih ayey!! sebenernya ending nya tidak seperti yang diharapkan. tapi ada benernya jga klo dibalikin keadannya malah manjangin dan ngeboringin. tapi aku pikir malah iseul emng bener bener bereinkarnasi. haha. btw, itu ceritanya berapa tahun kemudian? apa bulan? hmmm. tapi klo iseul udh gada, chanyeol gamungkin mau sendiri terus kan? minho juga. semoga mereka bahagiaaan. buat seungho sama eunji moga ampe kawin XD. lirik lagunya bagus. mungkin bakal aku kutip dan repost. sekalian ijin nih. yaudh segitu aja. makasih banget buat akhirnya ga ngaret. terus makasih udh bikin panpik yang sesuatu ini.. THE FOO aku masih mencintaimuuuu~. semangat len buat nyelesein pik pik lainnya. dadah. 🙂

    1. Emang kamu mengharapkan ending yang seperti apa, Nak?
      .
      Kok kamu bisa narik kesimpulan kalo Iseul itu bereinkarnasi? Padahal ane nggak bilang, wkwkwkwk.
      .
      Ceritanya berapa tahun kemudian? Nggak nyampe tahunan. Itu cuma hitungan bulan aja, sekitar 1-2 bulan.
      .
      Doh, daku merasa tersanjung tuh lirik mau dikutip and repost. Silahkan, silahkan. Asal credit tercantum 🙂
      .
      Hanjir! Kalimat “makasih banget buat akhirnya ga ngaret” itu menampar daku KERAS sekali! XD
      .
      Sama-sama. Makasih juga udah mau dukung Len dan fanfik ini sampe akhir /cieeehhh/ ahayy/
      Kalo berkenan, mari mampir di fanfik-fanfik Len yang lain dimari 😉

  8. Mereka ttp ngelwnjutin hidup mrk masing” aku salute deh sama chanyeol, dia bisa move on dari kesedihanny
    sad ending ya….gpp deh, yg penting gk sedih” amet…ok kak..ppai

    1. Kamu nggak salut sama aku yang udah capek-capek ngerampungin nih fanfik? /WOI/ Apaan sih Len?/
      .
      Heh? Ini terbilang sad-end ya? /dor!/

    2. bener kak, sedih ini jadinya sad ending. iya deh salute sama kakak yg udh ngelanjutin sampe selesai. greget sendiri sama ceritanya. joahhhhhh…..jinjjja!!!

  9. seriusan ini udh end??serius????kok sedih yaaa…..ya tapi begitulah dunia walopun udh ditinggal hidup tetep msti lanjut… fighting chanyeol..
    cinta tak berbalas jadinya chanyeol minho… sedih wehhh
    kutunggu cerita baru yg good..apik..seru..keren..dan lain”
    biar aku bsa ngotorin tuh cerita sma cuap”ku *deuhelah bahasanya*
    udah ah sekian..thanks to author. keep writing n fighting!!! chuuu~~

    wait!! ada namaku disebut… Song Venna ahaaa..tapi mau/udah ganti jd VeeHun ^^ but no problem..its okay lah.. hahaha aku jd terjungkang *tersanjung maksudny* nmaku disebut horeeeeee *tebar kerikil*kena yaa duhh mangap klo gtu*
    udah ah takut kepanjangan entar mata author jd kriting kaya buluny monggu..itu lho anakny jongin,tau kan,tau lah pasti…hahahaha

    1. Iya, ni serius udah end. :”) Sedih ya? Emang berasa gitu ya? wkwkwkwk.
      .
      Yosh, happy waiting. Kalo berkenan, boleh kali mampir ke fiksi-fiksi Len yang lain dimari :3

  10. Sungguh menyayat hati apalagi Iseulnya meninggal dan sekarang malah Chanyeol yang kesepian ia malah menyibukkan diri supaya tak mengingat dan merindukan Iseul tapi tetap saja tak bisa.. aku tunggu cerita yang baru selanjutnya ya.. semangat .. hehehe namaku ada disitu.. terimakasih .😊😊😊

    1. Yah, begitulah. Kenyataannya banyak dari kita yang kayak gitu juga /AHEM/
      .
      Yosh, makasih banget buat dukungannya selama ini. Tetep dukung Len terus ya? /apaan sih ini?/

  11. Halo kak Len /akhirnya komen juga kamu ai/
    Awalnya aku cuman bisa meninggalkan likes aja karena aku belum bisa sempetin memberikan komentar di fict yang luar biasa ini, tapi pas ada nama pena aku di sini mendadak tergelitik untuk meninggalkan komentar. Maafkan aku ya kak /brb sungkem/
    Anyway, secara keseluruhan kak Len mengemas chapter-fict ini begitu apik, jadinya pas dibaca nyaman banget. Penggabungan family, friendship, romance, dan semuanya bikin aku suka sama fict ini meski lama apdet. /plak/ Aku juga suka dengan diksi kakak yang gampang dipahami, jadinya langsung ngena di hati. Dan juga perjuangan untuk menulis chapter-fict itu emang ga mudah banget, bisa nyelesain sampe ending juga udah kaya bebannya ilang dan seneng banget. Huhuhu
    Untuk endingnya aku ga kecewa kok 😀 yang namanya hidup juga pasti jalan terus kan kak. Hehehe. Tapi, menurutku sih untuk hubungannya Chanyeol-Iseul kurang puas kayanya ya? Atau emang aku demennya yang lebih2 /apa ini/ wkwk XD
    Itu aja deh, kak Len. Makasih sudah meluangkan waktunya demi fict ini yang beneran bikin nyes di hati. Maafkan juga bila aku baru bisa memberikan reviewnya sekarang. Hehehe
    Keep writing kak Len! ^^

    1. Kakak? Panggil Len aja gak apa-apa.
      Sumpah, aku suka komen panjangmu, hahahaha.
      Ya ya, ane tahu kalo kamu selalu meninggalkan likes dan belum sempet komen. Udah nggak usah sungkem, lebaran masih lama dan juga kamu nggak niat ngasih ane angpao /LOH?/
      Dan apaan itu ‘fict yang luar biasa ini’? LOL. Makasih udah disebut luar biasa meski hati ini terus berucap ‘masa sih?’ :3
      Pujianmu membuat ane tersanjung tapi kemudian tersandung karena kata ‘lama apdet’ XD
      .
      Well, ane bukan tipe author yang punya diksi dewa (dan bahkan terkesan nyablak dan nggak pernah mikir kalo nulis dialog). Jadi yaaahhh… begitulah jadinya.
      .
      Emang, kalo chapter-fic bisa selese itu rasanya lega. Nih fanfik 10 bulan baru end lho, percaya nggak percaya XD
      .
      Syukur deh suka endingnya. Sini udah siap kalo ada yang protes, wkwkwkwk.
      Sebenernya ane juga ngerasa begitu (hubungan ChanSeul yang kurang) tapi takutnya kalo dilebihin malah terkesan bosenin dan nyampah. Wks.
      .
      Iya, sama-sama. Makasih juga udah setia sama nih fik :”)
      Soal review juga bukan masalah /meski ngarep juga XD /
      Kalo berkenan silahkan mampir ke fanfik-fanfik ane yang lainnya 🙂

  12. Omegat kak.. endingnya bahagia sedih gimana gitu! Itu ngetik semua readersnya gk cpek kak..
    Bahagia akhirnya the foo bisa debut and terkenal kya gitu, meskipun aslinya lebih terkenal lagi.
    Minho oppa sini move on ma aku aj ^^ #somplak. Eunji ma seungho lucu yh….
    Kak tetep semangat dan terus bikin karya baru yang memukau sekali lagi semangka.

    1. Bahagia sedih gimana? Wkwkwkwk
      Nggak lah. Kan ada yang namanya ‘copas’ XD
      .
      Aslinya lebih terkenal lagi dan lebih drama lagi ya? /iykwim/
      .
      Yosh, makasih buat dukungannya. Jangan bosen-bosen buat baca karya ane yang lain juga XD

  13. waaaaa…. aku ke sebut/? :3 cieeee chanyeol yg gk gagal mupon/? iseul namanya ke sebut2 dari awal sampe akhir, cieee yg tetep dikenang/? *halah
    cerita yg bagus, dari awal memang sudah beda dari kebanyakan fanfic, komplit juga isinya, dari persahabatan, keluarga, prestasi, semangat berjuang, romance, humor, ah pokoknya banyak deh, makasih Len karna udah bikin fanfic yg menarik, sampai bisa buat aku antusias banget buat ngebaca dan seneng banget begitu update chapter selanjutnya nongol/? di page fb :3
    tetep semangat ya buat karya2 yg lain… thank you :3

    1. Iya dong, kan kamu udah meninggalkan jejak /jejak di hatiku/ eaaaa XD / disambit/
      Haduh, makasih buat pujiannya dan dukungannya /sungkem/ apalah Len tanpa dirimu /cieeee/
      Iya Chanyeol bisa mupon, kan dia seterong XD
      .
      Yosh, makasih lagi, sama-sama. Jangan bosen-bosen baca fanfik-fanfik ane yang lain juga 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s