[EXOFFI FREELANCE] Reset (Chapter 4)

Reset part 4

Reset (Chapter 4)

Cast :

Choi Hyunsoo (OC) || Oh Sehun || Do Kyungsoo|| Other

Genre : Romance, Friendship, Timeslip, School Life, Medical

Type / Length : Countinue

Rating : 15

Author : Viehyun

Disclaimer : I only own the plot and story, do not take it out without permission, All cast is have god. This story 100% my imagination. No bashing.

Viehyun note: Hallo author is back, mungkin chapter kali ini sedikit lebih pendek dari chapter sebelumnya, karena kesibukan author sebagai mahasiswa biologi. jadi harap maklum.

Warning banyak typo bertebaran. Heppy reading 😁

“Pilihan itu kini datang, tapi apa akan ada perubahan?”

~ Inception ~

“Hyunsoo-a, Hyunsoo bangun.” Bisikan itu terdengar samar ditelinga Choi Hyunsoo namun semakin lama rasanya semakin nyata, hingga sebuah sentuhan terasa dipundaknya.

“Hyunsoo-a cepat bangun.” Kini ada nada cemas dibisikan itu.

Kepala Hyunsoo terasa sangat berat saat ini, rasanya seperti telah dihantam benda tumpul dengan sangat keras.

“Choi Hyunsoo!” suara kencang itu membuatnya dengan cepat membuka maka.

Betapa terkejutnya Hyunsoo saat sosok yang hampir 7 tahun tidak ia lihat kini berdiri di hadapannya dengan gaya dan tatapan yang tak berubah sedikitpun.

“Mau sampai kapan kau tidur?” tanyanya sambil berkaca pinggang.

“Guru Lee.” Ujar Hyunsoo terperanjat

Ia mengedarkan pandangannya, kenapa ia bisa berada disini? Tunggu, dimana ini?

Mata gadis itu membulat, suasana ini…. kenapa ia berada di sebuah ruangan yang tak asing baginya.

Hyunsoo melirik bangku disampingnya dan melihat Lee Nayeong yang menatapnya cemas. Tepatnya Lee Nayeong yang berusia 17 tahun.

“Apa yang kau lihat, aku sedang berbicara padamu.” Guru Lee memukul meja Hyunsoo membuat gadis itu menatapnya kembali.

“Keluar dari kelasku.” Bentaknya yang membuat Hyunsoo terperanjat untuk kedua kalinya.

Apa-apaan ini? Batin Hyunsoo

>0<

Suara sirene terdengar memenuhi sebuah persimpangan jalan di daerah Irwon-dong Gangnam-gu. Beberapa orang yang terluka tidak terlalu parah kini sedang ditangani oleh paramedik. Sebagian besar korban adalah penumpang Bis.

“Sebelah sini!” teriak seorang petugas paramedik pada rekannya, sambil menunjuk seorang gadis yang terkapar di samping mobil yang keadaannya sudah tidak karuan.

Disisi lain, tidak jauh dari tempat kejadian Oh Sehun mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan. Sesekali suara klakson terdengar, tanda perotes pengemudi lain. Saat ini di depan mobil Sehun jalanan sangat macet dan beberapa mobil pemadam kebakaran serta ambulance terlihat hilir mudik. Hal itu semakin membuat rasa penasaran Oh Sehun menjadi-jadi.

“Kenapa macet sekali, apa terjadi sesuatu?” katanya sambil berusaha melihat apa yang sebenarnya terjadi dari balik kemudi.

“Mungkin terjadi kecelakaan.” Wanita yang duduk disampingnya memberi pendapat.

Sehun mengerutkan keningnya, berusaha melihat tempat kejadian yang perlahan bisa ia lihat.

“Semua mundur, ini berbahaya!” teriak seorang petugas pemadam kebakaran saat mengetahui ada tangki bensin bocor disalah satu mobil yang terlibat kecelakaan.

“Tolong balikkan arah lalu lintasnya.” Ujar petugas pemadam kebakaran itu lagi kepada para pengemudi yang ingin melintas.

Sehun kembali mengerutkan keningnya saat ia melihat sesuatu yang tak asing baginya.

“Bukankah itu….” kalimat Sehun menggantung, pria itu terlihat berpikir berusa mengingat sesuatu. Perlahan matanya membulat ia mulai ingat. “Itukan stiker yang aku berikan pada Hyunsoo.” Gumamnya saat melihat stiker berwarna kuning cerah di salah satu kaca mobil yang terlibat kecelakaan.

Sehun kini melirik wanita yang duduk di sampingnya yang tidak lain adalah Park Sooyoung, kemudian ia melirik lokasi kecelakaan dan kembali melirik Park Sooyoung.

“Kau bisa pulang duluan.” Katanya seraya keluar dari mobil kemudian berlari menghampiri lokasi kecelakaan.

Kepergian Oh Sehun yang tiba-tiba membuat Park Sooyoung tidak bisa berkata apapun, apalagi mencegah pria itu.

Sehun mulai berlari, ia mendekati bangkai mobil yang terpasang stiker itu. tapi sebelum ia sampai petugas pemadam kebakaran menghalanginya.

“Maaf tuan, anda tidak boleh kesana.” Cegah petugas sambil menahan tubuh Sehun yang berusaha menerobos. Meski tubuhnya terhalang namun mata Sehun terlihat terus mencari, mencari sosok yang sebenarnya tidak ingin ia temukan ditempat itu.

Sehun terlihat kebingungan sekaligus khawatir, ia teramat yakin dengan apa yang ia lihat saat ini. Stiker itu memang stiker yang ia berikan pada Hyunsoo dan plat mobilnyapun memang benar plat mobil Hyunsoo.

“Apa…apa pemilik mobil itu….” ucap Sehun terbata-bata, ia kembali mengedarkan pandangannya dan kini sosok yang ia cari telah ia temukan.

Choi Hyunsoo terbaring diatas sebuah tandu yang dibopong petugas menuju ambulance. Darah segar terlihat mengalir dari pelipisnya. Penampilan gadis itu kini tak karuan dengan semua luka disekujur tubuh dan bercak darah di bajunya. Tapi ada yang membuat hati Sehun sedikit lega, karena ia melihat AMBU (alat pompa udara) terpasang di mulut Hyunsoo, pertanda gadis itu belum meninggal.

“Saya dokter, saya akan membantu.” Kata Sehun segera sambil menunjukan ID Card miliknya, agar ia bisa masuk ke lokasi.

Petugas pemadam kebakaran itu berpikir sejenak, kemudian mengangguk dan melepaskan cengkramannya pada lengan Sehun. Sehun segera berlari menuju Hyunsoo. Ia langsung memeluk tubuh Hyunsoo yang terasa dingin di tangannya.

“apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya pada Hyunsoo yang terlihat seperti tertidur lelap dipelukannya. Tanpa sadar air mata Sehun mengalir membasahi pipinya. Sehun terisak, tapi dengan cepat ia menyeka air matanya dengan kasar. Ia harus kuat saat ini, agar Hyunsoo juga bisa kuat menjalani ini semua.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Sehun pada petugas paramedik saat masuk ke dalam ambulance.

“Dokter Oh, kenapa anda ada disini?” tanya petugas yang ternyata adalah petugas Goo.

Ambulance mulai melaju.

“Bagaimana keadannya?” tanya Sehun sekali lagi.

“Terjadi Fibrilasi ventrikel (kontraksi tidak beraturan yang sangat cepat pada ruang bawah jantung).” Ujar petugas Goo tiba-tiba saat kembali mengecek mesin EKG (Elektrokardiogram) yang menunjukan aktivitas listrik jantung Hyunsoo.

Mendengar hal itu Oh Sehun langsung melakukan CPR (Cardiopulmonary resuscitation). Ia meletakkan satu telapak tangannya diatas dada bagian tengah Hyunsoo dan telapak tangan kedua di atas tangan pertama, kemudian ia mulai menekan dada Hyunsoo kira-kira sedalam 5cm sebanyak 30 kali, dengan kecepatan dua tekanan per detik. Hal ini dilakukan sebagai usaha mengembalikan ritme jantungnya.

“Siapkan Epi dan terus pompa AMBU nya.” Perintahnya membuat petugas Goo dan petugas wanita disampingnya langsung mengambil tindakan.

Petugas Goo terus memompa AMBU yang terpasang di mulut dan hidung Hyunsoo, sedangkan petugas wanita itu langsung mengambil Epi dan menyuntikannya pada selang yang telah terpasang ke tubuh Hyunsoo. Selama perjalanan Sehun terus melakukan CPR, membuat peluh membasahi kening dan bahkan bajunya.

“Kita sudah sampai.” Ujar petugas Goo saat memasuki area UGD Rumah sakit Hyunjin.

Saat Hyunsoo akan diturunkan dari ambulance, Sehun dengan cekatan naik ketubuh Hyunsoo kemudain dengan posisi berlutut itu terus melanjutkan CPR nya.

“Dokter Oh, bagaimana keadaan Dokter Choi?” tanya Dokter Kim yang telah menanti mereka di ruang UGD.

“Sekarang terjadi henti jantung, kira-kira sudah 2 menit.” Jawab Sehun. “Segera siapkan mesin CT scan.” Lanjutnya sambil terus melakukan CPR dengan tubuh Hyunsoo yang kini sedang dipindahkan ke ruangan tempat CT scan.

“Ritme detak jantungnya sudah kembali.” Pekik Perawat Park saat mereka telah sampai di ruangan CT scan. Sehun kemudian turun dari atas tubuh Hyunsoo. Ia tersenyum sekilas, pertanda ia sedikit lega dengan kondisi Hyunsoo.

Tubuh Hyunsoo kini sedang di pindai, tubuhnya yang berada dalam posisi berbaring perlahan memasuki mesin berbentuk lingkaran besar secara otomatis. Petugas bagian radiology atau radiografer mulai membantu pemeriksaan dengan memposisikan tubuh Hyunsoo secara tepat agar bagian tubuh yang diperiksa dapat terpindai dengan jelas.

Setelah proses selesai petugas radiology menghampiri Sehun “Ini hasil CT scan nya.” Katanya.

Sehun melihat laporan hasil CT scan itu. Ia mengamati gambar dari seluruh bagian tubuh Hyunsoo yang telah di pindai oleh mesin berbasis radiasi itu, mulai dari bagian kepala, rongga dada sampai rongga perut.

“Laserasi ginjal (ginjal robek), terjadi laserasi ginjal” Kata Sehun setelah mengamati seluruh hasil CT scan. “Segera hubungi ahli bagian urology (saluran kemih) dan bagian anastesi kemudian siapkan persediaan darah golongan O dalam jumlah yang memadai. Kita sekarang akan melakukan operasi.” Perintah Sehun kepada 3 perawat yang berdiri disampingnya.

Sehun memandang wajah Hyunsoo kemudian mendesah pelan, mata yang biasanya menatap balik matanya kini tertutup rapat. wajah Hyunsoo yang pucat semakin membuat Sehun merasa sedih, ia masih belum percaya musibah sebesar ini bisa menimpa rekan kerja sekaligus teman baiknya itu.

Sehun mengalihkan pandangannya, kini ia menatap Dokter anastesi. “Apa anastesinya sudah selesai?” tanyanya.

“Sudah.” Jawab Dokter anastesi itu.

“Kalau begitu kita mulai operasinya.” Ujar Sehun pada perawat dan dokter yang berada di ruang oprasi.

‘Aku akan menyelamatkanmu, jadi bertahanlah sebentar’ ujar batin Sehun sebelum ia mengambil pisau bedah dan mulai membuka perut Hyunsoo.

“Daerah ginjal yang rupture (robek) terlalu panjang.” Ujar Sehun setelah melihat kondisi ginjal kanan Hyunsoo secara langsung .

“Kita jahit luka dalamnya dulu, tolong Needle holders.” Pinta Sehun pada perawat Kim.

Cut.” Ujarnya lagi saat jahitan selesai. “Hentikan pendarahannya, agar cepat pakai kain kasa.” Lanjutnya menyarankan pada perawat Kim dan Yoon.

“Dokter Oh, tekanan darahnya mendadak turun, ini serangan jantung.” Pekik perawat Yoon panik.

‘Kecuali bedah thorax, CPR tidak diperbolehkan’ Bantin Sehun.

“Kalau begitu gunakan kain kasa untuk men-dep perlukaannya (dep adalah menyumbat pendarahan).” Sehun melirik Dokter Goo yang menjadi asistennya. “Kau juga bantu.” Katanya.

Setelah proses men-dep selesai Sehun segera melakukan CPR.

“Tekanan darahnya sudah naik kembali, nadi juga stabil.” Ujar perawat Yoon yang mengawasi mesin EKG.

Mengetahui itu Sehun kembali fokus pada ginjal Hyunsoo. Ia mengerutkan keningnya “Berikan langenback.” Pintanya, kemudian Dokter Goo dan Perawat Yoon memegang alat itu yang berfungsi memperlebar lubang operasi di perut Hyunsoo.

“Sepertinya gara-gara pendarahan yang kedua kali, mengakibatkan syok hypoglikemia (penurunan volume darah secara mendadak).” Kata Sehun. Kemudian ia terlihat berpikir kembali “Tunggu sebentar, berapa indeks creatine (kandungan keratin) dan GFR (Gromular filtration Rate) pasien?” tanyanya.

Indeks creatine normal dan GFR juga berada dalam kisaran normal ≥ 90 ml/menit/1,73 m2.” Jawab perawat Goo.

“jangan-jangan” Sehun terlihat berpikir, apa mungkin ginjalnya tidak berfungsi, ia tahu jika ini terjadi satu ginjal Hyunsoo harus diangkat. Tapi akan susah bagi Hyunsoo untuk hidup dengan satu ginjal. Tapi itu akan lebih baik dari pada Hyunsoo meninggal.

“Kita angkat satu ginjalnya.” Kata Sehun

“Tidak boleh, kita masih belum mendapat persetujuan dari keluarga pasien.” Cegah Dokter Goo.

>0<

Hyunsoo merapikan rok seragamnya, gadis itu masih sangat bingung dengan situasinya saat ini. Setelah tadi diusir oleh Guru Lee kini ia sedang berlutut di lorong depan kelasnya.

Hyunsoo menyunggingkan senyumnya “Mimpi yang terasa nyata sekali.” Gumamnya kagum pada pengalamannya ini. Meski diawal ia terkejut dan bingung, tapi ia tahu ini semua hanyalah mimpi yang ia alami di sela tidurnya.

Setelah sekian lama ia tidak memimpikan masa-masa SMA, akhirnya ia bermimpi juga. Mungkin ia kini sedang merindukan masa-masa itu hingga terbawa kedalam mimpinya seperti ini.

Choi Hyunsoo mengedarkan pandangannya, mengamati setiap sudut sekolah yang terlihat dari lorong. Semuanya tampak persis sama seperti sekolahnya dulu, seolah-olah ia benar-benar kembali kemasa itu.

Hyunsoo kembali tersenyum saat ia mengingat kejadian yang pernah terjadi di lorong ini. Waktu itu saat ulang tahun Hyisu, Ia dengan Nayeong dan Yunmi berencana menjaili Hyisu tapi mereka malah dimarahi Guru Yoon, dan akhirnya mereka bertiga dihukum di lorong ini. Persis seperti yang dilakukan Hyunsoo saat ini, duduk berlutut dengan mengangkat kedua tangannya keatas.

Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor membuat Hyunsoo mengalihkan pandangannya. Seorang siswa laki-laki dari kejauhan berjalan perlahan menuju arah Hyunsoo dengan beberapa buku ditangannya. Hyunsoo mengerutkan keningnya berusaha melihat siapa sosok itu.

Mata Hyunsoo membulat saat sosok yang ia lihat saat ini tidak asing baginya.

“Dokter Oh, Oh Sehun?” katanya tak percaya.

Tanpa sadar Hyunsoo menurunkan tangannya yang sudah terangkat sejak tadi, kemudian ia menutup mulutnya yang hampir menganga sempurna dengan kedua tangannya itu. Ia tidak percaya, ia bisa melihat sosok Oh Sehun saat masih duduk di bangku SMA. Sehun sedikit berbeda meski hal itu hanya karena kacamata bulat yang di kenakannya.

Tapi tunggu, kenapa Oh Sehun bisa masuk ke dalam mimpinya ini – batin Hyunsoo.

Oh Sehun berjalan semakin dekat kearah Hyunsoo, membuat gadis itu bangkit dari duduknya. Ia bermaksud untuk menyapanya. Tapi saat mereka berpapasan Sehun terlihat acuh dan seakan tak mengenal Hyunsoo, ia berjalan lurus dan tidak melirik Hyunsoo sama sekali.

Hyunsoo terdiam, pandangannya terus mengikuti pergerakan Sehun yang kini sudah berjalan jauh didepannya. Hyunsoo terkekeh “Mimpi ini aneh sekali.” Gumamnya.

Kemudian bunyi bel terdengar, tidak lama setelahnya Guru Lee keluar dari kelas. ia berjalan menghampiri Hyunsoo.

“Berdirilah, jika nanti kau ulangi perbuatanmu, ibu akan menghukummu lebih berat lagi.” Katanya kemudian berjalan pergi.

Hyunsoo tersenyum. Rasanya aneh karena baru kali ini ia senang saat di marahi.

“Kau baik-baik saja?” Suara itu membuat Hyunsoo terdiam, ia tidak berani untuk membalikkan badannya saat ini.

“Apa terjadi sesuatu? biasanya kau tidak tidur di kelas.” kata orang itu lagi, saat ini ia berdiri di hadapan Hyunsoo.

Hyunsoo terpana karena tatapan orang itu yang menatap tepat dimanik matanya, dengan sorot matanya yang tajam namun tetap ramah. Sorot mata yang selalu menggetarkan hatinya tujuh tahun lalu.

Merasa menjadi salah tingkah Hyunsoo menarik nafasnya dalam-dalam tapi malah ada aroma yang sudah lama ia tidak hirup tercium. kini aroma itu memenuhi indera penciumannya. Aroma itu seperti aroma segar citrus yang berpadu dengan aroma lembut caramel yang manis.

Do Kyungsoo menatap Hyunsoo, menanti jawaban gadis itu.

“yak, Choi Hyunsoo kau baik-baik saja?” teriak Yunmi dari balik Do Kyungsoo.

Yunmi, Nayeong dan Hyisu kini mengerumuni Hyunsoo membuat gadis itu tersenyum. Rasanya mimpi ini benar-benar menggambarkan rasa rindu Hyunsoo pada masa SMA nya. Semua yang dilihat Hyunsoo benar-benar sama dengan saat SMA, baik tempat ataupun orang-orang yang terlibat didalamnya.

Hyunsoo melirik Do Kyungsoo. Do Kyungsoo hanya berdiri ditempatnya kemudian mata mereka saling bertemu dan dalam beberapa detik mereka saling menatap tapi kemudian Do Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan berjalan pergi menjauh dari tempat Hyunsoo berada.

Hyunsoo mendesah dan melirik ketiga sahabatnya “aku baik-baik saja.” Ujar Hyunsoo.

“Syukurlah kalau begitu.” Nayeong tersenyum.

“Aku sudah lapar, ayo cepat!” Hyisu mengurung lengan Nayeong dan Hyunsoo dengan apitan kedua lengannya. Sedangkan Yunmi mengikuti ketiga orang itu dari belakang menuju cafetaria.

Daein high school adalah salah satu sekolah ternama di Korea Selatan. Sekolah ini memberlakukan peraturan yang sangat ketat bagi siswa-siswanya. Salah satu hal yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lain adalah penempatan para siswanya di asrama.

Semua siswa Daein diharuskan untuk tinggal di asrama dan hanya keluar asrama pada akhir pekan. Bangunan asrama putra terpisah dengan bangunan asrama putri dengan penjagaan yang sangat ketat juga. Asrama siswa ini terpusat di area timur sekolah sedangkan gedung sekolah berada di area barat. Sedangkan cafetaria yang akan di tuju Hyunsoo dengan teman-temannya berada di area tengah sekolah.

“Kita duduk disana saja.” Tunjuk Yunmi pada kursi kosong yang berada di dekat jendela.

Keempat gadis itu berjalan beriringan dengan nampan makanan yang mereka bawa masing-masing. Hyunsoo memandang berkeliling, ia masih takjub dengan keakuratan mimpinya ini sampai ia melihat Do kyungsoo yang sedang duduk memakan makan siangnya bersama dengan teman-temannya.

“Wah makan siang hari ini mewah sekali.” Celetuk Hyisu sambil memandang beberapa irisan daging sapi di nampannya.

Hyunsoo terkekeh, sikap temannya itu tidak berubah sama sekali meski berada didalam mimpinya. Tiba-tiba saja telinga Hyunsoo menangkap kegaduahan di ujung ruangan cafetaria, begitupun ketiga temannya yang kini memandang ujung ruangan yang terlihat ramai.

“Ada apa?” tanya Hyunsoo.

“Tidak tahu.” Nayeong mengangkat kedua pundaknya.

Bersama-sama keempat gadis itu mencari tahu kegaduhan yang terjadi di cafetaria. Semua yang berada di Cafetaria terlihat berdiri mengerumuni sesuatu.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunmi pada seorang siswa bertumbuh tambun.

“Anak pemilik yayasan bertingkah lagi.” Ujar siswa bertubuh tambun itu.

“Apa maksudnya?” Hyunsoo menatap Yunmi. Mereka memandangi siswa bertubuh tambun itu yang berjalan semakin mendekati kerumunan.

“Entahlah.” Yunmi menggeleng.

“Sepertinya aku tahu apa yang terjadi.” Ujar Nayeong.

Semua mata tertuju pada seseorang yang berada di pusat kerumunan. Anak ketua Yayasan Kris Wu. Meski ia terkenal dengan tampangnya yang tampan tapi Kris lebih terkenal lagi sebagai anak ketua yayasan yang arogan dan sering membully siswa lain yang berada jauh di bawahnya.

Kris terlihat berkaca pinggang pada seorang siswa yang terduduk dibawah dengan makanan yang telah berceceran dilantai. Pasti Kris yang membuat makanan itu berceceran. Hyunsoo mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman dengan pamandangan yang tersaji di hadapannya ini.

“Aku rasa dia anak kelas tiga juga.” Ujar Nayeong dengan memandang siswa yang terduduk di lantai.

“Perlukah aku menegurnya?” Hyisu seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Tentu saja, semua tahu bahwa perbuatan yang telah dilakukan Kris itu tidaklah benar. Apapun alasan yang akan ia katakan nanti, menggunakan kekuasaan dan jabatan orang tuanya untuk menindas orang lain adalah perbuatan yang salah.

Hyunsoo berjalan mendekati Kris dan siswa itu.

“Hyunsoo-a, apa yang akan kau lakukan?” Yunmi terlihat khawatir.

“Kau..” tegur Hyunsoo tepat dihadapan Kris. “Aku rasa kau berada di tempat yang salah untuk melakukan hal seperti ini atau kau memang bodoh?” katanya lagi.

Kris hanya memandangi Hyunsoo tanpa bersuara. Matanya bergeser pada siswa yang masih terduduk dilantai. Kemudian ia terkekeh.

“Kau ingin jadi pahlawan?” ujar Kris.

Hyunsoo tersenyum sinis. “Terserah kau saja.” katanya singkat.

“Kau tidak tahu siapa aku, atau perlukah aku memperkenalkan diri padamu?”

Kris ikut-ikutan tersenyum sinis.

“Ah, perlukah? Tapi aku tidak akan mengingat hal-hal yang tidak penting, karena pasti sangat merepotkan, apalagi namamu.”

Ucapan Hyunsoo yang tenang namun menusuk itu semakin membuat Kris marah.

Hyunsoo mengalihkan pandangannya dari Kris kemudian menatap siswa yang dibully oleh Kris itu. “Oh Sehun-ssi, bisakah kau berdiri sekarang.” Katanya sedikit kesal karena merasa tidak terima dengan sikap Sehun yang diam saja padahal ia diperlakukan seperti ini.

Sehun menatap Hyunsoo terkejut karena ia bingung bagaimana gadis itu bisa mengetahui namanya.

“Berani sekali kau” Kris terlihat emosi ia menganyunkan tangannya seakan ingin memukul Hyunsoo.

“Bisa kau hentikan sekarang?” Sehun mencengkram lengan Kris, dan menatapnya tajam. “Aku sudah muak denganmu.” Ujarnya lagi.

Kris mendengus. “Sepertinya itu kata-kataku.” Jawabnya sambil menganyunkan kepalan tangannya ke wajah Sehun. Membuat tubuh Sehun terdorong dan tersungkur kelantai. Hyunsoo yang berdiri tepat dibelakang Sehun juga ikut terjatuh.

Hyunsoo meringis, ia merasa sakit di pagian perutnya yang sedikit tersenggol oleh sikut Sehun saat terjatuh tadi.

Dari kejauhan Nayeong, Yunmi dan Hyisu berlari menghampiri Hyunsoo “Hyunsoo-a kau baik-baik saja?” kata mereka bersamaan.

Sehun membalikkan tubuhnya, kemudian menatap Hyunsoo. Ia merasa bersalah karena telah melukai gadis itu.

“Sebaiknya kalian bubar, Guru Yoon sebentar lagi datang.” Suara rendah itu terdengar dari balik Kris.

Do Kyungsoo berdiri disana dengan tenang menatap Kris. Kris mendengus kesal, ia sangat benci jika harus berurusan dengan Guru Yoon.

“Ini belum selesai, ingat itu.” katanya mengancam pada Sehun dan Hyunsoo.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Sehun khawatir. Ia mengulurkan tangannya pada Hyunsoo berusaha membantu gadis itu berdiri.

Hyunsoo tersenyum kemudian meraih tangan Sehun. “Aku baik-baik saja.” Ujarnya seraya berdiri. Kemudian ia melirik Do Kyungsoo yang kini sedang menatapnya. Tapi tak lama laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan pergi begitu saja.

“Apa perlu kita ke ruang kesehatan?” Hyisu menatap Hyunsoo cemas, ia takut Hyunsoo terluka parah.

“tidak apa, aku…a.” Hyunsoo menggantungkan kalimatnya, saat dirasanya kakinya sangat sakit.

Hyunsoo terdiam, ia berpikir mana mungkin didalam mimpi ia bisa merasakan rasa sakit senyata ini.

Gadis itu mengerjapkan matanya kemudian menatap teman-temannya dan Sehun yang kini berdiri mengelilingi dirinya.

‘Apa ini bukan mimpi? Apa aku benar-benar kembali ke tujuh tahun lalu?’ batin Hyunsoo.

>0<

Suara mesin EKG (Elektrokardiografi) terdengar memenuhi ruangan operasi. Perawat Yoon terlihat menghapus peluh Sehun yang mengucur di pelipisnya. Sehun mendesah, ia menatap Hyunsoo yang terbaring dihadapannya tak sadarakan diri.

“Keluarga pasien sudah setuju.” Ujar Perawat Kim yang baru saja menerima panggilan dari mesin interkom yang terpasang di ruang operasi.

“Kalau begitu kita mulai proses pengangkatan ginjalnya.” Ujar Sehun.

Sehun kembali menatap lekat wajah Hyunsoo. Ia berusaha menyakinkan dirinya lagi bahwa ini adalah yang terbaik baik Hyunsoo.

“Dulu kau membantuku, sekarang giliranku yang membantumu.” Gumam Sehun teramat pelan saat ia mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu di cafetaria sekolah tujuh tahun lalu.

kogel tang (tang pemotong organ).”Pinta Sehun.

-To be countinue-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Reset (Chapter 4)”

  1. Astaga.. jadinya selama hyunsoo gak sadarkan diri roh nya balik ke 7 tahun yg lalu kah ato gimana? Jadi bener2 ngulangin lagi? Woaa ceritanya unik serunn dan bikin penasaran.. ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  2. yaampun jadi sehun sama hyunsoo sempat jumpa juga d sekolah lamanyaaa?
    do kok diam aja ngeliat hyunsoo berantam sama kris gtu?
    trus nanti hyunsoo jadi ingat dong kalo dia prnah jumpa sama sehun dulu. yuhuuu d tunggu next chapnya thorr

  3. Ooohh ternyata hyunsoo kembali ke masa SMA di saat dia koma.. dan ternyata hyunsoo udh ketemu sehun toh cuma hyunsoonya ga inget.. kira” bakal ngerubah sesuatu ga ya dgn kembalinya hyunsoo ke 7 thn yg lalu? Ditunggu next chapternyaa Thor.. figthing!!

  4. aaa… hyunsoo ingat sehun di alam mimpi. jadi sehun udah lama kenal hyunsoo. oh my bacanya tegang dan gregetan.
    aku beneran penasaran ama kelanjutannya. cepat dilanjut ya thor!!! fighting!!!!

  5. kyaaa,,,jd penasaran hal apa yg dilupakan hyunsoo, sampei dis harus mengulangi masa” sma ny dulu,…meski dlm mimpi,,yg bg hyunsoo terasa nyata!

  6. Oh oh OOOOOH jd begituuuu jd hyunsoo emg g inget kl dulu dia pernah bantuin sehun d sklh? Menarik mehehe /smirk/ jd penasaran hyunsoo nanti jdny sm sehun atau kyungsoo :v ini aku berasa ikut operasi beneran deg2 serr sendiri wkwkwk semangat y kak lanjutinnya aku tunguuuu^^

  7. kirain smua kjadian ini hnya mimpi?
    ternyata hyunso sedang pingsan/koma ya?
    itu sehun dlu jadi si nerd kah?mkanya dlu dia tdak pnya bnyak teman?
    lanjut kak….
    moga hyunso baik” saja stelah operasi nanti.

  8. Sehun ingat Hyunsoo. Tapi Hyunsoo mengingat Sehun saat dia sedang kritis. Btw pelakunya Chanyeol kan ya? Kapan kebusukan tunangan D.O kebongkar? Gue rasa saat tunangan D.O yang datang bareng orang tua yang ngaku nya orang tua korban, keknya orang bayaran tunangan D.O deh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s