[EXOFFI FREELANCE] Angel (Oneshot)

luhan.jpg

A.N.G.E.L

Author:

@Septranilim

Length:

One Shot

Genre:

Romance

Rating:

PG-15

Casts:

Yoo Hana (OC)

Luhan

Disclaimer:

안녕하세용! 장미 입니다. First of all, I want to thank Hana for asking me to do a freelance here! ❤ And also thanks for you who have read this post. Wish to have more stories to share with you. Byebye! Xx

 

 

 

 

Aku terbangun oleh kicauan merdu burung pipit yang bertengger rapi di barisan pagar tinggi rumahku. Untuk beberapa saat, aku duduk bersila di atas tempat tidur, berusaha mengumpulkan tenaga untuk bertahan hidup hari ini. Ya, bertahan hidup. Aku tidak lagi benar-benar hidup semenjak hari itu – semenjak bajingan itu merenggut semuanya dariku. Yang kulakukan sekarang hanya berusaha untuk tidak jatuh ke dalam lubang depresi yang akan berakhir pada bunuh diri.

Beranjak dari kasur, kedua kakiku membawaku menuju dapur untuk melakukan ritual pagiku – menyeduh secangkir kopi hitam. Aku meraih toples berisi bubuk kopi yang ternyata sudah kosong. Sial! Aku terus memaki dalam benakku seraya meraih toples di sebelahnya yang berisi biji kopi. Kuambil beberapa biji lalu memasukkannya ke dalam mesin penggiling. Tak berapa lama, seluruh ruangan dapur telah dipenuhi aroma kopi yang pekat. Kuhirup dalam-dalam aroma menenangkan yang sekaligus memberi energi ini. Sambil menunggu bubuk kopiku, aku meraih cawan dengan warna favoritku – kuning, dan gula rendah kalori di rak piring. Melamun – pikiranku kembali membawaku pada kejadian suram tahun lalu. Malam itu, ia mengambil semuanya dariku dan meninggalkanku…

.

.

.

“Andwae, oppa! Andwae-yo! Jebal…andwae…” Jeritku tak digubrisnya. Pria di hadapanku menggila. Matanya melotot tajam menghujamku, tangannya yang kekar mencengkramku erat-erat layaknya elang mencengkram mangsanya yang lemah.

 

“Kau bilang kau mencintaiku! Mengapa kau tak mau melakukannya?!” bentaknya membuat tangisku semakin menjadi-jadi. Kuku-kukunya tertancap kuat di lenganku, memberiku rasa sakit yang luar biasa hebatnya.

 

“Tapi tidak dengan cara seperti ini, oppa! Aku tidak akan memberikannya padamu seperti ini! Jebal! Nwajeoyo!!!” Suaraku mulai parau karena berteriak daritadi. Entah bagaimana caranya, ia sudah berada tepat di atas tubuhku. Ia mulai menyerang bibirku, melumatnya kasar, meninggalkan bekas gigitan yang berupa bercak darah. Malam itu, kekasihku sendiri, yang begitu kupercayai akan menjaga dan melindungiku, merenggut keperawananku. Dan setelah malam itu, aku tak lagi mendengar kabar darinya.

.

.

.

Dengan mata masih terpejam, aku menghembuskan nafas panjang sambil membuang sekiblat memori buruk tersebut jauh-jauh. Aku tak berani mengatakannya pada siapapun – termasuk kepada orang tuaku. Aku memutuskan untuk pergi jauh dari kota menuju ke pedesaan, tepatnya rumah lama milik kakekku. Aku merenovasi habis rumah ini, menjadikannya nyaman untuk ditinggali. Namun aku terus dihantui perasaan malu dan kotor yang ditinggalkan oleh Park Chanyeol, pria terkutuk itu. Aku tak berani keluar dari rumah. Segala kebutuhanku disini kupesan dari toko online. Aku tak lagi bersosialisasi dengan siapapun. Aku takut. Aku takut percaya lagi kepada seseorang. Aku takut jatuh cinta. Aku…bahkan tidak lagi percaya pada diriku sendiri.

Aku sering melakukan percobaan bunuh diri, namun selalu terselamatkan oleh entah siapa. Dengan beraninya kusayat pergelangan tanganku tepat di nadinya, dan darah memuncrat kuat tanpa henti. Aku membaringkan diriku di dalam bathtub – kubiarkan air dari keran mengalir membasahi tubuhku yang mulai mendingin. Darah terus merembes bercampur dengan air yang mengalir ke saluran pembuangan. Dan dunia pun seketika gelap. Namun keesokan harinya aku terbangun di rumah sakit dan ketika kutanyakan siapa yang membawaku kesini, para perawat tak dapat memberikan jawaban padaku. Sampai sekarang pun, aku tak mengerti mengapa aku bisa sampai ke rumah sakit tersebut. Aku yang tak pernah bersosialisasi ini ditolong oleh orang lain? Yang benar saja! Mungkin yang membawaku ke rumah sakit adalah sesosok malaikat.

Mesin kopi berhenti berbunyi, tanda bahwa bubuk kopiku telah siap. Kuseduh kopi dalam cawan dan membawanya ke ruang depan, dimana aku dapat duduk di papan yang menempel pada jendela yang langsung berhadapan dengan padang hijau. Matahari sudah terbit di ufuk timur dan para petani sudah memulai aktivitas menggarap sawahnya. Setahun berlalu, aku masih tidak tahu harus memulai hidupku seperti apa. Yang kulakukan sehari-hari hanyalah minum kopi, sarapan, membaca buku, kemudian tidur. Aku sudah banyak kehilangan berat badan karena pola hidupku yang seperti ini. Tulang pipiku sangat menonjol, membuatku terlihat lebih tua dari umurku yang sebenarnya. Bahkan aku dapat menyentuh tulang rusukku yang timbul di sela-sela pinggangku. Kulitku pucat pasi dan gampang terkelupas karena kekurangan vitamin. Namun aku benar-benar sudah tidak peduli. Siapa juga yang akan melihat lalu mempedulikan wanita kotor sepertiku?

Aku menyeruput kopi panasku lalu kembali melempar pandanganku ke padang hijau indah dan menenangkan. Tanpa sadar, aku mulai menyenandungkan lagu yang akhir-akhir ini merasuki pikiranku.

 

“Neul nabakke mollasseotdeon igijeogin naega… Ne mamdo mollajwotdeon musimhan naega. Ireokedo dallajyeotdaneun ge najocha mitgiji anha…”

 

“Ne sarangeun ireoke gyesok nal umjigyeo…”

 

Aku tersontak kaget ketika mendengar seseorang melanjutkan senandungku. Di hadapanku berdiri seorang pria jangkung berwajah mungil, senyum kecil terhias di wajah pucatnya. Rambutnya yang cokelat berubah keemasan diterpa sinar mentari pagi. Ia melambaikan tangan ke arahku seraya berjalan semakin dekat menuju kaca jendela. Aku mulai panik. Sudah setahun lebih aku tidak berinteraksi dengan siapapun – apalagi dengan seorang pria! Aku segera mengambil langkah masuk ke dapur dan tanpa sengaja kakiku menyenggol cawan berisi kopi hingga jatuh dan pecah. Tak kupedulikan lagi cawan kesayanganku tersebut. Kepanikan menjalar ke seluruh tubuhku – memacu adrenalin yang membuat pikiran dan tindakanku tak sinkron. Aku memilih bersembunyi di bawah meja makan, dimana aku berharap ia tak dapat menemukanku.

 

Tok…tok…tok…

 

Suara ketukan dari pintu rumahku. Aku terus berada di bawah meja sambil memeluk kedua kakiku. Mataku mulai sembab dan tak berapa lama kemudian aku sudah tenggelam dalam tangis ketakutanku. Pintu terus diketuk dengan irama yang teratur, menunjukkan keramahan yang seharusnya dapat kusambut dengan hal yang sama juga. Akan tetapi, dengan keadaanku yang rapuh seperti ini, untuk memandang wajahnya saja sudah membuatku ketakutan.

 

Klek…

 

Pintu terbuka! Kukutuk diriku berkali-kali karena lupa mengunci pintu. Inilah kebiasaan burukku. Aku segera keluar dari bawah meja dan berlari menuju ke ruang depan dengan harapan aku memiliki keberanian untuk mengusir orang itu. Namun saking paniknya, aku tak memperhatikan sekelilingku dan kakiku menginjak serpihan kaca bekas dari cawanku yang pecah tadi. Aku meringis kesakitan, darah mulai mengalir dari telapak kakiku. Cukup banyak kaca yang menempel disana dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Derap langkah kaki terdengar semakin dekat padaku. Aku kembali menutup mata dan menangis dengan hebatnya karena tak tahu harus berbuat apa.

 

“Gwaenchanhayo?” Ia segera menghampiriku ketika melihat apa yang terjadi di hadapannya. Aku tak berani menjawab – bahkan memalingkan wajahku untuk melihatnya pun tidak. Tangannya yang besar menyentuh pundakku, membuatku bergidik karena setelah sekian lama akhirnya aku bersentuhan dengan kulit manusia lain. Ia menggendongku menuju sofa kecil di dekat kami dan memperhatikan telapak kaki kiriku yang terus mengeluarkan darah segar.

 

“Biar kulihat… Omo…lukanya cukup dalam. Jamkkanman-yo, aku akan mencabut kacanya,” ujarnya lalu meninggalkanku dan kembali dengan kain basah dan  ember yang entah didapatnya darimana.

 

Kugigit bawah bibirku untuk menahan rasa perih ketika ia mengeluarkan kaca tersebut satu-persatu dari telapak kakiku. Dan ketika semua kaca sudah dibersihkan, ia mulai membasuh kakiku yang dipenuhi darah dengan kain basah. Ia kemudian beranjak lagi ke dapur dan kembali dengan kotak P3K yang aku sendiri tak sadar memilikinya. Pria tersebut seakan lebih mengetahui seluk beluk rumah ini daripadaku.

 

“Ini akan terasa perih, tapi tahanlah sebentar lagi, eoh?” ucapnya seraya membasuhkan alkohol ke bekas luka yang membuatku menjerit keras karena perih yang luar biasa hebatnya. Dengan cekatan ia membalut kakiku dengan kain kasa yang begitu banyak, membuat kakiku terlihat seperti mengenakan sepatu boots berwarna putih.

 

“Kau adalah wanita yang kuat. Ah, ne, namaku Luhan…” Ia mengarahkan telapak tangannya ke hadapanku. Diam – itu adalah respon dariku. Untuk apa ia menjulurkan tangannya? Apa yang harus kulakukan dengan tangan itu? Aku menelan ludah karena gugup.

 

“Apa kau takut kuman? Hahaha… Tanganku cukup bersih untuk bersalaman… Tenang saja…” Ia tertawa kecil sambil menggoyang-goyangkan tangannya, menandakan sesuatu yang masih tak dapat kumengerti. Aku melongo kemudian memberanikan diri menatap pria itu. Aku mematung melihat karya indah ciptaan Tuhan yang luar biasa di hadapanku itu.

 

“Aku…aku tidak mengerti…dengan…tangan itu…aku…” Kegugupan menyerbuku, membuatku gagap. Kugigit lidahku, tanda penyesalan mengapa aku harus berbicara. Sudah lama aku tidak berkomunikasi seperti ini. Aku begitu malu sampai-sampai air mata kembali memenuhi mataku.

 

Ia terdiam seakan ia sendiri tak mengerti maksudku. Beberapa saat berlalu dengan keheningan lalu ia mulai bersuara, “Apa kau…selalu sendiri?”

 

Aku mengangguk lemas, berharap bahwa ia dapat menghilang begitu saja di hadapanku. Aku tak ingin lagi menjawab pertanyaan apapun yang dilontarkan padaku.

 

“Bagaimana bisa kau…hidup sendiri?!” jeritnya membuat tubuhku mundur, disusul matanya yang membesar karena menyadari volume suaraya yang meningkat tadi. “Mianhaeyo…tapi maksudku…mengapa? Mengapa kau selalu sendiri?” lanjutnya dengan tatapan iba. Aku benci tatapan itu. Aku benci ketika orang melihatku dan merasa iba. Seakan aku adalah makhluk terlemah di dunia ini.

 

“Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak butuh dikasihani…” jawabku lemas, kembali tertunduk.

 

“Berikan tanganmu…” Ia kembali bersuara, mengisyaratkanku untuk menyentuh tangannya yang sudah kembali tersodor. Aku meraihnya, menggenggam jemarinya erat. “Bukan seperti itu… Tapi begini…” Ia memperbaiki posisi tanganku sehingga kedua tangan kami bersalaman, lalu ia menghentak pelan tangannya tersebut seraya tersenyum.

 

“Namaku, Luhan…”

 

“Lu…han…” gumamku tergagap, tanganku masih tertaut dengan tangannya yang besar.

 

“Namaku…” Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyebutkan namaku sendiri yang sudah lama sekali tak pernah tersentuh oleh bibirku. “Yoo Hana…”

.

.

.

Mungkin saja – mungkin… Luhan adalah malaikat yang kumaksud tadi. Yang entah darimana muncul untuk menyelamatkanku. Harapanku hanya satu untuk kini – agar malaikat itu terus bersamaku dan tidak meninggalkanku.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s