[EXOFFI FREELANCE] Shadowed (Chapter 6)

ShadowedCov

Title: Shadowed

Author: kirishou

Length: Chaptered

Genre: Dark Romance, Slight!Angst, Mystery, Psychological

Rating: PG-15

Cast: Kim Jongin | Rena Hwang | Other cast will be unveiled
Dislaimer: I just claim the plot. Cast’ are forever God’s and their families’. Posted on my FB acc under the same title.

*****

Summary:

Saat Rena harus memilih antara kekasihnya, Kim Jongin atau lelaki di balik bayangan yang hampir setiap malam mengabiskan waktu dengannya.

***

CHAPTER 1  | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 | CHAPTER 5

 

 

***

Chapter 6

*****

 

Hujan lagi-lagi turun dengan derasnya, kala itu dini hari dan Rena terus berlari tanpa mempedulikan apapun. Tubuhnya seolah mati rasa sampai hawa dingin yang menyambar tak terlalu dirasakannya. Masih belum banyak orang yang keluar pada jam itu, beberapa yang sudah beraktivitas menghentikan apapun yang mereka lakukan untuk berlindung dari hujan, membuat Rena menjadi satu-satunya manusia yang bergerak melewati sepanjang trotoar jalan.

Rena menangis sepanjang langkah cepatnya, air matanya tak kunjung habis seakan air hujan  yang jatuh meresap di tubuhnya menjadi cadangan air mata baru yang kembali siap untuk dikeluarkan. Dan jangan lupakan kakinya yang tak beralas, membuatnya menjadi pusat pemandangan orang-orang yang tengah berteduh di sekitarnya. Saat itu tak terpikirkan oleh Rena untuk memakai sepatunya, yang ada di pikirannya adalah pergi sebelum ‘dia’ terbangun.

Rena tak peduli apa yang orang-orang itu pikirkan tentang penampilannya saat itu. Ia hanya ingin cepat sampai ke tujuannya, apartemen Kris.

Rena dan Kris sempat menolak berbicara satu sama lain selama beberapa hari, bahkan setelah Jongin sadar. Jongin lagi-lagi tak mengingat tentang serangan paniknya di kafe dan mempertanyakan perang dingin yang terjadi antara dua sahabat itu. Tak ada yang memberitahukannya dengan jelas apa yang terjadi hari itu.

Yoonji menyisihkan diri dari Rena dan Kris, memberi keduanya waktu untuk mencairkan keadaan mereka. Dan pada akhirnya, memang siapapun takkan pernah bisa terlalu lama jauh dari sahabat yang sudah menjadi sandaran satu sama lain selama hampir sepanjang umur mereka. Kris selalu peduli dengan Rena, dan Rena selalu membutuhkan penenangan dari Kris melebihi siapapun. Terdengar egois, tapi bukankah dunia memang berputar dengan beban keegoisan?

Rena ingin segera menemui Kris, meminta lelaki itu mengatakan dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Momen dimana ia telah berdiri di depan pintu apartemen Kris, Rena tak lagi membuang waktu untuk menunggu. Ia menekan beberapa tombol angka di pintu itu, membukanya dan langsung menghambur masuk.

Rena melihat Kris duduk di sofa bersama seorang wanita duduk di seberangnya. Keduanya sama-sama memegang kertas-kertas penuh tulisan dan menatapnya dengan ketelitian. Rena mengenalinya. Zhao Sui. Junior akademi kepolisian yang belakangan ini menarik perhatian Kris.

Kris yang menyadari kehadiran sosok lain di ruangan itu mengangkat kepala dan matanya melbar melihat Rena berdiri di sana, kacau dan basah. Dan Sui, wanita itu tak kalah terkejutnya, bahkan mungkin lebih terkejut daripada Kris. Rena tak terlalu mempedulikan keberadaan Sui, tekanan pada jiwanya sedikit berkurang melihat Kris di sana. Karena ia tahu, ia akan baik-baik saja selama bersama Kris.

“K-Kris… aku…” Rena tak melanjutkan kalimatnya, kakinya menyerah membuatnya berlutut di lantai sebelum dapat meraih Kris, isakan samar mulai mengisi ruangan itu.

Tanpa pikir panjang, Kris berdiri dan menghampiri Rena. Ia memperhatikan wajah Rena sejenak sebelum memeluk tubuh Rena yang kepalang dingin. Cukup lama ia hanya diam memeluk Rena, hingga ia merasa nafas Rena lebih teratur. Kris melirik sejenak dan melihat mata Rena terpejam. Ia kemudian mengangkat tubuh Rena, menggendongnya.

“Sui, bisakah kau membantuku?” pertanyaan pendek Kris layangkan sebelum melangkah ke dalam kamar dengan Rena di rengkuhannya.

Sui tak mengangguk, tak menjawab namun mengikuti langkah Kris ke kamar. Pertanyaan pendek itu cukup ia mengerti maksudnya. Kris merebahkan Rena di ranjangnya meski masih dengan pakaian basah. Ia tak peduli. Ia juga berusaha mengabaikan tanda cupangan yang tercetak jelas di rahang dan leher Rena, menahan dirinya untuk tak larut dalam kesedihan yang mungkin Rena rasakan.

Kris mengusap kening Rena, mengingkirkan rambut panjang hitanya yang menutupi wajah anita itu sebelum bangkit dan berjalan menuju lemari. Ia mengeluarkan beberapa pakaian dari sana dan meletakkannya di ranjang sebelum keluar.

Sui yang sedari tadi memperhatikan di ambang pintu mulai mendekati ranjang saat Kris berjalan keluar. Sudut matanya menilik tampang datar lelaki itu, namun ia dapat melihat kecemasan dan rasa frustasi yang kuat yang dirasakan Kris.

Sui menatap Rena sejenak setelah Kris menutup pintu. Ia kemudian mulai membuka pakaian basah yang dipakai Rena, mengelap tubuhnya dengan handuk dan memakaikan Rena kembali dengan pakaian yang tadi Kris sediakan, secara perlahan, berusaha tak mengusiknya.

Dengan langkah pelan, ia kembali keluar dari kamar. Ditutupnya kembali pintu kamar Kris sebelum tatapan penasaran dan simpatinya tertuju pada Kris yang duduk bersender di sofa ruang tengah tengan mata terpejam, naun Sui tahu lelaki itu bukan terlelap.

“Siapa wanita itu, Ge?” tanyanya lembut.

Kris membuka matanya perlahan ketika suara itu menembus gendang telinganya. “Hwang Rena… sahabatku,” jawabnya tanpa melirik Sui.

“Kakinya terluka, mungkin karena berlari tanpa alas kaki,” ujar Sui, masih dengan suara penuh simpati. “Apa dia baik-baik saja?” tambahnya sembari berjalan mendekati Kris dan mendudukkan dirinya di seberang Kris.

Kris menghela nafas lelah. “Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu,” jawabnya lemah, merasa dirinya gagal menjadi seorang sahabat juga seorang kakak untuk Rena. “Mungkin dia akan mengatakan apa yang terjadi padaku nanti. Atau mungkin juga tidak. Satu-satunya yang bisa ku lakukan sekarang adalah memberinya waktu untuknya menenangkan diri,” tambahnya.

Kris lelah menunggu Rena mengakui segala sesuatunya. Ia tahu tingkat kekeras kepalan wanita itu. Dan untu kali ini, Kris memutuskan untuk menyelesaikan kasus sahabatnya itu sendiri, tanpa menunggu jawaban Rena lagi. Kris meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di meja depan sofanya dan mulai mengetik pesan untuk Yoonji, meminta wanita itu datang. Ia tahu Rena akan membutuhkan Yoonji nantinya.

“Siapa yang melukainya, Ge?” tanya Sui tiba-tiba, wanita itu teringat akan jejak keunguan yang ia temukan saat menganti pakaian Rena. Dan jujur saja, sebagai wanita, ia merasa ngilu melihatnya.

“Kuharap aku tahu…” jawab Kris.

 

*****

Rena tak mengatakan apapun kepada Kris. Kris juga membiarkannya berlalu. Ia bersikap seperti biasa, atau mungkin kali ini lebih memanjakannya seperti membelikan Rena es krim dan tteokbokki atau memaksa Rena naik ke punggungnya saat akan pergi kemanapun.

Rena sering menolak dan menganggap hal itu menggelikan untuk mereka. ‘Aku bukan anak-anak lagi’ katanya. Tapi Kris menghiraukan hal itu. Ia tahu setiap desis tertahan Rena saat wanita itu mencoba berjalan dengan luka di kakinya.

Kris juga tahu untuk beberapa hari setelah kejadian itu, Rena menghindari Jongin. Memastikan lelaki itu tak mengetahui perihal dirinya yang tengah terluka. Rena tak pernah mau menunjukkan lukanya di hadapan Jongin, apalagi jika luka itu berhubungan dengan ‘dia’.

Yoonji memerintahkannya untuk tetap berjaga di kasir sambil duduk di bangku tinggi yang mendadak tersedia. Ia tak membiarkan Rena berjalan mondar-mandir mengantar pesanan. Yoonji memerintah dengan segala omelan dan umpatannya, namun Rena tahu itulah cara wanita itu menunjukkan kepeduliannya.

Kedua sahabatnya itu begitu mempedulikannya. Sampai Rena sempat berpikir apakah ia pantas mendapatkan perhatian mereka yang meluap itu di saat dirinya sendiri selalu menutup rapat apapun yang seharusnya ia bagi bersama mereka.

Lamunan Rena semakin dalam, membawanya kepada ingatan malam itu, malam saat ia melarikan diri dari ‘lelaki itu’. Ada satu kalimat yang begitu menghantuinya, kalimat yang ia ucapkan sendiri.

‘Kau… aku mencintaimu.”

Mengingat ia telah mengatakan hal itu membuatnya ingin menangis dan menghancurkan kepalanya sendiri. Ia tidak mungkin mencintai monster seperti ‘dia’, bukan? Atau mungkin ia memang dengan tidak beruntungnya telah menjadi salah satu manusia yang terbutakan karena cinta? Entahlah, itu merupakan pertanyaan yang tak bisa dijawabnya karena ia sendiri bingung akan jawabannya.

Mungkin semua ini salahnya. Jika saja tiga tahun lalu ia mengatakan pada Kris soal penguntitan itu, mungkin ceritanya akan berbeda. Jika ia mengatakan tentang penguntitan itu pada semua temannya, mungkin semuanya akan berbeda. Namun saat itu ia tak bisa, setelah semua teror yang datang padanya, apalagi setelah mengetahui siapa penguntitnya itu, ia tak bisa membuka mulutnya karena akan menjadi masalah besar jika orang lain tahu tentang itu.

“Ren!” Jongin muncul tiba-tiba di hadapan Rena, membuat lamunannya bubar seakan  tertiup angin.

“Yah! Kau mengagetkanku, Kim Jongin!” respon Rena.

Jongin sedikit meneliti wajah Rena. “Kau lelah ya? Mengantuk?” tanyanya.

“Hmm… sedikit,” Rena mengangguk ringan. Beberapa pasang mata milik pelanggan yang ada di kafe itu memperhatikan mereka. Tidak masalah bagi Rena, toh beberapa dari mereka hanyalah penggemar kecil-kecilan Jongin. “Kris membuatku bermalas-malasan akhir-akhir ini, jadi cukup sulit untuk terlihat segar sekarang.”

“Aku bisa membuatmu merasa segar kembali,” ujar Jongin dengan senyum penuhnya.

Rena mengangkat alisnya heran. “Benarkah?” tanyanya dengan sedikit nada mencibir, menganggap omongan Jongin hanya candaan belaka.

Jongin mengangguk mantap. Dan sebelum Rena sempat berkedip, lelaki itu mendekatkan wajahnya dan mengecup ujung hidung Rena, hanya sekejap kemudian kembali menarik diri. Mata Rena melebar menatap Jongin, tubuhnya membeku beberapa saat.

“Yah! Apa yang kau lakukan?” bisik Rena, matanya samar berkeliling ke sekitar kafe, memastikan pelanggan disana tak melihat momen pendek mereka tadi. Tapi sial karena kini ia dapat melihat tatapan-tatapan terkumpul ke arahnya. Beberapa berbisik mengomentari, beberapa menahan senyum, beberapa memasang wajah iri dan ekspresi lainnya.

“Sekarang kau sudah segar?” jawab Jongin dengan pertanyaan.

“Sangat!” jawab Rena tajam, masih merasa terbakar malu karena telah menjadi pusat perhatian orang-orang.

Jongin terkekeh. “Aku mencintaimu,” ujarnya dalam bisikan rendah, senyum tak juga pudar dari bibirnya.

“Aku juga mencintaimu… sangat,” balas Rena tulus. Sungguh ia tulus ketika mengatakan bahwa ia mencintai Jongin. Namun entah mengapa ia merasa sesuatu menusuk hatinya setiap kali mengatakan kata cinta kepada Jongin. Rasa bersalahkah? Mungkin.

“Daaaannn~~~ sebesar aku mencintai hubungan kalian, aku akan sangat berterima kasih jika kalian berhenti ber-lovey-dovey di kafeku,” suara manis Yoonji menyela momen manis mereka. “Kalian membuat manusia lajang sepertiku tak berdaya, tahu,” tambahnya dalam gumaman kesal.

Jongin kembali tertawa. “Baiklah… maafkan aku, Nona Choi,” responnya dengan nada canda.

Yoonji merespon candaan Jongin dengan menggumamkan beberapa kata dalam bahasa Mandarin. Mungumpat, namun mungkin lebih tepatnya seperti menjanjikan akan membantai Jongin setelah menutup kafe hari ini.

 

*****

Hari berikutnya Jongin mengajak Rena ke Lotte World. Namun Rena dapat melihat hal yang tak biasa pada Jongin. Ia mendapati lelaki itu keseringan melamun, tatapannya terkadang kosong, senyumnya yang biasa tersedia setiap saat hanya muncul ketika Rena memanggilnya.

Rena tak tahu apa alasannya. Ia ingin menanyakan hal itu kepada Jongin, namun ia memutuskan untuk menahan rasa penasarannya. Ia yakin Jongin akan mengatakan apapun yang mengganggu pikirannya jika lelaki itu ingin bercerita.

Dan Rena benar. Mereka tengah berjalan pelan beriringan saat Rena tiba-tiba mendapati Jongin memperhatikannya. Mereka menghentikan langkah, Rena menghadap Jongin yang sudah sedari tadi menatapnya dengan tatapan lemah yang Rena sendiri tak tahu maknanya.

“Ada apa, Jongin? Kau baik-baik saja?” tanya Rena cemas, tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Jongin

Jongin tak menjawab, hanya menatap Rena dengan tatapan yang sama dan membiarkan wanita itu melarikan tangannya di wajahnya dengan lembut.

“Apa kau sakit? Jongin, katakan padaku,” tuntut Rena, kini ia benar-benar cemas.

Jongin diam sejenak, kemudian meneguk salivanya sendiri sebelum menjawab. “Kenapa kau tak bisa meninggalkan dia, Ren?,” lirih Jongin, matanya yang sedari tadi menatap Rena berpaling saat menanyakan hal itu, seakan tak seharusnya Jongin mempertanyakan hal itu pada Rena.

Tangan Rena yang meraba wajah Jongin perlahan jatuh, kembali ke sisi tubuh Rena. Lagi-lagi pertanyaan itu. Bukan kali pertama Jongin menanyakannya namun Rena tetap tak bisa terbiasa dengan pertanyaan itu. Sebelumnya, ia selalu menjawab ‘Aku tidak bisa’, tapi sekarang Rena dapat melihat Jongin menginginkan jawaban yang lain.

Rena sempat mengukir senyum kecil meski hatinya kala itu serasa tercacah. “Karena… aku berhutang hidupku padanya,” jawab Rena lirih.

Jongin membuat jeda, matanya makin menerawang. “Sayang sekali kau harus berhutang hidupmu kepada orang sepertinya,” alih-alih suara ceria Jongin, Rena malah menangkap kebencian dari perkataan Jongin tadi. Rena tahu kebencian itu bukan ditujukan untuknya, namun tetap saja perkataan Jongin membuatnya ingin menangis dan berlutut di hadapan lelaki itu detik itu juga dan mengatakan padanya untuk mempercayainya.

“Dia bukan iblis, Jongin,” Rena tahu ia akan menyakiti Jongin dengan pembelaan yang barusan ia ucapkan. Tapi lagi memang apa lagi yang bisa ia katakan selain meyakinkan jongin bahwa tak semua yang terjadi memiliki fakta seperti kelihatannya. “Dia hanya… kehilangan dirinya sendiri,” tambah Rena, ia menatap Jongin dan berharap lelaki itu dapat mengerti dilema yang dialaminya.

“Kehilangan dirinya sendiri…” Jongin bergumam, mengulang alasan Rena. Lagi-lagi ia memalingkan tatapannya, mengalihkannya ke jajaran permen kapas warna warni di salah satu stand di area istirahat. “Rena… kau… mencintaiku, bukan?” tanya Jongin penuh keraguan, ia tak menatap Rena saat menanyakannya karena terlalu takut untuk menerima sinyal penolakan dari wanita itu.

Rena meraih wajah Jongin dengan kedua tangannya dan membuat lelaki itu menatapnya. “Tentu aku mencintaimu, Jongin. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu,” jawab Rena sungguh-sungguh, mengabaikan sebagian jiwanya yang mengejek dirinya sendiri atas bagaimana ia bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya.

Detik berikutnya Rena merasakan kedua tangan Jongin meraihnya dan menariknya ke dalam pelukan lelaki itu, wajah Jongin jatuh di bahunya. Rena menggerakkan tangannya naik dan menyentuh punggung Jongin, mengusapnya pelan, setengah berharap dapat membuat keraguan Jongin menghilang.

Mereka sama-sama tak peduli dengan suasana sekitar. Keduanya merasa sama-sama rapuh dan saling membutuhkan kehadiran satu sama lain.

“Aku mencintaimu,” gumam Jongin pelan, suaranya makin terendam karena lelaki itu membenamkan wajahnya di bahu Rena, namun Rena masih bisa mendengarnya.

“Aku tahu,” Rena menggigit bibirnya yang bergetar, menahan diri untuk tak menitikkan air matanya. Jongin tak tersenyum dan ia adalah alasannya. Itu kesalahannya. Dan lagi-lagi itu menambah daftar alasan kenapa Rena membenci dirinya sendiri.

“Aku mencintaimu,” gumam Jongin lagi.

Mereka bertahan dalam posisi itu untuk waktu yang tak sebentar sebelum akhirnya Jongin melepaskan pelukannya terhadap Rena. Jongin kembali menatapnya, kali ini dengan pandangan mata serius.

“Ren… apa sesuatu terjadi tiga tahu lalu?” tanya Jongin, tak menyadari rena yang mendadak meremang hebat karena pertanyaan itu. “Kris bertanya padaku tentang apakah aku mengingat kejadian penting yang terjadi tiga tahu lalu. Dan apakah aku mengingat Mr. Jinho, dosen Sejarah kita.”

Rena memasang wajah datar. Sungguh, rasanya ia ingin menguliti Kris saat itu juga. “Tidak ada hal berarti yang terjadi,” jawab Rena. “Mungkin Kris hanya sedang iseng mengerjaimu dengan membuatmu penasaran. Tak usah dengarkan jika dia menanyakan hal aneh seperti itu,” tambah Rena dengan wajah datarnya, namun nada bicaranya terdengar menuntut.

 

*****

“Bagaimana kencanmu?” tanya Kris ringan sesaat setelah menutup kembali pintu apartemen Rena.

“Mengerikan, terima asih telah bertanya,” jawab Rena tajam.

“Ada apa lagi?” Kris tak bertanya dengan perhatiannya seperti biasa, melainkan dengan seringai mengejek.

Rena mengepalkan tangannya dan siap melayangkannya ke wajah tampan Kris. Namun sebelum benar-benar menyentuhnya, Kris dengan mudah menangkap pergelangan tangan Rena. Kris tersenyum kecil mengingat gerakan Rena yang selalu mudah ditebak.

Kris berdecak santai. “Tak seharusnya kau menyerang sahabatmu, Ren,” ujar Kris.

Rena menatapnya tajam. “Apa yang salah dengan otakmu, Kris?! Kenapa kau begitu senang mempermainkanku! Kenapa kau selalu memancingku untuk melemparkan wajan ukuran besar ke wajahmu?!” teriak Rena tanpa arah.

Kris melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Rena. “Sandi apartemenmu masih tanggal ulang tahun Jongin. Sama seperti tiga tahun lalu. Bedanya saat itu aku tak tahu,” ucapak Kris membuat Rena heran, mau apa lagi lelaki itu lagi-lagi bicara soal hal-tiga-tahun-lalu itu. “Katakan padaku, Ren… apa mungkin penguntitmu saat itu tahu sandi apartemenmu?”

Rena mendelik tajam. “Kau bertanya kepada Jongin lagi! Brengsek! Bagaimana jika kejadian tempo hari terulang lagi!” teriak Rena, tak mengindahkan pertanyaan Kris soal penguntitnya itu.

“Kalau begitu siapa lagi yang harus aku tanya? Jinho yang sudah mati?” cibir Kris tajam. “Tidak ada lagi yang bisa kutanya selain kau dan nyatanya kau memang takkan menjawab, Ren!” nada suara Kris mulai meninggi. “Asal kau tahu, Ren. Selama kau diam, aku akan terus berusaha menanyakannya kepada Jongin, dan kau tak bisa menghentikanku untuk itu.”

Rena menyapukan rambutnya ke belakang dengan jemarinya sendiri kemudian menjatuhkan dirinya di sofa. Ia ingin semuanya berhenti.

“Aku akan menariknya!” ujar Rena cepat.

“Apa?”

“Tuntutannya. Aku akan menghentikan tuntutannya, Yifan!”

Kris terkekeh meremehkan. “Kau tidak memiliki hak penuh atas itu, Otak Udang! Jinho juga terbunuh,” cibir Kris lagi. “Kau tidak bisa menghentikan kasus ini kecuali kau berhasil membujuk keluarganya untuk menarik tuntutan itu dan menutup kasusnya.”

“Diam!” bentak Rena, ia tak ingin Kris memperjelas posisi tak berdayanya.

“Oh sial! Ini melelahkan! Aku merasa seperti anjing yang berusaha mengejar ekornya sendiri!” Kris mulai mengumpat. “Aku lelah berpura-pura merasa kau terlalu lemah untuk kutanya! Kau berkencan dengan Kim Jongin, lelaki dengan sikap paling manis yang siap memanjakanmu selama dua puluh empat jam dan kau juga menjalin hubungan ekstrim dengan entah-hanya-Tuhan-yang-tahu-siapa-dia. Jelas sekali mentalmu cukup kuat untuk mengatur hidupmu bersama mereka. Dan aku yakin kau juga cukup kuat jika hanya untuk sekedar menjawab pertanyaanku!” Kris memuntahkannya hampir dalam satu tarikan nafas. “Tiga tahun, Rena! Tiga tahun dan kau masih belum bisa mengatasi dirimu sendiri!”

“Aku selalu teringat akan kejadian itu, Kris! Setiap menit dalam hidupku kejadian itu selalu menghantuiku! Dan kau seharusnya tahu bahwa kau adalah orang terakhir yang kuinginkan untuk mengingatkanku tentang itu!” Rena tak berteriak lagi.

“Kau pasti tahu sesuatu, apapun. Siapa yang memperkosamu? Siapa yang membunuh Jinho?” Kau pasti tahu,” tambah Kris, nada bicaranya juga sudah ia rendahkan kembali.

“Aku tidak tahu,” air mata akhirnya mulai menetes dari pelupuk matanya.

“Kau tahu sesuatu tapi kau tak mengatakannya, Hwang Rena. Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Kris rendah, namun tajam. “Kenapa kau tak mempercayakannya padaku? Apa yang kau takutkan?”

“Aku tidak tahu, Yifan! Berapa kali aku harus mengatakan padamu bahwa aku tidak tahu?!”balas rena di sela aliran air matanya yang semakin deras. “Kenapa kau tak juga mempercayaiku?” lanjutnya lemah. Rena menarik kakinya naik ke safa dan memeluk lututnya, wajahnya tenggelam untuknya terisak disana.

Kris menghela nafas kemudian mendekati Rena, duduk di sampingnya. Yang ia tahu Rena lebih kuat dari ini. Apa yang membuatnya mudah hancur seperti sekarang? Kris tahu Rena berbohong, Kris selalu tahu. Dan lagi-lagi, kali ini Kris membiarkannya.

Kris melingkarkan lengannya di punggung Rena dan menarik wanita itu hingga bersandar padanya. Perlahan telapak tangan besarnya mengusap pelan rambut Rena, berusaha memberikan sedikit ketenangan untuk wanita itu. Rena tak menghindar dan memilih menangis di bahunya. Kris melihat betapa rapuhnya Rena saat itu dan menyadari saat itu bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan topik tentang insiden itu.

“Hari yang keras?” tanya Kris lembut. Sungguh berbeda dengan suara yang sebelumnya ia gunakan untuk menyerang Rena.

“Hmm,” gumam Rena di sela isakannya.

Jemari Kris bermain di rambut Rena, sebuah gerakan kecil yang mampu menenangkan Rena sejak mereka masih kanak-kanak. “Apa yang terjadi?” tanyanya lagi.

“Ayah meninggal,” bisik Rena. Kris menahan nafas. Ia selalu mengingat Tuan Hwang dan momen manis yang diciptakan pria itu. Tuan Hwang begitu menyayangi Rena, itu hal yang tak bisa dibantah. “Ibu menanyakan keberadaanku dan memintaku untuk datang ke pemakamannya, dan rasanya aku tak berani muncul,” tambah Rena, tawa pahit menyertai akuannya. “Dia pergi dan tak pernah mengetahui bahwa putri satu-satunya pernah diperkosa. Aku merasa berdosa karena menyembunyikannya.”

Kris masih menjadi pendengar setia, tangannya masih bermain di punggung Rena, membangun kekuatan disana.

“Yoonji lagi-lagi meneriakiku karena terlambat. Tapi kali ini ia benar-benar marah mengetahui keterlambatanku berhubungan dengan dia. Untuk beberapa alasan hal itu menyakitiku,” isakan Rena sudah menghilang, namun ia masih menyandarkan kepalanya di bahu Kris. “Lalu Jongin kembali dengan keraguannya, mempertanyakan apakah aku mencintainya.”

Kris memejamkan matanya, masih diam. Ia berharap dapat melakukan sesuatu tanpa perlu menambah beban yang kepalan terlimpah kepada Rena.

“Dan kemudian kau…”

“Maafan aku, Ren.”

Setelah sesi curhatan itu, Kris membiarkan Rena bersandar padanya hingga wanita itu terlelap. Setelah memastikan Rena cukup pulas, ia mulai mengangkat tubuh wanita itu untuk membaringkannya di kamar.

Kris kembali keluar dan menutup kamar Rena perlahan kemudian menghela nafas panjang. Jelas sekali ia tak bisa melibatkan Rena ataupun Jongin untuk menyelesaikan kasus ini. Ia butuh alternatif lain.

Kris mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah apartemen Rena, morogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel dari sana. Ia sedikit memainkan jarinya di layar datar ponselnya sebelum mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

“Halo, Sui… aku butuh bantuanmu. Cari lelaki bernama Oh Sehun. Kemungkinan masih berstatus mahasiswa. Sedikit lebih pendek dariku, rambut pirang, kulit pucat. Aku tidak tahu pasti tapi sepertinya ia tipikal anak kesenian,” jelasnya kepada orang di seberang telepon.

 

*****

Rena turun dari ranjangnya ketika mendengar bell apartemennya berbunyi. Sedikit mengumpati siapapun yang membunyikannya. Ini hari liburnya dan kepalanya terasa begitu berat. Ia benar-benar tak ingin mendapat gangguan dari siapapun.

Dengan setengah hati Rena membuka pintunya, alinya berkerut mendapati wajah asing seorang wanita di hadapannya. Cantik dan anggun, dua kata itu deskripsi Rena untuk wanita yang kini berdiri di hadapannya, ia tak sempat memikirkan kata lain, masih terlalu malas berpikir.

“Hai… apa kau Rena?” tanya wanita itu dan hanya direspon anggukan oleh Rena. “Aku Irene,” lanjut wanita itu.

Rena berkedip bingung, lagi-lagi nama yang asing baginya.

“Aku datang atas permintaan Sehun,” wanita itu kembali bersuara seakan barusan membaca kebingungan Rena.

Rena kemudian mengangguk pelan mendenga nama Sehun disebut. “Apa yang Sehun inginkan?”

Irene melirik kanan kirinya seolah memastikan situasi aman sebelum menjawab. “Kris menemukannya,” jawabnya.

Mata Rena seketika melebar. Perasaan panik mulai menguasai dirinya. Namun kemudian seakan dapat membaca pikiran Rena, Irene kembali bersuara, memberikan alasan untuk Rena agar tetap tenang.

“Tenang. Kris meminta bertemu dengannya namun Sehun juga sudah memiliki rencana. Ia takkan bertindak ceroboh,” ujar Irene. “Sehun juga memintaku untuk menyampaikan padamu agar tak menghubunginya atau bertemu dengannya dulu agar Kris tak curiga,” tambahnya.

 

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Shadowed (Chapter 6)”

  1. Ceritanya makin keren thor aku makin penasaran maksudnya kejadian tiga tajun lalu itu yang ngelakuin sehun?????sehun anena si rena cepet nextttttttttttt keren

  2. Jadi bener deh kalo ‘dia’ itu sehun.. tapi irene siapanya sehun ya? Woaa tanda tanya lagi nih.. ceritanya makin seruu ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  3. pengen cepet” ada titik terang…duhhh gemesss bacanya
    trus knpa jongin gk bisa ingat apa”??kejadian yg sehun dtng ke cafe jg gk inget lah itu gmna cba….
    next..next.. ditunggu ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s