[EXOFFI FREELANCE] Dream (Chapter 4)

DREAM - CHAPTER 4.jpg

DREAM  –  CHAPTER 4

[FATE]
Author: Azalea
Cast : Bae Suzy (Miss A), Byun Baekhyun (EXO),
Genre : Romance, Sadness.
Rating : +17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Kalian juga bisa baca ff ku ini di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita DREAM. Jangan plagiat, ataupun me re-upload ff ini tanpa sepengetahuanku.

 

Cerita Sebelumnya : CHAPTER 1 ( DREAM )  ->  CHAPTER 2 (REAL?)  ->  CHAPTER 3 (DEJA VOO)

 

~ Suzy Side ~

Mata itu kembali menyihirku. Saat aku masih saja melamun sambil menatap matanya, dia menjauhkan wajahnya dariku membuat tautan kami terputus. Entah kenapa aku merasa kecewa saat dia melepaskannya.

Aku menyipitkan mataku untuk memperjelas wajah laki-laki yang ada di depanku ini. Tidak lama kemudian dia membalikkan badannya memunggungiku dan berbicara pada wanita lain.

“Kau lihat. Aku sudah memiliki wanita lain, jadi sudah jelaskan bahwa hubungan kita telah berakhir sampai di sini.” Katanya pada wanita itu. Bahkan suaranya juga mirip, pikirku masih mengamati punggungnya yang ada di depanku.

“Tidak oppa. Aku tidak percaya pada kata-katamu. Dia pasti wanita bayaran yang kau bayar untuk pura-pura menjadi kekasihmu!” jawab wanita itu.

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas sekarang ini aku sudah memiliki kekasih lain penggantimu, kau urus saja urusanmu dengan Taeminmu itu. Dan ingat, jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku lagi. Arrachi?” katanya tegas pada wanita di hadapannya, membuat wanita itu tidak bisa berkata apa-apa selain menangis menyadari hubungannya dengan laki-laki di hadapanku ini sudah berakhir.

“Ayo sayang kita pergi dari sini, urusanku dengan wanita tidak tahu diri itu sudah berakhir. Jadi sekarang kau tidak usah khawatir dengan hubungan kita selanjutnya.” Katanya padaku selembut mungkin. Aku hanya menatap dia bingung karena tidak tahu harus berkata apa. Kemudian tanpa ijin dariku dia menarik tanganku untuk menjauh dari kerumunan orang-orang yang sedang memperhatikan pertengkaran dia dengan kekasihnya.

Saat ku tolehkan wajahku ke belakang untuk melihat keadaan wanita itu, aku bisa melihat dia sedang jongkok sambil menangis dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena aku sendiri masih bingung apakah ini nyata atau hanya mimpi. Hidupku sekarang rasanya berada di antara dunia nyata dan mimpi.

Laki-laki yang tidak aku ketahui namanya ini mengajakku ke parkiran menuju ke sebuah mobil sport mewah berwarna merah yang tidak aku ketahui apa karena tempat parkir yang sedikit remang-remang. Saat dia membukakan pintu untukku, aku langsung menurut saja untuk memasukinya.

Jok mobilnya sangat lembut, dan aku yakin wanita manapun akan langsung saja setuju dibawa ke manapun saat melihat mobil sport mewahnya ini. Sebenarnya aku bukan tipe wanita yang akan ikut ke manapun orang lain akan membawaku pergi, apalagi orang itu tidak aku kenal.

Tapi saat bersamanya, aku merasa jika aku sudah mengenalnya walaupun aku tidak tahu namanya. Aku terus memperhatikannya saat berjalan menuju kursi pengemudi. Saat melihat wajahnya dari samping aku bisa melihat gurat wajahnya. Dia memang mirip dengan Baekhyun, pikirku. Begitu dia memasuki mobilnya, dan duduk di sebelahku, aku bisa melihat dengan jelas kalau memang benar dia adalah Baekhyun.

Dia menolehkan wajahnya ke arahku, dan menautkan alisnya saat mengetahui aku sedang memperhatikannya.

“Apakah aku sangat tampan sampai matamu tidak pernah lepas dari wajahku?” tanyanya padaku yang berhasil menyadarkanku dari lamunan. Aku tidak menjawab pertanyaan, yang aku lakukan adalah mengalihkan wajahku ke jendela samping untuk melihat pemandangan di luar sana walaupun yang aku dapatkan hanya kegelapan saja.

Aku bisa mendengar dia tertawa, menertawakan kelakuanku sekarang. Debaran jantungku masih saja berdebar kencang. Malu. Ya, aku malu karena telah ketahuan memperhatikannya. Bodoh. Rutukku dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian, laki-laki itu menjalankan mobilnya untuk keluar dari parkiran klub malam ini. Aku masih mengalihkan wajahku ke samping, tapi dari kaca jendela yang gelap aku bisa melihat bayanganya yang terpantul. Perlahan aku menarik kedua sudut bibirku saat melihatnya. Secara diam-diam aku terus memperhatikannya tanpa dia ketahui sama sekali.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di sebuah vila yang aku tidak ketahui berada di mana. Secara otomatis aku menolehkan pandanganku untuk menghadapnya tapi dia buru-buru keluar dari mobil mengabaikan tatapan bingungku.

Aku kembali mengikuti pergerakkannya yang berjalan menuju ke arah pintu. Dan benar saja, tidak lama kemudian dia membuka pintu penumpang agar aku bisa keluar dari mobilnya. Aku mengikuti instruksinya untuk keluar dari mobil. Setelah aku keluar, dia segera menutup pintu kemudian berjalan mendahuluiku menuju pintu masuk vila tersebut.

Deburan ombak terdengar jelas, aku memperkirakan kalau vila ini berada di pinggir pantai walaupun sejauh mata memandang hanya kegelapan yang aku dapatkan. Hembusan angin malam terasa dingin walaupun aku sudah memakai jaket kulit tapi dikarenakan pakaian yang aku kenakan sangat pendek sehingga jaket kulit tersebut tidak banyak membantuku.

Aku berjalan mengikutinya memasuki vila tersebut. Saat aku memperhatikan desain vila ini, aku serasa di bawa ke abad pertengahan. Sebagian besar interiornya terbuat dari kayu, mulai dari lantai, dinding, atap, bahkan kursipun tidak luput dari sentuhan kayu.

Begitu memasuki area dalam, ada sebuah perapian yang terbuat dari batu bata merah dan di depannya terdapat sebuah sofa warna putih penuh dengan bantal juga terdapat sebuah karpet berbulu yang sepertinya sangat lembut saat menginjakkan kaki di sana.

Saat aku sedang duduk asyik menatap api yang menyala di atas sebuah karpet, sebuah selimut putih menutupi punggungku dan segelas wine tiba-tiba muncul di hadapan wajahku membuat aku menolehkan wajah untuk melihat orang yang sudah memberikan wine tersebut padaku. Aku bisa melihat dia sudah membuka jaket kulitnya dan hanya menyisakan sebuah kaos berlengan pendek warna hitam dan sebuah celana jeans robek dia kenakan.

“Aku yakin kau tidak akan pernah bosan untuk memperhatikanku, tapi tolonglah tanganku pegal memegang gelas wine ini.” Katanya menyadarkanku dari lamunanku. Dengan segera aku mengambil gelas wine tersebut.

“Terima kasih.” Kataku sambil meletakkan gelas wine tersebut di depanku. Aku merasakan dia juga mendudukkan dirinya di sampingku menghadap ke api di perapian. Selama beberapa saat kami hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku terlalu takut untuk bertanya padanya, padahal aku bukan tipe wanita yang pemalu tapi saat di dekatnya entah kenapa aku merasa sangat malu.

“Kau tidak bertanya kenapa aku mengajakmu ke sini?” tanyanya padaku masih dengan pandangan tertuju pada api.

“Aku yakin kau punya alasannya.” Jawabku.

“Kau benar. Naeun bukan tipe wanita yang akan percaya begitu saja sebelum dia benar-benar yakin, makanya aku mengajakmu ke  sini karena aku tahu mungkin nanti tengah malam atau pagi hari dia akan datang ke sini.” Katanya sambil meneguk kembali wine yang tinggal setengahnya itu.

Aku memperhatikan wajahnya dari samping, wajah yang begitu aku kenal. Hanya saja yang berbeda adalah warna rambutnya. Dia memiliki warna rambut hitam yang sebagian menutupi dahinya. Segera saja aku mengalihkan pandanganku kembali menuju ke perapian takut dia memergoki kalau aku sedang memperhatikannya lagi.

“Aku yakin kau bukan seorang wanita penghibur, tapi aku rasa aku harus melakukan ini denganmu.” Katanya sambil menatap wajahku yang ada di sampingnya, membuat aku mengalihkan pandangan padanya. Aku mengerti apa yang dia maksudkan saat ini. Bukankah itu melanggar norma yang ada?

“Maukah kau melakukannya denganku?” tanyanya lagi padaku. “Aku akan menganggap ini hanya sebatas one night stand .” lanjutnya yang masih belum aku jawab. Tapi bukankah jika hanya sebatas one night stand saja itu sangat keterlaluan?

Ya ampun apa yang aku pikirkan hingga ingin melanjutkan hubungan terlarang ini? Padahal aku sudah bertunangan dengan Myungsoo, seharusnya aku menolak dengan mentah-mentah ajakannya itu padaku.

Dengan aku menyetujui ajakannya menandakan bahwa aku memang seorang wanita penghibur. Tetapi ketika otakku menolak mentah-mentah ajakkannya, hal yang berbeda aku rasakan di hatiku. Sungguh aku merindukan laki-laki di hadapanku ini, walaupun sebenarnya aku tidak mengetahui siapa dia.

Aku masih terus saja memperhatikan wajahnya yang sedang menunggu jawabanku. Aku bingung apakah aku harus menghianati Myungsoo? Atau aku harus menghianati hatiku? Selama beberapa minggu terakhir ini, hanya orang ini yang selalu ada dipikiranku. Aku selalu berdo’a jika dia adalah sebuah kenyataan bukan hanya sebuah mimpi.

Lantas, setelah semua terkabul, kenapa rasanya ragu hanya untuk melangkah? Aku tahu ini salah, tapi jika memang ini hanya sebuah one night stand  saja akankah aku rela melepaskan segalanya hanya untuk orang yang tidak aku kenal? Akankah aku rela untuk tidak bertemu lagi dengannya? Tapi jika aku dipertemukan lagi dengannya, akankah aku rela melepaskan Myungsoo?

Memikirkan semua perkiraan-perkiraan itu membuat kepalaku sedikit pusing. Kuteguk gelas wine yang tidak aku sentuh sebelumnya sampai habis, mengabaikan perkataan dokter yang melarangku untuk meminum alkohol untuk sementara waktu. Aku berharap dengan meminum alkohol ini akan meredakan sakit kepala yang aku rasakan saat ini.

“Kalau kau tidak menginginkannya, aku akan mengantarmu kembali ke hotel tempat kau menginap.” Katanya sambil menghabiskan sisa winenya sampai habis. Saat dia akan berdiri dari duduknya, entah keberanian dari mana, aku memegang tangannya dan menariknya untuk duduk kembali di tempat dia semula.

Dia sedikit limpung karena tarikkanku yang kuat padanya membuat dia jatuh menabrak kakiku. Dengan kedua tanganku, kutarik wajahnya agar lebih dekat denganku. Kucium dia duluan membuat dia sedikit terkejut dengan perlakuanku padanya yang tiba-tiba ini.

Tapi itu tidak berlangsung lama sampai dia mengimbangi permainanku padaku. Sepertinya aku akan mengambil resiko untuk sakit untuk yang kedua kalinya. Aku tidak peduli, apakah aku mengenal laki-laki yang sedang aku cium ini atau tidak. Mungkin secara dunia nyata aku tidak mengenalnya, tapi hati dan tubuhku seakan sangat mengenalnya.

Aku akan mengambil resiko untuk menjadi wanita penghiburnya malam ini, dan aku tidak mempedulikan itu. Jika memang takdir dapat mempertemukan kami kembali suatu hari nanti, maka aku tidak akan melepaskannya lagi karena aku tidak ingin merasakan kehilangan untuk yang ketiga kalinya saat bersamanya.

Malam itu aku lalui dengannya dengan sangat cepat. Api dari perapian menjadi saksi malam yang aku lewati dengannya. Saat aku membuka mata, aku bisa merasakan sebuah tangan sedang memelukku. Aku hanya terdiam melihat tangan itu dengan posesifnya memelukku.

Tidak lama kemudian aku mendengar sebuah ketukan yang sangat keras di pintu masuk vila ini, membuat aku dan laki-laki itu mau tidak mau harus terbangun dari tidur singkat kami. Ketukan di pintu semakin jelas terdengar saat kami belum juga membukakan pintu untuknya.

Dengan perasaan jengkel, laki-laki itu bangun dan meraih celana pendeknya yang tergeletak di dekat kami untuk memakainya. Sedangkan aku, kulilitkan selimut putih itu untuk menutupi tubuhku yang tidak terbalut apapun.

Tidak lama kemudian, aku bisa mendengar suara pertengkaran yang terdengar dari pintu masuk. Karena penasaran aku mengikuti asal suara pertengkaran tersebut. Saat aku sudah mencapai ruang tamu vila ini, aku bisa melihat dua orang yang sedang bertengkar tersebut.

Benar kata laki-laki itu, wanita yang semalam dia ceritakan bernama Naeun itu datang untuk mengecek apakah laki-laki itu hanya menggertak saja atau sungguhan. Saat mata merahnya bertemu pandang denganku, dia langsung memarahiku sejadi-jadi.

“Dasar wanita pelacur sialan! Beraninya kau menggoda kekasihku untuk tidur denganmu!” katanya begitu marah sambil berjalan menghampiriku yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Tapi laki-laki itu buru-buru menghadang Naeun agar aku tidak berhadapan langsung dengannya.

“Jaga ucapanmu Son Naeun!” ucap laki-laki itu geram akan kelakuan mantan kekasihnya itu.

“Kau membelanya oppa?” tanya Naeun tidak percaya akan sikap mantan kekasihnya itu.

“Seperti yang kau lihat. Akan aku lakukan apa saja untuk melindunginya dari tangan kotormu itu!” kata laki-laki itu dingin.

“Berapa banyak uang yang kau bayar untuk tidur denganmu oppa?” tanya Naeun lagi.

“Aku tidak pernah membayarnya se-sen pun.”

“Jadi dia melakukannya dengan suka rela? Daebak! Dasar jalang sialan!”

“Sudah kubilang jaga ucapanmu padanya!” bentak laki-laki itu pada Naeun membuat Naeun diam seketika, “Perlu ku tegaskan lagi, bahwa hubungan kita sudah berakhir. Jangan campuri urusanku lagi!” lanjutnya.

“Tapi aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Taemin!” kata Naeun.

“Kau bilang tidak ada hubungan apa-apa?” tanya laki-laki itu sambil tersenyum kecut.

“Ya, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Yang aku cintai hanya dirimu oppa.” Kata Naeun masih berusaha untuk meyakinkan laki-laki di depanku ini yang mana malah membuat laki-laki itu tersenyum kecut saat mendengarnya.

“Kau sungguh wanita penjilat! Aku tidak percaya selama 5 tahun ini aku terjerat oleh mulut berbisamu itu.” Kata laki-laki itu tidak percaya akan keadaan yang sudah dia alami selama ini.

“Apa maksudmu oppa?” tanya Naeun tidak mengerti.

“Kau masih tidak mengerti?”

“Ya, aku tidak mengerti dengan perkataanmu oppa.”

“Baiklah, akan aku jelaskan sekarang juga dan setelah aku menjelaskannya, aku harap kau segera pergi dengan baik-baik dari rumah ini sebelum ku telepon polisi untuk mengusirmu keluar dari rumah ini.”

“Baik, tapi kalau alasan yang kau ungkapkan tidak rasional, wanita jalang ini yang harus keluar dari rumah mu ini!” tantang Naeun membuat laki-laki yang ada di depanku ini terlihat mengepalkan tangannya geram.

“Aku tahu, selama 3 bulan terakhir ini kau sering bermain dengan Taemin. Dan asal kau tahu, aku juga mengetahui jika saat ini kau sedang hamil anaknya Taemin. Alasan itu sudah cukup untuk membuatku memutuskanmu saat ini juga!” kata laki-laki itu dingin pada Naeun yang membuat Naeun menitikan air matanya.

“Jadi sekarang sebaiknya kau pergi dari rumahku dengan baik-baik.”

“Kau tidak mengerti kenapa aku melakukan ini padamu!” teriak Naeun pada laki-laki itu membuatnya berbalik lagi pada Naeun. “Kau mengacuhkanku selama 1 tahun terakhir ini. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu itu. Kau membuatku merasa kesepian selama ini. Ini semua salahmu oppa.” Katanya sambil berurai air mata.

“Kau bilang ini semua salahku?”

“Ya, ini semua salahmu!”

“Aku melakukan ini untuk mempersiapkan pernikahan kita, dan kau!” laki-laki itu berhenti sejenak untuk menetralkan perasaannya. “Sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum aku melakukan hal yang tidak akan pernah terpikirkan olehmu.” Usirnya lagi. Aku bisa melihat mereka saling memperlihatkan tatapan mata dingin satu sama lain.

“Aku membencimu oppa.” Katanya pada akhirnya, berjalan keluar sambil menangis. Aku melihat dia mengepalkan tangannya menahan amarah.

“Aku akan membersihkan diri terlebih dulu, kemudian aku akan pergi.” Kataku padanya setelah beberapa saat kami hanya terdiam memandangkan kosong ke arah pintu keluar.

“Maaf.” Jawabnya dengan nada yang sedikit dingin membuatku berhenti melangkah dan kembali menghadapnya. “Aku minta maaf karena kau jadi terbawa pada pertengkaran kami.” katanya sedikit lembut sambil menatapku.

“Tidak masalah. Aku akan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi.” Kataku sambil tersenyum padanya agar dia tidak khawatir lagi padaku.

“Terima kasih.” Katanya dan aku hanya tersenyum sebagai jawabanku. “Toiletnya ada di lantai atas, di kamar paling pojok.” Lanjutnya.

Kemudian aku kembali melanjutkan langkahku menuju ruang keluarga untuk mengambil pakaianku yang tercecer di mana-mana. Setelah selesai membereskan pakaian, aku menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Sesuai dengan petunjuknya, aku memakai kamar mandi di sebuah kamar paling pojok yang aku perkirakan adalah kamar utama dari vila ini.

Untuk sesaat aku mengamati desain interior dari kamar ini. Tidak jauh berbeda dengan desain di ruang tamu dan ruang keluarga, kamar ini di dominasi perabotan dari kayu. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah tempat tidur bertiang 4 dari kayu jati yang menghadap ke sebuah jendela besar yang langsung menghadap ke laut.

Ukuran kamar ini cukup luas, karena terdapat sebuah sofa dan sebuah lemari yang sangat besar di dalamnya. Sebuah lukisan abstrak terpasang rapih di dinding kayu ini. Setelah cukup mengagumi desain dari kamar ini, aku kembali melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.

Aku membuka selimut yang aku gunakan saat memasuki kamar mandi, interior kayu kembali mendominasi. Kamar mandi ini terhitung memiliki ukuran cukup besar. Di sini terdapat sebuah wastafel dan sebuah cermin besar. Aku mengamati keadaan wajahku dari cermin, dan aku bisa bernapas lega saat mengetahui laki-laki itu tidak meninggalkan jejak apapun pada tubuhku.

Di dekat wastafel terdapat sebuah lemari kecil, dan saat aku membukanya ternyata di lemari tersebut terdapat beberapa helai handuk bersih yang terlipat rapih. Aku gantungkan pakaianku pada gantungan pakaian dekat lemari wastafel.

Di sini juga terdapat sebuah jacuzzi besar yang muat untuk dua orang berendam di dalamnya. Ingin rasanya aku berendam di dalamnya tapi aku urungkan niatku untuk berendam karena aku sedang berada di dalam kamar mandi orang lain.

Aku melangkah ke sebuah bilik kaca yang di dalamnya terdapat sebuah shower untuk mandi. Saat di dalamnya, segera saja aku menyalakan shower, dan tidak lama kemudian ku rasakan guyuran air membasahi kepala sampai kakiku.

Setelah selesai mandi, aku keringkan badanku dengan handuk yang terdapat di kamar mandi ini. Sekarang wangi tubuhku seperti laki-laki itu, karena mulai dari sampo, sabun sampai handuk, aku memakai miliknya.

Dengan segera aku memakai gaun semalamku kembali. Rambut coklatku, aku biarkan tergerai karena masih basah sebahis keramas. Setelah semua dianggap rapih, aku melenggangkan kakiku untuk keluar dari kamar ini. Saat aku menuruni tangga, aku bisa melihatnya masih dengan celana pendeknya tanpa memakai baju sedang meminum segelas wine di meja bar yang terdapat di dapurnya.

Seakan menyadari kehadiranku, dia mengalihkan pandangannya dari gelas wine tersebut padaku. Sesaat kami hanya saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun, hingga akhirnya dia memecahkan keheningan dengan bertanya padaku.

“Aku sudah memesankan sebuah taksi untukmu. Benarkah kau tidak ingin aku antar pulang?” tanyanya.

“Tidak, terima kasih.” Jawabku.

“Kau tidak ingin tahu namaku?” tanyanya lagi padaku yang berhasil menghentikan langkahku.

“Bukankah ini hanya sebatas one night stand? Jadi aku tidak perlu tahu namamu. Selamat tinggal.” Jelasku padanya.

Aku melangkahkan kakiku ke pintu keluar dari vila ini, kulihat sebuah taksi sudah menungguku di luar. Saat aku akan memasuki taksi ini, aku mendengar sebuah suara yang memanggilku membuatku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam taksi.

“Jika kita bertemu lagi, kau akan benar-benar menjadi kekasihku.” Teriaknya dari pintu masuk vila ini. Aku hanya tersenyum padanya, kemudian masuk ke dalam taksi. Perlahan taksi ini meninggalkan vila tersebut. Aku akan memegang ucapanmu, kataku dalam hati.

Saat aku sampai di hotel tempat aku menginap, aku segera memasuki kamarku, mengganti gaunku dengan pakaian yang lebih baik karena hari ini merupakan hari terakhir aku berada di Jeju. Tidak lama kemudian kudengar sebuah ketukan di pintu kamarku. Saat ku buka ternyata Jinri sudah siap dengan koper di samping kiri.

“Kau sudah siap?” tanyanya padaku.

“Ya, sebentar lagi aku siap.” Jawabku.

Tidak lama kemudian, kami check out  dari hotel dan berangkat menuju bandara karena kami tidak membawa mobil untuk ke Jeju. Hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Jeju menuju Gimpo. Aku dan Jinri menaiki taksi untuk pulang ke rumah masing-masing. Karena ini hari sabtu, aku jadi memiliki waktu sehari untuk istirahat kembali sebelum pergi bekerja pada hari senin.

Waktu serasa berjalan cepat karena hari ini adalah hari senin, dan saatnya aku berangkat kerja kembali. Aku masih trauma untuk mengendarai mobil sendiri sehingga mau tidak mau aku berangkat kerja bersama appaku. Saat ini aku mengenakan stelan kantor, seperti sebuah kemeja warna putih tanpa lengan, dipadukan dengan sebuah rok ketat selutut warna biru laut dan sebuah blazer warna biru laut juga.

Aku memakai sepatu heels setinggi 7 cm warna putih. Sapuan make up tipis aku kenakan saat ini, hanya warna lipsticknya saja aku biarkan sedikit mencolok. Rambut coklat panjang bergelombangku dibiarkan tergerai begitu saja.

“Saat jam makan siang nanti kita ada meeting penting dengan CEO Park Hyatt Resort.” Kata appa saat kami berada di perjalanan menuju kantor.

“Jadi kita memenangkan tender itu?” tanyaku, kulihat appa tersenyum bahagia padaku.

“Ya, kita memenangkannya. Itu semua berkat dirimu dan timmu. Kau dan Kyungsoo yang akan memimpin proyek ini.” Jawab appa membuatku tersenyum bahagia juga.

“Gomawoyo appa.” Kataku padanya membuat kami tersenyum bahagia.

Sesampainya kami di kantor, aku dan appa berpisah menuju ke ruangan masing-masing. Semua rekan-rekanku menyambutku dengan bahagia, maklum saja hampir dua bulan aku tidak masuk ke kantor karena kecelakaan itu dan itu membuatku tidak bisa bertemu dengan mereka.

Saat jam mulai mendekati waktunya makan siang, aku dan timku beserta appa bersiap-siap untuk pergi ke sebuah restoran yang berada di Park Hyatt Hotel. Begitu sampai kami langsung disambut oleh beberapa pelayan yang menunjukkan jalan untuk kami ke sebuah ruangan meeting di hotel ini.

Park Hyatt Hotel merupakan salah satu hotel bintang lima di Seoul dan termasuk hotel yang sudah mendunia, karena hotel ini sudah ada di mana-mana. Di dalam ruangan meeting ini terdapat dua buah meja panjang yang saling berhadapan dan sudah dilapisi oleh sebuah taplak meja berwarna merah dan beberapa kursi mewah berjejer rapih senada dengan warna taplak meja tersebut.

Dinding ruangan ini dilapisi sebuah walpaper warna kream dengan gambar sebuah bayangan pohon bambu. Sebuah proyektor LCD sudah terpasang siap untuk dipakai kapanpun. Tidak lupa sebuah karpet berwarna kream bermotif lingkaran-lingkaran berwarna coklat melapisi lantai ruangan ini. Ruangannya terasa sangat nyaman tetapi tetap formal.

Rombongan kami menempati tempat duduk yang sudah bertuliskan nama perusahaan kami, sedangkan perwakilan dari Park Hyatt Resort  duduk di seberang kami. Aku duduk persis di samping kiri appa, kemudian di susul Kyungsoo, Kim Namjoo, dan yang terakhir adalah Lee Jinki. Kami menunggu dengan harap-harap cemas karena CEO yang sedang kami tunggu sedikit terlambat 10 menit dari jadwal yang sudah ditentukan.

Tapi tidak berapa lama kemudian, suara pintu di buka menandakan bahwa perwakilan Park Hyatt Resort sudah tiba membuat kami secara otomatis berdiri untuk menyambut klien kami yang sangat penting. Seorang pria tinggi memakai jas hitam masuk, diikuti oleh seseorang yang lebih kecil darinya dan beberapa orang lagi di belakangnya yang berjumlah sekitar 6 orang.

Melihat pria yang lebih kecil dari pria yang pertama masuk membuatku membulatkan mata saat melihatnya. Rambut hitamnya dia belah di sebelah kanan dan agak sedikit diangkat ke atas. Dia memakai sebuah jas dan celana kain warna abu-abu di padukan dengan sebuah kemeja bergaris vertikal warna ungu dan sebuah dasi warna ungu tua. Tidak lupa sepasang sepatu kulit hitam mengkilap dia kenakan untuk menambah aura yang ia pancarkan.

Aku terus menatapnya saat pertama kali dia masuk ke dalam ruangan ini hingga pada akhirnya pandangan mata kami bertemu. Dia tersenyum dengan penuh menawannya padaku, membuat detak jantungku berdebar dengan kencangnya.

Saat dia sudah berada di hadapan kami semua, kulihat dia sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi salam kepada kami. Tatapan mata kami tidak pernah terputus sekalipun, membuatku kembali mengingat kejadian saat di Jeju. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Aku bingung antara senang karena bisa bertemu dengannya lagi. Atau aku sedih dan takut karena bertemu dengannya lagi.

“Bangapseumnida, CEO Park Hyatt Resort, Byun Baekhyun imnida.” Dengan nada suara yang ramah akhirnya dia memperkenalkan diri sambil menatapku dalam.

 

 

~ TBC ~

49 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Dream (Chapter 4)”

  1. saya rasa ada banyak orang bernama Byun Baekhyun di dunia ini..wkwkwk *saking bingungnya* klo baekhyun yg asli cupu klo yg di mimpinya suzy misterius..*intinya dia emang aneh*^_^

  2. OMG. Haduh gmn ini. Suzy main api ma baekhyun. Padahal dia ud punya myungso. Aku bingung harus berpihak pada siapa. Satu sisi suzy cinta ma baekhyun entah di dalam mimpi atau d dunia nyata. Tapi status suzy tunangannya myungso.
    Jadi galau.
    Bwt authir nim semagat terus dan lannjut terus

  3. One nigth stand? Omonaaaaa?
    Mereka bertemu lgi, otomatis baekhyun bakalan jdian sma suzykan?
    Terus gimna sma uri myungsoo? Huhuhu~

  4. kyaaa syukurlah,,DrEAM,,mulai bnyak yg suka,aku jd ikut senang,,,,
    ‘benerkan,,Klo ini ceritanya sangat menarik,,
    Azalea JJang!
    hehe…

  5. Sumpah baca fanfik ini bikin harus muter otak karena alurnya yg gabisa ditebak sama sekali. Ntah sii, ini berdasarkan hasil perkiraan aku aja. Chapter 1 dan 2 itu apa jangan jangan cuma mimpi panjang dari suzy karena dia koma? Yah gatau juga sii hehehe. Dan yg ketemu sekarang itu beneran. Bukan mimpi. Iya ga sii? Hehehe.

    Ditunggu next chapt nya!
    Btw sumpah ini keren! Hehehe. Oiyaa aku marathon baca fanfiknya. Jadi baru meninggalkan jejak sekarang hehehe.

    Salam kenaalll~

  6. Huaaa ketemu lagiii
    Awalnya cuma iseng baca eh ternyata ada lanjutannya terus hihi
    Semoga yg kali ini bener2 real no dream yaah
    Sedih di chapter sebelumnya ternyata baekhyun cuma hayalan bahkan sampe ngehayal 2 kali.
    Dan semoga yg real ini bisa happy ending yaah

  7. Wah, akhirnya ketemu lagi. Semoga meraka bener2 pacaran trus nikah dan bahagia selamanya 😊😊
    Next thor, fighting 😊

  8. Udh ketebak CEOnya pasti Baekhyun. Ayo mereka pacaran kan udah ketemu lagi XD keren banget nih FF. Kali ini nyata kan ya? Awas loh enggak lagi kal XD ditunggu lanjutannya.

  9. Keren banggeettt… Suka sama ff dream ini bener bener keren, ff nya ngga ketebak banget. Suzy nya… Baekhyun juga bikin penasaran banget. Next next please suka banget sama ff dream ini

Tinggalkan Balasan ke tikannisa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s